Internet untuk Pendidikan


Pojokpendidikan[dot]com adalah situs internet dimana segelintir guru mengalihkan pengajarannya ke dunia online, setelah mereka sudah fokus di dunia offline. Sekelompok guru ini berdialektika menyampaikan pendapatnya dalam forum yang membahas berbagai hal menyangkut pendidikan. Mulai dari metode pengajaran, keteladanan oleh guru di kelas, sampai pemanfaatan internet untuk pendidikan kreatif. Setidaknya, interaksi antar guru menjadi lebih banyak.

Guru kemudian mulai ikut nge-blog, menulis berbagai hal mengenai pendidikan. Termasuk curhat masalah pelajaran/tugas bagi siswa. Dalam bidang penelitian, bimbingan antara pelaku dan pembimbing penelitian juga sudah mulai menggunakan blog. Alasannya, mudah dan terstruktur. Ide-ide yang sudah ada, tersusun urut menurut waktu, sehingga mudah untuk ditelusuri kembali. Berbeda dibanding dengan diskusi lewat email.

Internet generasi 2.0 kemudian melahirkan media sosial. Media sosial adalah sarana bersosialisasi dengan orang lain, yang memiliki kesamaan. Dan dalam dunia internet, kesamaan tema, bahkan hastag (tanda # dalam dunia twitter[dot]com) juga menjadi sarana untuk informasi, komunikasi, kampanye dan sosialisasi. Sebagai contoh, saat ini, gerakan #gurudigital sedang mempromosikan perluasan dan akselerasi penggunaan ICT (Information and Communication Technology) bagi guru untuk pendidikan dann pembelajaran via free workshop yang kontinyu dan gratis. Mimpi besar akun twitter @gurudigitaleuy adalah guru menjadi sumber ilmu yang melek teknologi. Tidak hanya mahir mengoperasikan, bahkan guru wajib dipacu untuk membuat konten pembelajaran.

***

Internet untuk pendidikan, adalah satu contoh “positive externalities”. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan manfaat-manfaat yang diterima, oleh orang-orang yang secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi dan konsumsi barang. Contoh riilnya, adalah ketika penyedia layanan pendidikan, sebenarnya hanya menerima manfaat pembayaran langsung dari penerima pendidikan. Akan tetapi, manfaat bagi masyarakat dari populasi yang berpendidikan inilah, yang merupakan eksternalitas positif.

Di sisi lain, pengetahuan/informasi/ilmu/konten untuk pendidikan, sudah dianggap sebagai barang public (public goods). Karena ilmu bersifat low excludability dan low rivalry. Sulit untuk “mengeluarkan” keterlibatan orang lain dari urusan yang berhubungan dengan pengetahuan. Lagipula, pengetahuan tidak mengganggu orang lain, karena pengetahuan adalah milik semua orang. Tidak ada rasa ketatnya persaingan, ketika semua orang memperebutkan ilmu pengetahuan. Kita hanya perlu mengetikkan beberapa kata dalam mesin pencari di internet, kemudian mendapat berbagai ilmu yang kita butuhkan dari web, blog, dan berbagai konten lainnnya. Baik dari yang pro maupun yang kontra, dari fundamental sampai yang praktis untuk diterapkan.

Dari gambar, terlihat bahwa kecanggihan teknologi internet menggeser supplai akses internet dari garis a menuju garis b. Keseimbangan kurva penawaran dan permintaan pun bergeser, sehingga harga pengetahuan (price of knowledge) menjadi lebih rendah bersamaan dengan meningkatnya permintaan akan pengetahuan (quantity of knowledge demanded).

***

Pada tahun 2009, terdapat 31 juta pengguna internet di Indonesia. Diprediksi jumlah ini akan membengkak menjadi 100 juta pengguna internet pada tahun 2012, baik melalui desktop maupun perangkat mobile. Per tahun, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia adalah sebesar 49%. Tujuh puluh persen di antaranya berusia kurang dari 35 tahun. Mereka inilah yang disebut sebagai penghuni dunia digital (digital natives) yang sebenarnya.

Dukungan penuh dalam pengembangan infrastruktur teknologi informasi sangat dibutuhkan, baik dari pemerintah, sektor swasta maupun publik. Program Palapa Ring adalah program yang tepat meningkatkan jaringan kabel optic di seluruh Indonesia. Partisipasi penyedia layanan telekomunikasi untuk menyediakan internet murah melalui layanan pra-bayar dan pasca-bayar, juga patut diacungi jempol.

Partisipasi berikutnya dari pengguna internet untuk pendidikan, adalah pengembangan konten pendidikan dan kreatif sebesar-besarnya. Dengan semakin banyak dan beragamnya konten pendidikan, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dicapai lebih baik. Karena untuk selalu kita ingat, kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia adalah, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dengan kebebasan pers yang relative berimbang dengan televisi sebagai media paling berpengaruh.

***

Internet adalah pencapaian terbaru umat manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Dahulu, umat manusia harus bertatap muka untuk bertemu. Revolusi-revolusi besar terjadi melalui massa yang berkumpul di lapangan terbuka, berdemonstrasi. Kini, perubahan besar yang menyentak juga bisa digagas melalui media social. Masih ingat kasus Bibit-Chandra dan Prita Mulyasari di tahun 2009? Kedua peristiwa tersebut digemparkan oleh aktivis dunia maya. Seharusnya pendidikan dan pembelajaran kita bisa “digemparkan” seperti itu.

Seperti yang dikatakan oleh bapak blogger Indonesia, Enda nasution: In term of social media, we are not that far behind, people still don’t know about it. Dan pendidikan adalah salah satu ruang yang bisa dioptimalkan dengan adanya teknologi media social. Tapi, sesungguhnya kita masih belum mengeksplorasi internet untuk pendidikan ini, sepenuhnya J

One thought on “Internet untuk Pendidikan

  1. menarik sekali tulisan panjenengan. Betapa dasatnya dunia maya. andai banyak guru bisa menggunakan blog untuk pembelajaran aku yakin pendidikan Indonesia akan jaya. maka aku salut pada perguruan tinggi ut. perguruan yang murah tapi berkualitas karena memanfaatkan internet.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s