Investasi dan Investor


Warren Buffet dikenal karena strategi dan portofolio investasinya. Beliau memang investor sejati. Artinya, menginvestasikan sejumlah tertentu dana yang dimilikinya untuk memperoleh hasil yang lebih besar lagi di kemudian hari. Perusahaan-perusahaan yang diinvestasi oleh beliau juga bukan perusahaan sembarangan. Bukan perusahaan yang kinerjanya labil dan kadang tumbuh, kadang tidak. Tapi perusahaan yang berkinerja baik, dan membutuhkan tambahan modal untuk mengakselerasi pertumbuhan. Dan beliau, Warren Buffet, menanam modalnya di perusahaan seperti itu.

Beliau yang lain, masih disebut investor juga. Meski saya sebenarnya tidak setuju untuk menyebut beliau dengan sebutan investor. Tapi lebih terlihat sebagai pedagang (trader). Yang maniak dengan laba jangka pendek. Dan tidak berpikir jangka panjang. Keputusan-keputusannya lebih didasarkan pada perasaannya saja. Kita tahu lah ya, perasaan pedagang seperti apa. Oh, harga belinya murah, ayo kita beli. Oh, harga jualnya tinggi, saya mau menjual. Oh, kira-kira seperti itu. Hanya mengandalkan keputusan singkat saja, dan tidak ingin berkontribusi lebih dalam pertumbuhan perusahaan. Pragmatis saja mengambil untung. Makanya, saya setuju dengan istilah trader.

*****

Selasa lalu, kelas finance saya kedatangan dosen tamu, Ibu WW panggilannya. Beliau saat ini sebagai komisaris di grup perusahaan yang menaungi 3 perusahaan dalam bidang minyak dan gas, ada hulu dan hilirnya juga. Beliau menapaki karir tersebut dari awalnya, hanya sebagai seorang auditor dan terus menanjak menjadi eksekutif hingga sekarang menjabat sebagai komisaris di perusahaan tersebut.

Tentu, dengan karir terus-menerus di bidang keuangan, dan spesialis di industri minyak dan gas, beliau sangat memahami bagaimana proses investasi di industri minyak dan gas dilakukan. Sejak dari pembukaan lapangan minyak, transaksi dengan perusahaan service, hingga minyak berhasil didapatkan. Minyak mentah yang sudah masuk ke jalur distribusi seperti kapal tanker atau pipa minyak, berarti sudah berpindah tangan dari perusahaan pengambil minyak (oil company) kepada pembelinya (di Indonesia, BUMN pembeli ini adalah Pertamina). Tentu sejak berpindah tangan, minyak sudah harus dibayar. Dan beliau, paham benar bagaimana proses ini berlangsung.

Saya pernah mendengar dua cerita dari seorang yang saya kenal dekat. Beliau dulunya bekerja di bagian Cost Control. Jadi, yang menangani berapa besar pembayaran harus dilakukan oleh oil company kepada service company dan berbagai supplier lainnya. Bukan sebagai bendahara, tapi bagian yang secara tegas menyatakan kepada supplier, kamu dibayar sekian saja. Tidak usah lebih. Syukur-syukur sama besarnya dengan perjanjian kontrak yang sudah diteken. Seringkali, yang menjadi problem adalah ketika pekerjaan yang dilakukan oleh supplier ternyata melebihi daripada yang disepakati. Terutama ongkos pekerjaan. Mengingat sifatnya adalah, pekerjaan dilakukan diawal, kemudian tagihan dikirim belakangan, maka pembayaran yang dilakukan bisa jadi membengkak. Nah, tugas cost control ini adalah menekan pembengkakan biaya tersebut.

Saya mendengar dua kisah, yang keduanya berkait dengan operasional minyak dan gas oleh perusahaan (investor) asing di Indonesia. Yang pertama, ketika kantor utama Unocal di Balikpapan Kalimantan Timur dulu terbakar, dan setelah dibangun kembali, ternyata pihak perusahaan memintareimbursement kepada Pertamina. Ini mengejutkan saya. Secara hitung-hitungan finansial, biasanya gedung adalah aset tetap perusahaan. Artinya, secara akuntansi, gedung ini dicatat sebagai harta perusahaan. Ketika gedung baru di-reimburse, tentu gedung bukan lagi milik perusahaan tersebut. Mugkin mereka hanya menyewanya. Tapi, mengapa Pertamina yang harus melakukanreimbursement?Itu yang pertama.

Yang kedua, gaji perusahaan pegawai perusahaan asing di Indonesia, ternyata dibayarkan oleh Pertamina sebesar 85%. Wah, ini yang benar-benar membuat saya bertanya-tanya. Enak banget dong menjadi investor minyak di Indonesia? Gedung bukan miliki sendiri, pegawai domestik hanya dibayar 15% saja dari miliki kita. Barang dagangannya juga luar biasa mahal (harga jualnya). Meski minyak mentah tidak dijual secara eceran (retail), tapi pasti ada saja negara yang mau membeli. Berarti, investor asing enak ya mengambil minyak dari Indonesia?🙂

Tapi, bisnis adalah bisnis. High risk, high return. Semakin besar untungnya, pasti semakin besar risiko di awal. Termasuk bisnis minyak dan gas. Mulai dari riset lapangan minyak, terus pembangunan infrastruktur lapangan minyak (contohnya pembangunan rig di lepas pantai), selanjutnya bagaimana mendistribusikan ke pembeli (menyewa kapal tanker atau membangun pipa distribusi minyak sendiri). Ini belum termasuk risiko sumur minyak yang meledak, membubungkan asap yang sangat hitam (karena banyak mengandung unsur C : carbon), dan lain sebagainya. Nah, kebayang kan ruginya kalau setelah investasi sedemikian banyak, ternyata gagal menemukan minyak?

Karena itu, pemerintah Indonesia sangat menghargai investor (perusahaan) asing di bidang minyak dan gas. Begitu besar risikonya, dan sangat besar kerugiannya bila minyak gagal didapatkan. Konsep yang digunakan adalah kontrak bagi hasil antara negara dengan perusahaan minyak. Setelah semua biaya pengeluaran dikurangi dengan hasil yang didapat, baru sisa hasilnya dibagi dua antara negara dan perusahaan asing. Konsep bagi hasil ini begitu bagus, hingga pemerintah Malaysia mengadopsi konsep ini ketika di tahun 1970-an mereka mendirikan Pertamina mereka : Petronas.

*****

Saya kebetulan pernah kuliah di kampus teknik. Terbukti betapa mahalnya kuliah di kampus teknik, dibandingkan dengan kuliah yang hanya membutuhkan ruang kelas ala kadarnya, dengan kebutuhan kuliah hanya buku fotocopy-an dan alat tulis sekedarnya. Ini bukan menghina, tapi memang kuliah di kampus teknik, biaya operasionalnya sangat tinggi. Peralatan laboratorium yang didatangkan dari luar negeri, komputer-komputer yang tidak murah, dan pride yang tinggi dari dosen menuntut gaji yang tinggi pula. Semuanya butuh biaya, dan karena kampus saya adalah kampus negeri, untung ada investornya : pemerintah.

Saya dengar dari seorang teman, di masa kami kuliah (tengah tahun 2005 – tengah tahun 2010), biaya operasional per orang setiap tahun adalah sekitar 30jutaan. Angka ini datang dari rata-rata biaya yang dibutuhkan oleh kampus setiap tahunnya, dibagi dengan jumlah mahasiswa yang ada. Uniknya, per tahun, yang saya bayar hanya sekitar 5juta rupiah. Bukan bermaksud berlebih-lebihan dalam menunjukkan mahalnya biaya pendidikan. Tapi memang itulah kenyataannya. Ada investor baik yang menyumbang 5/6 dari biaya kuliah saya. Teringat perkataan salah seorang dosen (begitu menyebarnya perkataan ini, sampai saya tidak tahu siapa yang mengatakannya),

Pendidikan itu pasti mahal, tapi semua tergantung SIAPA yang membayarkan.

Empat nama telah diukir di empat gedung kembar di ITB. Nama-nama tersebut adalah : Benny Subianto, T.P. Rachmat, Arifin Panigoro, dan Achmad Bakrie. Masing-masing menyumbang Rp25miliar untuk dituliskan namanya di tiap gedung. Tapi ini bukan berarti pembelian. Mereka menyumbang untuk Dana Lestari ITB, sebenarnya. Yang nantinya, dana ini akan diputar dan digunakan kembali untuk operasional ITB sebagai kampus. Mereka adalah investor pendidikan.

Beruntung ada investor di dunia pedidikan, tidak terbayang bila tidak ada investor pendidikan, maka siapa yang akan membayarkan? Mungkin tidak harus benar-benar membayarkan, tapi meminjamkan di awal untuk pembayaran kuliah, sudah lebih dari cukup. Dan disinilah fungsi sebuah beasiswa. Meminjamkan di awal, untuk kemudian memberikan timbal-balik yang setimpal. Bisa dengan bekerja kepada pemberi beasiswa, bisa juga dengan sebuah Indeks Prestasi yang baik. Sebutlah itu IP di atas 2,75 atau di atas 3,00.

Alumni yang baik, saya kira akan merasa berhutang kepada kampusnya. Dia dulu mengalami pendidikan dengan bantuan investasi dari pihak luar. Sekarang, maukah dia menjadi investor pendidikan itu? Saya kira, mengingat ongkos pendidikan yang semakin mahal, ini adalah langkah awal kecil yang baik. Meskipun belum memulai, saya ingin suatu kali nanti, saya mampu melakukannya. Mungkin tidak harus banyak-banyak, minimal sampai dengan utang saya kepada negara impas. Kira-kira begitu. Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi banyak orang untuk menjadi investor pendidikan di kemudian hari.

*****

Ketika kita bicara tentang investor, persepsi yag terbayang di benak anda biasanya adalah para pemberi modal perusahaan. Itu memang benar. Tapi bila kita berpikir lebih luas, tidak hanya modal uang saja yang bisa diinvestasikan oleh investor. Dan karena itu, semua pemberi modal berarti bisa disebut investor kan? Meskipun investasinya bukan berupa modal. Bisa berupa waktu, bisa berupa pengetahuan, dan lain sebagaiya kan? Mari kita sebut semuanya sebagai investor.

Ibarat reaksi kimia yang dipercepat dengan adanya katalis, maka investor adalah pemberi katalis itu. Dia mempercepat dan mempermudah reaksi yang terjadi, dalam mencapai target sasaran. Investor memodali perusahaan, agar likuiditas meningkat dan memperlancar operasional perusahaan. Investor asing di industri minyak dan gas membantu negara dalam menghidupkan perekonomian. Investor pendidikan memberikan dana pendidkan, awal bagi terwujudnya akselerasi vertikal anggota masyarakat. Investor, dalam proses yang bernilai positif, dapat dikategorikan sebagai orang baik.

Investor menginvestasikan modalnya untuk mencapai tujuan. Dan kita semua memiliki modal awal, kan? Kita memiliki waktu yang sama dengan manusia lainnya, 24 jam sehari. Itu adalah modal awal. Akan mendatangkan kebaikan, bila kita mendayagunakannya dengan baik. Dan menjadi keburukan, bila kita membuangnya sia-sia. Bila anda adalah orang tua, menginvestasikan pendidikan dan amal yang baik akan mendatangkan kebaikan pada putra-putri anda. Berikan contoh pada mereka, karena itu adalah investasi.

Investor merasa cukup akan hidupnya hari ini, tapi mereka tidak menghabiskan semuanya untuk hari ini. Mereka juga berpikir jangka panjang. Esok bagaimana? tahun depan bagaimana? dan seterusnya. Mereka juga tidak hanya berpikir tentang diri mereka. Mereka juga memikirkan orang lain. Dan karena itu, mereka menginvestasikan sebagian di antaranya untuk waktu yang akan datang dan untuk kebaikan orang-orang lain yang lebih banyak. Mari mengambil intisari yang baik, dari bagaimana seorang investor yang baik menyediakan modal awal baik yang melimpah demi tercapainya tujuan yag baik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s