Computer-dependent


belakangan, hidup kita ga bisa dilepaskan dari yang namanya komputer. eh apa benar komputer ya? tidak. tidak. maksud saya adalah semua barang elektronik yang membantu kita memperlancar segala urusan dalam hidup. eh, tapi belakangan bukan cuma memperlancar. tapi menciptakan ketergantungan.

misalnya mahasiswa. mau belajar sudah susah. karena hampir semuanya sudah ada di laptop masing-masing. datang ke kelas, tinggal mendengarkan penjelasan dosen. tidak usah mencatat, kecuali memang suka. karena, setelah kuliah file akan dibagi-bagikan. dikirim via email.

karena ga pernah mencatat, jadi ga punya catatan. belajar jadi harus dari desktop atau laptop. kalau komputer sedang rusak, bagaimana? seperti saya sekarang ini, misalnya. kabel adaptor baru saja terbakar. jadi saya lagi ga bisa pake komputer punya sendiri. eh, tapi koq bisa ngeblog? yaiyalah, ada komputer bisa dipinjam😀

misalnya lagi di angkot nih, atau lagi senggang, tiba-tiba ingat kalau ada urusan pekerjaan atau bisnis yang mesti segera dihitung. either memang mendesak, atau penasaran sama hasil hitungannya, tiba-tiba rasanya pengen ngetik-ngetik di kalkulator ngitung hasil. ga mungkin pake hitungan otak, soalnya. apalagi pake kertas coret-coretan. cem anak sekolah dasar aja. makanya, kudu ngeluarin kalkulator dari dalam tas, atau cari pinjaman di bendahara atau sekretaris.

btw, kalkulator masuk komputer ga ya? yang jelas, kalkulator bisa ngitung lebih cepat daripada otak😀

tapi, sampai kini, otak manusia masih harus disyukuri koq. pemberian Tuhan yang satu ini memang ga bisa dikalahkan komputer. karena dia ga cuma punya alat hitung, tapi juga alat mencipta. semua yang ada di komputer kan sudah diprogram tuh. sudah dibuat algoritmanya. jika a, maka b. jika tidak a, maka c. dan seterusnya, dan seterusnya. tapi kreativitas ada di dalam otak kanan manusia. nah, ini bedanya sama otak-otak yang ada di komputer (bukan otak-otak yang di pinggir jalan ya, dibakar setelah dibungkus daun)😀

artificial intelligent yang ditemukan sampai saat ini memang masih punya keterbatasan. dia cerdas, tapi ga cukup cerdas. entah ya suatu saat akan seperti apa kecerdasannya. yang jelas, kemampuan berkreasi dan mencipta karya, belum sehebat seperti otak yang dimiliki oleh manusia🙂

sampai saat ini, hidup manusia memang semakin bergantung pada komputer. terutama untuk perhitungan dan kalkulasi yang rumit. tapi tetap saja, ketergantungan tidak terjadi selamanya. kreativitas harus mengisi ruang-ruang aktivitas yang tidak bisa dipercepat prosesnya oleh komputer. kalimat saya yang terakhir ini bagus ya?🙂 ulang lagi ah:

kreativitas harus mengisi ruang-ruang aktivitas yang tidak bisa dipercepat prosesnya oleh komputer

One thought on “Computer-dependent

  1. Ya seperti itulah kehidupan sekarang mas,
    mungkin sepuluh tahun kedepan udah ngga ada orang yg jalan kaki kali ya, coz dah pake mesin smua,🙂
    tapi kalau kita logika kan sih emang sebenernya otak kita tuh lebih cerdas dr komputer or alat2 elektronik lainnya, wong yang buat itu smua jg manusia kok!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s