be a game maker, not a game player


barusan melihat akun LinkedIn, rekan seperjuangan saya dulu. di jurusan S1 maupun di himpunan.

buat yang belum tau, LinkedIn adalah situs jejaring sosial (juga). tapi memfokuskan diri khusus para profesional/entrepreneur/student yg akan mencari pekerjaan. karena itu, di beberapa HRD/SDM perusahaan, mereka mencari karyawan baru melalui situs LinkedIn ini. akun pengguna di situs ini memuat pengalaman kerja seseorang. jenis industrinya, berapa lama bekerja, bagian apa tempat bekerja, dan seterusnya.

jadi, ceritanya rekan saya tersebut, memang seorang yang sangat profesional. hehe.. bukan bermaksud melebih-lebihkan (lebay), tapi memang profesional yang sangat. beliau mencantumkan semua penghargaan yang (pernah) diraih, termasuk prestasi akademik dan kemenangan di lomba-lomba. tidak lupa achievement yg diraih di tempat dia bekerja sekarang.

beberapa orang memang seperti itu. bahkan banyak yang seperti itu. ingin menjadi profesional. bekerja untuk orang lain, mengikuti aturan main yang ada. tapi mereka bukanlah pembuat aturan tersebut, mereka hanya menjalaninya saja. hehe.. sorry to say, ya.

mereka cuma jadi pemain bolanya saja. maksimal jadi pelatih lah. tapi mereka bukan pemilik klub. paham kan, analoginya?

pemilik klub sebenarnya relatif tidak peduli dengan prestasi. coba lihat klub asal london, arsenal. pemilik klub (tampak) tidak peduli dengan klub miliknya yang 5-6 tahun terakhir tidak punya prestasi apa-apa. selama klub masih bermain di liga champions, maka pemasukan dari penonton maupun iklan akan tetap besar. dan mereka juga menerapkan strategi lama: menekan cost (biaya) dengan cara hanya membeli pemain-pemain muda berbakat yang akan bisa dijual mahal (nantinya).

arsene wenger akan selalu menjadi pelatih arsenal, kecuali beliau memutuskan untuk pensiun. konsistensinya dalam merekrut pemain muda berbakat, menjaga level permainan dan kualitas arsenal seperti sekarang, serta kemampuan menjual pemain dengan harga tinggi, itulah yang menjadi kelebihan dia. dan pemilik klub senang dengan beliau. kemungkinan tidak akan dipecat, selama mampu mendatangkan laba bagi pemilik klub.

itulah asam-garam menjadi profesional: bekerja, bekerja, dan bekerja hanya untuk pemilik. hanya menjadi game player. apakah dia akan lebih kaya dari pemilik? kemungkinan tidak. karena pemilik akan mengambil berapapun yang dia mau. dan pemilik adalah pembuat aturan, game maker.

3 thoughts on “be a game maker, not a game player

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s