problem manusia urban


tadi siang membahas studi kasus di kelas. kasus yang sangat manusiawi, dan sangat perkotaan sekali. bukan masalah manusia biasa, bukan juga masalah di pedesaan. tapi masalah manusia di perkotaan.

ada sebuah keluarga, dengan satu anak. masing-masing di antara mereka punya permasalahan masing-masing. yang jelas, keluarga ini merasa masih belum memiliki pendapatan yang cukup dengan ayah saja yang bekerja. maka, sang ibu juga memutuskan untuk bekerja. sang anak? problemnya adalah dia harus (?) mengikuti les disana dan disini. untuk memaksimalkan potensi yang belum ketahuan. ya, istilahnya lebih baik mencoba semuanya terlebih dahulu, baru menggugurkan satu demi satu yang tidak mengembangkan bakat dan hanya menghamburkan biaya. jadi itu permasalahan mereka bertiga.

tapi sang ibu bekerja apa? nah, itu pertanyaannya. beliau adalah seorang sarjana, yang katanya, “sayang kalau ilmu kuliahnya ga kepake”. jadi ya kalo bisa yang berhubungan sama jurusan yang pernah diambil waktu program sarjana. itu dari sisi apa yang dikerjakan di pekerjaan baru. yang penting, keluarga dapat tambahan pendapatan. mudah-mudahan masih lebih besar daripada pengeluaran ibu yang harus belanja pakaian, kosmetik, dan sepatu baru tiap bulan. wajar, yang namanya karyawati, kan harus tampil trendi dari waktu ke waktu.

padahal, masih next question nih. masalah waktu, mau yg se-full apa? mau yang full-time, apa yang part-time? ternyata, sang anak juga perlu diantar kesana kemari. ya ke sekolah yang jauh, ke tempat les yang ga bisa dibilang dekat. nah, kalau full-time, otomatis sang anak mesti naik kendaraan umum. tapi yang nyaman dan murah, itu yang seperti apa? nah, ini mesti dipikirkan lagi. ini masalah sang Ibu.

untuk meningkatkan kualitas hidup, maka pendapatan sang pencari dana (baca: ayah) harus ditingkatkan. pertanyaannya cuma satu, mau terusin pekerjaan yang sudah ada, atau pindah ke perusahaan yang memberi gaji lebih tinggi? kalau masih mau bertahan, pertanyaannya adalah bagaimana biar bisa naik pangkat/jabatan lebih cepat? kan caranya gitu kalau mau gaji naik. kalau engga, ya pindah kerja saja.

nah, problem si anak adalah dia harus sekolah. yaiya dong, alasannya kan ga cuma biar pintar. tapi juga biar bisa dapat sekolah (lanjutan) yang lebih bagus, tempat kuliah yang bagus, plus ntar kerja di tempat yang bagus dong..

nah berhubung ini era modern, orang ga cuma dilihat dari dia sarjana dari kampus mana dengan IP berapa, juga skill dia apa aja. dia bisa ngapain aja sih? nah itu kira-kira pertanyaan orang SDM dari kantor yang mau ngerekrut dia. jadilah, anak sekolah di daerah urban harus ikut les sana-sini. ya les olahraga, les musik sampai les bahasa. minimal les bahasa inggris-lah.

oh iya, jangan lupa juga buat ikutan les tambahan, semacam bimbingan belajar (bimbel). yang dari lembaga bimbel boleh, privat juga boleh, asal berani bayar lebih mahal (lha, itu kan gunanya ayah kerja?). nah, kalau sudah begini, pertanyaannya cuma satu, kalau begitu kapan si anak mainnya???? nah, kira-kira itu masalah si anak.

ya, kira-kira itulah sekelumit permasalahan manusia-manusia di daerah urban. pastinya masih banyak lagi. kan kategori manusianya ga cuma yang seperti di atas. belum kita bahas yang terlalu miskin atau terlalu kaya. hehehe..

One thought on “problem manusia urban

  1. ribet juga ya jadi manusia urban. tapi, kalaupun yang dibahas manusia pedesaan, nampaknya akan ada setumpuk masalah juga, yang jika kita lihat hanya “buang-buang energi” terutama ketika keluarga tidak punya visi yang jelas.

    Tidak sedikit yang menjawab pertanyaan “mengapa berkeluarga?” hanya dengan jawaban yang latah saja, normatif, dan tidak sungguh2 meyakininya.

    tulisan ini mengingatkan saya pada pentingnya memiliki visi yang benar dalam berkeluarga. Sehingga keluarga tsb bisa meminimalkan masalah2 yang tidak perlu, yang boleh jadi kontraproduktif dengan alasan utama mengapa berkeluarga.

    *sori wan, nuansanya jadi bergeseršŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s