Ramahnya Penyiar Radio


Para pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa mendengarkan radio adalah pekerjaan sambilan? Yup, pekerjaan yang dilakukan sembari mengerjakan pekerjaan lain. Dan biasanya, cenderung mengutamakan pekerjaan lain tersebut daripada pekerjaan ‘mendengarkan’. Betul tidak para pembaca yang budiman? Sopir angkot yang memutar radio, tentu lebih mengutamakan pekerjaan menyetir dan menerima ongkos perjalanan dari penumpang, daripada pekerjaan ‘mendengarkan radio’ kan? :D

Nah, bicara tentang mendengarkan radio, para pendengarnya ternyata bermacam-macam. Mulai dari sopir angkot yang saya sebut di atas, atau pelajar sekolah yang mendengarkan radio di rumah setelah pulang sekolah, atau para pebisnis. Radio sebagai media, memang memegang peranan penting dalam penyebaran informasi. Kita ambil contoh saja untuk segmen remaja. Bagi kalangan muda ini, radio berfungsi sebagai trendsetter, karena melalui media ini, remaja bisa mendapatkan informasi tentang gaya bicara, gaya hidup dan cara berperilaku.

Kalau begitu, tugas penyiar radio dari stasiun radio itu sebenarnya apa sih? Kan sudah tahu ya, segmen pendengar radio itu bermacam-macam. Kemudian, mendengarkan radio itu juga bukan prioritas utama. Berarti, tugas penyiar radio untuk menyampaikan informasi semakin berat yah. Berat karena harus membuat audiens tertarik dengan bahasan (minimal sampai jadi aktivitas sambilan), itu yang pertama. Kemudian, pada tahap kedua, membuat informasi benar-benar sampai ke benak pendengar.

Lantas, seperti apa menjadi penyiar radio yang baik itu? Nah, ini ada beberapa tips yang harus anda terapkan, bila ingin menjadi penyiar radio yang baik:

Miliki suara yg “hear-catching”. Ini memang jadi jurus utama para pendengar. Dan ini juga yang jadi alasan stasiun radio merekrut penyiar radio. Hear catching lebih karena penekanan suara pada nada-nada tertentu dalam kalimat. Pernah dengar penyiar radio menyapa pendengar kan? Nah, kira-kira seperti itu. Biasanya juga, penyiar radio harus mampu menggunakan kosakata yang dianggap “gaul” oleh para pendengarnya. Tentu, “gaul” disini, harus disesuaikan konteks segmen masing-masing. “gaul” versi remaja tentu berbeda dengan “gaul” versi ibu-ibu.

Mudah dicerna. Penyiar radio sebaiknya tidak memakai bahasa yang berat. Jangan pakai bahasa kamus lah. Pakai bahasa sehari-hari saja. Maksudnya, jangan pake kosakata yang jarang digunakan orang. Pakai yang umum-umum saja. Untuk diingat, segmen pendengar anda memang berasal dari satu kelompok segmen, yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu. Tapi, tingkat pendidikan mereka bisa sangat beragam. Dan ini mempengaruhi penguasaan kosakata yang mereka miliki. Tentu saja, tidak semuanya menguasai banyak kosakata. Tapi mereka semua pasti menguasai sedikit kosakata.

Sistematis. Tips ini terutama ketika penyiar radio, sekaligus menjadi moderator dalam acara yang memiliki narasumber sebagai pemberi informasi. Sistematis artinya, mulailah dengan suatu latar belakang yang menarik. Apa karena sedang trend, atau karena informasi ini akan berguna bagi segmen tersebut, dan lain sebagainya. Kemudian masuk ke materi yang ingin banyak dibahas atau diinformasikan kepada para pendengar. Berikan jeda iklan di waktu yang tepat. Jeda juga tidak harus iklan, bisa berupa lagu juga. Berikutnya, ketika kembali ke acara, lakukan review kembali. Supaya pendengar benar-benar menangkap informasi secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong.

Atur flow pendengar biar terkesan “rapi”. Tidak cuma masalah tersampaikannya informasi secara baik, tapi “image” juga penting. Ini tidak hanya image penyiar, melainkan image stasiun radio juga. Caranya? Relative gampang. Yang pertama, jangan terlalu cepat. Terlalu cepat berarti kita juga mengajak pendengar kita untuk mendengar secara cepat. Padahal, mendengar radio adalah aktivitas sambilan kan?

Kedua, atur aliran informasi secara “Smooth” alias halus. Perpindahan flow dari materi ke iklan ke lagu, dan sebaliknya harus dilakukan secara halus. Berikan jeda berupa lagu, sesaat pada pemberian informasi, untuk menanamkan lebih dalam informasi yang ingin disampaikan. Berikan simpulan singkat sebelum materi mendapat jeda iklan atau lagu. Mulai dengan review singkat sesaat sebelum materi kembali dimulai.

silakan dapatkan: buku panduan singkat tentang bagaimana berbicara di depan publik yang baik dan benar. silakan klik link ini.

2 thoughts on “Ramahnya Penyiar Radio

  1. dulu saya pengin lho wan jadi penyiar radio.
    sempet kepikiran, kalo kerja di bandung, nyambi jadi penyiar MQ malem… he. tapi gak kesampean.

    tapi tips nya keren wan😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s