busway itu cuma trigger aja..


kemarin di timeline twitter saya, ada retweet dari seorang kawan. sumber yang dijadikan referensi retweet adalah @FaktanyaAdalah sebagian besar warga jakarta menyebut ‘transjakarta’ dengan ‘busway’. ini salah satu fenomena menarik memang. jalur transportasi umum yang kini sudah berjumlah 15 koridor tersebut, semuanya bertuliskan ‘transjakarta’. tapi jarang sekali warga ibukota yang menyebutnya dengan itu, yang ada adalah ‘busway’.

bus yang berbahan bakar gas ini, sebenarnya tidak cuma ada di jakarta saja. beberapa kota mulai menerapkan. ada yang masih tahap perencanaan, penyediaan bus, hingga ada yang sudah menerapkannya. contohnya Kota Semarang. sebenarnya, Semarang tidaklah semacet jakarta. tapi pada kenyataanya, di kota tersebut ada bus ‘Trans Semarang’. hal ini memang berbeda bila mengingat asal muasal keberadaan bus TransJakarta, yang ‘dilahirkan’ untuk mengatasi kemacetan.

tadi siang saya berdiskusi dengan seorang teman. beliau pernah kuliah di Perencanaan Wilayah dan Kota. jadi punya background-lah untuk diajak diskusi. kebetulan, istrinya juga mengambil jurusan yang sama. bahkan hingga lulus dari program doktor. beliau berdua, kebetulan punya pengalaman tinggal di Jepang (khususnya Tokyo) yang terkenal karena kerapihan jalur transportasinya. mereka punya banyak kisah menarik (dalam sudut pandang perencanaan transportasi yang baik), terutama bila dibandingkan dengan jakarta.

pertama, teman bercerita bahwa busway adalah trigger saja untuk pengelolaan transportasi massal yang lebih baik. demikian simpulan dari penelitian thesis dan disertasi istri beliau, katanya. karena penerapan busway sebagai transportasi umum baru menyentuh daerah pusat kota saja. belum menyelesaikan permasalahan di pinggiran kota jakarta. padahal, sebagaimana kita ketahui, puluhan trayek kopaja, metromini maupun angkutan kota adalah kendaraan umum di pinggiran kota jakarta.

kedua, karena warga ibukota sudah terlalu sulit untuk berubah. daya beli warga jakarta itu tinggi, lho. mengambil kredit sepeda motor atau mobil sekalipun bukan barang mahal bagi kebanyakan di antara mereka. dan bagi kebanyakan di antara mereka, lebih baik bangun pagi untuk menghindari macet, tetapi masih menggunakan kendaraan sendiri. lebih baik mengalami kemacetan di jalan, tetapi menggunakan AC di dalam kendaraan pribadi, daripada berpanas-panas dan tidak nyaman di dalam kopaja, metromini atau angkutan kota.

ketiga, adalah fakta bahwa masih banyak jalur-jalur kendaraan umum di kota-kota indonesia yang dilalui oleh lebih dari satu trayek kendaraan umum. nah ini menjadi masuk akal kan? kenapa jalanan menjadi macet?🙂 memang betul bahwa itu hanyalah salah satu jalan yang dilalui oleh beberapa trayek kendaraan umum. dan memang betul bahwa start dan finish tiap-tiap kendaraan umum juga berbeda. tapi ya tetap saja, kan?🙂 faktanya adalah, bahwa beberapa trayek berbeda justru ada di jalan yang sama.

sekedar perbandingan, di jepang, tiap rel kereta hanya dilalui oleh satu atau sedikit macam kereta saja. dan warga jepang tidak masalah dengan perpindahan kereta di tiap titik transit. karena semua kereta memiliki standar kenyamanan yang sama. mungkin tidak bisa apple to apple membandingkan kereta dan bus. tapi dalam konteks penanganan transportasi massal yang terintegrasi, keduanya tentu saja dapat dibandingkan🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s