Manusia : Bekerja dan Bicara


semalam ngobrol dengan teman. biasa, kan sudah di era internet. jadi ngobrol ga harus ketemu. ga melulu lewat telpon ato sms. sekarang jadi sering lewat internet. yang namanya: chatting🙂

tadinya dia sempat tanya soal menopause. jadi dia lagi baca buku yg ngebahas fenomena aneh yg ada hubungannya sama menopause. kebetulan dia perempuan. jadilah kami ngebahas banyak tentang fenomena aneh pasca menopause yang ada dalam buku tersebut. tentang menopause, kapan-kapan saya share isi kepala saya ya🙂

nah, jadi ingat dulu waktu kami bekerja bersama. kebetulan, saya ketua himpunan dan dia salah satu ketua divisi. jadi, saya mengakui bahwa saya belajar banyak dalam setahun kepengurusan itu. terutama tentang bekerja dan bicara. dia pun mengakui bahwa dia masih belajar untuk mengkomunikasikan idenya kepada orang lain🙂

yang menariknya adalah, ternyata tidak semua orang mampu berbicara dan bekerja. setidaknya tidak dalam porsi yang seimbang. ada yang tipe pekerja, jadi komunikasinya agak kurang. padahal dia harus (baca: sebaiknya) memberitahukan rencana kerja dia kepada atasan maupun bawahan dia. padahal, tipe pekerja seperti ini, bisa memberikan kualitas pekerjaan yang baik, lho🙂

kemudian, ada tipe pembual. lebih banyak berbicara daripada bekerja. pun kualitas pekerjaannya jadi tidak sebanding dibanding perkataannya. banyak janji-janji. kalau bicara terkesan meyakinkan, memang. tapi ternyata dia tidak mampu merealisasikan apa yang dia presentasikan di awal tahun kepengurusan🙂

yang paling baik, memang adalah yang mampu mengkombinasikan dengan baik perkataan (baca: bicara) dan perbuatan (baca: bekerja). bicara itu penting, untuk mengemukakan rencana kita dalam berorganisasi serta ketika menyampaikan evaluasi hasil pekerjaan. komunikasi  memegang peranan penting bila kita berperan sebagai leader. tapi, realisasi ditentukan oleh seberapa mampu kita memberikan kualitas hasil ketika kita bekerja🙂

sebaiknya, kemajuan di satu sisi kemampuan, harus diiringi dengan kemampuan yang lain. pintar bicara tapi tidak pintar merealisasikan, bisa dianggap munafik, karena banyak janji-janji saja. pintar bekerja, tapi tidak pintar bicara, tidak baik untuk diri kita sendiri. karena akan menghambat karir kita. ya kan? karena efektivitas kerja kita, belum tentu terlihat baik di depan orang lain🙂

sekian dulu untuk hari ini. kebetulan, tulisan ini agak berbeda dibanding tulisan yang belakangan nongol di blog saya ini. karena lebih mengarah ke “organisasi” ketimbang “jakarta” atau “metropolitan”🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s