[UPDATED] perempuan metropolitan


di sini, saya berangkat kantor dengan bus kopaja. bersamaan dengan saya meninggalkan rumah, juga berbondong-bondong karyawan lain berangkat. tidak cuma pria, bahkan wanita. menaiki bus yang sama, dengan tingkat sosial yang nyaris sama.

Related Post: 
Pekerja Perempuan

perempuan tidak harus selalu dipersilakan duduk oleh pria. adakalanya mereka memang menghendaki berdiri. untuk alasan yang memang masuk akal: sebentar lagi turun, atau semacamnya. pria pun tidak perlu merasa risih, atau merasa tidak enak. karena, pihak perempuan pun tidak merasa tidak enak. mereka enjoy sama. semua juga merasa enjoy pada akhirnya.

di kota ini, pembagian fungsi dalam rumah tangga, terlihat tidak begitu jelas. tidak harus suami/ayah yang memberi nafkah bagi keluarga. meski memang kebanyakan seperti itu. maksudnya, di sisi lain, para istri/ibu juga banyak yang ikut bekerja. pertimbangannya banyak. sama seperti perempuan modern lainnya: aktualisasi diri, memanfaatkan ilmu yang pernah dipelajari di bangku kuliah, dan lain sebagainya.

bila terdapat tambahan pendapatan di sana, ya lumayan untuk menambah daya beli keluarga di kota yang relatif mahal ini. ya daya beli untuk rumah tangga, daya beli untuk rekreasi keluarga, daya beli untuk pendidikan anak, dan seterusnya. ini belum termasuk tambahan yang relatif penting ya: asuransi, biaya kesehatan, dan lain sebagainya. jangan lupa, sebagai pribadi, baik pria/suami/ayah dan perempuan/istri/ibu, adakalany punya keinginan terpendam untuk memanjakan diri. masing-masing punya pendapatan, mampu menghasilkan uang sendiri. lantas, apa yang salah, kalau mereka memanjakan diri?🙂

di era modern ini, meski daya beli meningkat, barang-barang kebutuhan juga ikut meningkat. baik kuantitas yang dibutuhkan, maupun harganya. perilaku masyarakat pun mulai berubah. karena daya beli yang meningkat, segala yang bisa terbeli akan dibeli. entah itu masuk kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. barang-barang primer tapi berharga tersier juga ikut menjadi kebutuhan. kata mereka, tidak masalah, selama memenuhi kebutuhan masa kini atau, saat ini.

perilaku masyarakat urban yang paling sering terjadi adalah, makan dan berkumpul di akhir pekan. bagi mereka yang single dan profesional, berkumpul bersama teman. menghabiskan waktu, ngobrol ngalor-ngidul tentang apa pun. bagi yang sudah berkeluarga, akan makan bersama di restoran. ini fenomena yang menarik, karena melakukan itu di hampir setiap akhir pekan. jauh berbeda dibanding puluhan tahun sebelumnya di negara ini. mungkin ada yang mengatakan mereka boros, tapi bila dilihat dari kacamata ekonomi, sebenarnya mereka memutar duit untuk sekitar mereka.

pengusaha restoran yang memikirkan buka cabang di mana lagi? investasi kemana lagi? buka lapangan pekerjaan kemana lagi? dan seterusnya. karyawan restoran, punya keluarga yang harus diberi makan juga. punya anak laki-perempuan yang harus disekolahkan juga. pendeknya, makan akhir pekannya orang-orang kaya itu sebenarnya memutar duit untuk anggota masyarakat yang lain juga🙂

sekian dulu untuk hari ini. mudah2an bisa menjadi kumpulan tulisan nantinya. kebetulan, beberapa tulisan memang saya khususkan tentang kota metropolitan seperti jakarta ini🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s