bertanya


malu bertanya, sesat di jalan

waktu saya kecil dulu, keqnya saya tergolong kritis. ya tapi sebatas keluarga saja. maklum, masih malu kalo di luar rumah. tapi bukan malu-maluin lho ya 😀

saya dulu banyak pengen tahunya, makanya saya banyak bertanya. ya ke kakak ya ke orang tua. terutama orang tua. saya dulu memang high curiosity. bahkan, karena saya anak sekolah, saya jadi mikir: ayah saya di kantor kerjanya apa ya? apa mengerjakan soal-soal dari atasannya? seperti anak sekolah gitu deh yang mengerjakan soal dari gurunya. dulu hati berpikir tidak mungkin seperti itu. tapi saya tidak akan tahu kalau saya tidak bertanya. hehehe 😀

tapi saya termasuk malu untuk bertanya di kelas. malu kalau pertanyaan saya tidak penting. malu kalau pertanyaan saya sedikit out of topic (OOT, kalau kata anak-anak jaman sekarang yang gaul). malu kalau saya seharusnya sudah paham penjelasan guru. takut terkesan bodoh karena menanyakan yang seharusnya sudah dipahami.

dulu, waktu di SMA, ada kakak kelas yang bilang,”bertanya aja kalau ga ngerti. kita yang sekolahnya gratis aja disuruh nanya terus. apalagi yang bayar seperti kalian.” iya juga ya kalo dipikir. bertanya kan ga ada ruginya 🙂 beliau, si kakak kelas tersebut. memang kakak kelas sejati. yaiyalah, dari SD, SMP, SMA, sampai kampus juga selalu menjadi kakak kelas saya 😀

tapi belakangan, waktu kuliah saya memang jadi malu bertanya. malunya lebih karena sekelas itu sudah 100-an orang. jadi malu kalau ngomong di depan umum (meski ngomongnya dari kursi sendiri ya). malu kalau saya menanyakan pertanyaan bodoh. habisnya, di kampus saya itu, orang-orangnya pada pinter-pinter siy. kecuali saya tampaknya 😀

saya jadi semakin jarang bertanya ke dosen. palingan bertanya ke teman yang pintar. atau belajar lewat diskusi. hehe.. padahal bisa saja hasil diskusinya yang salah kan. habisnya, yang ikutan diskusi, nilainya juga ga bagus-bagus amat 🙂

btw, ini ada artikel menarik tentang cara bertanya kepada orang lain supaya mereka memberikan jawaban yang memuaskan.

tapi semakin lama memang benar kalau bertanya itu tidak sebagus peribahasanya “malu bertanya sesat di jalan” 🙂

  • karena, tidak semua hal pantas untuk ditanyakan.
  • sebab yang kedua, tidak semua orang mau dan mampu menjawab.
  • ketiga, terlalu banyak bertanya itu tidak sopan. kesannya adalah: tidak mau ikut mengerjakan (kalau di organisasi) atau tidak mau membeli (kalau bertanya sama pedagang) alias window shopping saja 🙂

dan memang, di tempat kuliah saya yang baru, ada slogan baik untuk dijadikan prinsip:

manajer yang baik adalah manajer yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s