Menikah


saya baru saja menghadiri nikah seorang teman. semuanya bahagia. ya yang menikah, yang menikahkan putra-putrinya, ya teman-temannya juga. termasuk yang dapat buket bunga hasil lemparan belakang oleh yang menikah. yang undangan juga senang. dapat makan-makan dan foto-foto.

kalau di Indonesia, kata perencana keuangan Safir Senduk, kebanyakan orang menikah di usia 25 tahun. usia yang pas mungkin ya, untuk kebanyakan orang. kalau sekolah sampai SMA berarti sudah sekitar 7 tahun bekerja (baik pria maupun wanitanya). kalau kuliah ya berarti sudah sekitar 2 tahun bekerja. seharusnya sudah mapan secara finansial dan kedewasaan.

jadi ingat kata dosen pemasaran saya di kelas. bukan pemasaran yang dibahas. tapi tentang perilaku menikah yang berbeda di tiap budaya. kata beliau indonesia termasuk budaya low-trust. artinya, orang sulit untuk mempercayai orang lain. kecuali, telah berhubungan cukup lama. makanya, jadi make sense kalo di indonesia, banyak yang menikah setelah kenal cukup lama. beberapa teman saya yang sudah menikah, kebanyakan adalah menikah dengan sesama rekannya di organisasi mereka dahulu.

berbeda dengan di amerika (serikat). makanya di sana banyak perjanjian pra-nikah. perjanjian yang dibuat sebelum pernikahan, tentang apa yang boleh dan tidak boleh selama menikah. termasuk tentang harta gono-gini. makanya, kalau ada sesuatu yang muncul di kemudian hari, dan itu melanggar perjanjian, salah seorang bisa menggugat cerai yang lainnya. karena, mereka termasuk high-trust society. maksudnya, by default, setiap orang layak dipercaya sejak awal, kecuali di kemudian hari mereka melanggar kepercayaan tersebut.

jadi sedikit aneh kan, ketika kita tahu bahwa kate middleton dan prince william sudah hidup bersama sebelumnya. berarti mereka berdua bukan pasangan yang tiba-tiba bisa menikah atas dasar kepercayaan dong ya?🙂 saya baru tahu belakangan dari artikel bapak dosen informatika ini.

pernikahan memang bukan sesuatu yang mudah. karena menikah berarti komitmen untuk sehidup semati. iya, sehidup semati, artinya sampai ada yang meninggal duluan. kecuali, kalau sesuatu hal membuat pasangan ini terpaksa mengakhiri perjanjian mereka. ini bukan sesuatu yang haram memang, tapi ternyata sangat dibenci oleh ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

susahnya kemudian berlanjut untuk urusan finansial. pertanyaan tentang ini bisa panjang. mulai dari siapa yang harus bekerja? suami saja atau keduanya? kalau suami mampu menafkahi, tapi istri ingin bekerja bagaimana? kemudian tentang belanja. bagaimana cara membeli rumah? sanggup beli tunai atau harus mengambil kredit? bagaimana dengan kendaraan? sepeda motor atau mobil? kapan mau membeli? apakah setelah anak besar atau sejak awal pernikahn? dan seterusnya dan seterusnya. belum termasuk mengenai tunjangan kesehatan dan pensiun.

kemudian berlanjut untuk pendidikan anak. tidak hanya pendidikan di sekolah. tapi pendidikan budi pekerti di rumah. ini yang paling susah. kan mendidik yang paling baik adalah dengan memberikan keteladanan, tapi bila belum mampu untuk memberikan teladan, berarti belum mampu mendidik. karena, pada dasarnya, anak akan berfikir bahwa semua yang dia lihat di rumah dari orang tua mereka, adalah benar apa adanya. dan kebenaran itu yang mereka telan mentah-mentah pertama kali.

untuk urusan pendidikan dalam keluarga ini, ayah maupun ibu kadang kala memberikan persepsi yang berbeda bagi anak. ayah berkata A, ibu berkata B, bisa saja. untuk jangka panjang, ini akan memberikan tambahan pertimbangan bagi si anak sebelum mengambil keputusan. mereka akan mampu melihat baik-buruk dan plus-minus suatu alternatif pilihan. wajar, ayah adalah pria dan ibu adalah wanita. pertimbangan di antara keduanya bisa jadi berbeda. makanya, bagi mereka yang menjadi single-parent, itu adalah hal yang berat. terutama karena anak tidak mendapat pendidikan dari dua orang sekaligus dengan lebih dari satu pertimbangan yang berbeda.

pada akhirnya pernikahan adalah suatu keputusan yang berat. yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. tapi pernikahan bukan suatu akhir. justru pernikahan adalah suatu awal. awal menuju kehidupan yang lebih baik. awal menuju ibadah dan pahala yang lebih banyak.

mungkin untuk diketahui saja, tulisan ini dari saya, seorang yang belum menikah. tapi mudah-mudahan bisa segera. hehe😀 buat yang membaca, mudah-mudahan bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari tulisan ini🙂

3 thoughts on “Menikah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s