dewasa dan tidak dewasa


manusia selalu berkumpul. manusia selalu bersama-sama. manusia tidak pernah benar-benar ingin menyendiri. itu hanya sesekali saja. karena manusia, selalu ingin berkumpul.

manusia berkumpul dengan sesama mereka yang sejenis. hanya segelintir di antara mereka yang mau berkumpul dengan yang tidak sejenis dengan mereka. itu pun, hanya seorang business researcher, atau networker dan semacamnya. intinya, kebanyakan orang berkumpul dengan mereka yang sama. entah sama hobi, sama aktivitas, sama kesukaan, dan lain sebagainya. pokoknya, asal ada yang sama. di era new wave marketing-nya pak hermawan kertajaya, kelompok yang memiliki kesamaan ini disebut komunitas.

dalam kumpulan komunitas ini, manusia saling mendidik. mereka saling menginformasikan. lisan maupun non lisan. perkataan maupun tindakan. dan di antara mereka, terjadi saling afirmasi. kalau sudah di-afirmasi, artinya bahasa antar mereka adalah cocok. kalau sudah cocok, komunikasi boleh berjalan lebih lanjut. berlanjut dari sekedar memberi informasi saja. ini yang terjadi di dalam komunitas.

makanya, dalam komunitas, orang-orang akan semakin memperkuat karakter. terutama karakter yang sama itu. orang pintar yang bergaul dengan orang pintar, akan membuat komunitas menjadi pintar. investor yang bergaul dengan investor, akan saling berbagi investasi di antara mereka, hingga komunitas mereka lebih ‘kaya’ dibanding sebelumnya. para marketer bergaul dengan sesama marketer, berdiskusi tentang bagaimana melakukan penjualan yang lebih baik. termasuk, orang dewasa (dengan cara dewasa-nya), bergaul dengan sesama yang dewasa. mereka yang tidak dewasa, akan merasa nyaman dengan sesama yang tidak dewasa. dan komunitas seperti ini tidak akan pernah benar-benar dewasa.

berbicara tentang dewasa, dan tidak dewasa. banyak faktor mempengaruhi hal ini. di antaranya adalah pendidikan sehari-hari. tidak cuma yang ada di sekolah. tetapi juga di rumah dan lingkungan tempat tinggal. manusia yang tidak dewasa, hidup dalam angan-angan. hidup dalam dunia mimpi saja, yang dunia itu ternyata jauh berbeda dibanding realitas yang sebenarnya. manusia tidak dewasa, merasa bahwa pendidikan hanya ada di sekolah, dan mereka yang telah menempuh pendidikan berarti lebih pintar dibanding yang tidak berpendidikan. padahal tidak seperti itu.

mungkin hal itu terjadi karena ada era yang terlewatkan, yah?

manusia dewasa menyadari bahwa manusia bisa saja melakukan kesalahan. mereka memaklumi, dan memaafkan itu. manusia dewasa sadar bahwa manusia bisa berubah. karena itu, manusia bisa diubah. manusia tidak dewasa, hanya menyadari bahwa manusia itu harus diterima apa adanya. karena manusia tidak dewasa, dianggap tidak akan pernah bisa berubah menjadi lebih baik.

seseorang yang saya kenal, mengalami proses pen-tidakdewasa-an. dan dia sadar, bahwa proses tersebut akan mengkerdilkan pikirannya. maka dia berlari, menjauhi lingkungan tersebut. karena lingkungan itu, tidak memberinya sesuatu apa pun. melainkan justru sebuah ketidakdewasaan. yang dia alami, sesungguhnya hanya sederhana saja. tetapi kontinuitasnya itu yang berbahaya: dia harus diterima apa adanya, tidak dapat dididik untuk menjadi lebih baik, dan kalau dia adalah seorang yang terpelajar, maka dia tidak boleh melakukan kesalahan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s