era yang terlewatkan..


saya baru memahami sesuatu. dan ini cukup menjelaskan berbagai keadaan terkini di negara kita. terserah ya. keadaan ini bisa disebut problem atau keuntungan. hehe😀 yang jelas, saya mau cerita tentang sebab-musabab saja.

kita tau, dunia kini sudah masuk ke era internet 3.0, dan semuanya dimulai secara bertahap. iya kan? jual beli di ebay.com atau amazon.com itu jualan versi online, yang sebelumnya, jualan secara offline. Jualan di toko ini dimulai setelah pabrik sudah tidak mau menjual di pabrik lagi. mereka (pabrik) mau fokus di produksi. jadi mereka jualan ke orang yang mau jualan lewat toko/retail.

sekedar info aja. dulu, orang jualan di pabrik. jadi pembeli yang datang ke pabrik, setelah pabrik memproduksi skala besar. nah, ketika kewalahan melayani, ada peluang orang membuka toko. jadi mereka beli banyak dari pabrik, lalu jualan di toko-toko untuk orang sekitar tempat tinggal. iya, retail biasanya areabased selling. lama-kelamaan, orang toko juga pusing melakukan dua tugas sekaligus: beli banyak di pabrik lalu jual eceran/satuan di toko sendiri. maka ada yang melihat peluang lagi. namanya distributor. operasionalnya mengambil jalan tengah. jadi tidak fokus ke produksi massal, tapi juga tidak fokus ke jualan eceran. kerja distributor ini “hanya” membeli banyak dari pabrik, terus menjual sedikit ke toko-toko. sedikit tapi ya bukan eceran/satuan. fokus mereka “hanya” di pengembangan wilayah. tapi tetap saja, kerja distributor ini tidak gampang😀 hehe

nah, balik lagi. dulu di eropa, waktu masih jaman “kegelapan”. ketika semua ilmu harus mendapat pengesahan dari kalangan gereja, tidak ada yang namanya logika. semua harus melalui keyakinan agama saat itu disana. makanya copernicus yang bilang bumi itu bulat, setahun setelah tulisannya diterbitkan, dia dihukum mati. nah, era setelah itu namanya “aukflaurung”. artinya pencerahan. logika dan ilmu pengetahuan kemudian berkembang pesat.

era pencerahan ini yang tidak terjadi di Indonesia. kita banyak dijejali mistis-mistis yang tidak masuk akal. bahkan beberapa peristiwa di Indonesia membunuh akal sehat. sampai-sampai hantu-hantu pun masuk bioskop😀

kemudian, muncul james watt dengan mesin uapnya. mesin ini hanya monumentalnya saja. tapi sesungguhnya dunia mekanis industri juga jadi berkembang pesat saat itu. produksi lewat kemampuan tangan mulai tergantikan oleh mesin. produksi bisa lebih banyak dalam waktu yang sama. jadi bisa lebih efisien.

produksi massal yang efisien, ini yang tidak terjadi di Indonesia (juga). makanya, menurut saya, jadi bukan kebiasaan kita menimbang ongkos kita melakukan sesuatu. semacam hitung-hitungan investasi lah. kita invest berapa hasilnya bisa jadi berapa. trus memunculkan pertanyaan kita,”hasilnya bisa lebih efisien lagi ga?” pertanyaan terakhir ini yang jarang kita tanyakan ke diri kita.

ya bukannya apa-apa. tapi mungkin ini juga yang buat orang-orang kita berpikir instan. padahal sesungguhnya kesuksesan tidak ada yang mudah dan cepat. semua butuh waktu dan proses. tapi berpikir efisien adalah soal meminimkan waktu dan proses.

cerita lain. klo dengar cerita dari pak purwacaraka, ibu-ibu yang mendaftarkan putra/putrinya ke PCMS, bahkan bertanya,”6 bulan lagi bisa jadi artis ga?”🙂 padahal jadi seniman butuh waktu yang tidak sebentar. the beatles butuh lebih dari 1000 jam latihan di Jerman sebelum terkenal ke seluruh dunia.

cerita yang lain (lagi). Shinta jojo, udin sedunia, briptu norman camaru, juga bukan pengen jadi artis beneran menurut saya. mereka memang seniman. meski dengan cara mereka sendiri, lho. yang kebetulan, kebetulan aja niy ya. mereka “tertangkap” sama media. jadi aja mereka ditawari syuting dan maen iklan. plus tampil disana-sini.

lesson learnt-nya sederhana aja siy. kita berada dalam lingkungan yang memaksa kita untuk mendapat hasil instan. mungkin ini efek penjajahan 350 tahun lebih kali ya. tapi yang jelas, ya kita jangan terjebak pada keadaan itu. pada era yang tidak pernah kita alami. yang jelas harus tetep berusaha keras, karena hasil instan itu sesungguhnya tidak pernah ada🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s