menanti


menanti, menanti dan menanti

sampai kini masih menanti

sudah sejak lama

bahkan sejak dulu

hingga kini, masih

masih : menanti, menanti dan menanti

tidak sendiri

tapi bersama sang waktu

yang entah kapan berhenti

menanti, menanti dan menanti

aku yang masih disini

tak juga aku beranjak

belum, setidaknya

karena aku masih

menanti, menanti dan menanti

2 thoughts on “menanti

  1. nyah, nyah, nyahhhh…
    salah satu ciri orang jatuh cintrong, mendadak menjadi pujangga. kayak di pelm AADC itu..

    *eh Wan, btw, kapan mau silaturahim ke rumah kami? kami udah pindahan lhooo…😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s