ma’rifatul maydan


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ma’rifatul Maydan (khususnya dalam da’wah himpunan)

Ma’rifatul maydan. Berarti, kurang-lebih, adalah “mengenal medan”. Ini adalah “judul” yang diberikan kepada saya, seorang yang masih belajar dan masih berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seorang yang masih belum memahami karakteristik medan dakwah yang saya hadapi.  Insya ALLAH, tulisan ini, menyertai sedikit paparan saya, yang mudah-mudahan meginspirasi audiens dan bagi mereka yang membaca. Sekelumit apa yang pernah saya lakukan dalam dunia dakwah himpunan, saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Selalu awali segala sesuatu dengan niat. Karena niat adalah separuh ibadah itu sendiri. Berdakwah di himpunan, diawali dengan niat dari dalam hati. Bukan atas sebuah jabatan, bukan karena kekuasaan. Ibaratnya, niat adalah semut hitam di atas batu besar di malam. Tidak terlihat, tapi percayalah dia (baca:niat) itu memang ada. Awali dakwah di himpunan dengan niat mengubah keadaan menjadi lebih baik (menurut kita sebagai seorang muslim tentunya).

Tidak pantas bagi orang beriman untuk merasa lemah mental ketika terlibat dalam the battle of hearts and minds (pertarungan merebut hati dan fikiran umat manusia). وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah ta’aala apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah ta’aala Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa ayat 104)

Kemudian, kenali medan dakwah: mengenal himpunan. Organisasi mahasiswa ini hanyalah keniscayaan, setelah sekelompok mahasiswa belajar bersama dalam satu rumpun program studi, maka terbentuklah kultur. Dan kultur ini yang mendasari (sekaligus menjadi sebuah keniscayaan) berdirinya sebuah himpunan mahasiswa. Modal dasarnya jelas cuma satu: make sense (masuk akal). Selain itu, kebiasaan kita (baca: orang Indonesia) untuk tidak berlari kencang, menjadikan teman-teman kita melihat organisasi himpunan sebagai tempat “bersantai”.

Selain itu, tanamkan kesadaran bahwa:

“kita tidak bisa memuaskan semua pihak”,

Artinya, kita harus menjadi muslim yang tegas dalam melihat benar-salahnya sesuatu, benar-tidaknya sesuatu. Tapi tetap bertutur kata yang lemah lembut dalam berkomunikasi. Karena, semua orang pasti punya keinginan dan harapan tentang bagaimana himpunan itu seharusnya, tapi sebagai penegak dakwah kita harus sadar bahwa kita tidak bisa memenuhi semua keinginan mereka.

Lemah lembut dan sabar adalah pembentuk akhlak Islami. Mengapa generasi awal ummat ini, yakni para sahabat radhiyallahu ’anhum begitu mulia akhlaknya? Karena mereka menyaksikan dan meneladani pemimpin mereka yang sungguh akhlaknya sangat mulia, yakni Nabiyullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Demikianlah Allah ta’aala abadikan performa penuh pesona Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam ayat sebagai berikut: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran ayat 159)

Ada perbedaan terminologi yang sering kita salah mengartikannya. Himpunan adalah organisasi. Tapi kebanyakan di antara kita menyebutnya dengan istilah yang sama: himpunan. Padahal, yang kita maksud adalah sekretariat. Jadi, bedakan sekretariat dengan organisasi. Sesungguhnya, di sekretariat-lah, ladang dakwah kita lebih luas dan tantangannya justru lebih terasa. Bahkan, bagaimana performa suatu organisasi himpunan, bisa kita lihat dari bagaimana sekretariat himpunannya.

Kultur yang biasa, adalah mahasiswa menggunakan himpunan sebagai tempat melepas lelah. Sebagai tempat main sejenak di antara dua kuliah. Sebagai tempat rehat pasca praktik di laboratorium. Sebagai tempat bersenda-gurau dan bersantai. Nah, di sinilah tantangannya. Bagaimana mengubah suasana seperti itu, menjadi suasana yang lebih bermanfaat dan lebih baik. Sekali lagi, tentu dalam pandangan kita sebagai seorang muslim. Dan anda tentu tahu, ada yang tidak suka dan tidak setuju dengan cara pandang ini.

Ada tiga sinergisasi instrument dakwah yang bisa kita lakukan:

Pertama, mulailah dengan distribusi anggota pengurus yang tepat, di posisi yang tepat. Beberapa kegiatan organisasi himpunan, memungkinkan terjadinya kebijakan yang salah. Terutama dalam porsi kaderisasi dan kekeluargaan. Serta, jangan lupakan media, karena media adalah alat dahsyat yang bisa mengubah pikiran manusia. Pada ketiganya, hukum pareto dapat berlaku: 20% aktivitas memberikan 80% hasil yang signifikan. Sebelum memulai kepengurusan, biasakan distribusi tidak hanya di organisasi himpunan tapi juga di organisasi dakwah.

Kedua, budayakan lingkungan yang tepat. Tempatkan agent of dakwah di organisasi himpunan. Karena ide itu mengalir dari satu tingkah laku, ke tingkah laku yang lain, melalui pikiran orang. Makanya, contoh dari pejabat itu menjadi penting. Biasakan contoh-contoh baik berlaku di himpunan: shalatlah tepat waktu, ajaklah orang lain shalat, bila memungkinkan sempatkan untuk tilawah. Poin terakhir ini agak susah dilakukan oleh pejabat organisasi himpunan. Poin pentingnya, jangan sendirian. Kalau agent of dakwah itu sendiri, dia akan kehabisan nafas dakwah padahal setahun kepengurusan belum berakhir.

Ketiga, pompa semangat para agent of dakwah. Biasakan ada kumpul rutin, tapi tidak harus membahas sesuatu yang penting. Tidak harus membahas visi, program, dan seterusnya. Bahas saja hal-hal teknis di organisasi dan sekretariat. Sebulan sekali juga cukup. Sudah itu saja. Berkumpul sesame agent itu bisa jadi cukup memompa semangat, meski hasil masih jauh dari ideal. Tapi tidak apa-apa. Nilai amalan itu kan terletak di proses berusahanya. Bukan di hasilnya.

Ada tiga strategi dakwah yang bisa kita lakukan:

Pertama, bentuk divisi rohani. Jadi struktur syiar tidak hanya di organisasi dakwah saja. Tapi juga di organisasi himpunan. Tidak hanya mewakili yang muslim saja memang, tapi mewakili semua agama yang resmi diakui pemerintah. Struktur yang dobel, memungkinkan penetrasi yang lebih baik dengan hasil dakwah lebih baik pula. Di era Rasulullah, negara menganut system negara muslim, tapi masyarakat non-muslim tetap hidup tentram.

Kedua, sediakan mushola di himpunan. Artinya, sepanjang waktu, siapapun teringat untuk shalat dan biasa shalat. Biasakan tidak boleh berisik ketika ada yang shalat. Dan mushola memang berfungsi sebaliknya juga: menjaga ketentraman dan ketenangan sekretariat organisasi. Bayangkan bila tidak ada mushola. Akan seberapa kacau keadaan? Yang disebut mushola adalah: ruang shalat, mukena dan sajadah. Pasang penunjuk kiblat.

Ini hal ketiga yang pernah kami lakukan: menempel panah kiblat di lantai himpunan. Tujuannya jelas, arah shalat yang lebih tepat dan lebih baik. Lagipula, panah bertuliskan “kiblat” tentu mengingatkan orang, apakah dia sudah shalat atau belum. Sebagai penutup, menjadi seorang muslim harus realistis, saya kira. Target dakwah harus masuk akal. Target dakwah bukan kondisi terkini memang, tapi juga bukan target yang tidak mungkin dicapai. Bukan apa-apa, supaya kita tidak kaget dengan realita di masyarakat nantinya.

Wallahu’alam

http://Ikhwanalim.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s