kerja dimana ya?


setelah lulus, kerja dimana ya?

Ini pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh seorang sarjana. Setahu saya, hampir semua orang yang baru lulus mempertanyakannya. Entah ya, tapi kuliah memang identik dengan bekerja. Bekerja setelah lulus, maksudnya. Kalau tidak bekerja setelah lulus, malu rasanya. Malu kepada teman, malu kepada tetangga, malu kepada keluarga. Rasa malu yang pertama saya sebut, konon yang paling besar (rasa) malunya.

Tapi, benarkah setelah lulus harus bekerja? Ini yang menjadi pertanyaan besar untuk kita. Sebesar tanda tanya khayal yang menghadang di depan kita. Menjulang dari kepala hingga kaki kita. Kuliah di era tahun 2000-an sangat menguntungkan sesungguhnya. Ketika di kampus-kampus sudah menjamur kegiatan entrepreneurship, wacana menjadi pengusaha tidak lagi sekedar wacana. Banyak rekan alumni universitas kita yang sudah melakukannya. Kalo dibandingkan di tahun 1970-an (apalagi dengan sebelumnya), entrepreneurship bukanlah wacana sama sekali. Bahkan tidak menjadi wacana. Paradigma umum saat itu adalah : lulus langsung dapat kerja. Apalagi kalau berasal dari universitas ternama.

Apakah harus bekerja? Ini saya pertanyakan untuk kedua kalinya. Anda kan sarjana, mampu berpikir lebih panjang bagi mereka yang tidak. Tentu benar bahwa keahlian anda lebih mendalam dibanding yang tidak menekuni bidang strata satu. Tapi, kan tidak melulu itu saja alasan anda dalam mengambil keputusan. Ada berbagai macam pertimbangan, biasanya : mendapat penghasilan, mendapat kesempatan karir, dan lain sebagainya.

Dan sejauh ini, tidak ada yang benar-benar salah. Apalagi bila anda adalah seorang laki-laki, yang dalam jangka waktu dekat, tak lama setelah anda baru saja lulus kuliah, menikah dan membiayai pernikahan anda adalah suatu keharusan yang tanggung jawabnya lebih besar bila dibanding anda yang sarjana, tetapi adalah seorang perempuan. Dengan asumsi patrialinial tentu saja🙂

Itu di satu sisi. Di sisi lain, perusahaan menyatakan bahwa untuk dapat berkompetisi di industri yang ketat, tentu saja mereka harus memiliki SDM andal untuk memenangkan persaingan. Definisi andal disini tentu berbeda-beda di tiap perusahaan. Bisa berarti berkompeten, bisa berarti kompak bekerja sama, dan bisa berarti yang lainnya. Dan, karena itu, perusahaan mencari calon karyawan yang qualified, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan. Simpulannya sebenarnya hanya satu, ketika ada seorang pencari kerja yang ditolak oleh perusahaan tempat dia melamar : dia hanya tidak cocok saja.

Berikutnya, kegagalan mendapat pekerjaan mengarahkan rasa malu sang pencari kerja terhadap sanak-kerabatnya. Mulai dari keluarga yang bertanya-tanya, tetangga yang sudah tahu bahwa dia sudah lulus tapi akan bertanya mengapa masih di rumah saja, dan teman-teman seangkatan kuliah dulu yang ingin tahu si dia kerja dimana ya sekarang? Padahal ini cuma masalah ketidakcocokan saja dengan perusahaan.

Bagi teman-teman yang wanita, memilih untuk bekerja adalah sebuah pilihan yang hampir pasti. Mau serius mengejar karir, atau sekedar bekerja saja untuk mengisi waktu, mendapat gaji, supaya bisa pegang duit untuk beli baju sendiri, dlsb. Apalagi akan ada saatnya nanti mereka akan menikah, menjadi istri, kemudian menjadi ibu, yang sambil tetap bekerja harus menjadi penanggung jawab utama akan pendidikan anak.

***

Saya sendiri belakangan merasa malas untuk bekerja di perusahaan. Karna saya malas bekerja dengan orang lain yang saya tidak kenal cukup dekat, sehingga saya pantas mengeluarkan kemampuan saya dengan maksimal. Maklum, dua tahun menjadi senior manager di organisasi, meski baru organisasi mahasiswa. Ini baru saya rasakan belakangan saja, meski konsekuensinya adalah income saya akan rendah di beberapa tahun awal setelah lulus kuliah.

Beberapa bulan lagi saya akan magang, seharusnya. Dan saya sudah mengajukan permohonan magang melalui kampus saya. Tujuannya bukan bekerja sebenarnya, meski akan ada perusahaan yang menawarkan hal itu kepada kami. Tapi alternatifnya bisa untuk mendapat ilmu seluas-luasnya, koq. Yang paling utama, problem solving yang dilakukan bisa dijadikan sebagai data untuk thesis. Tidak harus bekerja,koq. Setidaknya itu prinsip saya. Mungkin saya masih bisa menghadirkan tulisan-tulisan saya di blog ini andaikata saya tidak dengan segera diterima bekerja. Toh, bekerja bukan satu-satunya cara mendapat income untuk melanjutkan hidup🙂

saya tidak ingn memikul beban berat dalam hidup🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s