bagaimana ya perasaan manajer pengembangan produk?


Saya tadi langsung mau nulis judul postingan ini, tapi masih bingung juga. Belum bener-bener tahu bagaimana struktur tulisan kali ini. Hehe😀 Biasalah, masalah bikin tulisan kan ga cuma di idenya doang,, tapi juga gmana menuliskannya. Iya tidak? hehe😀

Saya kali ini mau berkisah sedikit tentang pengembangan produk juga. Ini bidang yang susah-susah gampang, sama seperti berbagai bidang lainnya di bisnis atau organisasi. Ya kalau saya dulu pernah jadi aktivis mahasiswa yang kerjanya spesialis di bikin acara, analisis itu mutlak ada. Kan organisasi mahasiswa itu produknya ya si kegiatan-kegiatan itu sendiri.. Aspek yang harus dipertimbangkan macem-macem. Sama aja kayak perusahaan yg bikin produk atau bikin jasa, untuk dijual gitu..

Ini juga yg bikin saya selaku salah satu senior manager di organisasi mahasiswa dulu, kebingungan dan kelimpungan. Termasuk para senior manager di perusahaan atau organisasi non profit. Karena kita tidak bisa melihat sesuatu secara parsial. Harus terintegrasi melihatnya. Sesuai tidak dengan tujuan organisasi? Kesiapan pendanaan (financing) bagaimana? Orang-orang kita siap menerima ide baru ini dan melakukannya tidak? Stakeholder bagaimana, sudah siap juga? Seperti biasa : dan seterusnya, dan seterusnya, tanpa henti..

Kenapa saya bilang susah-susah gampang, alias ribet ya karna aspeknya macem-macem, dan semua kudu dipertimbangkan dan dihitung, sebaiknya bagaimana. Mulai dari kesiapan melakukan riset,,ini para pelaku risetnya udah dapat/punya ilmunya belum.. risetnya juga ada dua macam : riset keberterimaan produk di pasar/masyarakat (yg ini boleh dibilang riset marketing),,kan sayang klo produk/jasa/kegiatan udah jadi tapi kudu ditarik lagi karna ternyata belum bisa diterima sama masyarakat/pasar..

Riset yg kedua, ya sesuai dengan bidang produk itu,misalkan kalo obat ya berarti kemampuan si farmasis/apoteker untuk melakukan pengembangan formula, analisis, dan berbagai riset lainnya. Kalo semikonduktor berarti si lulusan sudah mampu melakukan apa dan bagaimana caranya. Susah-susah gampang juga melakukan yang seperti ini, karena semakin canggih tingkat teknologi yang digunakan, maka semakin tinggi pula kemampuan pengelolaan (manajemen) yang harus dimiliki..

Nah, riset juga ga hanya sekedar riset. Riset juga akan mempengaruhi kapasitas produksi. Seberapa banyak acara mampu menampung peserta tapi tetap memberikan hasil maksimal? Seberapa banyak unit produk akan dibuat dalam sekali proses? Ya semacam itu lah. Riset ini bukan dilakukan oleh tim engineering, desain atau semacamnya. Tapi lebih oleh tim riset pasar/marketing. Maaf ya kalo contohnya dari industri farmasi lagi. Jadi, klo di industri farmasi, setahu saya tim riset pasar juga menghitung kemampuan pasar menyerap produk seperti apa. Dan berdasar azaz ketahudirian, seharusnya tim marketing bisa melakukan proyeksi, seberapa mampu mendistribusikan dan menjual produk. Ini yang mempengaruhi juga seberapa besar produk bisa diproduksi. Kalau dananya ada, dan dari hitung-hitungan bisa cepet balik modal, bisa segera diproduksi deh😀

Nah, lanjut lagi ke pengembangan produk dulu. Kalau produk/jasa udah dibikin, boleh lah dilakukan tes-performa, sebelum bener-bener diluncurkan ke pasar. Kalau di industri software ada yg namanya alfa test sama beta test. Jadi produk diluncurkan dalam jumlah besar dulu (tapi bukan massal, lho) untuk mengetahui bagaimana pendapat pasar tentang performa software tersebut. Makanya kalau mencoba software baru, biasa ada istilah : versi beta. Industri farmasi beda lagi, harus versi gamma. Karena ini ada hubungannya sama kesehatan, maka seharusnya tidak boleh gagal di pasar. Pengujian produknya harus berhasil dulu, baru bisa dilempar ke pasar🙂

Apalagi ya? Berhubung tidak terbayang sejak awal bagaimana tulisan ini akan disusun, jadi ya acak saja. Hehe😀 Ini juga baru terbayang judulnya :

“bagaimana ya perasaan manajer pengembangan produk?”

hihihi😀 karena ya itu, berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam pengembangan produk. Tapi bisa jadi juga, manajer pengembangan produk hanya merasa biasa-biasa saja. Karena dia hanya mengelola produk berdasar aspek teknis engineering&design saja, karena aspek lain sudah dikerjakan oleh bagian lain, bagian pemasaran, misalnya🙂 Selanjutnya, mengingat ribetnya pengembangan produk, seharusnya keputusan ini menjadi keputusan strategis bagi para pimpinan organisasi, mengingat berbagai aspek harus dipertimbangkan, berbagai bagian organisasi terlibat dalam urusan ini (termasuk pendanaan!), dan banyak manusia akan berpikir dan berbuat (halah!) dalam proses pengembangan produk.

Saat ini, masih terjaga. Setelah bangun jam11 malam tadi, tidur setelah shalat maghrib.🙂

One thought on “bagaimana ya perasaan manajer pengembangan produk?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s