dua alasan tidak menjadi apoteker


Kemarin malam, saya bertemu teman SMA. Dulu pas di Magelang, kami satu asrama di tingkat tiga. Baru akhir pekan lalu saya tahu kalau dia ada di Balikpapan. Biasa, dari facebook. Bekerja disini. Kami nonton bareng dulu di fasilitas klub Total E&P, tempat kerja dia. Habis itu baru ngobrol banyak, karena saat menonton pertandingan yang skornya 2-1 untuk tuan rumah itu, gak enak buat ngobrol. Sambil makan malam, kami baru mengobrol banyak. Masing-masing dari kami cerita, apa saja yang kami kerjakan, dulu saat kuliah s-1 dan sekarang setelah lulus. Dia tahu saya kuliah S-1 di farmasi, tapi dia bertanya kepada saya, mengapa tidak melanjutkan apotoker, suatu program profesi di bidang itu, sama seperti sarjana hukum yang mengambil profesi pengacara, atau sarjana kedokteran yang mengambil profesi dokter.

Kira-kira begini jawaban saya :

Yang pertama : Ujian akhir yang akan dilakukan, susah sekali menurut saya.

Kira-kira beginilah ujian comprehensive dari pendidikan 5 tahun (4 tahun s1 dan 1 tahun profesi) di sana. Mulai dari membuat jurnal untuk praktikum, yang sangat rumit, karena mencakup sifat-sifat zat aktif yang akan dibuat sediaannya, kemudian pemilihan teknologi farmasi yang akan digunakan, bagaimana menganalisis kebenaran (kualitatif) dan kemurnian (kuantitatif) zat itu sendiri, hingga farmakologi (khasiat, efek samping, dan lain sebagainya). Sampai pada pengemasan informasi berupa brosur maupun kemasan yang akan digunakan.

Seharusnya tidak begitu rumit, mungkin beberapa orang mengatakan seperti itu. Tapi terus terang saja, pembuatan jurnal praktikum hanyalah tahap awal dari ujian. Tahap selanjutnya ya praktikum itu sendiri, bisa berupa pembuatan sediaan (obat) atau pengujian zat aktif dan produk jadi. Tahap terakhir adalah sidang yang meliputi teori-teori perkuliahan, kerja praktik, jurnal praktikum yang sudah dibuat, pelaksanaan dan evaluasi tahap praktikum. Lucunya (atau anehnya?), hanya Farmasi ITB yang melaksanakan ujian seperti ini di Indonesia.

Lagipula, ini mungkin yang terpenting. Statistik yang pernah saya perhatikan menyatakan, meskipun hanya beberapa kali (sekitar 3-4 kali) berturut-turut, pernah terjadi jumlah peserta yang lulus dibandingkan terhadap jumlah peserta di awal ujian, hanya sekitar 66%. Tiga puluh tiga persen di antaranya sebagian besar tidak lulus di tahap pertama ujian. Ini bukan data dari tata usaha ya, melainkan hanya sekedar hitung-hitungan saja, sembari mengobrol bersama teman angkatan atas.

Yang kedua :  saya tidak mau sembarangan menjalankan sumpah.

Kelulusan dari program ini bukan seperti lulus menjadi seorang sarjana. Ini adalah program profesi. Pengetahuan yang anda dapatkan, tidak serta-merta dapat diaplikasikan begitu saja. Ini ada hubungannya dengan manusia dan kemanusiaan. Anda terbayang ‘kan bagaimana seorang pengacara mengambil peran dalam bidang hukum untuk menciptakan keadilan di dalam masyarakat? Berapa ketidakadilan yang mungkin terjadi kalau seorang pengacara tidak serius menjalankan profesinya?

Sama dengan seorang dokter. Tugasnya mendiagnosis kelainan yang terjadi pada tubuh manusia. Gejala yang sama, bisa saja beda diagnosis oleh beberapa dokter yang berbeda. Bagaimana kalau itu terjadi pada penyakit yang fatal? Atau akut? Atau menyebabkan kematian? Dan seterusnya, dan seterusnya. Di sinilah pentingnya sebuah sumpah dalam profesi. Untuk menjalankan profesinya, sesuai dengan etika profesi yang seharusnya. Di sanalah guna sebuah sumpah sebagai tanda kelulusan dalam pendidikan profesi.

Sama dengan profesi farmasi. Peserta ujian yang dinyatakan lulus, disumpah sebagai seorang apoteker. Dengan pemahamannya akan ilmu bahan, baik yang toksik, mematikan ataupun menyembuhkan sekalipun, dituntut aplikasi yang etis di masyarakat tempat mereka akan mengabdi. Karena ini (sama seperti profesi dokter), ada hubungannya dengan sehat dan sakitnya seseorang. Bagaimana sediaan-sediaan farmasi digunakan, untuk memperbaiki kualitas hidup umat manusia. Ini tanggung jawab seorang apoteker.

Saya bukannya tidak mau disumpah. Tapi saya mengerti sekali apa sumpah itu. Seperti sumpah syahadat, yang pertama dan yang kedua, menuntut manusia yang mengucapkannya untuk mengamalkannya bahwa Tiada Ilah selain ALLAH dan Muhammad adalah Rasul ALLAH. Tidak hanya dalam lisan saja, tapi justru dalam perbuatan. Sama saja. Setelah mengucap sumpah, akan diikuti dengan tanggung jawab. Tentu, tergantung konteks. Dalam konteks keprofesian farmasi, saya tidak ingin terjebak di dalam sumpah tersebut. Karena sekali saya bersumpah, saya ingin sekali bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Tidak setengah-setengah.

Dua itu jawaban saya kepada teman, Mohamad Rizal. Hahaha😀 Trims, sudah bertanya. Karena banyak yang bertanya-tanya kepada saya. Ya kira-kira seperti itu jawaban saya. Oiya, trims buat traktirannya ya. Kapan lagi mau mentraktir saya?🙂

One thought on “dua alasan tidak menjadi apoteker

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s