Big Picture – Details – Big Picture


Kesempatan berbicara di depan orang banyak, sesungguhnya adalah sebuah kesempatan yang relatif langka. Kecuali bagi seorang dosen, saya kira. Dosen kebanyakan, tentunya. Kenapa saya berpendapat seperti itu? Karena sesungguhnya, setiap kesempatan public speaking adalah sesuatu yang sangat langka. Langka bagi para audiensnya, karena (biasanya) mereka baru sekali itu bertemu dengan sang pembicara, dan langka karena (bisa jadi) materi yang akan disampaikan tersebut juga baru mereka dapatkan.

Di sisi pembicara, kesempatan untuk memenuhi harapan tiap audiens juga adalah sesuatau yang langka. Karena belum tentu dia akan memberikan materi yang benar-benar sama dibandingkan dengan materi yang sebelumnya pernah dia sajikan. Selain itu, bisa jadi ada perbedaan antara audiens yang akan dia hadapi nanti, dibandingkan dengan audiens yang sudah-sudah. Di sini saya ingin menggarisbawahi, menekankan bahwasanya setiap momentum public speaking sesungguhnya adalah momentum yang sangat langka. Karena pembicara yang berbeda, materi yang berbeda, audiens yang berbeda, waktu dan tempat yang berbeda, dan berbagai faktor lainnya adalah sesuatu yang jarang terjadi. Pesan saya, tentang satu momentum yang jarang ini, berbicaralah dalam bahasa yang relatif sederhana dan sistematis : big picture -details – big picture.

Tiga langkah inilah yang ingin saya anjurkan kepada anda : big picture -details – big picture. Ini adalah sistematika yang akan menyederhanakan materi yang akan anda sampaikan kepada audiens anda. Mulailah dengan suatu big picture, gambaran besar. Beberapa ada juga yang menyebutnya helicopter view. Jadi seperti berada di ketinggian tertentu di atas suatu wilayah menggunakan helikopter, ceritakanlah dengan sederhana apa yang akan anda sampaikan. Seberapa penting hal tersebut, apa kaitannya dengan hal-hal lainnya, fenomena apa yang menjadi sebab atau akibat dari hal ini, dan seterusnya dan seterusnya. Aspek terpenting dalam big picture yang pertama ini, justru semua hal yang tidak termasuk dalam lingkup materi itu sendiri. Siapa tetangga kita, apakah rumah kita di tanah datar atau di lereng, bangunan apa saja yang terlihat di sekitar rumah kita? Seperti itu kan yang akan kita lihat pada rumah kita, dari ketinggian tertentu dengan helikopter?

Di sinilah saatnya kita berbicara tentang segala yang berbau detail. Segala tentang rumah kita. Bukan tentang sekitar rumah kita, atau keadaannya. Tentang seberapa luas tanahnya, seberapa luas bangunannya, ada berapa tingkat, bagaimana konsep arsitekturnya, konsep desain interiornya, apa saja bahan bangunannya, dan seterusnya dan seterusnya. Potretlah semuanya dan ceritakanlah semuanya. Dengan detail. Anda bisa menggunakan konsep 5W + 1H (what, when, who, where, why, how). Tentunya, jangan lupa untuk memunculkan sesuatu yang baru. Mudah-mudahan tidak ada audiens kita yang hadir saat ini dan di saat lain berikutnya, yang akan berkata,

wah, pembicara itu ngomongin hal yang sama. Engga ada yang baru.

Terakhir, sebagai penutup dalam presentasi atau pidato anda. Berikanlah sedikit big picture kembali, sebagai penutup yang berupa kesimpulan dan rangkuman. Jangan sampai audiens kita justru merasa pikirannya yang baru saja dibawa melanglang buana kesana kemari dengan berbagai detail yang anda kemukakan, ternyata tidak menemukan titik pemberhentiannya. Selain itu, big picture yang terakhir ini adalah big picture yang berbeda dengan di awal anda berbicara. Ini adalah kesimpulan dan rangkuman dari semua materi anda kepada audiens.

Mudah-mudahan bermanfaat, big picture – details – big picture ini, semoga berhasil diterapkan dengan mudah dan sederhana dalam presentasi ataupun pidato anda.🙂