Mencuri Seluruh Perhatian Audiens


Public Speaking ternyata memang tidak bisa asal-asalan. Mungkin bisa, bagi mereka yang sudah sangat berpengalaman, yaitu yang sudah sangat sering diminta untuk berbicara di depan publik. Tapi tentu saja, mereka mengawali itu semua dengan belajar dan berlatih dengan serius. Hampir semua aspek dalam public speaking tidak bisa kita anggap remeh. Termasuk (dan terutama) dalam hal mendapatkan perhatian audiens. Mulai dari yang duduk di depan, hingga di belakang. Mulai dari awal, hingga akhir kesempatan public speaking yang diberikan kepada kita.

Ada beberapa hal yang coba saya sarankan kepada teman-teman semua, seluruh pembaca artikel ini, terkait bagaimana “mencuri seluruh perhatian audiens” :

Kenali siapa audiens anda

Pada dasarnya, tidak ada waktu yang tidak tersedia bagi kita, calon pembicara untuk mencari tahu siapa saja calon audiens kita. Seberapa pun sempitnya waktu ketika kita dihubungi untuk mengisi suatu kegiatan seminar, pelatihan, kelas, dan lain sebagainya, sebenarnya selalu ada kesempatan untuk mencari tahu siapa saja calon pendengar kita. Dan kesempatan ini jangan disia-siakan sama sekali. Aspek penting yang harus kita ketahui adalah apa aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan. Berbicara di depan puluhan mahasiswa tentu berbeda dengan berbicara di hadapan para pejabat publik, dan lain sebagainya. Dari sini kita bisa mengetahui, gaya komunikasi seperti apa yang layak kita bawakan. Lelucon seperti apa yang pantas untuk kita sampaikan. Bila gaya komunikasi saja sudah tidak pas, bagaimana kita akan mendapat perhatian audiens ‘kan?🙂

Kenali karakteristik audiens anda

Karakter audiens juga akan mempengaruhi apa dan bagaimana kita menyampaikan materi yang dipesan kepada kita. Karakter yang paling utama adalah bagaimana kita harus berinteraksi dengan mereka. Apakah mereka cukup terbiasa untuk berdiskusi di tengah-tengah pembicaraan? Atau justru diskusi biasanya dilakukan di sesi tanya jawab? Yang kedua, bagaimana posisi pemahaman mereka terhadap hal yang akan anda sampaikan? Apakah hal tersebut sudah demikian familiar bagi mereka, sehingga kita tidak perlu mengulanginya dari dasar? Bisa jadi sebaliknya, kita harus menekankan beberapa hal fundamental di awal presentasi kita kepada audiens, sebelum sampai kepada inti materi. Seberapa perhatian mereka terhadap apa yang anda sampaikan, dipengaruhi juga oleh sejauh apa pemahaman mereka, disamping minat terhadap materi yang akan anda sampaikan.

Hanya sebagai contoh, public speaking berupa pidato sambutan tentu saja tidak memerlukan sejauh apa pemahaman audiens akan yang anda sampaikan, cukup menjembatani saja antara pembukaan dengan inti acara. Tetapi sebaliknya dengan pengisi materi inti. Dia benar-benar harus mengetahui sejauh apa posisi pemahaman audiens, agar dapat menyampaikan materi sebaik-baiknya, setepat-tepatnya. Keduanya berbeda, tetapi tetap memerlukan perhatian yang sama kan dari seluruh audiens?🙂

Ciri-ciri perhatian audiens yang fokus pada public speaking

Ketiga parameter berikut dapat menjadi tolok ukur anda sebagai pembicara, untuk mengukur seberapa perhatian audiens terhadap apa yang anda sampaikan:

  1. Aura positif. Apakah anda merasakan bahwa situasi dan kondisi public speaking memiliki aura positif seperti yang anda harapkan? Bila anda berbicara dalam suatu pelatihan kepemimpinan, apakah anda merasakan munculnya semangat kepemimpinan dari para peserta?
  2. Interaktif. Interaktif disini, sebenarnya lebih mengarah pada ketidakmonotonan suatu public speaking. Bisa monoton, ketika metodenya itu-itu saja. Hanya berbicara saja, bisa jadi monoton. Tidak mengajak audiens aktif, bisa jadi monoton. Hanya berdiri di satu titik saja di ruangan, bisa jadi monoton. Dan seterusnya, dan seterusnya.
  3. Komunikasi dua arah. Ini adalah salah satu bentuk public speaking yang interaktif. Pelibatan kedua fungsi komunikasi : komunikan dan komunikator. Yang berbicara dan yang mendengarkan. Tidak hanya satu arah saja, tidak hanya satu pihak sebagai pembicara dan satu pihak lainnya sebagai pendengar. Tapi keduanya berbicara dan keduanya mendengarkan. Parameter ini termasuk salah satu parameter terpenting dalam kualitas anda sebagai seorang pembicara.

Demikian artikel ini, semoga sukses menerapkannya bagi anda, calon pencuri perhatian seluruh audiens🙂

Salam, Ikhwan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s