Jamu Modern


Saya pertama kali membaca kisah ini di tahun 2005. Saya ingat betul, ketika itu saya masih SMA kelas 3. Sudah semester terakhir. Sebentar lagi akan lulus dan masuk kehidupan baru di dunia kampus. Tapi kisah menarik ini memang inspiratif. Dan suatu waktu di akhir agustus 2010, saya menyampaikan kembali kisah ini di latihan kepemimpinan dan organisasi, di organisasi yang dulu pernah saya pimpin. Saya mencuplik kisah ini untuk menyampaikan pesan kepada peserta bahwa memiliki visi itu penting, dan mulailah dari akhir (Begin with End in Mind). Kisah ini sendiri, terjadi di sekitar tahun 1970-an. Silakan menikmati.

Seorang generasi ketiga dalam keluarga, diminta untuk mengelola bisnis keluarga. Dia ingat betul, ketika itu, “Utang bahan baku kalau dihitung sekitar 30 bulan omzetnya, pabriknya hanya 600 meter persegi, dan pekerjanya 100 orang tanpa punya mesin satu pun.” Sementara dia sendiri meyakini bahwa, perusahaan yang kepadanya diberikan tanggung jawab besar adalah industri dengan pasar yang luar biasa besar. Tentunya, semua yang berhasil besar, tidak dilakukan dengan mudah, pasti ada kesulitannya. Kata beliau, “Semua dimiliki jamu, ribuan spesies tanaman obat ada di Indonesia. Yang tidak dimiliki industri jamu adalah kepercayaan. Kepercayaan konsumen itu yang kita bangun.”

Industri obat tradisional sendiri dikategorikan menjadi tiga macam. Ada fitofarmaka, ini level tertinggi. Wajar saja, karena sudah melalui penelitian klinik (uji terhadap manusia) dan praklinik (uji terhadap hewan). Level kedua lebih rendah, ada Obat Herbal Terstandar (OHT). Kategori ini belum diujikan kepada manusia, baik yang sehat (pengujian efek samping dan toksik) ataupun yang sakit (pengujian efek khasiat). Tapi sudah diujikan kepada hewan. Tentunya, obat yang diberikan kepada manusia, adalah obat yang sudah lulus kategori uji farmakologi yang sama pada hewan. Nah, ini yang terakhir. Kategori paling tidak dipercaya adalah karena tidak punya data ilmiah hasil penelitian, sama sekali. Semua khasiatnya, serba katanya-katanya. Tanpa ada referensi yang jelas tentang siapa yang melakukan, dan pada dosis berapa. Sudah tentu, apa efek samping yang mungkin terjadi juga tidak ada. Karena tidak pernah dicatat. Jelas sekali kan kenapa disebut oleh generasi ketiga di atas, kategori ini (yang kemudian disebut jamu) memiliki kepercayaan yang rendah?

Kembali beliau mengatakan kepada karyawannya, bahwa “Dan yang terpenting adalah kepercayaan, baik dari internal maupun eksternal. Kalau itu bisa kita jaga, semuanya akan lebih mudah.” Kemudian beliau menyulap semuanya. Pertama, mulai dari pabrik. Standar internasional mulai diterapkan. Berbagai sertifikasi Good Manufacturing Process (GMP) di bidang industri jamu, mulai didapat. Termasuk di antaranya CPOB, Cara Pembuatan Obat yang Baik. Kapasitas pabrik diperluas. Kebersihannya juga dijaga.

Kedua, beliau dan perusahaan mulai menggunakan kalangan selebriti dan intelektual untuk mempromosikan produk mereka. Mulai dari Rhenald Kasali, pakar manajemen terkemuka dari FEUI, kemudian ada selebriti Agnes Monica dan Dewa 19. Penggunaan brand ambassador ini dilakukan semata-mata untuk mengerek citra produk jamunya. Baik agar dikenal, maupun agar memperoleh kepercayaan.

Dan di kemudian hari, apa yang dirintis oleh generasi ketiga dalam keluarga ini sejak tahun 1970-an, akhirnya mencapai keberhasilan. Semua berkat kerja keras, dan yang terpenting : visi. Sebuah gambaran besar yang dimulai dari akhir, tentang apa yang dicita-citakan. Ada yang kenal siapa generasi ketiga ini? Apakah anda ingat produk apa yang dibintangi oleh selebriti di atas? Ingat slogannya?🙂

Beliau adalah, Irwan Hidayat. Pimpinan PT SIDO MUNCUL. Brand produknya : TOLAK ANGIN, dengan tagline : ORANG PINTAR MINUM TOLAK ANGIN.🙂

Salam, Ikhwan. Terinspirasi dari buku Change karya Rhenald Kasali.

2 thoughts on “Jamu Modern

  1. wow
    nice sharing kak

    suatu saat saya bakal sukses kayak gini nih kak
    *punya perkebunan luas dan perusahaan bagus juga maksudny.hehehhe

    dan mungkin juga bisa di tulis di blog ini
    hehehhe

    Suka

    • amin lah, pokoknya. apa siy ya engga di-amin-kan untuk anil? hehehe…

      btw, udah baca yg :”produk kesayangan industri farmasi”, belum? ada sedikit hubungan lho. klo ni kan tentang si sido muncul, yang di sono ada kalbe, sanbe ma phapros.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s