Pharmacy Retail in Detail


Kemarin baru ngobrol ma seorang anggota keluarga. Ngobrol terus yak? 😀 hahaha. Belakangan ini memang jadi inspirasi saya buat nge-blog. Obrolan tentang apa, terus dikembangkan intisarinya menjadi artikel di blog pribadi ini. Yang saya obrolkan, biasanya tentang hal yang curiosity saya lagi tinggi-tingginya. Jadi antusias ngobrolkan itu dengan teman ngobrol saya. Hihihi 😀 Ya kira-kira begitulah, tentang saya dapat inspirasi dari mana untuk artikel di blog saya.

Kamerin ngobrolin tentang retail di industri farmasi. Salah satunya ya apotek itu. Itu lho, toko obat yang ada apoteker tempat berkonsultasi kita tentang penggunaan obat. Kalau habis berobat ke dokter kan suka dikasi resep tuh, nah tempat kita menebus resep untuk mengambil obat itu ya namanya apotek. Ini salah satunya saja. Kalo retail bidang farmasi yang lain, ya kira-kira toko obat biasa. Sebutlah seperti itu. Praktis, yang membedakan ini adalah ada tidaknya apoteker sebagai konsultan obat dan variasi obat yang dijual.

Karena, obat itu ada tiga macam, kira-kira. Obat yang dijual bebas, ini biasa disebut OTC (Over The Counter), obat bebas terbatas (bebas diperjualbelikan, tapi dalam jumlah tertentu) dan obat resep, yang hanya bisa diperoleh di apotek ketika ditukar dengan resep dokter. Ketiga kategori obat ini yang membedakan apotek dengan toko obat biasa. Selain keberadaan seorang apoteker tentunya. Apoteker sendiri terbagai beberapa macam, di apotek, setahu saya. Jadi, ada Apoteker Penanggung Jawab (APA) dan apoteker Pelayanan Informasi Obat (PIO). Kedua fungsi tersebut, bisa jadi dilakukan oleh satu orang saja.

Seperti retail pada umumnya, bisnis ini relatif receh. Cuma ya itu, kuantitas recehnya ini yang seberapa bisa kita lipatgandakan? Profit yang diperoleh berasal dari selisih harga jual ke konsumen, dikurangi dengan harga beli ke distributor. Namanya juga retail, saingannya ada di mana-mana. Itu menyebabkan kita tidak bisa menaikkan harga jual seenak perut kita sendiri.  Bisa tak terbeli produk di toko kita nanti. Sedangkan harga beli dari distributor, ada kalanya bisa lebih murah. Ini karena distributor memberi diskon. Jadi profit bisa bertambah. Distributor juga tentu punya hitung-hitungan sendiri lho, karena mereka jual menerapkan sistem jual-beli secara tunai dengan principal alias produsen. Kalau mau menerima barang titipan, agak susah. Karena distributor hanya mau menitip barang yang masih baru, baru mengambil duitnya kemudian. Kalau keterserapan barang (obat) di pasar sudah bagus, pasti distributor inginnya sistem jual-beli saja, dengan order minimal, tentunya 😀

Sekarang berbicara tentang perduitannya. Investasinya, kata teman saya sekitar 200juta-an rupiah untuk kota Bandung. Ini kira-kira sudah termasuk obat-obatan, lokasi dan etalase yah.  BEP-nya kira-kira selama 3 tahun. Ketika masih baru, bisa saja omzet per bulan hanya sekitar 100ribu rupiah. Karena itu, si ritel ini mesti dibuat lebih terkenal. Entah karena layanannya yang memuaskan, produk yang variatif, atau bisa juga karena jaringan dengan dokter atau dengan perusahaan. Jangan lupa, karena ini ritel, pastikan lokasinya strategis. Artinya, di pinggir jalan raya, sebisa mungkin. Setahu saya, apotek baru ramai dikunjungi oleh mereka yang pulang bekerja menuju rumah. Jadi kebiasaannya kira-kira seperti itu. Makanya, berlokasi di antara daerah tempat tinggal dan daerah kerja, tampaknya lebih bagus bila ingin mendirikan apotek 😀

Kira-kira begitu, bagi yang berminat, silakan mencoba yah. Tentu bila artikel di ini dirasa, masih kurang lengkap, bisa menghubungi saya lebih lanjut untuk konsultasi. Namanya juga ritel, sangat kontekstual sekali dengan kondisi dimana apotek ini akan didirikan. Ya masyarakatnya, kebutuhan obat-obatannya, dan lain sebagainya.

Salam, Ikhwan 🙂

2 thoughts on “Pharmacy Retail in Detail

  1. Untuk di Bandung memang cukup menjanjikan ketika kita pengen buka apotek, walaupun dengan modal “hanya” 200 jt. Paling dapet di daerah pinggiran :mrgreen: Yang lebih penting adalah bagaimana menjalankan usaha apotek hingga sukses, tapi seluruh aspeknya legal.. Wong yang ngajarin saya manajemen apoteknya aja masih ngejual obat keras tanpa resep! Untung di kita sih iya, tanggung jawab moralnya dimana?

    Suka

  2. Waktu lalu dipresentasi century, dengan modal 400jt bisa buka apotek, tapi kondisi paling jelek, baru beep 10 tahun, kondisi standard bep 5 tahun, 10 tahun baru profit 100%. Waduh..apa ga mending deposito aja ya, ga ribet..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s