Learning Organization


Kemarin sore, saya diskusi dengan seorang teman lama. Teman di organisasi mahasiswa dulu. Beliau pernah menjadi calon presiden mahasiswa, setelah itu beliau pun menjadi ketua senat mahasiswa. Aktivis pergerakan mahasiswa sejati lah. Kira-kira begitu. Kami bertemu di tempat biasanya kami berkumpul, melepas penat sejenak dengan shalat berjamaah di sela-sela kesibukan aktivis mahasiswa.

Seperti dulu, kami berdiskusi singkat disana. Diskusi tentang stagnansi pergerakan mahasiswa di kampus kami. Beliau yang masih bergelut di sana, merasakan bahwa potensi-potensi besar yang terangkum di organisasi mahasiswa pada akhirnya belum mampu membawa gerakan mahasiswa sebagai gerakan yang bisa tumbuh berkembang.

Saya pun setuju. Sebagai sesama mantan aktivis, saya bisa merasakan hal yang sama. Dahulu, saya merasakan bahwa kita berpotensi besar, dan potensi ini bisa kita kemudikan menuju hasil besar yang bermanfaat besar bagi sekitar kita. Tapi kemudian, kami salah. Ternyata kami salah. Ada sisi perilaku organisasi mahasiswa yang kami belum ketahui di sana.

Organisasi mahasiswa adalah organisasi dengan tipikal regenerasi yang cepat sekali. Beberapa pekan mempersiapkan diri dan tim untuk memimpin organisasi, kemudian dipilih oleh massa dalam iklim organisasi, diikuti dengan persiapan berbagai strategi dan program yang akan dijalankan. Tidak lama, hanya sekitar 10 bulan di antara 1 tahun efektif, perjalanan pun usai. Ditutup dengan sebuah laporan pertanggungjawaban. Manusia-manusianya datang dan berganti. LPJ dibuat, dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan. Tapi perilaku para pengurus baru tidak menunjukkan perbaikan daripada pengurus yang sebelumnya. Segalanya berlangsung dengan perulangan yang sama : siklus yang sama tanpa perbaikan signifikan.

Permasalahannya sebenarnya susah-susah gampang. Membaca Knowledge Management karya Jann Hidajat Tjakraatmadja dan Donald Crestofel Lantu, ada dua hal yang bisa saya simpulkan sebagai analisis saya. Pertama, organisasi mahasiswa masih berat untuk menerapkan perubahan pengetahuan tasit (tacit knowledge) menjadi pengetahuan eksplisit (explicit knowledge). Dalam kepengurusan yang hanya berbeda setahun, pengetahuan tasit bisa diserap seutuhnya. Tapi, dalam perbedaan kepengurusan yang lebih dari dua tahun, percayalah, tidak ada pengetahuan tasit yang tertinggal. Karena itu di sini, poin pentingnya adalah kesediaan membaca dan menulis dari aktivis mahasiswa untuk mendokumentasikan pengetahuan eksplisit yang dimilikinya. Ini adalah sesuatu yang jarang dan belum membudaya di kalangan mahasiswa kita.

Yang kedua, masih dari sumber buku yang sama, adalah kebiasaan untuk menularkan proses pembelajaran secara individual menjadi proses pembelajaran sebagai kelompok. Di sinilah pentingnya membudayakan diskusi, debat dan berbagai interaksi intelektual antar mahasiswa. Para mahasiswa akan melakukan konsep OADI (observe-assess-design-implement) secara individual, seperti kata Lewin-Kolb (1984) yang dikuatkan oleh Kim Kofman (1993). Dan cara yang sama sebenarnya juga terjadi dalam kelompok yang pembelajar.

Membandingkan organisasi mahasiswa yang tidak bisa menahan para anggotanya untuk lulus dan melanjutkan kehidupan mereka selanjutnya, saya jadi memahami mengapa perusahaan melakukan proteksi berlebihan terhadap manusia-manusia pekerjanya. Mulai dari pemberian gaji yang lebih tinggi dibanding standar dalam industri sejenis, kesempatan mendapat kendaraan mobil dan kredit perumahan setelah beberapa tahun bekerja, beasiswa untuk pendidikan anak karyawan, dan lain sebagainya yang termasuk dalam sistem remunerasi karyawan. Sebabnya hanya satu, perusahaan ingin mempertahankan pengetahuan yang ada di perusahaan, baik eksplisit apalagi tasit.

Hal yang sama juga menjadi alasan, mengapa industri farmasi menutup rapat-rapat formula obat mereka terhadap siapapun manusia yang sudah mengaksesnya. Entah mahasiswa magang, freelancer, hingga karyawan yang ingin beranjak pergi dari perusahaan tersebut. Karena mereka menjaga baik-baik pengetahuan yang sudah menjadi keunggulan organisasi mereka.

2 thoughts on “Learning Organization

  1. PDCA-nya jadi OADI.. Insight yang menarik wan..

    Mungkin aktivis-aktivis bisa lebih banyak ‘Turun Gunung”, kasi insight kemahasiswaan, lebih ke arah teknis ato sekalian aplikasi langsung konsep manajemen yang visible utk dapat diterapkan di organisasi kemahasiswaan..

    May be?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s