Balanced Score Card


Tadinya, saya ingin membuat artikel tentang pentingnya kegiatan operasional sehari-hari yang kita lakukan dengan disiplin tinggi dan ketekunan. Tapi, berhubung artikel ini didasari oleh dua cerita, yang mana cerita pertama saja (tentang Balanced Score Card) ternyata sudah memakan paragraf yang tidak sedikit. Khawatir teman-teman pembaca akan bosan, maka saya awali dengan artikel pertama, dari cerita pertama terlebih dahulu. Selamat Menikmati.

Pak Jann Hidajat Tjakraatmadja, profesor di bidang knowledge management, menjelaskan secara singkat mengenai BSC, yaitu Balance Score Card, di kelas MBA saya. Ini adalah suatu instrumen manajemen dalam melakukan perencanaan organisasi secara strategis serta meng-align-kan dengan aktivitas sehari-hari. Tentu, dengan instrumen ini kita dapat mengetahui apakah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan akan dapat mewujudkan visi besar yang kita canangkan sebelumnya. Pastinya, BSC ini menggunakan perspektif-perspektif tertentu. Dan tidak seperti organisasi bisnis di masa lalu yang hanya mengandalkan perspektif finansial saja (yang menggunakan parameter omzet, profit, dst dalam menilai keberhasilan perusahaan), melalui BSC ini perspektif juga ditetapkan dalam aspek-aspek non-finansial (biasanya, perspektifnya adalah customer, learning and growth, serta internal business process).

Yang menarik, instrumen besutan  Robert S. Kaplan dan David Norton ini kini tidak hanya digunakan di organisasi bisnis saja, alias perusahaan. Tapi juga di institusi pemerintahan, hingga lembaga nir-laba. Dan mengukur keberhasilan performa organisasi pada empat perspektif di atas, dibuatlah paramater-parameter turunannya yang diperkirakan relevan dengan organisasi dan industri tempat organisasi berpijak.

Tapi, percayalah instrumen manajemen tidak bisa begitu saja diterapkan. Tidak bisa asal-asalan saja diterapkan. Manajemen adalah ilmu pengelolaan yang sangat berbasis kebudayaan. Sebagaimana dijelaskan Prof.Jann, harus ada kedewasaan ikut ambil bagian dalam penilaian ini. Tidak bisa hanya ABS (Asal Bapak Senang) saja. Beberapa parameter yang digunakan dalam perspektif customer, misalnya. Ternyata sangat mengandalkan penilaian dari karyawan untuk menilai sejauh mana efektifitas dan efisiensi hubungan (termasuk komunikasi) antar bagian dalam perusahaan. Dan anda setuju kan, dengan pendapat bahwa sepatutnya kedewasaan dalam memberikan penilaian sangat diperlukan disini. Penilaian yang asal-asalan (berikut ABS) akan mempengaruhi objektivitas dan kejujuran dalam penilaian.

Berikutnya tentang 4 perspektif. Kinerja pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth) seharusnya bisa menjadi tolok ukur paling akhir. Yang diperoleh dari berbagai aktivitas-aktivitas sebelumnya. Termasuk, aktivitas-aktivitas dalam perspektif finansial yang biasanya mencari profit. Aktivitas finansial, bila ditelusuri lebih lanjut ternyata merupakan akumulasi dari kombinasi kerja sama antar bagian dalam perusahaan. Di sini, komunikasi dan hubungan terutama, adalah diakomodasi dalam perspektif customer. Dan terakhir, sebelum tiap-tiap bagian bersinergi dengan bagian lainnya, di sinilah letak pentingnya aktivitas/kegiatan/operasional sehari-hari dalam perusahaan/organisasi nirlaba. Semua ini dicakup dalam perspektif internal business process.

Sekali lagi, jadi bila dilihat secara keseluruhan, berbagai perspektif finansial dan non-finansial dalam Balance Score Card adalah satu kelompok besar, dimana satu bagian sangat terkait dengan bagian yang lainnya. Keterkaitan ini tidak hanya dalam komunikasi dan hubungan, tapi juga alur. Artinya, satu proses selesai dalam satu bagian kemudian dilanjutkan melalui bagian lainnya dalam proses yang berikutnya. Dan disini, titik tekan yang saya ingin garis bawahi adalah bahwa semua keberhasilan/prestasi/performa diawali dari keberhasilan pelaksanaan kegiatan/aktivitas/operasional yang sifatnya sangat day-to-day sekali. 🙂

One thought on “Balanced Score Card

  1. Minta bahan2nya dong wan? Saya diajarkan juga ttg BSC dan beberapa management tools di Kalbe.

    Sewaktu mencoba menyusun, ada tantangan yang cukup menarik yang saya temukan..
    1. Menyusun aktivitas dari tiap aspek, agar bisa saling menopang dan align dengan tujuan global
    2. Menentukan parameter kuantitatif yang benar2 representatif untuk mengukur keberhasilan dari tiap aspek
    Mungkin Ihkwan punya inputan? hehehe..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s