The Stage is Yours


Beberapa orang rekan saya mengalami gugup sebelum maju untuk presentasi. Sebenarnya presentasinya tidak langsung dilakukan. Jadi, bukan yang langsung diminta, untuk kemudian langsung mempresentasikan. Tapi ada jeda waktu untuk mempersiapkan materi presentasi dan bagaimana presentasi itu disampaikan. Nah, meski demikian, ternyata beliau juga masih belum PeDe setelah beberapa kali latihan.

Percaya atau tidak, siap atau tidak siap, sesungguhnya kita harus maju ketika sudah diminta untuk presentasi. Karena tidak bisa tidak, masa’ ketika sudah di depan audience, kita tiba-tiba ingin mundur. Saya pernah mengalami ini sebelumnya. Bukan saya sebagai yang mempresentasikan, tetapi saya sebagai audience. Saya sudah melihat seseorang maju dan berdiri di depan, di tempat seharusnya presentasi dilakukan. Tetapi, ternyata yang sudah di depan, setelah berbicara beberapa saat—entah apa saat itu, saya lupa apa yang sudah dia sampaikan. Eh, ternyata eh ternyata. Beliau minta mundur. Katanya, belum mempersiapkan diri. Padahal sudah terlanjur di depan, dan sudah terlanjur ada yang disampaikan.

Nah, dua kejadian ini kan sangat disayangkan yah kalau terjadi. Harus kita yakini bahwa akan ada saat kita untuk maju dan menyampaikan pendapat kita. Siap tidak siap, ada yang harus disiapkan atau tidak, ternyata para audience sudah ingin mendengar kita. Nah ini kan tidak baik. Saya pribadi punya pengalaman seperti itu. Ketika itu, saya diminta untuk menyampaikan beberapa patah kata mewakili teman-teman. Tapi ternyata, apa yang ingin saya sampaikan sudah terucapkan oleh ketua panitia yang membuka acara, dan ketua organisasi dari yang punya acara tersebut.😀 Wah, gelagapan lah saya. Dan hasilnya tidak baik, benar-benar tidak baik.

Selidik punya selidik, ada beberapa hal yang memang seringkali mendasari sukses tidaknya kita untuk presentasi. Dan ternyata, hal itu jauh dari persiapan. Jauh dari kesiapan atau ketidaksiapan yang kita lakukan sebelumnya. Hal tersebut adalah,  ketenangan mental kita untuk presentasi. Dan ini yang krusial, ternyata.

Dalam cerita saya, saya bukannya tidak menyiapkan diri. Saya sudah menyiapkan diri. Dengan beberapa materi yang saya rencanakan untuk saya sampaikan, tentu saja. Nah, ini dia masalahnya. Saya tidak menyiapkan mental saya ketika ternyata apa yang saya akan sampaikan, sudah disampaikan oleh dua pembicara sebelum saya. Dan inilah yang menyebabkan kegagalan saya.

Padahal, kalau kita sudah memiliki ketenangan mental, kita akan tenang menghadapi keadaan ini dan justru berpikir kreatif untuk mensolusikannya. Dan bagi mereka yang berhasil melakukannya, ini adalah batu loncatan untuk bisa berhasil lebih baik lagi di kesempatan-kesempatan presentasi yang berikutnya. Dan uniknya, kejadian ini bisa berlaku untuk siapapun. Artinya, kita bisa mengulangi keberhasilan-keberhasilan yang sudah ada (baik oleh diri sendiri maupun orang lain) ini. Kalau sudah siap dengan ketenangan mental, ya sudah. Silakan maju saja. Saya akan menyemangati dengan kata-kata :

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s