[UPDATED] Filosofi Makan Saya


Pengen cerita aja tentang filosofi makan saya, jadi semacam prinsip2 saya tentang apa yang boleh masuk ke dalam perut saya. Sebab pastinya setiap yang masuk ke dalam perut akan punya efek; baik itu positif atau negatif. Nah, kita mulai saja ya๐Ÿ™‚

Hindari Merokok

Kebetulan yang satu ini ga perlu terlalu dipaksakan ma saya. Karena saya sudah terjebak dalam lingkungan yang selama ini menjauhkan diri dari rokok. Dari rumah, ayah saya tidak merokok sejak saya berumur empat tahun. Praktis, saya tidak pernah melihat ayah merokok dan di rumah juga tidak ada yang merokok, pada akhirnya. Kemudian dapat pergaulan yang bersih dari rokok selama sekolah. Termasuk juga SMA saya yang melarang keras siswa merokok di lingkungan kampus yang berasrama itu. Trus, saya juga masuk kuliah di tempat yang sangat tidak kondusif untuk merokok. Ya, waktu kuliah S1 farmasi, para perokok cenderung dimusuhi. Sekalipun itu dari jurusan lain๐Ÿ˜€ Di tempat kuliah S2 sekarang, merokok juga hanya boleh di ruangan tertentu, karena sisanya bebas asap rokok.๐Ÿ™‚

Mie Instan : cukup 2 bungkus per minggu

Mie instan itu enak, memang iya. Tapi berhubung ada banyak zat kimia di dalamnya, jadi untuk makan yang satu ini saya kendalikan. Bukannya tidak sama sekali lho! Sekitar 2 bungkus seminggu saja lah๐Ÿ™‚ Hati-hati, jangan kebanyakan. Tapi jangan juga ditahan-tahan kalo memang kabita ato kepengen banget makan mie๐Ÿ˜€

Kendalikan Makan Fast Food

Pada tahu kan yah, fast food itu apa? Untuk yang ini, saya coba mengendalikan diri. Bukannya menolak terus, siy. Tapi ya kira2 sebulan sekali lah. Insya ALLAH meningkatkan kesehatan. Ya kesehatan badan (yang menghindari makanan kolesterol tinggi) ma kesehatan dompet a.k.a keuangan๐Ÿ˜€ Sekali lagi, bukannya menolak sama sekali. Tapi cobalah untuk meratakan jadwal mengkonsumsi makanan tersebut.

Sempurnakan kelengkapan menu makanan

Kalo waktu kecil dulu, katanya makan itu kudu empat sehat lima sempurna. Ini sekarang agak susah menerapkannya memang. Karena kesibukan, biasanya. Ini memang jadi masalah di kota-kota besar. Penduduk biasanya makan di tempat yang penyediaannya cepat, rasanya enak, tapi ga mempertimbangkan kelengkapan gizi. Padahal ini penting lho. Ga usah banyak teori, tapi yang penting mulai membiasakan diri. Makanya, selera saya relatif kampung juga : hobi makan di warteg. Enak, soalnya. Bersih, harga murah, dan menu yang variatif : ada beragam lauk, ada beragam sayuran bisa dipilih.๐Ÿ˜€

Saya ga makan berbumbu vetsin

Kalau bisa dihindari, saya akan hindari. Tapi susah juga, karena yang ga bisa dihindari memang sudah banyak banget! Tapi yaudahlah ya, berusaha menghindarnya di yang masih bisa dihindari. Tenang aja, sesekali saya makan bakso atau mie ayam koq. Biasanya di dua jenis makanan ini masih sempat untuk menghindar, meski sangat susah untuk tidak menggunakannya. Bahkan klo makan mie ayam ato bakso, saya ga pake saos atau kecap gitu. Cukup alami saja, cukup polos saja. Pun makan yang dari kelas soto-sotoan pun cuma pake tambahan jeruk, ga pake saos atau kecap..๐Ÿ˜€

Sekian, mudah2an bermanfaat, bagi yang tertarik untuk menerapkan. Heheheh..๐Ÿ˜€

One thought on “[UPDATED] Filosofi Makan Saya

  1. Ping balik: My Mindful Eating | Authentic Marketing

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s