Aslinya Foto Untuk Presentasi


Gambar berbicara lebih banyak daripada sekedar tulisan. Dan gambar berupa fotografi yang ditampilkan dalam presentasi, akan lebih menyentuh hati ketimbang sekedar gambar (kartun atau diagram). Ingatlah apa yang disebut : Picture Superiority Effect (PSE). Apabila hanya tulisan, hanya akan diingat sebanyak 10% di antara materi yang disampaikan, pada 72 jam berikutnya. Sedangkan apabila disampaikan bersama dengan gambar, orang-orang akan mengingat sebanyak 65% di antaranya, pada jam yang sama, yaitu 72 jam setelah presentasi dihantarkan. Menurut John Medina, setiap kata pada layar presentasi kita akan diingat sebagai sebuah gambar. Karena itu, pada layar presentasi berisikan 40 kata (ini adalah jumlah kata yang sering muncul dalam tiap slide presentasi), pesan yang ingin disampaikan akan sangat-sangat membingungkan. Ada 40 gambar gitu!😀

Nah, biar ga membingungkan waktu memakai foto untuk presentasi, ni kriteria penting untuk si foto tersebut :

Simplicity : point of interest

Sederhanakan objek foto yang anda ambil dengan kamera anda, sehingga objek itu terkesan “tunggal” atau menjadi “pusat perhatian”, relatif terhadap benda-benda lain di sekitarnya. Ambil contoh dalam fotografi, bagaimana kita memotret masjid di tengah-tengah hiruk-pikuk keramaian kota dan masyarakatnya, dengan tujuan foto ini digunakan untuk memvisualisasikan suatu situs peribadatan relatif terhadap sekitarnya. Atau bagaimana kita memotret suatu bangunan dengan atap yang unik di tengah-tengah suatu lingkungan dengan banyak rerumputan di sekitarnya dan satu tempat parkir di sebelah bangunan tersebut?

Balance : mau simetris atau asimetris ?

Indahnya fotografi dalam presentasi adalah ketika kita dapat menyesuaikan objek foto yang “simple” tapi “harmonis” dengan benda-benda lain yang berada di sekitar objek tersebut. Balance tidak harus simetris, karena objek tidak harus berada di tengah-tengah foto. Tetapi dapat juga dilakukan dengan meletakkan objek di posis yang asimetris terhadap benda-benda lainnya. Misalkan bagaimana kita menempatkan seorang pedagang keliling (objek) di jalan-jalan perumahan, untuk memvisualisasikan keinginan pedagang tersebut untuk dapat menjajakan dagangannya di kompleks perumahan tersebut. Seberapa jauh pandangan seorang pedagang ini dapat memperlihatkan kepada audiens sejauh apa “keinginan” pedagang ini untuk menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah. Untuk ini, kita dapat meletakkan sang “objek” di sisi tepi dari gambar foto kita untuk memaksimalkan “keinginan” sang objek.

Framing : sense of deepness

Memberikan ”kedalaman” pada gambar foto kita juga penting untuk melukiskan ruang 3 dimensi dalam potret 2 dimensi kita. Misalnya, dalam suatu lembar promosi wisata, terdapat foto danau yang dipotret dari tempat yang agak tinggi. Dari titik pemotretan ini, kita bisa melihat bagaimana luas permukaan danau secara keseluruhan. Termasuk seberapa lebar siy kira-kira danau tersebut? Hehe.. betul tidak?

Atau misalkan, di lembar promosi wisata yang lain, sang pemasar ingin memperlihatkan pantai Indonesia sebagai pantai dengan garis terpanjang di dunia dan sangat layak menjadi daerah kunjungan wisata. Cara menampilkan ”panjangnya garis pantai” adalah dengan memotret bibir pantai sepanjang mungkin dengan teknik yang memaksimalkan lembar potret kita, yaitu memotret garis pantai hingga tampak diagonal dalam foto kita.

Ekspresi dong… fotografi bisa mengeksplorasi ekspresi makhluk hidup, lho!

Menghadirkan perasaan audience ke dalam ruang presentasi juga butuh media, tentu saja. Tidak bisa hanya dengan mengandalkan lisan dari kita saja. Dan di sinilah kelebihan foto sebagai media presentasi. Rekaman gambar makhluk hidup dengan ekspresi aslinya (yang tentu sulit untuk direkayasa secara digital) menjadi salah satu alternatif yang dapat kita gunakan untuk menyentuh perasaan audience, hingga mengajak mereka hadir dan merasakan presentasi kita seutuhnya J

Foto tanpa editing, seindah warna aslinya😀

Alam tidak pernah luntur warnanya. Pun demikian dengan bentuknya. Berjalan-jalanlah bersama audience anda ke alam yang belum pernah mereka kunjungi, alam yang ada dalam foto anda. Pun mereka pernah, ajaklah sekali lagi seakan-akan anda dan mereka benar-benar ada di alam itu. Deskripsikan pada mereka bagaimana keadaan di sana. Maksimalkan indera audiens kita agar mereka turut merasakan suasana yang sama dengan kita. Libatkan mereka bersama kita sehingga sebagaimana mereka juga berada di alam yang sama dengan kita. Dan semuanya bisa kita lakukan dengan foto alam tanpa editing sedikitpun!🙂

ngarai sianok

ngarai sianok

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s