Intelegensia Visual


Indera penglihatan kita menerima cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda. Foton cahaya ini kemudian diubah menjadi rangsangan listrik oleh retina mata, dan masuk melalui saraf-saraf optik ke dalam beragam wilayah otak kita. Gambar lengkap (seperti yang kita lihat) adalah cahaya-cahaya yang diurai, disaring, dikelompokkan, dan dikombinasikan kembali di dalam otak kita.

Di bagian lain otak, sinyal-sinyal cahaya yang pernah masuk, kemudian membentuk jaringan-jaringan syaraf yang baru. Syaraf baru inilah yang memungkinkan kita untuk mengingat kembali benda atau kejadian yang pernah kita lihat. Hebatnya, otak kita mampu melakukan kombinasi ulang terhadap syaraf-syaraf yang sudah ada. Inilah yang disebut dengan membayangkan. Kerennya, manusia jadi mampu membayangkan hal-hal yang bahkan belum pernah dilihatnya.

Jadi, otak kita kemudian memiliki beberapa tahap proses terhadap hal-hal yang sudah dilihatnya. Pertama, ”melihat” itu sendiri. Yang terjadi di sini adalah, munculnya syaraf-syaraf baru setelah melihat benda-benda yang baru, atau mengalami suatu peristiwa yang baru. Kedua, secara otomatis, otak mulai memilah dan memberi tanda terhadap semua benda yang dilihat atau peristiwa yang dialami. Penanda inilah yang memudahkan otak kita mengakses informasi tertentu secara cepat (mengingat). Sebutlah tahap menandai ini sebagai ”mengenal”.

Yang ketiga, dari semua syaraf yang terbentuk, otak secara kreatif mampu membentuk kombinasi-kombinasi baru dari semua hal yang pernah dilihatnya. Karena itu, beberapa orang jadi pintar mengkhayal. Ada pula yang jadi manusia ”bervisi”. Mereka belum pernah melihat (mungkin), atau belum pernah melakukan. Tapi mereka bisa ”membayangkan”nya. Inilah tahap yang ketiga.

Ketiga tahap ini, dan mekanisme penglihatan (termasuk bagaimana mata dan otak penglihatan bekerja), kemudian dapat kita gunakan dalam cara kita melakukan presentasi atau demonstrasi ataupun hanya sekedar memberikan penjelasan. Jadi, mulailah dengan visualisasi. Dengan cara memperlihatkan gambar secara langsung, atau bisa juga dengan mengajak lawan bicara anda untuk membayangkan/berkhayal.

Hal ini juga yang mendasari, kenapa ketika kita melakukan presentasi dengan software, baik microsoft power point, flash, dan lain sebagainya, kita sebaiknya banyak menggunakan gambar. Karena, otak manusia ternyata lebih mampu (secara efektif) mencerna/memahami komunikasi yang dilakukan dengan bantuan visual. Sambil menjelaskan kepada lawan bicara, penggunaan gambar tangan di atas kertas atau di kertas tisu juga dengan maksud yang sama : memudahkan penyampaian pesan komunikasi. Ini adalah tahap terakhir setelah tahap membayangkan : yaitu tahap memperlihatkan.

Kemudian, mari kita telisik lebih dalam mengenai keempat hal tersebut : melihat, mengenal, membayangkan, dan memperlihatkan.

Ketika kita melihat, gunakan pandangan yang luas. Beberapa mengistilahkannya dengan helicopter view. Sama seperti ketika berkendara, gunakan penglihatan untuk melihat gambaran jalan raya keseluruhan : ujung jalan yang bisa kita lihat, seberapa dekat kita dengan kendaraan di depan, ada apa & berapa banyak motor/mobil di sekitar kendaraan kita, dan lain sebagainya. Singkatnya, dalam tahap melihat, kumpulkan sebanyak-banyaknya informasi.

Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, bangunlah koordinat fundamental dari informasi-informasi yang sudah ada. Tentu, tetapkan sumbu-sumbunya apa saja. Koordinat kita ini bisa jadi memiliki sumbu lebih dari satu. Koordinat ini akan memberikan orientasi (arah) dan posisi (jarak relatif terhadap yang lain) informasi-informasi tentang apa yang kita lihat, dibandingkan terhadap informasi-informasi sejenis yang sudah kita miliki.

Dan dari semua sumbu-sumbu koordinat fundamental yang sudah ada, cobalah lakukan prioritas pengamatan. Artinya, bagaimana tingkat relevansi satu sumbu terhadap sumbu yang lain. Konteks prioritas ini bisa bermanfaat dalam pengambilan keputusan, tingkat kepentingan, keterdesakan waktu, dan lain sebagainya.

Otak kita ternyata (dan sesuai dengan penelitian para ahli) memberikan tanda-tanda tertentu pada semua yang pernah kita lihat. Tanda-tanda ini juga mengarahkan kita untuk bertanya, untuk menelisik lebih dalam tentang apa yang kita lihat. Semuanya cocok, sesuai dengan 6 pertanyaan penting yang sering kita dengar : who, what, where, when, why dan how. Yaitu 5W dan 1H.

Kemudian, ada metode lain, ternyata. Yang memudahkan kita juga untuk melihat ”sisi lain” dari benda-benda yang kita lihat. Namanya SQVID. S adalah simple (lawan kata rumit), Q adalah quality (lawan katanya kuantitas), V adalah vision (lawannya adalah eksekusi), I adalah individual attribut (lawannya perbandingan antar individu) dan D adalah delta (atau perubahan, dengan lawannya status quo). Cara penggunaanya adalah ketika kita mengenali sesuatu, cobalah bertanya ”apakah ini termasuk simple atau rumit? Apakah ini tentang kualitas atau kuantitas?”, dan seterusnya.

Dari berbagai analisis ini, kemudian kita menuju bagaimana membayangkannya. Jadi, setelah semua data terkumpul dan kita sudah mendapat gambaran besar (big picture). Berikan sudut pandang lain melalui pertanyaan 5W dan 1H serta SQVID tadi. Nah, berbagai atribut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini kemudian mengarahkan kita bagaimana membayangkannya dan bagaimana untuk memperlihatkannya kepada orang lain.

Memperlihatkan kepada orang lain memang susah-susah gampang. Karena, seringkali kita hanya harus memperlihatkan detailnya saja, tetapi kesulitan dalam menyampaikan gambaran besarnya dan dimana detail informasi kita terletak dalam gambaran besar (big picture) tersebut. Ini yang menjadi alasan mengapa kita sebaiknya merancang konsep presentasi kita terlebih dahulu (terutama alur penyampaian) di atas kertas atau di papan tulis. Karena, kita akan mengawalinya dengan gambaran besar, tapi akan lebih banyak memfokuskan gambaran detail di sebagian besar waktu presentasi kita.

Inspirasi : Picture Intelligence by Dan Roam