Kehidupan di Pinggir Kota Semarang (2)


Masih melanjutkan artikel sebelumnya. Jadi tentu di pinggir kota ini ga ada tempat yang bisa disebut rekreasi untuk orang seperti saya–Pun saya bukan orang pada umumnya, bahkan–karena, untuk Indonesia, perencanaan wilayahnya sudah disusupi oleh maksud negara-negara lain yang ingin menjadikan bangsa indonesia sebagai bangsa konsumtif . Iya ga? Jadi, yang disebut tempat rekreasi pada umumnya adalah tempat belanja. Iya, tempat belanja seperti mall-mall. Disana orang-orang akan menghabiskan duitnya, tapi tidak menambah investasi apapun disana. Iya kan? semuanya habis dipakai, tidak ada yang menjadi aset untuk masa depan.

Kalau saya pernah baca bukunya Safir Senduk, masyarakat kita tidak menikmati fasilitas jalan kaki yang ada di kota-kota. Mulai dari trotoar yang tidak ada, sampai tempat pejalan kaki yang tidak diteduhi oleh pepohonan. Sehingga, kebanyakan cenderung untuk menggunakan angkutan umum atau memiliki kendaraan pribadi. Selain itu, tempat rekreasi yang dibangun adalah semacam pusat perbelanjaan. Ya karena yang berekreasi ke tempat seperti itu, dimana yang ada adalah promosi dan diskon., ya jadinya berbelanja deh 😀 Sehingga, masyarakat dengan sendirinya akan konsumtif karena tidak dibiasakan –dan juga tidak mendidik diri sendiri–untuk bersifat investatif dan produktif. 🙂

Di foto yang ada di artikel sebelumnya, foto tersebut menunjukkan satu tempat yang jadi tempat kunjungan masyarakat setempat. Pusat keramaian memang disana, mulai dari masjid, mall, hotel, dan lain sebagainya. Dan masyarakat juga menjadikan wilayah itu sebagai pusat rekreasi. Tapi ya itu tadi, karena yang ada cuma tempat belanja, ya orang-orang hanya akan menghabiskan waktu, energi, dan duit bila berada disana.  Ramainya terutama hari sabtu (yaitu malam) dan hari minggu.

Makanya, di hari sabtu-minggu seperti ini, di hari libur kantor, saya biasanya menghabiskan waktu di toko-toko buku. Hitung-hitung investasi pikiran buat masa depan. Dapetnya : 8 cara dapat modal duit buat bisnis, ma sejarah-sejarah tentang orang yahudi! wew! hehe 😀

oiya, ada quote bagus–entah dari siapa (anonim, soalnya)

“Buku sumber ilmu yang tidak pupus oleh waktu dan tidak akan lekang oleh jaman”

sekian dahulu,,

salam

4 thoughts on “Kehidupan di Pinggir Kota Semarang (2)

  1. Beda bgt sama kampungku Wan.. Rekreasi adalah rekreasi.. Ke pantai,ke gunung,ke kolam pemandian,which are semuanya merefresh mata,hati,pikiran.. Bisa maen-maen d sawah,lari-lari d lapangan,bersepeda d jalanan.. 😀
    *sigh*
    Sebagai orang yg mencoba menikmati suatu kota yg insyaAllah jd tempat tinggal beberapa tahun mendatang,tp ternyata blm bs menikmati

    Suka

  2. ha? maksudnya? bukan dah beberapa tahun tinggal di bdg?

    tapi berasal dari kampung baru kenal teknologi pasti lebih baik ya, daripada hidup di kota terus 😀

    Suka

    • kan kemaren-kemaren masih suka pulang ke Jember suka-suka sesenangnya… 😀
      sekarang kan kampungnya jadi di sini… 😦

      tapiii, mari bersyukur sajah, alhamdulillah.. 😉

      Suka

      • alhamdulillah..

        sama keq saya,klo ga kuliah di situ tahun 2005,,,
        ga ketemu sapa aja yah? 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s