Kehidupan di Pinggir Kota Semarang


Saya sekarang berada di semarang, ibu kota jawa tengah. Sedang bekerja, lebih tepatnya. Hanya untuk 2 bulan,siy. Kebetulan menempati bagian yang jarang diisi oleh orang seperti saya. Saya coba melakukan penelitian dan pengembangan di sana, tapi tidak dalam bidang yang sama dengan tempat kuliah saya dulu.

Sudah menyelesaikan kurang lebih 6 pekan di tempat ini, di pinggiran kota. Wajar memang, pabrik soalnya. Pembangunan pabrik kan memang mengambil tempat dimana buruh-buruh berharga murah. Apalagi saya memang tinggal di negara yang SDM-nya membludak dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah, sehingga bayaran untuk mereka bisa saja sangat murah. Kan pabrik tinggal ganti karyawan saja, bila yang sudah ada merasa dibayar sangat rendah.

Terbayang kan tingkat perekomian di pinggir kota ini seperti apa? Pada umumnya, di pinggiran  kota (termasuk kabupaten juga) di Indonesia (terutama jawa), banyak pedagang mie ayam & bakso. Memang, saya nge-blog ini berarti sedang di warnet, tapi warnet juga tidak banyak. Tingkat pendidikan yang relatif rendah dan sempitnya lingkungan interaksi warga, membuat mereka tidak merasa perlu untuk bergaul di dunia maya. Tidak sebagaimana masyarakat tempat saya tinggal dalam 5 tahun terakhir.

Ke sana kemari, saya naik kendaraan umum. Rasanya setiap orang dapat mengobrol dengan orang lain (padahal, tampaknya mereka baru kenal). Tentang apapun, tanpa rasa canggung. Beda dibanding kebanyakan kota-kota besar yang bahkan masyarakatnya selalu berhati-hati terhadap orang lain yang belum dikenal.

Tentu karena ini jawa, banyak suku jawa di sini. Menurut saya, meski sama-sama jawa, tampaknya orang jawa yang di jawa tengah berbeda dibanding dengan yang ada di jawa timur. Dalam bahas seorang teman, masyarakat jawa kebanyakan adalah feodal-patrialistik. Yang artinya, cenderung untuk memberikan pelayanan berlebihan bagi orang-orang yang berkuasa. Sedangkan patrialtistik berarti kecenderungan pada laki-laki.

Dan begitu pula yang saya rasakan di sini. Orang yang lebih tua tidak lantas dipanggil bapak/ibu, tetapi mas/mbak. Seseorang akan dipanggil bapak/ibu ketika dia punya jabatan tertentu di perusahaan. Sebagai seorang yang dididik untuk egaliter dan memang selama ini berada di lingkungan egaliter, saya pribadi tidak setuju dengan budaya yang demikian.

Tapi, seperti kata pepatah (selama tidak melanggar nilai yang saya anut, saya setuju dengan pepatah itu) :

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

One thought on “Kehidupan di Pinggir Kota Semarang

  1. Ping balik: Kehidupan di Pinggir Kota Semarang (2) « Membingkai Nilai-Nilai Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s