Terjebak Konsumtivitas


Di beberapa hari terakhir, saya baru tersadarkan kalau saya terjebak konsumtivitas. Saya baru tersadarkan klo rasanya ga enak ga ketemu internet. Gabisa buka facebook, jadinya ga tau kabar teman-teman saya di dunia maya sana. Apa kabar mereka,atau apa yang sedang mereka kerjakan. Juga ga bisa nge-blog. Memunculkan suatu sudut pandang berbeda dalam kehidupan yang saya alami. Sedikit berbagi dengan apa yang saya rasakan, hal yang biasanya tidak dirasakan atau (bahkan) tidak terlintas di pikiran orang-orang sekitar saya. Belum lagi, kotak pos dunia maya saya : ikhwans_alim@yahoo.com Selain HP, Facebook dan blog, ini juga salah satu media orang lain untuk menghubungi saya. Sapa tau ada yang ngontak dan ngasi proyek. hehe… maklum, dah bisa di-google di dunia maya.

Dan dunia yang luas semakin bisa dijangkau sekarang. Kesibukan manusia begitu luar biasa sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk menempuh perjalanan. Segalanya bisa ditempuh dengan kendaraan yang memakan biaya rupiah. Angkot atau taksi, misalnya untuk kendaraan darat. Kalau cukup kaya, bisa punya kapal atau peswat terbang. Kalau ga punya? ya bayar lagi untuk pindah kota😀 Kalaupun punya kendaraan sendiri, kebutuhan energinya memakan rupiah juga. Maklum, untuk isi bensin/solar/avtur..😀

Cari hiburan, susah juga cari yang murah. Masyarakat tempat saya hidup seperti tidak punya tempat rekreasi/wisata yang murah. Apalagi yang menambah pengetahuan. Biasanya pergi rekreasi berarti belanja. Terutama ke mall. Penyakit ini terjadi dimana-mana. Kalo kelas menengah ke bawah ya ke mall di kota masing-masing, kalo menegah ke atas ya ke singapura😀 Pantas rasanya selalu sendiri klo ke toko buku, tapi selalu bisa ramai klo pergi ke mall😦 Padahal banyak “rekreasi pikiran” di toko buku. Kalau sudah begini, duit harus keluar. Beuuh,,,pantas ada yang berpikiran harus kaya biar bahagia yah? Tapi semoga saya tidak terjebak dalam keadaan itu..

Kalau mau rekreasi di rumah, selepas penat di kantor untuk para karyawan dan lelah di sekolah untukpara siswa,hiburan yang paling umum di Indonesia adalah TV. Lagi-lagi makan biaya,nih. Kalo mau terhibur mesti (?) nonton beberapa jam setiap hari dengan televisi sekian watt,,dengan harga listrik yang semakin mahal (bahkan katanya mo naik lagi lho, tapi pelayanan ga naik😀 ). Buat yang sedikit berada, bisa maen console, meski lagi-lagi ni biaya listrik. Belum lagi untuk membeli semua kaset-kaset permainan.😦

sekali lagi, saya berdoa kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, semoga saya tidak disesatkan oleh ini semua.

Anyway, kita sudah terjebak dalam dunia yang penuh dengan konsumtivitas. Kita sudah berada di atas perahu konsumtivitas yang berlayar di samudera konsumtivitas yang memang selalu menuntut biaya, biaya dan biaya. Mari kita tetap berusaha hidup di kapal ini, karena tidak menceburkan diri ke samudera yang sedang diarungi juga tidak lebih baik.

Dengan segala keadaan yang ada, mari Sabar dan Syukur, yuk! karena itulah dua resep hidup dalam kehidupan.

2 thoughts on “Terjebak Konsumtivitas

  1. Hehehe, yaa begitulah hidup di kota besar.
    Mau mendesokan diri juga sepertinya fasilitasnya kurang mendukung.
    Beeuh, dulu juga pernah kepikir, rekreasi baru macam sekarang ni kok ya laku yaa…Kok saya ndak betah liat rame orang begitu.Pusing!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s