Penghargaan : Insentif dan Pengakuan


Sudah dikemukakan dalam berbagai presentasi, dibahas dalam berbagai lokakarya, bahkan diperdebatkan dalam forum ilmiah. Tetapi, memang tidak pernah bisa dibantah bahwa harta paling berharga sesungguhnya dalam organisasi adalah para manusianya itu sendiri. Segala kemajuan dan pertumbuhan dalam organisasi disebabkan oleh manusia yang menghuni organisasi tersebut, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Dalam konteks yang lebih luas, manusia adalah agen pertumbuhan dan kemajuan di masyarakatnya masing-masing.

Manusia bukan aset yang cenderung menurun kualitasnya, karena manusia adalah perangkat organisasi yang bisa terus mengembangkan diri dan juga lingkungannya, karena manusia memiliki akal pikiran. Pun demikian, manusia juga bisa sangat produktif, ketika manusia sedang memiliki keadaan psikis yang prima di dalam dirinya. Jika aspek psikis ini bisa dijaga dengan baik oleh lingkungannya, maka produktifitas manusia dalam berkarya untuk masyarakatnya juga dapat terus dipertahankan.

Dalam menjaga aspek psikis manusia dalam organisasi, secara umum ada dua hal yang biasa dilakukan. Yaitu, insentif dan pengakuan. Insentif adalah penghargaan yang dirancang sebelum proses dimulai. Sedangkan penghargaan berupa pengakuan datang dari budaya yang dibangun dalam organisasi. Pengakuan bisa hadir dari masyarakat organisasi, atau datang dari pemimpin organisasi.

Pun demikian dengan para organisasi kemahasiswaan. Masyarakat organisasi kemahasiswaan dan para pemimpin organisasi selayaknya mampu memberikan penghargaan pengakuan atas aktivitas-aktivitas produktif yang telah dilakukan oleh mahasiswa selaku subjek dan objek pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa yang meraih prestasi internasional, nasional bahkan tingkat wilayah seharusnya diberikan penghargaan pengakuan (apresiasi) atas prestasinya tersebut.  Tidak hanya di bidang pendidikan akademik, tapi juga minat mahasiswa, seperti : seni budaya, olahraga, jurnalistik, dan lain-lain.

Pendidikan tinggi kita memang baru mampu mencakup 2% dari penduduk Indonesia. Akan tetapi, justru jumlah yang masih kecil itu adalah aset berharga untuk masa depan Indonesia. Oleh karena itu, aset berharga ini harus dilindungi produktivitasnya dengan memberikan insentif dan pengakuan yang tepat dari pimpinan dan anggota organisasi kemahasiswaan itu sendiri.

Insentif dan pengakuan sendiri, sebenarnya adalah dua di antara empat cara meningkatkan motivasi manusia organisasi. Dua motivasi lainnya adalah dengan membangkitkan gairah untuk berkarya dan menyampaikan pandangan ke depan (visi) dari pemimpin organisasi.

Beberapa pengakuan penting dalam organisasi kemahasiswaan tidak terjadi melalui sistem manajemen yang eksplisit dan kaku dalam organisasi. Penghargaan itu bisa terjadi dalam lingkup interaksi pribadi : percakapan sehari-hari ketika seorang menteri kabinet KM memuji hasil kerja deputi atau stafnya sambil makan malam bersama, kepuasan ketua panitia ketika anggota kepanitiaannya berkomitmen terhadap proyek, menikmati pekerjaan mereka, dan bertumbuh sebagai manusia; seorang ketua lembaga kemahasiswaan yang menghargai proses, meski secara hasil tidak berhasil; atau kepuasan pribadi ketika melihat ide-idenya diimplementasikan.

Berikut adalah sedikit contoh apresiasi dari Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) kepada para pemenang finalis Pimnas XXII dan pemenang lomba di Bulan Juni-Juli 2009 :

One thought on “Penghargaan : Insentif dan Pengakuan

  1. Ping balik: Mindset Human Capital | Jurnal Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s