Mengapa KM ITB membutuhkan Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa (I3M)?


Pertama, KM ITB adalah lembaga yang menaungi beberapa lembaga kongres, kabinet, unit dan himpunan. Ide-ide berseliweran di antara lembaga-lembaga ini. Akan tetapi untuk merealisasikan ide menjadi suatu inovasi yang sebenarnya, dibutuhkan sumber daya (termasuk sumber daya waktu, dana, dan SDM) yang mencukupi (secara jumlah) dan berkapasitas. Bahkan, seringkali ide-ide yang berseliweran tersebut adalah ide-ide yang mengintegrasikan beberapa lembaga sekaligus. Sumber daya untuk merealisasikan ide inilah yang kita rangkum dalam lembaga bernama I3M.

Kedua, kepengurusan lembaga-lembaga di dalam lembaga KM ITB dibatasi oleh waktu. Pun, kaderisasi menjadi mutlak diperlukan di sini untuk menyampaikan ide dan keberhasilan yang sudah ada di masa kepengurusan sebelumnya ke masa kepengurusan yang berikutnya. Sedikit banyak, akan ada ide-ide proyek yang tidak berhasil tersampaikan. KM ITB membutuhkan satu lembaga inkubator ide yg keberadaannya tidak dipengaruhi masa kepengurusan lembaga lainnya. Hal ini disebabkan munculnya kekhawatiran apabila tidak tersampaikannya ide-ide yang akan direalisasikan tersebut kepada kepengurusan berikutnya dari lembaga-lembaga. Mengapa inkubator ide ini berbentuk lembaga? Karena optimalisasi potensi lembaga-lembaga KM ITB sebaiknya dilakukan oleh lembaga, bukan oleh kumpulan mahasiswa (komunitas), apalagi perseorangan. Kelemahan dari dua bentuk yang terakhir adalah keberlanjutan (sustainability)-nya.

Ketiga. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa kegiatan KM ITB ada kalanya bersifat politis. Termasuk pemilihan presiden KM. Dalam hal ini, keberadaan kementerian di dalam kabinet KM sangat bergantung pada keinginan presiden KM tersebut. Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika lembaga I3M ditiadakan oleh presiden. hal ini tentu kontradiktif dengan kemauan (willingness) kita semua untuk membangun lembaga ini dan kemauan untuk merealisasikan ide-ide besar KM ITB kita.

Keempat. Proyek adalah kumpulan pekerjaan yang bersifat mengintegrasikan pekerjaan-pekerjaan di dalamnya. Penyelesaian kumpulan pekerjaan ini tentunya harus dibatasi oleh waktu. Pekerjaan yang dimaksud apa saja, tentu mencakup administrasi dan keuangan, kajian konsep, eksekusi di lapangan, pengelolaan hubungan ke luar (eksternal) hingga kaderisasi anggotanya sendiri. Karena sifat proyek-proyek yang seperti ini, pengelola proyek sebaiknya berbentuk lembaga di dalam sistem KM ITB.

Kelima. Kementerian-kementerian di dalam Kabinet KM ITB biasanya (sebagian besar) dibentuk dengan tujuan pembentukan iklim yang kondusif (teknisnya berupa pendidikan atau kompetisi) terkait bidang yang dimaksud (keprofesian, pengabdian masyarakat, olahraga, ekonomi, seni budaya, dst..). Disebabkan tujuan pembentukan iklim yang kondusif dalam bidang yang dimaksud, biasanya kementerian yang bersangkutan tidak membuat produk yg berkaitan langsung dengan bidangnya (ambil contoh : kementerian keprofesian dan inovasi tidak membuat suatu produk keprofesian yang baru, tetapi menciptakan iklim kondusif berkeprofesian dengan mengadakan ITB Fair, dll…dst…) Oleh sebab itu, dibutuhkan lembaga yang dapat membuat suatu produk/jasa/bisnis yang berkaitan langsung dengan bidang-bidang tersebut.

Bagaimana Membangun I3M­­­­­

Saya ingin memperkenalkan suatu siklus umum yang biasa digunakan untuk menggambarkan kehidupan ide, bisnis, teknologi terapan, dan lain-lain. Siklus ini saya gunakan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya keberadaan I3M di dalam KM ITB, sejak setahun yang lalu hingga beberapa tahun berikutnya.

I3M saat ini sedang berada dalam tahap intro, yakni perkenalan (introduction) keberadaan dirinya dan fungsinya di dalam sistem KM ITB. Tetapi, sebagai lembaga baru yang posisinya tidak sama dan (memang) tidak bisa disamakan dengan unit, himpunan, kabinet, (apalagi) kongres, I3M membutuhkan  political willingness dari lembaga-lembaga yang sudah ada.

Tapi tidak hanya political willingness saja, I3M juga butuh ketegasan dari kongres terkait posisi di dalam KM ITB dan fungsi seperti apa yang seharusnya dijalankan. Itu dari kongres, sedangkan yang dibutuhkan I3M dari himpunan dan unit adalah bantuan untuk membangun portofolio I3M1) itu sendiri. Termasuk juga yang bisa disarankan dari kongres adalah, proyek yang harus dilaksanakan oleh I3M.

Porsi Kabinet dalam hal ini adalah pendanaan untuk I3M yang berasal dari Rencana Keuangan dan Anggaran (RKA). Tentu, ini tidak hanya rutin tahunan saja, sifatnya. Tetapi juga bahkan perencanaan keuangan beberapa tahun berikutnya.

Ketika akan memasuki tahap pertumbuhan (growth), pertama-tama yang harus kita (dalam hal ini adalah KM ITB) definisikan terlebih dahulu adalah seperti apa ukuran/parameter pertumbuhan yang diinginkan. Bila hal ini ditanyakan kepada saya, maka parameter pertumbuhan yang saya kehendaki adalah luas jaringan2) yang dimiliki oleh I3M, jumlah proyek yang berhasil dilaksanakan oleh I3M dan tingkat keberhasilan kampanye inovasi dan kolaborasi yang dilakukan oleh I3M.

Menurut saya, I3M dinyatakan telah mencapai tahap dewasa (mature) dan tidak mengalami penurunan (decline) ketika ketiga parameter yang saya usulkan di atas, tidak lagi mengalami penurunan.

Catatan kaki :

1) Dalam hl ini, portofolio I3M adalah kumpulan proyek yang sudah berhasil dilakukan oleh I3M.

2) luas jaringan yang dimaksud kira-kira seperti : tingkat ITB (LPPM, rektorat), tingkat bandung (kampus Unpad, UPI, greeneration, forumhijaubandung, dst..), tingkat jawa barat (BAPPEDA JABAR, LIPI, dst…)

One thought on “Mengapa KM ITB membutuhkan Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa (I3M)?

  1. Ping balik: Tentang Menginkubasi Inovasi Mahasiswa | Rousyan Galau Ways

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s