Mengapa “minder” sebelum memimpin?


Di banyak ruang kelas TPB, di pekan pertama dan kedua kuliah semester 1, biasanya ada pemilihan ketua kelas. Nah, ketika dosen menanyakan apakah ada yang mau jadi ketua kelas atau tidak, (biasanya) tidak ada yang menjawab / tidak ada yang mengacungkan tangan. Fenomena ini bisa berarti dua hal. Pertama, bahwa para mahasiswa memang ingin menjadi ketua kelas tapi tidak ingin mengusulkan diri atau justru sebaliknya (dan ini yang paling dominan, menurut saya) yaitu memang benar-benar tidak ingin menjadi ketua kelas.

Selama masih ada yang mengusulkan diri, memang tidak akan menjadi masalah. Syukur alhamdulillah bila memang lebih dari satu yang mengusulkan diri, (sepatutunya) kita lebih bersyukur lagi ketika banyak yang mengusulkan diri. Bayangkan betapa (akan) kacaunya kelas TPB kita bila dalam pemilihan ketua kelas pun, harus dengan cara sang dosen yang menunjuk siapa yang menjadi ketua kelas. Dalam hal ini, tentu kita tahu persis bahwa bagaimanapun, harus ada yang menjadi ketua kelas. Ya tidak ? apakah ketika tidak ada yang mengusulkan diri sebagai ketua kelas, lantas memang tidak perlu ada ketua kelas? Tidak juga ‘kan? Sehingga, penunjukan (oleh dosen) akan menjadi hal yang akan dimaklumi oleh semua orang.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di ruang kuliah TPB kita, ternyata. Dalam masa-masa kehidupan kita berikutnya di kampus. Ya misalnya di pemilihan ketua organisasi-organisasi mahasiswa atau di kepanitiaan-kepanitiaan.

FENOMENA “MINDER”

Kalaulah fenomena ini kita sebut ”fenomena minder”, pertanyaannya adalah : mengapa fenomena ini bisa terjadi ? Sebelum kita jawab pertanyaan ini, alangkah baiknya apabila kita membahas terlebih dahulu ketika beberapa di antara kita mencoba untuk menjadi pemimpin.

Yang pertama, beberapa di antara kita (yang pernah menjadi pemimpin atau pimpinan) mengawali semuanya dengan niat baik mereka. Ada yang berupa ”keinginan memberi manfaat lebih bagi manusia sekitarnya”, ada juga yang “lebih baik ada daripada tidak sama sekali. Lebih baik saya yang buruk (kepemimpinannya) ini menjadi pemimpin daripada tidak ada sama sekali”, dan lain-lain sebagainya.

Ada juga yang mengawalinya dengan mimpi-mimpi dan hasrat untuk mewujudkan mimpinya bersama masyarakatnya (yaitu, teman-temannya). Jadi, pribadi yang seperti ini biasanya adalah pribadi visioner, yang bisa membayangkan keadaan beberapa waktu ke depan (yang lebih baik tentunya). Pribadi ini juga melihat sesuatu sebagai potensi, bukan risiko. Sehingga yang dia lihat adalah peluang, yakni sesuatu yang memang bisa diwujudkan. Dengan semua mimpi-mimpi yang dimilikinya, dia ingin mengajak masyarakatnya (dalam hal ini, teman-temannya mahasiswa) mewujudkan semua itu.

“MINDER” ITU LAYAK GAK, SIH?

Kembali ke “fenomena minder” untuk menjadi seorang pemimpin. Sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang tidak dianugerahi kapasitas untuk memimpin. Karena itu, tidak mungkin seseorang itu tidak bisa memimpin. Nah, inilah yang pertama kali harus disadari oleh orang-orang yang akan memimpin.

Tapi, kesadaran saja tidak cukup. Kesadaran untuk memimpin juga harus diikuti dengan pengetahuan tentang bagaimana cara memimpin itu sendiri. Tentang hal ini, Ki Hadjar Dewantara sendiri sudah menyampaikan falsafahnya : “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang artinya “di depan memberi teladan, di tengah membangun karsa, di belakang mengarahkan”. Dan inilah fungsi kepemimpinan sesungguhnya : memberi contoh melalui tindakan, membangun kebersamaan, dan memberikan arahan tentang apa yang sebaiknya dilakukan bersama-sama.

Falsafah Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya sudah memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang menjadi subjudul tulisan ini. Yaitu, bahwa “minder” itu tidak perlu. Setelah munculnya kesadaran dan datangnya pengetahuan tentang bagaimana cara memimpin itu sendiri, rasa “minder” itu akan hilang dengan sendirinya. Sebagai tambahan, perlu untuk ditanamkan bahwa manusia (sebagai individu atau masyarakat) memang tidak bisa hidup tanpa kesalahan-kesalahannya sendiri. Sehingga, pemimpin manapun dapat melakukan kesalahan. Apabila kita adalah sang pemimpin, kita harus memperbaiki kesalahan kita. Apabila kita adalah yang dipimpin, sudah menjadi tugas kita untuk mengingatkan pemimpin kita.

SIMPULAN

Pada akhirnya, satu hal yang harus diakui dan diyakini. Yakni, bahwa kepemimpinan adalah suatu disiplin ilmu. Dan seperti disiplin ilmu pada umumnya (seperti kata Peter Drucker, pakar manajemen terkemuka di dunia), kepemimpinan bisa dipelajari, koq. Jadi, mengapa harus “minder” untuk memimpin?

One thought on “Mengapa “minder” sebelum memimpin?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s