dialog dua pujangga modern


bukannya kami sengaja melakukannya,, tapi memang semua mengalir apa adanya,, diiringi spontanitas bersama jiwa kreativitas,, demikianlah kami menuangkannya dalam dialog

pujangga I : aku masih mencari tempat tertinggi di dunia yang paling sulit dijangkau dan bukan untuk dihabiskan dalam kefanaan

pujangga II : bukan tempat tertinggi yang kucari, tapi ketulusan dari lubuk hati terdalam yang aku nanti

pujangga I : jika memang menanti ketulusan, akankah kita masih mencari dan memperjuangankan atau berhenti sejenak dan memang menanti?

pujangga II : baris di atas menyertakan dua pertentangan : kucari vs aku nanti. jadi, bukan mencari dan memperjuangkan, tapi berhenti sejenak dan menanti-nanti hati manakah yang benar2 mengekspresikan ketulusannya,,,

pujangga I : jika ekspresi ketulusan menjadi reaksi atas sebuah aksi…maka akan sampaikah penantian itu? ketika ekspresi ketulusan tidak kan pernah terwujud ketika hanya menanti? sedang dalam mencari dan memperjuangkan tanpa kesabaran dapat berujung penyesalan…

pujangga II : semuanya akan memang paradoks,kawanku! tidak ada sistematika dan logika, ketika kita memperbincangkan dua hati yang berbeda. dan memang benar katamu, yang utama dan terutama adalah kesabaran pada Yang Maha Sandaran Hati..
pujangga I : karena hati yang baik akan menyatu dengan hati yang baik; di dalam suatu paradoks bahwa ada hal2 yang terlihat baik tapi sebenarnya buruk buat kita dan sebaliknya mungkin tidak kita senangi, tapi sejatinya adalah penyempurna hati kita… maka hati kelak bersandar pada hati yang kelak mendekatkan pada Yang Maha Sandaran Hati…

pujangga II : kebesaran hati dan kebijaksanaan jiwa itulah kuncinya. ketika takdir menampar muka ekspektasi, keduanya akan memegang tanganmu, merangkul pundakmu dan membantumu bangkit kembali. Puji syukurku pada Yang Maha Sandaran Hati atas anugerah yang tidak terekspektasi..

pujangga I : tapi mengapa di balik paradoks yang sudah memusingkan ini Yang Maha Sandaran Hati masih memberikan jurang yang begitu luas dan dalam yang mungkin dapat menjadikan hati yang satu tidak bisa menyatu dengan hati yang lainnya?
pujangga II : kebesaran hati akan menyertaimu dalam distorsi ekspektasi dengan takdir, kebijaksanaan jiwa menemanimu berjalan di atas jembatan keikhlasan. seiring dengan memutarnya jarum jam dinding, engkau akan terbiasa berjalan seiring sejalan dengan keduanya..
pujangga I : kebesaran hati bahwa cukup hati ini bersandar pada-Nya, bahkan di saat kehilangan… kebijaksanaan jiwa atas petunjuk-Nya, untuk menyucikan hati… dan keikhlasan di dalam bungkus kalimat “Innallaha ma’ana” untuk mencukupkan bahwa tidak perlu ada kesedihan dalam keikhlasan… yang diperlukan adalah tersenyum menghargai setiap detik manfaat yang ada…
pujangga II : senyuman ikhlas karena ini, bukan hanya untuk hatiku di depan mata si paradoks. melainkan juga untukmu dan untuk dia. tapi juga demi bangsa kami dan masyarakat kami, yang menanti lahirnya produktivitas kami. Dan yang utama dan terutama adalah Yang Maha Sandaran Hati..
mizan ikhwan

4 thoughts on “dialog dua pujangga modern

  1. Hohoho.. Nice dialogue.. Wah,si bos jadi pujangga sekarang yak.. Wah raja buaya sedang belajar sastra untuk bekal menjangkau tempat tersulit nih.. Jangan lupa minta petunjuk ma Yang Menciptakan tempat tersulit itu ya bos..

    Suka

  2. @yusuf
    beginilah kalo tengah malam belum tidur, berdialog puitis mengomentari status seorang inoel..

    @wina
    menurutmu, apakah tempat tersebut benar2 sulit untuk dijangkau?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s