Pengabdian Masyarakat sebagai Ruh Gerakan Kemahasiswaan


Hanya berjarak beberapa ratus meter dari ITB, berdiri dengan layu pemukiman kumuh di sepanjang pinggiran Sungai Cikapundung. Tinggal di sana sebagian kecil rakyat Indonesia yang selama ini dielu-elukan untuk dibela oleh para aktivis kemahasiswaan Mereka hidup puluhan tahun di sana dalam kondisi yang tidak lebih baik dari keadaan orang-orang yang berkuliah di ITB.

Sedikit lebih jauh lagi dari ITB, sekitar 42 km ke arah barat daya. Terdapat sebuah desa dengan kualitas pendidikan yang terbilang cukup rendah. Hanya sedikit yang bersekolah di SMP apalagi sampai ke tingkat universitas. Bukan karena mereka tidak mau, tapi keadaan memaksa mereka untuk tidak bisa merasakan bangku pendidikan formal ke tingkat yang lebih tinggi, yang saat ini bisa dirasakan oleh semua mahasiswa ITB.

Dua kasus tadi, hanyalah sebagian kecil permasalahan yang ada di sekitar kita. Sebuah awal untuk menyadarkan kembali kepada kita bahwa masih banyak orang-orang yang tak seberuntung kita dan sedikit menyentil kita agar tak hanya sekedar berkegiatan, tapi berkegiatan yang bermanfaat untuk orang banyak.

“Pengabdian Masyarakat Sebagai Ruh Gerakan Kemahasiswaan”. Pengabdian masyarakat bukanlah sebuah event atau sebuah program semata, bukan juga hanya sebuah kegiatan yang bertemakan sosial, tetapi merupakan nilai-nilai yang seharusnya ada di setiap kegiatan kemahasiswaan. Jika sebelumnya, PM baru bisa sebatas melakukannya untuk program-program di PM sendiri, harapan ke depannya agar bisa juga menjiwai setiap kegiatan kemahasiswaan lainnya. Saya yakin, jika setiap kegiatan kemahasiswaan didasari oleh nilai-nilai pengabdian masyarakat, sebuah gerakan kemahasiswaan yang bersinergi, konkrit, komunikatif, kontinu, dan kontributif akan terwujud. Sehingga impian membuat Indonesia tersenyum akan segera menjadi kenyataan.

5 kata kunci gerakan kemahasiswaan yang dijiwai pengabdian masyarakat:
– Konkrit —– Gerakan mahasiswa haruslah konkrit. Tidak sebatas penyelenggaraan sebuah kegiatan semata, tapi menimbulkan hasil nyata yang bisa dirasakan banyak orang. Gerakan kemahasiswaan seharusnya bisa lebih dari sekedar mengkaji atau membuat seminar, tapi menghasilkan solusi dan mengaplikasikannya atau dengan daya tawarnya mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan permasalahan-permalahan yang ada dengan arif dan bijak. Itulah sebagian contoh kecil gerakan kemahasiswaan yang konkrit.

– Kontributif —– Sekarang ini banyak mahasiswa berkegiatan hanya memikirkan apa yang akan dia dapat. Padahal, dengan dia memberikan manfaat ke orang lain juga merupakan keuntungan untuk dia. Potensi yang ada di ITB sangatlah besar, sungguh sayang jika tidak dimanfaatkan untuk berkontribusi besar. Sudah sepantasnya dengan potensi yang besar setiap gerakan kemahasiswaan bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

– Komunikatif —– Ini berarti setiap gerakan kemahasiswaan haruslah bisa dipahami dan dimengerti oleh mahasiswa itu sendiri dan masyarakat. Dengan adanya komunikasi yang harmonis, maka akan memudahkan setiap usaha membangun gerakan kemahasiswaan.

– Kontinu —– Keberlanjutan adalah sebuah keniscayaan. Tanpa adanya keberlanjutan mustahil impian itu terwujud. Dengan adanya keberlanjutan menunjukkan bahwa kita benar-benar serius menjalankannya.

– Sinergis —– Keterlibatan semua pihak sesuai kapasitasnya menunjukkan sebuah gerakan yang massive dan teratur.

”A big dream is not always be started by a giant leap,
it only needs some little steps to the right direction”

2 thoughts on “Pengabdian Masyarakat sebagai Ruh Gerakan Kemahasiswaan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s