PROFICIO!!!


Proficio” (bahasa latin) merupakan akar dari terminologi profesi-keprofesian/keahlian yang memiliki makna “advance” (maju/ahli). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata profesi diartikan sebagai suatu bidang pekerjaan yang dilandasi oleh keahlian/keterampilan tertentu. Terminologi keprofesian juga seperti melekat, dan memang seharusnya melekat, di dalam dunia pendidikan (termasuk juga dunia kemahasiswaan), khususnya pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Isu yang ada pada dasarnya bermuara pada pemaknaan kita bersama terhadap terminologi keprofesian dan implementasinya pada tataran praksis yang konsisten terhadap pemaknaan tersebut.

Kampus Insitut Teknologi Bandung sebagai entitas pendidikan pada tingkat tinggi merupakan wadah sekaligus ranah penciptaan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat (mencerdaskan kehidupan bangsa) untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan tujuan Negara Indonesia, sejalan dengan cita-cita pendidikan nasional. Pemikiran Bung Hatta yang menekankan bahwa perguruan tinggi setidaknya memiliki tugas untuk membentuk suatu manusia yang memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memajukan ilmu pengetahuan, serta manusia yang cakap dalam memangku jabatan/pekerjaan di masyarakat; pada dasarnya merupakan pemahaman yang harus dimaknai dalam memandang arti keprofesian itu sendiri. Konsepsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengandung substansi pendidikan, penelitian, dan pengembangan masyarakat; merupakan suatu 3 ranah dalam perguruan tinggi yang pada akhirnya membutuhkan sekaligus menjadikan pengembangan keprofesian sebagai ujung tombak. Dengan demikian Kampus ITB sebagai ruang pendidikan + 10.000 mahasiswanya yang berasal dari berbagai penjuru nusantara tentu harus dapat menjadi wahana pengembangan keprofesian mahasiswa itu sendiri, di samping bagi Kampus ITB sebagai satu entitas.

Dalam ranah kemahasiswaan, kita mengenal pemaknaan atas peran-fungsi-posisi mahasiswa. Peran mahasiswa sebagai insan akademis, dengan fungsinya sebagai Agent of Change, Guardian of Value, dan Iron Stock, dalam posisinya sebagai golongan menengah; merupakan peluang sekaligus pemberian makna bagi pengembangan keprofesian yang sebelumnya hanya sekedar konsekuensi logis dari aktivitas pendidikan, terlepas dari pemahaman yang konvensional terhadap arti pendidikan itu sendiri. Hal ini memberikan suatu dimensi baru dalam memandang keprofesian itu sendiri sebagai suatu bagian terintegrasi dari dunia kemahasiswaan yang harus dipromosikan sebagai main stream pergerakan mahasiswa.
Dalam konteks dunia yang sebenarnya, persoalan dari sisi internal suatu entitas (kampus, kota, provinsi, nasional) dan tantangan eksternal merupakan suat keniscayaan. Peradaban manusia telah berulang kali berhadapan dengan berbagai bentuk persoalan kehidupan dan sampai pada saat ini, titik yang diistilahkan oleh Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga dalam kehidupan manusia. Dalam periode ini berbagai persoalan pada dasarnya dimaknai sebagai suatu titik yang harus dipecahkan melalui keunggulan/kemampuan pengetahuan (knowledge based solution), dimana modal intangible seperti kemampuan, keterampilan, modal sosial, dan sebagainya merupakan potensi sejati lebih di atas modal material seperti sumber daya alam. Hal ini dikembalikan kepada pemaknaan bahwa manusia dengan segala kemampuan budi dan pemikirannya justru merupakan aktor utama dalam kehidupannya sendiri. Dengan demikian keprofesian merupakan kunci terhadap persoalan kehidupan itu sendiri

Oleh karena itu pada bagian ini penulis ingin mengajak kita semua untuk kembali kepada pemaknaan terhadap arti “profico” itu sendiri. “Proficio” yang tampaknya terlalu dikerdilkan hanya menjadi sebentuk keterampilan pekerjaan untuk pemenuhan kebutuhan manusiawi kita, sejatinya merupakan suatu semangat untuk menjadi yang terdepan/termaju (advance) dalam bidangnya, lebih dari itu bahkan Plato memaknai sebagai sebentuk panggilan jiwa terhadap pemecahan persoalan kehidupan. Tidakkah terlihat bahwa pemaknaan tugas pendidikan oleh Bung Hatta pun menekankan pada point pertamanya bahwa tugas pendidikan tinggi ialah membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsyafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat. Keprofesian sebagai manifestasi panggilan jiwa dan tanggung jawab untuk memecahkan persoalan demi kesejahteraan masyarakat, hal inilah yang sejatinya kita upayakan bersama.

4 thoughts on “PROFICIO!!!

  1. tulisan ini ditulis oleh Mizan Bustanul Fuady, mahasiswa Teknik Planologi ITB angkatan 2005,

    satu bagian awal dari tulisan beliau sebagai seorang calon Menteri Keprofesian dan Inovasi Kabinet KM ITB 2009/2010

    Suka

  2. Ping balik: PENGEMBANGAN KEPROFESIAN MTM ITB « GREENDIARY

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s