Kreativitas dan Inovasi untuk Departemen Ekonomi


money-bag-cartoon1Dalam sebuah seminar technopreneurship, pak dwi larso menyampaikan bahwa ciri-ciri/karakter yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur seperti yang biasa kita baca/lihat/dengar sebenarya hanya teori belaka. Tidak ada rumusan spesifik yang menggambarkan seperti apa seorang entrepreneur sesungguhnya. Pimpinan CIEL (centre for innovative, entrepreneurship, and leadership SBM) ini melanjutkan bahwa, jiwa kreatifitas seorang entrepreneur dibangun oleh lingkungannya. Yaitu keluarga, kelas, dan di dalam lingkup yang lebih besar lagi.

Kreatifitas berarti thinking out of the box, atau bisa juga digunakan istilah berpikir lateral, bukan berpikir linear. Menumbuhkan jiwa kreatif berarti menciptakan kultur yang menganggap “beda itu biasa”. Menumbuhkan jiwa kreatif juga dilakukan dengan cara memberikan “panggung” untuk tampil dan berkreasi memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Inovasi sendiri berarti continous improvement. Kosakata dalam bahasa jepang yang digunakan untuk mendeskripsikan inovasi adalah kaizen, yang artinya adalah melakukan perbaikan secara terus-menerus. Sedangkan orang Indonesia membahasakannya dengan tiga kata berbeda, yang tetap bermaksud sama. Yakni amati, tiru dan modifikasi. Jadi, melihat-menyimak-memperhatikan dengan seksama hingga detail. Lalu, membuat ide/jasa/produk yang benar-benar sama. Dan setelah itu, baru dilakukan modifikasi atau perbaikan-perbaikan untuk menyempurnakan.

Dua hal, kreatifitas dan inovasi inilah yang harus kita tanamkan, tumbuhkan, dan pertahankan di kampus ITB.

Menumbuhkan jiwa entrepreneurship di kampus dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan seminar dan workshop entrepreneurship. Kegiatan seminar berisikan motivasi-motivasi mengapa harus entrepreneurship, sedangkan workshop berisikan how to menjadi seorang entrepreneur.

Proses pembentukan seorang entrepreneur juga membutuhkan lingkungan kondusif yang menyertai calon entrepreneur tersebut. Proses inilah yang dimaksud dengan mempertahankan lingkungan berkreasi dan berinovasi. Nah, caranya adalah dengan memasukkan bibit-bibit entrepreneur tersebut ke dalam suatu komunitas bisnis yang aktivitasnya antara lain adalah sharing, diskusi dan berkunjung ke pengusaha-pengusaha.

Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut : event organizer seminar dan workshop entrepreneurhsip dilaksanakan oleh departemen ekonomi, bersinergi dengan rektorat. Dan selanjutnya, pada tahap inkubasi entrepreneur, dilakukan oleh Unit Techno Entrepreneur Club.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s