Pendidikan adalah Memanusiakan Manusia


kebetulan masih dalam suasana Hari Pendidikan Nasional (hardiknas). jadi mau nulis singkat tentang pendidikan pada umumnya, dan secara khusus pendidikan di Indonesia. based on dialektika pengalaman dan khayalan saya selama ini. ntar pustakanya ada dua: pustaka berjalan (yaitu, saya sendiri) dan pustaka diam yang bisa diakses dari mana-mana (internet manapun maksudnya) yaitu blog ini sendiri. Hehe..🙂

saya akan memulai postingan ‘kali ini dengan membandingkan bagaimana timur dan barat memberikan pendidikan kepada masyarakatnya. pada pendidikan timur berkecenderungan untuk mendidik masyarakat tanpa memberikan kesempatan untuk ikut berpikir. pola-pola yang biasa digunakan adalah doktrinasi. ambil contoh, pendidikan untuk anak-anak asia : jadi manusia harus jujur, pokoknya jujur aja, tapi tanpa penjelasan apa itu jujur dan mengapa harus jujur.

berbeda dengan masyarakat barat. kulturnya adalah memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mencari pengetahuan dan menjadikannya sebagai referensi pengetahuan selanjutnya (inget-ingetlah dengan konsep “spiralisasi pengetahuan”). Tapi, satu prinsip reliability-nya dan reprodusibilitasnya harus dipegang teguh : bukti atawa fakta yg empiris dan tervisualisasikan. makanya, doktor-doktor hasil pendidikan di jerman atau amerika serikat, biasanya sangat logic dan berstandar tinggi (kalo yang kedua ini karena kultur masyarakatnya di sana).

tentang judul di atas, pendidikan=memanusiakan manusia. maksudnya adalah, bagaimana manusia menjadi semakin manusia setelah pendidikan. nah, bagaimana caranya? caranya adalah dengan penggunaan metode-metode pendidikan di mana manusia dapat mengatasi tantangan-tantangan hidupnya sendiri. tantangan hidup yang mana? yang mana pun, sesungguhnya. baik sebagai pribadi maupun sebagai sekelompok masyarakat. dari sini, makanya mungkin dari sinilah muncul konsep kewajiban masyarakat yang bisa disebut fardu kifayah.

Dari sini, saya mengambil kesimpulan sementara sampai saat ini. bahwa pendidikan formal di indonesia terlalu langitan untuk diterjemahkan oleh setiap peserta didiknya masing-masing.  fisika yang diajarkan si SMP dan SMA seringkali terlalu banyak teori-teori, tapi bingung dalam penerapan maupun contoh kasus sehari-hari di sekitar siswa-siswa tersebut. lemah dalam konsep dasar, istilah saya. pun demikian dengan kimia : konsep sederhana semacam perbedaan reaksi dengan pencampuran pun tidak diajarkan.

membangun ruang diskusi. menurut saya, ini satu hal yang jarang dilakukan oleh guru maupun lingkungan rumah, di Indonesia. jadi, komunikasi yang terjadi lebih banyak satu arah : oleh dosen/guru kepada murid/mahasiswa.

faktornya macam-macam, memang. bisa jadi.  sebutlah kita tidak menyalahkan kebiasaan yang selalu satu arah. yang pertama, bisa jadi pengajar gagal memancing muridnya untuk bertanya. bisa jadi juga, murid yang engga siap dengan topik yang diajarkan, jadi bingung ketika diajarkan, dan tidak tahu harus menanyakan apa ketika di kelas. paling sering, ketika pengajar mengharapkan interaksi (salah satunya lewat bertanya), mata murid yang diajar justru melihat kemana-mana, menghindari ditunjuk oleh pengajar yang bersangkutan😀

pendidikan bukan hanya oleh guru, tetapi juga keluarga di rumah. seringkali, orang tua benar-benar menitipkan pendidikan anak kepada guru di sekolah. dan justru lari dari tanggung jawab bahwa orang tua juga adalah pengajar bagi anak. kebetulan saya pernah mendengar hal ini langsung ketika masih siswa.

menurut saya, PR tidak harus ada. anak wajib belajar, iya. tapi tidak harus pelajaran sekolah. dan di sini peran orang tua untuk menjadi pengajar. berbeda pendapat antara orang tua dan guru adalah satu hal yang bisa saja terjadi. tapi saya kira itu adalah hal yang justru harus dialami oleh anak/murid. di dunia ini kan, tidak pernah ada referensi/rekomendasi yang benar-benar sama. setiap orang punya pendapat masing-masing kan?🙂

termasuk mengisi liburan anak dengan hal-hal yang bermanfaat. jangan sampai, liburan sekolah cuma berarti anak tidak sekolah. sebaiknya, anak mengalami pengalaman lain yang memperkaya pengetahuannya. termasuk juga bagaimana orang tua menyediakan tontonan dan buku yang bermanfaat di rumah🙂

ada penelitian dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell, bahwa ada penurunan hasil yang signifikan antara tes sebelum liburan dengan sesudah liburan, pada anak-anak usia sekolah di Amerika Serikat yang tidak mengisi waktunya dengan berwisata atau membaca buku-buku baru. Jadi ada peran orang tua selama liburan sekolah untuk ikut “mengisi pikiran” anak-anaknya daripada malah bekerja membantu orang tua selama liburan sekolah.

3 thoughts on “Pendidikan adalah Memanusiakan Manusia

  1. Ping balik: pendidikan adalah memanusiakan manusia (part2) | Jurnal Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s