Sumbangan Teknologi Masih Rendah pada Perekonomian


Sumbangan teknologi pada perekonomian Indonesia masih rendah. Dari ukuran TFP terlihat bahwa sumbangannya masih rendah dan masih dengan pertumbuhan yang rendah juga. Dilihat dari produktivitas tenaga kerja juga tergolong rendah. Begitu pula jika kita lihat dari produk ekspor Indonesia kandungan teknologinya juga rendah, karena terutama berupa bahan mentah sumber daya alam, seperti CPO, batubara, dan migas, dan produk padat karya seperti tekstil dan garmen, alas sepatu. Bahkan dilihat dari karakteristik perekonomian Indonesia di mana sebelum krisis telah bertransformasi dari perekonomian mengandalkan SDA kepada sumbangan investasi dan efisiensi, pasca krisis kembali bergantung pada SDA.

Dari sudut kepentingan perkembangan ekonomi maka peranan teknologi di Indonesia pertama-tama haruslah diarahkan pada sumbangan yang lebih besar pada TFP, peningkatan produktivitas pekerja, dan kandungan teknologi yang lebih besar pada produk-produk yang dihasilkan sektor manufaktur dan tentu juga jasa. Begitu pula keunggulan Indonesia dalam SDA harus dikombinasikan dengan pengembangan teknologi untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi. Peran teknologi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi ini lebih besar ditentukan oleh mekanisme pasar daripada keputusan politik. Bisa saja keputusan politik dibuat misalnya untuk mendukung pengembangan industri downstream SDA seperti CPO atau hasil tambang, namun jika keputusan politik tersebut tidak bersinergi dengan mekanisme pasar yang terjadi adalah bukan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan produk yang kompetitif, tetapi sebaliknya.

Perdebatan klasik di tingkat penentu kebijakan dan juga kaum terdidik pada umumnya adalah apakah kita memanfaatkan SDA yang kita hasilkan untuk diolah dalam negeri oleh industri hilirnya dengan janji nilai tambah yang lebih tinggi, ataukah menjualnya saja dalam bentuk bahan mentah karena sulit untuk bersaing dan yang terpenting adalah mendapatkan penerimaan dari ekspor bahan mentah tersebut. Pada masa sebelum krisis pendekatan pertama mendapatkan dukungan politik yang cukup kuat dari Presiden Soeharto dan menteri-menteri teknis dengan mengadopsi argumentasi infant industry yaitu perlunya perlindungan industri dalam negeri yang baru berkembang. Namun pada masa krisis pendekatan kedua mendominasi karena kebutuhan mendesak untuk pemasukan devisa. Sampai sekarang pertentangan ini terus berlanjut di antara di satu sisi Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan yang konsisten pada keterbukaan ekonomi, dan Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian yang menginginkan proteksi tertentu dan dukungan lainnya untuk perkembangan industri hilir pengolahan SDA, dan kepentingan nasional pada umumnya.

Pendekatan yang pragmatis adalah bagaimana mensinergikan keputusan politik dengan mekanisme pasar. Dalam situasi di mana kebijakan ekonomi pasar terbuka mendominasi seiring dengan globalisasi maka bobot lebih besar harus diberikan pada mekanisme pasar. Dengan kata lain keputusan politik bersifat memperkuat mekanisme pasar (market enhancing). Atau bagaimana membuat pengembangan teknologi adalah tidak saja sebagai aksentuasi kepentingan nasional tetapi juga diterima pasar dan yang lebih penting lagi produk dan jasa yang dihasilkan kompetitif tidak saja di dalam negeri tetapi juga di pasar terbuka atau internasional.

One thought on “Sumbangan Teknologi Masih Rendah pada Perekonomian

  1. Postingan ini saya ambil dalam seminar Dies Emas ITB. Ditulis oleh Umar Juoro, seorang alumni ITB.
    Beliau menulis “Ekonomi Politik Pengembangan Teknologi: Antara Keputusan Politik dan Mekanisme Pasar”. Postingan ini adalah bagian kecil di dari tulisan beliau.

    Oiya, TFP=Total Factor Productivity.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s