Community Development vs Pengabdian Masyarakat


Kamis (12/3/09) lalu, saya sempat berdiskusi dengan salah seorang alumni. Beliau adalah teh widi TL’02 (dulunya). Sekarang mengambil pendidikan S2 di teknik elektro ITB sambil beraktifitas di rumah amal salman. Diskusi itu sebenarnya sebuah diskusi singkat, karena saya sedang dikejar waktu kuliah.

Awalnya, beliau menanyakan siapa contact person dari HMF utk desa sindangsari. Tentu, saya berikan nama dan no handphone ketua himpunan farmasi yg sekarang. Kemudian, saya menceritakan kepada beliau bahwa kami (HMF) sedang membuat konsep community development yang dapat dilaksanakan oleh himpunan secara berkelanjutan untuk tahun-tahun mendatang. Konsep yang kami buat mencakup bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Saya melanjutkan cerita saya, bahwa kondisi desa sindangsari yang diharapkan untuk terwujud adalah sebagai berikut:

Ekonomi

  • mewujudkan sindangsari sebagai desa yang mandiri secara ekonomi
  • meningkatkan produktvitas dan nilai tambah usaha ekonomi
  • mendorong penciptaan lap kerja berkualitas
  • meningkatkan keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor industri dan jasa berbasis sumber daya lokal

Pendidikan

  • mereka semua bisa baca
  • bisa ngitung
  • sosialisasi pendidikan formal
  • pend ketrampilan
  • kurikulum non formal
  • materi dan peralatan pendidikan

Kesehatan

  • peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, dan pengawasan obat
  • penyuluhan kesehatan
  • sarana dan prasarana kesehatan

Kemudian, beliau menanggapi bahwa memang demikian yang namanya community development. Seringkali mencoba meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dan IPM seringkali diukur dari tingkat kesehatan, pendidikan, dan ekonomi dari penduduk setempat. Oleh karenanya, suatu community development biasanya diawali dengan forum rembug bersama warga, yang fungsinya untuk memahamkan kepada warga bahwa warga setempat sangat diharapkan untuk berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan community development yang sifatnya kontinyu ini.

Selanjutnya, beliau mencontohkan bahwa kegiatan-kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) itu termasuk pengabdian masyarakat saja. Karena tidak secara aktif melibatkan warga setempat. Demikian pula dengan kegiatan semacam Pengobatan Gratis. Keduanya adalah kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan warga secara pasif dan sifatnya hanya temporer.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s