Tentang “Know What, Who, Why and How”


Di era dunia datar (The World is Flat) seperti ini, di era informasi ini, di mana kompetisi hanya memenangkan mereka yang memiliki keunggulan kompetitif, pengetahuan adalah segalanya. Dan saya, mengklasifikasikan pengetahuan (mengetahui=know) menjadi empat kelompok umum : know what, who, why and how. Berikut penjelasannya.

Know what Tahu tentang sesuatu, baik itu penting atau tidak, menguntungkan atau tidak. Seringkali mengetahui sesuatu itu adalah awal dari banyak hal, tak terkecuali hal-hal besar ataupun kecil. Kadang-kadang tidak tahu itu lebih baik daripada tahu. Kalo sudah tahu tapi tidak berbuat, bisa rugi sendiri. Atau sudah tahu, tapi bingung bisa merespon apa, bisa merasa “terpenjara” sendiri karena tidak bisa apa-apa.

Know who Tidak ada manusia yang benar-benar sama dengan yang lain. Masing-masing punya kekuatan khas yang spesial. Perbedaan-perbedaan antar individu ini pun terjadi hingga pada tingkat apa-apa yang diketahui (knowledge) maupun bakat (talent) yang dimiliki. Sehingga, jadi penting untuk mengenal manusia yang lain, dengan segala kelebihannya, dengan segala jenis pengetahuan dan bakat yang dimilikinya. Supaya kita bisa membantu mengeluarkan kinerja paling optimal darinya.

Know who bisa juga berarti tahu siapa yang berkompeten untuk mengerjakan. Apakah kompetensinya teknis seperti para profesional yang sudah bertahun-tahun menekuni pekerjaannya. Seperti penempa pedang samurai yang sudah mengerjakan puluhan pesanan pedang. Ataukah seperti konsultan yang kompetensinya adalah brain power. Yaitu kekuatan otak yang sepenuhnya memang dialokasikan untuk melakukan change management di perusahaan klien.

Know why Filsuf adalah orang-orang kritis yang terus-menerus bertanya dan bertanya, “mengapa …… itu ada?”. Mereka selalu berusaha mencari landasan filosofis dari segala hal yang mereka temui. Pemahaman akan landasan filosofis ini mendorong mereka untuk selalu berangkat dari hal-hal yang bersifat fundamental atau konseptual. Keduanya penting, terutama sebagai landasan berpijak dalam pengambilan keputusan tertentu.

Fiolosofi adalah pembeda kita dengan makhluk hidup selain manusia. Soal kerja, mereka juga bekerja mencari nafkah dan melindungi keluarganya. Reasoning itu yang membuat kita distinctive dibanding mereka. Kalau kita sudah punya “the reason” — why we do this and don’t do that–kita bisa berniat dengan benar. Niat yang benar sudah mendapat nilai ibadah. Berfikir dan berniat adalah fitrah manusia — disamping karena kita bukan robot.

Know how Tahu titik awal berangkat itu bagus. Punya dan paham analisis kondisi awal itu penting. Punya tujuan dan/atau visi-misi itu juga penting. Tapi sekarang, yang lebih penting lagi adalah tahu bagaimana caranya. Eskalasi adalah salah satu contoh mengenai “know how”, bagaimana caranya mewujudkan tujuan dari suatu kondisi awal yang sudah ada. Contoh belum punya know how: mau berangkat dari jakarta ke surabaya; tapi bingung mau naik bus atau kereta atau pesawat.

Misal punya mimpi besar, tapi inisiatif-inisiatif pendukung belum ada. Ini namanya bermimpi di siang bolong. Winston Churchill menyebutnya “fail to plan; plan to fail”.

Maksud saya dengan tagline ini adalah sebagai doa supaya saya selaku penulis blog ini dan mereka yang berkunjung ke blog ini bisa mendapat pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sesuai dengan promise yang dijanjikan oleh tagline tersebut. Supaya delivery dari promise tersebut memang bisa memuaskan para pengunjung blog ini. Aamiin.

know-whatwhowhy-and-how

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s