Mengatasi Gap Komunikasi


Gap komunikasi datang dari perbedaan persepsi kita dengan persepsi orang lain terhadap sesuatu hal. Sesuatu hal ini berupa hal-hal yang dirasakannya, yang datang melalui panca inderanya. Terutama mata dan telinga. Bila dituliskan, proses terbentuknya komunikasi adalah : pesan yang disampaikan oleh komunikator à ditangkap oleh panca indera komunikan à kemudian, berdasar pemahaman terhadap rasa yang disampaikan, muncullah persepsi di komunikan.

Penyebab terjadinya gap komunikasi adalah citra yang membedakan pemahaman terhadap rasa,  terbentuk di antara pelaku gap komunikasi. Hal ini terjadi karena setiap manusia memiliki rasa terhadap apa-apa yang dilihat dan didengarnya. Dan pemahaman terhadap rasa ini belum tentu sama. Bahkan untuk satu pesan yang sama, yang disampaikan oleh komunikator yang sama! Pun demikian dengan kosakata. Setiap kosakata sesungguhnya memiliki makna. Dan ternyata, pada pemaknaan atas makna, terjadi perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Perbedaan pemaknaan antar komunikator dan komunikan menyebabkan terjadinya gap komunikasi.

Perubahan diri, terutama tindakan dan perasaan kita, baik sebagai aksi ataupun reaksi komunikasi tentang sesuatu hal, akan menghasilkan pemahaman rasa yang nyaman, suatu metode untuk perbaikan gap komunikasi.

Berikut ketiga cara tersebut :

  • Empati. Berarti menyamai wilayah perasaan orang lain untuk ikut merasakan apa yang dialaminya. Sebelum bisa mencapai tahap ini, tentu kita harus lebih banyak “mendengar” daripada “berbicara”.
  • Assertif. manifestasi dari perbaikan yang serius dalam hal bagaimana anda “memperhitungkan” keberadaan orang lain tanpa sedikitpun mengurangi perhitungan terhadap keberadaan anda secara konstruktif dan fair. Ya, memperhitungkan keberadaan orang lain tanpa tidak mengurangi perhitungan terhadap diri sendiri.
  • Teamwork. Sejarah membuktikan bahwa bekerja sama lebih baik daripada sekedar berkonflik. Termasuk dalam gap komunikasi. Daripada berkonflik dan mencoba memenangkan egoisme masing-masing, lebih baik bersinergi menuju suatu cita-cita bersama.

Mudah-mudahan menjadi renungan bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s