Betapa Beruntungnya Kita..


Saya baru saja bertemu dengan teman-teman lama. Di antaranya ada teman-teman SMP, ada juga temannya teman-teman SMP. Mereka banyak bercerita tentang apa-apa saja yang mereka lakukan sekarang, dan teman-teman lain (tentunya yang sedang tidak ada bersama kami). Menurut saya, betapa beruntungnya kita karena mengalami hal-hal (yang menurut saya), semakin memanusiakan kita.

Teman SMP saya itu, seorang di antaranya sudah bekerja (hanya dengan bekal training selama setahun). Pastinya ini adalah sebuah keberuntungan untuk kita yang akan menjadi seorang sarjana. Bekal knowledge yang dimiliki selama perkuliahan akan membantu bidang pekerjaan yang kita geluti. Belum lagi ketika kita bicara tentang modal jangka panjang yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan jenjang karier.

Seorang teman yang lain (kebetulan perempuan), ternyata sudah menikah. Menikah tanpa pernah kuliah. Saya bilang, menikah adalah sesuatu ibadah yang sangat besar pahalanya, tapi bukan berarti menghilangkan kesempatan untuk menempuh pendidikan lanjutan sama sekali. Sekali lagi, betapa beruntungnya kita yang pernah berkuliah.

Seorang ibu yang pernah kuliah hingga menjadi doktor, tentu akan berbeda dalam mendidik anaknya dibandingkan dengan ibu-ibu lain yang hanya setamat SMA saja. Betapa beruntungnya seorang anak, yang pernah dididik oleh ibu yang berpendidikan S3. Apalagi bila dia memiliki pemahaman ilmu agama yang tinggi.

Betapa beruntungnya kita, orang-orang yang sempat merasakan pergaulan dengan dunia luar. Teman-teman saya sebagian besar berkuliah di suatu kota yang sebagian besar lulusan SMA Negeri kami, juga berkuliah di sana. Pindah sekolah saja, istilahnya karena teman-temannya itu-itu saja.

Selain itu, saya banyak melihat di antara teman-teman tersebut, tampak banyak yang kehilangan mimpi-mimpinya (baca : visi). Saya menyebut suatu cita-cita/mimpi sebagai visi, apabila memliki perbedaan signifikan dengan orang lain. Ketika cita-citanya hanya lulus, atau bekerja, atau menikah, atau punya anak, saya berpendapat mereka tidak bervisi. Sekali lagi, betapa beruntungnya kita. Manusia-manusia yang masih memiliki cita-cita dan harapan untuk masa datang.

Dunia kampus semakin mendewasakan cara saya dalam berfikir dan memandang sesuatu hal. Mulai dari informasi akademik yang saya dapatkan, aktivitas-aktivitas organisasi mahasiswa, hingga keberagaman orang-orang yang berada di kampus. Untuk kita yang pernah mengalami itu semua, betapa beruntungnya diri kita…

Mari kita bersyukur,,

2 thoughts on “Betapa Beruntungnya Kita..

  1. hihi, setelah sekian lama nggak ngasih comment, aq mo ngasih comment ah… kagak apa2 dah walopun sering, hehe…

    iya, aq ngerasa beruntung bgt dan bersyukur bisa kuliah ampe sekarang, apalagi kuliahnya di tempat kita itu wan [hehe, di mana sih?], ketemu orang2 “unik” macam ikhwan ini…

    hehe, ntar kalo udah pada lulus bbrp tahun lagi qta musti dateng wan kalo anak2 HMF ngundang… [haha, aq udah jadi apa yak waktu itu…]

    Suka

  2. beberapa teman juga tanya,”nanti mo kerja dimana?”
    wahhh… dalam hati saya pikir, “emang harus kerja,ya?saya mo ngejar cita-cita saya yang lain..”
    tapi,saya beri jawaban diplomatis aja, “hmm.. belum kepikiran,siy. gimana ntar aja..”.
    Sekali lagi, saya katakan : betapa sudah semakin termanusiawikannya kita sehingga kita masih punya mimpi-mimpi lain yang ingin kita wujudkan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s