disiplin bukan milik militer!


Salah satu yang bisa kita pelajari dari bangsa Jepang adalah disiplin. Yang satu ini memang budaya yang sudah sangat mengakar dan tercermin dalam perilaku bangsa Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya ketika mereka akan menaiki kereta rel listrik (di sini, kira-kira setipe dengan KRL Jabodetabek). Bukannya menyebar mengerubungi pintu, yang mereka lakukan adalah membentuk antrian lurus ke belakang sembari menunggu kereta tiba dan pintu terbuka untuk mereka.

Mari bicara tentang disiplin.

Disiplin berarti patuh pada peraturan. Peraturan ini tidak hanya berbentuk aturan tertulis yang ada komunitas/organisasi/ masyarakat, tapi juga termasuk nilai dan norma (aturan tidak tertulis) yang berlaku di komunitas/organisasi/masyarakat itu sendiri dan idealisme dari masing-masing individu yang berada dalam komunitas/ organisasi/ masyarakat itu. 

Disiplin pribadi berarti ketaatan/kepatuhan pada nilai-nilai yang dipegang oleh diri sendiri. Misalnya cinta kebersihan. Pribadi yang cinta kebersihan senantiasa disiplin untuk menjaga lingkungannya tetap bersih. Rutin membuang sampah –> sehingga rajin mengumpulkan sampah (menyapu, mengepel, dst).

Disiplin akan meluruskan komitmen. Komitmen saja tanpa disiplin, jadinya omong tanpa isi. Disiplin mengimplementasikan ilmu yang dimiliki –> disiplin mengosongkan gelas supaya bisa diisi kembali. Disiplin dalam mengejawantahkan strategi yang sudah dibuat. Strategi besar, tanpa taktik-taktik yang tidak ditekuni pastinya tidak berhasil.

Makanya, orang yang disiplinnya tinggi, biasanya memiliki integritas yang tinggi pula. Pemahamannya tampak sampai tingkat aplikasi, tekadnya kuat, dan tidak setengah-setengah melaksanakan rencana yang sudah ada.

Di Indonesia, hanya militer yang bisa dianggap sebagai komunitas yang memiliki standar disiplin. Oleh karena itu, pada banyak latihan kepemimpinan, militer sering kali dilibatkan. Harapannya militer dapat membimbing dengan baik tentang materi kedisiplinan. 

Apakah hanya militer yang memiliki sikap disiplin tersebut? Tentu tidak. Kita sering lupa bahwa pesantren atau sekolah berkurikulum keagamaan juga menuntut para peserta didiknya untuk dapat berdisplin tinggi. Kalau tidak disiplin, berbagai tingkat hukuman menghadang di depan mata. Hukuman apa yang akan diterima? Tergantung tingkat pelanggaran.

Kita ini suka lupa. Tidak ingat bahwa pesantren adalah akar budaya kita. Tapi kita malah mencari-cari apa dan bagaimana disiplin itu. Ini sembari saya mengingatkan diri saya sendiri.

Banyak orang tua yang merasa belum mampu membentuk kedisiplinan pada diri putra-putri mereka. Jadilah pembentukan disiplin di-outsource pada pihak ketiga, yakni sekolah. Terutama sekolah-sekolah berasrama seperti model pesantren atau yang semi-militer.

Padahal anak adalah peniru nomor satu. Apa yang dilakukan oleh orang tua, itulah yang dilihat dan ditiru oleh anak-anak.

Mari kita berdisplin sejak sekarang, karena disiplin tidak sekedar tepat waktu dan tepat tempat, tapi kepatuhan pada peraturan / nilai-nilai yang dianut guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik secara pribadi maupun kelompok.

Tepat waktu dan tepat tempat hanyalah implikasi dari penerapan disiplin dalam kehidupan kita. Keduanya hanya “kulit” semata. Yang utama adalah jiwa dan pribadi yang patuh dan taat pada nilai-nilai. 

Kita bisa belajar dari Ustadz Aa Gym untuk disiplin. Yaitu mulai dari yang kecil, mulai dari dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri.

Memulai berdisplin, dari hal-hal kecil dulu. Contoh: komitmen diri sendiri untuk memberikan yang terbaik. Lalu mulai dari sekarang, yaitu saat ini. Jangan menunda-nunda lagi. Lalu mulai dari diri sendiri. Contoh: menepati waktu pada saat membuat janji dengan orang lain.

Mulai belajar mengantri di tempat umum, semisal loket tiket KRL. Seperti dicontohkan di paragraf awal tulisan ini. Para orang tua yang bertindak indispliner, menyerobot antrian tidak usah ditiru. Jangan juga dipikirkan sampai kesal. Hanya menghabiskan energi saja.

Biarkan dirinya menerima akibat dari apa yang dia lakukan. Langsung atau tidak langsung, segera atau tertunda, pastinya juga akan berefek negatif pada keluarganya. 

Seorang pendidik di Taman Siswa, yaitu Ki Suratman, pernah mengatakan,

Disiplin Menumbuhkembangkan Kreatifitas.

Maksud beliau begini, komitmen yang tinggi pada tugas/tujuan, akan menumbuhkembangkan kreatifitas dalam memecahkan persoalan (problem solving) yang terdapat, menghambat dan menghadang dalam pencapaian tujuan tersebut. 

Ketika kita berbicara tentang peradaban, ada satu contoh peradaban yang terbentuk dari karakter displin. Disiplin menjadi budaya orang Jepang, dimana masyarakat Jepang menterjemahkan displin ke dalam berbagai aktivitas kehidupan mereka.

Mulai dari bagaimana melaksanakan pekerjaan, hingga pencapaian (hasil) pekerjaan itu sendiri. Ini juga yang menyebabkan masyarakat Jepang sangat senang dengan inovasi. Karena mereka itu tekun/rajin/disiplin. 

Inovasi juga termasuk bentuk disiplin. Karena inovasi adalah optimasi kinerja dan optimasi hasil. Inovasi adalah bentuk totalitas komitmen yang diberikan. Komitmen seperti apa? Komitmen untuk selalu berubah menjadi lebih baik. 

Di berbagai lingkungan kita, secara umum baru di pekerjaan saja biasanya kita memiliki disiplin. Yaitu disiplin kerja. Yakni seperangkat aturan kerja (baik di kantor, lapangan, workshop, maupun pabrik) yang harus diikuti dan ditaati.

Yang dengan ketaatan tersebut, akan terselenggara beragam aktivitas pekerjaan. Kalau sudah begini, tujuan pekerjaan dan suasana bekerja yang aman dan nyaman.

Disiplin kecil dalam lingkungan kita, sadar atau tidak sadar akan berdampak pada jenis peradaban yang kita ciptakan. Semoga kita dapat menjadi pribadi dengan disiplin yang lebih baik, dan semoga NKRI turut dapat menjadi lebih baik karenanya.

One thought on “disiplin bukan milik militer!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s