Kopi Itu Digunting, Bukan Digiling*


Gaya hidup urban itu manifestasinya macam-macam kan ya. Dua di antara yang banyak itu adalah kafe dan kopi. Dua “k” ini belum bisa dipisahkan. Kafe ya umumnya jualan kopi, dan kopi premium yang lagi ngetrend itu umumnya dijual di kafe. Buat yang buka kafe di bandung saja, mencari positioning yang berbeda dan tepat itu susah setengah mati. Karena hampir semua kafe brewing-nya ya pakai mesin kopi yang harganya mulai dari puluhan juta itu.

lihat juga: lima kesalahan pebisnis kafe

“Waktu dulu masih belajar minum kopi, saya pikir espresso itu keren ya. Mau order yang itu aja ah, karena dari namanya aja sudah cool banget. Giliran pesanan datang, rasa tercekat menghampiri tenggorokan. Volumenya minim banget, dengan rasa yang luar biasa asam/pahit (tergantung jenis biji kopinya), dan tanpa rasa manis sama sekali.”

Ada yang bilang, ampas-ampas kopi dari mesin kopi itu masih bisa dipakai sebenarnya. Masih bisa menghasilkan ekstrak kopi (espresso). Kualitasnya jelas berbeda dibanding yang tetesan pertama (meminjam tagline kecap manis ABC), tentu saja. Tapi ya semestinya masih bisa dipakai. Katanya sih gitu. Sudah lama saya mendengarnya. Saya sampai lupa kata siapa 😀

Saya masih belum bisa menjalani gaya hidup urban yang satu itu. Waktu dulu masih di Jakarta, kan tidak terhindarkan ya. Namanya juga konsultan, lebih sering meeting di kafe atau di restoran. Baik yang stand alone, maupun yang ada di dalam mall. Bahkan pas eksekusi proyek dengan klien pun, yang disuguhi juga luar biasa lho. Menu-menu yang belum tentu sudah dirasakan oleh para karyawan di institusi klien itu sendiri.

Lihat juga: storytelling ala filosofi kopi

Namun, saya malah hampir tidak bisa lepas dari kopi-kopi yang instant. Ada dua kategori ya, ada yang sachetan, ada juga yang siap minum. Istilah kerennya RTD (ready to drink).

Kopi Instant RTD

Yang kedua ini, pangsa pasarnya dikuasai oleh Nescafe. Ada yang kemasan kotak, ada juga format kaleng bundar. Saya biasanya pilih yang Nescafe Coffee Cream daripada varian-varian yang lain. Dan lebih pilih yang kotak daripada yang kaleng. Sepertinya yang kaleng itu lebih keren saja daripada yang kotak. Saya suka varian yang cofee cream ini karena kombinasinya mantap. Kopinya enggak dominan, manisnya juga enggak kemanisan. Apalagi kalau diminum dingin. Makin mantap rasanya.

Sesekali, saya juga minum Kopiko 78 degrees. Brand extension dari permen Kopiko ini, rasanya oke juga lho. Kopinya lebih terasa. Secara umum, harganya lebih tinggi daripada Nescafe Coffee Cream. Wajar, yang satu volume 250mL, satunya 200 mL. Value dari si Kopiko 78 degrees ini tidak selalu lebih rendah daripada kompetitornya yang dari Nescafe. Karena kembali lagi ke tokonya menjual kedua barang tersebut di harga berapa. Bisa jadi lho, si Kopiko malah “more value” daripada si Nescafe.

Kopi Instant Sachet

Ini masih menyangkut gaya hidup urban juga sih. Tuntutan otak yang fresh dan kreatif dalam menghadapi pekerjaan meminta asupan minuman kopi yang bisa dibikin sendiri di dapur. Baik dapur rumah atau dapur kantor.

Saya pernah setia sama merek Torabika Cappucino. Yang tagline-nya Cappucino ala Café. Merek ini kemasannya lebih mengkilat lho daripada kemasan yang sebelumnya. Mudah-mudahan berefek ke penjualan ya. Apalagi ditopang sama TVC yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Merek yang ini sih tidak akan saya benar-benar tinggalkan (halah, kayak mantan aja ditinggal). Hanya saja, granul-granulnya ada yang terlalu kecil sehingga seperti terbang kala dituang ke gelas. Dan, seperti terlalu foamy (berbusa) bagi saya.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar memuaskan sih ya. Loyalitas saya terhadap suatu merek tidak gila-gilaan. Okelah sempat setia beberapa kali pembelian terhadap sebuah merek. Ujung-ujungnya muncul rasa bosan. Kemungkinan karena kapasitas merek tersebut dalam memberikan experience ya memang hanya bisa sampai segitu saja. Namanya juga produk FMCG (fast moving consumer goods) ya. Apalagi selalu muncul merek-merek baru yang menagih untuk dicoba.

Terakhir ini, saya sedang mencoba Tora Café. Sebelumnya lagi suka beli Chocolatos dari Garuda Food. Kalau minuman coklat, saya bakal kembali ke merek ini, instead of Milo atau Ovaltine. Sebelum Chocolatos, seringnya Good Day yang Chococcino. Yang terakhir ini, saya jadi tidak loyal karena begitu dituang air panas/dingin sampai lebih encer sedikit, rasa dan manisnya hampir hilang sama sekali.

Creating New Experience

Saya tadi berpendapat bahwa karena kapasitasnya memberikan experience memang hanya mampu segitu saja. Jadinya kita mencari sendiri experience tersebut. Terutama, kalau saya, dengan cara membuat menu-menu minuman yang baru. Misal mau yang dingin nih, pakai air biasa, atau air panas, terus pakai es batu, bagaimana hasil akhirnya. Atau kalau diaduk langsung dengan es batu, akan bagaimana sensasi dinginnya. Atau kalau mau diblender, bagaimana. Atau kalau mau ditambahkan susu cair, bagaimana. Dan seterusnya. Intinya mendapat experience dari proses pencarian menu itu sendiri. Proses ini dirasa lebih penting daripad hasil akhir “Rasa” nya itu sendiri. Tapi bagaimana rasanya tidak bisa diabaikan begitu saja donk. Tetap harus enak.

*) Judul prokatif di atas adalah sindiran untuk saya sendiri. Quote tersebut aslinya berbunyi, “kopi itu digiling, bukan digunting”. Sebagai sindiran untuk kaum yang meminum kopi sachet. Karena bagi mereka, sejatinya minum kopi berawal dari biji kopi yang digiling, dipanggang (roasted), dan diekstraksi.

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan menyebalkan pasangan?


Tidak semuanya yang menyebalkan itu buruk. Hanya saja kita membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan nonton hiburan seperti Drakor (drama Korea) bukan kebiasaan buruk kok. Tapi ya menyebalkan aja seakan gak ada yang lebih produktif untuk dilakukan. Semisal bikin Kebab yang #anytime #anywhere, misalnya :p

IMG_3568 - jkd

JKebab Delivery, yang selalu menantang kita untuk mencoba dan ketagihan #beranicoba #beraniketagihan

Lalu sudah tertebak jadinya gimana. Biasanya besok ngantuk dan tidur siangnya jadi panjang akibat semalam nonton drakor berepisode-episode hingga dini hari.

Saya juga candu sama bola sih. Mudah-mudahan pihak “sebelah sana” gak menganggap candu ini menyebalkan. Cek-cek skor terbaru, baca berita bola di koran langganan yang tidak saya bayar, sampai nonton ulang pertandingan di Bein (Grup Al Jazeera khusus sport) yang sebenarnya sudah berlangsung 5-6 hari yang lalu 😛

Alhamdulillah salah satu syarat hidup minimalis, yaitu tidak memiliki TV, sangat membantu saya supaya gak candu-candu amat sama sepakbola. Berita transfer Bakayoko kan bisa menyita perhatian banget. Lebay. Padahal enggak.

Jadi bagaimana cara supaya bisa beradaptasi dengan kebiasaan buruk milik partner hidup? Jawabannya adalah There is no special recipe, meminjam kata-kata bijak dari film Kungfu Panda.

Bangun pagi lihat dia, tidur malam lihat dia lagi, (#aih!) itulah yang membuat saya semakin bisa berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya sebut menyebalkan itu.

Selain itu, kuncinya adalah sabar. Alhamdulillah saya cukup bisa bersabar sehingga tidak berbuah tampar. Haha. Bagaimana caranya bisa sabar begitu? Kejar terus jawabannya, yak. Hampir gak ada tips dari saya untuk bisa bersabar. Malah tips yang ada, adalah bagaimana mengalihkan perhatian diri dari hal-hal menyebalkan dari pasangan.

Sebagai lelaki, saya cukup biasa menyendiri. Ini membuat saya lebih tenang, kalau “masuk gua” dulu. Di mana menyendiri? Gak harus pergi jauh dari rumah naik sepeda motor keliling-keliling kota tidak jelas arah dan tujuan hanya untuk menyendiri. Dengan “get in the cave“, saya memberi jarak pada masalah saya, sehingga saya bisa secara objektif memberikan tanggapan/perlakuan terhadap masalah tersebut.

Sebalnya kita sama pasangan itu wajar. Sebal kan emosi juga ya. Tapi kalau emosi, terus melahirkan tindakan-tindakan –dari seorang suami– yang tidak kita pikir panjang, bisa menyesal di kemudian hari.

Jika ingin marah, maka marahlah. Tetapi marahlah pada sesuatu yang tepat. Tidak semua kebiasaan menyebalkan harus berakhir dengan kemarahan. Namun tetap harus diingatkan dengan emosi yang terkendali.

Inilah gunanya hidup minimalis. Problem potensial dari penuhnya rumah oleh barang-barangnya yang belum tentu berguna seumur hidup telah menjauh sekian ratus kilometer. Sehingga masalah-masalah kita enggak banyak-banyak amat.

Konflik dengan Pasangan

Yang menyebalkan belum tentu jadi konflik. Tapi konflik tidak bisa ditangani seperti menangani hal-hal menyebalkan. 

Keadaan mulai gak enak itu kalau kami sekeluarga enggak keluar rumah. Susahnya hidup di kota, seakan pilihan terdekat, termudah, dan tanpa perencanaan hanyalah pergi ke mall. Padahal mall kan gitu-gitu aja ya di mana-mana. Banyak miripnya, dengan tenant-tenant yang mostly itu-itu aja. Itu pendapat saya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ngajak anak-anak makan di Gokana. Ternyata yang beda hanya suasananya dan es kopi blender-nya. Sebab anak-anak tetap hanya makan nasi telur + kuah kari. Hehehe. 

Tapi dari yang saya baca dan saya observasi langsung ke istri, ya mereka (kaum hawa) memang membutuhkan jalan-jalan ke luar rumah tersebut. Bagi perempuan, “pekerjaan utama” adalah mengurus dan membersihkan rumah. Sama dengan bekerja di kantor, rutinitasnya bisa membuat gila. Lelaki kebanyakan berpikir bahwa orang yang di rumah itu santai-santai aja. Padahal enggak sama sekali. Bahkan kesibukanya bisa 24×7.

Saya akui, kalau saya yang harus 24×7 di rumah, saya enggak akan bisa. Saya ini tipenya kudu keluar rumah tiap hari, melihat jalan raya setiap hari, ketemu orang baru setiap hari, dst. Kita harus mengapresiasi kaum wanita yang berperan mengelola rumah tangga.

Misalnya dengan membelikan lipstik seharga Rp500.000,- #eh

However, itu semua (termasuk pergi ke mall) gak akan cukup. Bibit-bibit konflik itu mulai bersemi kalau kita sudah lama tidak berduaan. Kudu ada waktu dan ruang di mana hanya ada kami berdua di sana. Sebagai suami, aku tuh gak bisa diginiin terus :p (hanya dibiarkan mengurus diri sendiri, maksudnya). Seakan hanya anak-anak yang diurus oleh istri. Dia pun, saya yakin dia tidak hanya ingin bertiga saja dengan anak-anak. Tentu dia membutuhkan ruang dan waktu di mana hanya ada dia dan suaminya. Ceilah, iya gitu? 😀 Saat ini, anak-anak masih membutuhkan perhatian yang teramat banyak dari kami. Keduanya masih berusia 2 tahun 4 bulan, saat ini.

Pokoknya, urusan-urusan terkait anak-anak kudu kelar, tapi juga jangan sampai menciptakan jarak (apalagi konflik) antar kedua orang tuanya. Teorinya sih begitu. Tapi pelaksanaannya memang masih jauh panggang dari api. Pernikahan kami seumur jagung pun belum ada. Kami masih terus belajar. Doakan kami ya supaya survive 🙂

Hidup Minimal Dapat Maksimal


Di artikel yang mengulas tentang disiplin, saya menyinggung beberapa hal tentang hidup minimalis yang menjadikan hidup jadi maksimal. Somehow, apa yang saya pikirkan dan rasakan, ternyata dikompilasi dan diteorikan oleh beberapa blogger di luar sana. Misalnya ada Joshua and Ryan , becomingminimalist.com , dan Courtney Carver

all you need is less

Tiga referensi ini jadi masukan bagi saya tentang konsep hidup minimalis itu sendiri. Tak lupa, saya subscribe dulu via email. Begitu mereka rilis konten baru, langsung masuk ke inbox saya.

Yang kebetulan terjadi hari ini dan agak lucu adalah, seorang teman SMA yang tinggal di Jogja dan dia bertanya, “Berapa mobil yang kamu punya?” Sontak saya heran dengan pertanyaan ini. Mungkin dia mau jalan-jalan ke Surabaya ya, hingga bertanya demikian. Saya jawab, “Untuk apa? Enggak ada. Kami kalau jalan-jalan pakai Go-Car. Dulu pakai Grab Car (sampai aplikasinya error dan tidak kami pakai lagi). Sebelumnya pakai Uber. Tapi error-nya bikin kami uninstall.”

Back to topic. So far, bagi saya, hidup minimalis itu mencakup lima hal, setidaknya sampai saat ini:

  • Bertempat tinggal
  • Berkendara,
  • Bercengkrama dengan anak-anak
  • Berpakaian,
  • Bersosial media, dan
  • Membeli buku

1. Living in tiny house

Cita-cita saya, punya kamar tidak terlalu luas. Isi kamar tidur hanya tempat tidur saja. Sisanya, saya kira bisa di luar kamar. Lemari pakaian, toilet bercermin, meja belajar/kerja. Supaya anak-anak juga tidak unsocialized di kamarnya masing-masing.

Kata saya sih, kebutuhan kita sama rumah itu gak besar-besar amat. Kita aja yang sering kehabisan space untuk menaruh barang-barang. Lagipula, rumah yang terlalu besar itu bisa bikin anak-anak “hilang”.

Misalkan dapur saja ya. Menurut saya, dapur itu adalah tempat di mana kompor, wastafel, rak piring, dan kulkas berkumpul menjadi satu kesatuan. Jadi sebenarnya ruangan ukuran 2×2 meter saja cukup untuk dapur. Dan letaknya harus dekat dengan ruang terbuka, untuk memudahkan keluarnya aroma dan panas.

Pastinya, rumah jangan lupa sama cahaya dan perputaran udara. Rumah kan bukan bangunan yang full 100% memproteksi kita. Namun rumah, adalah bangunan yang merekayasa alam (terutama cuaca) demi kenyamanan penghuninya tanpa melupakan faktor-faktor cuaca tersebut.

Contohnya begini:

  • Rumah untuk menghindarkan kita dari kehujanan, tapi bukan berarti tanah di mana rumah berdiri malah tidak bisa menghisap air hujan tersebut, ‘kan? Resapan air gagal terbentuk ketika semua bagian tanah dibeton.
  • Rumah melindungi dari teriknya sinar matahari, bukan berarti kita tidak mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari, ‘kan? Ruang terbuka sangat penting. Baik di samping, di belakang, atau di lantai dua.

Lumayan juga ya gagasan-gagasan saya tentang rumah. Another time maybe I should write about home and house. 

2. Use car sharing services

Penyakit kota besar adalah kemacetan. Saat ini, macet manusia masih bisa kita akomodasi. Padahal nantinya 60% penduduk dunia akan bertempat tinggal di daerah urban. Alias perkotaan. Macet kendaraan yang agak susah kita hindari. Sebab itu bila jalan-jalan dengan anak-anak, saya dan istri lebih suka memakai grab car, atau go-car. Aplikasi Uber yang dulu error, sudah kami cabut instalasinya dari tablet. Lagipula, Uber tidak ada kepastian harga. Bisa sangat mahal ketika sampai di tujuan.

3. Get any time with kids

Ini lebih pada tujuan daripada upaya. Saya diajarkan bahwasanya, anak-anak butuh kuantitas waktu (quantity time) kita, sayang sekali kita baru bisa menyediakan sedikit waktu yang kita upayakan berkualitas (quality time).

Kami coba hindarkan mereka dari “magnet-magnet” yang lain. Semisal TV. Sehingga mereka tidak distracted dari kami maupun dunia luar. Hanya karena fokus pada TV. Kami juga tidak ingin punya gadget berlebihan. Mudah-mudahan hanya bertambah satu device saja lagi setelah sudah ada satu smartphone, satu tablet, dan satu laptop.

4. Dress with less

Punya lemari pakaian, cukup satu saja. Recycle isinya. Tiap beli baju baru, sumbangkan satu yang lama. Sebagai pria dewasa yang tugasnya mencari nafkah, saya malah mengurangi t-shirt. Minimal tidak bertambah. Karena t-shirt hanya bisa berfungsi di rumah dan sekitarnya. Keluar rumah, terasa sopan hanya bila mengenakan yang berkerah. Baik kaos ataupun kemeja. Pergi ke masjid, saya mengusahakan untuk tidak memakai t-shirt. Minimal kaos berkerah.

Daripada membuang uang untuk motif maupun warna yang sekedar berbeda dari yang sudah saya punya, saya pikir lebih baik untuk sesuatu pakaian yang benar-benar memberi manfaat. Alhamdulillah, tiga potong di antaranya adalah kaos yang tidak menyerap keringat dan bisa saya gunakan untuk berolahraga. Kaos ini bisa juga dipakai sehari-hari di rumah.

Ada tiga warna yang saya suka: putih, coklat, hitam, atau abu-abu. Berarti ada 4. Kata saya ya, keempat warna tersebut bisa ditabrakkan dengan warna apa saja. Baik itu warna yang terang maupun yang gelap. Ini menghemat jenis atau warna pakaian yang hanya cocok dengan warna-warna tertentu saja.

5. Don’t need to have opinion on everything.

Sejak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu, di lingkaran saya seakan orang-orang terbelah jadi dua. Pro atau kontra terhadap Presiden Jokowi, pro atau kontra terhadap Calon Gubernur Ahok, dst. Seakan, setiap warga media sosial diminta untuk menyatakan keberpihakannya. Terutama via status facebook. Hukuman sosialnya adalah, loe gak gaul/perhatian/gak tahu apa-apa, kalau loe gak bikin status atau berkomentar di status orang lain terkait isu yang sedang hangat tersebut.

Ini semua membuat kita jadi pusing dan tidak produktif. Alih-alih fokus pada kerja dan karya, kita malah meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting. Social media membuat kita maju satu langkah. Namun penggunaan yang tidak positif malah membuat kita mundur dua langkah. Beberapa rekan bahkan berantem, atau unfollow, bahkan un-friend hanya karena perdebatan sengit di media sosial. Padahal mereka ya sudah lama enggak ngopi-ngopi bareng.

Lalu, harus bagaimana? Cukup sudah. Saran saya, kita hanya tidak harus punya opini terhadap segala hal, terutama yang sedang diributkan.

6. Buying “built to last” book

Novel terasa mahal. Sekali sudah dibaca dan tahu ceritanya, enggak mau baca lagi. Daripada mengulang baca, saya pikir lebih baik saya baca novel lain yang lebih baru. Dan saya tidak mau beli. Lebih baik pinjam. Lalu, anggaran untuk beli buku pada lari ke mana? Ke koleksi serius macam buku-buku bisnis dan manajemen.

Namun lama-lama, saya juga tidak membeli buku lagi. Bahkan hampir gak pernah lagi membaca buku. Karena bacaan saya sudah berpindah. Dari buku ke artikel. Banyak artikel yang saya “bintang”-i di internet, dengan gelar adalah “must read article“. Meskipun tidak semuanya sanggup saya tuntaskan.

Benar adanya, ya. Less is More. Semakin sedikit yang kita punya, maka semakin berarti apa yang kita miliki.

Apa saja yang berarti itu? Konsep less is more, alias hidup minimalis, membuat saya lebih sedikit merasa stress, lebih merasakan kualitas dan manfaat kala membeli sesuatu, serta semakin meminimalisir utang-utang konsumtif saya.

Disiplin Pribadi Mendorong Tumbuh Kembangnya Kreatifitas


Saya (hampir) tidak percaya. Awalnya saya memang ragu. Tapi kutipan yang menjadi judul artikel ini pasti benar adanya. Bagaimana perspektifnya kita saja dalam memahami kebenarannya. Saya menduga-duga dan lama baru menemukan apa maksud dari kutipan yang bela-belain dipahat di salah satu batu prasasti di sekolah.

Analogi yang paling pas adalah dari Mark Zuckerberg. Dia begitu disiplin dalam berpakaian. Sudah yang (kaos) itu, t-shirt model itu saja yang dipakainya terus. Jadi waktu dan pikirannya tidak terbuang percuma hanya karena memilah dan memilih baju apa yang mau dipakai untuk hari itu. Fokusnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan “Facebook”.

mark zuckerberg quote

1. Pikiran dan Waktu Luang

Artinya adalah sudah terbiasa dengan rutinitas harian kita. Agenda dan jadwalnya kita rutinkan setiap hari. Misalnya begini,

3.30~4.30 bangun + tahajud + tilawah

4.30 subuh

5.00 ma’tsurat + olahrag

6.00 sarapan

Etc.

Dengan agenda rutin terjadwal seperti itu, otomatis, ketika kita punya waktu luang, maka banyak ide bisa muncul. Dengan kata lain, agenda rutin terjadwal akan membuat kita menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin — sehingga tersisa waktu dan pikiran yang luang guna berpikir lebih kreatif.

Ada Angle yang lain. Masih sama dengan yang atas, tapi enggak sama-sama banget.

Bahwa mendisiplinkan pribadi pada bermacam-macam hal itu sudah tertata ketika diperlukan. Perlu baju, merem pun udah tahu tempat nya. Perlu buku, gak bercecer. Perlu catatan, rapi. Jadi pas kreatif, gak akan sampai hilang idenya hanya gara-gara bukunya tidak ketemu.

2. Determinasi

Disiplin pribadi juga bisa dipahami sebagai ketekunan atau determinasi. Bahasa lainnya, daya resiliensi (resilience). Dengan kita menekuni agenda rutin terjadwal tersebut, maka akan muncul kreatifitas. Opa Warren Buffet punya kutipan menarik.

warren buffet quote

Menurut si opa, kita itu akan bisa kreatif kalau sudah sejak lama, kita disiplin pribadi memupuk pengetahuan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kalau sudah “bukit” maka muncul kreatifitas.

Ane yakin kala kita disiplin pake baju yg itu-itu saha maka kita akan fokus pada hal-hal yang lebih penting, longer term, dan butuh kreatifitas.

Kalau dipaksa banget untuk memilih, dan tidak ada pilihan untuk tidak menentukan satu di antara dua, saya lebih memilih yang pertama. Ingat Mark Zuckerberg, jadi ingat t-shirt punya dia yang modelnya itu-itu saja. Pilihan semacam ini, bisa dibilang pilihan untuk hidup minimalis, sih.

Hidup Minimalis

(1) Punya lemari pakaian, cukup satu. Terlalu banyak pakaian malah bingung pakainya dan simpannya. Iya sih, tentu kita perlu membeli dan memakai yang baru. Paling tidak, biar kelihatan lebih “baru” di hadapan teman-teman kantor. Yang lama di kemana ‘kan? Di re-cycle saja. Kita berikan kepada yang memerlukan.

Ada project menarik yang diberi nama “project 333”. Intinya adalah hanya menggunakan 33 item pakaian (sudah termasuk aksesori seperti jam tangan, sepatu, dan perhiasan) selama 3 bulan.

(2) Kurangi snack dan minuman manis. Enak, tapi enggak ada manfaatnya sebenarnya. Palingan hanya sebagai pengurang stress. Gunakan cara lain supaya stress hilang. Misalnya rutin berolahraga (main futsal atau badminton contohnya). Tapi ya sekali-sekali gak ada gunanya. Harus rutin. Jadi pribadinya memang yang harus disiplin #eh.

(3) Buang (atau sumbangkan) barang yang tidak perlu. Clautrophobic itu gak asik banget. Merasa rumah gak nyaman karena terlalu banyak barang. Akhirnya cari kenyamanan di mall yang boleh duduk dan minum hanya di kafe-nya. Akibat dari ketidaknyamanan rumah itu mahal banget, memang.

Tiga hal di atas, itu baru sedikit saran saja. Saya pribadi masih belajar istiqomah menjalaninya. Tapi dari pendapat pribadi nih ya, dengan melakukan tiga hal tersebut saja, saya sudah mendapat room for more important things in my life, actually.

(Disiplin) Tidur Demi Kreatifitas

albert einstein quote

Menurut beberapa orang, dan sudah dibuktikan sendiri olah Oom Albert Einstein, level kreatifitas yang lebih tinggi itu diperoleh dengan lebih banyak merenung (dan tidur). Oom saya yang lain, Bill gates, :p konon mencari pemalas utk menyelesaikan masalah. Melalui perenungannya, pemalas akan mencari cara paling simpel. Dengan alasan yang sama, beberapa Programmer juga cocoknya punya jiwa pemalas. Karena pemalas, dia akan berjuang agar semua –hasil kerjanya– bisa otomatis. Mudah pada akhirnya. Mungkin bisa disebut pemalas dengan jiwa kejuangan tinggi.

Ki Suratman

SEORANG MURID PAMIT UNTUK TIDAK MASUK SEKOLAH KARENA AYAHNYA SAKIT. DUA HARI KEMUDIAN, SEBELUM MENGAWALI PELAJARANNYA, SANG GURU MENDEKATI MURID ITU DAN KEMUDIAN BERTANYA DALAM BAHASA JAWA: “PIYE GERAHE BAPAK?” (BAGAIMANA KESEHATAN BAPAK?). SAPAAN YANG SEDERHANA ITU SANGAT MENGESANKAN SANG MURID YANG HINGGA KINI TIDAK DAPAT MELEPASKAN DIRI DARI TAMAN SISWA (TS). GURU ITU ADALAH RM. SUWARDI SURYANINGRAT ATAU LEBIH DIKENAL DENGAN NAMA KI HAJAR DEWANTARA DAN MURID ITU ADALAH KI SURATMAN, KETUA PERGURUAN TAMAN SISWA. HUBUNGAN DENGAN GURU ITU JUGA MENUMBUHKAN MOTIVASINYA UNTUK MENJADI GURU HINGGA KINI.

Ki Suratman. Ki hadjar Dewantara. Ada yang bertanya, mengapa “Ki”? Ternyata “Ki” adalah sebutan khas (institusi) Taman Siswa. Muhammadiyah juga ada yg pakai sih. Semacam “kyai”, “kakek”, atau “aki-aki” gitu. Salah satu makna “syaikh” juga berarti seseorang yang sudah sepuh. Saking identiknya “ketuaan” dengan pengetahuan, sampai-sampai ada trainer yang memosisikan diri sebagai “Kakek”.

In short, orang disiplin akan kreatif dengan sendirinya. Inventor-inventor jaman sekarang juga kan sebenernya “disiplin” dengan habit mereka masing-masing. Then, lahirlah kreatifitas-kreatifitas mereka.

Harga Kecakapan dan Popularitas Pemain Sepakbola


Baru beberapa hari yang lalu, Klub Sepakbola Chelsea “deal” dengan AS Monaco untuk pembelian pemain Tiemoue Bakayoko. Sebenarnya Chelsea sudah memiliki pemain untuk posisi yang sama, yang menurut banyak orang memiliki kemampuan yang relatif sama. Namanya Nathanel Chalobah. Usianya sama-sama 22 tahun saat ini. Posisi yang dimainkan sama-sama di gelandang tengah (bukan di sayap kanan atau kiri).

Chelsea sudah bersama Nathanael sejak 10 tahun yang lalu sejak menjadi binaan di akademi. Chelsea semestinya sudah mengenal baik dan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan “karyawan”-nya ini. Lagipula, Bang Nael (sapaan akrabnya ala-ala saya :D) sering main lho untuk Tim Nasional Sepakbola Inggris. Akumulasinya 97 caps untuk berbagai jenjang usia.

Namun, yang terjadi kemudian adalah, Chelsea merekrut karyawan baru dan melupakan (baca: menjual) karyawan lamanya ke Watford. Yang lebih aneh adalah, Chelsea mengeluarkan duit sebesar 39.7 juta poundsterling. Dan hanya menerima 5 juta poundsterling. Total Jenderal, Chelsea malah rugi 34.7 juta pounds. Sekitar Rp685 miliar. Klub seakan tidak sayang “membuang” duit sebanyak itu. Kalau di Indonesia, duit sebanyak itu kira-kira bisa dipakai untuk apa ya?

Yang paling penting, mengapa hal ini bisa terjadi? Secara keekonomian, mengapa institusi bisnis seperti Chelsea FC melakukan hal tersebut?

Harga Sebuah Kecakapan

Berapa sih harga seorang manusia? Apakah pantas seorang manusia dihargai sedemikian tingginya, kala berpindah hak pakainya dari sebuah klub ke klub lain? Di industri sepakbola, hal demikian dinamakan “biaya transfer”. Silakan simak infografis berikut ini. Di mana, 13 dari 14 transfer termahal tersebut terjadi hanya dalam 7 tahun terakhir.

Sesungguhnya manusia tidak mengenal “harga”. Yang dihargai adalah kecakapannya, alias kemampuannya, atau bisa disebut juga kompetensinya.

Namun demikian, apakah angka-angka tersebut masih masuk akal? Tidakkah nilai-nilai tersebut mengusik rasa kemanusiaan kita? Bukankah di sekitar kita masih terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial yang lebih layak kita tuntaskan?

Ada beberapa sebab mengapa hal demikian bisa terjadi

Industrialisasi Sepakbola Terus Berlangsung

Pendapatan klub sepak bola tidak lagi hanya dari penjualan tiket. Tapi juga hak siar, dan berbagai bentuk komersialisasi lainnya. Namanya juga stadion tempat menyaksikan pertandingan bola, pastinya terbatas secara kapasitas, dong. Automatis, pendapatan dari penjualan tiket akan terbatas. Pendapatan apa dong yang saat ini bisa digenjot hingga bertumbuh terus? Pendapatan sponsorship dan pendapatan hak siar.

Dua pendapatan terakhir disebut ini, bisa terus digenjot karena klub melakukan ekspansi pendukung/fans. Dari sekedar di dalam negeri, hingga ke luar negeri, bahkan lintas benua. Sebutlah ini sebagai upaya internasionalisasi oleh klub.

Sekedar potret saja. Manchester United memiliki jumlah fans terbanyak di dunia. Fans Chelsea kurang lebih ada 300 juta orang di seluruh dunia. Jumlah fans secara tidak langsung dapat menjadi ukuran nilai sebuah brand. Berkat modal brand dan jumlah fans tersebut, tidak heran MU menjadi klub dengan pendapatan terbesar di seluruh dunia (Firma Konsultan Deloitte, 2017).

Saya belum tahu bisnis apa di dunia ini yang tanpa investasi tambahan, tetapi bisa digenjot terus omzetnya. Demikian pula dengan industrialisasi sepakbola. Semakin tinggi omzet yang dikejar, maka semakin banyak pula investasi yang harus dibenamkan. Untuk urusan begini, biasanya pengusaha lokal ada batasnya. Gurihnya industrialisasi sepakbola di Inggris, menghadirkan investor dan pemilik dari berbagai belahan dunia.

Nama-nama seperti Keluarga Glazer (dar Amerika Serikat), Abramovich (Rusia), Srivaddhanaprabha (Thailand), dan Sheikh Mansour (Uni Emirat Arab) adalah sederet nama pengusaha sekaligus investor yang membeli dan memiliki klub-klub di Liga Premier. Perusahan investasi Sheikh Mansour juga memiliki klub sepakbola yang lain, yaitu New York City.

Personal Brand Pemain Semakin Penting

Jersey Real Madrid dengan nama dan nomor punggung C. Ronaldo yang terjual sepanjang musim pertamanya, sudah lebih tinggi dari dibandingkan nilai yang harus dibayar oleh Real Madrid kepada Manchester United (79.90 juta pounds). Hal ini membuktikan bahwa pemain memiliki brand yang dapat dioptimalkan komersialisasinya. Sehingga Klub pun tidak ragu-ragu untuk berinvestasi pada pemain yang memiliki personal brand yang sangat baik.

Tiemoue Bakayaoko sudah bermain sampai di semifinal Liga Champions musim lalu. Dia sukses membawa klub sebelumnya sebagai Juara Liga di Prancis. Meski sama-sama berusia 22 tahun, tapi saat ini, dia jauh lebih dikenal dan populer daripada pemain yang digantikannya, yaitu Nathanael Chalobah.

Klub seperti Chelsea saat ini tidak hanya membutuhkan pemain yang cakap di posisinya, serta mampu bertahan dan menyerang sekaligus. Tetapi juga pemain yang memiliki popularitas dan engagement yang baik.

Lagipula, sebagai sebuah brand dan entitas bisnis, dengan sendirinya para fans Chelsea memiliki ekspektasi dan harapan tertentu terhadap Chelsea. Nah, Chelsea harus mengelola keduanya dengan baik dong. Salah satu caranya adalah dengan memberikan “promise” (janji) melalui pembelian pemain yang sudah populer dan (tentu saja) memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh klub.

Jadi, sekali lagi, kita tidak perlu heran mengapa klub berinvestasi atas popularitas seorang pemain.

Community Management ala Klub Sepakbola

Klub turut berinvestasi membangun basis penggemar. Mereka adalah komunitas, yang artinya bukanlah sekedar penonton biasa. Mereka adalah die hard fans yang akan tetap menonton menang dan kalahnya sebuah klub. Serta juara atau tidak juaranya sebuah klub.

Tidak heran setiap jeda musim, mereka mengadakan pertandingan tur ke Asia dan Amerika. Indonesia –dengan basis penduduk yang besar– tidak luput pula menjadi negara yang ditargetkan. Dan meski berada jauh secara geografis dari pusat industri sepakbola, tur benua bukan satu-satunya senjata. Sekarang sudah ada twitter mau (facebook) fan page yang bisa jadi diusahakan oleh official club, atau diupayakan oleh penggemar fanatik.

Para fans juga mengajak dan mempromosikan klub andalannya. Dari sisi perilaku penggemar, memang ada fans klub yang mengajak putra/putrinya turut menyaksikan permainan sang idola di lapangan hijau. Ada pula yang dengan rajin membelikan dan memberikan jersey terbaru dari klub favorit. Intinya mengajak kerabat atau keluarga terdekat untuk turut menjadi bagian dari komunitas penggemar.

Efek Samping Transfer Pemain Populer

Pemain-pemain akademi jadi terpinggirkan dan sangat mungkin disingkirkan kapan saja (baca: dipinjamkan atau dijual). Kita semua tahu, pemain-pemain akademi sangat jauh lebih murah. Bahkan ada klub seperti Ajax Amsterdam, atau Southampton yang menjadikan jual-beli pemain akademi sebagai sumber laba perusahaan.

Model bisnis tersebut tidak lagi dipakai oleh banyak klub. Minimal oleh klub Premier League. Sebab semua klub tersebut kini memprioritaskan model bisnisnya berdasar prioritas terhadap hak siar. Degradasi sekalipun, masih mendapat 100 juta poundsterling. Karena itulah, (player) popularity is the key.

Pemain-pemain dengan kemampuan terbaik (dan popularitas tinggi) dicari di seluruh benua. Klub-klub bermodal besar ngotot membayar mahal pemain yang populer. Minimal, dengan talentanya dia bisa membantu klub untuk menjadi lebih populer lagi. Sehingga ditonton oleh penikmat sepakbola di berbagai belahan dunia.

Akhirnya, pemain-pemain jebolan akademi hanya menjadi penyeimbang finansial klub saja. Keberadaannya sekedar ada saja. Belum tentu dimainkan secara reguler di starting eleven. Tatkala dia jarang bermain, maka popularitasnya itu-itu saja. Tidak ada panggilan sebagai model iklan. Klub yang mengontrak jasanya pun tidak memiliki tambahan pendapatan.

Semua ini terjadi manakala pebisnis klub sepakbola, instead of mengutamakan kemampuan sebagai satu-satunya indikator, ternyata juga menggunakan ukuran popularitas pemain dan revenue from broadcasting rights sebagai indikator utama dalam menjalankan bisnis klub sepakbola.

Siapa Suruh Datang Jakarta


Siapa Suruh Datang Jakarta?

Duh, tadinya bingung mau ngasi judul apa. Tadinya tidak mau pakai judul ini. Nanti menggambarkan usia saya. Haha. Padahal generasi saya semestinya enggak tahu lagu tersebut, lho. Memang kebetulan saya tahu saja bagian reff-nya. Lirik lengkap ada di sini. .

Sapa suru datang Jakarta
Sapa suru datang Jakarta
Sandiri suka, sandiri rasa
Eh doe sayang

(waktu saya pramuka siaga-penggalang dulu, ada remake lagu ini sering kita menyanyikan bareng-bareng. Lumayan juga candunya, bikin kita betah pramuka-an sampai kelas 3 SMP

Siapa suruh jadi Pramuka
Siapa suruh jadi Pramuka
Sendiri saja,sendiri saja
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang

Siang dan malam tidur di tenda
Siang dan malam tidur di tenda
Pakaian basah kering di badan
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang).

Kali ini mau berbagi pendapat tentang Jakarta, ya. Kan sebelumnya Surabaya sudah. Balikpapan juga sudah. Bandung, kota yang saya diami bertahun-tahun (2005-2012) juga belum saya gores-pena-kan sih. Tapi itu bisa menyusul di postingan berikutnya ya. Hehe.

Jenuh dengan masa sekolah di Balikpapan dulu, saya inginnya ke luar kota saja. Pokoknya lanjut pendidikan di luar daerah. Bosan sama Balikpapan yang waktu itu belum semaju sekarang, dan punya teman-teman yang segitu-segitu aja. Iyalah, di sekolah dengan di rumah, teman-teman saya tidak jauh berbeda. Kalau bukan sama banget, saya malah gak punya teman yang tetangga sama sekali. Soalnya enggak ada teman-teman sekolah yang tinggal di lingkungan kami di Klandasan dan Pasar Baru itu.

Bahkan semasa saya sekolah, keluarga kami berpindah-pindah alamat rumah sampai tiga kali, lho. Padahal semuanya masih sama di Balikpapan. Jadilah pergaulan saya sempit banget. Hanya berteman dengan anak-anak di sekolah.

Singkat cerita, saya jadinya lanjut sekolah di Magelang. Pokoknya keluar dulu dari hutan belantara Kalimantan. Hehehe. Sekolah asrama gitu, deh. Mulai bertemu dengan anak-anak Jakarta yang gahul-gahul gitu. Hampir gak ada yang pendiam. Sekalipun gak banyak bicara, at least mereka asyik diajak ngobrol juga.

Mulai belajar memahami bedanya lelucon yang bikin ngakak dengan yang gak ada lucunya sama sekali.  Hahaha. Saya ini gak cerdas secara lisan, tanpa sengaja lebih banyak mengawali dengan melihat dulu. Cek ombak, kalo kata temen-temen saya sekarang. Baru menirukan. Ternyata masih susah juga.

Di Bandung, segelintir anak-anak Bandung pengen “dianggap” juga. Nah, budak-budak ieu, tidak bicara “abdi” sebagai pengganti saya/aku. Enggak juga pakai “(nama lawan bicara)” sebagai pengganti “kamu”. Jadi bahasanya “Gw”, “Elo” gitu deh. Ada temen kuliah dari Klaten dan Ngawi yang berusaha pakai dua kata pengganti tersebut. Jadinya terasa awkward, deh. Haha.

Yang jadi bahasa gaul sekarang ini adalah “aing” dan “maneh”. Ini kata ganti yang kasar dalam bahasa sunda. Sama lha dengan “gw” dan “elo”.

Sudah lama saya mencari padanan kata awkward dalam bahasa Indonesia. Baru beberapa hari lalu ketemu di serial “Kevin Can Wait”, bahwa awkward diterjemahkan sebagai “canggung”.

Mending balik lagi aja ke bahasa masing-masing yang paling nyaman. Dan gak perlu minder lho kalo enggak gw-elu. Saya dulu pakai “saya”, “kamu”. Tapi lama-lama latah juga mengikuti gaya anak-anak Jabodetabek. Ber-gw elu, gw elu. Kecuali di depan para orang tua, ya. Terutama orang tua teman dan mantan. Hehe.

Pertama kali ke Bandung itu sebenarnya pas kelas 6 SD. Saya kira kota besar seperti Bandung itu punya gedung-gedung bertingkat seperti Jakarta. Setahun sebelumnya keluarga kami memang pergi ke Jakarta. Subhanallah buanyak banget gedung pencakar langitnya. Dari situlah saya baru mengerti. Ternyata Bandung tidak/belum se-metropolis Jakarta, at that time.

Tujuh tahun kuliah di Bandung, (buset, lama amat yak, hehe) membuat mata saya terbuka bahwa kalau memang mengejar karir, ya harus ke Jakarta. Karir itu maksudnya meliputi posisi/jabatan terpandang di kantor perusahaan/institusi yang juga ternama, atau gaji yang besar, dan seterusnya ya. Kalau sekedar bekerja menyambung hidup diri sendiri-pasangan-(dan) anak bisa kok di kota-kota besar lain di Indonesia. Apalagi sekedar mencari pendapatan, tidak perlulah ke Jakarta. Lebih baik berdagang apalah gitu atau berjualan online dari desa. Yang jelas, kalau memang mencari kedudukan pekerjaan, katakanlah direktur di sebuah BUMN, ya harus ke Jakarta.

Pusat Pemerintahan Nasional.

Bagus juga sih kalau negara kita tidak lagi “meletakkan” ibukota pemerintahan di kota yang jelas banget ke-metropolis-annya seperti Jakarta. Katakanlah pindah ke Palangkaraya, seperti pernah dicita-citakan oleh Presiden RI pertama.

Belajar dari hubungan baik Samarinda dan Balikpapan, ce’ilah ya, tidak harus semuanya di Ibukota, kok. Kota dengan pusat pemerintahan, akan ramai dan padat penduduk dengan sendirinya. Kota seperti ini dengan sendirinya akan menjadi pasar yang besar. Baik untuk sekolah/kampus, rumah sakit, perumahan tempat tinggal, dan seterusnya.

Jadi di kota pusat pemerintahan, tidak harus ada Bandar udara, atau pelabuhan. Karena keduanya, saat ini adalah magnet juga bagi terjadinya urbanisasi. Enam puluh persen (60%) penduduk dunia merupakan penduduk perkotaan. Orang-orang dan barang akan datang dengan sendirinya. Jangan abaikan juga institusi pertahanan dan keamanan negara seperti Komando Daerah Militer (KODAM). Institusi militer ini menarik banyak tenaga kerja (tentara dan non tentara) serta membangun beberapa infrastruktur terkait (sekolah dasar dan menengah Kartika, rumah sakit tentara, dsb) yang lagi-lagi menjadi magnet urbanisasi.

Alhamdulillah Samarinda dan Balikpapan berbagi peran dengan baik, dalam kedua hal ini. Samarinda sebagai ibukota provinsi. Balikpapan sebagai gerbang Kalimantan timur dengan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, dan Pelabuhan Semayang. Kodam VI Tanjungpura juga adanya di Balikpapan. Bersama dengan oil and gas company, serta ratusan service company, seluruhnya menjadi magnet urbanisasi bagi Balikpapan.

Bayangkan apabila pusat pemerintahan, dengan tujuan/gerbang transportasi seperti bandara dan pelabuhan menjadi satu. Jadinya ya seperti Jabodetabek saat ini. Semuanya tumpah ruah, padat penduduk, ramai infrastruktur, kemacetan di mana-mana, dan seterus-terusnya.

Itulah sekelumit cerita dan pandangan saya tentang Jakarta. Mudah-mudahan jadi pertimbangan kamu untuk memilih tempat tinggal, tempat bekerja, tempat berkeluarga, tempat sekolah anak, dan seterusnya. Haha.

Cek juga postingan saya ini, mengenai perbandingan beberapa kota di Indonesia yang pernah saya diami.

Apa Yang Diulas Pada Aspek Pemasaran


Masalah-masalah pemasaran tidak ada habisnya. Demikian terjadi karena pasar dan perilaku pelanggan bergerak dinamis. Para pemain usaha di berbagai sektor industri berusaha secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah-masalah pemasaran yang terus muncul tersebut.

Contoh-contoh permasalahan pemasaran:

  1. brand produk/jasa tidak punya keunggulan yang sangat berbeda
  2. brand tidak memiliki identitas yang jelas
  3. tidak jelasnya profil pelanggan yang ditargetkan
  4. brand tidak berkomunikasi dengan target pelanggan
  5. tidak bertempur di ceruk pasar yang sepi kompetitor
  6. channel yang tidak sesuai dengan profil dan perilaku pelanggan

Yang paling sering dilupakan, padahal merupakan yang paling penting dari pemasaran, adalah aspek-aspek penjualan. Misalnya:

  1. portfolio produk tidak lengkap
  2. produk yang diinginkan tidak tersedia
  3. kecepatan delivery produk sampai ke tangan pelanggan
  4. komitmen tim penjualan untuk mencapai target-target yang telah disepakati
  5. realisasi penagihan masih jauh dari harapan
  6. gagal menambah pembeli baru
  7. tidak membuat pelanggan lama berbelanja lagi
  8. tidak membuka area-area penjualan yang baru
  9. pemberian diskon penjualan yang belum tepat sasaran

Pastinya masih lebih banyak lagi. Namun sebagai permisalan, di masing-masing masalah-masalah pemasaran dan penjualan, saya hanya tampilkan 6 dan 9 contoh saja ya.

Kotaku Dulu Tak Begini


Sembari menikmati libur mudik, saya mencoba mengenang masa-masa silam. Bagaimana dahulu kota saya ini. Sebab sekarang ini rasanya beda banget. Kotaku ini sudah termasuk kota besar di Indonesia. Padat penduduk dengan beragam jenis mata pencaharian (di luar pertanian dan perkebunan). Tentu saja kota juga merupakan berkumpulnya ilmu pengetahuan dan orang-orang pintar.

Kotaku dulu tak begini.

15 tahun lalu kotaku ini cupu (culun punya) banget. Bahkan guru saya diledek oleh temannya di Jakarta. Beliau memang berasal dari ibukota. Kata temannya, guru bahasa Indonesia saya ini mandinya di sumur. Dalam bayangan si peledek, kotaku ini masih hutan semua. Masih kampung yang belum ada kamar mandi. Jadi mandi di sumur.

Soal hutannya memang benar, tapi tidak semua. Benar juga kalo disebut hutan, tapi tidak semua. Kotaku adalah hutan yang sebagiannya dibabat utk menjadi kota. Tapi bukan kota yg ditanami hutan artificial. Asli; benar-benar asli masih hutan.

Sebagaimana ditulis pak Hilman fajrian dalam blognya.

Oil, Gas, & Coal

Dulu, Balikpapan makmur jaya sekali dengan Oil & Gas-nya. Tidak ketinggalan service company yang melayani kedua jenis pemilik konsesi minyak dan gas tersebut. Sampai akhirnya harga minyak dunia & batubara dunia terjun bebas.

Mungkin agak sulit ya berharap harga minyak dunia akan naik kembali. Karena di Eropa, negara-negaranya mulai menginduksi pasar untuk mulai beralih ke kendaraan-kendaraan berbasis motor listrik (EV, electric vehicles). Salah satu induksinya berupa subsidi pembelian kendaraan. Meski faktor-faktor lain seperti ketersediaan stasiun pengisian listrik dan suplai bahan baku baterai masih menjadi hambatan utama saat ini.

Ekonomi di sini sudah beberapa tahun terakhir megap-megap. Harga komoditas minyak bumi n batubara jatuh.

Lagipula, produksi semakin menipis. Para pemilik konsesi mau cabut dan mengembalikan hak pengelolaan kepada Pertamina. Total hengkang di 2017 ini. Chevron, konon mulai 2018 besok. Dan banyak sekali perusahaan vendor (service company) kedua industri tersebut yang merumahkan karyawannya.

Keadaan ini buruk sih. Orang-orang mulai meninggalkan Balikpapan lalu kembali ke kota asalnya. Rumah yang mereka miliki mulai dijual (atau minimal tidak ditempati); pergi mencari pekerjaan di industri lain di kota lain. Dengan kata lain, ekonomi tidak sebagus dulu dan akan lebih lambat pertumbuhannya — karena berkurangnya jumlah penduduk kota Balikpapan.

Instead of mengutuki harga komoditas, yuk mencari solusi kreatif dalam rangka memperoleh sumber-sumber pendapatan yang baru.

Kalau kita berpikir kreatif dan solutif, maka ini berarti Balikpapan memerlukan engine of growth dari industri yang lain. Paling tidak untuk tetap dapat bertahan hidup.

Industri Ritel Mulai Menggeliat

Sebelum aktivitas ritel setinggi sekarang, sesungguhnya warung/kios/ruko kelontong pun mulai sadar dengan konsep swalayan. Swa-layan. Alias pembeli melayani dirinya sendiri: ambil barang sendiri, lalu dibawa ke kasir, dan dibayar di sana. Tipe ritel seperti ini menyiratkan dua hal: (1) penjual tidak khawatir dengan keamanan barang-barangnya di rak-rak penjualan (2) pembeli sudah merasa nyaman dengan cara belanja demikian dan never look back.

Sedikit demi sedikit, para peritel nasional mulai berekspansi ke kota ini. Alfamidi dan Indomaret adalah dua peritel nasional yang mulai menumbuhkan jejaringnya di sini.

Ini adalah tantangan bagi peritel lokal seperti Maxi Swalayan dan Yova Mart. Yang terakhir disebut, mengusung pengelolaan dan perlakuan yang berbeda di masing-masing cabang.

  • Harga terjangkau.
  • Produk yang lengkap
  • Hadiah langsung
  • Undian berhadiah, dsb.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, ritel memiliki kontribusi 15,24% terhadap total PDB dan menyerap tenaga kerja sebesar 22,4 juta atau 31,81% dari tenaga kerja non pertanian.

“Situasi Ritel di Indonesia saat ini telah dan akan terus bertransformasi sejak dikeluarkannya UU Perdagangan No.7/2014 tentang Perdagangan Ritel Modern (Toko Swalayan) yang terdiri dari Minimarket, Supermarket, Hypermarket, Wholeseller, Department Store / Speciality Store, serta Ritel Tradisional (Pasar Rakyat),”

Meski demikian, kebijakan dan kearifan lokal harus tetap diindahkan. Jarak terdekat antar minimarket terdekat adalah 2 km. Sedangkan jarak terdekat dengan pasar tradisional adalah 500 meter. Beberapa pelanggaran terhadap kebijakan dan kearifan lokal tersebut dapat dilihat pada berita ini.

Peran e-commerce belum sampai 2%.

Pariwisata

Menyerap tenaga kerja yang tinggi.

Modal Bandara SAMS (Sultan Aji Muhammad Sulaiman).

Komitmen Walikota Balikpapan. Sebagaimana dinyatakan oleh Menpar sendiri, “Komitmen Gubernur, Bupati, dan Walikota itu menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata.”

Go-Jek dan Grab membantu peningkatan mobilitas. Tidak hanya bagi warga lokal Balikpapan, tetapi juga demi para backpackers yang berkunjung kesana kemari. Pendapat saya, angkutan kota (angkot, tetapi lebih sering disebut Taksi) sulit kehilangan penumpang. Karena harga di antara keduanya masih kompetitif.

Ada beberapa tujuan pariwisata yang bisa saya ceritakan berikut ini. Dengan jumlah review-nya saya ambil dari situs tripadvisor.co.id

Dandito. 415 review. Sebuah restoran kepiting. Bisa dine in atau take away. Waktu itu saya belikan untuk teman di Jakarta (saya terbang ke Jakarta). Bahkan saya sampai harus melakukan order di pagi hari, baru sorenya saya jemput orderan.

Konon, chef Dandito ini hasil bajak-membajak (hijack). Dia tadinya kerja di restoran sejenis yang tidak jauh dari situ. 

Pantai Kemala (Kemala Beach). 79 ulasan. Hampir semua orang tahu Pantai Manggar, tapi Kemala Beach ini belum seterkenal pantai yang tidak terlalu bersih itu — tidak tahu ya tingkat kebersihan sekarang seperti apa. Yang jelas, karena brand awareness yang rendah itu, pantai ini tidak terlalu ramai orang dan masih cukup bersih untuk dikunjungi. Cukup membayar parkir kendaraan saja.

Sebagai kota pantai, sudah seharusnya Balikpapan memasarkan dan menjual wisata pantainya. Ibarat kata penduduk lokal: ITU SUDAH! (Untuk tahu bagaimana mengucapkan frase ini, teman-teman blogger harus datang dan mendengar langsung dari orang Balikpapan 😀 )

Wisata Alam Bukit Bangkirai. 109 ulasan. Ini yang paling banyak review-nya. Mungkin karena ini yang paling “hutan kalimantan” banget, ya? Jaraknya 12 km dari pinggir jalan Balikpapan-Samarinda. Namun belum semuanya hot mix. Dinamakan Bukit Bangkirai, karena hutan ini adalah hutan dengan pohon-pohon khas Kalimantan. Salah satunya adalah Pohon (kayu) Bangkirai. Sejak ini paling unik dan khas Kalimantan, sudah waktunya dijadikan sebagai salah satu center of message dari komunikasi pemasarannya Balikpapan.

Penangkaran Buaya Teritip. 73 ulasan. Saya belum pernah ke sini. Tapi ini hampir tidak pernah ada di kota lain, lho. Ibarat Pulau Komodo yang mungkin hanya satu-satunya di Indonesia. Diferensiasi yang unik dari Penangkaran Buaya ini bisa dikomunikasikan lebih intensif oleh Dinas Pariwisata Kota Balikpapan.

informasi yang mukjizat


Informasi yg mukjizat

al quran

Dalam sejarah perjalanan dunia, tingkat literasi belum pernah secanggih sekarang. Kita semua tahu, bahwa faktor enabler-nya adalah internet. Memang sih, masih ada buta huruf di mana-mana. Namun bagaimanapun juga, melek huruf saat ini bisa jadi adalah yang tertinggi sepanjang masa. Dan dengan melek huruf yang demikian tinggi, semua menjadi prosumer, produsen sekaligus consumer dari konten yang dibuat.

Om Alvin Toffler dalam Future Shock, membagi fase perjalanan masyarakat dunia menjadi tiga tahap. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat pasca industri. Yang terakhir ini, dijabarkan lebih jelas dalam The Third Wave. Intinya adalah masyarakat kini telah beralih menjadi masyarakat informasi. Semua bisa memproduksi dan mengkonsumsi informasi.

Salah satu wujud produksi dan konsumsi informasi tersebut, ke dalam berbagai bentuk media sosial yang ada saat ini. Facebook, WhatsApp, Instagram, dll. Dan kita semua sudah tahu, media hanyalah alat. Yang utama adalah konten. Ibarat pisau, media (termasuk media sosial) bisa berguna untuk hal positif maupun negatif. Contoh:

  • Konten inspiratif bisa dibuat. Gerakan sosial seperti www.kitabisa.com mungkin dilakukan hanya bermodal byte-byte digital.
  • Konten yang memecah-belah persatuan juga bisa dibuat. Semisal hoax, yang semakin hari semakin mudah dan cepat dibuat. Karakteristik media digital saat ini adalah informasinya mengalir demikian cepat hingga tidak mungkin dibendung dan diisolasi. Yang terbaik bisa dilakukan hanyalah membuat counter campaign guna mengimbangi hoax tadi. Studi kasusnya yang dilakukan oleh Masjid Salman beberapa waktu lalu.

Bebas Hoax?

Sedikit atau banyak penambahan atau pengurangan, terutama apabila melencengkan maknanya dari makna asli yang dimaksud, bisa kita katakan termasuk hoax.

Hoax menjadi sedemikian sulitnya untuk difilter. Informasi dan percakapan digital mengalir secara cepat. Karakter cepat ini cenderung meminimalkan produsen dan konsumen informasi digital dalam menganalisis kebenaran dari informasi tersebut.

Dalam keadaan tersebut, apa masih ada konten yang bebas hoax? Apakah masih ada orang-orang yang berusaha memfiliter informasi yang beredar, mengecek kebenaran data dan fakta pendukung informasi tersebut? Di era digital ini bahkan, media massa konvensional yang turut terbit versi websitenya, bahkan terjebak dalam pusaran click bait. Yakni view sebanyak-banyaknya kian menjadi target kerja yang semakin umum saja.

Dalam pada itu, mari sedikit mengulas tentang Al Quran. Telah dinyatakan dan diketahui bersama, bahwasanya kita suci Umat Islam ini merupakan mukjizat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Mengapa beliau diberikan mukjizat berupa kitab? Which is, tulisan dan buku adalah medium-medium yang (biasanya) tidak lepas dari perubahan dan penyuntingan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab?

Sangat berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Musa dengan tongkatnya yang membelah Laut Merah. Atau Nabi Nuh dengan bahtera-nya.

Surah Al Hijr, ayat 9. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, demikian juga para ahli tafsir lainnya, mutaqaddimin dan mutaakhkhirin, menyatakan bahwa ayat Surah Al Hijr ayat 9 ini merupakan jaminan dari Allah ta’ala bahwa Dia akan menjaga Al-Qur’an Al-Karim dari perubahan dan penggantian, dari penambahan maupun pengurangan, hingga hari kiamat.

Which is, hal ini terjadi pada kitab-kita samawi selain Alquran. Kita pun sudah tahu bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami banyak sekali penggantian dan pemalsuan. Keistimewaan Alquran ini adalah Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, tidak sedikit pun mengalami penambahan atau pengurangan. Apabila terjadi penyimpangan terhadap Al-Qur’an, maka akan selalu muncul di setiap generasi, manusia-manusia yang meluruskan kesalahan dan kekeliruan tersebut. Tidak heran, Al-Qur’an di generasi sahabat-sahabat Rasulullah adalah sama dengan yang ada di generasi kita saat ini. Dan Al-Qur’an akan selalu relevan. Karena Al-Qur’an adalah one part of dienul Islam.

Multi Platform

Konten yang selalu standard tersebut, alias di mana-mana tidak ada perbedaan yang berarti, menjadikan konten ini bisa berada dalam format atau wujud apapun. Cetak, digital, dan lainnya. Diakses via web, via aplikasi mobile, dst.

Mengaji Al-Qur’an dengan versi cetak di kantor, maupun versi cetak di rumah, tidak akan ada bedanya. Ayat penutup yang terakhir dibaca di kantor, sangat bisa disambung dengan ayat pertama yang akan dibaca di rumah. Sudah tiada hambatan, dan tanpa perlu penyesuaian kembali.

Mengaji di masjid pasca shalat wajib di masjid, dilanjutkan dengan mengaji dengan Al Quran milik sendiri di rumah, tidak akan ada hambatan berarti. Ibarat menyambung dua besi, sambungannya sudah seamless. Alias mulus seakan-akan tadinya tidak berasal dari dua besi yang berbeda.

Kitab ; Bukan Sembarang Buku

Bagi saya, ada bacaan-bacaan yang sekali baca langsung selesai. Sekali tuntas, maka tamatlah riwayatnya sebagai sebuah tulisan. Contohnya novel, komik maupun karya fiksi lainnya. Jadi malas beli novel. Mending pinjam aja. Karena sekali sudah selesai dibaca, jarang ditengok kembali.

Ada juga buku lain yang sering kali saya tengok kembali, terutama untuk menengok teori atau hipotesis yang diusulkan sang penulis. Katakanlah buku-buku tentang branding yang ditulis oleh David Aaker.

Namun demikian, ada satu kategori lagi, di mana saya mendedikasikan waktu atau hidup saya untuk mempelajarinya. Sebutlah kategori tersebut sebagai kitab. Ini adalah tipe tulisan/bacaan/buku yang terus-menerus saya tengok. Dia adalah referensi dari segala referensi. Yaitu Al Qur’an. Misal sedang membaca sebuah ayat yang bikin kepo. Lalu cari dan baca referensi secondary yang terkait dengan ayat Al-Qur’an tersebut. Al-Qur’an ini menjadi kitab, alias referensi pertama dan utama, tatkala sedang mempelajari suatu ilmu atau permasalahan.

Bahkan menurut pengalaman, rasanya tidak pernah puas. Awalnya mengaji biasa. Lama-lama membaca terjemahan juga. Kemudian, merasa butuh membaca terjemahan per kata. Saat ini, keinginan yang belum dilakukan, adalah ikut kelas mengaji yang diajarkan oleh ahli di bidang tahsin dan tajwid.

Semanis Teh Manis Salman


Teh Manis Salman (TMS), ya. Bukan Teh Manis “Masjid Salman”. Bukan, sama sekali bukan. Salman itu nama masjid di seberang Institut Teknologi Bandung, iya. Tapi dia lebih dari sekedar masjid. Karena dia “tidak sekedar” maka banyak yang belum bisa move on darinya. Tiap ke Bandung, harus ke Salman. Belakangan, ada banyak yang tanya ke saya tentang TMS ini. Saya rangkum dalam FAQ berikut.

FAQ Teh Manis Salman

Q: Dari kapan ada teh manis salman?

A: Lupa persisnya, tapi saya sudah gak di sekolah seberangnya. Jadi kira-kira setelah saya “dikeluarkan”.

Q: Di mana letaknya?

A: Selasar hijau. Isshhh, kalau orang gak paham, tanya aja di mana penitipan sepatu.

Q: Enak mana sama teh manisnya kantin?

A: Teh manis kantin lebih manis dan lebih pekat. Sebaiknya dikasi es batu sedikit ya. Tapi manisnya bukan sambil ngelihatin teteh-teteh yang manis di meja kasir ya. Alhamdulillah bukan Aa’-Aa’ yang jaga. Bisa kecut teh-nya kalo dijaga batangan. Jadi, ya lebih enak teh manis selasar hijau, sih. Lagian memang gak disediakan es batu di situ. Gratis, pula.

Q: Berapa kalori yang dikandungnya?

A: Wah, mana saya tahu. Mungkin perlu dicek kandungan gizinya sama kakak-kakak Dipati Ukur.

Jadi #TehManisSalman itu adalah “feature” baru dari Masjid Salman.

Namun sesungguhnya, #TehManisSalman adalah counter campaign yang sedang ramai di linimasa.

Counter Campaign

Diawali pernyataan PBNU Said Aqil Siradj, yang menyatakan bahwa Masjid Salman adalah Masjid Radikal.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/25/oqibs1328-kiai-said-mengaku-pernah-dihujat-kafir-di-masjid-salman

Terkait pernyataan Ketua Umum PBNU tersebut, Pengurus Masjid Salman kemudian menemui sang Kyai Haji dalam rangka bersilaturahmi sekaligus tabayyun, yaitu konfirmasi mengenai maksud dari pernyataan beliau tersebut.

Tentang tabayyun ini harus diberi apresiasi lebih. Di era internet ini, user malas menunggu barang sehari atau beberapa hari guna melihat perkembangan isu. Kalau ada yang tabayyun, sudah oke banget sebenarnya. Selain malas menunggu, user juga malas melakukan riset lebih mendalam. Setidaknya, semua dilakukan via online saja. Bertemu langsung guna silaturahim sekaligus tabayyun ini yang harus kita garisbawahi bersama. Selain silaturahim yang memperpanjang usia, tabayyun-nya sendiri untuk mengkonfirmasi maksud yang sebenarnya.

Berikut info terkait tabayyun yang dilakukan oleh para pengurus Masjid Salman tersebut.

#tehmanissalman #saidaqilsiroj #bukansayayangpunyacerita #aktivissalmanitb

A post shared by Dzikry Dzikrulloh (@dzikrydzikrulloh12) on

Pernyataan KH Said Aqil Siradj sempat viral di dunia sebelah (baca: online). Mereka yang sering shalat di Salman, atau menjadi aktivis Salman, atau bahkan tinggal –dan bertugas– di Asrama Salman, sangat tidak setuju dengan konten yang viral tersebut.

Kampanye yang dicoba-viralkan adalah #mysalmanstory dan #tehmanissalman. Jadi ini adalah kampanye untuk meng-counter viralitas pernyataan sang KH. Dengan sendirinya, asosiasi radikal yang viral tertempel pada “Salman” perlahan-lahan mulai luntur.

Kedua hastag tersebut adalah experience yang digali dari pengalaman para “pelanggan”. Alias mereka yang sudah berkali-kali “belanja”. Jadi bukan yang belum pernah “beli”, atau baru 1-2 kali belanja, tapi yang sudah jadi langganan. Pelanggan biasanya (dan seharusnya) sudah trust (percaya) kepada sang “penjual”. Komponen dari trust adalah expectation. Bukan sembarang expectation. Melainkan standardized expectation.

Jadi, brand Salman sudah sangat familiar –makanya bisa kita sebut standardized–, bahkan hingga ke hati para jamaahnya. Bahwa brand Salman ya memang begitu. Sebagaimana dirasakan oleh panca indera: pilihan bentuk, warna, dan tekstur material arsiteknya, suasananya, jenis-jenis orang di dalamnya, dan lain sebagainya seperti yang dideskripsikan dalam status facebook para pecintanya.

Dalam proses dan aktivitas managing the brand, experience sharing ini termasuk fase merawat brand dan mempertahankan customer (alias jamaah). Dari existing customer, bisa pula menjadi jalan untuk mendapatkan jamaah baru. Alias yang belum pernah hadir sama sekali di Salman. Sebab, sesama pengguna masjid, pastinya merekomendasikan masjid yang bagus pengelolaannya; kepada keluarga dan kolega mereka.

Masjid Modern

Salman itu termasuk masjid yang dikelola secara modern. Prinsipnya sederhana, dengan membaiknya program dan fasilitas, maka crowd jamaah akan tercipta. Jamaah yang semakin bertambah menjadi pancingan bagi pengelola/pengurus untuk menambah fasilitas. Baik unit usaha maupun unit-unit pelayanan. Tidak perlu semuanya dikelola sendiri. Bisa saja di-outsource kepada pihak ketiga. Sediakan tempat saja, dan akan ada pihak swasta yang mengelola dan memberikan fasilitas tersebut. Kantin, bank, minimarket, print+fotokopi, pulsa, biro haji dan umrah, dll. 

Semakin all-in-one sebuah masjid, maka akan semakin menjamur pula jamaah yang berkunjung.

Crowd jamaah kemudian bisa diresegmentasi lagi dan dirumuskan program-program ekslusif untuk segmen tersebut. Pengajian untuk anak muda, ada. Untuk yang sudah senior juga ada. Pendidikan untuk anak balita ada. Dan seterusnya. Sampai Sekolah Pra Nikah juga ada.

Agak taktikal, tapi sedang menjadi tren yang diadopsi oleh banyak masjid-masjid besar. Yaitu AC (air conditioning) sebagai penyejuk udara di dalam ruang utama Masjid. Dan kedua adalah, jadwal shalat digital sebagai penunjuk masuknya waktu shalat.

Sebab, di tingkatan strategik ada arsitektur Masjid itu sendiri. Baik secara fungsi maupun estetika. Fungsi penerangan, sirkulasi udara, tata suara, dan sebagainya. Estetika meliputi bentuk, warna, tekstur, hingga story/experience yang akan dialami sendiri oleh para jamaah.

Berikut adalah ilustrasi arsitektur yang sangat menarik mengenai betapa “radikal”-nya desain arsitektural masjid salman ITB.

RADIKALISME MASJID SALMAN ITB
Oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi

Kalau ada yang bilang Masjid Salman itu RADIKAL. Lho, memang begitu kok, udah betul itu. Baguskan?

Dari bentuk dan ekspresi arsitektur masjidnya memang sangat RADIKAL, bukan hanya di Indonesia saja tetapi di Asia Tenggara. Yang paling RADIKAL perhatikan saja atapnya. Sejak dulu arsitektur masjid di Nusantara ini selama lebih dari 5 abad hampir selalu menggunakan atap tumpang/tiered roof (dua, tiga, lima, dst).

Atau di akhir abad ke-19 hingga tengah abad ke-20 sebagian mulai menggunakan atap kubah (dome), tetapi Arsitektur Masjid Salman malah tiba-tiba seperti petir di siang bolong menggunakan atap datar yang meruncing pada bagian sudutnya seperti membentuk sebuah mangkuk terbuka. Mana pernah ada preseden (contoh) bentuk atap masjid sebelumnya di seluruh Nusantara/Asia Tenggara itu seperti itu. Arsiteknya (Ir. Achmad Noe’man) dan arsitektur masjidnya memang RADIKAL.

Ruang utama tempat sholatnya juga RADIKAL. Coba saja masuk ke dalamnya, dari sejak pertama kali masjid di Nusantara ini ada, sampai sebelum tahun 1967 selalu ada kolom di tengah ruang sholat utama untuk menyangga atap. Ruang utama Masjid Salman, malah dihilangkan dengan alasan arsiteknya supaya tidak mengganggu/memutus shaf shalat, jadi biar tidak ditempati Syetan katanya. Jadi pilihannya bentang lebar dengan bentangan 25 meter bebas kolom (tiang).

Bayangkan untuk konstruksi atap beton bentangan 25 meter pada waktu itu di tahun 1967 itu bagaimana? Kalau pakai beton biasa bakal memerlukan ketinggian balok beton hingga 2 meteran kan (1/12 bentang). Coba periksa, untuk menahan bentangan itu hanya dengan ketinggian balok beton 80 cm lho!. Itu pakai beton pratekan (prestressed) pak Kyai! Mana ada masjid di Nusantara ini sudah ada yang menerapkan pemakaian struktur/konstruksi beton pratekan seperti itu di tahun 1967. Itu karya dari insinyur sipil dosen ITB (Prof. Sahari Besari) yang waktu itu baru pulang dari sekolah di Amrik. Jadi struktur/konstruksi beton dan insinyur sipilnya juga RADIKAL.

Satu lagi dari detil dan sisi seni grafisnya. Perhatikan semua detil-detilnya, baik sambungan antara kayu, bentuk dan tata letak lampu, pertemuan/pemisahan dinding-dinding beton dengan kolom-kolomnya, dan lain sebagainya. Belum lagi yang tanpa ornamennya, biasanya masjid sering dipenuhi dengan hiasan-hiasan seperti kaligrafi, geometric pattern, floral/sulur-sulur, arabesque, atau apapun yang abstrak. Tetapi masjid ini tanpa ornamen, tanpa kaligrafi, tanpa itu semuanya kecuali hanya garis-garis dan lukisan abstrak di dinding sebelah timur yang dulunya berwarna komposisi coklat pastel karya seniman kontemporer dan guru besar ITB Prof Achmad Sadali.

Beliau adalah pendobrak dan pemimpin gerakan penyadaran para khattat/kaligrafer dan seniman tahun 1970an yang mempopulerkan kaligrafi lukis atau lukisan kaligrafi yang membedakannya dengan “kaligrafi tradisional” yang telah dikenal sebelum ini. Nah jadi dari ketiga sisi ini saja (Arsitektur, Struktur, Seni), memang benar kok kalau masjid ini memang semuanya paling RADIKAL. So what? 😊😊😊

Salman ITB, 27.5.2017⁠⁠⁠⁠