Freelance Marketing


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan kepada pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

Related Post:

10 Cara Meningkatkan Penjualan Lewat Manajemen Penjualan Yang Lebih Baik


Apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan penjualan? Penjualan secara keseluruhan bisa naik, bila kita memasuki pasar dengan produk yang baru. Bisa juga dengan melakukan promosi pemasaran yang lebih gencar dan masif. Apalagi kalau kita bisa memasuki wilayah penjualan yang baru.

Semuanya benar. Semuanya bisa dilakukan. Tetapi sebelum ke sana, ada beberapa taktik-taktik yang bisa kita lakukan melalui manajemen penjualan yang lebih baik. Tujuannya adalah meningkatkan omzet, hanya melalui aspek penjualan saja.

Pertama, andalkan produk cash cow.

Lakukan analisis produk cash cow dulu. Apa itu cash cow? Baiknya kita pelajari dulu konsepnya dari BCG. Sebuah firma konsultan manajemen ternama di dunia. Secara keseluruhan, ada 4 macam isi dari growth-share matrix mereka: cash cow, star, question mark, dan dog.

“Cash Cow” adalah pangsa pasar tertinggi, dengan growth sudah stagnan. Tapi kita mendapat cash yang sangat banyak dari produk berkategori ini. Artinya berat untuk melakukan investasi tambahan, karena kita belum yakin apakah pasarnya masih bisa tumbuh lebih besar.

Kalau pangsa tinggi, dan masih grow, namanya “star” (karena dia “bintang” di antara produk-produk yang lain). Jadi kita tanamkan investasi secara bertahap juga pasti akan aman.

Pangsa rendah, tapi masih tumbuh, punya nama “question mark”. Karena kita saat ini bertanya-tanya apakah pangsanya akan membesar atau pertumbuhannya akan stagnan. Kita mungkin saja berusaha keras di sana, tho pasarnya masih tumbuh. Tetapi mungkin juga kita tidak perlu repot berinvestasi di sana, karena pangsa kita masih rendah. Jadi memang sebelum berusaha keras dan berinvestasi, perlu dihitung secara cermat apakah worth it atau tidak.

Satu lagi adalah “dog”. Sudah pangsanya rendah, dan sulit tumbuh. Bisa jadi, mematikan produk/kategori ini adalah lebih baik. Masih sedikit menguntungkan dan memberi kas tambahan apabila ada perusahaan lain yang mau membeli produk/kategori ini.

Matriks ini bernama Growth-Share Matrix.

Ada pertanyaan, ini kan produk. Bagaimana dengan proyek? Atau servis? Tidak ada cara lain, sih. Perbanyak dan perkuat dulu tim penjualan. Menangkan tender.

Related Post: Jualan Produk atau Jualan Proyek

Kedua, menaikkan marjin penjualan.

Ada beberapa cara. Pertama adalah menekan biaya pembelian. Ada beberapa cara untuk menekan biaya pembelian ini:

  • Beli saat murah (lagi diskon). Bisa stok barang/bahan baku. Supaya punya stok, milikilah gudang. Bisa sewa atau beli gudang. Supaya mendapat harga murah, belilah ketika supplier sedang memberikan diskon.
  • Naikkan harga jualnya. Ini sudah jelas menaikkan omzet, dan mempertebal marjin penjualan. Sebelum menaikkan harga jual, ada beberapa analisis yang harus kita lakukan. Dan keputusan tersebut, bergantung pada tiga kriteria berikut ini.

Ada tiga kriteria untuk mengetahui kemudahan menaikkan harga jual.

  • Kompetitor memang/makin sedikit
  • Penyedia barang memang/makin sedikit
  • Barang substitusi memang/makin sedikit

Ketiga, mempercepat perputaran transaksi.

Perputaran adalah leverage. Alias pengungkit terhadap modal yang kita miliki. Sebagai contoh. Modal usaha kuliner sebesar Rp10juta, bisa menghasilkan omzet beberapa kali lipat dibandingkan dengan modal usaha fesyen yang sama-sama sebesar Rp10juta. Berikut adalah beberapa cara mempercepat perputaran bisnis:

  • Promosikan bahwa persediaan terbatas (limited supply).
  • Jual lebih murah daripada kompetitor. Kita harus mempunyai keunggulan supply chain di sini. Apakah itu pemasok kita yang lebih efisien, atau penguasaan kita terhadap sumber bahan baku.

Indomie sukses menguasai pasar mie instant selama puluhan tahun karena hanya mereka yang memiliki akses ke terigu paling murah. Mungkin ada kompetitor yang bisa membuat mie instant, tapi mereka mengurungkan niat karena jumlahnya belum bisa sebanyak Indomie saat itu, harganya juga belum bisa lebih rendah daripada saat itu.

Makanya, brand Mie Sedaaap baru masuk ke pasar sekitar tahun 2004. Karena baru pasca reformasi lah mereka berhasil menemukan supply terigu dalam jumlah dan kuantitas yang memungkinkan mereka memasuki dan merebut pasar mie instant.

  • Jual ke orang yang sama. Eksposur, promosi, dan penjualan ke orang-orang yang pertama kali mau membeli ke kita, sesungguhnya memiliki biaya lebih tinggi daripada menjual ke orang yang sudah pernah membeli.

Bedanya di mana? Di eksposur dan promosi. Eksposur membuat konsumen tahu “ooh ada brand ini”. Alias awareness terhadap brand tersebut sudah meningkat. Promosi membuat konsumen tahu “ooh brand ini lebih xxxx daripada brand yang lain”.

Pembeli yang melakukan RO (repeat order) sudah mengalami proses eksposur dan promosi oleh brand. Ada dua cara.

  • Buat member of customer. Bikin komunitas juga bisa. Enggak heran, brand Tupperware sukses berat yak. Mereka menjual via komunitas. Yang sudah membeli, tidak enak untuk membeli (lagi) dari temannya. Padahal model atau warnanya sudah ada di rumah.
  • Dapatkan kontak pembeli. Bisa email (jadi di-follow up lewat email) atau nomor HP (broadcast via SMS, misalnya).
  • Jual paket. Paket Super Besar KFC mungkin hanya lebih murah sekitar 7-8ribu saja dibanding membelinya secara satuan. Lagipula, dengan menjual paket, maka KFC bisa menjual nasi lebih banyak daripada menjual nasi secara satuan. Pasti ada aja orang yang makan ayam tapi gak makan nasi. KFC pun mendapatkan keuntungan lain. Yaitu nilai rupiah per transaksi semakin membesar manakala menjual secara paket.

Memang mudah mempaketkan food and beverage. Mosok customer membeli makan tetapi tidak membayar minum?

  • Nonton sepak bola, enaknya sambil makan kacang. Maka paketnya kacang kulit + softdrink. Ini permisalan saja.
  • Di warung tegal (warteg), paket lele/ayam/bebek sudah sama nasi, lele/ayam/bebek goreng, sambal, dan es teh manis.

Keempat. Selling in the Crowd.

Ada empat cara menemukan keramaian.

  • Pertama, buka outlet di jalan yang memang sudah ramai. Makanya mall Kota Kasablanka (Kokas) dibuka di jalan Casablanca Raya yang memang sudah ada beberapa mall dan perkantoran. Kuningan City, Mall Ambassador, ITC Kuningan. Dari yang sudah macet, menjadi bertambah macet. Yang baru pulang kantor berpikir, “pulang nanti saja. masih macet. mari belanja dulu.”
  • Kalau jualan online. Kedua, bayar paid traffic supaya website ramai pengunjung. Bisa facebook ads, atau google adword. Keduanya juga membuat promosi kita lebih tertarget.
  • Ketiga. Bikin keramaian sendiri. Pancing pengunjung untuk datang meramaikan outlet. Bikin status di social media, “diskon sekian persen kalau bisa bawa teman-teman kamu sekian orang”.
  • Keempat. Bikin kesan bahwa outlet restoran kamu ramai. Pasang papan “already booked” pada meja yang kosong. Kan kesannya ramai karena sudah ada yg booking. Konsumen jadi berpikir untuk kembali ke outlet kamu karena brand resto ini food, beverage, and services-nya memuaskan banget.

Judul posting ini memang ada 10 cara menaikkan penjualan. Tapi sudah 10 belum ya? Hehe… Saya belum hitung ulang. Pokoknya di atas sudah tersedia beberapa cara untuk meningkatkan omzet penjualan kamu.

Silakan diterapkan, ya.

Semoga berhasil !!!

Related Post:

Cara Mendapatkan Buku yang Bagus


Sedari pertama saya saya mengenal dan suka membaca buku, saya sering tertipu dengan judul buku. Saya kira bukunya tentang A, ternyata isinya tentang B. Padahal di Indonesia, tidak pernah ada yang namanya garansi uang kembali.

Ada buku yang judulnya –katanya– bisa membantu kita membeli properti secara tidak kontan sama sekali. Benar saja sih hal tersebut memang bisa dilakukan. Namun ternyata tidak bisa dilakukan secara berulang kali. Ada faktor keberuntungan untuk menemukan rumah dengan keadaan pembayaran seperti sudah disebutkan. Beli buku tentang properti ini biasanya dapat bonus diskon seminar. Harga seminar aslinya jutaan rupiah. Setelah diskon pun ternyata masih ratusan ribu rupiah. Selidik punya selidik, ternyata sang pembicara memang jualan seminar bukan jualan properti.

Sejak itu, saya beberapa kali gagal mendapatkan buku yang berkualitas. Antara tertipu isi dengan judul, atau isi yang kurang lengkap, atau paling parah adalah isi yang tidak menjawab kebutuhan saya yang sebenarnya. Di mana, ketertarikan SESAAT saya saja yang mendorong dan memaksa saya untuk mengambil buku tersebut dari rak toko lalu membayarnya di kasir. Toko buku ‘kan ambience-nya memang mendorong kita untuk mengambil buku sebanyak-banyaknya, sembari berambisi bahwa semuanya akan berhasil kita baca di rumah, lalu pergi ke kasir.

Seiring waktu, hingga belasan tahun sejak pertama kali saya membeli buku, kini saya merasa dan menilai diri saya, bahwasanya saya sudah mampu memilih, mendapatkan, dan memiliki buku yang benar-benar punya kualitas. Tidak mudah tertipu lagi dengan ambience toko buku, judul dan kaver buku, diskon seminar, dan tetek-bengek lainnya. Saya membeli buku karena memang saya tahu saya membutuhkan materi tersebut, dan saya tahu persis buku tersebut mampu memenuhi kebutuhan saya. Saya coba sharing sedikit di blog ini ya.

Ada dua untuk memilih dan mendapatkan buku yang berkualitas. Yaitu dengan mengenali penulisnya, serta memahami daftar isinya.

Cari Tahu Siapa Penulisnya.

Ada dua cara mengetahui apakah penulis judul tersebut, merupakan penulis yang baik.

  • Perhatikan seberapa sering dia menulis buku. Kenali apa saja bukunya. Kredibilitasnya bisa kita lihat dari seberapa konsisten tema yang dia bahas. Kalau dia bisa menulis macam-macam bukan karena dia jago di semua bidang tersebut, kemungkinan dia adalah penulis profesional.
  • Cari tahu brand dia selain lewat buku yang dia tulis. Ada dua kemungkinan mengapa dia adalah expert di bidang tersebut.
    • Beliau memang seorang pelaku di bidang tersebut. Atau,
    • Beliau adalah konsultan/trainer di bidang yang dia tulis.

Saya mengkoleksi semua buku dari Pak Frans M. Royan karena beliau adalah konsultan di bidang distribusi dan ritel. Semua bukunya tentang ritel (minimarket, wholesale, dsb) dan distribusi (cara mengelola kantor cabang, cara mengelola piutang, dst).

Para expert mungkin jago mengeksekusi, atau berbicara tentang bidangnya, tapi belum tentu dia jago menulis. Banyak di antara kita yang bisa bicara tapi tidak bisa menulis. Atau sebaliknya, bisa menulis tapi tidak bisa men-deliver speech. Beliau ini adalah salah satu yang lulus dan lolos dari seleksi alam terhadap penulis.

Penyeleksian buku untuk kita beli dan baca semakin tidak mudah. Mengapa? Sebab menulis kini semakin mudah. Ada banyak informasi digital di internet, khususnya dalam format blog, yang mudah dikutip. Namun sayangnya, cek & ricek (periksa & periksa ulang) terutama mengenai sumber kutipan kurang dilakukan secara mendalam oleh penulis dan editornya.

Untuk topik yang sama, pastinya ada beberapa judul buku dari beberapa penerbit. Lihat saja dalam ranah spiritual Islam, topik shalat dhuha dikerubuti puluhan penerbit. Lebih umum lagi yang ngetren sekarang topik bisnis ‘bermain’ saham dikerubuti begitu banyak penerbit atau soal ‘otak tengah’.

Mulai penerbit gurem (small publisher), penerbit menengah (medium publisher), dan penerbit besar turut mengeroyoki topik-topik tersebut. Mereka makin atraktif menampangkan judul-judul buku mereka masing-masing di rak-rak toko buku, terkadang satu topik dikerubuti oleh lebih dari 10 judul.

Belum lama ini saya mencari buku tentang cara menulis fiksi. Kebetulan, saya menemukan buku yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Saya lupa di mana pertama kali membaca namanya. Tapi saya ingat bahwa nama tersebut memang sejatinya adalah seorang penulis. Yang menjadi pemantik utama dalam pembelian saya atas buku tersebut adalah bahwa beliau merupakan ediotr yang sering diajak berdiskusi oleh Dewi ‘Dee’ Lestari.

Dari bukunya, saya berkesimpulan bahwa proses menulis fiksi dan non-fiksi itu sama persis. Tadinya saya pikir cara menulis fiksi itu benar-benar berbeda dari non-fiksi. Yang pertama penuh dengan imajinasi dan kata/kalimat filler (pengisi), yang kedua penuh dengan riset dan kepadatan makna. Ternyata, yang benar adalah fiksi juga sarat dengan riset dan harus ditulis dengan bernas (padat makna).

Alasan bahwa saya mengetahui kompetensi dan pengalaman penulis di bidang yang mereka geluti, juga menjadi alasan mengapa saya membeli buku Pak Bambang Trim, yang berjudul Menulispedia: Panduan Menulis untuk Mereka yang Insaf Menulis.

Untuk fiksi, ada penulis Adhitya Mulya. Jomblo, Sabtu Bersama Bapak, Traveler’s Tale, Gege Mengejar Cinta adalah novel-novel yang pernah dia tulis. Kelebihan penulis satu ini adalah karena tidak hanya menulis satu genre saja (yaitu komedi). Sabtu Bersama Bapak menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang suami dan bapak. Dari sisi kepengarangan, ada pergeseran dan penambahan peran dalam hidup beliau yang turut mempengaruhi karya-karyanya. Sepola dengan Dee yang juga menulis tentang romansa (Rectoverso), kumpulan puisi dan cerpen (Filosofi Kopi), fiksi ilmiah (Supernova).

Bandingkan Daftar Isi-nya.

Saran saya, yang paling layak dikoleksi adalah yang paling lengkap isinya (berdasar penelusuran dan perbandingan terhadap daftar isi).

Kadang-kadang ada topik tertentu yang buku-bukunya tidak perlu dikoleksi. Semisal tentang bisnis internet. Perkembangan via blog, notes facebook, webminar, dan format yang lain lebih cepat perkembangannya daripada dalam format buku. Bahkan ada buku yang terang-terangan menunjukkan cara membuka browser dari Windows. Ini kan hanya mengejar ketebalan buku saja.

Kompas pernah merilis hasil survey tahun 2010 bahwa minat membaca masyarakat di perkotaan mulai tumbuh signifikan. Ada yang unik hasil survey Kompas bahwa pembaca Indonesia tidak terlalu memedulikan ‘penerbit’ dan ‘penulis’. Saya agak berseberangan dalam hal ini. Saya kira, kualitas buku juga dipengaruhi oleh track record penerbit dan penulisnya. Berikut ini saya kutip langsung pendapat Pak Bambang Trim mengenai fenomena ini.

Nah loh, ini patut menjadi perhatian karena ‘nama besar’ penerbit bukan menjadi jaminan best seller-nya sebuah produk. Penerbit gurem atau penerbit ‘kemarin sore’ tiba-tiba bukunya mampu mencuri perhatian dan naik daun seperti ulat bulu–menggelitik rasa ingin tahu.

Penulis pun setali tiga uang. Apa pernah pembaca Indonesia menelisik para penulis yang menyusun buku tentang bisnis rumahan atau bisnis dengan modal di bawah 2 jutaan?–selidik punya selidik terkadang penulisnya sendiri pun tidak punya bisnis! Apalagi buku-buku bertema bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berbagai cara, selidik punya selidik lha penulisnya belum kaya.

Referensi:

Apa Iya Kamu Mau Menikah?


Jangan-jangan lebih menarik S2 daripada menikah?

Saya ini orangnya suka membanding-bandingkan. Bukan untuk tujuan menilai negatif pada orang lain. Sekedar hobi meriset saja. Memikirkan yang mungkin belum tentu dipikirkan oleh orang lain.

Kaitannya dengan menikah, judul di atas hanya untuk provokasi saja. Tentu saja kita semua mau menikah. Jadi bukan soal mau atau tidak mau. Bukan pula soal kapan. Ada yang sudah tahu kapan akan melangsungkan prosesi akad. Seperti saya bilang, tulisan ini bukan untuk memprovokasi supaya tidak menikah. Hampir tidak mungkin ‘kan ya. Karena saya sendiri menikah. Tapi tulisan ini soal “dengan siapa kamu akan menikah?”.

Jadi buah dari pertanyaan saya ini kadang-kadang melampaui batas juga. Saya tidak bermaksud melangkahi konsep jodoh sebagai takdir yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari itu. Melainkan jawaban dari pertanyaan ini mungkin bisa jadi rujukan untuk kamu yang mungkin belum ada calon suami/istri. Sehingga bisa merumuskan dan menetapkan kriteria-kriteria untuk calon partner hidup kamu.

Kalau sudah punya calon? Ya diteruskan dong. Disegerakan menikahnya. Apalagi ketika menikah sudah menjadi kewajiban. Yaitu sudah dewasa, sudah memiliki pendapatan sendiri (sesuai target), serta untuk menghindari fitnah dan kekejian lain yang mungkin timbul manakala belum menikah (juga).

Oke, cukup putar-putar tidak jelasnya, hehe. Mari langsung ke intinya saja.

Sejauh ini kesimpulan saya adalah bahwa pasangan calon suami istri tersebut, setidaknya memiliki kesetaraan dalam tiga hal. Yaitu (tingkat) pendidikan, (kelas) ekonomi, dan keagamaan. Saya pilih kata kesetaraan karena memang yang dihindari adalah kesenjangan (gap). Memang bisa dilakukan bridging the gap, tapi you know lha kalau semua ada batas-batas kemampuannya.

Pendidikan

Kalau tingkat pendidikan yang ditempuh tidak sama, salah satu bisa meremehkan pendapat pasangannya. Kasusnya baru terjadi ketika ada yang sarjana, dan ada yang tidak sarjana. Kalau satunya sarjana, terus yang satunya master, doktor, bahkan profesor, saya kira tidak akan terjadi. Tapi harus diakui bahwa terjadi kesenjangan lebar akibat dari proses pendidikan yang berbeda 4 tahun tersebut.

Finansial

Laki-laki itu pada dasarnya egois. Maunya menang sendiri dan menang terus. Suatu fase dalam hidupnya, misalnya, istrinya berpendapatan lebih tinggi, kemudian harga dirinya akan terusik. Namanya manusia sebagai makhluk emosional, ya bukan mencari jalan keluar supaya income-nya lebih besar, eh malah sibuk mengekspresikan gap (kesenjangan) tersebut melalui kemarahan dan kegelisahan.

 

Tentu tidak semuanya seperti itu. Ini ada contoh lain.

Yang satu, terlalu takut berinvestasi, karena merasa belum sanggup membeli rumah. Yang satunya berpikir, kita beli rumah sekarang saja, meski membebani pengeluaran, setidaknya kita sudah mengunci harga di depan. Daripada membiarkan harga rumah membumbung tinggi tidak terkejar oleh kenaikan gaji.

Masih banyak contoh-contoh lain yang berakar dari kesenjangan pola pikir terkait finansial.

Agama

Dalam Islam, kita itu ada batasnya mengamalkan ajaran-ajaran agama. Yaitu sampai dengan wafat. Setelahnya, tidak lagi bisa mendapat pahala lewat amalan ibadah. Kecuali tiga hal.

  1. Shodaqoh jariyah,
  2. Ilmu yang bermanfaat, dan
  3. Anak yang shalih.

Kita semua butuh yang nomor tiga, sebagaimana kita butuh dua nomor yang lainnya. Namun mendidik yang nomor tiga, tidak pernah mudah. Karena pendidiknya tidak bisa seorang diri. Minimal berdua. Nah, sulit kalau di antara keduanya ada kesenjangan yang signifikan.

Kalau salah satu adalah kurang atau terlalu shalih/shalihah dibandingkan dengan yang satunya, bisa jadi kita akan kasihan sama dia atau sama pasangannya. Kesenjangannya bikin salah satu atau keduanya menjadi tidak nyaman.

Kira-kira begitu ya. Jadi kesenjangan dalam hal agama juga jangan terlalu jauh.

Selanjutnya, mari bicarakan yang lain, yuk.

Kita ini manusia. Kita punya pikiran dan perasaan. Kalau menikah hanya untuk senang-senang seksual dan meneruskan keturunan, kita tidak ada bedanya dengan (maaf) binatang. Itu sangat primary. Padahal kita manusia perlu lebih dari itu. Perlu tambahan pikiran dan perasaan. Sebab itu harus ada cinta dalam pernikahan. Bukan cinta sebagai sebuah kata benda. Melainkan cinta sebagai sebuah kata kerja.

Misalnya, harus ada yang mengalah. tidak melulu si istri sih. ini di pernikahan orang tua saya, si istri (ibu saya) lebih banyak mengalah. kalau tidak mengalah, bukan tidak mungkin (istilah yg banyak dipakai komentator sepak bola) bubar. Alhamdulillah ibu tetap dan selalu sabar. Mudah-mudahan saya bisa banyak meniru beliau.

Kalau kamu tidak mau mengalah, bahkan merasa terpaksa, mungkin kamu perlu mempertanyakan apakah kamu masih cinta atau tidak?

Sebagai suami, saya juga jadi belajar untuk mengalah. Bahasa Inggrisnya, sing waras ngalah (hehehe). Ini adalah strategi jangka panjang para suami, biasanya. Kalau kita berusaha memenangkan adu ngotot saat ini, kita bisa kalah (baca: berpisah) ujung-ujungnya.

Ini ada quote bagus. Quote-nya mendeskripsikan banget bahwa jangan mengejar menang sesaat saja. Tadinya saya tidak tahu ini quote siapa. Tapi ternyata ini adalah quote dia si bapak Presiden Amerika Serikat yang terpilih di pemilihan umum tahun ini (tahun 2016).

Sometimes by losing a battle, you find a way to win the war.

Menikah itu dengan trust. Tapi bukan sembarang trust. Which is, trust with clear expectation.

trust without clear expectation = failed. Supaya tidak failed, lakukan komunikasi. Aku maunya begini. Kamu maunya bagaimana. Apa bisa kita komunikasikan dan sinkronisasikan. Mari kita setting ekspektasi kita supaya tidak melukai satu sama lain, dst. Trust bukan berarti kita berharap begitu saja. Melainkan ada tingkat ekspektasi yang harus kita atur juga. Supaya kalau kecewa, ya tidak kecewa-kecewa amat lha. Pun kita juga tahu harus melakukan apa bila ekspektasi tidak terwujud.

Menikah untuk bahagia? Tentu saja. Jangan (dulu) menikah bila malah sengsara yang engkau dapat. Lebih baik tunda (sementara) menikahnya. Kita tetap bisa bahagia kok, meski belum/tanpa menikah.

Teman saya ada cerita tentang rasanya menikah. Dia dahulu hanya tahu, peduli, dan suka sama namanya sepakbola. Semua tentang sepakbola. Main game Winning Eleven di Playstation. Main futsal. Main sepakbola di lapangan besar. Nonton klub kesayangan, domestik atau internasional. Dan seterusnya, dan sebagainya. Pokoknya semua yang berkait sama sepakbola adalah sangat-sangat menyenangkan.

Ternyata dia menyesal waktu dia menikah. Kenapa menyesal? Karena ternyata menikah itu lebih menyenangkan daripada segala hal yang terkait dengan sepakbola. Dia menyesal, karena memang menyenangkan, mengapa tidak menikah dari dulu? Hehehe.

Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

Untuk kamu para pria, saya ingatkan kembali. Cinta itu kata kerja. Jadi memang harus selalu dilakukan dan diperjuangkan. Bukannya selesai begitu kita sudah salaman sama si bapak Mertua di akad pernikahan. Justru, kita para pria harus setidaknya memberikan kehidupan yang (minimal) persis sama dengan apa yang dialami oleh sang putri. Baik dimensi finansialnya, keagamaannya, dan dimensi-dimensi lainnya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

http://jihandavincka.com/2014/05/02/will-you-still-love-me/

Bisnis Apa yang Bagus Untuk Saya?


Saya bukan business trainer.

Tapi saya cukup tahu seperti apa mereka yang datang ke seminar-seminar bisnis. Ada beberapa macam orang. Salah satunya adalah yang baru mau memulai, tapi masih bingung bisnis apa.

Dia suka bertanya, kira-kira sesuai judul di atas, bisnis apa yang bagus untuk saya? Atau, pertanyaannya mungkin lebih tepat seperti ini.

Bisnis apa yang (sebenarnya) benar-benar cocok untuk saya?

Saya sendiri hidup dari beberapa sumber. Bisa dibilang belum fokus, tapi nyatanya saat ini memang harus seperti itu. Sembari menjalani semua sumber tersebut, saya selalu menganalisis. Baik bisnis yang berhasil (sehingga saya akan meneruskan dan membesarkannya), atau yang gagal.

Gagal itu bukan berarti tidak akan bisa berhasil. Bahkan setelah gagal tersebut, saya tahu caranya membuat berhasil. Tapi namanya manusia kan kita punya kesukaan dan mood.

Kalau kita suka, kita teruskan. Kalau kita selalu mood di bisnis itu, kita lanjutkan. Masalahnya adalah membuat kegagalan menjadi keberhasilan di tengah-tengah mood yang buruk dan ketidaksukaan terhadap produk/jasa-nya adalah sesuatu yang pasti sulit dan prosesnya pasti tidak enak.

Nah, ini kesimpulan saya dan beberapa poin yang bisa saya bagi.

B2C dan B2B.

Pertama, bisnis bisa kita kelompokkan ke dua kategori besar. Yaitu business to business (B2B) dan business to consumer (B2C). Untuk pemula, perbedaan yang harus betul-betul dipahami adalah:

B2B perlu network yang luas. Dari sisi pribadi, kamu harus jago menjajakan. Alias salesman handal, pantang menyerah, selalu berkenalan dengan orang baru, dan existing customer kamu selalu menambah pembelian ke kamu.

Di tipe B2B ini, dapatkan dulu aja proyeknya. Kalau berhasil dapat, baru pikirkan mau dimodali dari mana. Apa pakai investor atau pinjaman.

Dapat proyek sudah, dapat modal untuk mengerjakan sudah, selanjutnya adalah bekerja sebaik-baiknya. Do your own homework.

B2C perlu modal yang besar. Modal ini bisa diterjemahkan jadi barang jualan, atau alat-alat produksi.

Sebenarnya bukan besarnya modal yang penting. Kecil atau besar itu relatif. Yang utama adalah initial investment. Jadi pembelian di depan (makanya disebut initial) yang harus berdampak pada penjualan. Baik langsung maupun tidak langsung.

Buka toko, itu langsung menghasilkan penjualan. Penambahan stok barang, itu tidak langsung menghasilkan penjualan. Tapi kalau barang ready kan, closing akan lebih cepat. Inventory yang menumpuk, itu masalah lain yang harus diatasi.

Jangan langsung dari bank, sebagai pemula. Di samping harus ada jaminan tanah/properti/kendaraan, modal bank relatif mahal.

Marjin yang dikembalikan relatif besar, padahal kita harus menjaga jangan sampai bisnis kehabisan uang kontan. Apalagi faktor free cash flow. Duit yang betul-betul bersih, tidak ada hak orang lain di sana, dan bisa kita gunakan untuk menambah modal.

Mulailah dari modal-modal relatif murah, misalnya dari keluarga atau teman-teman. Mereka bisa memberikan pinjaman bahkan tanpa bunga sama sekali.

Tapi pinjaman, tetap pinjaman lho ya. Harus dikembalikan. Saya pribadi, selalu lebih baik mencicil pinjaman, daripada memaksa diri untuk mengembalikan semuanya di akhir periode pinjaman.

Jangan khawatir dengan modal besar. Yang harus dipusingkan adalah bagaimana supaya bisa terjadi penjualan setiap hari.

Misalnya, adalah punya traffic yang tinggi. Kalau mau sewa toko, kontrak di jalan yang ramai. Kepadatan pengguna jalan juga ada kelasnya, lho. Apakah padat oleh mobil? Atau sama motor? Atau justru pejalan kaki? Masing-masing beda tingkat kedalaman dompetnya.

Di jualan online juga sama, traffic tinggi adalah awal baik untuk penjualan. Traffic bisa secara organik, atau pakai iklan juga bisa. Punya website atau tidak itu satu masalah. Tetap bisa jualan. Tapi kalau sudah punya website, mendatangkan traffic adalah masalah lain yang harus diselesaikan.

Traffic sudah tinggi? Konversi adalah masalah berikutnya.

Setiap masalah yang sudah selesai, akan diikuti dengan masalah berikutnya.

Ya namanya bisnis. Sama banget dengan hidup. Selalu ada masalah, dan datangnya silih berganti. Bagaimana kita saja menangani masalah-masalah tersebut, tanpa stress, dan tetap bersyukur.

Pertanyaan lain.

Apa bisnis yang pasti untung dan tidak akan pernah rugi ya?

#jawab -nya adalah tidak ada.

Semua bisnis sangat mungkin rugi. Minimal barang tertahan dan tidak laku (kasus B2C). Atau pembeli proyek lagi sepi (kasus B2B).

Yang harus diusahakan adalah akumulasi laba yang lebih besar daripada akumulasi rugi dalam periode tertentu. Katakanlah selama setahun.

Sebagai pelajaran, Garuda Indonesia pernah rugi berbulan-bulan. (rute dengan negara yang pertumbuhannya minus, sementara operasional pesawat tidak pernah turun). Tapi kembali untung manakala memasuki musim mudik lebaran.

Jadi, Bisnis Apa yang Cocok untuk Saya?

Untuk pemula, bisnis yang sesuai dengan kamu. Sesuai dengan passion kamu, atau sudah kamu ketahui persis proses bisnis-nya.

Kalau kamu sudah naik kelas menjadi professional businessman, boleh deh kamu main di bisnis-bisnis lain yang kamunya tidak terlalu passion.

Namanya sudah profesional, ya udah ngerti aja caranya menghasilkan duit. Padahal tidak terlalu passion soal produk/jasanya.

Sebab ada banyak faktor yang menentukan kesuksesan bisnis. Tidak cuma soal produk/jasa yang terbaik.

Tetapi misalnya, supply chain yang efisien dan tidak bisa ditiru oleh pemain lain. Sebagai pemula, abaikan dulu kompetitor. Yang penting bagaimana bisa tumbuh dulu. Misalnya, kita yakin bahwa pasarnya pasti bertumbuh, maka kita terjun ke bisnis itu.

Produk/jasa yang terbaik belum tentu laku di pasaran. Masih ada upaya marketing (terutama penajaman positioning), dan distribusi/penjualan.

Sebagai penutup, saya hanya bisa mengingatkan.

Ada 10.0001 alasan untuk berdiri sendiri dan memulai bisnis. Tapi ada juga 10.0001 alasan untuk tidak mandiri dan lebih memilih fokus bekerja sebagai anggota tim-nya orang lain.

Pesantren Modern dan Cahaya Cinta Pesantren


Saya tidak cukup yakin bahwa kita semua yang bertempat tinggal di Indonesia, paham mengenai institusi pesantren, serta bagaimana sebenarnya pesantren sudah sangat dekat (tidak hanya kedekatan jarak) terhadap keseharian kita.

Berawal dari kebutuhan “cangkul-mencangkul” di “sawah”, akhirnya saya terdampar untuk melakukan riset sekunder mengenai sejarah dan keberadaan institusi pesantren. Sebelumnya saya memohon maaf karena tulisan ini tidak panjang-panjang amat, malah pendek sekali. Bahkan menyentuh ribuan kosakata pun tidak. Jadi mungkin belum cukup komprehensif.

gedung-serbaguna-pondok-pesantren-modern-ar-raudlatul-hasanah-medan

Sejarah Pesantren

Secara definitif, KH. Imam Zarkasyi (satu dari tiga pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor bersama KH. Ahmad Sahal, dan KH. Zainuddin Fananie), mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Institusi pendidikan pesantren, berikut dengan alumninya, turut serta mengambil bagian dalam sejarah perjuangan dan pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk yang belum mengetahui, sesungguhnya peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran pesantren, santri, dan alumni. Betapa semangat berkobar-kobar memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan merupakan realisasi dari proses pembentukan karakter di institusi pesantren.

Namun demikian, dengan berbagai dinamika yang ada, bila dibandingkan dengan periode di mana pesantren Gontor baru berdiri, yaitu lebih dari satu abad yang lalu, (persisnya tahun 1926 Masehi) kini pesantren juga turut berbenah dan berubah demi mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Alasannya jelas.

Modernisasi Pesantren

Dunia yang terus berevolusi menjadi semakin beragam dan bervariasi, menjadikan tantangan berdakwah semakin berat. Pesantren sudah sejak lama menyadari dan memahami betul bahwa sebagai institusi pendidikan, pesantren harus bisa ikut berselancar dalam gelombang perubahan-perubahan tersebut.

Perilaku dan pengetahuan seputar keagamaan saja tidak akan cukup untuk mengarungi derasnya kehidupan pasca pesantren. Akhirnya bertambahlah ilmu-ilmu seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, dan kewirausahaan ke dalam pola pendidikan dan kurikulum pesantren.

Sejak itu lahirlah terminologi pesantren modern.

Namun, jangan disalahartikan. Karakter berbasis keislaman tetap menjadi yang pertama dan utama, namun ilmu dan keterampilan seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, kewirausahaan menjadi ilmu dan keterampilan yang turut melengkapi profil alumni pesantren modern.

(Tanpa mengurangi rasa hormat pada pesantren-pesantren tradisional (yaitu yang hanya memfokuskan pada pendidikan keagamaan dan kehidupan), dikotomi pesantren modern dan pesantren tradisional ini sesungguhnya hanyalah perspektif sejarah saja. Jangan pula disimpulkan bahwa pesantren tradisional lebih buruk daripada pesantren modern.)

Bahkan santri turut mendapatkan berbagai program-program ekstrakulikuler berupa kegiatan pramuka, latihan berpidato dalam tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris) serta program-program lainnya.

Modernisasi pesantren sesungguhnya tidak hanya di tataran program, bahkan formalisasi pendidikan pesantren menjadi seperti SD, SMP, MTs, SMA, MA Plus Pesantren, tidak luput pula menjadi bagian dari agenda perubahan-perubahan internal di institusi pesantren.

Apa saja yang diperoleh dari pendidikan di Pesantren?

Pertama.

Iya, pastinya banyak belajar ilmu agama. Tapi ilmu apa aja yang dipelajari? Yaitu, pelajaran-pelajaran pokok, seperti bahasa arab, kitab, hadits, tafsir (cara menafsirkan), akhlak (budaya dan perilaku), siroh (sejarah Islam), ilmu alat, dan masih banyak lagi.

Metode yang digunakan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kegiatan dan pembiasaan. Misalnya shalat wajib di masjid, kegiatan belajar kelompok bersama ustadz, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah melatih disiplin dan konsistensi dalam menjalankan amalan ibadah.

Selama menempuh pendidikan di pesantren, ada juga penekanan pada nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri dari hawa nafsu. Ini adalah pembentukan mental, yang biasanya dilakukan melalui bimbingan langsung pada kelompok belajar di malam hari.

Kedua. 

 

Pesantren telah, sedang, dan akan terus berperan sebagai wahana berinteraksi dengan banyak teman dari berbagai daerah dan suku. Tentu ini sangat menunjang kebutuhan para santri/santriwati akan jaringan atau relasi nanti ketika sudah lulus dari pesantren.

Dalam hal ini, santri — yang di kemudian hari akan menjadi alumni – akan banyak mempunyai jaringan atau relasi dari berbagai daerah, luar pulau bahkan dari luar negeri. Dan itulah yang di kemudian hari akan menjadi salah satu modal dalam menapaki tangga karir.

Sekedar contoh, Menteri Agama kita saat ini, yakni Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Beliau adalah alumni dari pesantren Gontor di Ponorogo.

Atau Bapak Hidayat Nur Wahid. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang ke-11, menjabat sejak Oktober 2004 sampai dengan Oktober 2009. Merupakan deklarator dan Presiden Kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sempat menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012.

Ketiga.

Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya. Karena pesantren melatih hidup mandiri. Santri harus menyelesaikan urusan pribadinya sendiri. Menjadwal makannya sendiri. Cuci baju sendiri. Pendeknya, mengatur kehidupannya sendiri.

Tak lengkap rasanya membahas sejarah pesantren, tanpa mengulas satu contoh pesantren modern yang paling disegani dan dihormati. Yakni pesantren Gontor.

Afiliasi dan “Keturunan” Pesantren Gontor.

Mengapa Gontor?

Ditinjau dari perspektif marketing (pemasaran), Gontor telah menjadi sebuah brand yang memberikan promise (janji) akan kualitas proses dan hasil pendidikannya. Dan tidak hanya Gontor Ponorogo dan Ngawi yang demikian, namun berikut pula bersama afiliasi dan keturunannya.

Jadi, saat ini pesantren Gontor sudah berafiliasi dengan banyak sekali pesantren-pesantren baru yang lebih muda usianya.

Belum termasuk “keturunan-keturunan” Gontor, yakni pesantren-pesantren dengan “isi” dan “kemasan” yang relatif sama dengan Gontor itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan karena didirikan oleh alumni-alumni Gontor.

Misalnya ada pesantren La Tansa, yang pola pendidikan beserta kurikulumnya juga sudah sangat Gontor sekali. Atau di Medan ada Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Ponpes yang terakhir disebut ini menjadi tempat berlangsungnya syuting film Cahaya Cinta Pesantren (CCP).

Cahaya Cinta Pesantren

Film ini berangkat dari novel yang ditulis oleh guru matematika di ponpes tersebut. Yaitu, Ibu Ira Madan. Beliau menuangkan pengalaman, rasa cinta, dan kreativitasnya ke dalam sebuah novel yang diberi judul sama. Hanya satu dan satu-satunya yang menjadi motivasi beliau adalah kecintaan dan kebanggaan terhadap pesantren tempat beliau dulu belajar tentang agama dan kehidupan.

poster-film-cahaya-cinta-pesantren

Fokus cerita CCP ini ada pada tokoh Shila yang diperankan oleh artis Yuki Kato. Diceritakan bahwa dia bersahabat dekat dengan Manda (oleh Febby Blink), Asiyah (Silvia Blink), dan Icut (Vebby Palwinta) selama menempuh pendidikan di pesantren.

Tentu saja filmnya tidak hanya berpusat pada kehidupan Shila berikut dengan tiga sahabat karibnya selama di pesantren. Melainkan betul-betul mengeksplorasi kehidupan maupun pendidikan di pesantren.

Misalnya program belajar berpidato, kegiatan kepramukaan, belajar bahasa di kelas formal, sampai dengan latihan beladiri, dan lain sebagainya.

Mulai awal November 2016 nanti, film ini bisa kita saksikan di bioskop-bioskop langganan di kota tempat kita tinggal.

Produser, sutradara, dan penulis novel CCP, punya harapan tersendiri akan film ini.

Ketiganya berharap agar  film ini sedikit menjawab keingintahuan dan ketidaktahuan masyarakat kita mengenai kehidupan di pesantren. Sebagaimana dipaparkan di awal, bahwa sepertinya masih banyak sekali di masyarakat kita yang belum cukup mengetahui seperti apa jalannya pendidikan di pesantren. Terutama bahwa pesantren tidak lagi mengungkung para santri/santriwati dari perkembangan zaman.

Itu adalah satu segmen, masih ada satu segmen yang menjadi target. Yakni, para alumni dari berbagai pondok pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Lewat film ini, juga berharap kenangan dan kerinduan akan kehidupan pesantren yang dahulu pernah dijalani dengan segala suka dan dukanya, segera tuntas terjawab.

Sumber Inspirasi 

(NB: Saya banyak mengacu pada artikel-artikel di kompasiana. Tadinya saya juga ingin publish di sana. Namun, saya tidak bisa melakukan registrasi. Pada siapapun anda yang memiliki akun kompasiana dan berkenan untuk merilis artikel ini di kompasiana, saya mohonkan bantuannya dengan sangat. Cukup dengan mencantumkan link asli artikel ini di kompasiana).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/persisbenda/metode-pendidikan-di-pondok-pesantren-modern_54f357fc745513942b6c721e

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/syafii_nur/nilai-lebih-sekolah-di-pesantren_55172dc3a333118107b6592a

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Beberapa Posisi/Jabatan Pekerjaan Terkait Marketing


Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kamu yang masih bingung memilih karir, atau belum paham tentang job description dari berbagai lowongan pekerjaan yang berseliweran di sekitar kamu.

Pertama, ada dua hal yang harus dipahami mengenai marketing-related jobs. Ada marketing, ada sales. Marketing itu fungsi besarnya. Salah satu sub fungsinya adalah sales.

Tugas marketing (and sales) adalah menciptakan demand terhadap produk/jasa yang ditawarkan perusahaan, untuk kemudian memetik demand tersebut, yaitu berupa omzet.

Apa saja objective dari creating demand? Ini adalah beberapa contoh

  • menciptakan awareness terhadap brand
  • membangun interaksi (engagement) dengan customer
  • menghadirkan customer experience, sehingga customer melakukan repeat buying 
  • dst

Penting bagi fungsi marketing adalah untuk menciptakan dan tetap mempertahankan relevansi merek bagi customer-nya. Jadi merek harus memberikan value (=benefit/cost) terhadap customer, di samping juga survive, bahkan grow dari tekanan kompetitor.

Lalu, apa objective dari harvesting the demand?

  • Mengelola wilayah pemasaran
  • Membangun hubungan dekat dengan pelanggan
  • Melakukan penagihan dan menerima pembayaran
  • Menghimpun insight dari saluran-saluran penjualan
  • dst

Direktoratnya biasa diberi nama Marketing and Sales.

Namun di antara marketing and sales, ada beberapa perbedaan:

  • Marketing biasanya heavy on budget. Sales punya sales people yang banyak.
  • Marketing berurusan dengan medium. Kalau sales memperbanyak kunjungan dengan channel penjualan.
  • dst.

Itu sebagai pancingan. Kita masuk ke inti dari tulisan ini.

Eksekutor fungsi marketing ini bisa dibedakan berdasar produk, target segmen, atau wilayah.

Product Manager/Brand Manager/Product Executive. 

Ini adalah posisi yang sifatnya product-based. Tanggung jawabnya seputar brand dan omzet. Penjualan tidak langsung ditanganinya. Biasanya melalui sales people. Apakah itu partner distributor, atau sales people dari internal di perusahaan.

Tapi kalau ada penurunan revenue, tentu yang harus bertanggung jawab adalah orang ini.

Dia juga memegang anggaran komunikasi. Bisa disalurkan menjadi iklan, diskon, event, dan sebagainya. Bila ada hal yang ditanyakan terkait brand tersebut, semua orang akan menghubungi dia.

Anggarannya selalu dihabiskan bersama vendor? Tidak juga. Pastinya tergantung ketersediaan budget. Bisa saja karena budget minim, maka dikerjakan sendiri. Lagipula, budget komunikasi tergantung dengan target omzet yang mau diraih. Bisa juga dihitung berdasar performa penjualan periode sebelumnya (tahun lalu, misalnya). Biasanya, seperti itu pendekatan terhadap anggaran komunikasi.

Posisi yang kedua adalah berbasis pelanggan.

Community Manager/Engagement Manager 

Meskipun namanya manager, belum tentu dia punya staf. Setidaknya staf langsung.

Tugasnya adalah membangun hubungan dengan para customer. Khususnya apabila customer tersebut dikelompokkan berdasar segmen masing-masing.

Karena posisinya lebih dekat ke customer daripada dengan jenis produk/layanan tertentu, maka produk/layanan apapun bisa ditawarkan kepada pelanggannya.

Indikator yang dikejar adalah revenue/customer.

Posisi berikutnya terkait wilayah yang digarap.

Area manager

Peran ini lebih banyak urusan sales-nya daripada marketing-nya. Biasanya brand sudah dibangun lewat bombardir iklan via media massa secara masif. Jadi “tinggal” memetik omzet di pasar sekaligus troubleshooting masalah-masalah di lapangan.

Masalah-masalah yang biasa hadir:

  • Stok kosong. Ini bukan berarti barangnya laku. Ini artinya adalah demand-nya tinggi tetapi kita belum mampu menyuplai sesuai kebutuhan. Kuncinya adalah manajemen stok.
  • Toko malas mengambil barang dari kita. Entah karena dia belum yakin barang kita pasti laku, atau mungkin dia sudah pakai duitnya untuk bayar supplier lain, dan seterusnya
  • However, tugas kita adalah membuat toko membeli sebanyak-banyaknya dari kita. Misalkan, kita selesaikan lewat program diskon kepada end consumer, sehingga barang dicari dan toko mau mengambil lebih banyak. Atau lewat program lain yang bertujuan sama.
  • dst.

Project manager 

Tugasnya meng-handle project, tentu saja. Namun, pra dan pasca project pastinya ada aktivitas-aktivitas yang dilakukan dong. Bangun hubungan dengan (calon) klien, persiapan proposal tender (dan berbagai detil-detilnya), memastikan revenue stream dari next project, dan seterusnya.

Eksekusi teknisnya bukan oleh dia — tentu saja. Tapi dia harus paham spesifikasi proyek juga. Latar belakang teknikal pastinya sangat menunjang.

Sebagai contoh project manager di bidang IT. Dia punya pengalaman sebagai programmer, maupun sebagai analyst. Jadi dia tahu apa yang bisa dilakukan perusahaannya (oleh tim programmer di back office), serta dia juga tahu customer needs serta what kind of solution to solve their problem.

Tanggung jawab marketing-nya agak kurang sih, atau bisa dikatakan cukup rendah untuk penggunaan medium komunikasi. Levelnya bukan awareness lagi, melainkan sudah engagement. Via bertemu langsung, lewat meeting, melalui kerja bareng, dst.

Posisi seperti ini bisa jadi jarang berada di kantor pusat (headquarter, HQ). Lebih sering pergi keluar. Bahkan seperti pindah kantor ke klien ketika proyek sedang berjalan.

Account Manager 

Kalau project manager itu membangun dan menjaga relationship dengan klien, sekaligus memimpin pekerjaan, ada juga yang memastikan relationship (dan order, tentu saja) terus-menerus berlangsung.

Semisal agensi periklanan, agensi public relation, dan sejenisnya ada account manager yang selalu mudah untuk dihubungi oleh klien. Sekaligus menjadi satu-satunya pintu komunikasi antara klien dengan agensi tersebut.

Eksekusi dan delivery pekerjaan bukan dilakukan oleh dia. Sebab dia tidak memimpin produksi (syuting iklan, misalnya). Namun dia harus memastikan argo-nya jalan terus. Ibarat taksi, mobil harus jalan terus dan argonya bergerak maju menghasilkan omzet untuk si agensi. Selanjutnya tinggal penagihan dilakukan oleh bagian keuangan.

Market analyst 

Sebagai support brand manager, ada fungsi-fungsi yang bertugas menghimpun, mengolah, menganalisis data dari market. Hasilnya kemudian menjadi landasan untuk brand manager mengambil keputusan, baik strategik maupun taktikal, terkait brand yang dia kelola ini mau dibawa ke mana.

Apakah brand tersebut layak diangkat memasuki kelas pasar yang lebih premium. Atau cukup menjadi second brand yang memberi barrier bagi pemain baru untuk masuk. Apakah brand tersebut bisa dibawa memasuki wilayah distribusi yang baru, dan seterusnya.

Conclusion 

Ada fungsi creating demand dan harvesting demand di perusahaan. Tergantung industri ya, ada yang menggabungkan, ada juga yang memisahkan. Seperti FMCG, brand manager lebih fokus mengelola brand, urusan penjualan diserahkan kepada distributor. Yang penting cash diangkut setiap hari.

Ada banyak fungsi marketing and sales di perusahaan. Kamu bisa bergabung dengan salah satu posisi di sana.

Beberapa fakta job description di atas sekedar kulit-kulitnya saja. Tentu pendetilannya berbeda di setiap industri dan organisasi perusahaan.

Dan pastinya, proses bisnis di setiap perusahaan juga berbeda-beda. Tergantung apakah itu product-based atau project-based. Itu akan menentukan lingkup pekerjaan untuk posisi-posisi yang sudah tersebut di atas.

Alasan Memilih (Program) Manajemen, Bagi Kamu yang Bingung Mau Kuliah Apa


Sebelumnya saya sudah pernah menulis artikel dengan judul yang sama.

Banyak traffic yang datang ke artikel tersebut. Kemudian saya kulik-kulik lagi, mengapa banyak yang mencari jawabnya.

Jadi berikut ini adalah hasil kulikan saya tersebut.

Banyaknya bidang perusahaan yang bisa dipilih pasca lulus dari manajemen.

Semua perusahaan menjalankan fungsi-fungsi bisnis. Ada keuangan, pemasaran, operasional, SDM, dan lain-lain. Sebagai lulusan manajemen, kamu bisa memilih fungsi manajemen apa saja untuk dimasuki. Dan di bidang industri apapun, keempat fungsi tersebut pasti ada.

Namun, kelemahan lulusan manajemen yaitu kompetensi yang kurang spesifik. Berbeda dengan para insinyur telekomunikasi, informatika, dan lain sebagainya. Tantangan yang harus kamu hadapi yaitu bagaimana membuat diri kamu sebagai lulusan manajemen yang berbeda dari lulusan manajemen yang lain.

Tahu tidak kenapa harus begitu? Lulusan manajemen itu banyak sekali. Tidak sulit bagi suatu kampus untuk mendirikan program studi manajemen. Infrastruktur laboratoriumnya tidak berat dan memakan anggaran besar seperti jurusan sains dan enjinering pada umumnya.

Kembali ke kenapa harus tampil berbeda.

Mungkin kamu punya sertifikasi khusus, semisal sertifikat menyelam? Atau mungkin kamu pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri? Apa saja bisa.

Tidak semua yang -hanya kamu yang melakukan tapi jarang sekali dilakukan oleh orang lain- akan membuat kamu semakin bernilai. Misalnya nilai TOEFL. Skor tinggi belum tentu membuat dirimu distinctive (berbeda). Yang jelas, nilai tinggi seperti IPK atau TOEFL memudahkan kamu untuk lulus seleksi berkas.

Cari tahu, apa yang kira-kira relevan di mata pemberi kerja (employer) sehingga kamu dapat diterima bekerja di sana? Sertifikat menyelam atau pertukaran pelajar hanya dua contoh saja.

Simpulannya adalah, lapangan kerja bagi lulusan manajemen masih sangat beragam dibandingkan mereka dengan latar belakang enjiner atau sains.

Secara umum, S1 biasanya dinilai belum berpengalaman. Sehingga lulusan S1 masih bisa bekerja di mana saja. Mereka masih muda, baru memulai karir, serta lebih mampu belajar dan menyerap ilmu baru. Better than para lulusan SMA/SMK.

Itu salah satu kelebihan sarjana. Tentu saja pengeluaran perusahaan untuk gajinya lebih besar daripada lulusan SMA/SMK.

Alasan kedua adalah kamu ingin terjun langsung sebagai enterpreneur pasca lulus.

Dengan pernah kuliah di manajemen, berarti kamu pernah mempelajari keempat fungsi manajemen tersebut, serta mendalami satu di antaranya melalui tugas akhir/skripsi.

  • Pemasaran
  • Keuangan
  • Operasional
  • SDM

Jadi kamu punya bekal untuk menjadi nahkoda di perusahaan yang kamu pimpin.

Tentu saja kelemahan kamu adalah kamu mungkin belum tahu aspek-aspek teknis dari bisnis yang kamu kelola.

Misalnya kamu membangun usaha restoran, pasti kamu tidak tahu resep dan racikan yang tepat kan? Karena kamu bukan lulusan sekolah/kampus pariwisata. Tapi kamu bisa melakukan pencatatan keuangan yang baik serta punya strategi medium untuk merebut dan mempertahankan pasar, misalnya.

Atau kamu mau mengembangkan apotek?

Kamu bukan apoteker yang jeli menginformasikan bagaimana pasien dapat menggunakan obatnya dengan tepat dan benar.

Mengatasi ini, kamu bisa melakukan rekrutmen apoteker yang tepat.

Kekuatan kamu adalah kemampuan mengelola portfolio produk yang bisa berjumlah hingga ribuan jenis. Serta mengkombinasikan marjin tipis tetapi berfrekuensi tinggi, dengan marjin besar yang membutuhkan inventori besar, dan seterusnya. Ini supply chain banget.

Itu untuk pilihan menjadi Sarjana Manajemen (S1). Bagaimana dengan Master Manajemen (S2)?

Kondisinya adalah kamu sudah bekerja beberapa tahun. Bila kamu beruntung, dalam 2-3 tahun sudah menginjak anak tangga karir yang lebih tinggi. Tanggung jawab yang lebih besar, sudah ada staf yang membantu pekerjaan, dukungan fasilitas perusahaan dalam mencapai target.

Kamu bisa jadi perlu peningkatan kapasitas lebih lanjut. Pendidikan magister adalah salah satu caranya. 

Namun, MBA atau MM tidak fokus di salah satu fungsi. Sensasi pendidikan S2-nya kurang terasa. Perguruan tinggi berlomba-lomba mendirikan S2 Manajemen masing-masing.

Akibatnya, gelar MBA itu sudah mengalami inflasi. Banyak sekali lulusan MBA/MM saat ini.

Mungkin dulu, menjadi MBA itu keren. Namun, sekarang ini sudah terjadi inflasi.

Pertanyaannya masih sama, apa yang membedakan kamu yang lulusan MBA dengan lulusan MBA yang lain?

Beda dengan S2 pada umumnya. Katakanlah pengajaran fisika. Ada microteaching, selain tentang fisika itu sendiri. Sehingga kedalaman dan pendalaman ilmunya lebih terasa dibandingkan dengan S1.

S2 MBA atau MM, banyak mengkombinasikan ilmu-ilmu di permukaan dari keempat fungsi manajemen: keuangan, operasional, pemasaran, dan manajemen SDM.

Bagi lulusan akuntansi, seakan mengulang (secara cepat) kuliah akuntansi dan corporate finance secara cepat.

Kalau S1 manajemen ada mata kuliah tentang pemasaran, nah ada perulangan kembali di MBA pada umumnya.

Karena banyak yang di permukaan, maka hasilnya ada lulusan MBA yang belum tentu punya satu kompetensi teknis di suatu fungsi SDM/keuangan/operasional/pemasaran.

Kan ada tuh pekerjaan konsultan manajemen. Baik internasional, maupun lokal. Apakah harus pernah sekolah di S1/S2 manajemen?

Mereka tidak harus lulusan manajemen lho. Bahkan utk global consultant office seperti McKinsey, BCG, mereka hanya menerima dari UI, ITB, atau UGM.

McKinsey mengistilahkannya dengan insecure overachiever.

Bahkan pasca “lulus” dari kantor konsultan ternama & mendunia tersebut, dengan mudahnya mereka diterima bekerja di perusahaan-perusahaan startup. Mengapa? Mantan konsultan bisa melihat dan menyusun problem solving secara terstruktur.

Conclusion

Apakah saya tampak merekomendasikan jurusan manajemen untuk kuliah S1?

Sesungguhnya tidak. Justru sebaliknya. Lebih baik mengambil jurusan teknik dan diwisuda sebagai enjiner.

Kalau tidak berminat kerja teknis ala insinyur? Tidak apa.

Silakan saja bergabung di fungsi promosi/komunikasi, distribusi, brand management, pengembangan produk, dan sebagainya.

Setelah 2-3 tahun bekerja, berarti sudah saatnya untuk mengambil S2. Apa saja, tidak harus manajemen. Ada beberapa posisi manajerial yang menuntut pengisinya memiliki gelar master manajemen.

Salah satu kenyataannya adalah mereka yang lulusan teknik, biasanya, karirnya melesat cepat. Lebih daripada mereka yang kuliah di jurusan-jurusan IPS.

 

 

Pilih Mana? Jualan Produk atau Jualan Proyek?


Penambahan, pengembangan dan penekanan pada aspek marketing dan branding, saya lakukan demi mempertegas garis batas maupun perbedaan-perbedaan antara berjualan proyek atau berdagang produk.

Terima kasih pada mas Ardisaz yang sudah memberi gagasan dari postingan beliau di sini.

Jualan Proyek

Ilmu dasarnya adalah project management. Delivery kepada klien harus sesuai dengan spesifikasi yang disepakati di awal, dan sebisa mungkin menepati batas waktu yang telah ditetapkan.

Kunci yang pertama dan utama adalah memenangkan project dari klien. Industri yang berbasis proyek, semisal jasa desain rumah (konsultan arsitek), management consulting, selalu mengejar proyek dulu kemudian merekrut tenaga ahli untuk mengerjakan proyek tersebut.

Beban pegawai tetap yang lebih dari kemampuan finansial perusahaan, dapat memberi tekanan berat pada keuangan perusahaan. Sebab itu pegawai tetap harus seminim mungkin. Andaikan terjadi krisis ekonomi (atau krisis dalam industri si klien), perusahaan tetap mampu membayar gaji para pegawai tetap tersebut.

Pemilik bisa menutup perusahaannya apabila jumlah proyek yang berjalan, tidak seimbang dengan pegawai (tetap maupun kontrak) yang harus ditanggung hidupnya.

Sebab itu, potensi/calon proyek harus terus-menerus ada, bahkan sebelum proyek lama sudah selesai dikerjakan dan di-deliver kepada klien.

Implikasinya adalah model perekrutan dan pemberdayaan karyawan bersifat kontrak. Ada rentang waktu berapa lama kontrak pekerjaan tersebut kepada tenaga ahli yang bersangkutan.

Bagaimana dengan kualifikasi tenaga ahli tersebut? Bisa berdasar tingkat pendidikan (S1, S2, atau S3) atau berpatokan pada lama pengalaman di bidang tersebut.

Aset terbesar pada bisnis berbasis proyek adalah hubungan dengan klien itu sendiri. Mencari dan menemukan proyek dari klien baru itu effort-nya cukup besar. Atau klien baru hanya datang sekali dalam beberapa waktu yang panjang.

Bisa disimpulkan bahwa, biaya akuisisi setiap pelanggan baru sangat mahal.

Mosok mau proyek baru dari klien baru aja?

Jadi mengandalkan klien lama adalah keharusan. Kepuasan klien menjadi faktor determinan apakah klien tersebut bersedia kembali mempercayakan proyeknya kepada perusahaan kita.

Karena sifatnya proyek, dan menemukan pembeli baru relatif tidak mudah, maka mengembangkan kompetensi organisasi di beberapa jenis proyek berbeda adalah cara lain menang di industri semacam ini.

Tujuannya adalah mendapat beberapa pekerjaan/proyek berbeda dari klien yang sama.

Branding di industri berbasis proyek tidak perlu menggunakan medium-medium komunikasi pemasaran yang khusus. Model pengelolaan pelanggan cukup dengan account management.

Titik tekannya adalah pada sales manager yang harus wira-wiri di kantor klien, menjalankan aktivitas memantau apakah ada proyek baru. Persiapan dokumen untuk tender, misalnya. Sampai dengan menutup penjualan (closing) proyek yang baru dari klien yang sudah ada.

Branding lewat medium? Sebagai sponsor pada kegiatan internal perusahaan klien. Paling minimum, memvisualisasikan eksistensi vendor lewat kalender dinding atau kalender meja di ruang-ruang kerja dari klien terkait.

Pengeluaran keuangannya bersifat tidak terduga. Tentu ada estimasi dan proyeksi sebelum proyek dimulai, namun ada saja pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga. Sebab itu, kerugian bisa saja terjadi karena pengeluaran yang berlebihan.

Proyek akan mendatangkan kerugian apabila pengerjaannya terhambat sehingga terlambat di-deliver kepada klien. Itu satu penyebab. Sebab kerugian yang lain, misalnya karena ketidakcermatan terhadap kualifikasi dan ongkos tenaga ahli yang diperlukan.

Tambahan tenaga ahli di tengah-tengah pengerjaan proyek, atau penambahan material (atau alat produksi) sembari berjalannya proyek, pastinya akan mengurangi marjin yang diperoleh perusahaan. Buruk-buruknya, bisa hingga menyebabkan kerugian.

Jualan Produk

Inovasi produk harus terus dilakukan. Baik yang sifatnya mayor (perubahan target pasar, redesain kemasan supaya tampak lebih fresh/cool) maupun minor (semisal fitur produk, perubahan komposisi, dll).

Dalam ilmu product lifecycle management, ada fase introduksi produk/jasa ke pasar. Dalam fase ini, awareness terhadap brand masih rendah. Sebab itu harus ada upaya pengenalan kepada khalayak luas.

TV commercial adalah cara yang paling lazim bagi perusahaan consumer goods dalam memperkenalkan produknya. Masa-masa perkenalan seperti ini adalah waktunya untuk “memperoleh kavling di benak konsumen”.

Tidak bisa langsung berharap keuntungan. Biasanya marjin perlu ditekan dahulu untuk memperoleh “kue” di pasar. Sebab ada listing fee untuk masuk di channel penjualan.

Mungkin juga promo diskon sehingga punya harga jual yang lebih rendah dibanding kompetitor. Setidaknya membuat konsumen jadi melirik untuk mencoba beli. Intinya keuntungan tidak bisa dipetik dan dinikmati saat itu juga.

Titik tekan utama memang pada inovasi produk/jasanya. Namun, luput memperhatikan aspek-aspek komunikasi dari produk/jasa tersebut bisa berbahaya. Jangan sampai hanya produk/jasanya saja yang berubah, tetapi tidak ada perubahan sama sekali di benak/hati konsumen terhadap image/experience-nya.

Because Battle for positioning happened in customers’ mind. Berikut kredo dari Walter Landor.

Produk dibuat di pabrik, brand dibuat di benak konsumen.

Medium-medium komunikasi pemasaran perlu dikreasikan sedemikian rupa. Supaya di benak konsumen, brand memiliki atribut-atribut yang berbeda (lebih enak, lebih cepat, rasa tiada duanya, dst).

Moment of truth-nya adalah ketika produk-produk sedang berdiri sejajar di hadapan para calon pembeli. Karena penjualan baru terjadi di belakang — setelah serangkaian proses riset, produksi, komunikasi, dan distribusi.

Research & development (R&D) memegang peranan penting. Terutama dalam aspek produk/jasa itu sendiri, maupun dalam aspek market (research).

Produk tidak customized, melainkan standardized. Produk dibuat di workshop/plant, dengan spesifikasi yang sudah jelas terstandardisasi (mulai dari bahan baku, prosedur produksi, quality control, dsb).

Kalau sudah punya SOP (standard operating procedure), scaling up tidak terlalu berat untuk dilakukan dibanding ketika tidak ada manual atau modul sama sekali.

Kalau brand sudah terbentuk di benak/perasaan konsumen, maka permintaan akan meningkat. Perusahaan perlu investasi tambahan untuk memperbanyak stok, kemudian mengelola distribusi yang ada.

Misalnya, pengembangan wilayah penjualan yang baru, pengendalian stok di warehouse maupun gudang milik channel (hypermarket/supermarket/retailer atau kantor cabang), atau peningkatan visibility produk sehingga lebih mudah dijangkau oleh konsumen.

Software As Services

Ada tipe industri yang menurut saya cukup menyenangkan. Di satu sisi memiliki karakteristik bisnis proyek, di saat yang sama juga punya sifat-sifat bisnis berbasis produk.

Setelah mengerjakan proyek dari klien, rupanya produk akhir dari proyek tersebut, dapat dipasarkan dan dijual kepada klien-klien lain dengan kebutuhan sejenis.

Salah satunya adalah industri SaaS (Software as Services). Effort produksinya praktis hanya di awal. Yaitu ketika menggarap proyek dari klien. Begitu proyek sudah beres, produk akhirnya tinggal diperjualbelikan kepada customers lain dengan keperluan yang mirip.

Contohnya adalah produk untuk tracking kendaraan (truk, alat berat, kapal, dll). Awalnya dikembangkan hanya untuk sebuah perusahaan shipping yang memerlukan. Selanjutnya, dapat ditawarkan kepada perusahaan lain yang sangat mirip kebutuhannya.

Yaitu, perusahaan yang harus melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap aset-aset kendaraan berharga mereka.

Kamu cocok yang mana?

Demikianlah sekelumit perintilan tentang mengelola proyek atau produk sebagai dagangan. Masing-masing ada plus-minusnya. Tidak bisa hanya memilih yang plus saja lantas abai terhadap minusnya. Setiap plus-minus harus diambil sepaket-paketnya.

Dan tidak semua orang cocok. Kembali lagi ke tiap-tiap pribadi.

Kalau kamu, kamu lebih pilih jualan proyek atau produk? 🙂

Langkah-Langkah Mengembangkan Konten yang Search Engine Friendly Namun Memuaskan Para Pembaca


Tuntutan pada pembuat content marketing semakin berat. Konten tidak hanya harus berhasil menembus halaman pertama SERP (search engine result page) saja, namun juga harus memuaskan para pembaca.

Bagaimana melakukannya? Update kali ini coba membahas bagaimana merealisasikan dua target tersebut. Yakni konten muncul di halaman pertama serta pembaca mendapat manfaat dari konten tersebut.

Ada dua aspek. SEO dan copywriting.

SEO itu adalah seni membuat konten tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kita sudah tahu bahwa SEO bertujuan meningkatkan relevansi artikel di mata mesin pencari sehingga bisa menempati peringkat teratas dari search result.

Sedangkan copywriting adalah seni menuliskan konten sehingga konten tersebut memuaskan, mencerahkan, atau menghibur pembacanya.

Jadi, SEO Copywriting berarti seni menuliskan konten sehingga tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang terbaik, tetapi juga konten tersebut sukses muncul di urutan teratas hasil pencarian.

Yaitu memformulasikan kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat, sehingga berhasil mempersuasi pembacanya untuk melakukan aksi-aksi tertentu (membeli, berlangganan melalui email, dsb) namun tetap akrab dengan mesin pencari.

Berkawan akrab dengan mesin pencari, adalah sebuah awal menuju rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten dari kompetitor yang mentargetkan hasil pencarian sejenis.

Nah, bagaimana caranya? Dalam artikel ini kita akan membahas secara lengkap dan detil beberapa tips-tips utama dalam membuat artikel blog yang ramah terhadap SEO – Search Engine Optimization (SEO) sekaligus pembaca.

(1) Tidak terlampau banyak keyword (kata kunci) langsung; melainkan buatlah tulisan yang manusiawi -bukan untuk menipu mesin– tetapi untuk pembaca.

Kreatif memanfaatkan bentuk lain dari keyword, seperti sinonim, definisi, variasi kosakata, dan lain sebagainya dari keyword yang kita targetkan.

Penempatan kata kunci bisa dengan kata kunci tersebut, atau gunakan kosakata/frase berbeda yang tetap merepresentasikan maksud yang sama. Sebenarnya, makin beragam kosakata yang digunakan, akan semakin disukai oleh Google.

Ingat kembali bahwa pengguna internet yang datang ke Google itu belum persis tahu apa solusi untuk kebutuhan atau masalah dia. Jadi dia akan mencari tahu. Mulai dari produk/layanan apa yang tepat, produk/layanan dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya.

Harus kita ketahui bahwa keyword merupakan bentuk upaya kita untuk melakukan targeting (sebagai bagian dari STP) terhadap (calon) pelanggan. Sehingga keberadaan keyword dengan sendirinya akan meng-efisien-kan aktivitas dan proses pemasaran.

Mengenai keyword, instead of berperang di keyword yang hanya sedikit kata (short tail keyword), yang semakin lama persaingannya semakin ketat. Makanya sudah waktunya berpaling ke long tail keyword.

Contoh. Daripada hanya “service AC”, lebih baik “jasa service AC di Jogja”, misalnya. Atau “jasa service AC murah di Jogja”, dst. Jadi gunakan paling sedikit 4 kata. Konsekuensinya adalah kita harus lebih banyak mentarget long tail keyword. Tapi tidak apa. Yang penting kan berumur panjang.

Keyword-nya harus konsisten dan masuk dalam berbagai elemen dalam artikel ya. Misalnya di judul artikel, di slug, hingga di dalam artikel itu sendiri. Berapa jumlahnya? Sebanyak keyword density yang disarankan saja.

Keyword density. Mesin Google punya word counter. Jumlah keyword dibandingkan terhadap jumlah kata dalam konten tersebut. Targetnya sekitar 2%-3%. Terlalu banyak akan membuat Google menganggap konten tersebut adalah “sampah”.

(2) Menurut sebuah sumber –saya sampai lupa sumbernya, tetapi saya memang berulangkali menemukan this figure— rerata panjang artikel dari artikel-artikel yang menempati halaman pertama adalah sebanyak kurang lebih 2,000 kata.

Maksudnya adalah kita perlu menjunjung tinggi kualitas tulisan serta memperbanyak volume tulisan (jumlah kata) lewat analisis/pembahasan mendalam tentang gagasan yang kita tuangkan ke dalam artikel tersebut.

Fokuskan tulisan sebagai sebuah jawaban utuh atas pertanyaan yang merupakan rasa keingintahuan calon pembaca yang kita target.

Dalam proses membuat tulisan yang mendalam, riset harus dilakukan secara intensif. Situs seperti http://www.quora.com dapat menjadi referensi untuk mencari tahu pertanyaan relevan terkait dengan topik yang kita kemukakan.

Rahasia lain untuk mendapat konten berkualitas adalah dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan seorang expert mengenai bidang yang digelutinya.

Jangan lupakan juga tulisan sebagai media untuk menghibur, menyampaikan informasi, atau mencerahkan pembaca kita.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di sini bahwa paling tidak, artikel blog yang bagus itu adalah 500 kata. Tujuh ratus kata sudah oke. Volume 700 kata itu ibarat menulis di majalah sepanjang satu halaman.

Intinya, lebih banyak kata akan lebih baik di mata mesin pencari Google. Bukan kata/kalimat yang berulang dan sengaja diulang-ulang lho ya. Melainkan narasi utuh yang gagasannya saling melengkapi satu sama lain.

Do you want to survive? Tulislah lebih panjang hingga minimal 1500 kata. Supaya relevansi di mata mesin pencari akan lebih baik. Sehingga tulisan kita tidak mudah tergeser dari tulisan-tulisan bervolume sedikit yang lebih baru dirilis.

Mengapa? Sebab menulis 300 kata itu relatif tidak sulit. Demikian pula dengan 500, 700, hingga 1000 kata. Dan sudah banyak sekali yang melakukannya. Bersamaan dengan anda menerbitkan sebuah postingan, ada puluhan bahkan bisa ratusan orang melakukan hal yang sama. Cobalah untuk riset lebih mendalam sehingga bisa menulis lebih panjang.

Jadi, lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

Prioritaskan kualitas tulisan daripada kuantitas jumlah tulisan yang ingin di-publish. Dengan kata lain, tidak perlu memaksa diri setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Ini biasanya yang jadi penyakit blogger pemula. Kurang konsisten. Di satu waktu mem-publish demikian banyak posting. Selanjutnya belum ada postingan baru selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

(3) Headline semakin penting. Bahkan lebih penting dibanding dengan era sebelum internet. Mengapa? Sebab ketertarikan pembaca dimulai dari headline yang menarik, bombastis, atau sangat menjual janji kepada pembacanya.

Bagaimana caranya? Sertakan angka dalam judul, atau gunakan kata sifat yang bombastis. Bisa juga “janji” yang memberi solusi atas kebutuhan/permasalahan/pertanyaan calon pembaca.

Namun hindari headline yang hanya memancing klik saja. Biasa disebut click bait. Jadi artikel dengan judul menarik, namun membuat pembaca merasa tertipu dengan konten di dalamnya yang jelas-jelas berbeda dengan judul headline.

Alangkah indahnya bila kita jujur mengenai konten yang kita sampaikan. Yaitu melalui headline yang benar-benar merepresentasikan konten yang di bawahnya.

(4) Terkait tipografi. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Sebab tiadanya jarak di antara paragrafnya. Maka dari itu berilah ruang yang cukup setelah 3-4 baris kalimat.

Tipografi juga bagaimana kita memakai bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita.

Kesimpulan.

Jadi si mesin pencari benar-benar melihat karya kita sebagai sebuah tulisan yang baik, bukan tulisan ala kadar yang hanya ingin nongkrong di halaman pertama SERP.

Google juga mempertimbangkan seberapa sering suatu website dikunjungi. Makin sering dikunjungi, makin mengangkat relevansi website tersebut terhadap keyword yang diketikkan oleh pengguna internet.

Buatlah blog atau website anda bukan yang sekedar dikunjungi kemudian terlupa. Melainkan pengunjung betah berlama-lama di sana. Pancing agar pengunjung melakukan klik demi klik di blog anda untuk menelusuri postingan yang lain.

Bagi Google, relevansi adalah segalanya. Makin relevan, makin tinggi letaknya dalam hasil pencarian. Bila di dalam artikel tersebut ada beberapa link, kemudian CTR-nya tinggi, ini juga menjadi faktor yang akan dipertimbangkan oleh Google dalam menempatkan artikel tersebut ke dalam SERP.

CTR=Click-Through-Rate, yakni seberapa sering klik dilakukan oleh pengunjung website dalam artikel tersebut.

Semoga tulisan ini padat manfaat, serta memberi manfaat.