informasi yang mukjizat


Informasi yg mukjizat

Dalam sejarah perjalanan dunia, tingkat literasi belum pernah secanggih sekarang. Kita semua tahu, bahwa faktor enabler-nya adalah internet. Memang sih, masih ada buta huruf di mana-mana. Namun bagaimanapun juga, melek huruf saat ini bisa jadi adalah yang tertinggi sepanjang masa. Dan dengan melek huruf yang demikian tinggi, semua menjadi prosumer, produsen sekaligus consumer dari konten yang dibuat.

Om Alvin Toffler dalam Future Shock, membagi fase perjalanan masyarakat dunia menjadi tiga tahap. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat pasca industri. Yang terakhir ini, dijabarkan lebih jelas dalam The Third Wave. Bahwasanya, masyarakat kini telah beralih menjadi masyarakat informasi. Semua bisa memproduksi dan mengkonsumsi informasi.

Salah satu wujud produksi dan konsumsi informasi tersebut, saya kira salah satunya adalah berbagai bentuk media sosial yang ada saat ini. Facebook, WhatsApp, Instagram, dll. Dan kita semua sudah tahu, media hanyalah alat. Ibarat pisau, media (dan media sosial) bisa kita gunakan untuk hal positif, maupun untuk hal negatif.

  • Konten inspiratif bisa dibuat. Gerakan sosial seperti kitabisa.com mungkin dilakukan hanya bermodal byte-byte digital.
  • Konten yang memecah-belah persatuan juga bisa dibuat. Semisal hoax, yang semakin hari semakin mudah dan cepat dibuat. Karakteristik media digital saat ini adalah informasinya mengalir demikian cepat hingga tidak mungkin dibendung dan diisolasi. Yang terbaik bisa dilakukan hanyalah membuat counter campaign guna mengimbangi hoax tadi.

Bebas Hoax.

Di era media sosial digital ini, dan terkait juga dengan judul tulisan ini, saya mencoba-coba untuk mengulas tentang konten/informasi yang bebas hoax, atau dengan kata lain, anti hoax.

Surah Al Hijr, ayat 9.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, demikian juga para ahli tafsir lainnya, mutaqaddimin dan mutaakhkhirin, menyatakan bahwa ayat ini merupakan jaminan dari Allah ta’ala bahwa Dia akan menjaga Al-Qur’an Al-Karim dari perubahan dan penggantian, dari penambahan maupun pengurangan, hingga hari kiamat.

Sedikit atau banyak penambahan atau pengurangan, terutama apabila melencengkan maknanya dari makna asli yang dimaksud, bisa kita katakan termasuk hoax.

Which is, hal ini terjadi pada kitab-kita samawi selain Alquran. Kita pun sudah tahu bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami banyak sekali penggantian dan pemalsuan. Keistimewaan Alquran ini adalah Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, tidak sedikit pun mengalami penambahan atau pengurangan. Apabila terjadi penyimpangan terhadap Al-Qur’an, maka akan selalu muncul di setiap generasi, manusia-manusia yang meluruskan kesalahan dan kekeliruan tersebut. Tidak heran, Al-Qur’an di generasi sahabat-sahabat Rasulullah adalah sama dengan yang ada di generasi kita saat ini.

Sudah tidak relevan, maka diubah. Dan Al-Qur’an akan selalu relevan. Karena Al-Qur’an adalah one part of dienul Islam.

Multi Platform

Konten yang selalu standard tersebut, alias di mana-mana tidak ada perbedaan yang berarti, menjadikan konten ini bisa berada dalam format atau wujud apapun. Cetak, digital, dan lainnya. Diakses via web, via aplikasi mobile, dst.

Mengaji Al-Qur’an dengan versi cetak di kantor, maupun versi cetak di rumah, tidak akan ada bedanya. Ayat penutup yang terakhir dibaca di kantor, sangat bisa disambung dengan ayat pertama yang akan dibaca di rumah. Sudah tiada hambatan, dan tanpa perlu penyesuaian kembali.

Kitab ; Bukan Sembarang Buku

Bagi saya, ada bacaan-bacaan yang sekali baca langsung selesai. Sekali tuntas, maka tamatlah riwayatnya sebagai sebuah tulisan. Contohnya novel, komik maupun karya fiksi lainnya.

Ada juga buku lain yang sering kali saya tengok kembali, terutama untuk menengok teori atau hipotesis yang diusulkan sang penulis. Katakanlah buku-buku tentang branding yang ditulis oleh David Aaker.

Namun demikian, ada satu kategori lagi, di mana saya mendedikasikan waktu atau hidup saya untuk mempelajarinya. Sebutlah kategori tersebut sebagai kitab. Ini adalah tipe tulisan/bacaan/buku yang terus-menerus saya tengok. Dia adalah referensi dari segala referensi. Ayat Al-Qur’an apa saja, lalu cari dan baca referensi secondary yang terkait dengan ayat Al-Qur’an tersebut. Akhirnya, Al-Qur’an ini menjadi kitab, yaitu referensi yang selalu kita tengok pertama dan utama, tatkala sedang mempelajari suatu ilmu atau permasalahan.

Semanis Teh Manis Salman


Teh Manis Salman (TMS), ya. Bukan Teh Manis “Masjid Salman”. Bukan, sama sekali bukan. Salman itu nama masjid di seberang Institut Teknologi Bandung, iya. Tapi dia lebih dari sekedar masjid. Karena dia “tidak sekedar” maka banyak yang belum bisa move on darinya. Tiap ke Bandung, harus ke Salman. Belakangan, ada banyak yang tanya ke saya tentang TMS ini. Saya rangkum dalam FAQ berikut.

FAQ Teh Manis Salman

Q: Dari kapan ada teh manis salman?

A: Lupa persisnya, tapi saya sudah gak di sekolah seberangnya. Jadi kira-kira setelah saya “dikeluarkan”.

Q: Di mana letaknya?

A: Selasar hijau. Isshhh, kalau orang gak paham, tanya aja di mana penitipan sepatu.

Q: Enak mana sama teh manisnya kantin?

A: Teh manis kantin lebih manis dan lebih pekat. Sebaiknya dikasi es batu sedikit ya. Tapi manisnya bukan sambil ngelihatin teteh-teteh yang manis di meja kasir ya. Alhamdulillah bukan Aa’-Aa’ yang jaga. Bisa kecut teh-nya kalo dijaga batangan. Jadi, ya lebih enak teh manis selasar hijau, sih. Lagian memang gak disediakan es batu di situ. Gratis, pula.

Q: Berapa kalori yang dikandungnya?

A: Wah, mana saya tahu. Mungkin perlu dicek kandungan gizinya sama kakak-kakak Dipati Ukur.

Jadi #TehManisSalman itu adalah “feature” baru dari Masjid Salman.

Namun sesungguhnya, #TehManisSalman adalah counter campaign yang sedang ramai di linimasa.

Counter Campaign

Diawali pernyataan PBNU Said Aqil Siradj, yang menyatakan bahwa Masjid Salman adalah Masjid Radikal.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/25/oqibs1328-kiai-said-mengaku-pernah-dihujat-kafir-di-masjid-salman

Terkait pernyataan Ketua Umum PBNU tersebut, Pengurus Masjid Salman kemudian menemui sang Kyai Haji dalam rangka bersilaturahmi sekaligus tabayyun, yaitu konfirmasi mengenai maksud dari pernyataan beliau tersebut.

Tentang tabayyun ini harus diberi apresiasi lebih. Di era internet ini, user malas menunggu barang sehari atau beberapa hari guna melihat perkembangan isu. Kalau ada yang tabayyun, sudah oke banget sebenarnya. Selain malas menunggu, user juga malas melakukan riset lebih mendalam. Setidaknya, semua dilakukan via online saja. Bertemu langsung guna silaturahim sekaligus tabayyun ini yang harus kita garisbawahi bersama. Selain silaturahim yang memperpanjang usia, tabayyun-nya sendiri untuk mengkonfirmasi maksud yang sebenarnya.

Berikut info terkait tabayyun yang dilakukan oleh para pengurus Masjid Salman tersebut.

#tehmanissalman #saidaqilsiroj #bukansayayangpunyacerita #aktivissalmanitb

A post shared by Dzikry Dzikrulloh (@dzikrydzikrulloh12) on

Pernyataan KH Said Aqil Siradj sempat viral di dunia sebelah (baca: online). Mereka yang sering shalat di Salman, atau menjadi aktivis Salman, atau bahkan tinggal –dan bertugas– di Asrama Salman, sangat tidak setuju dengan konten yang viral tersebut.

Kampanye yang dicoba-viralkan adalah #mysalmanstory dan #tehmanissalman. Jadi ini adalah kampanye untuk meng-counter viralitas pernyataan sang KH. Dengan sendirinya, asosiasi radikal yang viral tertempel pada “Salman” perlahan-lahan mulai luntur.

Kedua hastag tersebut adalah experience yang digali dari pengalaman para “pelanggan”. Alias mereka yang sudah berkali-kali “belanja”. Jadi bukan yang belum pernah “beli”, atau baru 1-2 kali belanja, tapi yang sudah jadi langganan. Pelanggan biasanya (dan seharusnya) sudah trust (percaya) kepada sang “penjual”. Komponen dari trust adalah expectation. Bukan sembarang expectation. Melainkan standardized expectation.

Jadi, brand Salman sudah sangat familiar –makanya bisa kita sebut standardized–, bahkan hingga ke hati para jamaahnya. Bahwa brand Salman ya memang begitu. Sebagaimana dirasakan oleh panca indera: pilihan bentuk, warna, dan tekstur material arsiteknya, suasananya, jenis-jenis orang di dalamnya, dan lain sebagainya seperti yang dideskripsikan dalam status facebook para pecintanya.

Dalam proses dan aktivitas managing the brand, experience sharing ini termasuk fase merawat brand dan mempertahankan customer (alias jamaah). Dari existing customer, bisa pula menjadi jalan untuk mendapatkan jamaah baru. Alias yang belum pernah hadir sama sekali di Salman. Sebab, sesama pengguna masjid, pastinya merekomendasikan masjid yang bagus pengelolaannya; kepada keluarga dan kolega mereka.

Masjid Modern

Salman itu termasuk masjid yang dikelola secara modern. Prinsipnya sederhana, dengan membaiknya program dan fasilitas, maka crowd jamaah akan tercipta. Jamaah yang semakin bertambah menjadi pancingan bagi pengelola/pengurus untuk menambah fasilitas. Baik unit usaha maupun unit-unit pelayanan. Tidak perlu semuanya dikelola sendiri. Bisa saja di-outsource kepada pihak ketiga. Sediakan tempat saja, dan akan ada pihak swasta yang mengelola dan memberikan fasilitas tersebut. Kantin, bank, minimarket, print+fotokopi, pulsa, biro haji dan umrah, dll. 

Semakin all-in-one sebuah masjid, maka akan semakin menjamur pula jamaah yang berkunjung.

Crowd jamaah kemudian bisa diresegmentasi lagi dan dirumuskan program-program ekslusif untuk segmen tersebut. Pengajian untuk anak muda, ada. Untuk yang sudah senior juga ada. Pendidikan untuk anak balita ada. Dan seterusnya. Sampai Sekolah Pra Nikah juga ada.

Agak taktikal, tapi sedang menjadi tren yang diadopsi oleh banyak masjid-masjid besar. Yaitu AC (air conditioning) sebagai penyejuk udara di dalam ruang utama Masjid. Dan kedua adalah, jadwal shalat digital sebagai penunjuk masuknya waktu shalat.

Sebab, di tingkatan strategik ada arsitektur Masjid itu sendiri. Baik secara fungsi maupun estetika. Fungsi penerangan, sirkulasi udara, tata suara, dan sebagainya. Estetika meliputi bentuk, warna, tekstur, hingga story/experience yang akan dialami sendiri oleh para jamaah.

Berikut adalah ilustrasi arsitektur yang sangat menarik mengenai betapa “radikal”-nya desain arsitektural masjid salman ITB.

RADIKALISME MASJID SALMAN ITB
Oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi

Kalau ada yang bilang Masjid Salman itu RADIKAL. Lho, memang begitu kok, udah betul itu. Baguskan?

Dari bentuk dan ekspresi arsitektur masjidnya memang sangat RADIKAL, bukan hanya di Indonesia saja tetapi di Asia Tenggara. Yang paling RADIKAL perhatikan saja atapnya. Sejak dulu arsitektur masjid di Nusantara ini selama lebih dari 5 abad hampir selalu menggunakan atap tumpang/tiered roof (dua, tiga, lima, dst).

Atau di akhir abad ke-19 hingga tengah abad ke-20 sebagian mulai menggunakan atap kubah (dome), tetapi Arsitektur Masjid Salman malah tiba-tiba seperti petir di siang bolong menggunakan atap datar yang meruncing pada bagian sudutnya seperti membentuk sebuah mangkuk terbuka. Mana pernah ada preseden (contoh) bentuk atap masjid sebelumnya di seluruh Nusantara/Asia Tenggara itu seperti itu. Arsiteknya (Ir. Achmad Noe’man) dan arsitektur masjidnya memang RADIKAL.

Ruang utama tempat sholatnya juga RADIKAL. Coba saja masuk ke dalamnya, dari sejak pertama kali masjid di Nusantara ini ada, sampai sebelum tahun 1967 selalu ada kolom di tengah ruang sholat utama untuk menyangga atap. Ruang utama Masjid Salman, malah dihilangkan dengan alasan arsiteknya supaya tidak mengganggu/memutus shaf shalat, jadi biar tidak ditempati Syetan katanya. Jadi pilihannya bentang lebar dengan bentangan 25 meter bebas kolom (tiang).

Bayangkan untuk konstruksi atap beton bentangan 25 meter pada waktu itu di tahun 1967 itu bagaimana? Kalau pakai beton biasa bakal memerlukan ketinggian balok beton hingga 2 meteran kan (1/12 bentang). Coba periksa, untuk menahan bentangan itu hanya dengan ketinggian balok beton 80 cm lho!. Itu pakai beton pratekan (prestressed) pak Kyai! Mana ada masjid di Nusantara ini sudah ada yang menerapkan pemakaian struktur/konstruksi beton pratekan seperti itu di tahun 1967. Itu karya dari insinyur sipil dosen ITB (Prof. Sahari Besari) yang waktu itu baru pulang dari sekolah di Amrik. Jadi struktur/konstruksi beton dan insinyur sipilnya juga RADIKAL.

Satu lagi dari detil dan sisi seni grafisnya. Perhatikan semua detil-detilnya, baik sambungan antara kayu, bentuk dan tata letak lampu, pertemuan/pemisahan dinding-dinding beton dengan kolom-kolomnya, dan lain sebagainya. Belum lagi yang tanpa ornamennya, biasanya masjid sering dipenuhi dengan hiasan-hiasan seperti kaligrafi, geometric pattern, floral/sulur-sulur, arabesque, atau apapun yang abstrak. Tetapi masjid ini tanpa ornamen, tanpa kaligrafi, tanpa itu semuanya kecuali hanya garis-garis dan lukisan abstrak di dinding sebelah timur yang dulunya berwarna komposisi coklat pastel karya seniman kontemporer dan guru besar ITB Prof Achmad Sadali.

Beliau adalah pendobrak dan pemimpin gerakan penyadaran para khattat/kaligrafer dan seniman tahun 1970an yang mempopulerkan kaligrafi lukis atau lukisan kaligrafi yang membedakannya dengan “kaligrafi tradisional” yang telah dikenal sebelum ini. Nah jadi dari ketiga sisi ini saja (Arsitektur, Struktur, Seni), memang benar kok kalau masjid ini memang semuanya paling RADIKAL. So what? 😊😊😊

Salman ITB, 27.5.2017⁠⁠⁠⁠

Chelsea : Brand and Revenue


Pada tulisan sebelumnya, saya merangkum beberapa strategi klub sepak bola dalam membangun brand-nya (brand building).

Dan baru hari kemarin, Chelsea dipastikan menjadi juara English Premier League (EPL) 2016/2017. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, predikat juara ini tentu akan mengangkat brand Chelsea menjadi lebih baik lagi.

Pastinya, hal ini akan mengundang sebuah pertanyaan yang selalu krusial bagi para pembesut brand. Pertanyaannya adalah, memangnya dengan brand dengan nilai demikian besar, lantas berapa banyak omzet yang berhasil didatangkan?

Brand komersil yang tidak mendatangkan omzet, berarti upaya branding-nya sia-sia saja.

Ada beberapa sebab saya simpulkan pernyataan barusan.

Sponsorship, sebagai salah satu komponen utama dalam omzet klub sepak bola, nature-nya adalah business-to-business (B2B). Ciri khasnya adalah “pembeli”-nya tidak banyak — tidak sebanyak B2C. Pembeli yang sedikit ini kemudian diperebutkan oleh para “penjual” yang tidak sedikit: Manchester United, Real Madrid, Barcelona, dst. Negosiasi dan keterampilan menjual menjadi skill paling utama untuk mendapatkan omzet besar.

Tidak hanya skill, tetapi modal juga menjadi faktor utama. Apa modalnya? Besaran eksposur brand terhadap penggila sepak bola di seluruh dunia. EPL adalah liga paling laris ditonton di seluruh penjuru dunia pada hari ini. Sponsor yang terletak di jersey pemain, akan menjadi merek yang paling diketahui dan diingat oleh sebanyak-banyaknya orang.

Chelsea 2015/16 dan 2016/17

Penampilan yang mengecewakan pada musim 2015/16 mendatangkan kerugian sebesar 70 juta poundsterling (sebelum pajak). Secara umum, klub sepak bola kehabisan uang kas adalah hal biasa. Back up-nya dari penjualan aset klub kepada investor baru, atau utang. Begitu pula dengan Chelsea. Roman Abramovich adalah pemilik yang tidak segan “meminjamkan” uangnya kepada klubnya bahkan tanpa termin waktu pengembalian yang jelas dan nilai bunga yang transparan pula. Sejak diakuisisi pada Juni 2003, secara total Chelsea telah rugi sebesar 753 juta poundsterling. Atau sekitar 58 juta poundsterling per musim. Pemecatan Jose Mourinho (berikut tim pelatihnya) di penghujung 2016 menyebabkan klub harus membayar kompensasi sebesar 8 juta poundsterling.

Dalam artikel Sisi Lain Roman Abramovich saya menuliskan model bisnis terbaru Chelsea: memelihara puluhan pemain muda, menggaji mereka, tetapi meminjamkan mereka ke klub lain yang bersedia menjadikan mereka sebagai starting eleven.

Contoh terbaru adalah Patrick Bamford, yang transfer fee-nya senilai 6 juta poundsterling pada Januari 2017 ke Middlesbrough. Padahal dulu Chelsea hanya membayar 1,5 juta poundsterling di tahun 2012. Alias meningkat paling sedikit 4x lipat dalam rentang waktu 5 tahun.

Berikut histori akumulasi omzet penjualan pemain muda seperti Patrick Bamford: 51 juta poundsterling pada 2014, turun menjadi 16 juta poundsterling pada 2015, serta 35 juta poundsterling di 2016.

Pendapatan dari broadcasting 143 juta poundsterling (43%). Showbiz dari penampilan Chelsea mendatangkan pendapatan sebesar 43% dari total pendapatan klub. Pendapatan komersil 117 juta poundsterling (35%) dan pendapatan dari penjualan tiket di Stamford Bridge sebesar 70 juta poundsterling (21%). Hanya satu cara menumbuhkan pendapatan yang terakhir: perluasan stadion dan penambahan kursi penonton.

 

Brand Klub Sepak Bola


Sepeninggal Alex Ferguson, Manchester United belum pernah mencapai sukses seperti di era si kakek. Meski Louis Van Gaal (LVG) berhasil menjuarai FA Cup musim 2015/2016. Selain itu, rasanya sudah lama sekali MU tidak bermain di UEFA Champions League (UCL).

Namun demikian, bulan Januari 2017 lalu, mereka malah berhasil melampaui omzet tahunan Real Madrid. Persisnya di angka 515,3 juta poundsterling. Sekitar penjualan Big Mac-nya McDonald sebanyak 225 juta pcs dalam setahun. Omzet, sebagaimana nilai nominal sebuah brand, adalah tolok ukur pencapaian upaya-upaya marketing. Informasi ini dilansir oleh Deloitte, sebuah kantor konsultan manajemen, yang salah satu topik “permainan” mereka ada di industri olahraga. Dan sebagaimana kita tahu, industri sepak bola di Eropa, merupakan salah satu industri olahraga dengan nilai pasar yang besar di tingkat dunia.

Industri sepak bola yang komersil dan dikelola secara profesional telah menjelma menjadi industri pertunjukan. Tidak ada bedanya dengan industri perfilman Hollywood, Bollywood, bisnis sirkus keliling, film-film thriller, pertunjukan bioskop, dan sebagainya. Intinya semua itu ialah show business (bisnis pertunjukan). Saat ini, biasanya ada 3 sumber pemasukan, bagi sebuah perusahaan klub sepak bola.

  1. Penjualan tiket (including merchandise).
  2. Penjualan hak siar.
  3. Komersil.

Penjualan tiket.

Baik tiket terusan maupun tiket per pertandingan. Penonton domestik (penduduk kota) memang captive market bagi klub. Demand nya relatif stabil. Sering kalah atau selalu menang, mereka akan selalu membeli tiket dan datang ke stadion. Tidak heran kan kota-kota besar dunia (ibukota pemerintahan, kota bisnis, dst) memiliki klub lebih dari satu. Madrid, Roma, London, Manchester, hanya sedikit contoh. Kota seperti London memberikan kebebasan bagi klub-klub Premier League di sana (Arsenal, Chelsea, West Ham, Tottenham Hotspurs) untuk memiliki stadion sendiri.

Penjualan hak siar.

Termasuk pertandingan domestik, maupun pertandingan antar negara seperti Europe League + Champions League. Di pertandingan El Classico-nya La Liga Spanyol, Real Madrid vs Barcelona, reaksi-reaksi emosional dari penonton di benua Asia bahkan turut ditayangkan di saluran televisi kabel di mana kita menonton.

Komersil.

Di indonesia, pemain-pemain Manchester City menjadi model iklan Extra Joss. Sedangkan para punggawa Manchester United membintangi iklan You C1000. Chelsea pernah bekerja sama dengan BNI.

Jersey yang disponsori oleh perusahaan apparel seperti nike, adidas, kappa (dari italia), umbro, under armour tidak hanya berupa seragam gratis saja. Tetapi juga berupa uang tunai.

Tidak hanya sponsorship, tetapi juga stadium tour (tur di dalam stadion), merchandising, dan aktivitas lainnya yang bernilai komersil. Sebagai contoh saja untuk merchandise, penjualan jersey Real Madrid bernama punggung Cristiano Ronaldo sudah menutupi nilai yang dibayarkan oleh Real Madrid kala merekrut dari Manchester United. Yaitu sebesar 80 juta poundsterling. Pengeluaran Los Merengues ditambah lebih dari 106 juta poundsterling untuk menggaji CR7 selama 6 tahun sejak 2009.

Building the brand of football club

Brand building klub sepak bola adalah dengan membuat klub selalu berada di hati mereka para pendukung.

Strategi Pertama: Buat Kehebohan Melalui Rekrutmen Anyar

MU memang tidak pernah main-main soal brand building ini. Salah satu buktinya manakala tetangga mereka yang berisik (noisy neighbor) menghadirkan Guardiola sebagai pelatih, United tidak mau kalah langkah. Jose Mourinho diperkenalkan sebagai head coach.

Keduanya pernah “berseteru” selama di La Liga Spanyol. Dan demi mendapatkan untung lebih banyak, manajemen MU bersedia meramaikan hingar-bingar Premier League melalui rekrutmen pelatih kepala yang baru. Secara tidak langsung, para pemilik/pengelola klub memang “bertanggung jawab” untuk membuat penonton Premier League menjadi berlipat dibandingkan sebelumnya.

Analogi yang sama justru lebih banyak berlaku dalam rekrutmen pemain. Real Madrid seringkali berusaha memecahkan rekor transfer fee mereka sendiri dengan tujuan brand building.

Strategi Kedua: Membangun Basis Fans yang Baru

Park Ji Sung (Korea Selatan) di Manchester United.

James Rodriguez (Kolombia) di Real Madrid.

Dengan merekrut keduanya, kedua klub tersebut berhasil mencuri perhatian dan menarik engagement dari para pecinta sepak bola di negeri asal sang pemain. Hal ini, paling tidak bisa diukur dari berapa banyak jersey atas nama dan nomor pemain tersebut, di negara asalnya.

Strategi Ketiga: Merangkul Media

Media adalah komponen yang tidak kalah penting dalam industri sepak bola modern. Media yang tidak dimiliki saja dapat turut berkecimpung, mengeruk pundi-pundi uang, apalagi media massa yang dimiliki sendiri. Kepemilikan media akan menunjang panasnya pemberitaan soal klub tersebut.

La gazzetta dello sport memang memiliki hubungan khusus dengan juventus. media lokal yang selalu membahas sepak bola setiap hari.

Strategi Keempat: Kontrak Pemain Berkualitas

Chelsea membangun tim juara tersebut tidak murah. Tetapi pemain-pemain mahal dapat mendatangkan kesuksesan dengan instant. Saya bisa simpulkan bahwa pembelian pemain mahal (yang biasanya berbanding lurus dengan kemampuannya) adalah strategi yang tepat dalam membangun brand klub. Nilai brand klub ini semakin baik mengingat prestasi-prestasinya belakangan ini. Misalnya 4x juara EPL. Fa cup. Europa league (2013) Champions League (2012).

Terbukti, brand Chelsea FC semakin baik dalam 10 tahun terakhir.

https://www.theguardian.com/football/2017/jan/19/manchester-united-record-revenue-deloitte-football-money-league-rich-list-real-madrid

 

Mari Bicara Sastra Kontemporer


Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

Seribu Kata Tentang Surabaya


Mari bicara tentang Surabaya dalam beberapa segmen: (1) lalu lintas, (2) menu makanan, (3) pergaulan, dan (4) masjid.

Lalu Lintas

Rasa-rasanya masih sayang mobil-mobil di sini lebih “galak” daripada di Jabodetabek atau Bandung. Paling “galak” adalah mereka yang tinggal di sidoarjo kota (pusat) tapi beraktivitas rutin di pusat Surabaya. Mereka sadar perjalanan mereka jauh dan menuntut waktu yang lama. Sebab itu tidak ingin Tua di Jalan.

Panduan yang jelas di lampu merah.

Yang paling membingungkan di kota-kota Indonesia biasanya adalah, apakah boleh belok kiri langsung atau tidak? Nah, kalau di Surabaya, ada papan petunjuk apakah di lampu merah tersebut boleh langsung atau tidak. Keterangannya jelas sekali “belok kiri langsung” atau “belok kiri mengikuti lampu”.

Dulu saya berasumsi bahwa belok kiri langsung itu mutlak akan mengurangi kemacetan. Tapi sepertinya asumsinya tidak hanya demikian. Bisa saja demi memberi ruang di jalan raya depan bagi orang untuk menyeberang. Apakah pembaca yang budiman di sini ada yang tahu?

Menu Makanan

Nasi goreng merah.

Pertama kali saya temukan di Balikpapan. Enak, sih. Yang menariknya adalah, saya tidak terlalu mencarinya sejak merantau ke Pulau Jawa. Dan akhirnya semakin terbiasa setiap kali membeli nasi goreng rombong, yang saya terima adalah nasi goreng hitam. Alias nasi goreng kecap.

Nah, di Jawa Timur inilah saya baru menemukan kembali nasi goreng yang selama ini telah hilang (halah). Yaitu, nasi goreng berwarna merah karena dominasi sausnya.

Pecel.

Yang ini mestinya pecel beneran. Bukan pecel lele, pecel ayam ala-ala Jawa Barat yang sebenarnya adalah “penyetan” disebutnya di tanah Jawa Timur. Bermodal kol, timun, kemangi, pedagang Jabar malah menyebutnya “Pecel”. Sedangkan pecel Jatim utamanya adalah sayuran, dengan bumbu saus kacang. Bisa pakai telor mata sapi, lele goreng, atau lauk yang lainnya. Yang paling utama dan membedakan terletak di bumbu kacangnya itu. Actually, pecel itu jagoannya Madiun, tampaknya. Pecel Madiun, tho?

Rawon dan Soto

Rawon itu enak. Tapi kehadirannya tidak semasif soto. Sama-sama lebih banyak kuah daripada nasi dan dagingnya. Ini memang usaha berbahan dasar air. Hehehehe.

Sudah tahu belum, sejarah per-soto-an nusantara? Kalau belum tahu, ceritanya begini. Di masa sulit kala perang masih berkecamuk di nusantara, bahan pangan adalah sangat terbatas sekali kalau tidak bisa dikatakan amat sangat terbatas sekali banget. 😀 Lantas, apa yang dilakukan para keluarga? Seekor ayam sesungguhnya hanya cukup untuk sekali makan bagi sebuah keluarga dengan ayah+ibu+2 anak. Namun, dengan kreativitas dan inovasi terciptalah resep soto ayam yang luar biasa menyelesaikan banyak permasalahan tersebut. Sebab, satu ekor ayam, daripada hanya habis dalam sekali waktu makan saja, malah bisa habis dalam 3 kali waktu makan. Caranya bagaimana? Ya buatlah Soto Ayam.

Apakah ada sejarah soto yang lain? Coba share di comment ya.

Pergaulan

Location.

Asalnya dari mana? Bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan di Tanah Sunda. Asal-muasalnya adalah logat saya yang tentu saja bukan logat tanah Jawa. Sebab itu mereka bertanya demikian. Awalnya terasa kurang ajar. Pikiran-pikiran semisal, “belum dekat kok udah tanya”, atau “Saya kan cuma beli nasi goreng gerobak pinggir jalan; ada apa pakai ditanya ini segala”. Tentu saya tidak blak-blakan seperti itu. Sekedar lintasan pikiran saya sahaja.

Kemudian saya menjadi ingat akan perkenalan dalam bahasa Inggris yang diajarkan kepada kita kala masa SD dahulu. Where do you come from? Ditanyakan setelah bertanya what is your name?. Demikian pula tatkala memperkenalkan diri. Setelah nama, perkenalkan dari mana dirimu berasal. Hehehe. Ini yang agak sulit buat saya pada awalnya. Bahwasanya meladeni pertanyaan darimana asal merupakan sebuah upaya yang entah apa gunanya bagi sang penanya. Karena apa yang ingin mereka tahu? Suku saya kah? Tempat lahir saya kah? Atau, di manakah saya tinggal belasan tahun terakhir ini? Dan seterusnya.

Cangkrukan

Mungkin benarnya ditulis cangkru’an kali ya? Apapun itu cara menulisnya, tetapi budaya hang out ini ya memang ada di mana-mana di negeriku tercinta Indonesia. Risetnya MTV (Music Television) dulu hebat banget berarti, ya. Mereka menemukan bahwasanya orang-orang Indonesia itu suka nongkrong. Sebab itu mereka memberikan panggilan/julukan “Anak Nongkrong” kepada para pemirsa MTV-nya.

Oiya, di sini cangkru’an-nya lebih merakyat daripada Bandung. Warung kopi-nya ada WiFi, terus banyak banget yang buka 24 jam. Apalagi di daerah mahasiswa seperti di sekitar UNAIR, atau UPN.

Masjid

Di kota ini, pemegahan masjid-masjid sangat terasa sekali. Gayung donasi pembangunan masjid yang disuarakan oleh DKM Masjid memang bersambut oleh wakaf dari para jamaah. Apalagi ini menjelang Bulan Ramadhan. Masjid-masjid seakan berlomba bermegah-megahan antara satu dengan yang lainnya. Tambah dinding kaca lha, tambah AC, lha. Dan demikian tiada henti-hentinya.

Bahkan masjid yang biasa saya shalat jumat tidak tanggung-tanggung dalam menghendaki donasi. Pasca imam shalat jumat mengucapkan salam yang kedua kali, seorang pengurus DKM langsung menempati mimbar. Pasca pembukaan pengumuman barang 1-2 kalimat, langsung beliau ceritakan perkembangan pembangunan masjid tersebut. Bahwasanya ini sudah selesai, itu menjadi agenda pekerjaan renovasi berikutnya, saldo keuangan saat ini tinggal sekian, sementara agenda renovasi berikutnya memerlukan dana sekian, maka masih ada kekurangan sekian yang beliau harapkan dapat ditutup oleh donasi para jamaah.

Saya tidak antipati terhadap renovasi masjid menjadi megah, bagus, dan seterusnya. Namun saya kira, donasi harus berimbang pula peruntukannya. Tidak semata untuk infrastruktur, melainkan juga pengembangan mental dan ilmu para jamaah itu sendiri. Kalau fisik kan terlihat ya, dan terukur (baca: tersampaikan informasinya kepada para jamaah) pula kebutuhan dananya. Agak berbeda dengan yang sifatnya intangibles tersebut.

Simpulan 

Oke. Waktunya kesimpulan. Pertama, mari kembali ke judul. Apa kaitan judul tersebut dengan tulisan ini sendiri? Kaitannya adalah …. TIDAK ADA! :d Kedua, apa maksud judul tersebut? Tadinya ingin mengungkap Soerabaja dalam seriboe kata. Apa daya hanya sanggup 833 kata saja.

Ya begitulah ungkapan dari saya mengenai Kota Sura dan Buaya. Mudah-mudahan di lain waktu masih ada kesempatan untuk mengungkap isi hati ini kepadanya mengenai Surabaya.

Respek Terhadap Partner Bisnis


Respek berarti menaruh hormat. Dalam dunia usaha, respek sangat diperlukan. Sebab jika hanya berorientasi pada keuntungan uang semata, usaha tidak akan berjalan panjang. Jangan ambil uangnya doang, hormati juga orangnya. Ada beberapa pihak yang sangat perlu mendapat respek dari pelaku usaha. Yaitu pelanggan/pembeli, prinsipal/distributor (dalam perkara mendistribusikan), maupun supplier (penyedia bahan baku pabrik).

Respek Terhadap Pelanggan

Saya tempatkan sebagai yang pertama. Tidak melulu mengenai untung dan rugi. Melainkan tentang hubungan jangka panjang. Percuma hari ini untung, apabila hubungan jual beli kemudian terputus. Hubungan baik dengan pelanggan adalah bagian dari layanan (service) kepada pelanggan. Layanan semacam ini menjadi penyelamat apabila ada brand lain yang lebih kompetitif daripada brand yang kita kelola dari segi manfaat fungsional (functional benefit) maupun harga (price).

Respek terhadap pelanggan salah satunya berupa kepedulian maksimal kita terhadap produk yang kita buat. Ada banyak tools yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Misalnya TQM (Total Quality Management). Namun tidak ada yang lebih rumit dari para manusia itu sendiri. Sehingga kualitas harus diangkat menjadi sebuah budaya perusahaan. Mengenai hal ini, Bapak Azhari Sastranegara memiliki argumennya sendiri:

Filosofinya, 1 produk cacat dalam sejuta produk dari sisi produsen adalah tingkat kegagalan 1 ppm, tapi dari sisi sang pemakai yang hanya membeli satu produk tingkat cacatnya adalah 100 persen.

Poin terakhir itulah yang membuat betapa pentingnya kualitas produk. Bahwa produk yang kualitasnya buruk, dapat berdampak fatal bagi pengguna. Dalam kasus manufaktur mobil, dampak fatal tersebut berupa kematian pengguna.

TOYOTA WAY adalah budaya perusahaan manufaktur tingkat dunia. Banyak yang bisa kita pelajari dan tiru dari budaya ini. Prinsip pertamanya berbunyi, pondasikan keputusan manajemen pada pertimbangan filosofis jangka panjang, bila perlu mengorbankan kepentingan finansial jangka pendek. Maksudnya adalah hubungan jangka panjang lebih utama daripada laba sesaat.

Baru-baru ini ada kasus recall mobil-mobil Honda. Manufaktur mobil tingkat dunia tidak ingin mengorbankan corporate brand-nya yang mungkin rusak karena air bag yang kualitasnya kurang baik. Sebab keamanan perjalanan adalah nomor satu. Untuk apa segala tetek-bengek kecepatan, kenyamanan, dan lain sebagainya bila keamanan menjadi prioritas nomor sekian?

Terkait hail ini, tiba-tiba teringat quote dari Pak Ignasius Jonan.

Lebih baik tidak pergi (berkendara), daripada tidak pernah kembali.

Kembali mengingatkan kita, bahwa keamanan adalah segalanya.

Dari ketiga kata yang dimilikinya, manajemen kualitas secara menyeluruh, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)

Service and Complaint Handling

Respek kedua terhadap pelanggan, yaitu berupa complaint handling.

Jadi menurut pengalaman penulis, kekecewaan pelanggan selain datang karena barang yang kualitasnya tidak sesuai dengan harapan, tetapi juga pelayanan buruk dari perusahaan itu sendiri. Itulah mengapa yang kita letakkan sebagai hal pertama yang harus mendapat respek adalah kualitas produk.

Berikut 6 langkah ideal dalam menangani komplain dari pelanggan.

  1. mendengarkan
  2. klarifikasi
  3. menjelaskan
  4. meminta maaf
  5. persetujuan
  6. tindakan

Respek Terhadap Partner Distributor/Partner Prinsipal

Kerja sama dalam mengelola wilayah guna mendapatkan angka penjualan. Baik dalam peran sebagai distributor, atau peran sebagai principal. Sering kita mendengar bahwa keterbatasan wilayah yang dikelola oleh distributor, serta keunikan produk yang dimiliki oleh principal, menjadi awal dari sebab-musabab principal “menginjak-injak” distributor.

Padahal distributor, melalui hubungannya dengan para pembeli, ada kalanya mampu menemukan insight-insight menarik dari para konsumen yang tentu saja akan berdampak positif bagi principal apabila aspirasi tersebut disampaikan secara tepat.

Peran inilah yang seharusnya dijalankan dengan baik oleh TSS maupun ASM. Yakni menjadi lidah penyambung teman-teman distributor kepada brand management di kantor pusat. Ini adalah peran yang sedikit berat. Meningat posisi TSM dan ASM merupakan ‘teman’ sekaligus ‘atasan’ bagi teman-teman dari perusahaan distributor. Di satu sisi harus mampu menekan distributor, namun di sisi lain berperan sebagai rekan kerja dalam mengelola wilayah penjualan.

Respek Terhadap Supplier

Tentu supaya supplier selalu mengusahakan yang terbaik untuk kebutuhan kita.

Bisa pula kita lakukan competitor intelligence melalui pihak ketiga, yaitu supplier. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengorek informasi dari supplier tentang bahan baku (raw material) apa saja yang dibeli oleh para kompetitor.

Saya kira, hal demikian tidak berarti tidak respek terhadap supplier.

Mari bahas beberapa etika-etika dalam berbisnis yang berlaku universal, namun tetap relevan dalam bersikap hormat/respek terhadap para partner kita.

Etika Bisnis

Jujur ketika berkomunikasi atau bersikap.

Kejujuran merupakan salah satu poin penting untuk menyukseskan usaha sekaligus membangun kepercayaan klien. Kita wajib bersikap jujur dalam segala hal, mulai dari sekadar memberikan informasi hingga ketika menganalisa kekurang perusahaan yang dipimpin. Tidak jujur bisa diartikan sebagai melakukan manipulasi terhadap informasi.

Saya kira, kita perlu sangat berhati-hati namun tetap mengambil celah dalam berkomunikasi. Sebagai penjual, tentu kita akan memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin, namun tetap tidak mengada-ada. Andaikan ada kekurangan sekalipun (pasti ada, sih) harus pula kita sampaikan secara baik sehingga tidak tercitra negatif.

Integritas

Integritas sendiri diartikan sebagai konsistensi dan sinkronisasi antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Bisa juga kita lihat dari sisi pemenuhan janji serta komitmen yang dibuat. Janji tidak boleh sembarang dibuat, namun pasca pengucapannya harus diikuti oleh komitmen untuk dapat memenuhi janji tersebut sebaik-baiknya.

Loyal kepada Pelanggan

Saat brand yang kita besut mulai dipercaya oleh pelanggan, sejak itulah brand kita wajib menjawab kepercayaan tersebut dengan respek yang tiada henti melalui standardisasi. Kualitas produk, layanan dan sebagainya harus punya standard dan tidak boleh turun sama sekali.

Kepedulian/Empati

Baik berangkat dari kebutuhan (needs), kegelisahan (anxiety), atau tidak dari keduanya, brand harus menunjukkan kepedulian dan perasaan simpatik, terlebih lagi empati.

Penghargaan

Brand juga harus bersikap profesional dengan tidak membedakan perlakuan kepada pelanggan berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, maupun kewarganegaraan.

Kunci Sukses Area Sales Manager


Kunci sukses adalah key of success. Hehehe. Guyonan lama.

Dalam bahasan kita kali ini, industri paling ekstrim yang kita jadikan kiblat adalah FMCG (Fast Moving Consumer Goods). Beda produk, maka detil-detil kunci suksesnya akan berbeda lagi.

Area Sales Manager

Mari kita coba uraikan seperti apa aktivitas harian dari seorang ASM sehingga kita bisa pula merumuskan kunci-kunci seorang ASM yang sukses. Salah satu di antaranya customer visit.

  • Hands-on Approach. ASM tentu harus melakukan joint visit juga, alias turun tangan terjun ke lapangan bersama Territory Sales Supervisor (Territory SS). Dalam bab leadership, ini termasuk coaching. Saya sebut ini sebagai bimbingan teknis. Ada satu lagi manfaatnya, yaitu kontrol terhadap proses kerja TSS. Harus diingat bahwa sebagai ASM tidak bisa hanya sesekali turun ke lapangan. Harus sesering mungkin dalam rangka mengunjungi outlet atau bertemu dengan distributors/dealers. FYI, separuh gaji dari mereka yang bekerja di bidang penjualan adalah untuk membangun hubungan dengan distributor/reseller. Termasuk di antaranya adalah dimarahi oleh pelanggan.
  • Needs Daily Motivation. Menjual itu pekerjaan yang berat. Karena KPI-nya tidak 100% di tangan kita. Sebagian di tangan pembeli. Which is, ada kalanya pembeli sedang tidak mau membeli dari kita. Ditolak pembeli dan tidak mencapai target penjualan itu bisa sangat menurunkan motivasi kerja kita. Sebab itu, seorang ASM selalu/kadang-kadang memberikan pelatihan yang sifatnya mengembangkan keterampilan pekerjaan sehari-hari atau menyemangati anggota tim penjualan lewat kata-kata motivasi.
  • Lead by Example. ASM yang kinerjanya bagus akan mempengaruhi kinerja para TSS-nya. Dan sebaliknya, buruknya performa ASM akan turut menurunkan tingkat penjualan para TSS yang dinaungi. Meskipun bila tadinya para TSS ini adalah para salesman jempolan. Sebagai leader, ASM harus memberi contoh yang baik dalam menjalankan profesi salesman.

Mari kita ingat kembali bahwasanya tugas utama kantor cabang adalah perpanjangan tangan penjualan dari markas pusat. Maka dari itu wilayah penjualan dibagi-bagi. Supaya tim penjualan fokus menangani wilayah masing-masing. Namun untuk menyukseskan penjualan tersebut, ada beberapa fungsi yang harus dijalankan oleh kantor cabang.

Kantor Cabang Prinsipal

Apa saja peran dan posisi yang ada di kantor cabang?

Kantor cabang ada beberapa fungsi. Yaitu fungsi (1) pergudangan, mengelola inventory. Fungsi (2) keuangan, yang mencatat pemasukan (masih berupa piutang ketika transaksi terjadi) dan pengeluaran produk (berapa rupiah, berapa banyak, dikirim ke mana, dst). Pada batas berapa rupiah, piutang suatu toko/outlet tidak boleh ditambah lagi, dst. Penagihan juga harus dilakukan dalam frekuensi yang teratur. Selain mencegah bertumpuknya piutang outlet, juga untuk memenangkan perebutan uang kontan yang dimiliki oleh toko.

Serta yang paling utama tentu saja adalah fungsi (3) penjualan itu sendiri. Di sinilah pemegang posisi jabatan ASM dan TSS bekerja. Ukurannya adalah Purchase Order (PO). Dokumen yang mencatat jenis, jumlah, dan nilai pemesanan/pembelian dari pelanggan. Berikut adalah gambaran lebih detil:

Territory Sales Supervisor (TSS)

Posisi ini ada di prinsipal, alias perusahaan/pabrik yang memproduksi barang serta membangun brand produk. Fungsi dan aktivitas kerja sales marketing adalah bersama-sama dengan distributor dalam menggarap wilayah penjualan yang telah ditetapkan. Bisa dikatakan, tugas TSS adalah menekan perusahaan distributor untuk membeli sebanyak-banyaknya (distributor kemudian juga menekan outlet untuk mengambil order sebanyak mungkin). Namun, seorang TSS juga harus bijak dalam menghentikan purchase order (PO) tersebut. Jangan sampai, order-order tersebut tidak bisa ditagih uangnya, karena tidak cukup terserap oleh pasar.

Tingkat pertumbuhan penjualan tertentu, yang jauh di atas rata-rata prediksi dan rencana penjualan yang disusun di awal tahun, tidak bisa dicapai dengan memaksimalkan promosi diskon semata, atau merenggut pangsa pasar (market share) milik kompetitor saja. Melainkan juga perlu membuka daerah baru yang belum terjamah sama sekali oleh tim penjualan kita.

Selling Skill

Ada beberapa alasan/kemampuan untuk menjadi seorang territory sales supervisor/area sales manager.

  • Misalnya, suka menjual kepada orang lain. Kalau kamu termasuk tipe yang bangga dan senang apabila berhasil menjual sesuatu kepada orang lain, kemudian menganggap hal tersebut sebagai kesuksesan, maka kamu akan cocok menjadi sales supervisor.
  • Ketika proses interview penerimaan karyawan di bidang penjualan, sebaiknya tidak menjawab “Saya mau jadi salesman karena saya tidak menyukai bekerja di laboratorium”, ya. Jawaban tersebut belum tentu membuktikan bahwa kamu akan menjadi salesman yang bisa diandalkan. Masih ada beberapa indikator lain yang harus kamu buktikan.,
  • Menjadi salesman harus fleksibel dalam membangun dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Mampu menganalisis profil lawan bicara, sehingga tahu harus memberi tanggapan yang tepat. Ibarat kata, menjadi salesman tetapi kaku dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, hanya menggali lubang sendiri. Karena bisa membawa kegagalan pada proses penjualan.
  • Manajemen persediaan (stock management). Jangan bangga dengan produk yang laku terjual hingga stoknya kosong. Justru itu artinya adalah kita masih belum mampu mengelola persediaannya dengan tepat.
  • Sepertinya lebih banyak urusan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pelanggan. Namun yang sering dilupakan adalah bahwasanya pekerjaan ini menuntut kemampuan berhitung pula. Tidak asal menjual, tapi menjual hanya kepada mereka yang bisa membayar manakala ditagih. Pekerjaan ini merupakan bauran antara urusan dengan makhluk hidup dan urusan dengan angka-angka.

Dalam berbagai proses konsultasi penjualan yang saya tangani sendiri, ada kalanya proses yang sudah maksimal pun belum tentu membuahkan hasil sesuai harapan. Namanya saja berbisnis dan berjualan, di satu waktu kita berhasil menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Di waktu yang lain kita gagal mencetak omzet. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa produk yang gagal terjual di pasar, tidak melulu menjadi kesalahan tim penjualan.

Penyebab Produk Tidak Laku

Ada beberapa kendala mengapa pasar tidak menyerap produk yang telah kita buat (baca: produk tidak laku). Dan hal ini tidak melulu salah tim penjualan. Berikut beberapa kemungkinan kesalahan yang perlu diperbaiki.

  • Pasar belum mencoba. Sehingga pasar harus dibuat mencoba produk tersebut. Masukilah pasar misalnya dengan diskon 50%. Atau free trial. Bisa juga metode lain yang diujicobakan. Intinya pasar bisa menilai dengan lebih objektif setelah merasakan sendiri.
  • Komunikasi belum tepat. Produk/layanan belum dikomunikasikan dengan tepat kepada segmen target. Bisa jadi konten atau konteks komunikasi yang harus diubah, atau segmen target-nya yang diubah.
  • Channel-nya belum tepat. Tidak hanya komunikasi kepada segmen yang tepat penargetannya, tetapi juga bagaimana channel-nya supaya segmen tersebut bersedia mendatangi channel yang telah ditentukan sehingga melakukan pembelian di sana.

Tiga poin yang baru saja tersampaikan bukan merupakan ranah pekerjaan tim penjualan. Ketiganya merupakan tanggung jawab brand management atau product management.

Demikian bahasan singkat mengenai titik-titik krusial dalam mencatatkan keberhasilan penjualan. Semoga uraian pendek ini bermanfaat bagi teman-teman yang berkarir di bidang penjualan.

 

Mengapa Memilih Marketing


Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kebingungan. Dan membutuhkan pandangan yang komprehensif sehingga yang bersangkutan dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Ada tiga pihak yang biasanya bingung.

  • Pertama, adalah mereka yang mendapat penugasan untuk membuat esai terkait manajemen.
  • Kedua, adalah mahasiswa strata satu yang bingung ingin mengambil konsentrasi yang akan didalami sekaligus sebagai bidang tugas akhirnya.
  • Ketiga, mirip dengan yang kedua, adalah mahasiswa master bisnis dan manajemen yang ingin menentukan konsentrasi yang tepat untuk dirinya.

Kali ini, saya ingin mengulas tentang konsentrasi manajemen pemasaran saja.

Penyebutan ‘pemasaran’ rasanya kurang gimana gitu ya. Kalau disebut ‘marketing’ rasanya lebih keren. Makanya judulnya jadi begitu.

Kalau sudah kelihatan lebih keren, boleh dong minta ‘argo’-nya dinaikkan sedikit.

Sama seperti ‘kopi susu pake es’ paling harganya Rp5.000, tapi kalau ‘iced coffee milk’ atau ‘frappucino’, atau ‘frappe’ harganya paling murah Rp25.000. Karena pakai bahasa internasional, jadi sudah lebih keren, boleh dong argo naik.

That’s the power of copywriting. (mudah-mudahan ada kesempatan untuk membahas ini kapan-kapan). Tagih saya ya kalau belum dirilis juga 😀

Bicara marketing, berarti bicara branding. Semua alasan yang saya kemukakan di bawah ini berkait dengan branding. Kecuali saya sebutkan mengenai sales (penjualan), atau omzet.

Branding. Bagi saya, branding artinya cuma ada tiga.

  • Pertama, membuat yang belum tahu menjadi tahu.
  • Kedua, membuat yang sudah tahu menjadi mencoba.
  • Ketiga, membuat membuat ya g sudah mencoba untuk kemudian membeli banyak lagi. Jangan khawatir, eksekusinya bisa dipisah-pisah, kok.

Salah satu elemen branding adalah pricing. Jadi dengan pricing, kita bisa mem-branding-kan lebih berbeda dibandingkan dengan brand kompetitor.

Pricing Strategy

Price itu harus ada polanya dah harus menjawab pertanyaan ‘mengapa harganya segitu?’ atau pertanyaan lain ‘apa saja produk/layanan yang didapat dengan harga segitu?’ Dengan bahasa lain, gw dapat fitur apa aja kalau bayar segitu? Alias, SLA-nya bagaimana ketika harganya segitu? Service Level Agreement.

Pricing tidak bisa main-main. Ada caranya. Penetapan harga harus melalui beberapa tahap. Pertama daya beli pelanggan. Ini masuk di ranah segmentasi dan targeting. Kedua, penyusunan definisi benefit and cost. Cara penetapan harga yang seperti ini, berarti tidak memandang dari berapa persen marjin laba yang ingin diambil, atau berapa rupiah yang akan diperoleh.

Value (=benefit/cost) yang diterima oleh pelanggan adalah hasil bagi antara benefit dengan cost. Konsumen pasti membanding-bandingkan. Makanya, hati-hati dengan kebiasaan pelanggan yang suka cek toko sebelah.

Contoh. Di supplier A, barang ini harga sekian. Di toko B, barang yang sama persis harganya lebih mahal. Tapi toko B, komitmennya 24 jam sehari 7 hari seminggu. Lebih baik dibanding toko A yang hanya melayani di jam kerja.

Nah, terus bagaimana? Di satu sisi, harga harus cukup tetap (fixed). Supaya tidak membingungkan konsumen. Di sisi lain, konsumen (terutama B2B) suka minta turun harga. Maka solusinya adalah  penawaran kita harus memiliki rentang harga.

Ini lain hal ya, kalau harga sudah kaku banget di pasar. 

Ono rego, ono rupo (pepatah Jawa). Ada harga, ada rupa.

Channel.

Channel adalah tempat terjadinya transaksi dengan konsumen. Jadi buyer membeli dari kita. Pembayaran bisa kontan, cicil, atau tempo. Jadi channel ini berfungsi sebagai pemetik omzet. Bentuknya bisa berupa usaha distribusi (wholesaler, sub distributor, agen, reseller, dsb), bisa juga kantor cabang. Atau retail (minimarket, supermarket, hypermarket, dll).

Teman-teman di marketing/branding berperan dalam menciptakan demand (permintaan). Tim Branding yang terutama bekerja dari kantor pusat, tidak sekedar menghambur-hamburkan anggaran komunikasi. Yang harus mereka lakukan adalah mempromosikan barang atau jasa tersebut sehingga tercipta demand atas keduanya.

Selain menjadi ‘lokasi peperangan’ sesungguhnya, channel adalah lokasi di mana brand juga harus dibangun fondasinya dan dikembangkan lebih lanjut.

Bila berperan sebagai distributor atau retailer, rantai suplai (supply chain) adalah sangat penting. Ini adalah ilmu yang tidak kalah penting. Semisal untuk mengetahui berapa banyak stok yang harus tersedia, atau sebaliknya, berapa minimum inventory yang harus disediakan, dan seterusnya.

Jangan bangga dengan stok yang habis. Bukan berarti anda berhasil menjual. Arti sebenarnya adalah anda gagal mengelola stok — stock management.

Seriously, supply chain does matter. Even more matters than branding

Alasan ketiga.

Dunia marketing itu sangat dinamis dan kompetitif.

Mengapa? Hampir setiap saat lahir produk baru. Semua pemain, baik baru atau lama, berlomba-lomba merilis produk baru. Entah itu sebagai pesaing produk yang sudah ada, atau itu mengambil celah sebagai produk/layanan substitusi, dst.

Namun di saat yang sama, ada beberapa brand yang tidak bisa lagi diterima pasar, atau memang sengaja dimatikan oleh produsennya. Sebab kebutuhan atau keinginan pasar sudah berubah. Sehingga brand-nya jadi irrelevant.

Tugas marketer adalah membuat brand selalu relevant dengan keadaan pasar. Relevan di sini, memiliki dua arti:

  • Mampu memenuhi kebutuhan/keinginan pelanggan. Marketer harus bersikap awas terhadap tren yang terjadi. Apakah terjadi pergeseran tren, atau munculnya barang atau layanan substitusi.
  • Tetap kompetitif dibandingkan dengan kompetitor. Baik harga maupun fitur yang ditawarkan.

Oleh sebab itulah, produk baru semakin sulit memasuki pasar dan bertahan di dalamnya.

Tahun 2015 yang lalu, saya dengar dari seorang direktur di industri consumer goods. Katanya tingkat keberhasilan produk baru saat itu adalah 16%. Dengan kata lain, hanya 1 di antara 6 produk baru yang akan berhasil bertahan hidup di pasar.

Dunia bisnis dan utamanya penjualan tidak pernah semudah sebelumnya. Lingkungan bisnis semakin kompetitif. Tidak hanya kehadiran produk substitusi, tetapi juga situasi-situasi baru yang bersifat disruptif, seperti internet misalnya. Bagaimana mengintegrasikan internet menjadi sebuah channel tempat konsumen bertransaksi atau media membangun brand (misalnya pengembangan konten khusus untuk brand itu sendiri).

Untuk brand yang sudah lama di pasar dan seakan-akan tidak tergoyahkan, harus tetap berhati-hati. Jangan seperti Kodak yang sadar bahwa perubahan teknologi suatu saat akan mengirimkan tsunami yang berbahaya bagi perusahaan — namun tetap tidak mengeksekusi suatu inisiatif yang berdampak signifikan.

Kisah seputar marketing.

Alasan keempat. Narasi yang menyertai marketing itu sendiri.

Siapa yang pernah melupakan kisah peperangan pemasaran antara Indomie versus Mie Sedaaap?

Atau bagaimana Barrack Obama memenangkan pemilu amerika serikat? Dan seterusnya.

Ada banyak sekali masalah (dan problem solving) dalam strategi marketing yang menyampaikan cerita yang menarik dan secara tersirat mengajarkan kita tentang ilmu yang bermanfaat.

Link

Seluk-Beluk Freelance Marketing


Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target 1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar 50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post: