Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda


oleh:  Monika Pury Oktora

cover-groningen-moms-journal

Kalau ditanya apa bedanya kuliah di Belanda dan Indonesia tentu akan BEDA. Akan banyak pula poin yang terurai dari tulisan saya ini mengenai perbedaan tersebut, tentunya itu subjektvitas saya pribadi. Perspektifnya akan sempit karena saya hanya mengambil merasakan kuliah di salah satu jurusan dan di salah satu univ di Belanda. Padahal banyaaak sekali jurusan/fakultas yang tersebar di kota-kota Belanda. Beda pengalaman, beda pribadi, beda komunitas, dan beda-beda lainnya akan menghasilkan respon yang berbeda.

Oleh karena itu, saya melemparkan pertanyaan singkat pada teman-teman saya di Belanda yang sedang/pernah menjalani perkuliahan di Belanda. Kemudian semuanya saya rangkum di sini.

  1. Tantangan Berbahasa

Pengalaman dan tantangan yang didapat tentunya lebih banyak ketika menjalani perkuliahan di Belanda, salah satunya dari segi bahasa. Untungnya di Belanda banyak kelas internasionalnya. Jadi kita gak perlu menguasai Bahasa Belanda dulu untuk bisa kuliah di sini, Bahasa Inggris pun sudah cukup. Tapi.. tetap saja kita harus punya effort lebih besar untuk ini. Misalnya untuk menyerap materi kuliah/mendengarkan dosen ketika di kelas atau membaca paper dan textbook. Kuliah di Indonesia ya tentu kita nyaman bias baca buku kuliah, slide dosen, modul-modul dengan Bahasa Indonesia (Walaupun ada juga sih textbook Bahasa Inggris, tapi kan tidak untuk semua mata kuliah). Di Belanda sini, ya harus siap menghadapi tantangan Bahasa internasional. Tidak semua orang juga diberikan kelebihan untuk jago berbahasa. Bisa nembus IELTS/TOEFL yang disyaratkan oleh univ juga perjuangannya udah lumayan, pas sampai di lapangannya lebih lagi perjuangannya. Terutama dalam menulis report/paper dalam Bahasa Inggris.. beuuh.. tidak segampang menulis puisi buat kecengan. Nulis dalam Bahasa Indonesia aja masih salah-salah apalagi dalam Bahasa Inggris? Oiya ditambah jika ada tugas presentasi. Pasti kerasa deg-degan, takut belepotan pas ngomong, bisa-bisa yang keluar dari mulut beda sama yang dipikirin di kepala.

  1. Etos kerja

Perbedaan budaya dan etos kerja. Di Belanda, orang-orangnya suka berdiskusi open mind. Etos kerja orang Belanda itu efisien dan efektif, ga suka bertele-tele, to the point dan padat berisi dalam menyampaikan sesuatu. Kalau suka mereka bilang suka kalo engga ya juga bilang dengan jelas, ga ada “ga enak-an” seperti orang Indonesia. Kita jangan tersinggung kalau mereka jujur apa adanya. Mereka juga fair kok, misalkan di satu bidang kita ada baru gontok-gontokan diskusi, pas jam istirahat biasa lagi kayak ga kejadian apa-apa. Etos kerja yang suka berdiskusi ini jadi membuat mahasiswa lebih bisa eksploratif dan lebih banyak membaca ketika studi.

  1. Budaya

Kita bertemu dan bekerja dengan berbagai macam mahasiswa dari negara yang beda-beda. Biasa ngomong lu-lu gue-gue, ketika di Belanda jadi harus lebih bisa membaurkan diri ke dalam pergaulan tersebut. Gimana kita bisa diterima dengan baik, tanpa ikut terseret oleh kultur dan kebiasaan tidak lazim yang berbeda dengan kita. Tapi tentunya kita juga jadi belajar lebih tepo seliro sama yang beda budaya. Sama sih di Indonesia juga sebenarnya ketika masuk ke univ tertentu ada yang dari Jawa, dari Sumatera, dari Kalimantan. Cuma karena masih sama-sama anak Ibu Pertiwi ya.. masih berasa di “rumah”lah. Tapi kalo dah ketemu orang dari kebangsaan beda-beda, bahasa beda, lifestyle beda.. Takutnya jadi gegar budaya, culture shock bahasa kerennya. Ga sedikit lho mahasiswa Indonesia yang culture shock, baik yang jadi ga betah karena homesick atau sebaliknya malah jadi overgaul melampaui tatakrama/etika/agama yang dulu sangat kental dipegang saat masih di Indonesia.

  1. Pemahaman konsep

Perbedaan lain yang mendasar. Kuliah di sini lebih mementingkan pemahaman konsep. Kuliah tidak hanya dibebankan sama ujian doang. Kalau di indonesia pernah pengalaman suatu kuliah, hasil akhirnya terlalu dititikberatkan sama ujian, padahal pemahaman konsepnya kurang. Jadilah ujian seperti sesuatu momok yang menakutkan. Gak penting lagi paham atau tidak konsepnya yang penting ujian bagus. Ujian di Belanda juga tetep momok sih.. tapi setidaknya outcome dari kuliah ga cuma dari ujian. Ada presentasi, ada assignment, dan tentunya si assignment itu dibuat untuk kita agar lebih paham konsepnya.

  1. Cara mengajar dosen

Masih nyambung dari poin nomor 4. Lebih kerasa di sini kalau tujuan si dosen ngajar lebih ditekankan agar mahasiswanya mengerti. Mereka gak pernah merendahkan studentnya walaupun studentnya nanya pertanyaan-pertanyaan dasar gitu. Prinsipnya kan: “There is no stupid question.” Bahkan kalo kita masih ga paham, dosen bersedia ngajarin di luar jam ngajarnya, tentunya dengan appointment terlebih dahulu.

  1. Fasilitas

Mungkin poin ini yang akan jadi jurang perbedaan yang cukup siginifkan antara kuliah di Indonesia dan di Belanda. Selama kuliah di Belanda, terasa lebih fokus dalam menjalani perkuliahan. Bahan bacaan lebih kaya, jurnal internasional dengan mudah bisa diakses, textbook banyak tersedia di perpus, atau bisa juga beli second atau baru secara online, dengan harga terjangkau. Ini baru soal bahan bacaan.. Kalau soal fasilitas berupa mesin, alat elektronik, perangkat lab, yaaa.. bersyukur banget bisa nemuin rupa-rupa kelengkapan seperti itu. Tentunya salut pas kuliah di Indonesia, dengan fasilitas yang mungkin seadanya, tapi tetep bisa mengerjakan penelitian atau tugas dengan hasil yang bagus.

  1. Egaliter

Ini yang mungkin kerasa berbeda ya dengan Indonesia. Di sini dosen dan mahasiswa ga berasa ada jarak. Manggil professor dengan nama depannya ya biasa, ga pake sir atau mister. Sering kan denger kalo di Indo tu orang ngorol sama professor senior: “Iya prof..” “Oke, prof..” dan prof-prof lain di belakang kalimat. Rasanya geli juga kadang. Di sini ga ada titel-titel gitu disangkutin dipercakapan atau di email. Semuanya sama. Tapi bukan berarti kita jadi kurang ajar juga. Mengacu pada etos kerja yang suka berdiskusi tadi, mahasiswa maupun dosen bebas berekspresi mengeluarkan pendapatnya di forum-forum diskusi. Gak ada tatapan merendahkan dari mereka kalau student mau bertanya, mendebat, atau mengekspresikan ketidaksetujuan.

  1. Mandiri

Jadi mahasiswa di Belanda harus proaktif dan mandiri. Ga ada tuh yang namanya diingetin sama dosen tentang kapan ujian, harus ngumpulin tugas, atau dikejar-kejar untuk nyelesain thesis. Semua informasi tentang perkuliahan biasanya sudah terintegrasi lewat portal kampus dan email. Jadi harus sering-sering cek email dan portal kampus untuk lihat apakah ada jadwal yang berubah, kapan tugas harus dikumpulkan, kapan meeting dengan departemen dll. Waktu kuliah di Indonesia, walaupun punya dosen cuek, tapi setidaknya masih punya temen yang care ngingetin kita kalau kita bolos kuliah, kalau kita lupa bikin tugas. Di Belanda? Ya lu-lu gue-gue dong, masa sudah besar masih harus diingetin. Oiya untuk pengerjaan tugas juga, dosen akan membebaskan kita mengeksplorasi bahan.. Dosen gak akan nuntun satu-satu dan ngontrol detail semua hasil kerja kita. Mereka percaya kita bisa ngerjainnya dan kita juga jadi lebih bertanggungjawab akan kerjaan kita.

  1. “You did a good job!”

Ini yang patut ditiru. Selama kuliah di Belanda, selalu ketemu dosen-dosen yang sangat menghargai hasil kerja studentnya. Ketika kita telah selesai mengerjakan tugas, melaksanakan presentasi, atau merampungkan paper, komen mereka pertama kali adalah “You did a good job!” yang terdengar tulus. Kemudian mereka baru memaparkan apa positif dan negatifnya dari pekerjaan yang sudah kita buat. Tapi intinya mereka sangat menghargai hasil jerih payah kita. Mereka ga minim akan pujian kok. Yang seperti ini bikin mahasiswa jadi termotivasi dan merasa dihargai.

  1. Resource bagi universitas

Khusus untuk mahasiswa S3 atau PhD, perbedaan yg paling terasa adalah di Belanda ini, PhD student itu dianggap sebagai sebagai resource kampus. Artinya mereka bukanlah sekedar “murid biasa”, tetapi statusnya dianggap sebagai pegawai, yang menghasilkan sesuatu untuk kampus, yang keberadaannya dibutuhkan oleh universitas dan profesor. Bahkan mahasiswa S2 juga sering dilibatkan sebagai resource kampus.. Seperti ikut menjadi bagian dalam research mahasiswa S3.

Nb: ketika saya menuliskan Belanda bukan berarti seluruh univ di Belanda seperti tersebut. Ini hanyalah rangkuman dari pengalaman teman-teman yang saya tanya ditambah pengalaman pribadi, dan cerita kanan-kiri.

Terima kasih kepada: Navilah Syamlan, Yosi Ayu, Resti Marlina, Doti Parameswari, Murwendah, Rully Cahyono, Yora Faramitha, Bustanul Ury, Niken Widyakusuma, Pretty Falena.

Tentang Penerjemah dan Editor Lepas


Tidak seperti yang disangka oleh kebanyakan orang, dunia penerjemahan sebenarnya sangat luas. Industri penerjemahan tidak hanya ada dalam industri penerbitan buku, melainkan juga di bidang lain seperti televisi, film layar lebar, dokumen hukum dan perusahaan, sebagai juru bahasa (interpreter), dan banyak lagi. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu tentu tidak harus dilakukan sebagai karyawan tetap perusahaan. Banyak juga yang berstatus pekerja lepas (freelancer) di masing-masing bidang penerjemahan tadi.

www.ikhwanalim.wordpress.com

Profesi penerjemah di Indonesia sebenarnya juga sudah ada organisasinya sendiri. Namanya HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Didirikan pada 1974, organisasi ini sempat “mati suri” cukup lama sebelum kemudian pada tahun 2000 kembali dihidupkan. Siapa pun yang ingin berkecimpung penuh di dunia penerjemahan di Indonesia ada baiknya bergabung menjadi anggota HPI. Keuntungan bergabung dengan wadah para penerjemah ini adalah para anggota bisa memiliki jejaring berisi orang-orang profesional di bidangnya masing-masing, mendapatkan informasi tentang peluang kerja atau tarif standar terjemahan, kesempatan mengikuti acara-acara pelatihan yang terstruktur, dan banyak lagi.

Berhubung saya hanya berkutat di industri penerbitan buku, khususnya sebagai penerjemah dan editor lepas (freelance translator and editor), saya tidak akan membicarakan bidang lain di industri penerjemahan di dalam tulisan ini karena memang bukan kapasitas saya dan karena akan membuat tulisan ini terlalu panjang.

Pertama-tama, harus diketahui bahwa penerbit buku (baik besar maupun kecil) tidak bisa lepas dari para pekerja lepas dalam aktivitas kesehariannya. Mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan keredaksian hingga siap naik cetak—misalnya editor, penerjemah, pemeriksa aksara (proofreader), penata letak (layouter)—sebagian besar justru berstatus pekerja lepas (freelancer).

Tentu saja penerbit punya karyawan sendiri. Di bagian redaksi, editor penerbit biasanya disebut editor in-house. Lalu kenapa penerbit masih membutuhkan tenaga lepas? Sebab tidak mungkin editor in-house menangani semua naskah sendiri. Berapa pun jumlah editor di penerbit, mereka akan selalu membutuhkan tenaga lepas. Lebih efisien begitu, memang.

Sebuah naskah membutuhkan waktu dan konsentrasi tersendiri dalam proses penggarapannya. Sementara itu, dalam sebulan, penerbit sudah pasti menerbitkan banyak sekali naskah. Seandainya hanya para editor in-house yang menggarap naskah-naskah itu, tidak mungkin target terbit terkejar. Di sinilah para pekerja lepas yang saya sebutkan di atas tadi berperan. Dari sini kita akan membicarakan dua jenis pekerjaan penting dalam lingkup keredaksian itu.

Sebelum menjalani karier sebagai penerjemah dan editor lepas, saya pernah bekerja di sebuah penerbit umum selama tujuh tahun lebih sebagai editor in-house. Dalam kurun waktu tersebut, sesekali saya juga menerjemahkan naskah buku untuk penerbit saya sendiri maupun penerbit lain. Perlu diketahui juga bahwa seorang editor juga idealnya mempunyai keterampilan menerjemahkan dan menulis, di samping keterampilan standar seperti bahasa Indonesia dan bahasa asing, wawasan tentang dunia buku, dan pengetahuan umum lain atau bidang tertentu lain secara luas dan mendalam.

Untuk menjadi penerjemah bagi penerbit, jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Jalur standarnya adalah mengirim lamaran biasa disertai contoh hasil terjemahan. Contoh hasil terjemahan ini bisa diambil dari buku yang pernah kita terjemahkan, atau kalau kita belum punya karya terjemahan, bisa mengambil sumber teks dari artikel majalah atau buku-buku yang sudah berstatus public domain. Jika mengambil jalur terakhir ini, sering kali memang panggilan dari penerbit bisa sangat lama datangnya, atau malah tidak ada panggilan sama sekali, yang artinya penerbit menganggap kualitas kita belum mumpuni untuk standar mereka atau mungkin mereka sedang tidak membutuhkan tenaga penerjemah tambahan karena sudah cukup.

Tidak perlu berputus asa jika memang hal itu yang terjadi. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk “menjual diri” atau “cari muka” di hadapan penerbit. Harap diketahui, para editor in-house adalah orang-orang yang “kepo”. Mereka gemar sekali browsing atau main di media sosial dan mengunjungi blog-blog pribadi. Maka ada baiknya orang yang ingin menjadi penerjemah atau editor lepas juga rajin menulis (agak) panjang, entah di blog atau di medsos. Editor in-house menilai kemampuan menulis dan wawasan kita dari situ juga.

Lagi pula, jumlah penerbit ada cukup banyak. Kalau mau, kita juga bisa mulai melamar ke penerbit kecil dulu. Sebab, penerbit besar punya kecenderungan untuk memakai jasa para penerjemah (atau editor) lepas yang sudah mereka kenal baik atau mereka anggap konsisten kualitasnya. Tidak jarang para penerjemah atau editor lepas itu dulunya adalah mantan editor in-house mereka sendiri.

Editor in-house dan editor lepas tidak bisa dibilang mempunyai tugas yang sama persis, walaupun sama-sama editor. Editor in-house punya tugas yang lebih banyak dan lebih kompleks daripada sekadar mengoreksi naskah. Editor in-house membuat konsep kover dan kemasan buku serta membuat cover checklist berisi blurb (atau sering disalahpahami sebagai sinopsis), judul, subjudul, endorsement, berburu naskah atau penulis, mendampingi penulis dalam acara-acara peluncuran buku, mengunjungi pameran buku di dalam dan luar negeri, dan banyak lagi.

Sementara itu, editor lepas hanya fokus pada satu tugas: mengoreksi naskah. Kecuali kalau dia diminta oleh penerbit untuk melakukan beberapa detail lain walaupun tidak sejauh desc-job editor in-house. Yang dimaksud dengan mengoreksi naskah di sini tidak semata mengoreksi salah ketik (typo), melainkan juga memastikan apakah ejaan sudah baku atau sesuai dengan gaya naskah dan apakah kalimat sudah mengalir mulus dan lancar. Jika yang dikoreksi adalah naskah terjemahan, editor harus memastikan hasil terjemahan sudah tepat dan “pas”. Singkatnya, tugas editor lepas itu lebih fokus.

Kebanyakan penerbit buku menawarkan tarif per karakter tanpa spasi untuk pekerjaan penyuntingan (editing) dan penerjemahan. Tarif penerjemahan jelas lebih tinggi daripada penyuntingan. Pasangan bahasa sumber dan target juga menentukan. Tarif terjemahan bahasa Indonesia-Inggris bisa jauh lebih tinggi dibandingkan terjemahan Inggris-Indonesia. Jika penyuntingan atau penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia saja berkisar pada angka belasan rupiah per karakter, penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing bisa mencapai angka puluhan rupiah per karakter. Ini masih bisa bergantung pada negosiasi juga. Oya, bahasa asing selain Inggris punya tarif lebih tinggi disebabkan jumlah penerjemahnya lebih sedikit.

Angka tarifnya sendiri bisa didapatkan misalnya dari HPI atau hasil berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Jangan pernah ragu bernegosiasi dengan penerbit dalam hal menentukan tarif. Syaratnya cuma satu: kita yakin bahwa kualitas terjemahan kita memang baik dan konsisten pula hasilnya. Semakin bagus hasilnya, semakin ringan tugas editor in-house dan dia akan terus memberikan order terjemahan kepada kita secara rutin. Sebab, biasanya penerbit juga punya daftar penerjemah yang menjadi langganan mereka. Itulah sebabnya sangat sulit bagi pemain baru untuk menembus deretan penerjemah langganan penerbit. Tapi, hal itu juga tidak mustahil. Lagi pula, dunia penerjemahan masih sangat luas, seperti yang jelas di paragraf-paragraf awal tadi.

– Indradya S.P.

Penerjemah & editor lepas. Tinggal di Bandung.

Mengenal Freelance Marketing dan Seluk-Beluknya


freelance marketing 1

Meta deskripsi: Istilah freelance marketing bukan hal asing di dunia digital. Tapi tidak banyak yang benar-benar tahu, apa freelance marketing sebenarnya.

Beberapa dekade silam, istilah freelance marketing mungkin tidak terlalu bergaung di Indonesia. Tetapi sejak tingkat pengetahuan soal teknologi dan internet meningkat di masyarakat, istilah tersebut mulai muncul dan menjadi salah satu pilihan karir yang populer. Meskipun begitu, masih banyak yang belum benar-benar mengerti dan mengenal profesi freelance marketing.

Freelance sendiri merupakan istilah dari Bahasa Inggris untuk menyebut seorang pekerja lepas. Pekerja lepas merupakan seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi tetapi tidak terikat. Artinya mereka memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang diambil, tetapi memiliki hak penuh untuk memilih mengerjakan suatu pekerjaan atau tidak.

Istilah freelance pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott melalui buku fiksinya yang berjudul “Ivanhoe.” Istilah tersebut digunakan untuk menyebut tentara bayaran pada abad pertengahan. Kata freelance sendiri berasal dari “free” (bebas) dan “lance” (tombak). Artinya pekerja lepas merupakan metaforan dari sebuah tombak yang bisa bekerja bebas tanpa majikan tertentu dan tidak bisa didapatkan secara gratis.

Meskipun dilihat dari sejarahnya penggunaan istilah ini merupakan paduan bahasa dan sejarah yang rumit, tetapi banyak yang sepakat menggunakan istilah freelance untuk menyebut pekerja lepas. Secara teknis, pekerja lepas bisa bekerja di bidang apapun yang mereka sukai. Tapi hanya ada beberapa bidang yang sering menggunakan pekerja lepas sebagai tenaga.

Yaitu, jurnalisme, penerbitan buku, segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulisan, editor, programer komputer, desain grafis, konsultan, hingga penerjemah.Di era digital seperti saat ini, jangkauan pekerja lepas tentu saja semakin luas. Cukup dengan akses internet, mereka mampu mendapatkan berbagai macam pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian tanpa harus meninggalkan rumah.

Dari sinilah fenomena freelance marketing muncul dan berkembang. Lalu, apakah freelance marketing itu?

Freelance marketing merupakan istilah untuk menyebut kegiatan para tenaga lepas dalam mencari klien atau perusahaan yang membutuhkan kemampuan mereka. Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dilakukan oleh para freelance marketer agar dapat mempromosikan sebuah merek atau perusahaan, yaitu:

  1. Membuat suatu promosi yang semenarik mungkin
  2. Menciptakan sebuah website atau bisnis yang dapat meningkatkan potensi klien
  3. Dan meyakinkan sebuah perusahaan untuk membeli produk yang dijual

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebuah badan usaha memerlukan strategi pemasaran dalam bentuk baru dan semenarik mungkin. Mengingat hal tersebut tidak seluruhnya bisa dilakukan oleh pemilik perusahaan, dari sinilah peluang untuk para freelance marketer bermula.

Jadi jika Anda seseorang yang kreatif dan sedang mencari peluang untuk memaksimalkan potensi tersebut dan mendapatkan penghasilan, menjadi pekerja lepas merupakan pilihan yang tepat. Secara umum, ada beberapa bidang yang bisa menjadi peluang bagi para pekerja lepas untuk menunjukkan potensi mereka. Yaitu melalui media sosial, bisnis properti, dan segala usaha yang berbasis digital.

Freelance Marketing di Media Sosial

freelance marketing 2

Beberapa dekade belakangan, media sosial telah berkembang menjadi salah satu platform untuk mempromosikan suatu merek atau perusahaan. Penggunaan media sosial dianggap efektif mengingat jumlah pengguna internet yang juga memiliki medsos semakin lama semakin meningkat.

Selain itu media sosial juga tidak memiliki batasan usia, selama memiliki akses internet, setiap orang bisa melihat media sosial dan segala konten di dalamnya dengan bebas. Potensi inilah yang membuat berpromosi melalui medsos dianggap efektif dan efisien. Biaya produksinya pun bisa dipangkas serendah mungkin untuk meningkatkan keuntungan.

Tidak heran jika saat ini, banyak sekali klien dan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan barang atau produk mereka. Meskipun kelihatannya efektif, tetapi membuat sebuah promosi di media sosial ternyata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan.

Sama seperti ikan konvensional di televisi, dibutuhkan konsep yang mampu meningkatkan awareness terhadap produk yang dijual. Di sinilah peran freelance marketing social media dibutuhkan. Selain kreativitas, pekerja lepas di bidang ini dituntut agar dapat membuat iklan yang seunik mungkin sehingga bisa menarik perhatian para pengguna media sosial.

Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dikuasai oleh para pekerja lepas di media sosial, yaitu:

  1. Mampu mengelola berbagai akun media sosial
  2. Memahami setiap platform media sosial yang dikelola secara menyeluruh
  3. Membuat konten iklan semenarik mungkin sesuai konsep media sosial yang digunakan
  4. Mengikuti perkembangan zaman dan tren (hal-hal yang sedang viral di media sosial)

Menarik bukan? Mengingat betapa besarnya pengaruh media sosial di kehidupan masyarakat zaman now, tidak heran jika selain freelance marketing social media, ada berbagai profesi baru yang muncul dan populer seperti influencer, selebgram, dan selebtwitt. Orang-orang yang menyandang titel tersebut dianggap mampu meningkatkan awareness terhadap sebuah produk melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Tapi jika ingin konten yang berkualitas dan berpotensi untuk viral, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kemampuan para freelance marketing social media. Agar potensi sebuah konten bisa maksimal, kombinasikan kreativitas para pekerja lepas ini dengan popularitas para selebritis media sosial.

Freelance Marketing Properti

freelance marketing 3 property

Salah satu bisnis yang sering memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka adalah properti. Jika dulu iklan jual beli atau sewa rumah hanya bisa ditemukan di koran, saat ini promosi properti juga bisa kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seperti yang kita tahu, perkembangan bisnis di bidang ini cukup pesat dan cepat. Apalagi nilai jual properti berbeda dengan barang mewah lainnya seperti mobil atau emas. Nilai jual tanah dan bangunan cenderung meningkat setiap tahun, seberapa buruk pun kondisi ekonomi suatu negara.

Tidak heran jika investasi di bidang ini dianggap sangat menguntungkan. Melihat potensi bisnis properti tersebut, bukan hal yang aneh jika banyak sekali orang yang tertarik untuk terjun di bidang ini. Banyak developer yang berlomba-lomba untuk membuat kawasan hunian dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan harga semenarik mungkin.

Sayangnya, meski memiliki kemampuan membuat hunian yang apik, tidak semua developer mampu memasarkan produknya dengan baik. Mereka membutuhkan bantuan para marketing properti untuk memasarkan hunian agar bisnisnya semakin berkembang.

Karena saat ini penggunaan media sosial untuk mempromosikan sebuah produk dianggap efektif, peluang untuk menjadi freelance marketing di bidang ini pun cukup besar. Jika tertarik terjun di bidang ini, setidaknya ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Di antaranya:

  1. Memiliki pengetahuan mumpuni tentang properti

Tidak hanya menguasai media sosial, seorang freelance marketing property juga dituntut untuk memahami berbagai sistem dalam bisnis properti seperti: status dan kondisi tanah, dokumen-dokumen terkait properti, proses kredit bank, nilai investasi, hingga potensi produk yang dijual.

  1. Mampu membuat website dan mengelola akun media sosial

Selain pengetahuan di bidang properti, seorang freelance marketing juga dituntut untuk dapat membuat sebuah website yang bisa memaksimalkan promosi produk properti. Pembuatannya pun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, karena website merupakan nilai jual yang dapat menarik kepercayaan konsumen.

Selain website, para freelance marketer juga dituntut dapat mengelola akun dan menggunakan berbagai platform media sosial. Sehingga pemasaran properti tidak hanya dilakukan melalui website tetapi juga media sosial agar cakupan konsumennya lebih luas dan beragam.

  1. Menguasai teknik negoisasi

Seperti halnya penjual kebanyakan, seorang freelance marketing property juga diharapkan mampu menguasai teknik negoisasi yang baik. Teknik tersebut termasuk penggunaan bahasa yang tepat, kemampuan untuk memikat calon konsumen, hingga pemberian penawaran yang tidak merugikan kedua belah pihak. Meskipun kelihatannya sulit, kemampuan tersebut biasanya akan kita miliki seiring bertambahnya pengalaman dalam bidang properti.

  1. Telaten dan tekun

Meskipun secara teknis tugas seorang freelance marketer property sama dengan agen penjualan lain. Tetapi profesi ini membutuhkan tingkat ketelatenan dan ketekunan yang lumayan tinggi. Karena selain menggunakan cara klasik, pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan teknologi masa kini. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Membuat konten seunik mungkin sehingga dapat menarik konsumen di media sosial dan website bukanlah hal mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih agar penjualan yang dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal. Jadi, tertarik untuk terjun di bidang ini?

Honor Freelance Marketing

freelance marketing 4 honor

Sebagaimana yang telah Anda baca pada artikel lain di situs Freelancer ini, perhitungan honor atau fee freelance marketing ditentukan berdasarkan 3 hal, yaitu:

  1. Lama pekerjaan
  2. Target pekerjaan dan,
  3. Kombinasi keduanya

Berbeda dengan karyawan konvensional, pekerja lepas tidak terikat tanggung jawab terhadap suatu perusahaan dan tidak berhak menuntut fasilitas yang biasanya diberikan pada karyawan tetap, seperti asuransi, tunjangan, insentif, atau bahkan pesangon. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi seorang freelance marketer tidak menguntungkan.

Ada banyak aspek lain yang membuat bekerja di bidang ini terasa lebih seru dan menjanjikan dibanding menjadi karyawan biasa. Mulai dari fleksibilitas waktu kerja, minimnya tuntutan dari atasan, hingga kreativitas yang tidak terbatas. Menarik bukan? Bahkan jika kita memiliki kualitas di atas rata-rata, bukan tidak mungkin, banyak klien yang bersedia menggunakan jasa freelance marketer meskipun fee-nya sedikit di atas rata-rata.

Inilah mengapa sebelum memutuskan untuk terjun di bidang ini, pastikan kita memiliki beberapa kualitas yang dapat menaikkan harga jual jasa di hadapan konsumen. Karena meskipun tidak mengikat atau terikat perusahaan manapun, menjadi freelancer bukanlah hal mudah.

Lingkup yang terbatas justru membuat profesi ini memiliki nilai kompetisi dan persaingan yang cukup tinggi. Jika tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas yang mumpuni, para freelance marketing tidak akan bisa bertahan dan mendapatkan penghasilan yang menjanjikan dari profesi ini.

Selain kualitas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan harga jual seorang pekerja lepas di hadapan klien. Di antaranya:

  1. Memiliki spesialisasi di bidang tertentu (Niche)

Sah-sah saja menjadi seorang pekerja lepas yang ahli dalam berbagai bidang. Tetapi untuk menjaga kualitas dan mendapatkan keuntungan lebih, kita membutuhkan keahlian khusus dalam satu atau dua bidang. Misalnya, kita tertarik pada segala hal yang berbau properti. Jika ingin ketertarikan tersebut mendatangkan keuntungan, fokuslah pada bidang properti.

Pelajari segala hal tentang sistem jual beli tanah dan bangunan, bagaimana membuat akta dan dokumen terkait, mengetahui proses kredit KPR di bank, hingga memiliki pengetahuan luas tentang status dan potensi suatu properti. Selain itu, kita juga harus memiliki kemampuan penjualan dan negoisasi yang baik.

Sehingga klien tidak segan untuk menaikkan fee atau komisi, karena hasil yang diberikan cukup maksimal. Hal ini juga berlaku jika Anda tertarik untuk terjun di bidang freelance marketing lainnya. Pilihlah bidang yang membuat Anda nyaman dan tertarik agar hasil yang didapatkan pun tidak kalah menarik.

  1. Mampu bersaing

Meskipun lingkupnya tidak seluas pekerjaan konvensional, bukan berarti menjadi freelance marketing tidak memiliki saingan. Untuk meningkatkan fee dan mendapatkan penghasilan lebih, seorang pekerja lepas juga harus memiliki kemampuan bersaing yang baik.

Tawarkan kualitas yang mampu membuat klien tertarik dan bersedia membayar dengan harga mahal. Seperti kemampuan mengelola media sosial, mengoperasikan aplikasi atau software tertentu, dan soft skill khusus yang tidak banyak dimiliki orang (misal: menulis, menggambar, atau mendesain).

  1. Fleksibel dalam menentukan harga

Dalam menentukan tarif, seorang freelance marketing harus memiliki kemampuan untuk mengukur keahlian mereka. Jangan sampai harga yang kita tawarkan atau ditentukan oleh klien di bawah standar dan tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jangan sampai pula, harga yang ditetapkan tergolong tinggi sehingga membuat konsumen ragu bahkan enggan untuk menggunakan jasa kita.

Fleksibilitas merupakan kunci untuk bertahan di industri freelance marketing. Sebagai panduan penentuan tarif, ada beberapa poin yang harus dipertimbangkan. Di antaranya:

  • Waktu pengerjaan (per jam, per hari, per minggu, atau per bulan)
  • Kuantitas proyek (per-slide, per kata, per karakter, atau per menit)
  • Tingkat kesulitan proyek, dan
  • Kualitas klien (perusahaan besar atau perorangan)

Untuk mendukung kualitas hasil pekerjaan dan stabilitas penghasilan, sebagai freelancer hendaknya kita lebih bijaksana dalam memilih proyek dan bidang yang akan dikerjakan. Jangan sampai hanya gara-gara tergiur dengan fee freelance marketing yang menggiurkan, kualitas pekerjaan kita menurun sehingga kehilangan klien potensial.

Freelance Digital Marketing

freelance marketing 5 digital

Pada dasarnya apapun bidang yang kita pilih saat terjun di dunia freelance marketing, selama hal tersebut berhubungan dengan teknologi dan internet, maka kita bisa disebut pelaku freelance digital marketing. Jika tertarik untuk berkutat di bidang ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya:

  1. Membangun jaringan

Tidak seperti karyawan konvensional, seorang pekerja lepas harus membangun jaringannya sendiri agar mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan. Mulailah dari menghubungi teman-teman atau kerabat lama untuk membangun jaringan, dan terbuka dengan berbagai kesempatan untuk terhubung dengan jaringan baru. Karena semakin luas jaringan yang dimiliki, kesempatan untuk menawarkan jasa sebagai freelance marketing pun semakin berkembang.

  1. Kumpulkan portofolio

Saat pertama kali terjun di bidang freelance marketing, kita harus sedikit “rakus.” Lakukan setiap pekerjaan yang ditawarkan tanpa pandang bulu untuk menambah pengalaman dan mengumpulkan portofolio. Karena di masa yang akan datang, pengalaman dan portofolio tersebut bisa menjadi poin penting yang akan menaikkan nilai jual di hadapan klien.

  1. Aktif di media sosial

Karena berhubungan dengan dunia digital, menjadi aktif atau bahkan menguasai berbagai media sosial merupakan sebuah keharusan. Selain dapat digunakan sebagai platform promosi, kemampuan mengelola media sosial juga bisa menjadi poin yang membuat klien tertarik untuk menggunakan jasa kita.

  1. Rajin menghadiri acara dan seminar terkait

Dari acara tersebut, biasanya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia digital marketing, tips, bahkan trik untuk menggaet klien. Selain itu, kita juga dapat bertemu banyak orang baru yang disadari atau tidak, dapat membantu memperluas jaringan. Menarik bukan?

Jadi, tertarik untuk terjun di dunia freelance marketing? Semoga informasi di atas bermanfaat, dan jangan lupa untuk membaca artikel lain di situs Freelance ini.

Menulis Untuk Diri Sendiri


Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.

Batik Fractal


Keindahan seni visual seperti batik memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berulangkali saya berusaha ternyata saya juga tidak mampu melakukannya. Sebab batik merupakan rekaman interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Tapi, desain Batik Fractal yang kami lihat memang benar adanya. Indah. Setiap komposisi bentuk, warna, dan repetisinya menyajikan makna dan rasa yang kita bisa sebut juga sebagai cantik.

Itulah alasan saya menemui Muhammad Lukman, biasa dipanggil Mas Lucky. Orangnya berperawakan tinggi, agak kurus, dan berkacamata. Beliau termasuk di antara (kira-kira) 90% lulusan program studi arsitektur yang tidak lagi mendesain arsitektur. Instead of mendesain arsitektur, beliau lebih suka mendesain batik.

Mas Lucky ini mendirikan Pixel Project (CV Pixel Indonesia) bersama-sama dengan Mas Yun Hariadi dan Mbak Nancy Margried. Beliau kenal dengan Mas Yun –yang menyelesaikan program sarjananya di Matematika– karena sama-sama tertarik dan berkutat dalam bidang matematika di ITB, khususnya fractal . Fractal  adalah konsep matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Kombinasi batik dengan matematika fractal membantu penciptaan desain batik fractal.

Mas Lucky ini kenal dengan Mbak Nancy pada saat beliau mengadakan pameran arsitektur dengan rekan-rekannya. Mbak Nancy ini berkarir di bidang Public Relation (PR). Memang bukan lulusan ITB, tetapi Unpad (Univ. Padjadjaran). Tak disangka-sangka oleh Mas Lucky dan Mas Yun, Mbak Nancy menemukan hal berbeda. Yaitu bahwa ternyata matematika, sains dan teknologi dapat disinergikan menjadi sebuah karya batik yang bervariasi.

Tentang batik+matematika, apa yang bisa dilakukan? Alias, seni digabung dengan sains, seperti apa hasilnya? Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan mereka.

  1. Fractal sebagai Batik. Fractal hasil simulasi komputer didesain ulang sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik
  2. Hibrida Fractal Batk. Menggabungkan pola komputasional dengan tradisi budaya membatik yang dikenal luas
  3. Batik Inovasi Fractal. Motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasi fractal.

Tidak hanya karya, tetapi juga bisnis. Jadi, Pixel Project ini adalah bisnis. Produknya ada dua. Batik Fractal yaitu brand fesyen batik yang digenerasikan dari fractal. Produk kedua adalah JBatik, sebuah software desain batik.

Teknologi Meningkatkan Produktivitas Seniman

Di era modern saat ini, teknologi digital bukan mematikan para pekerja seni. Justru mendorong produktivitas dan meningkatkan kualitas karyanya. Perangkat lunak (software) JBatik malah membantu desainer memproduksi puluhan bahkan ratusan desain hasil coba-coba (eksplorasi) dalam waktu yang relatif singkat. Tidak hanya membantu proses desain, perangkat lunak ini juga membantu menyimpan dan mendokumentasikan hasil desain. Sehingga pengembangan desain dapat terus dilakukan waktu demi waktu.

Jadi software JBatik ini memampukan para desainer batik untuk mengeksplorasi desainnya lebih lanjut. Keragaman desain ini dapat dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut, dan perulangannya. Lebih banyak desain bisa dihasilkan dan lebih banyak karya indah yang bisa dioptimalkan. Lebih efisien pula dalam penggunaan waktu dan sumber daya coba-coba.

Dengan menggunakan software JBatik, maka para pengrajin batik terhindar dari software desain berharga mahal. Di samping itu lisensi JBatik sudah termasuk dengan paket pelatihan dan jaringan komunitas sesama pengrajin yang menggunakan JBatik.

Ketika desain selesai dibuat, desain di-print di kertas setelah itu hasil printing batik ini dijiplak ke dalam kain dan tinggal dicanting jika pengrajin ingin menjadikannya sebagai batik tulis. Namun jika pengerajin ingin membuat batik cap, hasil printing ini tinggal dibuatkan capnya sementara jika pengrajin hanya ingin membuat batik print, desain batik tadi bisa langsung dicetak ke dalam kain seperti halnya mencetak desain ke dalam kertas.

Once software takes over repetitive chores, humans will have more time and resources to work creatively.

Walaupun sama-sama dalam desain, piranti lunak JBatik memiliki filosofi generative design, yaitu menggambar dengan menggunakan seperangkat perintah sederhana. Keuntungan menggunakan generative design software adalah desainer mampu membuat beragam bentukan desain dari 1 motif saja dengan hanya mengubah parameternya. Hal ini berbeda dengan piranti lunak desain lain yang mengharuskan penggunanya menggambar kembali untuk membuat desain baru.

Research

Pada tahun 2007 Mas Lucky dan Mas Yun melakukan riset mengenai batik sebagai warisan budaya Indonesia. Inilah yang mengawali Pixel Project. Salah satu temuan yang menarik saat itu adalah bahwa:

  • Menurut daerah asalnya, batik Yogya dan batik Solo memiliki dimensi fractal  yang sama dengan batik Madura dan batik Garut, tetapi batik Madura dan batik Garut sendiri memiliki dimensi fractal  yang berbeda.
  • Kehadiran fractal  dalam batik mengindikasi keberadaan kompleksitas dalam kesenian tradisional batik ini. Kompleksitas ini lahir karena adanya usaha untuk mengikuti pakem tradisional (pemaknaan simbol, keharmonisan, ke-simetris-an) serta keterbatasan media (lilin dan canting) itu sendiri. Manusia memahami alam lingkungan dan menerjemahkannya dengan melukis pada kain dengan teknik batik.
  • Bisa disimpulkan bahwasanya setiap motif batik itu membawa ceritanya masing-masing yang dapat mengawali dan mengisi pembicaraan pengguna motif batik tersebut.

Batik memang begitu. Dari dulu sudah dikenal sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi tekstil modern baik dengan menggunakan teknik produksi tradisional maupun masuk ke produksi massal. Menuju produksi massal, bisa lewat desain batik via perangkat lunak. Modernisasi desain batik akan menarik minat generasi muda untuk turut menggunakannya.

Batik Fractal Community

Di Batik Fractal Community, Pixel Project mempergunakan pewarna alam seperti dedaunan, kulit kayu dan bahan-bahan dari tanaman. Karena Batik Fractal Community berada di tengah-tengah Kampung Dago Pojok, maka menggunakan bahan-bahan alami adalah hal yang paling natural agar limbah kami tidak mencemari lingkungan padat penduduk di sekitar kami. Selain itu pewarna alam selalu memberikan sentuhan eksotik untuk batik unik yang kami produksi.

Sebagaimana dilansir dalam laman resminya di https://pikselindonesia.com , bahwa Piksel Indonesia turut serta dalam melestarikan batik dengan memadukannya sesuai perkembangan teknologi.

Coba datang, deh. Kamu akan terkejut dengan apa saja yang ada di Jalan Gudang Selatan Nomor 22, Kota Bandung. Memang si Batik Fractal  berlokasi di sana. Tetapi ada banyak kejutan lainnya di bangunan Gudang tentara tersebut.

Garis Waktu Batik Fractal

2007 Riset: Batik Fractal, From Traditional Art to Modern Complexity, Generative Art Polimi, 2007

2008 Indonesian ICT Award 2008 kategori E-Tourism and E-culture

2008 Unesco 2008 Award of excellence.

2008 Turut mendirikan BCCF (Bandung Creative City Forum)

2008, Piksel Indonesia bekerja sama dengan Kementrian Negara Ristek dan Teknologi menyebarkan teknologi di tengah masyarakat pengrajin Indonesia melalui berbagai pelatihan software jBatik.

2008 “Tourism and Hospitality Category – Winner” Ministry of Communications and Information, November 15th 2008. Asia Pacific ICT Awards. 

2008-2009 Berpartisipasi di Helar Festival

2009 Unesco meresmikan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

2009 Riset: Batik Garut dalam Tinjauan Geometri Fractal, Japan Foundation, 2009

2009 Riset: JBatik : Menelusuri Perkembangan Motif Kawung Melalui Kuantifikasi dan Algoritma, Adiwastra, 2009

2010 Riset: Batik Fractal : A Case Study in Creative Collaboration from Various Disciplines in Bandung, ArtePolis3, 2010

2010 International Young Creative Entrepreneur. Interactive Category winner. British Council Oct 24th.

2011 Riset: Sculpture Make Over, ICCI, 2011

2011 menjadi anggota Mekar sejak 2011 dan mendapat dana investasi melalui program Mekar Network.

2011-2012 Bekerja sama dengan Intel dalam program global Intel Visual Life

2012 Riset: Batik Fractal : Marriage of Art and Science, Dies Emas ITB, 2012

2013 Berpartisipasi dalam Fashionary BDG

2013 Menempatkan workshop Koperasi Batik Fractal di Kampung Kreatif Dago Pojok

2013 Penyedia konten, trainer, serta konsultan dalam program kampus terapan yang diiinisiasi oleh BPIPI (Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia)

2013 Menyebarluaskan penggunaan software berbasis JBatik pada bidang perancangan bangunan dalam program penelitian RAPID di program studi Teknik Arsitektur ITB.

2013 Membuat motif batik untuk interior IDX (Indonesia Stock Exchange)

2014 Riset: Batik Fractal Community : Creative Engangement through Technology, Artepolis5, 2014

2014 Riset: Parametric Architecture jArsi, Artepolis5, 2014

2017 Mendesain cutting sticker untuk diaplikasikan pada peluncuran Daihatsu Ayla

Referensi:

Pekerjaan Freelance Marketing, Cocok Untuk yang Baru Lulus Sekolah, Atau Baru Saja Di-PHK


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Seluk Beluk Freelance Marketing

Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post:

Resensi Dua Novel


Dua novel berikut ini untuk menambah referensi maupun perspektif baru anda. Kalau (terpaksa) dianalogikan dengan coding di industri digital, ini adalah upaya untuk menambah library kamu. Di samping juga untuk memperkaya cara berekspresi via tulisan.

Instead of setia terhadap karya-karya penulis seperti Tere Liye, Dewi Lestari, Adhitya Mulya, alangkah baiknya untuk menambah perspektif baru dari penulis dari dua buku yang saya bahas berikut ini.

cinta-tak-pernah-tepat-waktu-back

Yang pertama adalah Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu dari Puthut EA. Siapa yang menulis, menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih novel. Puthut EA ini editor senior, termasuk pendiri dan pemilik kira-kira untuk media digital kekinian dengan brand Mojok (www.mojok.co).

kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Sebagaimana disampaikan di kaver belakang, karya Puthut EA berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama.

Sebagai lelaki, saya gemes melihat si tokoh utama ini. Galau terus, susah move on, gak mencari solusi atas ke-jomblo-annya. Saya dulu mengalami hal yang sama #eeaaaa tapi bagaimanapun juga life must go on hidup harus berjalan terus dengan atau tanpa dia. Namun ke-gemes-an itu justru mendorong untuk menyelesaikan novel ini. Apakah sang tokoh utama kiranya akan mencapai plot yang dikehendaki oleh semua pembaca? Yaitu, sukses mengatasi semua problematika hati dan pikiran tersebut sehingga berhasil merangkai cinta dan mengakhirinya di pelaminan bersama seorang wanita?

Di ujung akhirnya agak gantung. Karena penulis tidak menceritakannya sampai ke sana. Tapi, teknis kepenulisannya secara tersirat berhasil menyatakan kepada pembaca bahwa si tokoh utama berhasil move on setelah gagal untuk kesekian kalinya—telat menyatakan cinta hanya beberapa minggu kepada kasir sebuah kafe—yang kebetulan duduk bersebelahan dalam sebuah kereta dan ternyata wanita yang bersangkutan baru saja menikah.

Info menarique tentang kategori pekerjaan “Pembunuh Bayaran”:

  • Buku A = Buku yang dianggap penting oleh tiap pembunuh bayaran. Tanpa dibayar. Sebagai pernyataan sikap politik maupun ideologinya.
  • Buku B = Buku proyek pribadi si pembunuh bayaran, semisal novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dll.
  • Buku C = Buku yang dianggap cukup penting, dengan imbalan yang memadai.
  • Buku D = Proyek senang-senang: menovelkan film, membantu menuliskan pengalaman para teman, yang biasanya berawal dari rasa senang dan ingin mencoba hal-hal yang baru.
  • Buku E: Buku yang dibuat oleh seseorang untuk tujuan-tujuan tertentu. Biasanya yang membuat adalah para pejabat, konglomerat, atau artis.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Haruskah pekerjaan freelance diteruskan?


Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂

Sales Supervisor


Kriteria penting untuk menjadi area sales manajer adalah mampu mengelola tim. Mampu berhubungan baik dengan anggota tim dan mampu memotivasi kinerja mereka. Sesekali harus menyediakan waktu untuk melakukan visit kepada customer. Di samping untuk mendengar langsung masukan dari pelanggan, serta untuk mengevaluasi kinerja anggota tim yang melayani pelanggan tersebut. Anggota tim belum tentu semuanya adalah sales yang turun ke lapangan. Salah satu anggota tim adalah Sales Administrator atau Sales Admin.

supervisor

Sales administrator. Day-to-day bekerja di kantor mengelola berbagai dokumen penjualan. Mengkoordinasikan sales manager, sales supervisor, dan tim sales lainnya dalam perihal laporan-laporan yang dibutuhkan. Alias menagih tim sales untuk membuat laporan. Bahkan mungkin membuat laporan penjualan untuk area yang dipimpin oleh sang Sales Manager. Di samping itu adalah menghimpun dan merangkum database pelanggan. Selain itu, bisa jadi menerima order/pesanan dari pelanggan via telepon.

Orang yg menghandle area di perusahaan adalah area sales manager. Jadi wilayah penjualan yang dipertanggung-jawabkan olehnya, dibagi-bagi lagi menjadi territory yang lebih kecil. Wilayah penjualan ‘kan tidak hanya soal menjual sebanyak-banyaknya. Tetapi juga bagaimana menjaga dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing territory dipegang oleh Territory Sales Supervisor (TSS).

Kalau sedang melamar kerja, lalu ditawari posisi Sales Supervisor, coba dianalisis terlebih dahulu jabatan Sales Supervisor yang ditawarkan. Apakah di perusahaan pemilik produk (brand owner)? Atau dari perusahaan distributor?

Job desk sales supervisor

Bila bekerja di perusahaan brand owner.

  • Sebagai bagian dari perusahaan yang berhadapan langsung dengan distributor pelaksana
  • Sales supervisor melaksanakan sistem penjualan yang sudah dikembangkan oleh perusahaan
  • Sales supervisor sebagai perwakilan perusahaan, sehingga wajib menjaga citra perusahaan
  • Boleh berteman baik dengan orang dari distributor, tetapi tidak perlu curhat yang dapat menurunkan kredibilitas diri atau citra pribadi

Tugas Sales Supervisor

Apabila distribusi dilakukan oleh tim sendiri. Bukan oleh distributor yang ditunjuk.

  • Pemimpin tim kerja (tim nya ada driver, salesman taking order, merchandiser, sales admin, dll) sehingga harus membentuk tim kerja yang solid
  • Memotivasi, melatih, mengembangkan salesman serta mengevaluasi kinerja salesman
  • Memecahkan masalah tim
  • Mengontrol perubahan

Keterampilan TSS

  • keterampilan administratif
    • keterampilan mengelola dokumen
    • keterampilan mengkoordinasi laporan-laporan yang dibutuhkan
    • keterampilan mengelola berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi penjualan
  • keterampilan human relation
    • komunikasi
    • konseling
    • pendelegasian
    • kepemimpinan
    • penyelesaian konflik
  • keterampilan teknis
    • pengetahuan produk sendiri, produk kompetitor, serta produk substitusi
    • keterampilan menjual dan negosiasi
    • pengetahuan pelanggan dan wilayah
    • pengetahuan pasar/industri

Tugas Penting Salesman

Menurut salah seorang pakar pemasaran, Kotler, seorang salesman juga memiliki beberapa tugas-tugas penting yang meliputi:

1. Prospecting (Mencari prospek).
2. Targeting (Menentukan alokasi waktu mereka diantara prospek dan para pelanggan).
3. Communicating (Menyampaikan berbagai informasi seputar produk yang telah dihasilkan oleh perusahaan).
4. Selling (Melakukan pendekatan, presentasi, menjawab pertanyaan/keberatan , dan menutup penjualannya).
5. Servicing (Memberikan layanan bagi pelanggan, mengatasi keluhan, memberikan bantuan teknis, mengatur keuangan, dan untuk mempercepat pengirimannya).
6. Information gathering (Melakukan riset terhadap pasar (meliputi pelanggan dan kompetitor) dan menentukan tindakan seperti apa yang paling tepat untuk permasalahan tersebut).
7. Allocating (Memutuskan pelanggan mana yang nantinya akan mendapatkan produk yang langka selama masa kehabisan barang).

Melakukan riset terhadap pelanggan dan melakukan competitor benchmarking. Mengetahui taktik-taktik yang dilakukan oleh kompetitor.

Maka dari sinilah peran sales yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian akan dikelola lagi agar bisa menghasilkan produk.

Namun dengan perkembangan bisnis yang sudah semakin pesat dan semakin membludaknya produk-produk baru di pasaran, maka persaingan yang semakin ketatpun menjadi tidak mungkin bisa terhindarkan. Seorang salesman akan semakin dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan harus memiliki inovasi agar bisa menjadi the smart salesman, dalam menghadapi kuatnya persaingan tersebut.

Smart Salesman 

Berikut ini merupakan beberapa tips dalam membuat strategi penjualan yang harus Anda coba agar dapat menjadi seorang the smart salesman:

  1. Melatih diri untuk menggali ide-ide baru.

Ide-ide baru seputar mendapatkan pembeli baru, mempertahankan pelanggan lama, menagih pelanggan, mengeluarkan lebih banyak barang dari gudang, dan lain sebagainya.

Ide-ide baru bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Dari sharing dengan sesama teman-teman salesman, atau pengamatan langsung pada saat berada di lapangan.

 

2. Menganalisis untuk mengeksekusi ide-ide tersebut.

Setelah mendapatkan ide baru, maka buatlah analisis untuk langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk menjalankan ide-ide tersebut. Membuat analisis akan sangat membantu Anda untuk mereview kembali tentang apa saja kelebihan dan kekurangan dari ide-ide tersebut serta untuk menentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.

Dasar analisis ini adalah insight yang diperoleh dari pelanggan/pasar. Serta taktik penjualan yang dilakukan oleh kompetitor.

Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang “ bagaimana Anda dalam melihat cara tersebut agar menjadi lebih efekti?, bagaimana orang lain yang dapat melihat jika cara tersebut bisa menjadi lebih efektif? Bagaimana para konsumen agar dapat dengan mudah untuk mengetahui strategi seperti apa yang ingin dijalankan? Bagaimana para kompetitor mampu menghadapi cara tersebut?”,  yang dapat membantu Anda untuk lebih mempermudah dalam memetakan langkah-langkah seperti apa yang harus bisa diambil.  Jangan pernah merasa ragu untuk membuat perubahan.

3. Memiliki mental yang cukup kuat.

Melakukan sebuah perubahan dan menjalankan hal-hal yang baru memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan adanya mental dan komitmen yang cukup kuat dalam menjalankan hal-hal yang baru dapat memberikan tantangan tersendiri.

Seorang salesman harus tahan banting karena pasti sering ditolak oleh pelanggan.

Termasuk ketika memiliki ide baru. Belum tentu diterima oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan mental dan komitmen yang kuat dalam mengeksekusi ide baru tersebut.

4. Menjadi seorang pembelajar yang baik.

Belajar dari semua orang. Dari pelanggan, dari teman salesman, dari Sales Manager, dan seterusnya.

Kalau berhasil belajar dari teman-teman kantor –selain salesman–, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri.

Untuk bisa menjadi seorang salesman yang lebih kreatif, maka Anda harus mulai untuk banyak belajar, baik secara langsung dari lapangan atau dari berbagai sumber terpercaya. Tetap terus untuk mengembangkan pengetahuan dan dari wawasan untuk meningkatkan kualitas Anda.

Dengan adanya kreatifitas dan inovasi dalam membuat strategi terbaru maka akan semakin membuat Anda dapat tampil semakin lebih berbeda, dimana ‘perbedaan’ seperti inilah yang nantinya akan mampu menarik para konsumen, sehingga semakin lebih memudahkan bagi Anda untuk mencapai target penjualan.

Jangan takut gagal mencapai target. Bisa jadi memang perusahaan mematok pertumbuhan yang berlebihan.

Referensi:

Membersamai Anak-Anak


Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.