Kelas Menengah dan Motor Sport


Berdasarkan data asosiasi sepeda motor Indonesia (AISI) pada tahun 2014, penjualan motor bebek telah turun drastis hingga mencapai 54% dalam rentang waktu 5 tahun (2009-2014). Sementara itu, motor sport naik tajam mencapai 133% pada periode yang sama. Jadi, kehadiran motor sport ini telah mengisi penurunan penjualan motor bebek dengan signifikan. Apa itu motor sport? Motor sport adalah kategori kendaraan roda dua dengan volume ruang bakar lebih dari 150 cc.

Apabila kita amati, baru-baru ini, motor sport telah menjadi pilihan baru kelas menengah Indonesia untuk berkendara. Ini terbukti sangat larisnya penjualan motor-motor sport keluaran Yamaha, Honda, Kawasaki, Suzuki, dan bahkan Ducati. Di mana, kami mendefinisikan kelas menengah Indonesia (Consumer 3000) memiliki tiga ciri utama. Pertama, memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, pintar (more knowledgeable). Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (sociallyconnected).

Kelas menengah dengan tiga ciri utama tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan motor sport. Berikut ini kita ulas beberapa poin menarik dari keterkaitan tersebut.

Emotional Benefit
Kami haqulyakin bahwa alasan utama larisnya motor sport di Tanah Air adalah emotional benefit. Artinya, kelas menengah membeli dan menggunakan motor sport bukanlah semata-mata untuk kebutuhan berkendara dari satu tempat ke tempat lain saja. Kelas menengah membutuhkan barang konsumsi seperti motor sport yang mampu mendongkrak imej mereka di mata kolega agar terlihat lebih keren, elegan, dan gagah.

Selain itu, motor sport termasuk kategori kendaraan dengan teknologi tinggi untuk menjamin keamanan berkendara. Para pembeli dan pengguna motor sport tentu feel safe mengenai keselamatan mereka di jalan raya. Di samping itu, mereka juga merasakan sense of success kala mengendarai jenis motor tersebut di jalan raya. Sebab para motor sport rider tersebut menggunakan motor berkelas tinggi dengan harga yang mahal pula. Feel safe dan sense of success merupakan emotional benefit yang dihadirkan oleh brand-brand motor sport.

Taste of Design
Sebagai segmen ekonomi-sosial yang berwawasan (knowledgeable), kelas menengah bisa dikatakan mengamati berbagai perkembangan desain di sekitarnya. Pengamatan ini kemudian berujung pada pemahaman serta preferensi konsumen terhadap produk-produk dengan desain yang berkualitas. Khusus untuk motor sport, desain dengan komposisi warna dan bentuk yang menarik mereka pandang sebagai suatu keindahan tersendiri.

Namun demikian, “taste of design” tidak melulu mengenai tampilan warna dan bentuk yang indah dari produk. Tetapi juga bagaimana produk tersebut didesain untuk “bekerja” bagi pengendaranya. Dengan desain yang lebih atraktif, sporty, suara knalpot cukup kencang, tarikan gas (akselarasi) lebih tinggi, warna elegan, dan harga yang mahal memberikan kenyamanan dan kepuasan berkendara tersendiri. Semua hal tersebut menunjukkan “taste of design” pengguna motor sport tersebut.

Massclusivity
Kepemilikan barang yang hanya dimiliki oleh kalangan terbatas akan menghadirkan rasa “diistimewakan” para konsumen pengguna brand. Perasaan eksklusif inilah yang dialami oleh para pemilik motor sport. Lebih lanjut, para konsumen ini merasakan keunikan serta kekhususan yang berbeda dari kebanyakan konsumen sepeda motor (terutama motor bebek dan matic). Meski demikian, hak yang istimewa ini kemudian berkembang menjadi eksklusifitas massal (mass exclusivity atau singkatnya massclusivity).

Sebab dalam rangka meningkatkan penjualan, brand pun tidak segan-segan untuk terjun dan menarget segmen ekonomi yang lebih massal. Seperti misalnya yang pernah dilakukan oleh produsen motor kelas dunia: Ducati. Perusahaan otomotif asal Italia ini merilis motor sport untuk kelas 800 cc dengan harga sekitar Rp 225 juta yang diyakini cukup murah serta lebih mudah dijangkau oleh kelas menengah.

Intinya, kami melihat produsen global seperti Ducati pun ingin menggarap pasar kelas menengah Indonesia yang telah tumbuh secara eksplosif, tetapi karena daya beli kelas menengah belum terlalu besar, sehingga Ducati menerapkan strategi value innovation.

Value Innovation
Sebagaimana yang disebut Prof. Chan Kim (ingat buku Blue Ocean Strategy) inovasi nilai (value innovation) adalah kemampuan menghasilkan extraordinary value dengan cara meningkatkan benefit, sekaligus menurunkan cost yang harus dibayar konsumen. Kelas menengah memang paling rajin menuntut adanya inovasi nilai. Segmen yang kian knowledgeable ini semakin men-drive berbagai pemain di seluruh industri untuk melakukan berbagai inovasi nilai.

Tidak terkecuali pada kategori motor sport. Inovasi nilai dilakukan lewat penerapan skema harga yang menarik untuk menopang berbagai benefit yang tercakup dalam satu unit motor. Dengan inovasi nilai seperti ini, motor sport kemudian laris di kalangan kelas menengah. Buktinya adalah banyak warga kelas menengah yang bela-belain memiliki motor sport dari berbagai brand. Meskipun harga motor jenis ini terbilang cukup tinggi, tetapi daya serap kelas menengah terhadap kategori ini menjadikan produk ini “laris manis tanjung kimpul”.

Dengan demikian, motor sport bukan lagi menjadi barang mewah, melainkan sudah masuk kategori mass luxury. Yakni produk-produk mewah (luxurious) tetapi dimiliki secara massal oleh masyarakat umum.

Berdasar semua ulasan ini, kami meyakini bahwa pasar motor sport ke depan akan sangat dinamis dan bergairah. Ini adalah kategori yang relatif baru dan tetap bertumbuh ke depan mengingat kelas menengah masih akan bertumbuh; baik secara jumlah maupun daya beli. Sehingga perlu eksplorasi dan pendalaman lebih lanjut oleh para pemain di kategori ini.

Related Post:
Akik
Value Innovation
Going Healthy

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

Plan+(n)ing


Plan itu bukan “saya jam sekian mau berangkat, jadi satu jam sebelumnya saya mau mandi”. Bukan pula “besok saya mau ini itu, semuanya harus beres besok”. Itu yang “bukan-bukan”. Kalau plan yang “iya-iya” adalah “tahun ini saya mau menikah. Berarti tahun ini pula dananya harus tersedia, tahun ini juga lamaran, nanti mau bulan madu di mana, dst”. Segala challenge sudah kita perkirakan dan antisipasi sebelumnya. Termasuk soal jodoh ya, mblo :D

Kita mulai dari soal-soal keuangan ya.

Financial Plan
Islam menuntut kita jadi umat yang kaya. Yaiyalah, lha wong kudu sedekah, kudu zakat, naik haji, umroh, dst. Semua “kudu-kudu” itu kan ada biayanya. Dan harus masuk dalam (financial) plan. Perlu duit berapa, kapan perlunya, untuk apa, dan seterusnya. Sebab inflasi selalu menghantui harga-harga barang dan jasa di sekitar kita.

Soal finansial juga tidak boleh main-main. Ingat kata om Bill Gates, “if you are born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s definitely your mistake“. Makanya kita kudu sadar posisi kita di hierarki pengelolaan keuangan. Supaya bisa decide next step, then go, and grow. Yaitu mengejar target omzet (kalau bisnis), dan memburu target pendapatan.

Meal Plan 
Kondisi keuangan kita kadang (bagi beberapa orang) sangat ditentukan oleh meal plan mereka. Ada yang boros beberapa hari setelah gajian demi memenuhi hasrat lidah dan kerongkongan. Padahal semua sama saja setelah masuk lambung, ya. Ada juga yang berhati-hati menentukan dan mengkonsumsi protein nabati dan hewani demi terbentuknya otot-otot jomblo penarik hati para gadis jomblo.

Yang terbaru adalah konsep mindful eating yang mulai banyak diadaptasi kelas menengah. Saya kira tidak semua yang sehat itu mahal, dan tidak semua yang mahal pasti sehat. Buktinya, junk food yang lebih mahal itu ternyata lebih “menyakitkan” dibanding warteg sebelah rumah yang pelayanannya lebih cepat itu :D

Travelling Plan 
Jangan di situ-situ aja ma begitu-begitu aja. Sesekali pergi travelling. Mulai dari dalam negeri. Kalau sudah berkunjung ke semua, silakan ke luar negeri. Coba tengok perilaku travelling kelas menengah, deh. Biar kebayang seperti apa mereka melakukan semuanya. Bela-belain beli tiket 6 bulan atau 1 tahun sebelumnya. Go show alias langsung jalan oke juga sih. Tapi ya, tidak semua destinasi bisa begitu. Semisal trip ke krakatau atau naik gunung Papandayan masih bisalah.  But, some destination needs travelling plans.

Life Plan 
Bahkan aktivis kampus banyak juga yang bingung dengan rencana hidup pasca kampusnya. Terbiasa hajar sana-sini dalam periode yang singkat, kini bingung dengan “big things” yang mau dicapai dalam hidup. Bagi mereka, ada terlalu banyak pilihan dan ingin mencapai semua pada saat yang bersamaan. Mereka jadi lupa konsep “focus”.

Profesi apa yang ingin dijalani pasca kampus? Bagi beberapa orang tertentu, analisis mendalam terhadap profesi idaman di masa depan juga perlu dilakukan. Serta pemahaman lebih membumi tentang profesi yang dapat mereka jalankan dengan passionate.  Soal yang satu ini, lebih baik berhati-hati karena profesi yang tidak tepat berakibat pada stress tak berujung.

Think Big
Ada yang menyepelekan jadi tidak menyiapkan waktu untuk berpikir. Ini jadi alasan kenapa evaluasi akhir tahun (lama) dan resolusi tahun baru adalah hal penting. Banyak yang menjalani hidup sekedarnya saja. Ceuk urang sunda mah, “engke kumaha, teu kumaha engke”. Jadi bukan, “gimana nanti aja”. Tapi “nanti bagaimana?” :)

Usaha bisnis juga gitu. Supaya bisa grow, kudu direncanakan dengan matang. Makanya ada marketing plan yang dibuat setiap akhir tahun. Untuk bisnis yang baru, dibuatlah business plan. Yang namanya “plan” itu berfungsi sebagai panduan. Tidak harus sama persis karena bisa mengalami penyesuaian. Tapi sebagai koridor, tentu kita akan sangat membutuhkan.

Lalu apa saja kriteria yang harus saya penuhi agar “plan” kita termasuk “plan” yang baik? Kriterianya ada 5, bisa disingkat SMART, yaitu spesific, measureable, achieveable, realistic, and time bound. Remember that “failing to plan is planning to fail”

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

Akik


Heboh batu akik menjamur di seluruh negeri. Batu mulia ini menjadi bahan pembicaraan yang tidak kenal waktu dan tidak lihat tempat. Minat pasarnya besar dan ladang bisnisnya oke punya. Batu bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh adalah segelintir “selebriti” yang semakin sering dibicarakan, bahkan dikejar-kejar ke seluruh penjuru nusantara.  Harganya merentang dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Konon, ada juga yang dihargai hingga miliaran rupiah. Betapa fenomena akik ini sungguh luar biasa!!!

Menggeliatnya bisnis batu akik menarik ditinjau dari sudut pandang kelas menengah. Sebagaimana rutin kami bahas, ada tiga ciri kelas menengah. Pertama memiliki daya beli tinggi (high buying power). Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas (more knowledgeable) mengingat sumber-sumber informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga, lebih terhubung satu sama lain (more socially connected) melalui media online seperti blog, twitter, atau facebook.

Fake Investment

Jadi setelah kebutuhan primer terpenuhi, maka segmen sosial ekonomi ini mulai mengalihkan pendapatan berlebih (discretionary income) untuk fungsi lain. Salah satunya adalah fungsi investasi. Pikir kelas menengah, “beli sekarang saja, toh nanti harga akan naik lagi”. Jadi pendapatan berlebihnya digunakan untuk menciptakan kekayaan yang lebih tinggi lagi di kemudian hari.

Meski dipersepsi sebagai barang investasi, tetapi batu akik seperti belum memenuhi beberapa persyaratan barang investasi. Misalnya, bahwa barang investasi harus tersebar di seluruh dunia. Jadi bisa diperjualbelikan di negara mana saja. Sementara heboh fenomena “akik” ini baru terasa di dalam negeri saja. Selain itu penting pula keberadaan pasar global yang menjadi kiblat harga bagi pemain di seluruh dunia. Semisal pasar global untuk emas yang ada di New York dan menjadi acuan pemain emas di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Sehingga yang harus kita waspadai adalah “investment bubble’-nya. Yaitu harga yang terlalu tinggi tapi tidak mencerminkan realita supply-demand yang sebenarnya. Jangan sampai fenomena pecahnya ‘gelembung investasi’ seperti yang dialami bunga anthurium atau ikan louhan terulang kembali. Sekarang, harga keduanya sudah sangat murah. Banyak yang ‘gulung tikar’ karenanya.

Hobi

Kebutuhan kelas menengah mulai rumit; tidak lagi sekedar sandang-pangan-papan. Tapi juga aktualisasi diri; salah satunya lewat hobi. Tak mengherankan jika aktivitas hobi seperti hobi otomotif, hobi fotografi, hobi berlari, dll kian mendapat tempat di hati kelas menengah. Hobi-hobi tersebut “dibiayai” dari pendapatan berlebih setelah kebutuhan primer sudah terpenuhi. Termasuk di antaranya hobi memilah, memilih, dan mengkoleksi batu akik.

Segmen kelas menengah yang knowledgeable punya selera yang bagus mengenai batu akik. Makin menarik batu akik tersebut, makin tinggi harganya. Mulai dari motifnya, bentuk potongannya, tingkat kehalusannya, tidak tembus cahaya, dan sebagainya. Semua komposisi tersebut menentukan kualitas dan harga batu mulia yang satu ini. Tidak heran hobi ini kemudian berkembang menjadi ladang bisnis dengan kelas menengah sebagai target segmennya.

Word of Mouth (WOM)

Dari hobi, terbentulah komunitas. Common interest-nya lagi-lagi ya batu akik. Meski ada yang sekedar meramikan tren ini, tentu juga ada para hard core. Selain rutin bertemu secara offline, mereka juga berkumpul online di google+, facebook, instagram, dan beragam social media lainnya. Kalau sudah begini, maka WOM tinggal menunggu waktu.

Bila WOM sudah terbentuk, transaksi akan terjadi melalui beragam channel penjualan. Jangan disangka hanya dijual di dunia nyata saja. di internet juga ada. Tengok saja situs semacam akiks.com, hargabatuakik.net, batuakikkeraton.co.id , dan banyak lainnya. Semuanya berlomba-lomba menjadi yang terlengkap untuk urusan katalog batu akik. Belum termasuk toko online semisal olx.co.id atau tokopedia.com . Beragam batu akik juga diperjualbelikan di sana.

Kelas menengah penggemar batu akik hadir di hampir semua medium tersebut dan “do conversation” di dalamnya. Mulai dari social media, kemudian masuk website, lalu jadi bahan pembicaraan ketika bertemu dengan rekan penyuka batu akik. Dan terjadi juga arah sebaliknya. Dari “goreng-menggoreng” konten ini, harga batu akik melompat mencapai puncak langit. Bahkan ada yang mencapai Rp18 Miliar, sebagaimana berita dari salah satu media online. Wow, luar biasa!!!

Sekali lagi, fenomena heboh batu akik adalah fenomena kelas menengah. Fenomenanya heboh luar biasa karena jumlah kelas menengah begitu besar mendominasi penduduk kita. Apalagi dengan banyak akun social media yang dimiliki oleh kelas menengah, maka kehebohan tersebut akan semakin massif saja.

Sebagai penutup, kami senantiasa berdoa supaya fenomena batu akik ini bukan fenomena sesaat saja. Bahkan sebisa mungkin menjadi tren dunia. Karena sumber daya batu akik tersebut memang berasal dari negeri kita sendiri. supaya fenomenan yang jangka panjang bisa terus memberikan keberlangsungan ekonomi bagi para pelakunya. Serta menjadi “trademark” Indonesia di mata dunia.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag | Tinggalkan komentar

Value Innovation


Kami mendefinisikan kelas menengah Indonesia (Consumer 3000) memiliki tiga ciri utama. Pertama, memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, pintar (more knowledgeable). Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (sociallyconnected). Secara khusus, kali ini kita akan membahas bagaimana knowledgeability alias meningkatnya pendidikan, pengetahuan, dan wawasan konsumen kelas menengah kita ternyata memberikan pengaruh besar terhadap perilaku belanja dan konsumsi mereka.

Aspek knowledgeability adalah aspek yang membuat konsumen menimbang manfaat apa yang akan diperolehnya ketika berbelanja dan bertransaksi. Manfaat tersebut kemudian dibandingkan dengan upaya dan pengorbanan apa saja yang harus mereka lakukan. Termasuk berapa rupiah yang harus dibayarkan untuk memperolehnya. Konsep inilah yang disebut dengan “value”, yakni benefit yang diterima dibagi dengan cost yang harus mereka keluarkan.

Nah, dari serentetan survei selama tiga tahun terakhir, kami menemukan fenomena menarik. Yaitu bahwa kelas menengah yang kian knowledgeable kian men-drive pemain di hampir seluruh industri untuk melakukan apa yang disebut Prof. Chan Kim (ingat buku Blue Ocean Strategy) sebagai inovasi nilai (value innovation). Gampangnya, inovasi nilai adalah kemampuan menghasilkan extraordinary value dengan cara meningkatkan benefit, sekaligus menurunkan cost yang harus dibayar konsumen.

Value Innovation inilah yang akan dijadikan tema oleh Inventure dalam menggelar event besar tahunan Middle Class Forum (MCF 2015) 28 Mei mendatang. Yang belum tahu, MCF adalah sebuah konferensi yang menampilkan brandbrand yang menyasar konsumen kelas menengah (middle-class brands). Di dalam event ini kita akan mendapatkan sharing dari sekitar 30 middleclass brand hebat di Indonesia dalam berolah strategi untuk memenangkan hati konsumen kelas menengah. Sebelum kita bertemu di MCF 2015 akhir Mei mendatang, kami ingin memberikan sedikit “pancingan” terkait tema konferensi tersebut.

Value Conscious
Sebagai segmen yang sudah knowledgeable, konsumen kelas menengah ingin mendapat banyak value. Sehingga kelas menengah sangat jeli dan kritis memilah dan memilih berbagai brand yang dapat memberi value luar biasa pada harga yang terjangkau. Brandbrand seperti Lenovo, AirAsia, 7-Eleven, atau Hotel Amaris adalah contoh-contoh brand yang sadar bahwa kelas menengah sadar nilai (value conscious). Mereka adalah brand yang sukses karena menerapkan strategi jitu: memberikan value yang lebih dengan harga terjangkau.

Blue Ocean
7-Eleven adalah studi kasus yang menarik. Bisnis yang satu ini bukan termasuk kategori minimarket seperti Indomaret atau Alfamart. Juga tidak termasuk dalam kategori café. Di tengah persaingan ritel yang kian ketat, 7-Eleven “mengasingkan diri” untuk meraih kemenangan di persaingan yang tidak terlalu kompetitif. Mereka menawarkan beragam produk makanan dan minuman layaknya minimarket, tetapi dengan konsep kongkow-kongkow ala café.

Value innovation yang dilakukan oleh 7-Eleven tidak berfokus pada mengalahkan kompetitor, melainkan membuat kompetisi menjadi tidak relevan lagi.

Bigger Size
Saat akhir pekan di hypermarket, kami perhatikan ibu-ibu kelas menengah yang sedang membeli bermacam-macam kebutuhan keluarga kini lebih suka mengambil produk-produk dalam ukuran yang lebih besar. Meskipun harga yang dibayar lebih tinggi, tetapi manfaat yang diterima lebih banyak. Kini ibu-ibu kelas menengah lebih tertarik dengan “bigger size” karena harga per gram atau per mililiter-nya menjadi lebih murah. Ini adalah cerminan konsumen kelas menengah yang smart dalam mengambil manfaat semaksimal mungkin dari produk yang mereka beli.

Private Label
Ketimbang membeli gula yang branded, lebih baik beli gula dengan private label dari supermarket atau hypermarket terdekat. Mungkin itu yang ada di pikiran (lagi-lagi) ibu-ibu kelas menengah selaku “menteri keuangan” keluarga. Manfaat manis yang dirasakan sama, tetapi pada price yang lebih rendah. Hal ini tidak hanya dalam kasus gula saja, tetapi juga pada komoditi-komoditi yang lain. Semisal kapas, sirup, popok, minyak goreng, dan lain sebagainya. Ingat, middle-class mom is a hypervalue consumer.

Full Package
Value innovation juga menjangkiti jasa liburan (travelling). Beli tiket yang terpisah dari tour wisata, lalu menyusun itinerary sendiri sudah tidak jamannya lagi. Konsumen kelas menengah menyadari bahwa pola demikian sudah jelas menghasilkan akumulasi harga yang lebih tinggi. Beda kalau mengambil pilihan full package, dimana keseluruhan komponen biaya disatukan mulai dari tiket pulang-pergi, hotel, destinasi wisata, dan sebagainya. Dengan pilihan full package ini, maka harga jatuhnya akan lebih murah alias value-nya maksimal.

Masih banyak lagi resep-resep value innovation yang dilakukan oleh middle class brand dalam menangkap konsumen kelas menengah yang kian cerdas. Untuk selengkapnya mari kita jumpa di MCF 2015 Mei mendatang.

Related Post:
Perilaku Travelling Kelas Menengah
Inovasi (I) , dan Inovasi (II)
Fokus Inovasi 

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag | Tinggalkan komentar

Hierarki Pengelolaan Keuangan


Diskusi saya dengan teman SMA di weekend lalu berakhir pada pemodelan dalam artikel ini. Dia, sama seperti saya, sudah melewati masa-masa early jobber. Kami sudah lebih paham pengelolaan keuangan dibanding masa-masa awal bekerja dulu. Tentu, apa yang bagaimana pemahaman dan pengelolaan keuangan yang kami  lakukan sekarang sudah lebih advanced daripada saat masih sekolah/kuliah. Ada 5 tingkat hierarki pengelolaan keuangan. Kalau kamu sudah tahu posisi kamu di mana dalam hierarki tersebut, kamu sudah tahu kemana berikutnya harus melangkah.

hierarki pengelolaan keuangan

Belum mandiri, masih nebeng sama orang tua
Makan, tinggal, sekolah masih atas biaya orang tua. Atau hidup dari bantuan keluarga besar yang lain. Atau menerima beasiswa. Punya pendapatan sampingan lebih oke. Untuk kamu yang masih kuliah, oke banget kalau bisa sambil mengajar anak SMA. Atau bisa juga mendaftar sebagai asisten mata kuliah/laboratorium. Dulu waktu saya masih mengajar anak sekolah di Bandung, per pertemuan bisa dihargai Rp 50-60 ribu. Lumayan :D

Sudah mandiri, lepas dari inang 
Kalau sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak, sudah waktunya lepas dari inang. Awal kerja, bolehlah merayakan sedikit mentraktir teman-teman dekat. Soal belanja, pastikan beli manfaat yang tepat. Karena pasti ada pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, dan konsumsi. At least, di fase ini orang tua (atau inang yang lain) tidak lagi menanggung biaya kehidupan kamu.

Beberapa jenis pekerjaan menuntut penampilan prima di mata orang lain. Pakaian kerja yang update dengan tren fesyen. Mobil yang menaikkan gengsi, dll. Meski bergaji besar, adakalanya pendapatan malah pas-pasan dengan pengeluaran tersebut. Belum termasuk pengeluaran konsumtif seperti kehidupan sosial di restoran/kafe, kartu kredit, kredit peralatan rumah tangga, dan berbagai cicilan lainnya yang baru bisa menyematkan status “mandiri finansial” saja.

Punya tabungan dari hasil bekerja 
Secara umum, orang Indonesia itu sulit menabung. Berbagai gerakan sudah pernah dicanangkan pemerintah. Satu contoh: Ayo ke Bank. Orang Indonesia itu paling mudah tergoda untuk belanja, meski belum tentu dikonsumsi. Mudah juga untuk tergoda sama diskon. Padahal diskon ada sejak awal hingga akhir tahun. Ujung-ujungnya malah sulit menabung.

Tabungan, bagi saya, adalah cadangan dana yang belum pasti alokasinya untuk apa. Bisa untuk backup asuransi (bila diperlukan), tambahan biaya berobat (mekanisme reimbursement), dana darurat untuk bantu keluarga yang sekolah/menikah, dsb. Berapa besarnya? Biasanya bervariasi antara 3-6 kali dari pengeluaran bulanan.

Punya investasi yang memberikan cash-in
Setelah tabungan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan ini itu. Sebagian di antaranya boleh dimasukkan ke produk investasi. Minimal deposito. Berikutnya ke instrumen keuangan lain yang memberikan return lebih besar daripada tabungan: reksa dana, saham, dll. Jangan lupa sesuaikan dengan profil investasi. Usahakan tabungan & investasi mencapai 30% dari pengeluaran bulanan.

Bisa juga titip modal ke teman pengusaha yang bisa dipercaya. Dan mau bekerja keras. Tapi tidak ada zero risk, lho. Jadi kenali betul plus-minus berinvestasi di teman pengusaha. Cash-in paling tinggi bisa berasal dari investasi ke bisnis yang dikelola sendiri. Dengan segala control di tangan sendiri, maka risiko bisa ditekan dan omzet bisa dimaksimalkan.

Hidup dari passive income 
Ini adalah mimpi kebanyakan middle class kita. Mimpi yang didorong dari berbagai seminar tentang “financial freedom“. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Sebab itu mereka mencari harapan-harapan lain yang bisa mereka kejar. Kalau pendapatan dari berbagai investasi (sawah/kebun, rumah kontrakan, atau kost-kostan), sudah melebihi pengeluaran keluarga, boleh saja resign dari pekerjaan untuk fokus di usaha keluarga.

Sudah tahu, posisi financial management kamu sekarang? Next, kamu bisa tentukan strategi dan langkah-langkah apa saja yang mau dilakukan untuk bisa naik hierarki :)

Related post:
Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial
Tips Berinvestasi
Investasi dan Investor

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

Going Healthy


Pada artikel edisi sebelumnya kami banyak menyinggung perubahan psikografi kelas menengah di bidang kesehatan. Kami sebutkan bahwa kelas menengah yang knowledgeable, socially connected, dan more resources kini memiliki “health consciousness” yang tinggi. Psikografi segmen kelas menengah ini merentang dari sekedar sadar untuk memilih dan membeli produk/layanan (yang dipersepsikan sehat) hingga menerapkan gaya hidup sehat ke dalam kebiasaan sehari-hari.

Tentunya kebiasaan sehari-hari yang merujuk gaya hidup sehat ini harus menjadi acuan para brand manager atau brand owner dalam mengembangkan program-program pemasaran yang terkait. Sehingga aktivitas pemasaran juga harus naik kelas. Dari sekedar mengkomunikasikan asosiasi terhadap brand menjadi implementasi gaya hidup sehat sehari-hari. Untuk kepentingan tersebut, mari kita kupas satu demi satu strategi-strategi pemasaran yang dapat dilakukan oleh brand terkait dengan kebiasaan gaya hidup sehat tersebut.

Preventive-focused
Bicara prioritas, salah satu aspirasi kelas menengah terkini dalam bidang kesehatan adalah menjaga daya tahan tubuh. Jadi tidak perlu menunggu sakit lalu berobat. Melainkan sudah sejak awal mencegah sakit. Fokus pada pencegahan penyakit inilah yang layak menjadi perhatian serta prioritas bagi brand manager. Apalagi kesibukan yang semakin padat bisa jadi penyebab datangnya sakit. Contoh produk yang fokus mencegah penyakit: multivitamin, vitamin C, nutrition water, dsb. Contoh layanan dengan tujuan sejenis: pemeriksaan laboratorium, konsultasi diet dan olahraga, dll.

Aspiration Facilitators
Brand harus dapat berperan sebagai fasilitator untuk mewujudkan aspirasi kesehatan kelas menengah. Aspirasi kesehatan kelas menengah adalah “stay fit and healthy”. Aspirasi ini datangnya dari lubuk hati yang paling dalam. Peran brand sebagai “aspiration facilitator” ini harus tampak sejak awal melalui berbagai touch point dengan segmen yang menjadi target market. Tidak hanya lewat produknya saja, tetapi juga berbagai layanan yang menyertainya.

Mari kita dalami sedikit aspirasi “stay fit and healthy” tersebut. Jadi kehidupan yang “tetap fit dan sehat” adalah perjalanan berat menuju kehidupan yang lebih indah. Dari sanalah datangnya kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh kelas menengah. Dimana, keindahan hidup yang tidak diwarnai dengan anggota keluarga yang sakit. Sebab sakit adalah kesengsaraan yang harus dihindari dan dicegah dalam waktu bersamaan. Sebab lain seperti stress akibat tekanan pekerjaan atau berbagai pikiran negatif juga menjadi sumber ketidakbahagiaan.

Lifestyle Marketing
You are what your habit. Perubahan menuju kesehatan yang lebih baik diawali dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Life style biasanya identik dengan asosiasi cool (keren) di mata segmen pasar tersebut. Dan sebagai segmen yang knowledgeable, coolness itu penting bagi kelas menengah. Akibatnya, isu life style adalah isu penting dalam menyasar kelas menengah. Para marketer semestinya memanfaatkan gaya hidup (life style) dalam memasarkan produk dan layanan mereka.

Bagi kelas menengah, sehat tidak hanya untuk diri sendiri saja. Sehat juga merupakan modal awal dalam membangun percaya diri untuk bergaul dan berkoneksi secara sosial. Contoh, langsing yang terlihat oleh mata. Lalu, tubuh berotot yang bisa dipamerkan ke rekan-rekan dan komunitas. Perut six pack yang tidak “merusak” penampilan ketika sedang groufie. Intinya adalah kelas menengah memiliki kebutuhan akan penampilan yang lebih baik di mata orang lain. Semua kebutuhan tersebut merupakan bukti nyata bahwa kelas menengah menghendaki healthy life style.

Your Brand as Movement
Movement identik dengan kampanye. Tapi movement bukan sekedar kampanya yang berisi ajakan semata. Brand movement yang cool adalah brand movement yang sifatnya edukatif serta turut mengatasi masalah-masalah kesehatan di masyarakat. Sehingga akan berimpak positif pada brand produk atau layanan kesehatan itu sendiri. Di samping itu akan melahirkan para advocator yang tulus ikhlas turut meramaikan dan menyebarluaskan kampanye dan gerakan yang cool tersebut.

Jadi saran kami, para marketer tidak hanya berkampanye mengenai betapa penting, keren dan bermanfaatnya gaya hidup sehat. Melainkan sudah membawa brand yang dibesut ke dalam format gerakan yang mengedukasi dan mengajak kelas menengah kebanyakan. Kelas menengah memiliki kebanggaan tersendiri manakala dirinya dianggap sebagai inspirator untuk gaya hidup sehat di lingkungan keluarga, kolega, maupun rekan kerja. Tujuan akhirnya adalah menciptakan inspiring advocator.

Maximize Content Marketing
Isunya adalah informasi yang diberikan harus kredibel, lengkap nan terpercaya. Sekali lagi, tidak lain dan tidak bukan karena kelas menengah adalah segmen yang knowledgeable. Para content-based marketer harus tekun dalam men-deliver konten. Targetnya adalah membuat kelas menengah berlangganan artikel/status/post/tweet mengenai kesehatan dari brand anda. Tidak hanya melalui social media, website sebagai “rumah brand di dunia maya” juga harus oke punya. Ujung-ujungnya adalah agar brand search-able di lanskap yang serba digital ini.

Facilitate Social Connection
Brand yang memfasilitasi gaya hidup sehat harus turut serta dalam memfasilitasi salah satu kebutuhan utama kelas menengah: social connection. Brand dapat ikut mensponsori atau berkolaborasi dalam menciptakan ruang-ruang bagi kelas menengah untuk bersosialisasi dan bergaul dengan sesamanya. Misalnya lomba lari marathon atau futsal antar komunitas. Meski ada unsur “fake healthy lifestyle” di sana. Yaitu keinginan eksis dan narsis di lingkungan teman-teman. Fasilitas “social connection” menjadi penting agar kelas menengah merasa “cool” dalam mengikuti berbagai event dan aktivitas tersebut.

Related Post:
Healthy Life Style

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag , , | Tinggalkan komentar

Roles in Buying Process


Di tipikal bisnis B2C, semua peran ini biasanya dilakukan oleh satu orang. Misalnya snack untuk usia sekolah. Iklan ditujukan kepada mereka, di program televisi yang mereka tonton (misal: minggu pagi). Segmen anak sekolah secara umum diberi uang jajan oleh ibu. Yang memutuskan beli juga mereka sendiri. Penggunanya juga mereka lagi.

Sebaliknya di B2B, semua peran ini seringkali dilakukan oleh orang berbeda. Tidak heran di B2B, salah satu kunci sukses adalah kenal dengan banyak orang. Baik atasan, peers, hingga subordinat. Rekomendasi oleh sesama karyawan di sana (mengenai perusahaan kita) jadi peran penting. Anda harus jadi orang baik untuk sukses di sana. Saya identifikasi ada empat peran yang terlibat dalam keputusan pembelian: influencer – gatekeeper – decision taker – buyer – user.

buying roles

Influencer Mereka adalah para pemberi pengaruh. Rekomendasi mereka sangat didengarkan. Pada dasarnya karena mereka dikenal dan dipercaya oleh lingkungan di sekitar mereka. They are trusted people. Mungkin saja mereka adalah atasan dari para user atau decision maker.

Gatekeeper. Bahasa Indonesia-nya “penjaga pintu”. Bisa sekretaris, personal assistant (pa), wakil, dan semacamnya. Ekstrimnya, kalau orang ini tidak senang dengan kita, bisa saja mereka tidak menghubungkan kita dengan si “decision maker”.

Decision Taker  Keputusan “beli” dibuat oleh pelaku peran ini. Pengisi jabatan minimal berperan sebagai team leader. Group head, division head, director tentu saja termasuk pengambil keputusan beli.

Buyer Saya menggunakan istilah buyer karena ini yang paling umum. Bisa juga diperankan oleh pemegang anggaran (budget holder). Supaya proposal kamu bisa goal, harganya harus masuk dalam buyer’s budget.

User adalah pengguna dari produk/layanan yang kamu pasarkan. Seperti apa yang harus anda berikan, kelompok ini adalah yang paling tahu. Sebab mereka yang menggunakan dan merasakan. Mereka bisa merasakan penurunan atau kenaikan standar kualitas produk dan layanan yang diberikan.

Penting banget mengenali siapa saja pemegang peran-peran di atas. Apalagi ketika beberapa peran dijalankan oleh satu orang sekaligus. Treatment kepada yang bersangkutan harus sangat personal. Dengan mengenali pembagian peran di perusahaan klien, maka eksekusi penjualan lebih terencana, terarah, dan efektif.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tinggalkan komentar