Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda


Kenapa harus Instagram?

Marketer yang peduli terhadap konsumennya tidak akan bertanya demikian. Karena marketer yang semaunya sendiri akan berujung pada kegagalan menggarap pasar (makro) dan pelanggan (mikro). Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata.

Sebaliknya, Marketer yang care terhadap para pelanggan, akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Setidaknya dengan berkomunikasi dalam bahasa dan medium yang dikehendaki oleh pelanggan. Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner. Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing. Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu. Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dengan beragam tingkatan) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook. Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran. Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh Facebook (perusahaan).

6 Cara Riset Content Marketing yang Akan Membuat Pengunjung Betah Berlama-lama di Web Anda


Di artikel yang lalu, entah yang mana saya tidak ingat lagi😀 sudah saya tuliskan bahwa proses menulis adalah (1)riset-(2)draft-(3)produksi-(4)revisi. Bagi saya ini berlaku untuk segala jenis tulisan: (a)opini yang dikirim ke koran, (b)artikel untuk majalah dwimingguan, dan lain sebagainya.

Untuk di internet, prosesnya ditambahkan satu lagi, yaitu (5)promosi (ke social media). Agar para pengguna sosial media berbondong-bondong menuju blog/web milik kamu.

Demikian pentingnya riset sebelum menulis, sebab riset adalah (1) proses pertama yang harus dilakukan serta (2) menjadi fondasi atas kualitas suatu tulisan.

Jadi makin banyak riset, maka kualitas tulisan cenderung membaik. Jangan heran banyak penulis tersohor yang mengingatkan agar kita membaca buku lebih banyak supaya kita dapat menjadi penulis yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Bagaimana riset penulisan memandang perilaku plagiarisme? Simak dulu quote yang berikut ini:

If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research (Wilson Mizner)

Dengan kata lain, menulis dengan hanya satu sumber itu mencontek. At least akan terasa bahwa gagasannya kurang kuat/banyak. Tapi kalau kamu menulis setelah membaca banyak referensi, itu berarti kamu sudah melakukan riset.

Makin bagus riset kamu, makin berkelas tulisan kamu.

Nah, mungkin kemudian kamu bertanya, (1) Riset apa yang harus dilakukan? (2) Bagaimana cara melakukan riset?

Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, berikut adalah beberapa hal yang bisa saya rangkumkan.

(1) Riset dari blog orang lain. Temukan informasi-informasi penting dari blog tersebut. Tidak harus berupa data, inspirasi untuk menulis juga bisa datang dari blogger lain.

Inspirasi tersebut bisa jadi bahan untuk tulisan kamu. Tentu saja harus ditambahkan sudut pandang, pendapat, dan pengalaman pribadi supaya menjadi berbeda dibanding inspirasi dari blogger tersebut.

Dalam setiap niche, ada blogger-blogger berkualitas yang layak kita jadikan sebagai mahaguru. Bagaimana cara supaya tidak terlupa untuk berkunjung ke blog tersebut?

Yaitu berlangganan email marketing. Beberapa waktu lalu saya sudah menyarankan untuk berlangganan beberapa email marketing sekaligus terkait dengan bidang-bidang yang ingin kamu pelajari.

(2) Riset di http://www.quora.com Dari sana bisa terbayang seputar detil-detil yang dikehendaki oleh (calon) pembaca dari topik yang ingin kita tulis.

Cari pertanyaan yang begitu sulit sehingga tidak seorang pun menyediakan jawabannya di internet. Mungkin ada pertanyaan di http://www.quora.com yang kamu sukai, tapi tidak ada jawaban yang berhasil memuaskan rasa ingin tahu kamu.

Masih belum yakin dengan Quora? Mungkin kamu bisa re-ask pertanyaan How has Quora affected your life?” :D

quora-logo

(3) Riset dari membaca buku yang terkait. Bagaimanapun lengkapnya internet sebagai sumber, kadangkala referensinya tidak terlalu kokoh. Satu sumber di internet bisa ditimpa dengan sumber yang lain.

Bagaimana mendapat sumber yang robust (kokoh)? Salah satunya dengan membaca buku yang tepat. Yaitu buku dengan referensi yang lengkap dan saling mendukung satu sama lain.

Biasanya buku-buku seperti ini dibaca dan dirujuk oleh banyak orang. Dan biasanya juga, memang merupakan hasil riset, analisis, dan penulisan secara mendalam.

Mas Yodhia Antariksa belum lama ini merekomendasikan 3 judul buku bisnis terbaik tahun 2015 (menurut beliau) untuk dibaca oleh kita semua. Setiap tahun, beliau membuat postingan dengan tema tersebut.

Ada lagi cara lain untuk mengetahui buku yang tepat: bertanya pada konsultan/dosen di bidangnya untuk mengetahui referensi paling baik mengenai topik tersebut.

Btw, kebetulan lagi ngomong konsultan, ada blog yang khusus membahas pekerjaan konsultan. Beberapa jenis pekerjaan konsultan bisa dibaca di www.pekerjaankonsultan.com

Atau kamu bisa lakukan 6 cara yang telah saya praktikkan agar bisa konsisten ngeblog.

(4) Riset kepada salah seorang pengunjung blog kamu. Bisa dengan interview langsung atau ngobrol-ngobrol sembari makan siang. Sekalian copy darat dan silaturahim, ‘kan.

Sebagai fans berat kamu, tentu dia mampu memberikan usul mengenai ide-ide artikel blog yang pantas masuk dalam content plan kamu.

Atau dia akan merasa beruntung karena sedang ingin bertanya tentang sesuatu hal — yang sekaligus kamu bisa gunakan sebagai topik untuk menulis artikel blog yang paling baru.

Cari tahu apa yang ingin diketahui oleh para blog readers (biasanya melalui comments),  lalu jawab pertanyaan tersebut melalui artikel anda.

(5) Riset Keyword. Ini ditujukan untuk SEO Copywriting. Tembak sebanyak-banyaknya keyword yang masih terkait satu sama lain dalam satu kategori/topik penulisan.

Lebih baik long tail keyword (LTK) daripada keyword yang hanya terdiri dari 2-3 kata. Penggunaan beragam LTK dalam satu artikel, akan memperkuat posisi artikel di hadapan sang mesin pencari.

Tulisan yang lebih condong pada kualitas, menuntut riset yang lebih intens daripada tulisan yang condong pada frekuensi rilis/publish. Tidak usah memaksa setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

(6) Riset dari pengalaman pribadi. Akan bermanfaat untuk gaya postingan life/reality blogging. Ini adalah salah satu gaya di antara 20 gaya posting blog.

Perspektif dan pengalaman pribadi akan memberi warna baru untuk topik yang pernah dibahas oleh penulis lain. Tidak hanya warna baru, tetapi juga memperkuat storytelling.

Yang mana, hanya kamu sendiri yang tahu dan merasakan langsung pengalaman kamu. Jadi ketika diceritakan oleh kamu sebagai pelaku sejarah itu sendiri, maka cerita tersebut akan menjadi lebih hebat.

Simpulan. Sudah dibedah di atas beberapa cara riset yang mungkin kita lakukan:

(1) Riset di blog orang lain
(2) Riset di Quora
(3) Riset dari buku yang direkomendasikan
(4) Riset pengunjung blog
(5) Riset keyword
(6) Riset dari pengalaman pribadi

Sebab riset merupakan tulang punggung proses-proses penulisan. Dengan berbagai metode riset tersebut, semestinya kita bisa mengembangkan tulisan yang lebih berbobot.

Semoga tulisan singkat ini tepat memberi manfaat:)

 

Desember, Bulan Evaluasi


Sekarang sudah memasuki bulan terakhir dari setiap tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan-bulan ini kita membuat evaluasi atas semua aktivitas.

Idealnya, dari evaluasi yang sudah berbentuk dokumen itu, jadi bahan untuk menyusun perencanaan yang baru. Rencana juga harus ada dokumennya. Supaya selalu bisa ditinjau.

Namanya rencana ya harus ada goal yang mau dicapai. Idealnya, goal di periode berikut itu lebih tinggi/berat daripada tahun ini atau periode sebelumnya.

goal-quotes-82

Yang sudah biasa kita dengar adalah SMART: (S)pecific (M)easurable (A)ttainable (R)ealistic (T)imely.

Om Annas Ahmad (@annasahmad) kemarin baru menulis 4 kesalahan dalam menyusun goal. Keempatnya adalah (1) too big, (2) too many, (3)not specific, (4) not written.

Not specific itu sudah menyalahi aturan SMART sejak huruf pertama. Sedangkan tidak menyusun dokumen rencana berarti menyalahi aturan not written.

Back to topic. Jadi Desember itu bulan evaluasi ya. Apa yang dievaluasi? Ya plan-nya dong, ya. Apa yang pernah dikerjakan (baca: aktivitas), dan hasilnya seperti apa. Apakah goal-nya tercapai atau tidak. Catatannya adalah bagaimana memperbaiki aktivitas tersebut, atau bahkan bagaimana meningkatkan hasilnya.

Bisa repot mengevaluasi sesuatu yang belum pernah direncanakan dan/atau ditargetkan.

Evaluasi itu ibarat menerima rapor waktu sekolah dulu. Atau ibarat menghitung Indeks Prestasi (IP) sendiri setelah rangkaian kuliah, quiz, praktikum, dan ujian selesai.

Hasil evaluasi itu kadang menohok, kadang membahagiakan. Apalagi kalau kita membandingkan dengan orang lain. Padahal, tidak selalu tepat. Karena kondisi awal tiap orang kan beda-beda. Kerja keras antar orang juga tidak selalu bisa dibandingkan.

Hasil evaluasi itu menohok (manakala target tidak tercapai) karena kita pasang goal terlalu tinggi. Mungkin karena bikin goal-nya pas di seminar motivasi ya. Jadi lagi terpengaruh adrenalin. Akibat omongannya si motivator yang (terlalu) berapi-api. Hehe😀

Jangan lihat hasil evaluasi aja, kali ya. Kita juga perlu melihat prosesnya. Apakah dari prosesnya itu kita merasakan fun and challenging. Ibarat perjalanan menggapai puncak gunung, lihat kanan kiri juga donk.

Biar bisa sumringah melihat pemandangan kiri-kanan yang banyak pohon cemara itu. Seperti lagu kanak-kanak itu masih terngiang-ngiang dan berputar otomatis di dalam kepala saya.

Goal itu harus bikin tetap semangat lho. Makanya ada namanya quick win. Yaitu goal yang enggak terlalu besar. Bisa dicapai dalam waktu pendek. Sebutlah 3 bulan. Kalau tercapai kan jadi tambah semangat.

Makanya ada program 100 hari, ‘kan. Karena program yang berhasil dalam jangka pendek ini akan memberi semangat untuk meraih goal yang jangka panjangnya. Katakanlah untuk 3-5 tahun ke depan.

Di pemerintahan tingkat nasional belakangan (sudah sejak beberapa periode kepemimpinan presiden, sebenarnya) gencar menyuarakan program 100 hari ini. Sebagai penyemangat para pasukan (baca: kabinet) baru untuk bekerja cepat dan meraih hasil dalam 100 hari.

Income sebagai sebuah goal. Kalau income 10 juta rupiah adalah goal, maka lingkungan harus mendukung. Goal-nya 10 juta rupiah, tapi teman-temannya masih yang 5 juta rupiah, maka sulit mencapainya.

Teman-teman itu faktor eksternal ya. Masih ada faktor internal juga. Yaitu sumber daya yang kita punya. Kalau waktu engga usah dibahas ya. Semua orang kan jatahnya sama-sama 24 jam. Komputer untuk bekerja, kendaraan pribadi untuk mobilitas sana-sini, dan sebagainya yang turut berkontribusi dalam keberhasilan kita mencapai goal.

Padahal sekarang kan era internet ya. Setidaknya satu kesulitan kita untuk berbisnis sudah teratasi. Apalagi internet membuka beberapa jenis peluang bisnis yang baru.

Pendidikan sebagai sebuah goal. Misalnya nih, kita mau S2. Tapi kok ya belum dimulai-mulai juga. Ada aja hambatannya. Mulai dari masih ketagihan kerja, takut kalau kuliah lagi malah gak beres-beres, dan seterusnya. Kalau sudah begini, biasanya galau terus kapan memulai S2.

Kegalauan berikutnya adalah sumber dananya tidak kunjung ada. Kepakai untuk kredit inilah, atau digunakan untuk bayar itulah, dst. Ya mungkin yang bersangkutan hanya belum tahu persiapan dana pendidikan S2 saja.

Kita harus bertanggung jawab terhadap goal yang di-setting sendiri 

Kemarin diskusi sama Mbak Mega, founder and owner-nya CommTech, sebuah lembaga pelatihan. “Kalau di komunitas Tangan Di Atas (TDA), kita tidak boleh menyalahkan pihak eksternal. Jadi harus membenahi internal kita”, kira-kira begitu pesannya.

Nah bicara soal sumber daya yang jelas-jelas semua orang memiliki dalam jumlah sama: waktu. Mereka yang berhasil, memberlakukan skala prioritas. Sebenarnya semua orang pakai skala prioritas, cuma ada yang 3 saja, tapi ada juga yang sampai 100 prioritas, hehe😀

Saya coba rekomendasikan dua buku ya. Yang juga direkomendasikan oleh banyak orang. Belum sempat saya sentuh sebenarnya. Karena saya belum beli dan belum pinjam, hehe. yaitu “Eat that Frog”-nya Brian Tracy, sama “4 Hours Workweek”-nya Timothy Ferris.

Eat that Frog. Yaitu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan “berat” di pagi. Terutama pekerjaan yang berat sekaligus sering ditunda. Bagaimana jika frog ini masih di piring sarapan kita sementara hari sudah menjelang siang? Maka pekerjaan-pekerjaan berikutnya sudah pasti tertunda..

Konsep ini memang cocok untuk manusia pagi. Jadi mereka yang konsentrasi maksimal di pagi hari. Jadi belum tentu cocok untuk manusia malam seperti kamu. Iya, kamu. Kamu yang suka baru dapat ide untuk kerjaan pas jelang tengah malam :p

4 Hours Workweek. Dosen tamu di Princeton University ini mengajukan konsep DEAL (Definition, Elimination, Automation, Liberation).

Dua poin paling menarik untuk kita terapkan ke dalam hidup kita adalah (1) bagaimana mengatur ulang waktu kita dengan mengalihdayakan sebagian aktivitas kita kepada pihak lain, alias Elimination.

Dan (2) membuat bisnis kita berjalan secara otomatis sehingga kita tidak perlu selalu terlibat di dalamnya (konsep Automation).

Share article ini ya jika kamu merasakan manfaatnya..

Cek 4 Elemen Berikut Untuk Memeriksa Kualitas Brand Story Kamu


We’ll love story. Especially story about hero inside us whom be brave enough overcome his/her challenge to pursue his/her dreams.

Lihat bagaimana serial gotham membangun koneksi lalu mengaduk-aduk emosi penontonnya melalui cerita-cerita yang mereka sampaikan dalam setiap episode.

Gotham yang sekarang sudah masuk ke season 2. Ada karakter Theo Galavan yang jadi antagonis sentral di season terbaru ini. Nyaris semua antagonis di semua episode yang sudah berlangsung, pasti terkait dengan Galavan yang satu ini. Dugaan saya, Galavan adalah musuh terberat dari Jim Gordon di season 2.

Ups, too much information, jadi tidak fokus ke creme de la creme-nya ya😀

Nah, cerita mengenai Batman, dan segala yang dikait-kaitkan dengan second identity-nya Bruce Wayne tersebut, selalu tampak bagus. Apa yang membuat sebuah cerita –seperti Batman– selalu bagus? Apa saja yang menjadi kesamaan di antara semua cerita tersebut?

Sebagaimana headline di atas, ternyata ada empat elemen yang membuat sebuah cerita menjadi bagus.

(1) Setting. Where is this story happening? Di mana cerita ini mengambil latar belakang? Waktu, tempat, dan seterusnya.

(2) Character. Who’s the story about. Apakah tentang kelompok/komunitas/perusahaan/institusi tertentu? Siapa yang menjadi frontman-nya? Atau cerita ini berkisar seputar seorang protagonis saja?

(3) Plot: Action. How character respond the setting? What are your characters doing? Atau bagaimana karakter mewujudkan tujuan/misi besarnya?

Sebab akan selalu ada penghalang (bencana alam, ketidakberuntungan, tokoh antagonis) yang menentang tokoh utama dalam mengejar tujuan/misi tersebut.

Biasanya, semakin kuat penghalangnya, dan semakin protagonis berusaha mengatasinya, maka semakin bagus ceritanya. Kita bedah satu kasus yang bagus.

globe

Anita Roddick jadi kisah superhero yang luar biasa. Bagaimana dia bersama Body Shop menggalang misi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.

Core values seperti against animal testing adalah idenya yang dia eksekusi dengan sangat baik. Jadi pembeda yang signifikan di saat kompetitor belum mampu melakukan inisiatif tersebut.

Jadi semua elemen brand Body Shop dikonsep, digagas, dan dieksekusi hingga menghasilkan citra yang begitu positif, tapi tetap engaged dengan pelanggannya lewat satu fokus tema: lingkungan.

Dengan demikian, Body Shop sukses being different to standout from the crowds. Hal ini tidak pernah mudah. Sebab tantangan industri telah dan akan selalu menghalangi.

Luar biasa apa yang dilakukan oleh beliau, mengingat Body Shop adalah perusahaan kosmetik. 

Jadi, rumusnya adalah semakin lakon “mengalami apes, tapi bersikap ngeyel” maka akan semakin bagus ceritanya.

Keyword tersebut saya dapat dari Mas Yusuf, seorang strategist and executor di www.smuufy.com

(4) Detail: which specific things should your audience notice. Monolog, dialog, deskripsi (dari apa yang dia dengar, lihat, sentuh, rasakan), narasi, backstory (apa yang sebelumnya terjadi), dan lain-lain.

Tiga elemen yang pertama sebenarnya sudah cukup untuk menghasilkan brand story yang bagus. Tapi tanpa pendetilan (yakni elemen ke-4) yang luar biasa, maka storytelling-nya bisa jadi hambar. Eksekusi konsep adalah titik kritis dalam implementasi strategi pemasaran ini.

Kesimpulan:
(1) Saya kira storytelling adalah salah satu skill yang harus dimiliki para pemasar saat ini. Terlebih profesi PR (Public Relation). Cek apakah kamu sudah punya 7 skill praktisi PR masa kini.

(2) Brand story dapat dirancang melalui konsep dan implementasi dari 4 elemen yang telah kita bahas di atas.

PS. Kalau kamu ingin berdiskusi dengan seseorang, dan mendapatkan feedback yang baik –serta bisa kamu gunakan, tentu saja– tentang ke arah mana brand kamu bisa mengembangkan story-nya, maka cobalah untuk menemui BrainPower.

Semestinya dia bisa membantu kamu, seperti dia sudah membantu saya:)

Darimana saya mendapatkan konten? Berikut tips yang bisa kamu lakukan


Saya berlangganan email dari mereka. Jadi saya ini adalah leads yang berupaya mereka konversi menjadi penjualan.

Kalau saya berminat dengan headline mereka, maka saya klik link yang mereka maksud. Isi email biasanya memang hanya pancingan saja.

Tujuan akhirnya tetap membawa saya (alias pelanggan email) berangkat ke website yang bersangkutan. Email marketing memang termasuk salah satu strategi untuk mendatangkan traffic ke website.

email-marketing

Dalam halnya kompetisi memperebutkan email subscriber, sekali lagi teori positioning terus berlaku dan menunjukkan kedigdayaannya. Bahwa para pemain online harus terus membangun perbedaan dengan kompetitor –langsung atau tidak langsung– supaya bisa terus eksis.

Buat yang gagal mempertahankan eksistensinya, unsubscribe adalah risiko hukuman dari para pelanggan. Sehingga pelanggan ini langsung berubah status sebagai orang asing.

Kelebihan berlangganan konten via email memang di situ: kita leluasa melakukan unsubscribe. Kapan saja kita bisa melakukannya. Dan prosesnya tidak ribet. Sama mudahnya seperti dahulu kita mulai berlangganan.

Kesimpulannya? Jangan takut untuk berlangganan konten dari mereka. Ini bukan langganan SMS yang tidak bisa un-reg (ke provider telko) itu.

Sebagian besar yang saya subscribe adalah para konsultan internet marketing. Di mana, fokus konten mereka memang berbeda-beda. Ada yang fokus di strategi, juga ada yang kuat di taktik.

Ah iya, saya jadi ingat branding dan selling. Branding adalah strategi, selling adalah taktik. Lengkapnya bisa dilihat lagi di sini

Berikut saya sampaikan website dari beberapa tokoh internet yang saya pelajari ilmu-ilmunya:

(1) fikryfatullah.com Beliau ini kuatnya di taktik. Penyampaian dalam bahasa kita sendiri, Indonesia, pastinya bikin kita enggak salah tangkap.

(2) neilpatel.com adalah blog pribadi Neil Patel. Blog dari korporatnya di quicksprout.com Karena berbahasa Inggris, maka bisa jadi kita salah interpretasi. Kekuatan beliau di level strategi. Yakni strategi yang bisa dieksekusi saat ini.

(3) mirandamarquit.com Miranda Marquit adalah guru saya dalam kelas menulis dan blogging. Menulis di internet bukan perkara yang sama dengan menulis di media yang lain. Sebab di internet ada faktor-faktor (SEO hanya salah satunya) yang harus kita perhatikan.

(4) briansolis.com Brian Solis Banyak memberikan ‘terawangan’ tentang dunia bisnis dan pemasaran digital ke depan. Beliau banyak mengulas inovasi-inovasi baru yang menurutnya akan menjadi tren di masa datang.

Karena masih berupa ‘terawangan’, belum tentu tren tersebut akan relevan sehingga harus dieksekusi sekarang. Itulah bedanya dengan Neil Patel yang strateginya sudah mendesak untuk dieksekusi saat ini.

(5) WPBeginner. Email yang dikirimkan oleh mereka biasanya adalah akumulasi dari artikel di website wpbeginner.com . Setiap sudah 3 artikel, mereka kirimkan email.

Kira-kira demikian yang saya ingat. Sebenarnya masih ada yang lain. Semisal HubSpot.com yang fokus di marketing, namun banyak cabang-cabangnya. Dan semuanya penting untuk kita kuasai.

Sebagai blogger yang fokus di tulisan, saya merasa cukup dengan informasi seputar pengoperasian WordPress –yang sederhana tentu saja. Tidak perlu sampai coding atau programming.

Kebutuhan saya yang sederhana itu memang sudah sesuai dengan promise “beginner” mereka. Ini namanya brand had deliver the promise. Coba cek juga analogi pemasaran yang lain

Kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Belajar dari berbagai sumber online yang kompeten dan relevan.

Sebab di internet itu ada banyak sekali ragam konten. Penyedia kontennya juga banyak sekali. Parenting? Ada. Business? Jelas ada. Entrepreneurship? Ada juga.

Sekali lagi, yang perlu dilakukan hanya mengklik “subscribe” pada jenis konten yang kamu inginkan.

Saya pun berlangganan email dari dadandburied.com, karena mereka menawarkan sudut pandang yang menarik. Tagline mereka yaitu anti-parent parenting. Sebagai mas-mas yang sudah menjadi orang tua😀, saya perlu mengikuti blog tersebut.

Ya namanya juga sudah jadi orang tua ya. Fasenya sudah berbeda. Bukan lagi mikirin apakah dia jodoh yang dikirimkan oleh Tuhan untuk aku, bukan ya? Atau rangkaian acara pernikahan yang melelahkan tapi bikin bahagia itu.

P.S. Kalau kamu merasakan manfaatnya, kamu boleh banget share tulisan ini:)

5 Saran yang Tidak Bisa Diabaikan Freelancer Pemula


Di postingan sebelumnya saya sempat menyampaikan sedikit cerita tentang saya. Hehe. Sedikit narsis boleh dong ya😀

Sekarang saya ceritakan terkait babak baru yang saya jalani. Terkait ini, artikel pendahuluannya adalah menghitung fee untuk freelance.

Bagi kamu para mahasiswa yang sudah membuka usaha jasa freelance bersama teman, ada baiknya untuk tidak melanjutkan usaha tersebut pasca lulus. Maksudnya adalah, tidak ada salahnya untuk ikut bekerja permanen lebih dulu di salah satu usaha yang sudah mapan.

Karena pengalaman kerja permanen itulah yang membentuk dan memperkaya diri kita. Sambil kita bisa membayangkan dan menyimpulkan, seberapa mampu kita bekerja/berbisnis secara mandiri.

Mari belajar dari mereka yang baru bekerja 3-5 tahun lalu sudah merasa bisa bekerja mandiri (freelance) & mengelola klien sendiri. Kenyataannya adalah hanya bisa bertahan sebentar, lalu terpaksa melamar kerja, kemudian bekerja kembali.

Akibatnya jadi lebih sulit karena usia sudah bertambah, harus menyesuaikan diri kembali, dan seterusnya.

Freelance memang tidak mudah. Sebab itu sebelum memulai freelance, pastikan kamu tahu tekanan mental dan finansial yang akan dihadapi. Freelance sudah pasti tidak sama dengan bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang sudah mapan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Untuk bertahan dari tekanan finansial, kamu harus punya cadangan dana. Ingat lho, belum tentu langsung mendapat dan punya proyek ketika memulai freelance. Di samping itu, belum tentu di setiap bulan-bulan awal akan penuh dengan proyek.

Skenario yang mungkin terjadi adalah: ada bulan-bulan yang ramai proyek, dengan bulan-bulan lain yang sepi proyek. Dalam jangka pendek, cadangan dana akan menolong kamu untuk bertahan. Dalam jangka panjang, perencanaan dan eksekusi pekerjaan/proyek, serta manajemen pelanggan adalah kunci untuk bertahan hidup.

Risk Management 

Belajar sesuatu yang baru adalah salah satu cara mengelola risiko yang mungkin terjadi berkait pekerjaan freelance. Di luar sana sudah banyak freelancer–thanks to digital technology and internet–yang belajar menguasai keterampilan kamu saat ini.

Cepat atau lambat, kamu pasti telah, sedang, dan akan berkompetisi dengan mereka. Pelajaran keterampilan yang baru akan membantu kamu memperoleh proyek yang berbeda.

Misalnya, web programming, software desain, dan sebagainya. Semuanya bisa kamu pelajari di mana saja, melalui laptop dengan spesifikasi yang relatif sama.

Standard hasil pekerjaan para freelancer juga beragam. Ada yang luar biasa –sudah berpengalaman, berkompeten, dan tahu persis deliverables-nya yang diberikan–, ada juga yang baru belajar—merasa bisa dan percaya diri setelah baru mampu mengoperasikan software pendukung pekerjaan.

Jadi sebagai freelance jangan merasa sudah jago. Merasa sudah bisa mengerjakan operasional pekerjaan sendiri, serta merasa sudah mampu sendirian menangani klien. Freelance harus terus belajar.

Tidak hanya belajar kemampuan yang baru dan berbeda. Tetapi juga belajar berani berkolaborasi dengan orang lain, dan mau mempelajari sesuatu yang baru.

Terkait belajar materi baru, bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Yaitu belajar yang disuka saja. Artinya karena suka –dan belum tentu ada kliennya—maka materi tersebut dipelajari. Freelancer tipe ini suka menumpuk materi pembelajaran di computer kesayangannya. Hati-hati, jangan-jangan kamu termasuk freelancer tipe ini. Hehe😀

Perilaku tersebut agak berisiko. Karena tidak siap dengan kebutuhan klien yang serba mendadak –dan cenderung baru—sehinggal gagal meraih kesempatan portfolio maupun laba yang baru.

Kategori kedua adalah freelancer yang belajar materi baru karena tuntutan pasar yang sedang booming –alias klien potensial yang mungkin datang—atau existing client yang menantang kamu dengan pekerjaan jenis baru yang belum pernah kamu kerjakan sebelumnya.

Tantangannya sudah jelas: belajar sesuatu yang belum kita sukai, alias tidak passion, dan mungkin berakibat pada menurunnya kualitas pekerjaan –karena tidak sesuai kata hati. Bagaimanapun juga, tantangan-tantangan ini harus diatasi sesegera mungkin.

Ingat yang dialami oleh Michaelangelo: dapat uang dari melukis, tetapi punya passion memahat patung. Beruntunglah mereka yang memiliki passion dan dapat memperoleh pendapatan darinya.

Belajar Operasional Bisnis

Karena ada dua aspek besar dalam pekerjaan freelance. Pertama, aspek operasional yang biasanya menuntut kreativitas tinggi supaya cipta karya-nya luar biasa. Kedua, aspek bisnis yang harus berjalan rapih dan sistematis.

Aspek pertama tidak perlu dijelaskan. Mungkin kamu lebih jago daripada saya. Hehe. Aspek kedua ini yang menuntut ketelitian terhadap detail. Mulai dari pembuatan proposal, presentasi rencana pekerjaan, closing penjualan, dan seterusnya.

Pokoknya segala yang terkait dengan cara-cara membuat pelanggan membayar kamu.

Juga ada administrasi semisal Surat Perintah Kerja (SPK) yang menjadi dokumen bahwa klien setuju mempekerjakan kamu. Bentuk lain dari SPK adalah Purchase Order (PO).

Ada pula dokumen penagihan (invoice) yang kamu kirimkan kepada klien setelah pekerjaan selesai. Klien biasanya tidak mengeluarkan sembarang uang begitu saja. Pengeluaran uang harus mengikuti invoice dari penerima pekerjaan.

Atau kwitansi setelah klien sudah membayar kamu. Kwitansi adalah dokumen bukti pembayaran klien kepada kamu.

Waktu dan Ruang Kerja

Pesan saya yang pertama, jangan bekerja di rumah. Minimal bekerja di dekat rumah. Kamu perlu keluar rumah, melihat jalan raya dan orang-orang setiap hari, serta kembali ke rumah untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga.

Penyatuan ruang kerja dan ruang berumah tangga/berkeluarga akan membuat kamu tidak fokus. Pekerjaan jadi tidak fokus, keluarga jadi berkurang perhatian. Rumah dan keluarga adalah tempat kita “charge” psikis dan mental supaya bisa produktif bekerja.

Tentu waktu bekerja freelance pasti fleksibel. Kadang-kadang agak sepi pekerjaan, kadang-kadang harus mengejar deadline hingga malam hari atau bahkan pagi hari.

Yang jelas, harus alokasikan waktu untuk keluarga. Jangan sampai pekerjaan freelance malah mengabaikan keluarga. Padahal ‘kan kita ini bekerja demi keluarga.

Ada waktu untuk keluarga, ada juga waktu untuk bekerja. Jenis waktu kedua inilah yang namanya billable hours. Alias, waktu yang jelas-jelas kita pakai untuk bekerja –termasuk melaksanakan proses riset—dan bisa kita tagih man hour fee-nya kepada klien.

Sebab itu ketika menyusun proposal, anda harus mencantumkan (1) proses bekerja apa saja yang anda lakukan, (2) berapa waktu yang diperlukan, serta (3) berapa rupiah yang anda tawarkan atas setiap proses dan waktu tersebut.

Bagi freelance desain grafis atau arsitek –bahkan mungkin juga freelance yang lain–, proses ini yang seringkali tidak disadari oleh klien yang buta proses desain. Mereka pikir yang mereka bayar adalah hasil kerjanya.

Padahal tidak demikian adanya. Yang dibayar oleh klien adalah proses bekerjanya. Sebab itu pengalaman kerja atau portfolio klien atau portfolio produk yang menentukan seberapa besar fee seorang freelance—bukan produk akhirnya.

Yang ditentukan berupa man hour fee, atau man days fee.

Berlebihan dalam Idealisme 

Punya idealism terhadap pekerjaan dan standard hasil kerja itu penting. Tetapi harus tetap halus ketika dikomunikasikan dengan klien. Jangan terlihat merasa pintar di hadapan klien.

Meskipun sudah punya portfolio segudang, tetap harus respek dan hormat kepada klien—sebab mereka yang membayar kita.

Mudah tersinggung juga tidak baik. Perasaan harus digunakan, tetapi tidak di setiap waktu. Jangan kemana-mana malah baper (bawa perasaan). Baru ditolak klien sudah tersinggung. Harus tetap bersemangat. Cemunguuddhh kaka..😀

Perasaan seperti mudah tersinggung ini yang kurang baik bagi pekerja freelance. Akibatnya mungkin dan bisa fatal: klien tidak merekomendasikan kepada calon-calon klien yang lain.

Hati-Hati Soal Pembayaran

Skenarionya ada beberapa macam. Bayar DP dulu, sisanya belakangan. Sisa ini bisa 1 atau 2 kali pembayaran – yang kedua di tengah, yang terakhir setelah pekerjaan selesai. Jarang sekali klien yang membayar tuntas di depan.

Dari sisi waktu pembayaran, pekerjaa freelance harus berhati-hati. Sebab pembayaran bisa menunggak. Apalagi kalau banyak revisi yang harus dilakukan. Klien cenderung ingin pekerjaan selesai dahulu, baru dilakukan pembayaran.

Kalau sudah begini, para freelancer harus siaga. bukan siap antar jaga ya. Siap dengan dana cadangan untuk menopang jalannya usaha dan hidup keluarga. Tadi sudah dijelaskan tentang risk management apa saja yang harus dilakukan ya.

Atau siap dengan klien-klien lain yang memang biasa membayar dengan lancar. Ini termasuk risk management juga.

Bisnis jasa (service business) yang digeluti pekerja freelance memang nature-nya demikian. Kerja dulu, produksi dulu, baru dibayar. Hampir semua bisnis service memang seperti itu.

Namun demikian, kamu sebagai freelance dapat saja memiliki suatu produk yang sudah jadi dan diproduksi massal—cenderung tidak customized. Sehingga pembayaran mungkin dilakukan secara cepat oleh pembeli pra atau pasca penyerahan produk.

6 cara konsisten nge-blog


Di bawah ini ada 6 cara supaya sukses konsisten nge-blog. Cara (1), (2) dan (3) udah jadi saran yang banyak banget. Dan itu tetap “koentji” utama supaya bisa konsisten nge-blog. Saya coba tambahkan 3 cara yang lain ya di cara (4), (5), dan (6).

(1) Nge-blog terkait hobi. Karena hobi, maka langsung/tidak langsung akan melakukan pencarian bahan (riset) terkait tema tersebut. Hasil riset merupakan sumber bahan yang kuat dalam nge-blog.

(2) Topik gado-gado. Biasanya berasal dari pengalaman pribadi blogger. Kelebihannya adalah bahan yang luas untuk dijadikan artikel. Tapi kelemahannya adalah jadi kurang konsisten pada suatu topik tertentu.

(3) Tekad yang kuat. Pastinya harus ada niat dan tekad yang kuat untuk terus-menerus menulis dan mem-posting tulisan. Minimal niat semacam “biar gak kelamaan gak update”. Atau “kan udah bikin target satu minggu satu tulisan”, dst.

Nge-blog dalam suatu waktu itu ibarat lari –dalam suatu waktu tertentu–, menurut saya. Harus dimulai, dan harus sampai finish. Dalam bahasa saya, finish itu adalah mencapai jumlah kata tertentu. Contohnya ya 500-an kata tadi.

Kalau sedang ada ide, tapi tidak di depan komputer? Lebih baik ditulis dulu di smartphone kesayangan kamu –cie, yang ditengokin tiap saat selama 24 jam penuh, dari bangun pagi sampai tidur lagi, hehe–. Bisa di aplikasi notes biasa, atau yang siap synchronize kapan saja ketika ketemu internet –semisal Evernote atau Google Keep.

Minimal poin-poinnya dulu. Pengembangan lebih lanjut sebagai draft bisa pas sudah bertemu dengan wordpress.

(4) Kumpulan postingan. Bahas semua postingan kamu sebelumnya dalam sebuah artikel. Contohnya bisa dilihat di postingan saya yang (short) story of my life. Atau di new year resolution marketing. Keduanya coba merangkum beberapa postingan terkait dalam satu judul artikel.

(5) Pengembangan kata kunci. Cari inspirasi dari keyword apa yang pernah dicari oleh pengguna internet, sehingga dia kemudian menemukan blog anda. Nah tentu ada keyword yang ternyata sering muncul di suatu pekan, atau bulan tertentu.

Saya lihat postingan tentang nikah atau S2 ini banyak yang menyimak. Jadi saya dapat ide postingan lain yang masih terkait dengan postingan tersebut. Hasilnya adalah Kuliah S2 sambil Kerja dan Cara Menabung untuk S2.

Gunakan keyword tersebut untuk mengembangkan tulisan serta mengejar panjang tulisan. IMHO (Ini Mah Hanya Opini), artikel blog bisa kuat menyampaikan gagasannya jika disampaikan dalam minimal 500-an kata.

Di sisi lain, suatu tulisan bisa jadi pilar sebuah blog, konon ketika panjang tulisannya mencapai minimal 1000-an kata. Ini masih tantangan bagi saya dalam memenuhi target volume kata tersebut.

Untuk mengejar target, seringkali saya kaitkan dengan hal-hal lain. Seperti misal dalam postingan Sedikit tentang Sales dan Gap Komunikasi Pemasaran.

(6) Content planning. Nge-blog yang konsisten itu berarti nge-blog yang serius. Mungkin kontennya tidak serius, banyak fun, lucu dan penuh canda. Tapi ternyata blogger tersebut melakukan perencanaan konten.

Inilah nge-blog yang serius. Jadi di samping serius menulis, punya rencana penulisan juga. Setelah membuat rencana penulisan, yang harus dicicil berikutnya adalah draft tulisan. Kebetulan wordpress sangat membantu sekali dengan tombol “save draft”.

Jadi begitu ada ide, bisa dituliskan dulu sebagian. Minimal sebagai draft, syukur bila memang ada waktu dan bisa langsung klik tombol “publish”.

Nge-blog yang pakai content planning itu udah mirip organisasi media beneran. Mereka pasti tetap berusaha aktual ya. Ada peristiwa apa yang baru terjadi, dan berusaha diliput lengkap, detil, berikut analisisnya.

Akan tetapi, supaya bisa survive perusahaan media harus punya content plan. Semua media massa (majalah, koran, TV, dll) punya rencana materi dalam beberapa edisi ke depan. Minimal ada content plan (dan draft) sebagai pegangan dulu. Rilis materi bisa mengikuti wants (keinginan) audience saat itu.

Sudah ada 6 cara supaya bisa konsisten nge-blog. Mungkin dari kamu ada tambahan yang lain? Silakan komentar di bawah ya:)

(short) Story of My Life


Saya dulu kuliah S1 farmasi. Tetapi tidak sampai menjadi apoteker. Kenapa? Alasannya saya paparkan di sini. Mungkin kalau saya meneruskan apoteker lalu bekerja di pabrik/industri farmasi, saya bisa merilis produk-produk tersayang industri farmasi, kali ya😀

Bukan berarti profesi apoteker itu buruk ya. Malah sangat baik. Ketidakcocokan hati saya saja yang melarang saya menjadi apoteker. Bahkan hipwee.com pernah membahas profesi apoteker di sini. Ada juga blog apotekerbercerita.wordpress.com. Sayang blog tersebut lama tidak di-update.

Lanjut ya. Saya sempat bimbang pada awalnya, apakah mau S2 atau kerja lalu segera menikah. Akhirnya saya memilih S2. Saya ambil jurusan manajemen.

Saya sempat renungkan juga kenapa saat itu pilih S2 dulu. Padahal S2 bisa kapan saja. Jadi saya waktu itu masih fresh graduate, belum ada pengalaman bekerja, dan langsung mengambil S2.

Sekarang, setelah 3 tahun bekerja, saya punya kesimpulan tersendiri. Teori sebagai fondasi itu penting. Sebab itu kita kuliah kan. Atau minimal kuliah diploma. Selanjutnya di dunia kerja kita jadi tahu teori mana yang aplikatif, atau teori mana yang sudah ditinggal jaman. Tentu saja kita bisa lakukan kreasi, modifikasi, dan inovasi.

Lanjut lagi. Apakah kamu mau mengambil S2 saja, supaya fokus sama pendidikan, atau kamu mau S2 sambil kerja? Silakan saja pilih salah satu. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya kok.

Bisa juga S2 sambil freelance. Masih dapat duit, tetapi tidak terbebani dengan pekerjaan. Fokus tenaga dan pikiran bisa diutamakan ke kuliah.

Related Post(s): 
cara menabung untuk S2 
memilih program studi S2   

Dalam perjalanan, saya ingin fokus di konsentrasi pemasaran. Tidak dalam sih, namanya juga MBA. Semua serba sedikit. Kalau konsentrasi pemasaran ini hanya 9 sks — dari total 39 sks MBA.

Saat itu saya lebih memilih pemasaran, dan bukan memilih keuangan. Untuk memperkuat kamu yang tertarik manajemen keuangan, kamu bisa baca di sini.

Dari menggeluti pemasaran, saya jadi paham betapa stratejiknya pemasaran itu. Tapi memahami pemasaran juga membuka wawasan saya bahwa fungsi penjualan (sales/selling) demikian penting.

Jadi yang satu penting, yang satu stratejik. Fokus di salah satu saja, dapat menciptakan gap komunikasi pemasaran. Dan ini tidak baik. Keduanya harus ditekuni. Marketing itu stratejik supaya usaha bisnis bisa berumur panjang. Sales itu penting karena kita dapat duitnya dari situ.

Dalam perjalanan mempelajari pemasaran, saya menemukan bahwa lapangan bermain big company dengan UKM itu sangat berbeda. Bukan sekedar beda modal, tetapi beda kapasitas pemasaran. Saya kira, ada 4 masalah pemasaran UKM.

UKM itu bisa memanfaatkan internet sebagai channel marketing. Untuk berjualan di marketplace seperti tokopedia, bukalapak, lazada, dan sejenisnya. Sejak ada internet, entry barrier untuk UKM sudah berkurang satu.

Bagi para UKM berbasis produk, hanya langit yang membatasi potensi omzet mereka. Sekarang sudah ada beragam jasa kurir yang dapat mengantar produk mereka hingga ke pelosok nusantara. Tinggal lakukan internet marketing saja.

Untuk kamu yang mau memperdalam bisnis UKM dengan bantuan internet marketing, kamu bisa baca beberapa buku –yang UKM banget– berikut ini:
Jago Jualan di Instagram 
Line Marketing 
7 Langkah Jitu White Hat SEO  
Optimasi Toko Online 
Bisnis Online Milyaran  

Bahkan beberapa cabang jasa kurir bela-belain memberikan layanan pick-up untuk online shop yang laris manis tanjung kimpul😀

UKM berbasis layanan juga mendapat keuntungan dari internet. Website sebagai “kartu nama”, atau “banner”. Dan social media sebagai cara memancing internet user untuk berkunjung ke website dan memberikan identitasnya.

Sementara demikian dulu ya, short story of my life. Saya coba lanjutkan tulisan saya di blog yang lain.

Sedikit –tapi jadi banyak– tentang Sales


Pertumbuhan omzet usaha ditentukan dua hal: (1) brand asset dan (2) sales management-nya. Untuk meraih keduanya, fungsi tersebut dijalankan oleh (1) marketing dan (2) sales. Aktivitas yang harus dilakukan namanya (1) branding dan (2) selling.

Sudah sedikit diulas juga di tulisan prekuel di “Usual Marketing: Branding and Selling”.

Beda marketing dengan sales. Marketing menciptakan demand –lewat berbagai aktivitas branding. Sales memetik omzet dari demand yang sudah tercipta. Secara struktural dan hierarki organisasi ada yang mengelompokkannya menjadi direktorat “sales and marketing“, ada pula yang memisahkan jadi direktorat “sales” dan direktorat “marketing“.

Kesimpulannya, marketing mendapat peran dan fungsi yang dimensinya lebih jangka panjang. Jadi output pekerjaannya pun terkait dengan hal-hal yang sifatnya stratejik: positioning, differentiation, branding (PDB). Eksekusi aktivitas branding –terutama yang berskala nasional– juga diserahkan kepada tim marketing.

Meski demikian, sales pun tidak kalah pentingnya karena omzet datangnya dari para salesman yang menjalankan fungsi sales. Mulai dari (1) menawarkan produk dan melakukan closing –yang dilakukan oleh para salesman, (2) melakukan manajemen stok agar retail tidak kehabisan inventory –oleh distributor, hingga (3) menyusun dan mengeksekusi program promosi penjualan (sales promotion).

Contoh konflik yang umum terjadi di antara kedua fungsi tersebut: (1) fungsi sales menyalahkan tim marketing yang belum optimal membangun brand –sehingga produk kurang laku di pasar. Sementara (2) tim marketing, menyalahkan tim sales yang closing-nya masih rendah karena belum optimal melakukan “push” terhadap produk ke pasar –padahal tim marketing merasa bahwa segala daya upaya sudah dilakukan untuk membangun brand.

tuh, ada yg mau daftar jadi tim sales ente…😀

Alasan berkarir di bidang penjualan. (1) Membangun network, khususnya dengan para pelanggan. Terutama agar pelanggan tersebut dapat ditawarkan produk-produk yang lain. Syukur alhamdulillah apabila dapat membangun bisnis bersama –namun tidak etis apabila pindah ke perusahaan kompetitor berikut dengan pelanggan.

(2) Mengejar komisi. Fungsi organisasi bisnis yang paling mampu memberikan bonus adalah fungsi penjualan. Karena bersentuhan langsung dengan pelanggan, komisinya pun lebih besar daripada mereka yang menjalankan fungsi marketing. (3) Belajar mengelola penjualan (distribusi, stok, retail, dsb). Sebelum membangun bisnis sendiri di bidang distribusi, retail, dan sejenisnya.

(3) Mengejar karir. Salah satu fungsi dalam perusahaan yang paling cepat naik karir adalah bagian penjualan. Mulai dari jadi salesman, naik ke sales supervisor, sales manager, seterusnya sampai direktur sales. Tidak heran ganjaran naik karir begitu nyata, karena para pengisi fungsi pengejar omzet adalah mereka yang berkarir di bidang sales.

Sales Supervisor. Dibawahi oleh branch manager yang bertanggung jawab atas pengembangan penjualan di wilayah. Berkantor di kantor cabang yang merupakan “markas” dari segala kegiatan operasional penjualan, inventory, hingga administrasi.

Related Post: 
Area Sales Champion  

Sales supervisor mulai memiliki tim dalam menjalankan berbagai fungsi penjualan. Lebih sering disebut sebagai tim, dengan pola kerja yang lebih bersifat kerja sama daripada sekedar menerima dan menjalankan perintah atasan. Karakter pekerjaannya juga menuntut lebih banyak kreativitas dalam membangun hubungan dan melakukan closing penjualan.

Tidak hanya mengurusi masuk keluarnya barang ke klien, menjaga stok/buffer di customer, tetapi juga berbagai program branding dan promosi penjualan. Tugas utamanya memang pengembangan berbagai variasi distribution channel.

Salah satu yang dikerjakan adalah penetapan rute dan frekuensi kunjungan ke klien-klien. Kalau di industri B2C (FMCG, retail pharmaceutical, dll), contoh klien adalah outlet-outlet ritel semisal minimarket, supermarket, hypermarket, dsb, Apotek termasuk di antara jenis outlet ritel. Sebisa mungkin, seluruh outlet tersebut harus bisa dimasuki oleh produk.

Peran Supervisor Penjualan
Tentu harus bisa menjadi (1) leader. Alias seorang yang berkompeten dalam menjual, bisa memotivasi tim penjualan, serta bisa dicontoh oleh anggota tim.  Harus pula menjadi (2) manager. Yaitu pengelola saluran distribusi dan penjualan. Bisa menyusun rencana penjualan beberapa waktu ke depan. Mampu menjaga dan meningkatkan kinerja penjualan yang diukur dengan parameter tertentu (sales call, leads, key account, dsb).

(3) Problem solver. Alias membantu para salesman dalam memecahkan masalah di lapangan. Seringkali salesman seorang diri tidak mampu menjawab permasalah tersebut –sehingga salesman banyak berjanji kepada customer-nya tanpa mampu merealisasikan janji-janji tersebut.

Mengingat berbagai solusi yang ada harus dikoordinasikan dengan berbagai elemen lain di perusahaan. Peran supervisor penjualan adalah turut membantu penyelesaian masalah tersebut melalui komunikasi, mediasi, negosiasi dengan fungsi-fungsi lain dalam perusahaan.

Area-based Distribution. Seorang marketing sales harus menguasai area pasar. Tentu saja karena pertanggungjawaban pekerjaannya kepada atasan dan direksi adalah berdasar pembagian wilayah.

Apa KPI yang harus dikejar? Yaitu berapa omzet atau laba yang berhasil diraup dari daerah tersebut. Seiring waktu berjalan omzet harus bertumbuh mengikuti target yang diberikan oleh perusahaan.

Apa yang terjadi ketika omzet stagnan bahkan minus? Berarti kompetitor tumbuh lebih cepat daripada perusahaan kita –di wilayah tersebut. Sesungguhnya tidak ada peluang yang hilang. Yang ada adalah peluang tersebut diambil oleh kompetitor kita.

Pembagian berdasar area tidak selalu tepat. Tergantung jenis industri yang digeluti dan strategi bisnis perusahaan secara umum. Sebab itu ada yang membaginya berdasar kontribusi omzet dari masing-masing kategori customer.

Customer-Centric Approach. Kategori customer yang memberi omzet paling besar diberikan service yang terbaik –misalnya segala kebutuhannya dipenuhi. Pelayanan dilakukan oleh sales team yang berdedikasi khusus untuk mereka. Tipe ini biasanya lebih cocok untuk industri dengan tipe B2B.

Segala keperluan mereka ditangani dengan segera. Intinya diberikan fokus dan perhatian yang paling besar. Customer yang pembeliannya masih rendah bukan diabaikan sama sekali. Tetap diberikan service, supaya tetap bertahan sebagai pelanggan. Makin meningkat pembeliannya, maka makin ditingkatkan pula prioritas layanan yang diberikan kepadanya.

Alasan memilih manajemen pemasaran. Di banyak jurusan manajemen, saya perhatikan hampir selalu ada konsentrasi pemasaran. Ada kurikulum tentang branding, service, dsb. Tapi jarang ada materi yang spesifik membahas tentang penjualan (sales).

Materi sales ini sebenarnya materi yang sangat tua dan lambat sekali perkembangannya –materinya hanya itu-itu saja. Berbeda dengan aspek marketing lain yang berkembang relatif lebih cepat –dengan fenomena terbaru dan berkembang cepat adalah social media.

Tentang Pendidikan MBA
Mungkin di antara pembaca blog ini ada yang bertanya, “Saya yang lulusan engineering sekarang banyak berkutat di fungsi operasional perusahaan. Misalnya saya mengambil jurusan MBA, apakah saya kemudian jadi lebih jago bisnis?”

Harus diketahui bahwa program MBA hanya mengambil sedikit dari masing-masing konsentrasi. Sedikit dari finance, sedikit dari marketing, sedikit dari operation, dst. Jadi ilmunya memang sangat di permukaan –sangat tipis.

Apalagi di banyak kampus penyelenggara program MBA, tidak banyak yang mengajarkan tentang sales & distribution management. Padahal setelah ilmu-ilmu semacam STP (Segmenting, Targeting, and Positioning) dan 4P-nya strategic marketing sudah dikuasai, maka yang harus menjadi “urat dan otot” perusahaan adalah distribusi dan penjualan.

Gap Komunikasi Pemasaran


Pengertian gap komunikasi. Gap komunikasi pemasaran adalah gap antara ‘harapan brand manager terhadap brand yang dibesutnya’ dengan ‘realita yang dirasakan oleh konsumen mengenai brand tersebut’. Realita dirasakan oleh konsumen melalui panca indera.

Brand berupaya maksimal untuk melakukan approach kepada konsumen melalui lima panca indera: penglihatan (warna, bentuk), pendengaran (suara), sentuhan (tekstur permukaan), penciuman (aroma), pengecap (rasa).

gap komunikasi

gap komunikasi

Meski demikian, tetap terjadi yang namanya gap komunikasi. Marketer perlu berjuang keras agar gap yang demikian tidak terjadi. Ada banyak celah yang harus diisi. Ada banyak proses/aktivitas pemasaran yang harus dicermati dan dikendalikan kualitasnya.

Tentu marketer tidak hanya mengandalkan produk tersebut saja untuk bisa “speak for itself”. Tapi harus ada visualisasi yang dirancang sedemikian rupa. Mulai dari warna, desain kemasan, copywriting, dsb. Bila produk tersebut adalah produk ritel, tentu “dia” harus dapat bersaing dengan kompetitornya yang terletak di rak-rak samping/depan/seberangnya.

Tidak hanya produk yang unik dan punya diferensiasi dibanding kompetitor. Tetapi produk juga harus dipromosikan. Baik dalam format komunikasi, maupun inisiatif promosi yang bertujuan untuk menggenjot penjualan: diskon, cashback, dll.

Semua itu merupakan pesan-pesan yang dikirimkan oleh brand terhadap target customer-nya. Namun, tidak semua isi pesan tersebut dapat sampai kepada konsumen. Ada banyak tantangan yang menghalangi para brand manager dan brand yang dikerjakannya.

Misalnya dari sisi media. Penggunaan beragam jenis media semestinya dapat mengangkat brand. Khususnya media yang memang akan bersentuhan dengan target customer. Namun muncul tantangan baru: bagaimana mengintegrasikan media-media tersebut sehingga dapat mengirimkan pesan yang kuat, sederhana, dan jelas?

Tentu saja hal-hal yang demikian akan menyebabkan terjadinya gap komunikasi pemasaran.

Penyebab dan cara mengatasi gap.

Berbagai benefit yang telah dijanjikan oleh brand –brand promise, tentu saja harus di-deliver (direalisasikan) oleh brand, ‘kan? Realita yang dirasakan oleh konsumen tidak lain dan tidak bukan menggambarkan kapasitas brand dalam melaksanakan delivery tersebut.

Di sisi lain, target customer juga teredukasi, terpromosikan, bahkan terprovokasi oleh promise dari brand kompetitor. Ini semua menjadi modal bagi target customer untuk membandingkan brand yang satu dengan brand yang lain.

Customer mulai terbayang apa saja manfaat (“value”) yang akan dia dapat “(get”) setelah membayar sejumlah uang+pengorbanan lain (“give”). Dari sinilah datangnya harapan/bayangan customer terhadap suatu brand produk/jasa dibandingkan dengan brand produk/jasa yang lain.

Tentunya setiap brand memiliki persepsi positif dan negatif dari pelanggannya masing-masing. Persepsi positif dan sesuai dengan brand plan itulah yang selanjutnya dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk menciptakan customer relationship & loyalty.

Berbeda halnya apabila kita melakukan customer loyalty. Pendekatan ini memungkinkan kita mengukur harapan sekaligus membangun customer engagement. Di samping itu, loyalitas yang terukur memungkinkan kita untuk memprediksi perilaku pelanggan.

Studi Kasus. Ada beberapa gap komunikasi yang seringkali dibahas oleh para brand manager. Tapi kita coba bahas satu di antaranya saja. Yaitu gap antara konsumen perkotaan dengan konsumen sub-urban maupun rural.

Kajian mengenai gap yang satu ini biasanya meliputi dua hal, (1) besarnya sebaran geografi dari konsumen yang ditarget, serta (2) jenis media yang digunakan dalam mendekati konsumen tersebut.

Pada umumya, para pemasar berasumsi bahwa media massa merupakan jenis media yang paling efisien dalam melaksanakan fungsi-fungsi komunikasi pemasaran. Dimana TV masih menjadi best practice untuk menciptakan brand awareness. Sekali eksekusi, banyak “target” berhasil aware terhadap brand yang dipromosikan.

Namun secara efektifitas agak terhambat karena misalnya warga sub-urban yang menghabiskan banyak waktu untuk hilir mudik. Misalnya pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Porsinya dalam menonton TV agak berkurang.

Atau pada masyarakat rural yang jauh dari jangkauan rantai distribusi. Sehingga meskipun sudah aware tetapi tidak mampu melakukan pembelian karena produknya yang tidak ada di pasaran.

Sehingga bukan jenis media itu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sub-urban, apalagi oleh masyarakat rural. Sehingga kedua segmen berbasis geografi ini harus didekati dengan media lain yang dapat menunjang media ATL. Semisal brand activation, program CSR, dsb.

Berkaitan dengan channel, sudah sewajarnya channel yang ada dipergunakan semaksimal mungkin. Bukan sekedar sarana untuk mendistribusikan produk saja. Tetapi juga channel sebagai media komunikasi dengan target market. Salesman distributor perlu mendapat briefing khusus agar berkomunikasi dengan target customer.

Channel. Konsep channel sebagai sarana distribusi saja sudah ditinggalkan para pemasar. Saat ini channel menjalani dua peran sekaligus. Yaitu sebagai infrastruktur distribusi barang dan jasa, serta sarana untuk membujuk konsumen secara langsung.

Lihat bagaimana peran TV dan promo diskon yang dilakukan di outlet-outlet ritel macam Alfarmart, Indomaret, Seven Eleven, dsb. Konsumen langsung bereaksi dengan mengambil produk yang dipromosikan serta langsung menuju ke kasir.

Mensiasati Ke-lokal-an.
Berbagai kota besar di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing yang sifatnya lokal. Terutama secara kultur-kebiasaan-kebudayaan setempat. Ke-lokal-an tidak boleh diabaikan begitu saja.

Ini adalah sesuatu yang harus dipahami oleh pemasar di tingkat pusat, bahwasanya masing-masing wilayah di Indonesia memang berbeda sehingga menuntut pola treatment yang memang tidak menyamakan satu dengan lainnya.

Komunikasi via media above the line (ATL) semisal TV tentu saja formatnya sudah terstandardisasi dan diarahkan untuk seluruh konsumen nasional. Namun eksekusi BTL (below the line) yang harus menyesuaikan dengan ke-lokal-an tersebut.

Misalnya saja, konteks-konteks pemasaran harus dikustomisasi sedemikian rupa sehingga berkarakter spesifik dan bersahabat dengan kultur masing-masing: urban, sub-urban, rural.

Inti gagasan (core message) sendiri tidak boleh berubah. Brand baru yang baru terjun ke pasar pun pasti sadar bahwa mereka harus memiliki gagasan yang autentik supaya berbeda dari kompetitor yang sudah ada.

Praktisi komunikasi pemasaran dituntut untuk memiliki lebih banyak akal dibanding sebelumnya. Karena mencapai semua audiens di urban, sub-urban, dan rural memang masih memungkinkan. Namun harus dilakukan dengan sumber daya waktu, tenaga, dana, dan manusia yang lebih melelahkan.

Mall is the killer app. Mall bukan hanya permainan kota besar. Second city juga mulai mengalami periode pertumbuhan mal. Meski demikian, mal tidak lagi hanya pusat perbelanjaan seperti dulu.

Tetapi sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat: tempat meeting, wisata kuliner dengan keluarga dan kerabat, jalan-jalan, dan sebagainya. Tidak heran para marketer kemudian mengalihkan brand activation-nya ke lantai pameran di mal-mal.

Komunikasi pemasaran yang intens menggunakan media massa rentan dengan hilangnya competitive advantage masing-masing brand. Kompetitor tinggal invest dana lebih besar untuk belanja iklan, maka brand yang ditangani bisa segera tersaingi.

Saat ini masih terasa sekali bahwasanya media TV masih yang utama. Tetapi optimasinya adalah bagaimana media-media yang lain dapat turut berintegrasi dan bersinergi dengan media TV itu sendiri.

Realita konsumen sendiri kini bisa dipantau secara 24/7. Sebab beberapa aplikasi online memudahkan pantauan tersebut. Misalnya lewat facebook untuk social media, maupun Google Alert untuk kosakata tertentu di internet.

Pengguna internet dan social media juga terus bertumbuh di Indonesia. Selalu ada pengguna untuk setiap social media yang baru diluncurkan: path, periscope, telegram, dll.