Pesantren Modern dan Cahaya Cinta Pesantren


Saya tidak cukup yakin bahwa kita semua yang bertempat tinggal di Indonesia, paham mengenai institusi pesantren, serta bagaimana sebenarnya pesantren sudah sangat dekat (tidak hanya kedekatan jarak) terhadap keseharian kita.

Berawal dari kebutuhan “cangkul-mencangkul” di “sawah”, akhirnya saya terdampar untuk melakukan riset sekunder mengenai sejarah dan keberadaan institusi pesantren. Sebelumnya saya memohon maaf karena tulisan ini tidak panjang-panjang amat, malah pendek sekali. Bahkan menyentuh ribuan kosakata pun tidak. Jadi mungkin belum cukup komprehensif.

gedung-serbaguna-pondok-pesantren-modern-ar-raudlatul-hasanah-medan

Sejarah Pesantren

Secara definitif, KH. Imam Zarkasyi (satu dari tiga pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor bersama KH. Ahmad Sahal, dan KH. Zainuddin Fananie), mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Institusi pendidikan pesantren, berikut dengan alumninya, turut serta mengambil bagian dalam sejarah perjuangan dan pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk yang belum mengetahui, sesungguhnya peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran pesantren, santri, dan alumni. Betapa semangat berkobar-kobar memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan merupakan realisasi dari proses pembentukan karakter di institusi pesantren.

Namun demikian, dengan berbagai dinamika yang ada, bila dibandingkan dengan periode di mana pesantren Gontor baru berdiri, yaitu lebih dari satu abad yang lalu, (persisnya tahun 1926 Masehi) kini pesantren juga turut berbenah dan berubah demi mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Alasannya jelas.

Modernisasi Pesantren

Dunia yang terus berevolusi menjadi semakin beragam dan bervariasi, menjadikan tantangan berdakwah semakin berat. Pesantren sudah sejak lama menyadari dan memahami betul bahwa sebagai institusi pendidikan, pesantren harus bisa ikut berselancar dalam gelombang perubahan-perubahan tersebut.

Perilaku dan pengetahuan seputar keagamaan saja tidak akan cukup untuk mengarungi derasnya kehidupan pasca pesantren. Akhirnya bertambahlah ilmu-ilmu seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, dan kewirausahaan ke dalam pola pendidikan dan kurikulum pesantren.

Sejak itu lahirlah terminologi pesantren modern.

Namun, jangan disalahartikan. Karakter berbasis keislaman tetap menjadi yang pertama dan utama, namun ilmu dan keterampilan seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, kewirausahaan menjadi ilmu dan keterampilan yang turut melengkapi profil alumni pesantren modern.

(Tanpa mengurangi rasa hormat pada pesantren-pesantren tradisional (yaitu yang hanya memfokuskan pada pendidikan keagamaan dan kehidupan), dikotomi pesantren modern dan pesantren tradisional ini sesungguhnya hanyalah perspektif sejarah saja. Jangan pula disimpulkan bahwa pesantren tradisional lebih buruk daripada pesantren modern.)

Bahkan santri turut mendapatkan berbagai program-program ekstrakulikuler berupa kegiatan pramuka, latihan berpidato dalam tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris) serta program-program lainnya.

Modernisasi pesantren sesungguhnya tidak hanya di tataran program, bahkan formalisasi pendidikan pesantren menjadi seperti SD, SMP, MTs, SMA, MA Plus Pesantren, tidak luput pula menjadi bagian dari agenda perubahan-perubahan internal di institusi pesantren.

Apa saja yang diperoleh dari pendidikan di Pesantren?

Pertama.

Iya, pastinya banyak belajar ilmu agama. Tapi ilmu apa aja yang dipelajari? Yaitu, pelajaran-pelajaran pokok, seperti bahasa arab, kitab, hadits, tafsir (cara menafsirkan), akhlak (budaya dan perilaku), siroh (sejarah Islam), ilmu alat, dan masih banyak lagi.

Metode yang digunakan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kegiatan dan pembiasaan. Misalnya shalat wajib di masjid, kegiatan belajar kelompok bersama ustadz, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah melatih disiplin dan konsistensi dalam menjalankan amalan ibadah.

Selama menempuh pendidikan di pesantren, ada juga penekanan pada nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri dari hawa nafsu. Ini adalah pembentukan mental, yang biasanya dilakukan melalui bimbingan langsung pada kelompok belajar di malam hari.

Kedua. 

 

Pesantren telah, sedang, dan akan terus berperan sebagai wahana berinteraksi dengan banyak teman dari berbagai daerah dan suku. Tentu ini sangat menunjang kebutuhan para santri/santriwati akan jaringan atau relasi nanti ketika sudah lulus dari pesantren.

Dalam hal ini, santri — yang di kemudian hari akan menjadi alumni – akan banyak mempunyai jaringan atau relasi dari berbagai daerah, luar pulau bahkan dari luar negeri. Dan itulah yang di kemudian hari akan menjadi salah satu modal dalam menapaki tangga karir.

Sekedar contoh, Menteri Agama kita saat ini, yakni Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Beliau adalah alumni dari pesantren Gontor di Ponorogo.

Atau Bapak Hidayat Nur Wahid. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang ke-11, menjabat sejak Oktober 2004 sampai dengan Oktober 2009. Merupakan deklarator dan Presiden Kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sempat menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012.

Ketiga.

Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya. Karena pesantren melatih hidup mandiri. Santri harus menyelesaikan urusan pribadinya sendiri. Menjadwal makannya sendiri. Cuci baju sendiri. Pendeknya, mengatur kehidupannya sendiri.

Tak lengkap rasanya membahas sejarah pesantren, tanpa mengulas satu contoh pesantren modern yang paling disegani dan dihormati. Yakni pesantren Gontor.

Afiliasi dan “Keturunan” Pesantren Gontor.

Mengapa Gontor?

Ditinjau dari perspektif marketing (pemasaran), Gontor telah menjadi sebuah brand yang memberikan promise (janji) akan kualitas proses dan hasil pendidikannya. Dan tidak hanya Gontor Ponorogo dan Ngawi yang demikian, namun berikut pula bersama afiliasi dan keturunannya.

Jadi, saat ini pesantren Gontor sudah berafiliasi dengan banyak sekali pesantren-pesantren baru yang lebih muda usianya.

Belum termasuk “keturunan-keturunan” Gontor, yakni pesantren-pesantren dengan “isi” dan “kemasan” yang relatif sama dengan Gontor itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan karena didirikan oleh alumni-alumni Gontor.

Misalnya ada pesantren La Tansa, yang pola pendidikan beserta kurikulumnya juga sudah sangat Gontor sekali. Atau di Medan ada Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Ponpes yang terakhir disebut ini menjadi tempat berlangsungnya syuting film Cahaya Cinta Pesantren (CCP).

Cahaya Cinta Pesantren

Film ini berangkat dari novel yang ditulis oleh guru matematika di ponpes tersebut. Yaitu, Ibu Ira Madan. Beliau menuangkan pengalaman, rasa cinta, dan kreativitasnya ke dalam sebuah novel yang diberi judul sama. Hanya satu dan satu-satunya yang menjadi motivasi beliau adalah kecintaan dan kebanggaan terhadap pesantren tempat beliau dulu belajar tentang agama dan kehidupan.

poster-film-cahaya-cinta-pesantren

Fokus cerita CCP ini ada pada tokoh Shila yang diperankan oleh artis Yuki Kato. Diceritakan bahwa dia bersahabat dekat dengan Manda (oleh Febby Blink), Asiyah (Silvia Blink), dan Icut (Vebby Palwinta) selama menempuh pendidikan di pesantren.

Tentu saja filmnya tidak hanya berpusat pada kehidupan Shila berikut dengan tiga sahabat karibnya selama di pesantren. Melainkan betul-betul mengeksplorasi kehidupan maupun pendidikan di pesantren.

Misalnya program belajar berpidato, kegiatan kepramukaan, belajar bahasa di kelas formal, sampai dengan latihan beladiri, dan lain sebagainya.

Mulai awal November 2016 nanti, film ini bisa kita saksikan di bioskop-bioskop langganan di kota tempat kita tinggal.

Produser, sutradara, dan penulis novel CCP, punya harapan tersendiri akan film ini.

Ketiganya berharap agar  film ini sedikit menjawab keingintahuan dan ketidaktahuan masyarakat kita mengenai kehidupan di pesantren. Sebagaimana dipaparkan di awal, bahwa sepertinya masih banyak sekali di masyarakat kita yang belum cukup mengetahui seperti apa jalannya pendidikan di pesantren. Terutama bahwa pesantren tidak lagi mengungkung para santri/santriwati dari perkembangan zaman.

Itu adalah satu segmen, masih ada satu segmen yang menjadi target. Yakni, para alumni dari berbagai pondok pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Lewat film ini, juga berharap kenangan dan kerinduan akan kehidupan pesantren yang dahulu pernah dijalani dengan segala suka dan dukanya, segera tuntas terjawab.

Sumber Inspirasi 

(NB: Saya banyak mengacu pada artikel-artikel di kompasiana. Tadinya saya juga ingin publish di sana. Namun, saya tidak bisa melakukan registrasi. Pada siapapun anda yang memiliki akun kompasiana dan berkenan untuk merilis artikel ini di kompasiana, saya mohonkan bantuannya dengan sangat. Cukup dengan mencantumkan link asli artikel ini di kompasiana).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/persisbenda/metode-pendidikan-di-pondok-pesantren-modern_54f357fc745513942b6c721e

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/syafii_nur/nilai-lebih-sekolah-di-pesantren_55172dc3a333118107b6592a

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Beberapa Posisi/Jabatan Pekerjaan Terkait Marketing


Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kamu yang masih bingung memilih karir, atau belum paham tentang job description dari berbagai lowongan pekerjaan yang berseliweran di sekitar kamu.

Pertama, ada dua hal yang harus dipahami mengenai marketing-related jobs. Ada marketing, ada sales. Marketing itu fungsi besarnya. Salah satu sub fungsinya adalah sales.

Tugas marketing (and sales) adalah menciptakan demand terhadap produk/jasa yang ditawarkan perusahaan, untuk kemudian memetik demand tersebut, yaitu berupa omzet.

Apa saja objective dari creating demand? Ini adalah beberapa contoh

  • menciptakan awareness terhadap brand
  • membangun interaksi (engagement) dengan customer
  • menghadirkan customer experience, sehingga customer melakukan repeat buying 
  • dst

Penting bagi fungsi marketing adalah untuk menciptakan dan tetap mempertahankan relevansi merek bagi customer-nya. Jadi merek harus memberikan value (=benefit/cost) terhadap customer, di samping juga survive, bahkan grow dari tekanan kompetitor.

Lalu, apa objective dari harvesting the demand?

  • Mengelola wilayah pemasaran
  • Membangun hubungan dekat dengan pelanggan
  • Melakukan penagihan dan menerima pembayaran
  • Menghimpun insight dari saluran-saluran penjualan
  • dst

Direktoratnya biasa diberi nama Marketing and Sales.

Namun di antara marketing and sales, ada beberapa perbedaan:

  • Marketing biasanya heavy on budget. Sales punya sales people yang banyak.
  • Marketing berurusan dengan medium. Kalau sales memperbanyak kunjungan dengan channel penjualan.
  • dst.

Itu sebagai pancingan. Kita masuk ke inti dari tulisan ini.

Eksekutor fungsi marketing ini bisa dibedakan berdasar produk, target segmen, atau wilayah.

Product Manager/Brand Manager/Product Executive. 

Ini adalah posisi yang sifatnya product-based. Tanggung jawabnya seputar brand dan omzet. Penjualan tidak langsung ditanganinya. Biasanya melalui sales people. Apakah itu partner distributor, atau sales people dari internal di perusahaan.

Tapi kalau ada penurunan revenue, tentu yang harus bertanggung jawab adalah orang ini.

Dia juga memegang anggaran komunikasi. Bisa disalurkan menjadi iklan, diskon, event, dan sebagainya. Bila ada hal yang ditanyakan terkait brand tersebut, semua orang akan menghubungi dia.

Anggarannya selalu dihabiskan bersama vendor? Tidak juga. Pastinya tergantung ketersediaan budget. Bisa saja karena budget minim, maka dikerjakan sendiri. Lagipula, budget komunikasi tergantung dengan target omzet yang mau diraih. Bisa juga dihitung berdasar performa penjualan periode sebelumnya (tahun lalu, misalnya). Biasanya, seperti itu pendekatan terhadap anggaran komunikasi.

Posisi yang kedua adalah berbasis pelanggan.

Community Manager/Engagement Manager 

Meskipun namanya manager, belum tentu dia punya staf. Setidaknya staf langsung.

Tugasnya adalah membangun hubungan dengan para customer. Khususnya apabila customer tersebut dikelompokkan berdasar segmen masing-masing.

Karena posisinya lebih dekat ke customer daripada dengan jenis produk/layanan tertentu, maka produk/layanan apapun bisa ditawarkan kepada pelanggannya.

Indikator yang dikejar adalah revenue/customer.

Posisi berikutnya terkait wilayah yang digarap.

Area manager

Peran ini lebih banyak urusan sales-nya daripada marketing-nya. Biasanya brand sudah dibangun lewat bombardir iklan via media massa secara masif. Jadi “tinggal” memetik omzet di pasar sekaligus troubleshooting masalah-masalah di lapangan.

Masalah-masalah yang biasa hadir:

  • Stok kosong. Ini bukan berarti barangnya laku. Ini artinya adalah demand-nya tinggi tetapi kita belum mampu menyuplai sesuai kebutuhan. Kuncinya adalah manajemen stok.
  • Toko malas mengambil barang dari kita. Entah karena dia belum yakin barang kita pasti laku, atau mungkin dia sudah pakai duitnya untuk bayar supplier lain, dan seterusnya
  • However, tugas kita adalah membuat toko membeli sebanyak-banyaknya dari kita. Misalkan, kita selesaikan lewat program diskon kepada end consumer, sehingga barang dicari dan toko mau mengambil lebih banyak. Atau lewat program lain yang bertujuan sama.
  • dst.

Project manager 

Tugasnya meng-handle project, tentu saja. Namun, pra dan pasca project pastinya ada aktivitas-aktivitas yang dilakukan dong. Bangun hubungan dengan (calon) klien, persiapan proposal tender (dan berbagai detil-detilnya), memastikan revenue stream dari next project, dan seterusnya.

Eksekusi teknisnya bukan oleh dia — tentu saja. Tapi dia harus paham spesifikasi proyek juga. Latar belakang teknikal pastinya sangat menunjang.

Sebagai contoh project manager di bidang IT. Dia punya pengalaman sebagai programmer, maupun sebagai analyst. Jadi dia tahu apa yang bisa dilakukan perusahaannya (oleh tim programmer di back office), serta dia juga tahu customer needs serta what kind of solution to solve their problem.

Tanggung jawab marketing-nya agak kurang sih, atau bisa dikatakan cukup rendah untuk penggunaan medium komunikasi. Levelnya bukan awareness lagi, melainkan sudah engagement. Via bertemu langsung, lewat meeting, melalui kerja bareng, dst.

Posisi seperti ini bisa jadi jarang berada di kantor pusat (headquarter, HQ). Lebih sering pergi keluar. Bahkan seperti pindah kantor ke klien ketika proyek sedang berjalan.

Account Manager 

Kalau project manager itu membangun dan menjaga relationship dengan klien, sekaligus memimpin pekerjaan, ada juga yang memastikan relationship (dan order, tentu saja) terus-menerus berlangsung.

Semisal agensi periklanan, agensi public relation, dan sejenisnya ada account manager yang selalu mudah untuk dihubungi oleh klien. Sekaligus menjadi satu-satunya pintu komunikasi antara klien dengan agensi tersebut.

Eksekusi dan delivery pekerjaan bukan dilakukan oleh dia. Sebab dia tidak memimpin produksi (syuting iklan, misalnya). Namun dia harus memastikan argo-nya jalan terus. Ibarat taksi, mobil harus jalan terus dan argonya bergerak maju menghasilkan omzet untuk si agensi. Selanjutnya tinggal penagihan dilakukan oleh bagian keuangan.

Market analyst 

Sebagai support brand manager, ada fungsi-fungsi yang bertugas menghimpun, mengolah, menganalisis data dari market. Hasilnya kemudian menjadi landasan untuk brand manager mengambil keputusan, baik strategik maupun taktikal, terkait brand yang dia kelola ini mau dibawa ke mana.

Apakah brand tersebut layak diangkat memasuki kelas pasar yang lebih premium. Atau cukup menjadi second brand yang memberi barrier bagi pemain baru untuk masuk. Apakah brand tersebut bisa dibawa memasuki wilayah distribusi yang baru, dan seterusnya.

Conclusion 

Ada fungsi creating demand dan harvesting demand di perusahaan. Tergantung industri ya, ada yang menggabungkan, ada juga yang memisahkan. Seperti FMCG, brand manager lebih fokus mengelola brand, urusan penjualan diserahkan kepada distributor. Yang penting cash diangkut setiap hari.

Ada banyak fungsi marketing and sales di perusahaan. Kamu bisa bergabung dengan salah satu posisi di sana.

Beberapa fakta job description di atas sekedar kulit-kulitnya saja. Tentu pendetilannya berbeda di setiap industri dan organisasi perusahaan.

Dan pastinya, proses bisnis di setiap perusahaan juga berbeda-beda. Tergantung apakah itu product-based atau project-based. Itu akan menentukan lingkup pekerjaan untuk posisi-posisi yang sudah tersebut di atas.

Alasan Memilih (Program) Manajemen, Bagi Kamu yang Bingung Mau Kuliah Apa


Sebelumnya saya sudah pernah menulis artikel dengan judul yang sama.

Banyak traffic yang datang ke artikel tersebut. Kemudian saya kulik-kulik lagi, mengapa banyak yang mencari jawabnya.

Jadi berikut ini adalah hasil kulikan saya tersebut.

Banyaknya bidang perusahaan yang bisa dipilih pasca lulus dari manajemen.

Semua perusahaan menjalankan fungsi-fungsi bisnis. Ada keuangan, pemasaran, operasional, SDM, dan lain-lain. Sebagai lulusan manajemen, kamu bisa memilih fungsi manajemen apa saja untuk dimasuki. Dan di bidang industri apapun, keempat fungsi tersebut pasti ada.

Namun, kelemahan lulusan manajemen yaitu kompetensi yang kurang spesifik. Berbeda dengan para insinyur telekomunikasi, informatika, dan lain sebagainya. Tantangan yang harus kamu hadapi yaitu bagaimana membuat diri kamu sebagai lulusan manajemen yang berbeda dari lulusan manajemen yang lain.

Tahu tidak kenapa harus begitu? Lulusan manajemen itu banyak sekali. Tidak sulit bagi suatu kampus untuk mendirikan program studi manajemen. Infrastruktur laboratoriumnya tidak berat dan memakan anggaran besar seperti jurusan sains dan enjinering pada umumnya.

Kembali ke kenapa harus tampil berbeda.

Mungkin kamu punya sertifikasi khusus, semisal sertifikat menyelam? Atau mungkin kamu pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri? Apa saja bisa.

Tidak semua yang -hanya kamu yang melakukan tapi jarang sekali dilakukan oleh orang lain- akan membuat kamu semakin bernilai. Misalnya nilai TOEFL. Skor tinggi belum tentu membuat dirimu distinctive (berbeda). Yang jelas, nilai tinggi seperti IPK atau TOEFL memudahkan kamu untuk lulus seleksi berkas.

Cari tahu, apa yang kira-kira relevan di mata pemberi kerja (employer) sehingga kamu dapat diterima bekerja di sana? Sertifikat menyelam atau pertukaran pelajar hanya dua contoh saja.

Simpulannya adalah, lapangan kerja bagi lulusan manajemen masih sangat beragam dibandingkan mereka dengan latar belakang enjiner atau sains.

Secara umum, S1 biasanya dinilai belum berpengalaman. Sehingga lulusan S1 masih bisa bekerja di mana saja. Mereka masih muda, baru memulai karir, serta lebih mampu belajar dan menyerap ilmu baru. Better than para lulusan SMA/SMK.

Itu salah satu kelebihan sarjana. Tentu saja pengeluaran perusahaan untuk gajinya lebih besar daripada lulusan SMA/SMK.

Alasan kedua adalah kamu ingin terjun langsung sebagai enterpreneur pasca lulus.

Dengan pernah kuliah di manajemen, berarti kamu pernah mempelajari keempat fungsi manajemen tersebut, serta mendalami satu di antaranya melalui tugas akhir/skripsi.

  • Pemasaran
  • Keuangan
  • Operasional
  • SDM

Jadi kamu punya bekal untuk menjadi nahkoda di perusahaan yang kamu pimpin.

Tentu saja kelemahan kamu adalah kamu mungkin belum tahu aspek-aspek teknis dari bisnis yang kamu kelola.

Misalnya kamu membangun usaha restoran, pasti kamu tidak tahu resep dan racikan yang tepat kan? Karena kamu bukan lulusan sekolah/kampus pariwisata. Tapi kamu bisa melakukan pencatatan keuangan yang baik serta punya strategi medium untuk merebut dan mempertahankan pasar, misalnya.

Atau kamu mau mengembangkan apotek?

Kamu bukan apoteker yang jeli menginformasikan bagaimana pasien dapat menggunakan obatnya dengan tepat dan benar.

Mengatasi ini, kamu bisa melakukan rekrutmen apoteker yang tepat.

Kekuatan kamu adalah kemampuan mengelola portfolio produk yang bisa berjumlah hingga ribuan jenis. Serta mengkombinasikan marjin tipis tetapi berfrekuensi tinggi, dengan marjin besar yang membutuhkan inventori besar, dan seterusnya. Ini supply chain banget.

Itu untuk pilihan menjadi Sarjana Manajemen (S1). Bagaimana dengan Master Manajemen (S2)?

Kondisinya adalah kamu sudah bekerja beberapa tahun. Bila kamu beruntung, dalam 2-3 tahun sudah menginjak anak tangga karir yang lebih tinggi. Tanggung jawab yang lebih besar, sudah ada staf yang membantu pekerjaan, dukungan fasilitas perusahaan dalam mencapai target.

Kamu bisa jadi perlu peningkatan kapasitas lebih lanjut. Pendidikan magister adalah salah satu caranya. 

Namun, MBA atau MM tidak fokus di salah satu fungsi. Sensasi pendidikan S2-nya kurang terasa. Perguruan tinggi berlomba-lomba mendirikan S2 Manajemen masing-masing.

Akibatnya, gelar MBA itu sudah mengalami inflasi. Banyak sekali lulusan MBA/MM saat ini.

Mungkin dulu, menjadi MBA itu keren. Namun, sekarang ini sudah terjadi inflasi.

Pertanyaannya masih sama, apa yang membedakan kamu yang lulusan MBA dengan lulusan MBA yang lain?

Beda dengan S2 pada umumnya. Katakanlah pengajaran fisika. Ada microteaching, selain tentang fisika itu sendiri. Sehingga kedalaman dan pendalaman ilmunya lebih terasa dibandingkan dengan S1.

S2 MBA atau MM, banyak mengkombinasikan ilmu-ilmu di permukaan dari keempat fungsi manajemen: keuangan, operasional, pemasaran, dan manajemen SDM.

Bagi lulusan akuntansi, seakan mengulang (secara cepat) kuliah akuntansi dan corporate finance secara cepat.

Kalau S1 manajemen ada mata kuliah tentang pemasaran, nah ada perulangan kembali di MBA pada umumnya.

Karena banyak yang di permukaan, maka hasilnya ada lulusan MBA yang belum tentu punya satu kompetensi teknis di suatu fungsi SDM/keuangan/operasional/pemasaran.

Kan ada tuh pekerjaan konsultan manajemen. Baik internasional, maupun lokal. Apakah harus pernah sekolah di S1/S2 manajemen?

Mereka tidak harus lulusan manajemen lho. Bahkan utk global consultant office seperti McKinsey, BCG, mereka hanya menerima dari UI, ITB, atau UGM.

McKinsey mengistilahkannya dengan insecure overachiever.

Bahkan pasca “lulus” dari kantor konsultan ternama & mendunia tersebut, dengan mudahnya mereka diterima bekerja di perusahaan-perusahaan startup. Mengapa? Mantan konsultan bisa melihat dan menyusun problem solving secara terstruktur.

Conclusion

Apakah saya tampak merekomendasikan jurusan manajemen untuk kuliah S1?

Sesungguhnya tidak. Justru sebaliknya. Lebih baik mengambil jurusan teknik dan diwisuda sebagai enjiner.

Kalau tidak berminat kerja teknis ala insinyur? Tidak apa.

Silakan saja bergabung di fungsi promosi/komunikasi, distribusi, brand management, pengembangan produk, dan sebagainya.

Setelah 2-3 tahun bekerja, berarti sudah saatnya untuk mengambil S2. Apa saja, tidak harus manajemen. Ada beberapa posisi manajerial yang menuntut pengisinya memiliki gelar master manajemen.

Salah satu kenyataannya adalah mereka yang lulusan teknik, biasanya, karirnya melesat cepat. Lebih daripada mereka yang kuliah di jurusan-jurusan IPS.

 

 

Pilih Mana? Jualan Produk atau Jualan Proyek?


Penambahan, pengembangan dan penekanan pada aspek marketing dan branding, saya lakukan demi mempertegas garis batas maupun perbedaan-perbedaan antara berjualan proyek atau berdagang produk.

Terima kasih pada mas Ardisaz yang sudah memberi gagasan dari postingan beliau di sini.

Jualan Proyek

Ilmu dasarnya adalah project management. Delivery kepada klien harus sesuai dengan spesifikasi yang disepakati di awal, dan sebisa mungkin menepati batas waktu yang telah ditetapkan.

Kunci yang pertama dan utama adalah memenangkan project dari klien. Industri yang berbasis proyek, semisal jasa desain rumah (konsultan arsitek), management consulting, selalu mengejar proyek dulu kemudian merekrut tenaga ahli untuk mengerjakan proyek tersebut.

Beban pegawai tetap yang lebih dari kemampuan finansial perusahaan, dapat memberi tekanan berat pada keuangan perusahaan. Sebab itu pegawai tetap harus seminim mungkin. Andaikan terjadi krisis ekonomi (atau krisis dalam industri si klien), perusahaan tetap mampu membayar gaji para pegawai tetap tersebut.

Pemilik bisa menutup perusahaannya apabila jumlah proyek yang berjalan, tidak seimbang dengan pegawai (tetap maupun kontrak) yang harus ditanggung hidupnya.

Sebab itu, potensi/calon proyek harus terus-menerus ada, bahkan sebelum proyek lama sudah selesai dikerjakan dan di-deliver kepada klien.

Implikasinya adalah model perekrutan dan pemberdayaan karyawan bersifat kontrak. Ada rentang waktu berapa lama kontrak pekerjaan tersebut kepada tenaga ahli yang bersangkutan.

Bagaimana dengan kualifikasi tenaga ahli tersebut? Bisa berdasar tingkat pendidikan (S1, S2, atau S3) atau berpatokan pada lama pengalaman di bidang tersebut.

Aset terbesar pada bisnis berbasis proyek adalah hubungan dengan klien itu sendiri. Mencari dan menemukan proyek dari klien baru itu effort-nya cukup besar. Atau klien baru hanya datang sekali dalam beberapa waktu yang panjang.

Bisa disimpulkan bahwa, biaya akuisisi setiap pelanggan baru sangat mahal.

Mosok mau proyek baru dari klien baru aja?

Jadi mengandalkan klien lama adalah keharusan. Kepuasan klien menjadi faktor determinan apakah klien tersebut bersedia kembali mempercayakan proyeknya kepada perusahaan kita.

Karena sifatnya proyek, dan menemukan pembeli baru relatif tidak mudah, maka mengembangkan kompetensi organisasi di beberapa jenis proyek berbeda adalah cara lain menang di industri semacam ini.

Tujuannya adalah mendapat beberapa pekerjaan/proyek berbeda dari klien yang sama.

Branding di industri berbasis proyek tidak perlu menggunakan medium-medium komunikasi pemasaran yang khusus. Model pengelolaan pelanggan cukup dengan account management.

Titik tekannya adalah pada sales manager yang harus wira-wiri di kantor klien, menjalankan aktivitas memantau apakah ada proyek baru. Persiapan dokumen untuk tender, misalnya. Sampai dengan menutup penjualan (closing) proyek yang baru dari klien yang sudah ada.

Branding lewat medium? Sebagai sponsor pada kegiatan internal perusahaan klien. Paling minimum, memvisualisasikan eksistensi vendor lewat kalender dinding atau kalender meja di ruang-ruang kerja dari klien terkait.

Pengeluaran keuangannya bersifat tidak terduga. Tentu ada estimasi dan proyeksi sebelum proyek dimulai, namun ada saja pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga. Sebab itu, kerugian bisa saja terjadi karena pengeluaran yang berlebihan.

Proyek akan mendatangkan kerugian apabila pengerjaannya terhambat sehingga terlambat di-deliver kepada klien. Itu satu penyebab. Sebab kerugian yang lain, misalnya karena ketidakcermatan terhadap kualifikasi dan ongkos tenaga ahli yang diperlukan.

Tambahan tenaga ahli di tengah-tengah pengerjaan proyek, atau penambahan material (atau alat produksi) sembari berjalannya proyek, pastinya akan mengurangi marjin yang diperoleh perusahaan. Buruk-buruknya, bisa hingga menyebabkan kerugian.

Jualan Produk

Inovasi produk harus terus dilakukan. Baik yang sifatnya mayor (perubahan target pasar, redesain kemasan supaya tampak lebih fresh/cool) maupun minor (semisal fitur produk, perubahan komposisi, dll).

Dalam ilmu product lifecycle management, ada fase introduksi produk/jasa ke pasar. Dalam fase ini, awareness terhadap brand masih rendah. Sebab itu harus ada upaya pengenalan kepada khalayak luas.

TV commercial adalah cara yang paling lazim bagi perusahaan consumer goods dalam memperkenalkan produknya. Masa-masa perkenalan seperti ini adalah waktunya untuk “memperoleh kavling di benak konsumen”.

Tidak bisa langsung berharap keuntungan. Biasanya marjin perlu ditekan dahulu untuk memperoleh “kue” di pasar. Sebab ada listing fee untuk masuk di channel penjualan.

Mungkin juga promo diskon sehingga punya harga jual yang lebih rendah dibanding kompetitor. Setidaknya membuat konsumen jadi melirik untuk mencoba beli. Intinya keuntungan tidak bisa dipetik dan dinikmati saat itu juga.

Titik tekan utama memang pada inovasi produk/jasanya. Namun, luput memperhatikan aspek-aspek komunikasi dari produk/jasa tersebut bisa berbahaya. Jangan sampai hanya produk/jasanya saja yang berubah, tetapi tidak ada perubahan sama sekali di benak/hati konsumen terhadap image/experience-nya.

Because Battle for positioning happened in customers’ mind. Berikut kredo dari Walter Landor.

Produk dibuat di pabrik, brand dibuat di benak konsumen.

Medium-medium komunikasi pemasaran perlu dikreasikan sedemikian rupa. Supaya di benak konsumen, brand memiliki atribut-atribut yang berbeda (lebih enak, lebih cepat, rasa tiada duanya, dst).

Moment of truth-nya adalah ketika produk-produk sedang berdiri sejajar di hadapan para calon pembeli. Karena penjualan baru terjadi di belakang — setelah serangkaian proses riset, produksi, komunikasi, dan distribusi.

Research & development (R&D) memegang peranan penting. Terutama dalam aspek produk/jasa itu sendiri, maupun dalam aspek market (research).

Produk tidak customized, melainkan standardized. Produk dibuat di workshop/plant, dengan spesifikasi yang sudah jelas terstandardisasi (mulai dari bahan baku, prosedur produksi, quality control, dsb).

Kalau sudah punya SOP (standard operating procedure), scaling up tidak terlalu berat untuk dilakukan dibanding ketika tidak ada manual atau modul sama sekali.

Kalau brand sudah terbentuk di benak/perasaan konsumen, maka permintaan akan meningkat. Perusahaan perlu investasi tambahan untuk memperbanyak stok, kemudian mengelola distribusi yang ada.

Misalnya, pengembangan wilayah penjualan yang baru, pengendalian stok di warehouse maupun gudang milik channel (hypermarket/supermarket/retailer atau kantor cabang), atau peningkatan visibility produk sehingga lebih mudah dijangkau oleh konsumen.

Software As Services

Ada tipe industri yang menurut saya cukup menyenangkan. Di satu sisi memiliki karakteristik bisnis proyek, di saat yang sama juga punya sifat-sifat bisnis berbasis produk.

Setelah mengerjakan proyek dari klien, rupanya produk akhir dari proyek tersebut, dapat dipasarkan dan dijual kepada klien-klien lain dengan kebutuhan sejenis.

Salah satunya adalah industri SaaS (Software as Services). Effort produksinya praktis hanya di awal. Yaitu ketika menggarap proyek dari klien. Begitu proyek sudah beres, produk akhirnya tinggal diperjualbelikan kepada customers lain dengan keperluan yang mirip.

Contohnya adalah produk untuk tracking kendaraan (truk, alat berat, kapal, dll). Awalnya dikembangkan hanya untuk sebuah perusahaan shipping yang memerlukan. Selanjutnya, dapat ditawarkan kepada perusahaan lain yang sangat mirip kebutuhannya.

Yaitu, perusahaan yang harus melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap aset-aset kendaraan berharga mereka.

Kamu cocok yang mana?

Demikianlah sekelumit perintilan tentang mengelola proyek atau produk sebagai dagangan. Masing-masing ada plus-minusnya. Tidak bisa hanya memilih yang plus saja lantas abai terhadap minusnya. Setiap plus-minus harus diambil sepaket-paketnya.

Dan tidak semua orang cocok. Kembali lagi ke tiap-tiap pribadi.

Kalau kamu, kamu lebih pilih jualan proyek atau produk?🙂

Langkah-Langkah Mengembangkan Konten yang Search Engine Friendly Namun Memuaskan Para Pembaca


Tuntutan pada pembuat content marketing semakin berat. Konten tidak hanya harus berhasil menembus halaman pertama SERP (search engine result page) saja, namun juga harus memuaskan para pembaca.

Bagaimana melakukannya? Update kali ini coba membahas bagaimana merealisasikan dua target tersebut. Yakni konten muncul di halaman pertama serta pembaca mendapat manfaat dari konten tersebut.

Ada dua aspek. SEO dan copywriting.

SEO itu adalah seni membuat konten tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kita sudah tahu bahwa SEO bertujuan meningkatkan relevansi artikel di mata mesin pencari sehingga bisa menempati peringkat teratas dari search result.

Sedangkan copywriting adalah seni menuliskan konten sehingga konten tersebut memuaskan, mencerahkan, atau menghibur pembacanya.

Jadi, SEO Copywriting berarti seni menuliskan konten sehingga tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang terbaik, tetapi juga konten tersebut sukses muncul di urutan teratas hasil pencarian.

Yaitu memformulasikan kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat, sehingga berhasil mempersuasi pembacanya untuk melakukan aksi-aksi tertentu (membeli, berlangganan melalui email, dsb) namun tetap akrab dengan mesin pencari.

Berkawan akrab dengan mesin pencari, adalah sebuah awal menuju rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten dari kompetitor yang mentargetkan hasil pencarian sejenis.

Nah, bagaimana caranya? Dalam artikel ini kita akan membahas secara lengkap dan detil beberapa tips-tips utama dalam membuat artikel blog yang ramah terhadap SEO – Search Engine Optimization (SEO) sekaligus pembaca.

(1) Tidak terlampau banyak keyword (kata kunci) langsung; melainkan buatlah tulisan yang manusiawi -bukan untuk menipu mesin– tetapi untuk pembaca.

Kreatif memanfaatkan bentuk lain dari keyword, seperti sinonim, definisi, variasi kosakata, dan lain sebagainya dari keyword yang kita targetkan.

Penempatan kata kunci bisa dengan kata kunci tersebut, atau gunakan kosakata/frase berbeda yang tetap merepresentasikan maksud yang sama. Sebenarnya, makin beragam kosakata yang digunakan, akan semakin disukai oleh Google.

Ingat kembali bahwa pengguna internet yang datang ke Google itu belum persis tahu apa solusi untuk kebutuhan atau masalah dia. Jadi dia akan mencari tahu. Mulai dari produk/layanan apa yang tepat, produk/layanan dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya.

Harus kita ketahui bahwa keyword merupakan bentuk upaya kita untuk melakukan targeting (sebagai bagian dari STP) terhadap (calon) pelanggan. Sehingga keberadaan keyword dengan sendirinya akan meng-efisien-kan aktivitas dan proses pemasaran.

Mengenai keyword, instead of berperang di keyword yang hanya sedikit kata (short tail keyword), yang semakin lama persaingannya semakin ketat. Makanya sudah waktunya berpaling ke long tail keyword.

Contoh. Daripada hanya “service AC”, lebih baik “jasa service AC di Jogja”, misalnya. Atau “jasa service AC murah di Jogja”, dst. Jadi gunakan paling sedikit 4 kata. Konsekuensinya adalah kita harus lebih banyak mentarget long tail keyword. Tapi tidak apa. Yang penting kan berumur panjang.

Keyword-nya harus konsisten dan masuk dalam berbagai elemen dalam artikel ya. Misalnya di judul artikel, di slug, hingga di dalam artikel itu sendiri. Berapa jumlahnya? Sebanyak keyword density yang disarankan saja.

Keyword density. Mesin Google punya word counter. Jumlah keyword dibandingkan terhadap jumlah kata dalam konten tersebut. Targetnya sekitar 2%-3%. Terlalu banyak akan membuat Google menganggap konten tersebut adalah “sampah”.

(2) Menurut sebuah sumber –saya sampai lupa sumbernya, tetapi saya memang berulangkali menemukan this figure— rerata panjang artikel dari artikel-artikel yang menempati halaman pertama adalah sebanyak kurang lebih 2,000 kata.

Maksudnya adalah kita perlu menjunjung tinggi kualitas tulisan serta memperbanyak volume tulisan (jumlah kata) lewat analisis/pembahasan mendalam tentang gagasan yang kita tuangkan ke dalam artikel tersebut.

Fokuskan tulisan sebagai sebuah jawaban utuh atas pertanyaan yang merupakan rasa keingintahuan calon pembaca yang kita target.

Dalam proses membuat tulisan yang mendalam, riset harus dilakukan secara intensif. Situs seperti http://www.quora.com dapat menjadi referensi untuk mencari tahu pertanyaan relevan terkait dengan topik yang kita kemukakan.

Rahasia lain untuk mendapat konten berkualitas adalah dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan seorang expert mengenai bidang yang digelutinya.

Jangan lupakan juga tulisan sebagai media untuk menghibur, menyampaikan informasi, atau mencerahkan pembaca kita.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di sini bahwa paling tidak, artikel blog yang bagus itu adalah 500 kata. Tujuh ratus kata sudah oke. Volume 700 kata itu ibarat menulis di majalah sepanjang satu halaman.

Intinya, lebih banyak kata akan lebih baik di mata mesin pencari Google. Bukan kata/kalimat yang berulang dan sengaja diulang-ulang lho ya. Melainkan narasi utuh yang gagasannya saling melengkapi satu sama lain.

Do you want to survive? Tulislah lebih panjang hingga minimal 1500 kata. Supaya relevansi di mata mesin pencari akan lebih baik. Sehingga tulisan kita tidak mudah tergeser dari tulisan-tulisan bervolume sedikit yang lebih baru dirilis.

Mengapa? Sebab menulis 300 kata itu relatif tidak sulit. Demikian pula dengan 500, 700, hingga 1000 kata. Dan sudah banyak sekali yang melakukannya. Bersamaan dengan anda menerbitkan sebuah postingan, ada puluhan bahkan bisa ratusan orang melakukan hal yang sama. Cobalah untuk riset lebih mendalam sehingga bisa menulis lebih panjang.

Jadi, lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

Prioritaskan kualitas tulisan daripada kuantitas jumlah tulisan yang ingin di-publish. Dengan kata lain, tidak perlu memaksa diri setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Ini biasanya yang jadi penyakit blogger pemula. Kurang konsisten. Di satu waktu mem-publish demikian banyak posting. Selanjutnya belum ada postingan baru selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

(3) Headline semakin penting. Bahkan lebih penting dibanding dengan era sebelum internet. Mengapa? Sebab ketertarikan pembaca dimulai dari headline yang menarik, bombastis, atau sangat menjual janji kepada pembacanya.

Bagaimana caranya? Sertakan angka dalam judul, atau gunakan kata sifat yang bombastis. Bisa juga “janji” yang memberi solusi atas kebutuhan/permasalahan/pertanyaan calon pembaca.

Namun hindari headline yang hanya memancing klik saja. Biasa disebut click bait. Jadi artikel dengan judul menarik, namun membuat pembaca merasa tertipu dengan konten di dalamnya yang jelas-jelas berbeda dengan judul headline.

Alangkah indahnya bila kita jujur mengenai konten yang kita sampaikan. Yaitu melalui headline yang benar-benar merepresentasikan konten yang di bawahnya.

(4) Terkait tipografi. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Sebab tiadanya jarak di antara paragrafnya. Maka dari itu berilah ruang yang cukup setelah 3-4 baris kalimat.

Tipografi juga bagaimana kita memakai bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita.

Kesimpulan.

Jadi si mesin pencari benar-benar melihat karya kita sebagai sebuah tulisan yang baik, bukan tulisan ala kadar yang hanya ingin nongkrong di halaman pertama SERP.

Google juga mempertimbangkan seberapa sering suatu website dikunjungi. Makin sering dikunjungi, makin mengangkat relevansi website tersebut terhadap keyword yang diketikkan oleh pengguna internet.

Buatlah blog atau website anda bukan yang sekedar dikunjungi kemudian terlupa. Melainkan pengunjung betah berlama-lama di sana. Pancing agar pengunjung melakukan klik demi klik di blog anda untuk menelusuri postingan yang lain.

Bagi Google, relevansi adalah segalanya. Makin relevan, makin tinggi letaknya dalam hasil pencarian. Bila di dalam artikel tersebut ada beberapa link, kemudian CTR-nya tinggi, ini juga menjadi faktor yang akan dipertimbangkan oleh Google dalam menempatkan artikel tersebut ke dalam SERP.

CTR=Click-Through-Rate, yakni seberapa sering klik dilakukan oleh pengunjung website dalam artikel tersebut.

Semoga tulisan ini padat manfaat, serta memberi manfaat.

R.E.S.I.G.N.


#UdahResignAja pernah dikampanyekan oleh beberapa penggiat internet marketing. Para pelaku di industri yang belum lama lahir ini mulai “menghasut” pekerja formal dan informal yang sudah mapan dengan posisi dan pekerjaan yang digeluti.

Salah beberapa konten “provokasi”-nya adalah bahwa bisnis menjanjikan kebebasan financial (financial freedom), maupun fleksibilitas waktu (time flexibility). Lalu mereka terus mengangkat dan mengungkit kelebihan bisnis/berdagang sendiri ini.

Treatment mereka berbeda terhadap peran-peran kuli di perusahaan (baca: karyawan), mereka mengulang dan mengulang betapa buruknya 7P (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan). Pergi pagi pulang petang seperti kebanyakan orang berarti pergi saat macet dan pulang ketika macet.

Kalau untuk sekali jalan saja bisa menempuh 1 jam perjalanan, dengan jam masuk kantor pukul 7 dan selesai pukul 4 sore, berarti harus pergi pukul 6 pagi dan baru tiba di rumah pukul 5 sore.

Satu jam perjalanan bila lancar tidak pernah jadi masalah. Bagaimana bila satu jam hanya berisi kemacetan belaka? Kemacetan bisa membuat psikis tidak nyaman.

Itu yang masih beruntung. Selain itu, masih banyak yang benar-benar mengalami pergi sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah mentari tenggelam. Sepanjang hari kerja, tidak menikmati sinar matahari dalam perjalanan.

Misal rekan saya yang tinggal di Bekasi dan harus menuju Semanggi. Dia berangkat pukul 05.00 pagi. Kalau pekerjaan sedang tidak lancar, dia baru pulang setelah Maghrib. Rerata waktu tiba di rumah adalah 19.30. Dengan catatan pulang on time.

Being entrepreneur or employee, bisa jadi bukan pilihan sama sekali bagi beberapa kalangan. Ada yang terpaksa jadi wirausahawan, ada juga yang tidak punya pilihan lalu harus menjadi karyawan.

Tapi bagi mereka yang sudah menjadi karyawan, namun merasa ada pilihan untuk menjadi pengusaha/pebisnis, pindah kuadran bisa menjadi pilihan yang mudah atau sulit. Demi fleksibilitas waktu dan kebebasan finansial itu tadi.

Dan untuk beberapa orang, ini adalah kasus yang sangat-sangat berat untuk dipilih. Anda harus memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan resign dari pekerjaan dan memulai karir sebagai enterpreneur.

Jadi, mari kita lihat kasus ini secara objektif. Apa yang disampaikan oleh para internet marketer juga tidak sepenuhnya salah. Khususnya mengenai pendapatan dan bagaimana waktu dihabiskan untuk bekerja.

Pendapatan/omzet pebisnis lewat internet –sebagaimana pebisnis pada umumnya– punya potensi untuk naik, naik, dan naik terus. Berbeda dengan karyawan yang gajinya mentok kalau posisi sudah mentok. Palingan kenaikan gaji baru terjadi setahun sekali untuk mengikuti inflasi. Bonus tidak selalu ada; karena kinerja perusahaan bisa di atas atau di bawah rata-rata pertumbuhan pasar.

Waktu? Kalau sistem bisnis sudah berjalan lancar, sang pebisnis malah lebih banyak ongkang-ongkang kaki sahaja –sembari mencari peluang bisnis yang lain.

Di samping menunjukkan kelemahan sebuah pilihan –menjadi sekrup-sekrup kapitalis–, mereka juga menunjukkan keunggulan dari pilihan yang lain. Yakni dengan menjadi internet marketer.

Ada banyak potensi pendulang uang dari internet. Mulai dari berperan sebagai agensi media sosial, Google Ad Sense (dapat uang dari iklan di blog), affiliate marketing (terutama produk-produk digital), reseller/dropshipper dari produk-produk fisik, dan lain sebagainya. Selengkapnya sudah pernah diulas di sini.

Apalagi berbagai infrastruktur pendukung internet kian berkilau: implementasi teknologi 4G LTE, fiber optic semakin banyak dipakai, peningkatan penggunaan smartphone, e-commerce semacam bukalapak.com dan tokopedia.com, internet of things (smart city, smart home, dll).

Believe me or not, penetrasi internet di negara kita akan semakin meluas.

Para internet service provider (ISP) juga bertambah banyak. Misalnya Indihome, First Media, Biznet, dll. Yang diuntungkan adalah konsumen akhir. Harga akan semakin turun dengan layanan yang semakin berkualitas.

Namun demikian menggiurkannya kesempatan menjadi entrepreneur berbasis internet, hendaknya anda tidak mudah terpengaruh begitu saja. Apalagi baru dengar kemarin, lantas sudah mau mengajukan resign dari kantor hari ini juga.

Anda tetap harus mempertimbangkan masak-masak. Apa saja aspek yang layak diberikan perhatian lebih? Berikut ini kita coba ulas lebih mendalam. Jangan resign sebelum anda membaca dan menyiapkan beberapa hal berikut ini:

(1) Alasan mau resign. Apakah anda termasuk salah satu dari alasan berikut ini? Memang tidak pernah cocok bekerja dengan scope/fungsi/job desc yang sempit. Alias selalu ingin mengerjakan banyak fungsi dalam perusahaan.

Setiap enterpreneur punya keunggulan masing-masing. Sebaiknya dikenali dulu, apakah kuat di business development, atau kompeten di penjualan, dst. Tidak ada enterpreneur yang kuat di semua fungsi bisnis. Yang dia lakukan hanyalah, fokus di kemampuan dia, lalu menyerahkan fungsi lain kepada yang lebih kompeten.

Atau alasan seperti berikut ini: berpikir lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil –apalagi kalau kolamnya milik sendiri– daripada menjadi ikan kecil di kolam besar.

Anda harus punya alasan terbaik sebelum resign sebagai karyawan kemudian beralih menjadi pemilik perusahaan. Boleh saja alasan finansial, namun lebih baik bila anda menemukan dan punya alasan-alasan yang lebih fundamental –atau yang datang dari lubuk hati terdalam.

Mengapa harus alasan yang benar-benar datang dari hati sendiri? Kuncinya bukan saat anda sukses, melainkan saat anda terpuruk. Ketika anda merasa sedang jatuh sejatuh-jatuhnya, apa anda akan berubah haluan (mengganti bisnis atau kembali jadi karyawan) begitu saja?

Hanya fondasi kuat saja yang akan membuat anda bertahan dalam profesi/posisi yang benar-benar anda inginkan, bahkan ketika sedang tertimpa berbagai kemalangan.

Prinsip-prinsip apa yang kita yakini dan jalani dalam hidup, sehingga ketika kita terpuruk sekalipun, kita tetap bertahan dalam profesi pebisnis kita.

(2) Suka menjual. Kalau sekedar suka menawarkan produk/jasa kepada orang yang membutuhkan, cukup bergabung dengan bagian penjualan (sales). Jika memang suka mencapai dan bahkan melebihi target, berarti anda cocok dengan berkolaborasi dengan fungsi penjualan.

Tapi bila anda suka menjual, sekaligus ingin “menguasai” seluruh operasional usaha, maka menjadi enterpreneur adalah langkah yang paling tepat. Salah satu sifat yang harus dimiliki entrepreneur, menurut saya, adalah sikap greedy terhadap omzet dan profit.

Harus suka duit. Alias selalu ingin bisnis yang tumbuh. Yaitu menumbuhkan (to grow) kapasitas/kemampuan sistem bisnis dalam menghasilkan omzet. Kapasitas menghasilkan 10 juta rupiah, tentu berbeda dengan kapasitas menghasilkan 1 milyar rupiah. Untuk itu, si pemilik bisnis harus terus ikut mengembangkan kapasitas pribadinya.

Kenapa bisnis harus tumbuh terus? Being entrepreneur itu penuh dengan eksposur risiko. Dari eksternal, semisal pelanggan atau kompetitor. Dari internal, misal karyawan yang tiap tahun gaji harus naik (minimal mengikuti inflasi). Untuk mengasuransikan berbagai risiko tersebut, maka bisnis harus terus tumbuh omzetnya.

(3) Tidak melulu menjadi operator. Harus berkembang menjadi leader –dimulai dengan merekrut karyawan untuk menggantikan operasional harian. Mulai berubah dari sekedar pelaksana harian menjadi pemikir dan eksekutor aspek strategis: yang terkait dengan pertumbuhan usaha, dan berdampak jangka panjang.

Mulai menanamkan kepercayaan kepada orang lain. Berkomunikasi dan memberi contoh (role modeling) kepada karyawan. Hindari pemikiran, “Tidak ada saya, tidak akan berjalan ini usaha”. Terjebak dalam pemikiran tersebut akan membuat UKM selamanya tetap UKM.

Usaha yang dikerjakan seorang diri itu ibarat menjadi penjual nasi goreng. Semua serba dikerjakan sendiri. Pencarian lokasi usaha, investasi, belanja bahan baku, operasional harian, pencatatan keuangan, dst. Usaha susah berkembang kalau begini.

(4) Start action. Melakukan 1 langkah kecil ke arah yang tepat, adalah lebih baik daripada langkah besar yang terlampau lambat dieksekusi. Sebab bisnis tidak harus selalu punya rencana jangka panjang yang ditulis. Ada lebih baik, tetapi harus fleksibel dan tidak menghambat eksekusi.

Maka dari itu, anda tidak harus langsung resign. Justru kembangkan usaha sebelum anda mengundurkan diri. Atau sebelum anda dipecat. Atau sebelum anda pensiun. Atau sebelum bencana finansial –semisal utang kartu kredit yang terlampau banyak– mengguncang rumah tangga.

Rumah tangga yang keuangannya terguncang sangat berbahaya sekali. Mungkin anda sudah punya istri dan anak-anak yang harus diberi makan serta SPP yang harus dibayar. Atau kredit rumah dan kendaraan yang harus dicicil setiap bulan. Jangan sampai ini terjadi.

Sisi lain, pemahaman dan kemampuan akan standard kualitas produk/jasa belum dikuasai, sehingga harus bertahap membangun penguasaan atas kompetensi tersebut.

Ingat, bedanya bisnis 10 juta dengan bisnis 1 milyar terletak pada kemampuan mengelola bisnis tersebut. Kompetensi tidak datang dari langit. Tapi detilnya harus dipelajari secara rutin dan ekskalatif.

Namun demikian, fokus pastinya lebih baik. Daripada nyambi keduanya, lebih baik pilih salah satu dan kemudian fokuskan. Daripada target-target pekerjaan di kantor tidak tercapai, sementara permasalahan bisnis sendiri juga tidak kunjung tuntas terselesaikan. Daripada tetep bekerja dan mencuri-curi waktu kerja di perusahaan untuk aktivitas bisnis pribadi, lebih baik sekalian saja jadi full-time entrepreneur.

Maksud saya, pastikan tidak selamanya terjebak dalam dua dunia. Bila memang ada bisnis keluarga, lebih baik suami yang bekerja dan istri yang mengelola bisnis keluarga tersebut. Atau sebaliknya. Saya pribadi penganut “satu di antara sepasang suami-istri cukup satu saja jadi pekerja”, dengan yang lain sebagai pengelola bisnis.

Pamit Baik-Baik.

Etika tetap utama. Sikap kita menentukan bagaimana dunia akan bereaksi terhadap kita. Bila ingin resign, kemukakan baik-baik. Jangan sampai hubungan rusak. Kita tidak pernah tahu bagaimana rezeki –terutama yang melalui rekan lama– akan mampir ke kita.

Pergi tampak muka, pulang tampak punggung. Datang baik-baik, pamit dengan baik-baik. Lamar baik-baik sesuai mekanisme dan prosedur yang ditetapkan perusahaan, dan pamit pergi juga dengan cara yang baik.

11 Kesalahan Blogger Pemula


Anda yang membaca postingan ini pastinya beruntung sekali. Saya dulu meraba-raba bagaimana meningkatkan kemampuan saya dalam blogging. Saat itu referensinya belum banyak. Nah, harapan saya adalah postingan ini bermanfaat untuk kamu para blogger pemula.

11 kesalahan blogger pemula

  1. Kurang fokus pada tujuan blogging itu sendiri. Blogger pemula memposting segala yang ingin ditulis. Padahal konten perlu konsistensi topik. Apa jadinya kalau tidak konsisten? Brand dari blog jadi tidak terbangun. Kenapa saya harus baca blog anda untuk topik tersebut, dan bukannya membaca blog yang lain? So, blogger pemula harus punya tujuan nge-blog supaya brand blognya terbangun.
  2. Bingung mentarget audiens. Audiens kan ada beragam ya. Expert banget ada, sampai level pemula juga ada. Tidak bisa semuanya dilayani. Jika tidak demikian, nantinya ada expertmemandang rendah blog Anda karena masih ada konten untuk pemula. Sebaliknya, level pemula belum waktunya untuk diberikan konten yang “berat”.
  3. Lupa –atau malah terlalu sering– mengekspresikan diri. Penghadiran diri Anda dalam tulisan jelas penting. Setidaknya itulah ciri bahwa tulisan tersebut adalah Anda. Namun demikian, terlalu sering mengekspresikan diri berarti narsisme tingkat tinggi. Begini saran terbaik dari saya: Tulislah seakan Kamu sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
  4. Abai terhadap SEO — Search Engine Optimization. Entah terlalu fokus dengan konten, sehingga lupa si SEO. Atau terlalu SEO sehingga konten malah kurang menarik. Alias tidak memberi nilai manfaat ke pembaca — yang menemukan banyak teks tanpa hubungan satu sama lain.
  5. Tidak mengorganisasikan konten. Ini bukan konten tidak boleh mengalir ya — justru itu harus. Melainkan harus jelas yang mana pembuka — atau latar belakang mengapa konten tersebut ditulis, isi, hingga penutup — atau berisi tentang bagaimana mengaplikasikan poin-poin yang disarankan dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Main tulis saja, tapi melupakan editing. Salah ketik (typo) itu akan menunjukkan ke-amatir-an Anda. Blogger pemula harus belajar menjadi profesional sejak awal, dong. Kesalahan-kesalahan tersebut juga mengganggu pembaca — karena mereka malah akan fokus pada kesalahan Anda. Ingat kembali proses penulisan: researchdraftpublishedit.
  7. Sering ingin sempurna (perfect). Akibatnya jarang merilis (publish) tulisan. Terlalu banyak riset. Jadi bingung menuangkan ide-ide ke dalam suatu tulisan utuh. Atau sudah mulai menulis draft. Sarannya adalah tidak usah sempurna. Ada quote yang menarik bahwa, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis”. Namun, untuk menyempurnakan, silakan rilis tulisan tersebut. Dan lihat bagaimana para pembaca anda memberikan komentar. Seiring waktu, Anda bisa memperbaikinya. Atau bahkan menghasilkan ide tulisan utuh yang baru.
  8. Inkonsistensi. Ada dua yang harus konsisten: (1) konsisten menerbitkan konten, dan (2) konsisten pada kualitas konten. Untuk yang kedua, kata lainnya adalah standard kualitas. Proses kontrol harus dijalankan sebelum tulisan terbit. Di sinilah pentingnya proses editing sebagai sebuah bentuk kontrol kualitas tulisan.
  9. Tidak promosi konten. Di era internet –sekaligus social media–promotion is a must. Bahkan promosi telah menjadi proses ke-5 yang harus dilakukan setelah research-draft-publish-edit.
  10. Belum menghimpun leads. Asumsi dasarnya adalah tidak semua orang cocok dengan konten kita. Dengan kata lain, konten kita pasti ada target pasarnya. Nah untuk target pasar kita, kita bisa mengoptimalkan hubungan antara konten kita dengan target pasar tersebut. Caranya adalah melalui berlangganan konten dari kita. Para pelanggan inilah yang kita sebut sebagai leads. Jadi dia harus submit email sehingga dapat menjadi pelanggan tetap kita. Plugin SumoMe yang membantu saya dalam menghimpun leads.
  11. Belum paham tipografi. Konten di blog tidak bisa hanya teks saja. Full text hanya membuat kita sakit mata. Sehingga pengunjung jadi malas membaca. Harus ada pembagian paragraf. Di mesin WordPress, sekali enter saja sudah cukup memberikan jarak antar paragraf yang baik. Jumlah baris maksimal dalam paragraf adalah lima baris. Dan lain sebagainya.

Demikian 11 pelajaran yang harus kita kuasai sehingga kita dapat beranjak dari sekedar blogger pemula menjadi blogger yang lebih profesional.

10 Aplikasi Ilmu Psikologi Dalam Marketing Untuk Membuat Penjualan Anda Menjadi Lebih Baik


Ada tiga cara melakukan segmentasi pasar. Berdasar demografi, psikografi, atau perilaku. Sesuai dengan namanya, pemasaran berbasis psikografi sangat mengandalkan aspek-aspek psikologis dalam setiap aktivitas maupun implementasinya.

Kali ini kita coba membedah bagaimana memanfaatkan psikologis konsumen dalam mengeksekusi rangkaian program-program pemasaran. Pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek psikis yang menyusun psikografi konsumen, adalah modal awal yang tepat.

Aspek-aspek psikis konsumen meliputi apa saja yang dia pikirkan dan rasakan. Baik itu apa yang menjadi kekhawatiran, cita-cita saat ini, target-target yang ingin dicapai di masa depan, aspirasi pribadi, dan lain sebagainya.

10 psikologi pemasaran

Jadi, sebagai marketer, kita harus mulai dari mana? Mari kita mulai dari mencari tahu dan merenungkan, apa yang sebenarnya berada di dalam pikiran dan perasaan target market kita.

Semakin dini memulai dokumentasi dan menyusun pedoman (guidance) mengenai profil konsumen (customer profile), maka semakin baik. Sebab, tidak ada kata berhenti dalam mengenali dan mendalami konsumen kita.

Yuk kita bedah satu demi satu.

(1) Endownment effect.

Logikanya sederhana. Kita terikat dengan benda yang kita miliki dan secara tidak sadar menerima nilai dan manfaat atas barang tersebut. Petunjuk: berikan pelanggan anda sebuah sampel sebelum mereka berpikir dan memutuskan untuk membeli. Dengan kata lain, free trial.

Tidak heran, pelanggan keberatan untuk membeli sesuatu yang mereka masih meraba-raba apa manfaat yang akan mereka dapatkan. Di sinilah kelebihan free trial dibanding freemium.

Kalau masa trial fitur free trial sudah habis, konsumen akan merasa kehilangan. Kemudian akan “terpaksa” melakukan pembelian.

Sebaliknya dengan freemium. Konsumen berupaya memaksimalkan penggunaan fitur sepanjang tidak perlu membayar. Dalam benak konsumen adalah, selama bisa gratis, mengapa saya harus meningkatkan frekuensi dan intensitas penggunaan produk/layanan tersebut?

(2) Loss Aversion

Penggunaan barang atau jasa bebas risiko (risk-free) ini dan garansi uang kembali (money-back guarantee) ini ada kaitannya dengan Loss Aversion.

Yang terakhir ini menyatakan bahwa rasa sakitnya kehilangan suatu peluang membeli (“beli sekarang, atau Anda kehilangan diskon 50%”) itu lebih besar daripada efek positif dari mendapat untung yang bernilai sama besar (“beli satu dapat 2”).

(3) Reciprocity.

Ini adalah satu di antara 6 faktor influence yang ditemukan oleh Robert Cialdini berdekade-dekade yang lalu melalui riset yang beliau lakukan. Selain faktor reciprocity, ada pula commitment, social proof, liking, authority, scarcity.

Prinsip ini sudah dikaji berulang kali dan berkali-kali pula terbukti benar. Jadi, ketika anda berbuat baik kepada seseorang — pastikan bahwa mereka tahu bahwa anda sudah berpikir dan bekerja keras untuk perbuatan baik tersebut — maka mereka akan membalas kebaikan anda tersebut.

Bagaimana prinsip resiprokal ini dapat berlaku di jagat social media?

Salah satu prinsip resiprokal di social media yaitu dengan connect with those influencers. Pertama, share dulu konten mereka ke social media, dan buat mereka tahu bahwa anda juga menyebut mereka dalam postingan anda. Konten anda harus sedemikian outstanding sehingga mereka akan selalu ingat dengan Anda. Yang akan terjadi selanjutnya adalah mereka akan memberi perhatian lebih pada Anda.

Contohnya adalah fitur “interest” di facebook Ads diisi dengan psikografi dari konsumen yang menjadi target penjualan kita. Mereka yang memiliki interest terhadap brand jeans seperti Wrangler, Levi’s, dan brand denim lainnya dapat menjadi pilihan “interest” untuk target market mereka yang memasarkan pakaian jeans.

(4) Ben Franklin effect.

Teori ini menjelaskan bagaimana orang melakukan justifikasi atas tindakan yang baru saja mereka lakukan. Pembeli –sebagai makhluk emosional– sering melakukan justifikasi atas pembelian yang mereka lakukan.

Marketer harus pintar memanfaatkan celah justifikasi ini untuk menciptakan penjualan.

Ingat cerita tentang susu yang berharga tinggi/mahal? Konon, karena para orang tua yang bekerja tersebut ingin menghilangkan rasa bersalah (ini adalah aspek psikis) mereka akibat minimnya waktu interaksi dengan anak-anak.

Harga susu yang mahal adalah pembenaran bagi orang tua untuk mengutamakan pekerjaan dan –sedikit– mengesampingkan aktivitas dan proses parenting.

Yang terjadi kemudian adalah mereka kemudian mengulang pembelian susu tersebut, lalu membeli lagi, lagi, dan lagi.

(5) Exposure Theory

Semakin sering anda terekspos dengan suatu informasi, maka kecenderungan anda untuk membeli akan semakin tinggi. Penguasaan konten promosi/iklan atas berbagai medium komunikasi, akan meningkatkan kecenderungan calon pembeli dalam mengeksekusi pembeliannya.

Tidak heran apabila brand sangat tergila-gila dengan medium yang sangat eksklusif. Paid Media tentu saja tidak bisa eksklusif. Minimal ada batasan waktu untuk terus berpromo di sana. Own Media adalah salah satu cara dalam mengekslusifkan medium hanya untuk brand kita. Lihat bagaimana Magnum melakukannya lewat medium Magnum Cafe.

(6) Social Proof Theory

Semakin banyak yang like/follow maka kita akan cenderung untuk like/follow juga. Semakin banyak yang membeli, maka kita percaya bahwa suatu brand cocok untuk kita. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ada banyak macam social proof. Tapi kita paling tertarik dengan customer social proof. Di situs e-commerce semacam Tokopedia, ini berarti review dan penilaian. Untuk B2B, user social proof bisa berupa studi kasus.

Misalnya, kasus 5 tahun lalu mengenai bagaimana kita turut membantu klien mengatasi persoalannya. Success story ini jadi dasar mengapa calon klien dapat mulai percaya untuk menggunakan produk/layanan kita. Berbagi konten lewat tombol share di social media juga berarti mengungkit (to leverage) social proof.

(7) Similarity Effect 

Semakin dekat anda (secara lokasi ) dengan seseorang semakin mungkin anda berteman dekat dengannya.  Lihat para tenant di mall atau pasar yang memiliki persahabatan dekat dengan mereka yang sama-sama berada satu lantai.

Mengapa terjadi demikian? Sebab mereka memiliki banyak kesamaan. Kesamaan lokasi dan waktu beraktivitas, kesamaan kebutuhan akan calon pembeli, dan lain sebagainya.

(8) Propinquity Effect

Semakin banyak kesamaan yang terjadi antara customer anda dengan brand anda, maka semakin cepat customer akan menyukai brand anda. Dengan kalimat yang lain, kita bisa bilang bahwa semakin brand Anda mampu memfasilitasi aspirasi konsumen, maka semakin cepat konsumen menyukai brand Anda.

(9) Fear, Uncertainty and Doubt (FUD) Effect

Produk-produk seperti asuransi jiwa, beberapa kelompok obat-obatan, perangkat lunak (software), ditawarkan kepada target pasar dengan iming-iming ketakutan atau ketidakpastian tertentu. Misalnya, pemakaian software ilegal dapat membuat data hilang. Sehingga pelanggan merasa aman dengan membeli software bergaransi resmi.

(10) Adrenaline Effect

Ini masih terkait dengan faktor scarcity dari Cialdini. Jadi ketika bila kita memberi batas waktu pada calon pelanggan untuk berbelanja, maka mereka akan cenderung untuk berbelanja lebih cepat dan lebih banyak. Perhatikan betapa suksesnya program MidNight Sale di mal-mal. Apalagi MidNight Sale di bulan Ramadhan.

Kreatif Mengoptimalkan Medium Pemasaran


Dalam diskusi saya dengan banyak rekan-rekan, masih banyak yang menduga bahwa tujuan pemasaran hanyalah mendapat omzet. Padahal tidak hanya itu. Dapat revenue merupakan tujuan penjualan semata. Padahal masih ada dua tujuan yang lain harus diwujudkan.

Dua tujuan pemasaran yang lain itu adalah (1) awareness, dan (2) engagement. Pemanfaatan medium-medium pemasaran guna mewujudkan dua tujuan yang terakhir. Jangan tertukar antara medium dengan media ya. Nanti saya elaborasikan di bawah. 

Bisa saja ada medium yang fokus ke awareness, ada yang mantap menggalang engagement. Namanya juga medium. Menjangkau paling luas belum tentu paling baik. Sebab harus membangun intimacy dengan customer juga kan. Syukur bila ada yang sudah menjadi evangelist. Yaitu pelanggan yang demikian loyalnya sehingga selalu memberikan endorsement mengenai brand yang kita kelola.

Mengapa demikian complicated tujuan pemasaran? Karena Intim saja kadang-kadang belum cukup. Karena pasar yang sudah dipegang harus diperbesar. Mesti selalu ada leads yang baru. Bila perlu kembangkan wilayah pemasaran lebih luas lagi. Pertumbuhan di wilayah yang terbatas, biasanya lebih rendah bila dibandingkan dengan tempat-tempat yang baru sama sekali.

Namun demikian, sublime message-nya harus tetap konsisten. Kembali lagi kita harus membuka konsep mengenai core message dan positioning. Ingat kembali dua contoh yang selalu didengung-dengungkan.

Lifebuoy adalah sabun kesehatan keluarga, sedangkan Lux adalah sabun kecantikan para bintang. Mau sehat ya pakai Lifebuoy. Mau cantik ya pakai Lux. Begitu kira-kira sublime message-nya.

Mari kita bahas tiga jenis medium komunikasi yang sudah sangat biasa dipakai:

  • Above the Line (ATL). Pemanfaatan existing medium, yang biasanya berupa media (penyedia berita dan informasi). Baik dalam skala nasional atau lokal. Contohnya adalah TV, radio, majalah, koran, dll.
  • Below the Line (BTL). Mediumnya berupa event, seminar, konferensi, dll. Jadi bukan medium yang sudah ada dan tinggal ditumpangi. Melainkan harus dibuat sendiri: event, seminat, konferensi, dll. Bagi-bagi sampel gratis (tester) di pusat-pusat keramaian, semisal mall.
  • Internet. Baik lewat medium Social media (Facebook, Instagram). Atau forum/blog integrator seperti Kaskus, blogdetik, kompasiana, dll. Atau berbasis web, misalnya corporate/brand Website, mobil application yang bisa diunduh di Google PlayStore atau AppStore-nya Apple, dan lain sebagainya.

Namun demikian, mengetahui apa saja medium yang mungkin dan bisa digunakan itu adalah satu hal. Hal lain yang penting dan tidak kalah krusial adalah skill dan knowledge dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi medium-medium yang sudah ada.

Bagi mereka yang memegang anggaran besar, mudah saja. Tinggal pitching dan hiring agensi, baik itu advertising (periklanan), public relation (PR), event organizer (EO), dan sebagai-sebagainya. Namanya juga agensi, ‘kan. Sehari-hari memang bermain serius dan serius bermain di medium-medium tersebut.

Para agensi adalah “pasukan” milik para brand owner dalam menggarap medium-medium komunikasi. Sedemikian intens dan intimnya sehingga ada kalanya agensi kerap berkantor di office-nya brand/product.

Berbeda halnya dengan brand owner/manager yang tinggal menggunakan anggaran komunikasi secara maksimal, para UKMers-UKMers (pelaku UKM) yang serba mengerjakan sendiri (terlebih dahulu) berbagai  channel pemasaran yang ada. Untungnya kini sudah ada social media. Penciptaan awareness dan engagement bisa dilakukan dengan lebih mudah berkat bantuan internet.

Inilah yang pernah dinyatakan oleh Mas Yuswohady, bahwasanya era social media adalah era UKM. Karena dengan mudahnya UKM melewati barrier dalam promosi dan penjualan produk/service dari brand yang dibesut, melalui optimalisasi pendayagunaan social media. Baik itu facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain.

Jadi, pilihan medium untuk berkomunikasi semakin banyak. Tapi belum tentu membutuhkan anggaran yang besar. Karena beberapa di antaranya bahkan dapat digunakan secara gratis. Meski gratis, bukan berarti medium tersebut tidak dapat digunakan secara taktis dan efektif.

Dalam bukunya Brand Gardener, Mas Handoko berpendapat bahwa para pembesut merek sekarang harus menjadi Brand Gardener. Di mana, storytelling adalah sentral dari proses dari brand building.

Lantas, bagaimana menjadi brand gardener yang handal? Atau apa yang harus dilakukan agar brand yang dibesut menjadi brand yang menjalankan peran, fungsi, dan posisinya? Mari belajar lewat studi kasus saja.

Studi kasus yang menarik adalah Filosofi Kopi. Mbak Dewi ‘Dee’ Lestari mengakui bahwa terlalu banyak konten dalam kopi yang sayang untuk dilewatkan menjadi sebuah cerita. Ada aroma, rasa, dan body yang selalu terkait satu sama lain. Dan beragam sumber biji kopi selalu mampu memuaskan berbagai selera pecinta kopi. Kopi Robusta tidak sama dengan Kopi Arabika. Kopi Luwak, jelas beda banget dengan white coffee, misalnya.

Filosofi Kopi itu ceritanya sudah kuat, didukung oleh karakter-karakter seperti Ben & Jody, ditulis pula oleh penulis ternama seperti Mbak Dee–yang sebelumnya merilis lagu dan film Rectoverso. Jadilah materi storytelling-nya kuat banget. Mudah untuk divariasikan ke berbagai medium komunikasi. Kedai Filosofi Kopi, sebagai salah satu medium, juga benar-benar ada di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Hype Filosofi Kopi –baik sebagai novel, film, dan kafe– kemudian ditawarkan kepada beberapa pendukung sekaligus sponsor yang berkenan untuk “menunggangi” hype tersebut. Dapat dibayangkan, betapa tinggi share of voice yang diterima oleh brand atas medium yang relatif sepi kompetitor tersebut.

Story mengenai Filosofi Kopi pun tidak berhenti sampai di situ. Saat ini, film sekuelnya sedang digarap dengan Ben & Jody sebagai sentral cerita. Lengkapnya bisa dicek di laman http://www.filosofikopi.id

Bicara tentang medium, berapa banyak medium yang harus dikelola? Apakah semua medium harus dimasuki? Bagaimana bila budget sangat terbatas, atau bahkan tidak ada sama sekali? Bagaimana bila medium tersebut tidak mungkin memberikan awareness, engagement, maupun penjualan yang memadai?

Mengenai hal ini, pernyataan Pak Ricky Afrianto, Marketing Director Mayora, ada benarnya dan sangat relevan mengatasi kegelisahan tersebut. Bunyinya kira-kira sebagai berikut, “advertising di TV bukannya tidak relevan sama sekali, melainkan bagaimana meng-integrasi-kan konten tersebut dengan medium-medium komunikasi yang lain.”

Jadi, bagaimana mengoptimalkan (termasuk mengintegrasikan kontennya ke seluruh medium) adalah hal lain yang harus dipikirkan dengan matang, dan dieksekusi dengan hati-hati.

Bagaimana agar medium komunikasi dapat memberikan awareness dan engagement, yang memadai?

  • Awareness diukur untuk mengetahui sejauh mana reach yang dapat dicapai dengan medium tersebut. Ibarat kata, engagement adalah mengenai kedalaman hubungan, awareness adalah keterkenalan sebuah brand. Makin banyak yang mengenal –meskipun belum pernah menggunakan– adalah semakin baik.
  • Engagement adalah bukti bahwa brand kita sudah relevan dengan pasar yang ditarget. Makin intim hubungannya, makin baik. Apalagi bila sudah lahir para evangelist yang bersedia membela brand kita mati-matian.

Namun, memposisikan brand kita sehingga berbeda dengan kompetitor juga termasuk pekerjaan brand owner/manager/gardener yang tidak kunjung usai. Ada dua aktivitas yang bisa dilakukan: make it better atau (justru) make it different.

  • Do better. In terms of quality, cost, and Delivery (QCD). Atau give more value. More benefit for less cost. Ingat rumus value: benefit per cost.
  • Atau make difference in. So the brand could become the first in customer ‘smind.

Sebagai penutup, Mas Yoris Sebastian sudah merangkumnya dengan sangat baik,

Apapun mediumnya, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana membuat sesuatu yang berdampak positif untuk banyak pihak dan bahkan untuk ekosistemnya.

Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda


Kenapa harus Instagram?

Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata. Harus kreatif menggunakan medium yang cocok dengan perilaku pelanggan.

Idealnya, marketer itu peduli pada pelanggannya. Sehingga akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Yaitu dalam semua bahasa dan medium yang dikehendaki oleh target market.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner.

Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing.

Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu.

Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dari yang merasa biasa saja, sampai dengan yang merasa excited banget) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook.

Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran.

Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh perusahaan Facebook.