Being Professional


Professional itu bukan hasil. Dia jago, bisa mencapai hasil, maka itu professional. Memang iya, dan ini sudah betul. Namun demikian, saya ingin mengajak rekan-rekan semua melihat beberapa esensi-esensi yang mungkin lupa disadari oleh banyak orang.

Sikap Mental terhadap Pekerjaan

Para professional itu punya sikap mental luar biasa terhadap pekerjaannya. Jadi tingkat profesionalitas seseorang adalah tingkat attitude (sikap) dia terhadap pekerjaan yang ditekuninya.

Coba lihat pemain bola. Atau olahragawan lainnya, khususnya yang bertanding secara tim ya. Sepak bola atau basket, misalnya. Banyak orang hanya melihat bayaran tingginya saja. Punya mobil mahal yang eksklusif. Iya, ekslusif. Hanya beberapa orang di dunia yang punya. Karena pabrik mobilnya hanya membuat edisi terbatas. Atau rumah super mewah yang luasnya tidak karuan, desainnya luar biasa modern dan minimalis. Jadi bintang iklan di mana-mana. Produk pakaian dalam, jam, parfum, shampo, dan kategori-kategori lain yang tidak terhitung banyaknya. Ditonton jutaan orang di seluruh dunia, dan berbagai kenikmatan duniawi lainnya.

Padahal bila diteliti perjuangannya, ya lebih berat dibanding orang-orang kebanyakan. Yaitu mereka yang bangun di pagi hari, bersiap-siap kemudian pergi ke tempat kerja. Pulang sore, bercengkrama dengan keluarga, lalu tidur malam. Besoknya, kegiatan berulang.

Saya katakan demikian karena pesepakbola dibayar bukan untuk bermain (baca: bersenang-senang). Pesepakbola dibayar untuk berangkat latihan. Latihan perorangan: akselerasi, daya tahan, teknik bermain, dan lain sebagainya. Briefing tim: bagaimana tim akan bermain. Apa yang harus dilakukan oleh yang menguasai bola, apa yang harus dilakukan oleh rekan-rekan yang tidak menguasai bola? Semua latihan biasanya dilakukan di hari kerja.

Tentu professional punya waktu berlibur. Tetapi pesepakbola tidak istirahat di akhir pekan. Karena dua hari tersebut adalah untuk memuaskan para supporter di stadium. Bermain atau tidak, hari senin harus tetap latihan. Menang dengan selisih gol banyak sekalipun, hari senin tetap latihan. Kalah? Karena kompetisi berlangsung terus, maka hari senin harus masuk untuk berlatih (lagi).

Hari ini main sebagai starting eleven (sebelas pemain yang beruntung bermain sejak awal pertandingan) bahkan tetap bermain sampai pertandingan selesai, apa lantas dapat dispensasi alias pengurangan jarak lari yang harus ditempuh besok? Tentu tidak.

Besok hari tidak masuk starting eleven, tidak juga ada di bench (bangku pemain cadangan). Apa lantas porsi latihan dikurangi? Ya tidak juga. Semua porsi latihan harus dikonsumsi tanpa kecuali.

Tambah Jam Latihan

Ada esensi lain yang perlu kita sarikan dan ambil hikmahnya. Bahwasanya para professional itu terus mempertajam kemampuannya seiring waktu bergulir.

Di luar pekerjaan sehari-hari, para professional juga melatih diri lewat latihan tambahan. Gianfranco Zola, semasa masih di Napoli, menambah durasi latihan sebanyak 30 menit setiap hari dengan berlatih bersama Diego Maradona. Sehari setelah salah satu penghargaan Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia, Cristiano langsung kembali ke lapangan. Melakukan apa? Ya latihan!

Bahkan sampai soal istirahat dan tidur sekalipun, olahragawan harus profesional. Tidur harus on time, supaya durasi tidur terpenuhi. Banyak mengobrol atau bermain gadget sampai larut malam, akan membuat fisik lebih lemah dari yang diharapkan. Salah satu wujudnya, adalah kecepatan lari yang lebih pelan dari yang seharusnya. Target jarak yang tercapai dalam rentang waktu yang lebih panjang. Andres Iniesta dan Cristiano Ronaldo merupakan dua contoh yang sangat disiplin mengenai tidur yang on time.

Kuncinya Rajin dan Tekun

Ketabahan menjalani profesi itu sangat diperlukan. Bosan tidak boleh menghalangi kualitas pekerjaan. Apa-apa yang dikerjakan harus tetap berkelas.

Sebab itu passion diperlukan. Suka terhadap apa yang kita lakukan. Martin Seligman (Author of Authentic Happiness) memberikan salah satu kriteria adalah ketika perasaan kita begitu terlarut dalam aktivitas pekerjaan tersebut. Atau bila tiba-tiba kita merasa hari sudah sore manakala kita tenggelam begitu dalam di aktivitas tersebut. Nugie menyebut dalam lagunya, “lentera jiwa”. Lewat lirik lagunya, Nugie berpesan agar tidak mengabaikan jiwa. Justru jiwa yang notabene sudah memiliki “lentera” harus terus diupayakan supaya lentera tersebut menyala terus.

Martin Seligman juga menyebut bahwa kesenangan itu ada dua, yaitu yang berumur pendek dan berumur panjang. Kafein dalam kopi bisa memberikan kebahagiaan tetapi sangat singkat sekali. Ingin kebahagiaan jangka panjang? Menurut Seligman, itu adalah kala kita mampu mengeksploitasi dan memaksimalkan bakat dan kekuatan (strength) kita hingga maksimal.

Jadi? Cari, ketahui, dan dapatkan apa yang kita suka atau senangi. Kemudian, berikan kerajinan dan ketekunan yang tiada tara.

Profesional bukan antithesis dari amatir.

Profesional itu kata dasarnya profesi. Yang terakhir ini berakar dari sebuah kosakata latin, yaitu proficio. Artinya kira-kira ‘to advance’. Alias memiliki kompetensi di bidangnya lebih daripada orang-orang umum bisa lakukan. Karena dia berkompeten, maka dia bisa mengajukan sejumlah tagihan pembayaran atas kompetensinya tersebut.

Dengan kata lain, kita membayar seseorang profesional karena dia mampu. Bukan karena kita membayar dia, lantas kita mengharapkan kompetensi/totalitasnya dia semata. Sekali lagi, ini masalah kompetensi.

Amateur itu dari bahasa prancis, yaitu amo. Artinya, semacam ‘to love’. Seseorang yang melakukan sesuatu karena dia memang suka melakukannya. Karena kecintaannya, bukan karena kemampuannya.

Bisa saja seseorang itu amatir sekaligus profesional. Dia melakukan pekerjaannya tersebut karena dia suka, sekaligus karena dia memang bisa memberikan hasil pekerjaan yang terbaik. Tentu saja kalau dia suka, maka dia bisa memberikan hasil yang best of the best

Pengulangan Hal-Hal yang (Sangat) Mendasar

Kita harus belajar dari para pesepakbola profesional. Mereka itu sudah jago mengoper dan menendang bola. Apa yang dia lakukan saat latihan? Oper dan tendang bola lagi. Mereka sangat jago pada hal-hal yang sangat mendasar. Karena kuncinya adalah proses pengulangan itu sendiri.

Misalnya profesi penulis. Hal apa yang paling mendasar dari penulis? Ya menulis. Meski sudah sedemikian ahli sekalipun, penulis profesional bahkan tetap menulis untuk hal-hal yang sekiranya remeh. Penulis seperti Pandji bisa menulis panjang di blognya sendiri, saya yakin karena beliau tetap mempertahankan aktivitas menulis yang mungkin remeh atau dipandang sebelah mata (misal: menulis diary) oleh orang lain.

Beberapa blogger yang saya ketahui mendapat penghidupan dari untaian kata-kata yang ditulisnya, tidak melulu menulis hanya untuk memastikan asap dapur tetap mengepul. Tetapi juga menulis terpisah sebagai sebuah latihan rutin. Misalnya, mereka menulis di diary sendiri. Setidaknya, proses ini adalah bagian dari kontemplasi diri. Mengenal diri sendiri itu penting, lho.

Sukses dan Pengorbanan

Profesional dan sukses perlu pengorbanan yang tidak sedikit.

Lionel Messi masih sangat belia kala harus meninggalkan kampung halamannya menuju La Masia di Barcelona.

Cristiano Ronaldo diejek habis-habisan oleh teman-teman barunya kala pertama kali merantau. Karena logat Portugal-nya adalah logat kampung. Kuno, tradisional, dan tidak modern adalah cap-cap yang melekat pada dirinya.

Jangan takut untuk berkorban. Yang berkorban saja belum tentu sukses. Apalagi yang tidak berkorban. Ingat kembali bahwa hidup ini cuma sekali. Jangan sia-siakan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, hanya karena kita malas berkorban. Bagi saya, dan orang-orang yang bertanya kepada saya, selalu saya ingatkan bahwasanya:

Berkorban adalah salah satu wujud syukur kita kepada Tuhan YME.

10 Bulan Sejak Rilis AADC?2


Sudah 10 bulan sejak AADC 2 dirilis. Dan saya masih terlalu takut untuk menonton AADC?2. Sebab saya terlalu takut untuk kecewa. Karena segala tentang film ini sudah melekat di benak dan perasaan saya. Mulai dari karakter Rangga yang cuek, introvert, tapi tetap cool. Owh jadi cowok keren di mata cewek-cewek itu begitu tho. Sampai dengan dialog-dialog yang tidak terlupakan.

Basi! madingnya udah siap terbit!”

atau,

“Barusan saya ngelempar pulpen ke orang gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya gak mau itu pulpen balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu.”

atau,

Salah gw? Salah temen-temen gw?

Yang saya rasakan, adalah brand AADC? itu seperti itu, dan sudah seharusnya tetap seperti itu. Saya tidak mau brand ini berubah menjadi sesuatu yang berbeda, atau tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Jadi, saya sangat berkeberatan untuk menonton film ini, apalagi sampai menerima ajakan teman-teman. Lebih baik saya menutup mata dan telinga dari segala pembicaraan tentang AADC? Apalagi review-review tentang film AADC 2.

Oke, mungkin saya berlebihan. Lebih baik kita lanjutkan saja tulisannya.

Arti AADC? yang Sesungguhnya

Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan remaja-remaja generasi saya. Dulu, kami kelas 3 SMP sewaktu film tersebut rilis perdana di bioskop. Emosi kami betul-betul teraduk-aduk akibat film tersebut. Produser dan Sutradaranya betul-betul memahami gejolak perasaan anak-anak muda Indonesia saat itu.

Masalah yang seberat-beratnya masa SMA saat itu mungkin adalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri (seperti Cinta vs Rangga sebelum saling mengenal), atau mungkin kompetisi untuk menjadi yang paling eksis di sekolah –salah satunya melalui status sangat terhormat sebagai anak paskibraka, misalnya–, dst.

Mudahnya, film ini adalah “kita” banget. Namun demikian, mari lompat sedikit tentang situasi dan kondisi di seputar rilisnya brand film ini.

Lingkungan industri perfilman Indonesia saat itu memang sedang lesu pula. Film yang dirilis lebih banyak bertemakan horor yang (anehnya?) malah menyerempet paha-dada paha-dada (ini bukan tentang ayam goreng tepung dengan sekian belas bumbu rahasia ya) perempuan demi kelarisan film itu sendiri. Which is the problem is, film-film tersebut miskin dengan alur cerita dan karakteristik para tokoh-tokoh di dalamnya. Bahkan peran yang diberikan tidak sulit dan rumit hingga tidak menantang aktor dan aktris kita untuk memainkan film-film horor yang tidak menyeramkan tersebut.

Pendek kata, film-film tersebut hanya mengejar laba dan marjin keuntungan, namun lupa untuk memberikan kesan yang mendalam. Alih-alih pesan yang bermanfaat.

Bersama dengan Petualangan Sherina (1999), AADC menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia yang mulai bangkit kembali lewat alur cerita yang berkualitas dan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. Apa yang akan terjadi apabila si mantan datang kembali ke kehidupan kita salah satu film bersejarah seperti AADC dirilis kembali?

Yang dihadapi oleh Sekuel AADC2

Tantangan besar dihadapi oleh duet maut Riri Riza dan Mira Lesmana. As a product (and as a business, too) sekuel AADC pastinya harus memuaskan existing customer. Ya itu tadi, remaja-remaja tanggung sekitar tahun 2002-an. Para “pencinta” AADC ini tentu sudah punya experience terhadap tokoh-tokoh AADC: Rangga yang pendiam tetapi tajam di setiap dialognya, Cinta yang memiliki kepribadian penuh percaya diri, serta grup remaja perempuan dengan Cinta sebagai center of attention-nya.

Pastinya, menggarap sekuel penuh dengan tantangan dari penonton yang menuntut kepuasan lebih. Kudu lebih memuaskan dari prekuel-nya. Kalau lebih jelek? Ya yang jelek itu yang lebih akan diingat sama penonton.

Nah, sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan. Wajar, setelah 14 tahun, dengan para karakter yang sekarang diperkirakan berusia 30-32 tahun. Bukan masanya lagi untuk menye-menye, atau mempertimbangkan sekolah maupun pekerjaan. Melainkan menjalani kehidupan yang mapan lewat karir bersama dengan partner hidup.

AADC 2, harus diakui, adalah film nostalgia. Deskripsi, narasi, dan musik yang dikemas sedemikian rupa untuk mengingatkan kita kembali tentang AADC itu sendiri. Mira Lesmana dan Riri Riza sadar betul bahwa mereka ingin mempersembahkan film AADC 2 ini kepada penonton AADC 1. Musik yang konsisten bersama Melly dan Anto Hoed, serta pemain inti yang nyaris tidak berganti adalah penanda itu. Eksplorasi kedekatan brand dengan existing customer ini yang menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuel ini.

Btw, pernah dengar Galih & Ratna?

Rangga & Cinta ini analog dengan Galih & Ratna. Filmnya berjudul Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada tahun 1979. Pemain utamanya adalah Rano Karno, (cagub Banten 2017) dan Yessi Gusman. Kedua karakter ini analog banget dengan Rangga & Cinta: (1)mewakili aspirasi remaja saat itu mengenai kehidupan romansa yang mereka idam-idamkan, sekaligus (2)menjadi ikon yang tersimpan erat di memori masing-masing generasi.

Soft Promotion

Sponsorship ini komponen penting untuk menambah omzet. Berat kalau hanya mengandalkan jumlah penonton di bioskop. Berikut beberapa adegan yang (menurut saya) berhasil mempromosikan brand-nya tidak secara hard selling.

  • Hape kebanting.
  • Minum air putih yang banyak.
  • Bingung dandan dengan kosmetik apa.

Yang (Masih) Mengganjal dari AADC?2

However, saya yang tidak ingin kehilangan sosok Rangga dan Cinta dalam benak dan kalbu (halah!) pada akhirnya ‘memaksakan’ diri saya untuk tetap menyaksikan film tersebut. Meski bukan di layar lebar, melainkan di layar televisi. Dan saya sangat mengagumi eksekusi pembuatan film ini. Namun, bagaimana pun juga ada jiwa sastrawan abal-abal yang menggelora dan menggelegak ingin mengkritik film ini.

Karakter Trian, kurang kuat diceritakan dalam film ini. Siapa sih Trian itu, yang berhasil ‘masuk’ ke dalam kehidupan Cinta, menjalin hubungan dengan Cinta, bahkan telah bertunangan dengan Cinta? Apa perbedaan sekaligus kelebihan karakter ini sehingga bisa membuat Cinta ‘melupakan’ Rangga? Si Trian ini kurang banyak dieksplorasinya.

Memang sih, pada akhirnya, semua sesuai dengan ekspektasi existing customer: Cinta kembali pada Rangga.

Tentu saja Cinta mengernyitkan dahi kita semua (mungkin saya aja, sih) dong bila dia meninggalkan Trian yang mapan, sang pengusaha muda dengan masa depan cerah. Trian yang tajir, gak suka seni, dan enggak puitis seperti Rangga. Memangnya puisi bisa dimakan? Makan tuh puisi! 😀 

Di sisi Cinta, tentulah karakter ini seharusnya mengalami konflik wanita modern. Cinta bukan lagi anak SMA. Dia adalah wanita dewasa usia 30-an awal yang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aspirasinya adalah berkontribusi terhadap bidang yang digelutinya, yaitu seni. Apalagi pekerjaannya selaku pemilik galeri seni udah menunjang banget. Duit dapat, passion juga dapat kalau kata anak sekarang.

Dalam dimensi lain kehidupannya, dia juga sudah bertunangan. Bayangkan kalau sudah bayar uang muka ke beberapa vendor pernikahan? Udah icip-icip menu prasmanan di beberapa pernikahan yang ditunjuk sama vendor? Apalagi kalau sudah kirim-mengirim undangan ke banyak teman, kolega, dan sanak-saudara? Terus pertunangannya batal? Anak-anak (dan orang tuanya) zaman sekarang mungkin akan berpikir seperti,

“Apa kata dunia?”

Ini yang saya gak suka dari jadi mantan. Harus mengirim undangan ke mantan. Daripada jadi mantan, lebih baik kita jadi alumni aja deh. Siapa yang tahu kalau kita bisa reuni.

Sebagai sebuah brand (yang seharusnya memang memprioritaskan existing customer, instead of new customers), saya kira AADC2 tidak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya. Di poin ini, produser dan sutradara sudah sangat berhasil. Apalagi brand ini berhasil mendatangkan banyak sponsor dari brand-brand ternama.

Bagaimana dengan new customer?

Ternyata, film ini juga berhasil menggaet para penggemar AADC yang baru.

Customer yang menyaksikan film ini tidak sepenuhnya yang 14 tahun lalu adalah remaja-remaja tanggung. Tidak sedikit para penonton yang baru. Ada juga yang saat ini sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, kira-kira usia pertengahan 40-an, yang turut menjadi saksi sejarah romantisme Cinta dan Rangga.

======

related post:

referensi:

Tentang Maaf Memaafkan; Belajar dari ZaWa


Keduanya sama-sama ganteng. Masing-masing punya fans tersendiri. Ibarat penggemar musik, mungkin ada fans yang suka dua atau lebih sekaligus. Tapi tentu saja hanya ada satu musisi/band yang selalu di hati.

Zakki itu gempal. Tampak lebih besar dengan pipi yang chubby. Gondrong sedikit, maka rambutnya akan terlihat seperti gelandang pencetak gol terbanyak Chelsea sepanjang masa: Frank Lampard.

Zakki itu ganteng dan kalem. Hatinya selembut gula-gula kapas, Lumayan gampang berkaca-kaca bila dimarahi atau diingatkan.

Zakki itu gak mudah menyerah. Beliau bisa mengucapkan hingga belasan kali kalimat seperti “Pa’, ndong nana..” (papa gendong ke sana). Pertanda bahwa beliau tidak berhenti sampai keinginannya terwujud. Padahal siapapun yang menggendong pasti rasanya sama saja kan.

Wakif punya wajah yang lebih cekung. Dengan tinggi badan semampai.

Wakif. Kukuh berlapis baja, selalu ceria, imajinatif, ekspresif, tapi kurang peka. Apabila dimarahi malah cengengesan. Jarang nangis beneran (catat ya, nangis beneran. Jadi kalau sok-sokan nangis sih seriiing). Kalau kata teteh, “loba gaya teuing”.

Siapa teteh? Tidak lain tidak bukan adalah perempuan teguh dengan pengalaman hidup puluhan tahun yang menempa keuletan bekerja dan menguji ketulusan hatinya. Tidak hanya mengurus dan membesarkan darah dagingnya sendiri, melainkan juga beberapa anak-anak manusia lain yang kekurangan kasih sayang dan belaian hangat dari seorang Ibu.

Imajinatif dan ekspresinya WKF terlihat dari caranya berlari. Dengan sebelah kaki, kiri kalau tidak salah, diangkat hingga setinggi paha. Padahal kaki kanan diangkat seperlunya saja. Dengan tangan yang bergerak ke samping secara berlebihan. Keceriaanya selalu mengundang orang lain untuk memperhatikan. Artis ibukota satu ini selalu ingin semua pandangan tertuju kepadanya. Halah.

Kalau di kota asal saya, orang seperti Wakif ini bisa disebut mucil. Sebuah kosa kata dari tempatnya “pasar terapung”. Artinya kira-kira semacam gak jera-jera, atau bandel. Dengan istilah lain, pas diberikan untuk mereka yang tidak bisa diberi tahu. Tapi bisa diberi tempe #garing ah!

https://undas.co/2015/08/12-ungkapan-khas-orang-samarinda/

Kala memasuki dunia fana ini beberapa puluh purnama lalu, keduanya hanya berselang tidak sampai lima menit. Bila menemukan teman adalah perjuangan, keduanya tidak perlu berusaha barang sedikit. Sudah ada dengan sendirinya. Berbaring bersama di satu bantal kepala yang sama.

Lihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain.

Tidak jarang ada yang duluan mengasari. Misalnya, merebut paksa apa-apa yang sudah dipegang oleh “tetangga sebelah”. Lucunya, yang merebut kemudian pergi dan berlari. Satunya tidak tinggal diam. Dia akan mengejar hingga dapat, lalu membalas perlakuan yang baru saja diterima.

Tidak lama kemudian keduanya kembali berpelukan dan berangkulan. Apalagi kalau sudah dibilang, “disayang..disayang..”.

Another example. “nana..nana..” sana..sana.., maksudnya. Kalau salah satu pihak cemburu dan ingin mengusir “musuh perang” yang satunya, itulah ungkapan khas yang biasa diungkapkan. Tidak hanya sekedar ucapan, melainkan disertai dengan tangan yang mendorong-dorong.

Sudah sifat manusia memperebutkan sesuatu yang scarce (langka). Ibu yang hanya ada satu, diperebutkan oleh dua manusia sekaligus. Alhasil sang Ibu harus menggendong dua sekaligus. Tentu saja, satu di kanan, yang satunya di kiri. Sama-sama dapat apa yang diinginkan, lalu keduanya diam.

Homo Ludens

Istilah ini dirilis oleh Johan Huizinga. Seorang professor, merangkap teoritisi budaya, menyambi pula sebagai sejarawan Belanda. Tahun 1938 beliau pertama kali menyampaikan ungkapan tersebut.

Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Dalam diri anak Adam dan Hawa, tersimpan hasrat bermain yang tidak terkira. Bahkan tidak mengenal pengelompokan usia, perbedaan jenis kelamin, bahkan lingkungan sosial dan budaya. Pokoknya main, main, dan selalu bermain!

Sebab itu kosakata “main” adalah yang paling banyak digunakan dalam obrolan warung kopi maupun diskusi berat antar pengusaha. Sebab pekerjaan mengusahakan sebisa mungkin, dalam aktivitas detilnya adalah membeli dan menjual, selayaknya adalah sebuah permainan. Dipikirkan secara serius, diupayakan dengan seksama, namun hasil belum tentu sama. Ada faktor keberuntungan yang turut bermain. Karena pasar tidak selalu berlaku sesuai prediksi. Kadang untung, kadang rugi. Alhamdulillah bisnis yang baik akumulasi untung lebih besar daripada penjumlahan rugi. Maka dari itu lebih pantas disebut “bermain” di bisnis/produk apa.

Zakki dan Wakif punya hobi yang sama. Keduanya suka menghibur diri dengan menonton kartun di Youtube. Tema besarnya adalah nursery rhymes. Baru sekedar menonton, belum mau bersenandung menirukan yang ditonton. Paling sebatas permintaan semisal “yayo yayo” untuk lagu “old mcdonald had a farm”. Atau “reyn reyn” sebagai sebutan “rain rain go away”. Mereka ini berlaku serius, belajar berbahasa asing dari negara yang mengaku tidak pernah mengalami matahari terbenam.

Benar kata pepatah bahwa rumput sebelah memang selalu hijau. Tak jarang, mengintip “tetangga” selalu dilakukan. Sambil membandingkan atraksi yang tampil di layar kaca device sendiri, dengan device sebelah. Ya namanya kehidupan “bertetangga” ‘kan. Banyak mirip dengan “Tetangga Masa Gitu” banget lho. Menjaga perasaan, tapi kok “tetangga” sebelah keknya keterlaluan banget. Terlewat sedikit aja, “rumput” sendiri diambil dan dibawa kabur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan “tetangga”.

There’s nothing too serious in this world.

Zakki pernah mengganggu Wakif. Demikian pula sebaliknya. Bahkan mungkin dalam batas yang tidak wajar. Namun, berkali-kali terbukti bahwa keduanya bisa kembali bersama. Tetap berinteraksi satu sama lain. Seakan-akan lupa bahwa baru saja terjadi sesuatu yang begitu menyakitkan.

Betapapun buruknya keadaan yang terjadi, selalu tersisa jiwa pemaaf dalam diri anak-anak manusia. Keikhlasan dan ketulusan mengharu biru di sanubari yang memohon maaf dan yang memberi maaf.

Keterlaluan sekali kita manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bila kita tidak memohon dan memberi maaf yang tulus ikhlas dari lubuk hati paling dalam. Sebab, bukankah Tuhan sendiri adalah Sang Pemberi Ampunan? Sudah tersebut dalam 99 ‘Asmaul Husna, yaitu satu di antaranya adalah ‘Al Ghoffar. Yaitu Maha Pengampun.

Dari Zakki dan Wakif, kita bisa mempelajari, memahami dan menyimpulkan bahwasanya anak-anak manusia itu punya sifat bawaan. Tidak selalu baik, bisa jadi sifat yang buruk. Bukan karakter yang memang diturunkan dari orang tuanya, melainkan memang dipunyai oleh sang anak manusia sejak lahir. Tugas kita adalah memberikan arahan, panduan, serta regulasi yang tepat agar mereka menjadi manusia dewasa. Memohon dan memberi maaf bila ada salah-salah kata atau perbuatan. Agar kemudian dapat dilanjutkan kembali “permainan-permainan”-nya.

Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru


Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Gen Z: Analog Dunia Digital dan Internet


Salah satu referensi yang menjelaskan tentang generasi X, Y, dan Z adalah Don Tapscott dengan buku Grown Up Digital-nya.

Digital.

Sejak lahir sudah berinteraksi dengan dunia digital. Zakki Wakif sudah biasa menggunakan jari-jemarinya untuk tap, tap, and tap di layar tablet orang tuanya. Kala menyaksikan visualisasi digital tersebut, telinganya juga turut bekerja menyimak musik dan vokal yang mengalun dari device tersebut. Lirik yang didengar bukan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah tempat tinggal. Sebab nursery rhymes berbahasa Inggris, saya yakin sedikit demi sedikit itulah bahasa yang akan dikuasai oleh generasi Z.

Saya kira bukan salah generasi Z kalau mereka disebut generasi instant oleh generasi-generasi sebelumnya. Digital itu ya memang instant. Dahulu foto baru bisa dinikmati kalau sudah dicuci dan dicetak (thanks to teknologi cuci cetak!). Sekarang sudah bisa dinikmati langsung dari device-nya. Berkirim surat via email sangat-sangat cepat dibanding dengan berkirim surat via pak pos.

Dalam bayangan saya, bisa jadi generasi Z terkaget-kaget begitu diajak menanam padi. Mereka tahu bahwa nasi yang mereka makan itu berasal dari padi. Tapi padi tidak tumbuh secara instan. Bukan sekarang ditanam lantas 2 jam lagi bisa dimakan. Padi harus dicermati pupuknya, pengairannya, dsb. Puncak kekagetan mereka nanti, manakala setelah menunggu 3-4 bulan, adalah bahwa panen belum tentu berhasil. Cuaca menjadi faktor yang tidak bisa di-trouble shoot-kan. Panen bisa gagal karena terlalu banyak hujan atau kemarau terlalu panjang.

Menarik bila memperhatikan kategorisasi oleh Marc Prensky menjadi dua, yaitu digital native dan digital immigrant.

Generasi X dan Y komplain ketika Gen Z mengabaikan lingkungan sosialnya. Terlampau acuh pada gadget masing-masing. Kita –saya masih termasuk Gen Y yang belum sepenuhnya digital — menyebut mereka cuek. Padahal — secara objektif — kita adalah para pendatang di dunia digital ini. Kita masih memisahkan mana yang digital dan tidak digital. Justru Gen Z, yang sejak lahir sudah paham men-tap di touch screen, adalah penduduk asli dunia digital (dan internet).

Global.

Bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia tersebut, menjadi jembatan bagi generasi Z untuk bergaul ke seluruh dunia. Sebagian besar materi di web dan aplikasi masih berbahasa dari negeri yang memproklamirkan “the empire that sun never sets” (kerajaan yang mataharinya tidak pernah tenggelam)Untuk travelling, bertempat tinggal, bekerja atau kuliah di luar negeri. Referensi generasi ini tidak lagi nasional, apalagi lokal. Melainkan tingkat dunia/global dijadikan rujukan oleh mereka.

Sebab global itulah, generasi Z ini concern terhadap isu-isu kemanusiaan maupun lingkungan. Kebakaran hutan, penggunaan plastik yang berlebihan adalah contoh-contoh isu lingkungan yang mereka pedulikan. Bisa dinyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungannya relatif lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Sharing.

Generasi Z tanpa sadar belajar konsep freemium (free + premium) dari internet. Untuk penggunaan yang masih sedikit, mari kita membagikannya dan menggunakannya secara gratis. Kalau penggunaan mulai meningkat, barulah kita mulai membayar. Contoh: berbagai fitur dari google digunakan karena sifatnya yang gratis. Bila perlu lebih kapasitas email yang lebih besar misalnya, baru membeli dari Google. Dari sini generasi Z mulai belajar untuk berbagi (sharing). Teman-teman di komunitas nebengers mulai memfasilitasi generasi yang free ride, atau share bentol (bensin dan biaya tol), atau bergantian menyetir, dst.

Sharing itu sebentuk kolaborasi, sebenarnya. Ini sifat lain Gen Z. Lebih mudah bekerja sama bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Segala sesuatu dikerjakan bareng-bareng. Lebih asyik (fun), katanya yang penting tujuannya tercapai. Ya namanya kolaboratif kan memang begitu. Saling menambahkan, saling memperkuat. Ibarat program atau aplikasi yang menuntut perbaikan terus-menerus, maka inovasi lebih mudah dikerjakan bila berkolaborasi.

Sisi lain dari sharing dan kolaborasi ini adalah bahwa peers (rekan/teman) memiliki influence yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Gen Z tidak salah; itu adalah bentukan dari lingkungan digital yang serba terkoneksi lewat internet. Tetap perlu kita kendalikan. Harus diingatkan bahwa ada orang-orang yang lebih tua (termasuk orang tua mereka sendiri) yang perlu dihormati dengan cara-cara yang agak lama, kuno, atau tradisional.

Di sisi lain generasi kita perlu memaklumi, memahami, dan bila perlu mengikuti pola komunikasi yang mereka lakukan. Saat ini, eyang putri (yangti)-nya ZaWA sudah menggunakan WhatsApp. Saya tidak akan kaget suatu waktu nanti bila ZaWa mengirim chat kepada Yangti-nya yang berada di kamar sebelah. Bahwa sudah dinner sudah tersedia di meja makan dan let’s have a dine. Mengapa? Saat ini hal semacam itu sudah lumrah terjadi di Jakarta, kok 🙂

Update

Gaul itu cool (keren). Banyak tahu (dari membaca atau mendengar), atau banyak teman itu gaul banget. Jadi banyak tahu, dan di mata orang-orang lain jadi terlihat keren banget.

Namun semakin ke sini menjadi pribadi yang update itu semakin susah. Kita dan generasi-generasi berikutnya, termasuk generasi Z, harus memilih ceruk (niche) kita masing-masing. Supaya tetap relevan. Tidak bisa kita memilih untuk tahu, bisa, dan fokus di semua niche. Hasilnya, update itu merentang luas — dan semakin sulit untuk mendapat predikat tersebut. Dari sekedar update aja, sampai update banget. Muncul juga istilah kudet (kurang apdet).

Perkembangan informasi ini memang cepat sekali. Semua orang menjadi jurnalis dan bisa menyampaikan berita secara cepat. Namun, tidak semua orang bisa fokus di banyak media. Apalagi di banyak social media. Makanya ada yang aktif banget nge-tweet, ada juga yang password facebook-nya saja dia lupa. Sampai last login-nya saja sudah bertahun-tahun yang lalu.

Bagi generasi Z, terlalu lama kalau mau meriset dahulu. Padahal informasi harus disampaikan secepatnya (menurut mereka). Akibatnya, berbalas komentar lebih cepat dibanding membaca dan menganalisis data.

Akhirnya mereka yang update bisa menjadi key opinion leader (KOL). Bisa karena duluan tahu, atau memang expert di niche tersebut alias kepakarannya tidak diragukan lagi. Sehingga para KOL ini memiliki friend/follower yang luar biasa banyak. Bisa menimbulkan kecemburuan juga. Gen Z mengamati bahwa punya follower banyak itu keren (dan sebenarnya membuat ketagihan!). Berambisi memiliki follower banyak tentu tidak salah, namun menjadi salah apabila follower yang sedikit menjadi sumber datangnya rasa frustrasi.

Beberapa yang perlu kita perhatikan, awasi, kendalikan, dan beri arahan yang tepat terkait dengan Gen Z:

  • Kolaborasi itu bagus dan penting. Semakin relevan untuk masa depan kita. Partisipasi atau kontribusi seseorang harus kita hargai juga. Dalam bentuk daftar pustaka, catatan kaki, dan sebagainya. Dengan kata lain, hindari plagiarisme.
  • Ingatkan pula bahwa adakalanya pengukuran kinerja dilakukan secara individual. Apakah itu ujian di bangku sekolah/kuliah, maupun penilaian kinerja di kantor.
  • Gen Z sangat memperhatikan desain dan bagaimana suatu produk digunakan. User Interface/User Experience (UI/UX). Generasi kita mungkin yang terbaik dalam membuat sesuatu. Namun, gen Z sangat paham bagaimana mengoptimalkan suatu produk demi kemaslahatan umat di dunia.
  • Ada hak orang lain kala berinteraksi/mem-follow/berteman di social media. Ada ruang publik di sana. Bukan social media semau guwe. Disarankan tidak sembarang curhat. Lebih baik materi curhat tersebut dikonversi ke konten yang lebih baik dan memberi manfaat untuk semua.
  • Penegasan dari yang sudah tertulis: tidak perlu frustrasi bila follower kamu masih sedikit. Jumlah follower tidak perlu dianggap sebagai ‘segala-galanya’.

Mau Tinggal dan Bekerja di Mana?


Saya lahir dan besar di Balikpapan, sebuah kota di Kalimantan. Sampai kira-kira SMP saya masih bertempat tinggal di sana. Sebagai seorang anak Bugis, saya harus merantau. Bukan karena tuntutan dari orang tua atau yang lainnya, melainkan memang datang dari dalam diri saya sendiri.

Sebagai anak Balikpapan yang jarang ke kota-kota lain di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, orientasi saya hanyalah Pulau Jawa. Konon, Jawa adalah Koentji.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Ini quote yang manusiawi banget ternyata. Bahkan sudah terlihat di prime customer kami, Zakki dan Wakif. Zakki selalu mau apa yang dimakan Wakif, demikian pula sebaliknya. Kalau lagi menonton nursery rhymes di masing-masing tablet, yang satu sesekali mengintip tontonan ke ‘tetangga sebelah’. Ya padahal sama-sama nursery rhymes juga. Wakif sukanya Ba Ba Black Sheep Have You Any Wool? Zakki senangnya One Littler Finger. Tentang ZaWa, hanya selingan saja ya.

Balik lagi ke “the grass is always greener on the other side”. Ceritanya Jawa sebagai pusat peradaban (pendidikan, ekonomi, dsb) selalu mengundang terjadinya urbanisasi. Termasuk pada saya. Saya lihat ‘rumput’ di Pulau Jawa selalu lebih hijau daripada di Kalimantan. Saya pikir, saya harus coba tinggal di Jawa untuk memastikan kebenaran quote tersebut. Lebay, memang. Hehehe.

Saya ini pernah tinggal di beberapa kota di Pulau Jawa. Literally, benar-benar tinggal ya. Bukan sekedar travelling menginap beberapa malam, apalagi hanya sekedar numpang lewat.

Magelang. Saya tahu persis ‘atmosfer’-nya karena dulu saya SMA di kabupaten ini. Kota dan kabupaten ini nyaman banget untuk para pensiunan. Namun bukan berarti tidak bisa tinggal dan bekerja di kota ini. Akses internet yang semakin memadai, memberikan kita kesempatan. Saya sebut kesempatan karena tidak semua orang melihat atau mengambilnya. Sebagai contoh adalah Agus Magelangan, dedengkot mojok.co bisa termasyhur demikian meski tinggal di Magelang.

Jadi dengan internet, sesungguhnya kita bisa tinggal dan bekerja di mana saja. Tergantung kota mana yang kita suka. Atau karena dengan internet, kita bisa menyesuaikan diri dengan keluarga soal tempat tinggal. Memang tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan freelance atau part time, namun internet bisa menjadi sumber penghasilan, kok.

Setelah saya berkeluarga, mindset saya tentang home kemudian bergeser. Tadinya home adalah tempat kita tidur dan beraktivitas. Sekarang home is where my wife and children are

Bandung. Iya, kulinernya enak-enak banget. Orang-orang Bandung memang kreatif. Orang-orang bandung juga suka berkumpul. Banyak komunitas ada di kota ini. Belajar agama juga ada komunitas-komunitas kecil. Halaqoh, namanya. Belajar dari pengajian umum juga ok. Ada ustadz-ustadz seperti Aa’ Gym, atau Aam Amiruddin. Kotanya juga relatif tidak panas. Tidak bisa disebut dingin lagi. Kecuali mungkin sekitar 15 tahun lalu. Sebab Bandung adalah kota yang dirancang untuk kapasitas 2 juta-an penduduk. Sekarang sudah padat sekali kotanya. Kepadatan ini juga yang jadi sumber masalah, soalnya.

Jakarta. Kecuali karirmu bagus, rasanya sudah terlambat untuk memasuki Jakarta. Kalau mau hidup anak dan istri ‘sehat’, mungkin saran yang masuk akal adalah LDM (long distance marriage) atau PJKA (pulang jumat kembali ahad). Yang pertama berarti ketemu anak dan istri hanya pada saat weekend. Yang kedua tidak lebih baik daripada yang pertama. Maaf ya sarannya mungkin tidak betul-betul nyaman.

Sebab tinggal di sekitar Jakarta, yaitu Bodetabek, tidak semudah dulu. Kecuali kita memang beraktivitas di sekitar tempat tinggal. Kalau kita kerja di pusat kota, terutama segitiga emas, ada banyak penderitaan yang harus dilalui. Soal kemacetan, misalnya. Tinggal di Bekasi, naik mobil ke Jalan MH Thamrin? Berangkat dari rumah jam 5 pagi. Teman di Depok kantornya di MH Thamrin, pergi jam 5.30 bersama istrinya yang bekerja di jalan Percetakan Negara.

Waktu saya masih jomblo Rawamangun dulu, saya cari kost yang relatif dekat dari kantor. Dekat banget hingga saya hanya perlu jalan kaki ke kantor. Alhamdulillah tidak harus memakai kendaraan sendiri kalau ke klien. Ada mobil kantor yang sudah ada sopirnya. Tinggal duduk nyaman dan memikirkan pekerjaan. Bukan memikirkan macet.

Surabaya. Pusat dari gerakan ekonomi Gerbangkertasusila. Gresik Jombang Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan. Meski tinggalnya di Surabaya, namun sesungguhnya garapan ekonominya cukup luas. Karena koneksi antar kotanya cukup baik (relatif datar dan menggunakan tol). Berbeda dengan Bandung yang seakan jauh kalau mau ke mana-mana: Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Garut, dll. Terasa jauh karena jalan raya mengikuti konturnya yang perbukitan.

Surabaya kota yang panas? Heellloooouuuuuuwwwwww. Rasanya cuma ada sedikit kota di Indonesia yang tidak panas. Mau di manapun, panas seharusnya bukan lagi isu. Itu tadi, karena hanya sedikit yang dingin: Bandung, Malang, dan Enrekang. Yang terakhir ini saya belum pernah ke sana.

Balikpapan. Kotanya bersih. Penduduknya tidak terlalu padat. Balikpapan adalah hutan yang dibuat menjadi kota. Bukan kota yang dipaksa untuk memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 20%-30%. Rekan saya (mereka suami istri) bahkan ingin saja tinggal di Balikpapan. Pendapat ini mereka lontarkan tatkala si suami bekerja di Samarinda. Istrinya sudah menetap di Bekasi, ketika itu. Kata mereka, Balikpapan bahkan lebih enak daripada Samarinda. Sayangnya, periuk nasi mereka ya di Samarinda itu. Sebab untuk banyak perusahaan farmasi maupun consumer goods, sebagian besar basisnya memang di Samarinda. Kini si teman sudah ‘dikembalikan’ ke Jakarta.

Ini pengalaman empiris saya yang belum saya riset benar-benar. Semenjak gelombang PHK dan menurunnya perekonomian karena turunnya harga minyak dan batu bara, warga di sini saya perhatikan mulai aware (sadar) untuk membuka dan memiliki penghasilan dari sumber yang lain. Utamanya dari berdagang. Ada yang membuka toko online, ada juga yang membuka kuliner.

Rekan-rekan UKM ada juga beberapa yang menutup usaha kulinernya. Padahal baru sekitar 6 bulan sejak dibuka. Masih dalam proses belajar, sih. Jadi sebelum benar-benar kehabisan uang kontan, lebih baik ditutup saja usaha kulinernya. Kira-kira demikian pikir mereka. Tidak heran karena variasi menunya masih belum beragam. Sehingga sang usaha sulit untuk bertahan hidup. Tapi perjuangan sesungguhnya belum usai.

Ada lagi alternatif lain untuk tinggal dan bekerja.

Pilihlah kota-kota yang memiliki basis perusahaan yang kuat — dan bekerjalah di sana. Misalnya, tinggal di Bontang dan bekerja di Pupuk Kaltim atau PT Badak. Atau tinggal di Gresik dan bekerja di kantor pusat Semen Gresik (sekarang namanya Semen Indonesia). FYI, perusahaan sebesar PT. Semen Indonesia pun hanya memiliki representative office di Jakarta. CMIIW. Jadi banyak fungsi masih di-handle oleh orang-orang di Gresik. Bahkan untuk distribusi semen di Jabodetabek bisa diserahkan kepada distributor mereka. Ya memang tipe bisnisnya memungkinkan mereka melakukan itu, sih. Kalau kota-kota di Kalimantan kan biasanya mengandalkan kelapa sawit atau energi (minyak bumi atau batu bara).

Karena kampung halaman selalu seru.

Belum lama ini saya bergabung dengan WhatsApp Group teman-teman sekolah dulu. Iya, Balikpapan rasanya sempit sekali waktu itu karena kami TK, SD, dan SMP selalu dengan teman-teman yang itu-itu saja. Terungkaplah berbagai peristiwa lawas yang terjadi manakala saya sudah merantau ke Jawa. Mungkin mereka bukan teman SMA saya, bagaimana pun, mereka pernah dan selalu menjadi bagian dari hidup saya. Meski kami tidak lagi sekanak-kanak dahulu, banyak juga yang sudah berkeluarga, namun seru-serunya masih sama.

Pulang ke rumah juga sama. Saya ini bahkan seringkali belum pernah pergi ke tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata banyak orang manakala mereka pergi ke Balikpapan. Misalnya, Penangkaran Buaya di Teritip. Sesungguhnya, kotanya juga berkembang. Pesat, bahkan. Namun dalam persepsi, seakan kampung halaman memang dan masih seperti itu. Memang masih kampung halaman yang selalu seru.

Related Post:

Freelance Marketing


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan kepada pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

Related Post:

10 Cara Meningkatkan Penjualan Lewat Manajemen Penjualan Yang Lebih Baik


Apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan penjualan? Penjualan secara keseluruhan bisa naik, bila kita memasuki pasar dengan produk yang baru. Bisa juga dengan melakukan promosi pemasaran yang lebih gencar dan masif. Apalagi kalau kita bisa memasuki wilayah penjualan yang baru.

Semuanya benar. Semuanya bisa dilakukan. Tetapi sebelum ke sana, ada beberapa taktik-taktik yang bisa kita lakukan melalui manajemen penjualan yang lebih baik. Tujuannya adalah meningkatkan omzet, hanya melalui aspek penjualan saja.

Pertama, andalkan produk cash cow.

Lakukan analisis produk cash cow dulu. Apa itu cash cow? Baiknya kita pelajari dulu konsepnya dari BCG. Sebuah firma konsultan manajemen ternama di dunia. Secara keseluruhan, ada 4 macam isi dari growth-share matrix mereka: cash cow, star, question mark, dan dog.

“Cash Cow” adalah pangsa pasar tertinggi, dengan growth sudah stagnan. Tapi kita mendapat cash yang sangat banyak dari produk berkategori ini. Artinya berat untuk melakukan investasi tambahan, karena kita belum yakin apakah pasarnya masih bisa tumbuh lebih besar.

Kalau pangsa tinggi, dan masih grow, namanya “star” (karena dia “bintang” di antara produk-produk yang lain). Jadi kita tanamkan investasi secara bertahap juga pasti akan aman.

Pangsa rendah, tapi masih tumbuh, punya nama “question mark”. Karena kita saat ini bertanya-tanya apakah pangsanya akan membesar atau pertumbuhannya akan stagnan. Kita mungkin saja berusaha keras di sana, tho pasarnya masih tumbuh. Tetapi mungkin juga kita tidak perlu repot berinvestasi di sana, karena pangsa kita masih rendah. Jadi memang sebelum berusaha keras dan berinvestasi, perlu dihitung secara cermat apakah worth it atau tidak.

Satu lagi adalah “dog”. Sudah pangsanya rendah, dan sulit tumbuh. Bisa jadi, mematikan produk/kategori ini adalah lebih baik. Masih sedikit menguntungkan dan memberi kas tambahan apabila ada perusahaan lain yang mau membeli produk/kategori ini.

Matriks ini bernama Growth-Share Matrix.

Ada pertanyaan, ini kan produk. Bagaimana dengan proyek? Atau servis? Tidak ada cara lain, sih. Perbanyak dan perkuat dulu tim penjualan. Menangkan tender.

Related Post: Jualan Produk atau Jualan Proyek

Kedua, menaikkan marjin penjualan.

Ada beberapa cara. Pertama adalah menekan biaya pembelian. Ada beberapa cara untuk menekan biaya pembelian ini:

  • Beli saat murah (lagi diskon). Bisa stok barang/bahan baku. Supaya punya stok, milikilah gudang. Bisa sewa atau beli gudang. Supaya mendapat harga murah, belilah ketika supplier sedang memberikan diskon.
  • Naikkan harga jualnya. Ini sudah jelas menaikkan omzet, dan mempertebal marjin penjualan. Sebelum menaikkan harga jual, ada beberapa analisis yang harus kita lakukan. Dan keputusan tersebut, bergantung pada tiga kriteria berikut ini.

Ada tiga kriteria untuk mengetahui kemudahan menaikkan harga jual.

  • Kompetitor memang/makin sedikit
  • Penyedia barang memang/makin sedikit
  • Barang substitusi memang/makin sedikit

Ketiga, mempercepat perputaran transaksi.

Perputaran adalah leverage. Alias pengungkit terhadap modal yang kita miliki. Sebagai contoh. Modal usaha kuliner sebesar Rp10juta, bisa menghasilkan omzet beberapa kali lipat dibandingkan dengan modal usaha fesyen yang sama-sama sebesar Rp10juta. Berikut adalah beberapa cara mempercepat perputaran bisnis:

  • Promosikan bahwa persediaan terbatas (limited supply).
  • Jual lebih murah daripada kompetitor. Kita harus mempunyai keunggulan supply chain di sini. Apakah itu pemasok kita yang lebih efisien, atau penguasaan kita terhadap sumber bahan baku.

Indomie sukses menguasai pasar mie instant selama puluhan tahun karena hanya mereka yang memiliki akses ke terigu paling murah. Mungkin ada kompetitor yang bisa membuat mie instant, tapi mereka mengurungkan niat karena jumlahnya belum bisa sebanyak Indomie saat itu, harganya juga belum bisa lebih rendah daripada saat itu.

Makanya, brand Mie Sedaaap baru masuk ke pasar sekitar tahun 2004. Karena baru pasca reformasi lah mereka berhasil menemukan supply terigu dalam jumlah dan kuantitas yang memungkinkan mereka memasuki dan merebut pasar mie instant.

  • Jual ke orang yang sama. Eksposur, promosi, dan penjualan ke orang-orang yang pertama kali mau membeli ke kita, sesungguhnya memiliki biaya lebih tinggi daripada menjual ke orang yang sudah pernah membeli.

Bedanya di mana? Di eksposur dan promosi. Eksposur membuat konsumen tahu “ooh ada brand ini”. Alias awareness terhadap brand tersebut sudah meningkat. Promosi membuat konsumen tahu “ooh brand ini lebih xxxx daripada brand yang lain”.

Pembeli yang melakukan RO (repeat order) sudah mengalami proses eksposur dan promosi oleh brand. Ada dua cara.

  • Buat member of customer. Bikin komunitas juga bisa. Enggak heran, brand Tupperware sukses berat yak. Mereka menjual via komunitas. Yang sudah membeli, tidak enak untuk membeli (lagi) dari temannya. Padahal model atau warnanya sudah ada di rumah.
  • Dapatkan kontak pembeli. Bisa email (jadi di-follow up lewat email) atau nomor HP (broadcast via SMS, misalnya).
  • Jual paket. Paket Super Besar KFC mungkin hanya lebih murah sekitar 7-8ribu saja dibanding membelinya secara satuan. Lagipula, dengan menjual paket, maka KFC bisa menjual nasi lebih banyak daripada menjual nasi secara satuan. Pasti ada aja orang yang makan ayam tapi gak makan nasi. KFC pun mendapatkan keuntungan lain. Yaitu nilai rupiah per transaksi semakin membesar manakala menjual secara paket.

Memang mudah mempaketkan food and beverage. Mosok customer membeli makan tetapi tidak membayar minum?

  • Nonton sepak bola, enaknya sambil makan kacang. Maka paketnya kacang kulit + softdrink. Ini permisalan saja.
  • Di warung tegal (warteg), paket lele/ayam/bebek sudah sama nasi, lele/ayam/bebek goreng, sambal, dan es teh manis.

Keempat. Selling in the Crowd.

Ada empat cara menemukan keramaian.

  • Pertama, buka outlet di jalan yang memang sudah ramai. Makanya mall Kota Kasablanka (Kokas) dibuka di jalan Casablanca Raya yang memang sudah ada beberapa mall dan perkantoran. Kuningan City, Mall Ambassador, ITC Kuningan. Dari yang sudah macet, menjadi bertambah macet. Yang baru pulang kantor berpikir, “pulang nanti saja. masih macet. mari belanja dulu.”
  • Kalau jualan online. Kedua, bayar paid traffic supaya website ramai pengunjung. Bisa facebook ads, atau google adword. Keduanya juga membuat promosi kita lebih tertarget.
  • Ketiga. Bikin keramaian sendiri. Pancing pengunjung untuk datang meramaikan outlet. Bikin status di social media, “diskon sekian persen kalau bisa bawa teman-teman kamu sekian orang”.
  • Keempat. Bikin kesan bahwa outlet restoran kamu ramai. Pasang papan “already booked” pada meja yang kosong. Kan kesannya ramai karena sudah ada yg booking. Konsumen jadi berpikir untuk kembali ke outlet kamu karena brand resto ini food, beverage, and services-nya memuaskan banget.

Judul posting ini memang ada 10 cara menaikkan penjualan. Tapi sudah 10 belum ya? Hehe… Saya belum hitung ulang. Pokoknya di atas sudah tersedia beberapa cara untuk meningkatkan omzet penjualan kamu.

Silakan diterapkan, ya.

Semoga berhasil !!!

Related Post:

Cara Mendapatkan Buku yang Bagus


Sedari pertama saya saya mengenal dan suka membaca buku, saya sering tertipu dengan judul buku. Saya kira bukunya tentang A, ternyata isinya tentang B. Padahal di Indonesia, tidak pernah ada yang namanya garansi uang kembali.

Ada buku yang judulnya –katanya– bisa membantu kita membeli properti secara tidak kontan sama sekali. Benar saja sih hal tersebut memang bisa dilakukan. Namun ternyata tidak bisa dilakukan secara berulang kali. Ada faktor keberuntungan untuk menemukan rumah dengan keadaan pembayaran seperti sudah disebutkan. Beli buku tentang properti ini biasanya dapat bonus diskon seminar. Harga seminar aslinya jutaan rupiah. Setelah diskon pun ternyata masih ratusan ribu rupiah. Selidik punya selidik, ternyata sang pembicara memang jualan seminar bukan jualan properti.

Sejak itu, saya beberapa kali gagal mendapatkan buku yang berkualitas. Antara tertipu isi dengan judul, atau isi yang kurang lengkap, atau paling parah adalah isi yang tidak menjawab kebutuhan saya yang sebenarnya. Di mana, ketertarikan SESAAT saya saja yang mendorong dan memaksa saya untuk mengambil buku tersebut dari rak toko lalu membayarnya di kasir. Toko buku ‘kan ambience-nya memang mendorong kita untuk mengambil buku sebanyak-banyaknya, sembari berambisi bahwa semuanya akan berhasil kita baca di rumah, lalu pergi ke kasir.

Seiring waktu, hingga belasan tahun sejak pertama kali saya membeli buku, kini saya merasa dan menilai diri saya, bahwasanya saya sudah mampu memilih, mendapatkan, dan memiliki buku yang benar-benar punya kualitas. Tidak mudah tertipu lagi dengan ambience toko buku, judul dan kaver buku, diskon seminar, dan tetek-bengek lainnya. Saya membeli buku karena memang saya tahu saya membutuhkan materi tersebut, dan saya tahu persis buku tersebut mampu memenuhi kebutuhan saya. Saya coba sharing sedikit di blog ini ya.

Ada dua untuk memilih dan mendapatkan buku yang berkualitas. Yaitu dengan mengenali penulisnya, serta memahami daftar isinya.

Cari Tahu Siapa Penulisnya.

Ada dua cara mengetahui apakah penulis judul tersebut, merupakan penulis yang baik.

  • Perhatikan seberapa sering dia menulis buku. Kenali apa saja bukunya. Kredibilitasnya bisa kita lihat dari seberapa konsisten tema yang dia bahas. Kalau dia bisa menulis macam-macam bukan karena dia jago di semua bidang tersebut, kemungkinan dia adalah penulis profesional.
  • Cari tahu brand dia selain lewat buku yang dia tulis. Ada dua kemungkinan mengapa dia adalah expert di bidang tersebut.
    • Beliau memang seorang pelaku di bidang tersebut. Atau,
    • Beliau adalah konsultan/trainer di bidang yang dia tulis.

Saya mengkoleksi semua buku dari Pak Frans M. Royan karena beliau adalah konsultan di bidang distribusi dan ritel. Semua bukunya tentang ritel (minimarket, wholesale, dsb) dan distribusi (cara mengelola kantor cabang, cara mengelola piutang, dst).

Para expert mungkin jago mengeksekusi, atau berbicara tentang bidangnya, tapi belum tentu dia jago menulis. Banyak di antara kita yang bisa bicara tapi tidak bisa menulis. Atau sebaliknya, bisa menulis tapi tidak bisa men-deliver speech. Beliau ini adalah salah satu yang lulus dan lolos dari seleksi alam terhadap penulis.

Penyeleksian buku untuk kita beli dan baca semakin tidak mudah. Mengapa? Sebab menulis kini semakin mudah. Ada banyak informasi digital di internet, khususnya dalam format blog, yang mudah dikutip. Namun sayangnya, cek & ricek (periksa & periksa ulang) terutama mengenai sumber kutipan kurang dilakukan secara mendalam oleh penulis dan editornya.

Untuk topik yang sama, pastinya ada beberapa judul buku dari beberapa penerbit. Lihat saja dalam ranah spiritual Islam, topik shalat dhuha dikerubuti puluhan penerbit. Lebih umum lagi yang ngetren sekarang topik bisnis ‘bermain’ saham dikerubuti begitu banyak penerbit atau soal ‘otak tengah’.

Mulai penerbit gurem (small publisher), penerbit menengah (medium publisher), dan penerbit besar turut mengeroyoki topik-topik tersebut. Mereka makin atraktif menampangkan judul-judul buku mereka masing-masing di rak-rak toko buku, terkadang satu topik dikerubuti oleh lebih dari 10 judul.

Belum lama ini saya mencari buku tentang cara menulis fiksi. Kebetulan, saya menemukan buku yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Saya lupa di mana pertama kali membaca namanya. Tapi saya ingat bahwa nama tersebut memang sejatinya adalah seorang penulis. Yang menjadi pemantik utama dalam pembelian saya atas buku tersebut adalah bahwa beliau merupakan ediotr yang sering diajak berdiskusi oleh Dewi ‘Dee’ Lestari.

Dari bukunya, saya berkesimpulan bahwa proses menulis fiksi dan non-fiksi itu sama persis. Tadinya saya pikir cara menulis fiksi itu benar-benar berbeda dari non-fiksi. Yang pertama penuh dengan imajinasi dan kata/kalimat filler (pengisi), yang kedua penuh dengan riset dan kepadatan makna. Ternyata, yang benar adalah fiksi juga sarat dengan riset dan harus ditulis dengan bernas (padat makna).

Alasan bahwa saya mengetahui kompetensi dan pengalaman penulis di bidang yang mereka geluti, juga menjadi alasan mengapa saya membeli buku Pak Bambang Trim, yang berjudul Menulispedia: Panduan Menulis untuk Mereka yang Insaf Menulis.

Untuk fiksi, ada penulis Adhitya Mulya. Jomblo, Sabtu Bersama Bapak, Traveler’s Tale, Gege Mengejar Cinta adalah novel-novel yang pernah dia tulis. Kelebihan penulis satu ini adalah karena tidak hanya menulis satu genre saja (yaitu komedi). Sabtu Bersama Bapak menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang suami dan bapak. Dari sisi kepengarangan, ada pergeseran dan penambahan peran dalam hidup beliau yang turut mempengaruhi karya-karyanya. Sepola dengan Dee yang juga menulis tentang romansa (Rectoverso), kumpulan puisi dan cerpen (Filosofi Kopi), fiksi ilmiah (Supernova).

Bandingkan Daftar Isi-nya.

Saran saya, yang paling layak dikoleksi adalah yang paling lengkap isinya (berdasar penelusuran dan perbandingan terhadap daftar isi).

Kadang-kadang ada topik tertentu yang buku-bukunya tidak perlu dikoleksi. Semisal tentang bisnis internet. Perkembangan via blog, notes facebook, webminar, dan format yang lain lebih cepat perkembangannya daripada dalam format buku. Bahkan ada buku yang terang-terangan menunjukkan cara membuka browser dari Windows. Ini kan hanya mengejar ketebalan buku saja.

Kompas pernah merilis hasil survey tahun 2010 bahwa minat membaca masyarakat di perkotaan mulai tumbuh signifikan. Ada yang unik hasil survey Kompas bahwa pembaca Indonesia tidak terlalu memedulikan ‘penerbit’ dan ‘penulis’. Saya agak berseberangan dalam hal ini. Saya kira, kualitas buku juga dipengaruhi oleh track record penerbit dan penulisnya. Berikut ini saya kutip langsung pendapat Pak Bambang Trim mengenai fenomena ini.

Nah loh, ini patut menjadi perhatian karena ‘nama besar’ penerbit bukan menjadi jaminan best seller-nya sebuah produk. Penerbit gurem atau penerbit ‘kemarin sore’ tiba-tiba bukunya mampu mencuri perhatian dan naik daun seperti ulat bulu–menggelitik rasa ingin tahu.

Penulis pun setali tiga uang. Apa pernah pembaca Indonesia menelisik para penulis yang menyusun buku tentang bisnis rumahan atau bisnis dengan modal di bawah 2 jutaan?–selidik punya selidik terkadang penulisnya sendiri pun tidak punya bisnis! Apalagi buku-buku bertema bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berbagai cara, selidik punya selidik lha penulisnya belum kaya.

Referensi:

Apa Iya Kamu Mau Menikah?


Jangan-jangan lebih menarik S2 daripada menikah?

Saya ini orangnya suka membanding-bandingkan. Bukan untuk tujuan menilai negatif pada orang lain. Sekedar hobi meriset saja. Memikirkan yang mungkin belum tentu dipikirkan oleh orang lain.

Kaitannya dengan menikah, judul di atas hanya untuk provokasi saja. Tentu saja kita semua mau menikah. Jadi bukan soal mau atau tidak mau. Bukan pula soal kapan. Ada yang sudah tahu kapan akan melangsungkan prosesi akad. Seperti saya bilang, tulisan ini bukan untuk memprovokasi supaya tidak menikah. Hampir tidak mungkin ‘kan ya. Karena saya sendiri menikah. Tapi tulisan ini soal “dengan siapa kamu akan menikah?”.

Jadi buah dari pertanyaan saya ini kadang-kadang melampaui batas juga. Saya tidak bermaksud melangkahi konsep jodoh sebagai takdir yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari itu. Melainkan jawaban dari pertanyaan ini mungkin bisa jadi rujukan untuk kamu yang mungkin belum ada calon suami/istri. Sehingga bisa merumuskan dan menetapkan kriteria-kriteria untuk calon partner hidup kamu.

Kalau sudah punya calon? Ya diteruskan dong. Disegerakan menikahnya. Apalagi ketika menikah sudah menjadi kewajiban. Yaitu sudah dewasa, sudah memiliki pendapatan sendiri (sesuai target), serta untuk menghindari fitnah dan kekejian lain yang mungkin timbul manakala belum menikah (juga).

Oke, cukup putar-putar tidak jelasnya, hehe. Mari langsung ke intinya saja.

Sejauh ini kesimpulan saya adalah bahwa pasangan calon suami istri tersebut, setidaknya memiliki kesetaraan dalam tiga hal. Yaitu (tingkat) pendidikan, (kelas) ekonomi, dan keagamaan. Saya pilih kata kesetaraan karena memang yang dihindari adalah kesenjangan (gap). Memang bisa dilakukan bridging the gap, tapi you know lha kalau semua ada batas-batas kemampuannya.

Pendidikan

Kalau tingkat pendidikan yang ditempuh tidak sama, salah satu bisa meremehkan pendapat pasangannya. Kasusnya baru terjadi ketika ada yang sarjana, dan ada yang tidak sarjana. Kalau satunya sarjana, terus yang satunya master, doktor, bahkan profesor, saya kira tidak akan terjadi. Tapi harus diakui bahwa terjadi kesenjangan lebar akibat dari proses pendidikan yang berbeda 4 tahun tersebut.

Finansial

Laki-laki itu pada dasarnya egois. Maunya menang sendiri dan menang terus. Suatu fase dalam hidupnya, misalnya, istrinya berpendapatan lebih tinggi, kemudian harga dirinya akan terusik. Namanya manusia sebagai makhluk emosional, ya bukan mencari jalan keluar supaya income-nya lebih besar, eh malah sibuk mengekspresikan gap (kesenjangan) tersebut melalui kemarahan dan kegelisahan.

 

Tentu tidak semuanya seperti itu. Ini ada contoh lain.

Yang satu, terlalu takut berinvestasi, karena merasa belum sanggup membeli rumah. Yang satunya berpikir, kita beli rumah sekarang saja, meski membebani pengeluaran, setidaknya kita sudah mengunci harga di depan. Daripada membiarkan harga rumah membumbung tinggi tidak terkejar oleh kenaikan gaji.

Masih banyak contoh-contoh lain yang berakar dari kesenjangan pola pikir terkait finansial.

Agama

Dalam Islam, kita itu ada batasnya mengamalkan ajaran-ajaran agama. Yaitu sampai dengan wafat. Setelahnya, tidak lagi bisa mendapat pahala lewat amalan ibadah. Kecuali tiga hal.

  1. Shodaqoh jariyah,
  2. Ilmu yang bermanfaat, dan
  3. Anak yang shalih.

Kita semua butuh yang nomor tiga, sebagaimana kita butuh dua nomor yang lainnya. Namun mendidik yang nomor tiga, tidak pernah mudah. Karena pendidiknya tidak bisa seorang diri. Minimal berdua. Nah, sulit kalau di antara keduanya ada kesenjangan yang signifikan.

Kalau salah satu adalah kurang atau terlalu shalih/shalihah dibandingkan dengan yang satunya, bisa jadi kita akan kasihan sama dia atau sama pasangannya. Kesenjangannya bikin salah satu atau keduanya menjadi tidak nyaman.

Kira-kira begitu ya. Jadi kesenjangan dalam hal agama juga jangan terlalu jauh.

Selanjutnya, mari bicarakan yang lain, yuk.

Kita ini manusia. Kita punya pikiran dan perasaan. Kalau menikah hanya untuk senang-senang seksual dan meneruskan keturunan, kita tidak ada bedanya dengan (maaf) binatang. Itu sangat primary. Padahal kita manusia perlu lebih dari itu. Perlu tambahan pikiran dan perasaan. Sebab itu harus ada cinta dalam pernikahan. Bukan cinta sebagai sebuah kata benda. Melainkan cinta sebagai sebuah kata kerja.

Misalnya, harus ada yang mengalah. tidak melulu si istri sih. ini di pernikahan orang tua saya, si istri (ibu saya) lebih banyak mengalah. kalau tidak mengalah, bukan tidak mungkin (istilah yg banyak dipakai komentator sepak bola) bubar. Alhamdulillah ibu tetap dan selalu sabar. Mudah-mudahan saya bisa banyak meniru beliau.

Kalau kamu tidak mau mengalah, bahkan merasa terpaksa, mungkin kamu perlu mempertanyakan apakah kamu masih cinta atau tidak?

Sebagai suami, saya juga jadi belajar untuk mengalah. Bahasa Inggrisnya, sing waras ngalah (hehehe). Ini adalah strategi jangka panjang para suami, biasanya. Kalau kita berusaha memenangkan adu ngotot saat ini, kita bisa kalah (baca: berpisah) ujung-ujungnya.

Ini ada quote bagus. Quote-nya mendeskripsikan banget bahwa jangan mengejar menang sesaat saja. Tadinya saya tidak tahu ini quote siapa. Tapi ternyata ini adalah quote dia si bapak Presiden Amerika Serikat yang terpilih di pemilihan umum tahun ini (tahun 2016).

Sometimes by losing a battle, you find a way to win the war.

Menikah itu dengan trust. Tapi bukan sembarang trust. Which is, trust with clear expectation.

trust without clear expectation = failed. Supaya tidak failed, lakukan komunikasi. Aku maunya begini. Kamu maunya bagaimana. Apa bisa kita komunikasikan dan sinkronisasikan. Mari kita setting ekspektasi kita supaya tidak melukai satu sama lain, dst. Trust bukan berarti kita berharap begitu saja. Melainkan ada tingkat ekspektasi yang harus kita atur juga. Supaya kalau kecewa, ya tidak kecewa-kecewa amat lha. Pun kita juga tahu harus melakukan apa bila ekspektasi tidak terwujud.

Menikah untuk bahagia? Tentu saja. Jangan (dulu) menikah bila malah sengsara yang engkau dapat. Lebih baik tunda (sementara) menikahnya. Kita tetap bisa bahagia kok, meski belum/tanpa menikah.

Teman saya ada cerita tentang rasanya menikah. Dia dahulu hanya tahu, peduli, dan suka sama namanya sepakbola. Semua tentang sepakbola. Main game Winning Eleven di Playstation. Main futsal. Main sepakbola di lapangan besar. Nonton klub kesayangan, domestik atau internasional. Dan seterusnya, dan sebagainya. Pokoknya semua yang berkait sama sepakbola adalah sangat-sangat menyenangkan.

Ternyata dia menyesal waktu dia menikah. Kenapa menyesal? Karena ternyata menikah itu lebih menyenangkan daripada segala hal yang terkait dengan sepakbola. Dia menyesal, karena memang menyenangkan, mengapa tidak menikah dari dulu? Hehehe.

Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

Untuk kamu para pria, saya ingatkan kembali. Cinta itu kata kerja. Jadi memang harus selalu dilakukan dan diperjuangkan. Bukannya selesai begitu kita sudah salaman sama si bapak Mertua di akad pernikahan. Justru, kita para pria harus setidaknya memberikan kehidupan yang (minimal) persis sama dengan apa yang dialami oleh sang putri. Baik dimensi finansialnya, keagamaannya, dan dimensi-dimensi lainnya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

http://jihandavincka.com/2014/05/02/will-you-still-love-me/