Masjidpreneurship


Di buku Marketing to Middle Class Muslim (GPU, 2014), kami telah menyebutkan bahwa Masjid memiliki potensi sebagai pusat ekonomi dan kewirausahaan (halaman 207). Mengapa masjid memiliki potensi tersebut? Sebab pada dasarnya masjid sebagai sebuah tempat ibadah yang menyelenggarakan shalat wajib sebanyak 5 kali dalam sehari, telah memiliki dua modal besar untuk dikelola lebih lanjut dalam semangat kewirausahaan (entrepreneurship).

Related Posts: 
Komunitas: Driver Pasar Muslim 
The Years of Social Connection 

Yakni crowd (keramaian) dari jamaah yang beribadah di masjid tersebut dan communities (komunitas-komunitas) yang banyak beraktivitas di lingkungan atau kompleks masjid. Patut kita ingat bahwa komunitas-komunitas yang terbentuk di lingkungan masjid tentu saja adalah komunitas yang memiliki kesamaan kepentingan (common priorities), yaitu untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa ide hasil diskusi internal kami mengenai potensi-potensi lanjutan yang dapat dieksplorasi dan dimonetisasi lebih lanjut oleh para pengurus (takmir) masjid dalam rangka mewujudkan Masjid yang lebih entrepreneurial.

Kemandirian Ekonomi
Masjid sudah memiliki “modal” awal finansial, yaitu dari berbagai dana zakat, infaq, shadaqoh, wakaf (ZISWAF) yang terhimpun dari jamaah masjid. Dana ZISWAF ini dapat membiayai seluruh kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Ini belum termasuk potensi pembiayaan dari pendapatan pengelolaan bisnis yang dikelola secara professional di kompleks masjid. Misalkan masjid yang mengembangkan ritel consumer goods atau ritel fesyen hijab untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Atau masjid yang mengembangkan usaha bisnis berbasis layanan travel haji dan umrah.

Organisasi yang dibentuk haruslah bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-oriented), tapi social enterprise di mana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut kami sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Menariknya, keseluruhan aktivitas kedua LAZ tersebut sudah dilakukan dengan sangat professional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi.

Edukasi Berbasis Event
Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, serta bergaya hidup muslim modern. Artinya masjid kekinian merupakan channel untuk menyalurkan konten-konten keislaman. Format yang rutin digunakan adalah event; seperti misalnya seminar, training atau workshop sehari, pengajian rutin, pernikahan, dan lain sebagainya. Format event juga merupakan sarana offline dalam mempertemukan para anggota komunitas yang kini getol bergaul di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Kami membayangkan bahwa semakin banyak dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di kompleks masjid akan semakin meningkatkan jumlah jamaah yang berkunjung untuk beribadah di sana.

Sebagaimana yang kita pelajari dari marketing hijab yang dilakukan secara horizontal, maka pendekatan yang dilakukan terhadap komunitas juga harus peer to peer. Artinya, pendekatan yang dilakukan harus secara personal dan sosial kepada sekitar anggota komunitas, semisal keluarga, kolega, dan teman-teman. Namanya saja horizontal, pendekatan-pendekatan ini haruslah menyebarkan kesadaran keislaman dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui.

Lebih Modern dan Inklusif
Untuk mewujudkan kedua hal di atas, kuncinya adalah pengelolaan masjid secara lebih professional, modern, menggunakan teknologi, serta bersikap inklusif terhadap semua kalangan. Dengan mengambil sikap lebih modern dan lebih inklusif, masjid kemudian dapat berperan lebih dari sekedar tempat ibadah. Maksudnya adalah masjid melebur dan menyatu dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Kita bisa mengambil beberapa contoh positif dari beberapa masjid yang telah melakukan transformasi tersebut, berikut ini.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas perekonomiannya masih terasa dan menjadi role model kewirausaahan masjid yang selalu solid.

Contoh lain adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat professional, terutama dalam aspek bisnis dan keuangan. Yang menarik adalah, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid secara berkala’ melainkan juga dikelola untuk berbisnis. Bisnis inilah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan juga bagi masyarakat sekitar masjid. Dari pendapatan bisnis tersebut, kemudian disusun dan dialokasikan ke program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Jadi kuncinya adalah bagaimana masjid mencoba mencari dan mensolusikan masalah-masalah yang dialami oleh masyarakat secara umum, dan para jamaah masjid secara khusus. Sebab itu pengurus masjid kekinian juga harus mulai berpikir lebih kreatif dan inovatif. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh kedua masjid yang kami sebutkan di atas.

Dipublikasi di ENTREPRENEURSHIP | Tag , , | Meninggalkan komentar

My Ramadhan Eating


Kita akan segera menjelang 2/3 bulan Ramadhan berjalan. Dalam rentang tersebut tubuh saya sudah mengalami eksposur puasa hingga tubuh saya bahkan beradaptasi dengan pola nutrisi berikut: konsumsi hanya sekitar 2x dalam sehari dan selama 13-14 jam tidak menerima asupan sama sekali. Dalam pada itu, saya melakukan “riset” kecil-kecilan terhadap tubuh saya sendiri. Now, let me review my diet (meal plan) and see what have happened through it.

Related post:
– My Mindful Eating
 Paradoks Sehat Sakit 

Bukan puasa yang menebeng diet, tapi diet lah yang menebeng pada puasa. Mumpung bulan Ramadhan gitu, ‘kan. Puasa itu mirip dengan COD-nya bang Deddy Corbuzier. Hanya saja puasa Ramadhan di Indonesia tidak ekstrim maksimal seperti diet beliau. Puasa kita hanya 13-14 jam sehari. Sementara beliau kan 16, 18, atau 20 jam sehari. Sebab itu kita yang berpuasa di sekitar garis ekuator perlu bersyukur bahwa puasa kita tidak terlalu lama — meski tidak juga sebentar saja. Sehingga puasa kita bisa jadi strategi untuk menurunkan berat badan.

Teorinya, pemecahan lemak tubuh dan otot untuk mendapat energi baru dilakukan oleh tubuh pada 12 jam setelah makan terakhir (yang berarti makan sahur). Yang terjadi pada 12 jam sebelumnya adalah tubuh kita menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein dari makanan untuk menghasilkan energi. Setelah 12 jam sejak makan, baru memproduksi energi yang diperoleh dari pemecahan lemak (body fat) dan protein (muscle). Mekanisme demikian baru berlangsung manakala terjadi caloric deficit, yaitu “calorie in” lebih kecil daripada “calorie out”. Setelah itu baru terjadi yang namanya weight loss. Informasi barusan berasal dari sini.

Di sekitar saya, beberapa tahun sebelum sekarang, biasanya ada kolega atau anggota keluarga yang berat badannya malah naik pasca Lebaran. Berarti ada yang tidak beres dengan pola calorie in and calorie out mereka. Fenomena ini menggambarkan terjadinya kalori masuk yang lebih besar daripada kalori keluar. Biasanya hal ini terjadi karena penganan berbuka puasa yang bermacam-macam dan cenderung berlebihan. Dari kolak, sirup, es buah, gorengan, dan seterusnya yang disantap sejak magrib sampai dengan isya. Hampir tidak mungkin rasanya makan berlebihan di makan malam ataupun saat makan sahur.

Saya sendiri, pola yang saya lakukan adalah berbuka secukupnya. Misal dengan the manis hangat. Ini sebenarnya bukan sunnah Nabi yang dianjurkan sih. Beliau kan menganjurkan 3 butir kurma dengan air putih ya. Nah, setelah berbuka, saya biasanya langsung “hajar” dengan makan malam. Jadi langsung kenyang dengan makronutrien: karbohidrat, lemak, dan protein.  Setelah tarawih baru banyak-banyak minum air putih (sekitar 4 gelas saja), 1 tablet vitamin c yang dilarutkan ke segelas air (effervescent form), dan buah apel. Mengenai buah-buahan, saya bahas lebih detil di bawah.

Overall, langkah-langkah saya di atas memang termasuk strategi saya untuk menurunkan berat badan. Jadi konsumsi makan dan minum, khususnya yang bukan makronutrien, saya tekan serendah mungkin. Bahkan, saya lebih sering sahur dengan air putih saja ketimbang dengan menu lengkap. Jangan sampai tidak sahur sama sekali ya. Sebab sahur bukan hanya tentang makan sahurnya saja. Tapi ada banyak sekali berkah sahur di sana.

Setelah sekitar 10 hari berpuasa, berat badan saya turun 1 kg. Kalau dilakukan approksimasi ke akhir ramadhan, mestinya bisa turun sampai 3 kg ya :D Untuk kita ketahui bersama, turun berat badan yang normal maksimal dan masih sehat adalah sekitar 1 kg per pekan. Lebih dari itu berarti kita sudah menyakiti tubuh kita lewat kurangnya makronutrien dan mikronutrien yang terasup ke dalam diet harian kita.

Soal hidrasi (dan dehidrasi), bener banget kata iklan air mineral dalam kemasan itu. Dua gelas di waktu sekitar magrib, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas lagi di sekitar waktu sahur. Kalau kulit hidung mulai pecah-pecah, atau muncul garis putih ketika garuk-garuk di tangan berarti saya mulai dehidrasi. Minimal itu berarti bahwa air putih yang saya minum masih kurang. Di sisi lain, saya pertimbangkan jenis minuman yang saya konsumsi. Tipikal kopi itu bersifat diuretik, artinya menarik air dari tubuh kita, sehingga mungkin terjadi dehidrasi pada tingkatan sel.

Iseng-iseng saya sempat melakukan riset perbandingan kandungan nutrisi antar buah. Ada beberapa parameter nutrisi yang saya susun rapi (lewat grafik). Salah satunya adalah mengenai serat. FYI, serat bekerja bukan dengan diserap oleh usus halus ya. Melainkan baru berfungsi efektif di bagian ujung saluran cerna, yaitu di usus besar. Sebab ternyata serat adalah nutrisi bagi mikroba-mikroba di usus besar kita. Mikroorganisme ini membantu membentuk dan mengembangkan faeces kita. Kurang serat secara langsung menyebabkan mikroba-mikroba ini bekerja kurang maksimal.

Berikut hasil riset kecil-kecilan dari saya mengenai kandungan nutrisi dari buah-buahan (yang dihitung pada jumlah gram buah yang sama):

kandungan nutrisi buah-buahan

Dalam grafik di atas terdapat istilah beban glikemik (glycemic load, GL). Itu adalah ukuran kuantitas suatu makanan akan menaikkan kadar glukosa darah seseorang setelah dia mengkonsumsi makanan tersebut. Bedanya dengan indeks glikemik (glycemic index) adalah GI tidak mempertimbangkan jumlah makanan yang dikonsumsi tersebut. Dengan mengetahui beban glikemik-nya, maka kita dapat secara bijak menentukan berapa banyak batasan asupan karbohidrat ke dalam diet harian kita. Menurut saya berkat GL kita jadi lebih terbantu agar tetap dapat mengkonsumsi menu favorit kita, instead of menghindarinya sama sekali.

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Meninggalkan komentar

Inflasi S2


Haruskah mengambil dan lulus di program S2? Mungkin tidak akan ada yang menjawab “TIDAK”, ya. Justru sebagian malah bilang iya, “HARUS”. Sebagian yang lain akan bilang, “BOLEH” kalau dana atau waktu memang ada.

Sebab, kenyataan di lapangan menunjukkan ada banyak lulusan S2 sekarang. Terutama S2 bergelar MBA (Master of Business Administration). Jumlahnya kini jauh lebih banyak dibanding dulu. Tidak heran terjadi inflasi besar-besaran untuk lulusan S2.

Inflasi artinya jadi penurunan ‘nilai’ yang ditawarkan oleh lulusan S2 sekarang. Bukan apa-apa, sebabnya adalah suplai s2 — yang jauh lebih banyak dibanding dahulu — kini sudah menyebabkan pergeseran di kurva ‘demand and supply‘-nya. Padahal yang ditawarkan oleh para lulusan S2 tersebut praktis tidak berubah banyak. Sementara tuntutan pasar tenaga kerja kian meningkat dan cenderung dinamis. Jadilah lulusan S2, gelar MBA, mengalami inflasi.

Sebagai contoh ya. Puluhan tahun lalu di McKinsey, gelar MBA (masih) relevan untuk mendaftar ke kantor konsultan tersebut. Belakangan ini, MBA nyaris tidak membuat perbedaan signifikan. Kebanyakan pelamar sekarang di big three of consultans adalah para MBA. Karena supply MBA sudah banyak sekali di pasar tenaga kerja.

Dan kejadian tersebut tidak hanya di AS, Eropa, dan negara maju lainnya. Bahkan gelar MBA di Indonesia sudah banyak yang memiliki. Dalam konteks branding, pertanyaan yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan S2 manajemen adalah: apa perbedaan antara MBA dari kampus yang satu dengan kampus yang lain? Sedangkan untuk pemegang gelar MBA adalah: apa yang harus dilakukan supaya bisa tetap ‘tampil berbeda’?

Beberapa tahun terakhir, bergabung ke kantor konsultan manajemen kini tidak harus MBA. Bila memang punya, gelar ini akan memberi “kekuatan” lebih bagi kamu — karena tidak harus diajari dari nol. Tapi di kantor konsultan, MBA sekalipun bukan kewajiban — yang penting adalah bersedia belajar. Di berbagai industri secara umum, gelar S2 belum tentu memberi pertimbangan signifikan bagi rekruter di tempat kamu melamar pekerjaan.

Apalagi ada yang menjadikan S2 sebagai kesempatan untuk mengubah haluan dalam berkarir. Jadi alasan ini cukup berlaku bagi mereka yang merasa tidak suka/cocok dengan bidang S1-nya. Sehingga cukup lulus (atau lolos? :p ) saja dari almamater S1. Lalu memilih bidang lain untuk berkarya. Inkonsistensi pendidikan ini yang menurunkan value lulusan S2 kekinian.

Experience is the door
Di beberapa perusahaan memang tidak mengenal pembedaan antara lulusan S1 atau S2. Sebab semua dihitung berdasar pengalaman kerja. Lulusan S2 yang belum pernah bekerja dianggap sama dengan yang baru lulus S1. Mereka yang sudah punya experience, menjadi alasan untuk diterima bekerja pada bidang pekerjaan yang relatif sama. Experience adalah work activities yang dikerjakan berulang-ulang, setiap hari sehingga membentuk kompetensi yang dikehendaki di bidang pekerjaannya.

Sebab SDM tanpa pengalaman harus dibentuk mencapai produktifitas yang diinginkan oleh perusahaan. Dan bagi korporat, pembentukan SDM yang produktif adalah cost and investment tersendiri. Yang benefit-nya belum tentu datang dengan cepat. Bisa sampai 3 tahun, paling tidak.

Productivity is the key. Ijazah cuma jadi selembar kertas kalau tidak menaikkan produktivitas perusahaan. Lulusan S2 kalau tidak berkontribusi ke value chain-nya perusahaan juga jadi percuma S2-nya. Kasus ini tidak hanya untuk S2, lho. Termasuk juga S1. Gelar MBA saja sudah banyak, apalagi gelar S1 ya. Tidak heran mereka yang baru saja lulus S1 relatif bisa diterima bekerja di industri apa saja. Karena sekarang, gelar sarjana berarti semacam legalisasi bahwa penyandang gelar tersebut siap belajar dan siap dibentuk oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Menurut saya, inflasi S2 telah terjadi di pasar tenaga kerja. Bagi diri kita sendiri, inflasi tersebut tidak terjadi. Terutama, ketika niat kita mengambil S2 adalah untuk belajar sepenuhnya. Jadi bukan karena mau naik jabatan, pindah haluan karir, dan sebagainya. Jadi memang niat kita full untuk belajar mengembangkan diri dan menyempurnakan pengetahuan kita di bidang S2 tersebut. Terlepas dari bidang karir dan pekerjaan kita yang terkait atau tidak terkait dengan jurusan S2 itu.

Saran
Langsung mengambil program S2 (pasca S1) juga oke saya kira. Jadi sekalian aja selesaikan sekolah baru fokus berkarya. Bila perlu sekalian S3 baru cari kerja. Ingatlah siapa-siapa dari rekan anda yang baru saja lulus S1 terus bekerja, lalu jadi galau: pas kuliah pengen kerja (supaya bisa pegang duit yang lumayan), pas sudah kerja pengen kuliah (lagi). Daripada mengambil S2 sambil bekerja. Saya lihat Kerja sambil S2 itu melelahkan dan tidak fokus. Baik yang kelas malam, maupun kelas akhir pekan. Pengecualian atas semua saran di atas adalah: resign, lalu mengambil S2 (sambil jalan-jalan) di luar negeri. Yang terakhir barusan adalah saran terbaik yang pernah ada.

Dengan segala faktor penyebab inflasi-nya S2 di atas, apakah lantas tidak perlu mengambil S2? Ya tidak juga. Tapi mengambil manfaat terbaik yang bisa diberikan, adalah inisiatif yang harus kita lakukan.

Related Post:
Kapan Sebaiknya Kuliah S2?
Memilih Program Studi S2

Dipublikasi di PENDIDIKAN | Meninggalkan komentar

Sisi Lain Roman Abramovich


Saya yakin, entrepreneur macam Roman Abramovich ini engga sekedar pengen punya klub sepakbola. Owner of Gazprom di Rusia memandang berbagai aspek sebelum melakukan pembelian. Bagaimanapun, pembelian Chelsea (140 juta poundsterling tahun 2003) ini harus berimpak positif secara finansial. Dan mengembalikan semua investasi yang sudah dikeluarkan (terutama untuk belanja pemain) adalah semua yang kini dia berusaha lakukan.

FYI, berbagai manajemen klub sepakbola di dunia memilih satu di antara tiga model bisnis yang lazim dipakai oleh klub sepakbola:

1) Model “Talent Development“. Pengembangan pemain muda, yang kemudian dapat dijual lebih mahal ke klub lain. Marjin besar ini kemudian diputar kembali ke dalam sistem yang mereka miliki. Klub seperti ini biasanya punya sekolah sepakbola dengan brand yang dikenal di seluruh dunia. Model ini diadopsi oleh: Southampton, Ajax Amsterdam, Feyenoord, Boca Juniors, Sao Paolo, dan lainnya. Sumber daya keuangan yang sangat terbatas adalah latar belakang dari semua inisiatif di atas.

2) Dengan contoh Real Madrid-nya Florentino Perez (2000-2006, dan 2009-sekarang), model “Superstar Acquisition” ini menghabiskan banyak uang untuk mengontrak pemain yang sedang dalam performa maksimal (Cristiano Ronaldo 2009, Gareth Bale 2013) yang bisa memberikan jaminan juara. Tidak heran Madrid dijuluki los galacticos: tim dengan pemain dari galaksi lain. Model ini sesuai dengan thesis “blockbuster strategy“-nya Anita Elberse (profesor HBS). Yaitu investasi besar-besaran ke sedikit pemain yang sudah engage di hati penggila bola di seluruh dunia. Makanya mereka rekrut James Rodriguez yang main keren di World Cup 2014 lalu. Pembelian pemain ini diyakini akan meningkatkan penjualan jersey atas nama tersebut di negara asal: Kolombia. Sekaligus me-leverage brand Real Madrid di sana.

Terbukti, model operasional ini berhasil mempertahankan Real Madrid sebagai klub yang selalu nomor satu (sejak musim 2003/04) untuk urusan omzet. Dengan tolok ukur paling utama digunakan dalam mengukur finansial sebuah klub sepakbola adalah rasio gaji (pemain) terhadap omzet. FYI, di bisnis klub sepakbola, pengeluaran terbesar ada pada biaya transfer (ke klub lama si pemain) dan gaji. Paradoks yang bisa kita petik dari kasus Real Madrid adalah pengeluaran jor-joran untuk pemain beken ternyata justru memberikan marjin yang paling besar dibandingkan dengan dua model finansial yang lain.

Berikut data-datanya. Real Madrid konsisten berada di kisaran 43-48 persen. Pada musim 2013/14, Real Madrid di angka 45%. Sebagai perbandingan pada musim yang sama, Barcelona sebesar 51%, Manchester United 50%, Manchester City 59%. Maksimum rasio yang direkomendasikan oleh European Club Association adalah 70%. Sudah banyak kasus klub yang bangkrut karena pengeluaran gaji pemain yang terlalu besar tapi tidak diimbangi pemasukan: Deportivo La Coruna, Leeds United, dan Anzi Makhachkala.

3) Model “Portfolio” yang merupakan kombinasi keduanya, kini mulai diterapkan oleh Barcelona, Manchester City, dan Chelsea di klub masing-masing. Model ini sebenarnya dikembangkan dan diimplementasikan di Manchester United (MU) oleh Sir Alex Ferguson. Pria Skotlandia mengkombinasikan talent-talent binaan akademi (best practice-nya adalah Class of 92) dengan pemain-pemain mahal MU: Ruud Van Nistelrooy, Robin van Persie, Rio Ferdinand.

Masing-masing model finansial ini menentukan bagaimana sebuah klub akan merekrut, mengembangkan, dan mengelola talenta-talenta (pemain) yang mereka miliki.

Nah, kembali ke klub milik Roman Abramovich. Chelsea mengadaptasi model ketiga, yaitu “Portfolio“. Chelsea berbeda dalam hal (1) jejaring global pencari bakat dan (2) kebijakan peminjaman pemain ke klub lain. Pemain-pemain asal Belgia berikut ini menjadi contoh bagus bagaimana jejaring pencari bakat dan kebijakan pinjaman memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea.

(1) Thibaut Courtois (dipinjamkan ke Atletico Madrid; kini jadi kiper utama menggeser Petr Cech). Semua transaksi tersebut dalam kurun waktu tiga tahun hanya me-“rugi”-kan Chelsea kurang dari 3 juta poundsterling.
(2) Kevin de Bruyne (dipinjamkan Werder Bremen lalu dijual ke Wolfsburg), menguntungkan Chelsea sebesar 9.7 juta poundsterling dalam 2 tahun kepemilikan.
(3) Romelu Lukaku (dipinjamkan ke West Brom dan Everton; dijual ke Everton), Chelsea untung 12 juta poundsterling pasca 3 tahun kepemilikan.
(4) Thorgan Hazard (adiknya Eden; dipinjamkan ke Borussia Monchengalbach; dijual ke klub yang sama dengan laba 5 juta poundsterling setelah 2,5 tahun kepemilikan).

Laba total dari keempat pemain di atas adalah 23.7 juta poundsterling. Dan dengan akumulasi laba hasil dari pola pembelian dan penjualan yang sama, tentunya Chelsea akan dapat mengimbangi pembelian pemain “siap-pakai” semacam Cesc Fabregas (33 juta pounds), Diego Costa (32 juta pounds), Filipe Luis (15.8 juta pounds), dan lain-lainnya. FYI, omzet sebuah klub sepakbola dalam setahun berasal dari beragam sumber: hak siar, sponsorship, penjualan pemain, penjualan tiket penonton, dan lain sebagainya. Tidak heran klub selalu mengejar gelar juara (dan memecat pelatih yang gagal mengantongi gelar). Sebab hak siar, sponsorship, penjualan tiket, akan semakin membesar apabila klub yang bersangkutan sering juara. Sering juara juga akan berimpak pada meningkatnya nilai intrinsik dari brand klub itu sendiri. Tentang brand value kita coba bahas kali lain ya.

Padatnya pemain berkualitas di Chelsea tidak memberi kesempatan pemain muda potensial mendapat waktu dan pengalaman bermain. Peminjaman pemain ke klub lain oleh Chelsea adalah sarana meningkatkan kualitas dan pengalaman pemain yang bersangkutan. Keempat pemain di atas hanya bermain selama 295 menit (rerata per pemain 75.75 menit) untuk Chelsea. Tidak hanya kualitas dan pengalamannya yang meningkat, tetapi juga nilai jual di pasar transfer pemain yang juga semakin meninggi.

Pola pencarian omzet seperti ini yang menjadi sisi lain dari Roman Abramovich. Ini merupakan lanjutan dari berbagai inisiatif-inisiatif yang sudah dilakukan sebelumnya: belanja pemain-pemain mahal, lalu merekrut (sekaligus memecat) pelatih yang diharapkan membawa pulang gelar juara ke Stamford Bridge. Even Roberto Di Matteo dan Rafael Benitez tidak dipertahankan pasca menjuarai Liga Champions dan Liga Eropa.

Related Posts:
Strategi Bisnis Klub Sepakbola 

Dipublikasi di SEPAK BOLA | Meninggalkan komentar

Paradoks Sehat – Sakit


IKASTARAN Challenge sudah berakhir sejak 1,5 minggu lalu. Dan baru tadi pagi saya olahraga kembali. Padahal bulan lalu, setiap hari saya selalu menyediakan waktu untuk lari. Minimal jalan atau bersepeda dalam jarak yang lumayan. Break 1,5 minggu tersebut melenakan juga ternyata: badan kurang seger, otak kurang enak dipake berpikir. Perasaan stress dan kurang produktif kemudian mengantarkan kita pada menu-menu mood booster yang belum tentu sehat: junk-food yang kolesterol tinggi atau snack-snack yang kandungan gulanya lebay.

Ujung-ujungnya merasa sakit dan harus keluar biaya atas sakit itu (analisis darah/urin, periksa dokter, obat, suplemen, dst). Padahal sakitnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat yang ternyata berbiaya jauh lebih rendah. Ada beberapa contoh di sekitar kita, yang tidak kita sadari tapi akan menentukan kualitas kesehatan kita di masa depan.

Jalan vs Berkendara 
Kalau mau jalan saja, yang sehat adalah jalan cepat selama 30 menit. Jangan salah, ini bukan jarak yang dekat, lho. Otak kita yang bias “merasa” sudah jalan jauh atau sudah berjalan cukup lama, padahal baru selemparan bola tenis saja. Pengalaman saya jalan kaki dari kantor ke rumah, ternyata tidak cukup lama (dan tidak jauh). Saya sampai dalam 15-20 menit, dan ternyata itu baru sekitar 2 km sahaja. Belum jauh.

Di sisi lain, kota-kota kita di Indonesia seperti “sudah dari sononya” tidak laik untuk pejalan kaki. Mulai dari trotoar yang belum ada (jalan sudah beraspal saja syukur alhamdulillah), atau trotoar yang tidak layak dipakai (ekspansi pedagang kaki lima, atau pesepeda motor yang tidak sabaran). Kita jadi terdorong untuk “malas jalan/sepeda/lari” dan lebih pilih pakai motor/mobil/kendaraan umum.

Terbiasa berkendara dan merasa mampu membayar semua ongkosnya berakibat kurang peka terhadap pengeluaran. Sebaliknya, karena secara umum mobilitas dan transportasi relatif tinggi, maka bila terjadi penurunan pengeluaran transport orang Indonesia cukup tinggi pula. Biaya transport menelan sekitar 30% pengeluaran bulanan untuk mereka yang tinggal dan bekerja di Jabodetabek. Hati-hati, sisa dananya jangan sampai berubah jadi junk food.

Junk vs Healthy Food
Sepertinya di mana-mana banyak makanan yang kurang kita perlukan. Enak sih enak, tetapi kurang seimbang. Hamburger, fried chicken, minuman bersoda, processed food, dan sebagainya. Menu-menu tersebut didominasi karbohidrat dan protein. Konsumsi daging, telur biasanya meningkat seiring dengan kenaikan kelas ekonomi dan sosial seseorang. Tetapi kurang akan sayur, buah, atau serat (fiber) dalam format lain. Belum lagi harganya yang jauh dari standard warung makan tradisional.

Padahal, you are what you eat. Kalau kamu makan sampah, maka tubuhmu akan menjadi “sampah”. Demikian sebaliknya. Yang utama adalah me-lengkap-i (karbohidrat, lemak, protein, serat) dan menyempurnakannya. Konon, makanan yang sehat adalah yang masih jauh dari proses olahan. Ibarat makan kentang, kentangnya hasil beli di pasar lalu diolah sendiri di rumah. Bukan yang siap goreng dan tersedia di supermarket terdekat di kota anda :p

Puasa juga tidak kalah baiknya. Selain memberi istirahat pada organ pencernaan, puasa memberikan kesempatan agar tubuh memecah lemak untuk dapat energi baru. Konon, gula dalam darah kita itu berusia 12 jam (selama tidak makan apapun lagi). Setelah itu, energi diperoleh dari lemak tubuh yang mengalami metabolisme. Di Indonesia, orang berpuasa sekitar 14 jam. Kan lumayan tuh fat loss effect-nya kalau puasa senin-kamis bisa rutin 2x seminggu.

Puasanya Om Deddy Corbuzier (baca: diet OCD) juga bagus, kok. Selama tidak pusing berkepanjangan dan tidak tersiksa akibat kelaparan. OCD itu puasanya antara 16-20 jam dalam sehari. Masukan kalori yang terbatas ke badan juga diikuti dengan berkurangnya keluaran dari dompet kamu. Pas lagi puasa, waktu yang paling bagus untuk berolahraga adalah jelang berbuka puasa. Sekitar 1-2 jam sebelum adzan magrib.

Dari dua kasus yang disajikan di atas bisa disimpulkan bahwa sehat-sakit itu paradoks. Sebab bila dipandang dari perspektif finansial, ternyata sehat itu murah (dan sakit justru mahal). Biaya tinggi mulai dari sebab sakitnya, hingga pengobatan atas sakit itu sendiri.

Paham apa itu sehat memang sulit. Sebab tidak bisa memahami sang sehat saja. Untuk tahu apa itu sehat, kita harus merasakan sakit dahulu. Seperti sebuah nasihat yang kekal abadi: manfaatkan sehatmu, sebelum datang sakitmu.

Related Posts:
– Middle Class: Going Healthy
Mindful Eating
Tips Berolahraga di Rumah

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Meninggalkan komentar

IKASTARUN Challenge 2015


Selama run challenge hampir sebulan di April 2015, alhamdulillah sempat merampungkan 21 kali lari. Berikut ini grafik raihan mileage saya.
IKASTARUN Challenge 2015

Total mileage: 100.8 km (alhamdulillah bisa tembus 3 digit); Average: 4.8 km.Berikut ini tips-nya:

  1. Lapar tapi lari itu engga enak banget! Mending ada ngemil-ngemil kecil dulu. Boleh juga makan besar. Tapi jarak makan berat dengan lari minimal 1 jam ya.
  2. Pemanasan. Peregangan dulu: Pergelangan kaki, sendi lutut. Itu dua yang paling utama untuk saya.
  3. Kombinasikan jalan dan lari selama pemanasan. Jalan dulu, baru lari, lanjut jalan lagi selama pemanasan.
  4. Jarak pemanasan minimal: 2 km. Hehehe :D Di antara kamu mungkin ada yang bilang ini bukan pemanasan lagi ya :p
  5. Pas udah serius lari, mulai dengan perlahan. Ini kan bukan lari cepat (sprint). Yang kita kejar adalah jarak tempuh. Daya tahan jadi faktor penting. How many minutes can you run?
  6. Daya tahan lari saya ditunjang minum yang rutin. Bawa botol kecil bila perlu. Soalnya yang paling challenging itu menahan panas di kerongkongan. Kalo ga minum dikit-dikit, bakal lebih cepat selesai lari.
  7. Minimal berlari (dan bisa diaplikasikan ke olahraga lainnya) selama satu jam. Capeknya jelas, tapi yang paling utama saya incar: stress hilang. Pekerjaan yang teringat sepanjang malam segera hilang lepas satu jam olahraga.
  8. Daripada memaksakan lari langsung banyak, mending dikit-dikit (5 km) tapi rutin (tiap hari). Daripada langsung 15 km pas CFD tapi cuma seminggu sekali. Kan lagi ngebangun daya tahan ceritanya.
  9. Lari saya ternyata lebih maksimal kalau dilakukan sekalian pagi (habis subuh) atau sekalian malam (setelah isya).
  10. Ga usah kebanyakan tips. Persis keq moto satu brand apparel aja: Just do it. Inovasi bisa sambil jalan.

Related Posts:
1. Going Healthy
2. Healthy Life Style
3. Cara Mengatasi Stress

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tag , | Meninggalkan komentar

Kelas Menengah dan Motor Sport


Berdasarkan data asosiasi sepeda motor Indonesia (AISI) pada tahun 2014, penjualan motor bebek telah turun drastis hingga mencapai 54% dalam rentang waktu 5 tahun (2009-2014). Sementara itu, motor sport naik tajam mencapai 133% pada periode yang sama. Jadi, kehadiran motor sport ini telah mengisi penurunan penjualan motor bebek dengan signifikan. Apa itu motor sport? Motor sport adalah kategori kendaraan roda dua dengan volume ruang bakar lebih dari 150 cc.

Apabila kita amati, baru-baru ini, motor sport telah menjadi pilihan baru kelas menengah Indonesia untuk berkendara. Ini terbukti sangat larisnya penjualan motor-motor sport keluaran Yamaha, Honda, Kawasaki, Suzuki, dan bahkan Ducati. Di mana, kami mendefinisikan kelas menengah Indonesia (Consumer 3000) memiliki tiga ciri utama. Pertama, memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, pintar (more knowledgeable). Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (sociallyconnected).

Kelas menengah dengan tiga ciri utama tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan motor sport. Berikut ini kita ulas beberapa poin menarik dari keterkaitan tersebut.

Emotional Benefit
Kami haqulyakin bahwa alasan utama larisnya motor sport di Tanah Air adalah emotional benefit. Artinya, kelas menengah membeli dan menggunakan motor sport bukanlah semata-mata untuk kebutuhan berkendara dari satu tempat ke tempat lain saja. Kelas menengah membutuhkan barang konsumsi seperti motor sport yang mampu mendongkrak imej mereka di mata kolega agar terlihat lebih keren, elegan, dan gagah.

Selain itu, motor sport termasuk kategori kendaraan dengan teknologi tinggi untuk menjamin keamanan berkendara. Para pembeli dan pengguna motor sport tentu feel safe mengenai keselamatan mereka di jalan raya. Di samping itu, mereka juga merasakan sense of success kala mengendarai jenis motor tersebut di jalan raya. Sebab para motor sport rider tersebut menggunakan motor berkelas tinggi dengan harga yang mahal pula. Feel safe dan sense of success merupakan emotional benefit yang dihadirkan oleh brand-brand motor sport.

Taste of Design
Sebagai segmen ekonomi-sosial yang berwawasan (knowledgeable), kelas menengah bisa dikatakan mengamati berbagai perkembangan desain di sekitarnya. Pengamatan ini kemudian berujung pada pemahaman serta preferensi konsumen terhadap produk-produk dengan desain yang berkualitas. Khusus untuk motor sport, desain dengan komposisi warna dan bentuk yang menarik mereka pandang sebagai suatu keindahan tersendiri.

Namun demikian, “taste of design” tidak melulu mengenai tampilan warna dan bentuk yang indah dari produk. Tetapi juga bagaimana produk tersebut didesain untuk “bekerja” bagi pengendaranya. Dengan desain yang lebih atraktif, sporty, suara knalpot cukup kencang, tarikan gas (akselarasi) lebih tinggi, warna elegan, dan harga yang mahal memberikan kenyamanan dan kepuasan berkendara tersendiri. Semua hal tersebut menunjukkan “taste of design” pengguna motor sport tersebut.

Massclusivity
Kepemilikan barang yang hanya dimiliki oleh kalangan terbatas akan menghadirkan rasa “diistimewakan” para konsumen pengguna brand. Perasaan eksklusif inilah yang dialami oleh para pemilik motor sport. Lebih lanjut, para konsumen ini merasakan keunikan serta kekhususan yang berbeda dari kebanyakan konsumen sepeda motor (terutama motor bebek dan matic). Meski demikian, hak yang istimewa ini kemudian berkembang menjadi eksklusifitas massal (mass exclusivity atau singkatnya massclusivity).

Sebab dalam rangka meningkatkan penjualan, brand pun tidak segan-segan untuk terjun dan menarget segmen ekonomi yang lebih massal. Seperti misalnya yang pernah dilakukan oleh produsen motor kelas dunia: Ducati. Perusahaan otomotif asal Italia ini merilis motor sport untuk kelas 800 cc dengan harga sekitar Rp 225 juta yang diyakini cukup murah serta lebih mudah dijangkau oleh kelas menengah.

Intinya, kami melihat produsen global seperti Ducati pun ingin menggarap pasar kelas menengah Indonesia yang telah tumbuh secara eksplosif, tetapi karena daya beli kelas menengah belum terlalu besar, sehingga Ducati menerapkan strategi value innovation.

Value Innovation
Sebagaimana yang disebut Prof. Chan Kim (ingat buku Blue Ocean Strategy) inovasi nilai (value innovation) adalah kemampuan menghasilkan extraordinary value dengan cara meningkatkan benefit, sekaligus menurunkan cost yang harus dibayar konsumen. Kelas menengah memang paling rajin menuntut adanya inovasi nilai. Segmen yang kian knowledgeable ini semakin men-drive berbagai pemain di seluruh industri untuk melakukan berbagai inovasi nilai.

Tidak terkecuali pada kategori motor sport. Inovasi nilai dilakukan lewat penerapan skema harga yang menarik untuk menopang berbagai benefit yang tercakup dalam satu unit motor. Dengan inovasi nilai seperti ini, motor sport kemudian laris di kalangan kelas menengah. Buktinya adalah banyak warga kelas menengah yang bela-belain memiliki motor sport dari berbagai brand. Meskipun harga motor jenis ini terbilang cukup tinggi, tetapi daya serap kelas menengah terhadap kategori ini menjadikan produk ini “laris manis tanjung kimpul”.

Dengan demikian, motor sport bukan lagi menjadi barang mewah, melainkan sudah masuk kategori mass luxury. Yakni produk-produk mewah (luxurious) tetapi dimiliki secara massal oleh masyarakat umum.

Berdasar semua ulasan ini, kami meyakini bahwa pasar motor sport ke depan akan sangat dinamis dan bergairah. Ini adalah kategori yang relatif baru dan tetap bertumbuh ke depan mengingat kelas menengah masih akan bertumbuh; baik secara jumlah maupun daya beli. Sehingga perlu eksplorasi dan pendalaman lebih lanjut oleh para pemain di kategori ini.

Related Post:
Akik
Value Innovation
Going Healthy

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Meninggalkan komentar