Menjawab Pertanyaan dari Email


Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya:
2010-2012  Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
2012-2015  Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?
Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.
Gambar sisip 1
Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.
Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/
2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.
Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.
Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.
Salam,

 

Risk Management di Industri Sepak Bola


Setiap bisnis pasti ada risikonya. Tinggal kita berselera aja enggak dengan risiko tersebut: Risk appetite. Berikut adalah beberapa risiko yang saya observasi benar adanya di klub sepak bola. Nomor 1-3 sangat mempengaruhi kestabilan pendapatan perusahaan.

egg-quote

Risiko pertama, terlalu mengandalkan seorang pemain untuk mengangkat permainan tim

Sepak bola bukan permainan individu. Satu orang pemain tidak akan menjadi sebuah tim. Tetapi seorang pemain (yang hebat) dapat membuat tim menjadi berbeda. Misalnya Lionel Messi, Cristiano Ronaldo. Sesungguhnya ini adalah risiko.

Manajemen Risiko pertama: Jangan bergantung pada satu bintang. Lebih tepatnya, milikilah beberapa pemain berkualitas meski kualitasnya tidak sehebat yang sudah disebut di atas.

Bangun mental dan kekompakan tim. Tim yang kompak dengan mental kokoh bisa mengalahkan tim manapun.

Contoh: Manchester City merekrut pemain yang bisa bermain hingga 4-5 tahun mendatang. Di tahun 2017 ini, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan Raheem Sterling masih berusia di awal 20-an. Mereka masih bisa dikontrak sekali lagi, bahkan dengan durasi kontrak yang sama.

Saran: Jangan berekspektasi bahwa pemain rekrutan anyar akan langsung bersinar di tahun pertama. Pun dia langsung bersinar, berarti dia bisa lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Intinya sih, ya jangan bergantung sama seorang yang hebat saja.

Risiko kedua, pola permainan diantisipasi oleh tim lawan.

Di akhir tahun 90-an, hampir semua tim di Lega Calcio menggunakan skema 3-4-1-2. Sangat mengandalkan the creative number 10. Selain formasi tersebut, sisanya memakai 4-4-2. Sementara beberapa tahun terakhir di English Premier League (EPL) para manajer selalu mengubah taktik dari musim ke musim. Kasus terakhir terjadi di Chelsea. Mereka sukses dengan 3-4-3. Terbukti juara di musim lalu. Bahkan sempat menang 13 kali berturut-turut. Ini adalah rekor tersendiri.

Akibatnya semua manajer di EPL mencoba mencari tahu dan bereksperimen menemukan antithesis dari 3-4-3.

Manajemen Risiko kedua:

  • Versatility. Keserba-bisaan menjadi tuntutan sepak bola jaman now. Lionel Messi bisa menjadi the false nine. Dalam beberapa musim sebelum musim sekarang, dia sering pula diposisikan di kanan depan. Posisi right winger. Kalau di timnas Argentina, dia biasanya kebagian jadi “penghubung” dari tengah ke striker seperti (Sergio) Aguero. Klub perlu menabung pemain-pemain yang punya kemampuan mengisi beberapa posisi sekaligus.
  • Cristiano Ronaldo mengawali karir sebagai pemain sayap. Lama-lama menjadi winger yang bisa menusuk dan menembak. Di Real Madrid, mengisi posisi penyerang kiri. Di Portugal sebagai striker kiri pada formasi 4-4-2.
  • Pelatih Kepala (head coach) juga tidak boleh kaku dengan formasi dan taktik yang dia usung. Dia harus fleksibel. Terutama menyesuaikan dengan profil permainan lawan. Titik lemah lawan harus dieksploitasi, kekuatan terbaik lawan harus diatasi.

Risiko ketiga: Kinerja yang tidak konsisten

Manajemen risiko ketiga:

  • Kinerja pemain dipengaruhi kondisi psikisnya. Ada klub yang mulai mempekerjakan psikolog. Menjaga mental para pemain tetap stabil. Banyak dokter tim juga menjadi tempat ‘curahan hati’ pertama bagi para pemain. Dokter tim bersentuhan langsung dengan berbagai keluhan dan cedera pemain.
  • Pencegahan cedera pemain. Istirahat yang cukup. Aktivitas di klub itu melelahkan otot. Belum termasuk perjalanan panjang semisal naik bus atau pesawat selama berjam-jam.
  • Pemain juga harus sadar dan bersikap disiplin. Ini bagian dari profesionalisme pemain. Pengawasan dari klub tetap ada. Klub harus bertindak tegas apabila ada pemain yang melanggar peraturan klub.
  • Rotasi pemain. Dalam realitanya, mengelola pesepakbola mirip dengan manajemen artis. Semua ingin tampil di “panggung”. Tinggal bagaimana membagi-bagi panggung yang ada. Apabila semakin jarang menjadi starter, bisa membuat pemain bintang berpindah klub.

Risiko keempat: terkait pemain. biaya rekrut yang tinggi dan harga jual yang menurun.

Manajemen risiko keempat:

  • Kembangkan pemain di akademi sendiri. Michael Emenalo (sekarang di Monaco) di Chelsea punya “mata” yang brilian dan bisa menilai potensi pemain untuk dikembangkan sesuai kebutuhan tim. Bagusnya, Chelsea bisa mendapat keuntungan berlipat tatkala pemain tersebut “terpaksa” dijual ke klub lain.
  • Bangun jejaring scout ke seluruh dunia. Kembangkan akses menuju “aset baku” yang lebih banyak dan beragam. Seperti di dunia korporasi, di sepakbola juga terjadi War of Talent. Manchester City lebih mengerikan. Hampir memiliki setidaknya sebuah klub di setiap benua: New York City, Melbourne City, Yokohama Marinos, Girona, dan Atletico Torque. Sehingga jejaring scout-nya bisa lebih dioptimalkan.
  • Beli pemain yang bisa meningkatkan popularitas klub. Pribadi yang sudah terkenal akan turut mengungkit brand-nya klub.
  • Pemain adalah aset. Nilainya bisa naik. Dan aset itu bisa dijual ke klub lain. Tidak apa beli mahal, selama bisa dijual lebih mahal lagi.
  • Jangan salah beli. Mengontrak pemain yang sulit dilepas lebih mahal akan membebani keuangan klub.

Risiko kelima: Tim yang terlalu tua.

Rata-rata usia pemain dalam sebuah tim sekarang menjadi indikator yang selalu diperhatikan.

Manajemen risiko keelima:

  • Urus juga pemain yang perlu “dikeluarkan”. Chelsea membatasi perpanjangan kontrak hanya selama setahun untuk pemain berusia lebih dari 30 tahun.
  • Jual pemain yang “menua” dan performanya sudah menurun.
  • Alihkan ban kapten dari sang kapten yang sudah “berumur”.

 

Software Developer Ibarat Tim Sepakbola


Bagi yang awam, atau baru memperhatikan, sekilas pekerjaan software developer memang sangat menarik. Bekerja di kantor, tidak di lapangan. Berhadapan dengan personal computer (PC), bukan dengan manusia. Duduk tenang dan kalem di ruangan yang sejuk -atau bahkan ber-AC. Harus diakui bahwa pendapat awam tersebut hampir sepenuhnya benar.

Namun sebagaimana bisnis pada umumnya, pasti ada risikonya. Tinggal kembali ke pelakunya saja apakah tahu dan bisa mengatasi risiko-risiko tersebut. Sepaket lha antara memilih jenis usaha, tipe omzet dan labanya, berikut dengan risiko-risikonya.

Nah, risiko yang perlu dikelola oleh owner dari perusahaan software developer –tipe perusahaan ini biasa juga disebut software house— adalah para manusia itu sendiri. Nah berikut ini adalah beberapa observasi dan renungan saya mengenai HR Management di software house.

software-developer-team

War of Digital Talent

Tentu orang yang sangat berbakat pasti dibutuhkan. Sudah pintar atau terampil, dan masih bisa di-upgrade lagi. Macam Neymar, Messi, Cristiano di dunia sepakbola, mereka ini hampir pasti mengangkat performa tim. Di samping, mereka juga turut mengajar yang para newbie(s) serta memperbaiki atmosfer per-coding-an di kantor.

Masalahnya, supply orang berbakat lebih sedikit daripada demand-nya. Buktinya, ada sebuah jurusan terkait komputer di Bandung, konon lulusan atau calon lulusannya bahkan sudah “habis” direkrut sebelum career fair berlangsung. Entah direkrut oleh tempat magangnya, atau dengan cara-cara lainnya. Lihat sendiri betapa meroketnya demand akan digital talent sekarang: start-up, software house, cloud computing, sampai untuk memenuhi kebutuhan in-house perusahaan non-IT sendiri.

Di sini, challenge-nya adalah bagaimana si software house dapat melakukan corporate branding, bahwasanya bekerja bersama mereka adalah yang terbaik. Dibandingkan bila bergabung dengan kompetitor yang lain. Mulai dari lokasi kerja yang strategis, interior kantor yang menyenangkan dan bikin betah, sampai dengan hal-hal detail –yang bahkan sudah menjadi kewajiban– seperti ketersediaan makan siang atau (minimal) snack.

Hunting to College

Digital talent tidak harus lulusan dari ilmu komputer atau teknik informatika ya. Pokoknya otaknya aja udah digital banget. Saya lihat, minimalnya dua kriteria atas hal ini:

  • Selalu membayangkan dan mengupayakan solusi-solusi digital (dan bisa diautomasi) terhadap masalah-masalah manusia,
  • Curious terhadap desain dan user experience (suka mereka-reka, “Ini kenapa begini, sih? Kenapa gak begitu aja. Kurasa kalau begitu akan lebih bagus. dst”).

Nah, “berburu” langsung ke kampus bisa lewat sharing session, kompetisi coding, selain tentunya jalur yang paling utama, yaitu Career/Job Fair. Sharing session itu menjual “perusahaan” sekaligus technical expertise (atau teknologi) yang dikuasai di perusahaan tersebut.

Prioritising Team Work

Namun demikian software development adalah sebuah pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama. Harus riset bareng dan dikerjakan bersama.

Messi, Neymar, atau Cristiano pun harus latihan bersama setiap hari, belajar skema dan taktik permainan dari head coach, sampai dengan sparring dengan tim lain ‘kan. Jadi mencari dan mendapatkan best talent bukan segalanya. Tapi the developer team yang baik, bisa diawali dari sana. Selanjutnya adalah membangun komunikasi dan kerja sama yang baik sesama anggota tim.

Tim sudah terbentuk, budaya coding bareng sudah tercipta. Namun challenges tidak kunjung berhenti. Untuk alasan yang mungkin itu-itu saja, atau mungkin alasan-alasan lain yang bisa diterima, tim mengalami dinamisasinya sendiri-sendiri. Ada programmer yang cabut, ada pula newbie yang baru bergabung, bertambah programmer baru tapi experienced, dan seterusnya.

Dalam sebuah versi teori software engineering, effort untuk coding hanya 10%. Pendapat ini memang ekstrim sekali, tetapi menggambarkan bahwa sesungguhnya coding itu bukan yang paling utama. Terutama untuk software korporasi. Paling besar ada di requirement, analysis, design, dan project management. Dari rangkaian proses ini, dapat dibayangkan betapa pentingnya unsur komunikasi dan kerja tim, kan? 🙂

Knowledge Management

Biasakan membuat dokumentasi. Supaya bisa dipelajari oleh diri sendiri dan orang lain –terutama oleh anak baru di perusahaan.

Dokumentasi ini banyak banget lho barangnya. End-to-end mulai dari proposal sampai dengan Technical Document atau User Guide. Hampir percuma deh kalau coding saja tapi tidak menulis dokumen-dokumen teknis yang terkait atau yang mendampingi.

Terkait KM ini, saya ada pengalaman buruk dalam peran sebagai reseller sebuah produk Internet of Things (IoT). Produk ini sifatnya B2B. Tidak bisa sama persis antara satu customer dengan customer yang lain. Harus mengalami kustomisasi dahulu sebelum delivery ke pelanggan. Ada beberapa persoalan. Pertama, User Guide yang ternyata masih membingungkan pengguna. Sehingga mereka harus berkali-kali bertanya kepada Service Desk. Kedua, tidak ada dokumen yang bisa diakses oleh reseller. Yang bersangkutan harus mencari dan mempelajari sendiri. Sehingga, product knowledge si reseller ini berbeda dengan yang seharusnya atau yang dikehendaki oleh Product Manager.

Sama banget dengan klub sepak bola ‘kan. Misal, Cristiano meninggalkan Real Madrid, atau Messi hengkang dari Barcelona –dan ini pasti akan terjadi suatu hari nanti. Tentunya klub sudah siap dengan keadaan ini. Antisipasi sudah dilakukan sejak lama. Mereka mempertahankan budaya dan kebiasaan yang sudah terbentuk –tanpa perlu penjelasan berulang-ulang mengapa kebiasaan tersebut dilakukan rutin–, melatih dan menulis ulang modul-modul training, dan lain sebagainya.

Menebak Perasaan Pemain Sepak Bola


Entah bagaimana, saya selalu senang membahas tentang industri sepakbola. Sebagai sebuah entitas bisnis, klub bola banyak berbeda dengan bisnis kebanyakan. Katakanlah dengan industri berbasis manufaktur. Industri ini berbasis aset berupa mesin-mesin manufaktur. Dengan aset intangible seperti brand dari produk dan hak cipta atas suatu produk, maka jadilah manusia-manusia di dalamnya ibarat hanya operator semata. Ganti orang tidak berimpak negatif pada perusahaan karena standard rekrutmen dan quality control-nya sudah sedemikian jelas.

Berbeda dengan klub sepakbola. Semuanya berbasis Human Resources (HR). Mulai dari pelatih kepala, tim pelatih, para pemain (inti, cadangan, dan hierarki di bawah keduanya), sampai dengan perilaku pemilik klub akan berimbas pada kinerja klub. Baik penampilan tim di lapangan maupun kinerja finansialnya. Sebagai people in organization, pastinya kinerja pemain dan tim di lapangan tentu dipengaruhi oleh mental dan perasaan mereka sebagai “karyawan”.

emotional-clipart-teacher-1

Pesepakbola juga “orang kantoran”, kok.

Tapi kantornya di tempat latihan. Pastinya, tidak hanya latihan-latihan dasar saja yang mereka lakukan. Berlari, menendang bola, dan seterusnya. Tetapi juga latih tanding antar tim. Tidak melulu melatih otot-ototnya saja ya. Melainkan juga pemahaman terhadap skema bermain klub dan pelatih. Yang terakhir ini juga harus dilatih di lapangan bersama dengan teman-teman pesepakbola profesional lainnya. Bukan hanya fisiknya yang lelah, tetapi otaknya juga capek.

Sebagaimana pekerjaan “kantor” lainnya, pasti ada bosannya. Ada jadwal masuk yang harus ditaati. Ada menu-menu latihan rutin yang harus diikuti. Juga menu-menu diet yang tidak boleh dilanggar. Belum termasuk aktivitas bareng yang harus dilalui: kumpul bareng sebelum berangkat ke kota tujuan -naik pesawat maupun perjalanan darat dengan bus. Tinggal bareng di hotel tempat menginap–gak boleh menginap di rumah saudara 😀

Intermeso sedikit, ada makna tentang profesional yang saya pernah terima. Makna ini agak nyeleneh tapi masuk akal banget. Bahwasanya seorang profesional itu adalah seorang yang sangat mahir dalam hal-hal paling sederhana di bidangnya. Dan masih terus berlatih hal-hal sederhana tersebut. Kalau dia pemain bola, maka dia jago banget dengan berlari dan menendang bola. Meski demikian, tetap saja dia punya pelatih dan tetap latihan lari lalu latihan menyepak bola.

Misalnya, saya seorang penulis, maka hal-hal dasar seperti EYD dan penggunaan tanda baca sudah seharusnya saya mahir. Di samping itu, sudah sewajarnya pula bisa saya memiliki seorang pelatih yang membantu saya membuat tulisan yang lebih baik.

Apalagi hari begini, off the ball movement itu yang paling penting. Ketika bola berada di tim lawan, apa yang harus dilakukan oleh seorang pemain (dan rekan-rekan setim) lakukan. Pressing seperti apa, bagaimana supaya formasi yang dibangun tidak berantakan, dst. Begitu pula tatkala bola berada di seorang rekan kita. Ke mana saya harus bergerak, ke mana rekan lain harus membuka ruang, dll.

Seperti kata Paul Pogba dalam suatu wawancara kala dia mengikuti tur dan jumpa fans ke Cina yang diselenggarakan oleh Nike, “Sepakbola Inggris itu melelahkan banget karena intensitas menerima, mengoper bola, lalu lari bergerak tanpa bola itu tinggi sekali.”

Rasanya Pindah Klub.

Tidak ada bedanya dengan pindah perusahaan. Ada teman-teman baru di pusat pelatihan. Ada rahasia-rahasia perusahaan lama yang tidak boleh terlalu diungkap dan diumbar-umbar. Ada target-target perusahaan (baca: klub) yang harus dicapai. Harus fokus dengan kemenangan tim di setiap pertandingan dan kejuaraan yang diikuti. Saya yakin para profesional lapangan hijau tersebut, meskipun punya kehidupan yang kelihatan asyik: mobil mahal, rumah bagus, pekerjaan sesuai passion, gaji per pekan ribuan poundsterling. Tetap akan stress kalau target klub tidak tercapai: klub degradasi, gagal menang beruntung, tidak jadi juara kompetisi di akhir musim atau gagal menjadi juara turnamen.

Namanya perusahaan tempat sekarang bekerja, itulah yang paling harus dibela ya. Misalnya waktu beberapa pekan lalu Nemanja Matic (Manchester United) kemarin kembali ke Stamford Bridge, dia tidak lebay soal basa-basi dan haha-hihi dengan pemain Chelsea. Berusaha fokus dan konsentrasi penuh terhadap pertandingan yang sudah di depan mata. Kemenangan klub saat inilah yang harus diwujudkan. Bukan memprioritaskan reuni bersama teman-teman lama. Dan aksi-reaksi seperti ini yang kerap terjadi kala seorang mantan pemain kembali ke stadion lamanya.

More demand than supply at certain qualities

Seorang Jose Mourinho, di tahun pertamanya di Manchester, tinggal di hotel yang disediakan klub. Pastinya bukan hotel bintang tiga lha, ya. Sewaktu David Moyes pindah ke MU, dia juga membawa beberapa partner kerjanya dari Everton. Pelatih (dan pemain-pemain tertentu) punya kualitas luar biasa dan diidam-idamkan pula oleh banyak klub. Jelas, jumlah mereka sedikit.

Karena hanya sedikit, jangan heran kalau klub-klub berlomba-lomba merekrut dan mempertahankan mereka. Gaji ribuan poundsterling per pekan, mobil mahal, rumah mewah, dan berbagai fasilitas lainnya diberikan untuk mempertahankan mereka tetap senang, think positive, bermain maksimal, dan membawa klub menjadi juara.

Dalam negosiasi di setiap kontrak baru, pelatih dan pemain dengan kualitas tingkat tinggi ini seringkali mendapat keuntungan maksimal. Mereka seringkali sudah “menang banyak” bahkan sebelum negosiasi dilakukan dan kontrak ditandatangani. Chelsea tentu boleh memecat Mourinho, dan benar-benar mereka lakukan pada akhir tahun 2015 lalu, namun ada klausul yang menyatakan bahwa sampai dengan Mourinho mendapat pekerjaan baru, Chelsea harus tetap menggaji dia –dengan mahal.

Pesepakbola dan Media Sosial.

Pebola masa kini tidak ada bedanya dengan artis. Mereka menjadi pusat perhatian, apa yang mereka lakukan mungkin diikuti, apa yang mereka pakai bisa saja dibeli, dan seterusnya. Di media sosial, ada posting mereka tentang perayaan kemenangan, positive thinking setelah kalah di pertandingan, kerja keras di lapangan dan gym di markas latihan klub, dan lain sebagainya.

Pemain-pemain yang benar-benar punya nama seperti Cristiano Ronaldo dan Paul Pogba menjadikan socmed-nya sebagai channel untuk berpromosi, misalnya tentang sepatu atau jersey baru mereka.

Dejan Lovren mengalami ancaman pembunuhan keluarganya yang menurutnya, “menjijikkan”. Meskipun tampil buruk dan diganti di menit ke-31, ketika Liverpool kalah 4–1 dari Tottenham, dia merasa itu sudah berlebihan. Ok, dicaci ketika bermain buruk itu biasa. Tapi kalau sudah menyangkut keluarganya, apalagi sampai ada ancaman pembunuhan, itu sudah menjijikkan, menurutnya.

Bagaimanapun, pesepakbola itu manusia. Yang kinerjanya seringkali dipengaruhi emosinya. Kalau positif, maka dia akan bermain maksimal. Sebaliknya ketika pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif, apalagi dari orang-orang atau follower di social media yang tidak dia kenal. Maka ikut buruk pula permainannya di lapangan.

Apalagi bila dia adalah seorang kapten. Atau motor permainan. Seorang yang punya pengaruh, didengarkan dan diperhatikan oleh rekan-rekan setimnya. Bila mentalnya sedang buruk, bisa buruk pula permainan timnya.

Pesepakbola tidak lagi bisa sekedar berlatih dan bermain. Pesepakbola saat ini juga berperan sebagai public figure, offline atau online, mereka akan dijadikan panutan. Meskipun sebagian di antara follower akan mencibir, memaki, bahkan mengancam pembunuhan atas mereka.

Reference:

https://www.theguardian.com/football/2017/nov/12/why-do-so-many-footballers-opt-to-sit-in-the-virtual-stocks-on-social-media

Skema Kompensasi Marketing Freelance


Tugas marketing freelance. Tentu saja tugasnya adalah menjual. Yang baru sanggup saya bahas ada dua, freelance marketing property dan freelancer yang umum kita ketahui bersama itu (copywriter, desainer, web programmer, penulis, fotografer, dst).

Freelance marketing property pemula. Berat bagi perusahaan untuk memberi gaji pokok pada penjaja (salesman). Sebab jualan properti itu karakteristiknya: (1) produk yang dijual harganya tinggi/mahal. (2) Sangat tergantung kondisi perekonomian secara umum, yaitu bunga bank, daya beli, dan lain sebagainya. Simpulannya adalah jualan properti itu tidak mudah. Meski tidak mungkin ya. Buktinya ada teman SMP saya yang bisa makmur dari menjual rumah di Yogyakarta sebagai freelance marketing.

Skema kompensasi marketing freelance property biasanya hanya berupa komisi penjualan. Berhubung produk yang dijual harganya mahal, maka komisinya tidak sedikit. Teman saya di Yogya tersebut, bisa dapat hingga Rp5juta per unit rumah terjual. Tentu tidak hanya sampai pembeli membayar DP saja, melainkan hingga semua proses administrasi antara pembeli dengan developer berhasil.

Beda komisi dengan insentif. Komisi adalah keuntungan yang diterima langsung jika telah menjual produk perusahaan. Sedangkan insentif adalah tambahan penghasilan yang diperoleh atas penjualan orang lain yang sudah dibinanya. Insentif ini terutama diterapkan di direct selling.

 

Cek gaji freelancer. (NB: Perhatikan tahun berapa artikel tersebut dirilis.)

Target adalah tolok ukur perusahaan untuk mendapatkan laba dan menghitung minimal break event. Nah, freelancer harus punya target juga, donk. Minimal harus bisa menabung. Tidak sekedar membuat ‘dapur mengepul’.

Cara mencapai target penjualan:

  • Menjual jasa freelance dengan harga tinggi kepada yang sanggup membayar.
  • Menjual sebanyak-banyaknya jasa freelance yang murah. Di sini, ukurannya adalah kecepatan ‘menggulung’ pekerjaan. Coba cek situs Fiverr. Kita bisa menjual jasa freelance di sana seharga $5 saja.

Mengapa Mengelola Pelanggan Lebih Penting Daripada Sebelumnya

Freelancer harus bisa mengelola pelanggan. Pelanggan yang tidak menguntungkan, seperti yang membeli tetapi membayar dengan cara mencicil, pelanggan yang wanprestasi, serta pelanggan yang suka berpindah adalah pelanggan yang perlu ditinggalkan meskipun mereka termasuk pelanggan lama.

Mempertahankan pelanggan lama yang sudah terbukti daya beli dan daya bayarnya, adalah kewajiban para freelancer agar ia terus mendapatkan penghasilan yang lebih.

Freelancer harus ‘sok akrab’. Familiaritas merupakan keunggulan. Kuncinya membangun hubungan dengan pelanggan seakan pelanggan adalah keluarga sendiri. Sebab masyarakat Indonesia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Namun sebagai ‘keluarga’, yang paling diharapkan oleh freelancer adalah ‘anggota keluarga’ yang tidak banyak menawar harga yang kita tawarkan.

Mengelola Keuangan Freelancer

Freelancer harus mengenal konsep berinvestasi. Baik investasi leher ke atas, maupun jenis investasi yang lainnya. Investasi leher ke atas, berarti kita turut mengembangkan akal pikiran kita, khususnya dalam bidang yang kita geluti. Jenis-jenis investasi lainnya bisa diartikan sebagai suatu tindakan menambah nilai kekayaan yang kita miliki. Tujuannya adalah menggelembungkan harta. Bisa juga untuk mendayagunakan penghasilan yang diperoleh. Alih-alih difungsikan sebagai barang konsumsi.

Freelancer harus mencatat pengeluaran. Aktivitas ini banyak dikhawatirkan menghambat keleluasaan freelance (dan keluarganya) dalam berbelanja. Lebih-lebih bila konsumsi tersebut menyangkut gengsi. Padahal, keberadaan daftar/rencana pengeluaran sangat berguna bagi seorang freelancer dalam mengendalikan pengeluarannya.

Seni Menjual

(1) Kenali target pasar. Ini contoh, bagaimana teman saya tersebut, membangun ‘persona’ atas pasar yang dia targetkan. Rumah tinggal secara umum, ditargetkan kepada suami istri. Terbukti pada akad kredit, keduanya bertanda-tangan dengan pihak bank. Di kota pelajar/mahasiswa seperti Yogyakarta, ada kalanya yang membayar pembelian rumah adalah orang tua dari mahasiswa. Dalam hal ini, kita bisa mendekati para orang tua (usia sekitar 40-an) atau kontak pertama dengan si mahasiswa.

(2) Personal branding. Freelancer perlu membangun personal branding terutama di bidang apa dia berkompeten. Repot kalau palugada (apa lu mau gua ada) terus. Kita akan dicurigai sebagai broker semata. Hanya cari pembeli, lalu menghubungkan ke teman-teman yang bisa mengerjakan. Tetapi tidak memiliki kompetensi sama sekali.

Boleh lha menjadi broker. Tapi pastikan memiliki kompetensi tertentu yang dikenal oleh pasar atau minimal teman-teman kita secara umum. Satu saja cukup. Supaya tidak cluttered di benak orang lain. Pilih satu, apakah fotografer, atau web designer, atau penulis, atau lain-lain.

Personal branding ini kemudian dibangun melalui media sosial, seperti blog pribadi (cocok untuk penulis), atau facebook (all type of social media), atau instagram (image-typed social media), atau behance.net, atau deviantart. Posting dan ceritakan tentang karya yang baru dirilis, atau progress terhadap karya yang sedang dikerjakan.

STP (Segmenting, Targeting, Positioning) adalah satu-satunya langkah stratejik dalam membangun branding yang tepat. Satu kali dalam periode tertentu, misalnya sekali setahun, silakan di-review lagi STP yang sudah dibuat. Apakah masih relevan ataukah sudah waktunya direvisi.

Beberapa review STP yang bisa dilakukan:

  • Apakah teman-teman saya / calon customer saya mengenali saya sebagai seorang freelancer di bidang tersebut?
  • Spesifik di category/niche apakah kompetensi saya, atau karya-karya yang saya buat?
  • Seberapa berdarah-darahkah category/niche yang saya geluti?
  • Apakah saya sudah waktunya berpindah ke kelompok target customer yang baru/berbeda?

Demikian. Semoga tulisan ini bermanfaat 🙂

Belajar dari Sepuluh Cucu


Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak

ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com 

 

Kopi Itu Digunting, Bukan Digiling*


Gaya hidup urban itu manifestasinya macam-macam kan ya. Dua di antara yang banyak itu adalah kafe dan kopi. Dua “k” ini belum bisa dipisahkan. Kafe ya umumnya jualan kopi, dan kopi premium yang lagi ngetrend itu umumnya dijual di kafe. Buat yang buka kafe di bandung saja, mencari positioning yang berbeda dan tepat itu susah setengah mati. Karena hampir semua kafe brewing-nya ya pakai mesin kopi yang harganya mulai dari puluhan juta itu.

lihat juga: lima kesalahan pebisnis kafe

“Waktu dulu masih belajar minum kopi, saya pikir espresso itu keren ya. Mau order yang itu aja ah, karena dari namanya aja sudah cool banget. Giliran pesanan datang, rasa tercekat menghampiri tenggorokan. Volumenya minim banget, dengan rasa yang luar biasa asam/pahit (tergantung jenis biji kopinya), dan tanpa rasa manis sama sekali.”

Ada yang bilang, ampas-ampas kopi dari mesin kopi itu masih bisa dipakai sebenarnya. Masih bisa menghasilkan ekstrak kopi (espresso). Kualitasnya jelas berbeda dibanding yang tetesan pertama (meminjam tagline kecap manis ABC), tentu saja. Tapi ya semestinya masih bisa dipakai. Katanya sih gitu. Sudah lama saya mendengarnya. Saya sampai lupa kata siapa 😀

Saya masih belum bisa menjalani gaya hidup urban yang satu itu. Waktu dulu masih di Jakarta, kan tidak terhindarkan ya. Namanya juga konsultan, lebih sering meeting di kafe atau di restoran. Baik yang stand alone, maupun yang ada di dalam mall. Bahkan pas eksekusi proyek dengan klien pun, yang disuguhi juga luar biasa lho. Menu-menu yang belum tentu sudah dirasakan oleh para karyawan di institusi klien itu sendiri.

Lihat juga: storytelling ala filosofi kopi

Namun, saya malah hampir tidak bisa lepas dari kopi-kopi yang instant. Ada dua kategori ya, ada yang sachetan, ada juga yang siap minum. Istilah kerennya RTD (ready to drink).

Kopi Instant RTD

Yang kedua ini, pangsa pasarnya dikuasai oleh Nescafe. Ada yang kemasan kotak, ada juga format kaleng bundar. Saya biasanya pilih yang Nescafe Coffee Cream daripada varian-varian yang lain. Dan lebih pilih yang kotak daripada yang kaleng. Sepertinya yang kaleng itu lebih keren saja daripada yang kotak. Saya suka varian yang cofee cream ini karena kombinasinya mantap. Kopinya enggak dominan, manisnya juga enggak kemanisan. Apalagi kalau diminum dingin. Makin mantap rasanya.

Sesekali, saya juga minum Kopiko 78 degrees. Brand extension dari permen Kopiko ini, rasanya oke juga lho. Kopinya lebih terasa. Secara umum, harganya lebih tinggi daripada Nescafe Coffee Cream. Wajar, yang satu volume 250mL, satunya 200 mL. Value dari si Kopiko 78 degrees ini tidak selalu lebih rendah daripada kompetitornya yang dari Nescafe. Karena kembali lagi ke tokonya menjual kedua barang tersebut di harga berapa. Bisa jadi lho, si Kopiko malah “more value” daripada si Nescafe.

Kopi Instant Sachet

Ini masih menyangkut gaya hidup urban juga sih. Tuntutan otak yang fresh dan kreatif dalam menghadapi pekerjaan meminta asupan minuman kopi yang bisa dibikin sendiri di dapur. Baik dapur rumah atau dapur kantor.

Saya pernah setia sama merek Torabika Cappucino. Yang tagline-nya Cappucino ala Café. Merek ini kemasannya lebih mengkilat lho daripada kemasan yang sebelumnya. Mudah-mudahan berefek ke penjualan ya. Apalagi ditopang sama TVC yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Merek yang ini sih tidak akan saya benar-benar tinggalkan (halah, kayak mantan aja ditinggal). Hanya saja, granul-granulnya ada yang terlalu kecil sehingga seperti terbang kala dituang ke gelas. Dan, seperti terlalu foamy (berbusa) bagi saya.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar memuaskan sih ya. Loyalitas saya terhadap suatu merek tidak gila-gilaan. Okelah sempat setia beberapa kali pembelian terhadap sebuah merek. Ujung-ujungnya muncul rasa bosan. Kemungkinan karena kapasitas merek tersebut dalam memberikan experience ya memang hanya bisa sampai segitu saja. Namanya juga produk FMCG (fast moving consumer goods) ya. Apalagi selalu muncul merek-merek baru yang menagih untuk dicoba.

Terakhir ini, saya sedang mencoba Tora Café. Sebelumnya lagi suka beli Chocolatos dari Garuda Food. Kalau minuman coklat, saya bakal kembali ke merek ini, instead of Milo atau Ovaltine. Sebelum Chocolatos, seringnya Good Day yang Chococcino. Yang terakhir ini, saya jadi tidak loyal karena begitu dituang air panas/dingin sampai lebih encer sedikit, rasa dan manisnya hampir hilang sama sekali.

Creating New Experience

Saya tadi berpendapat bahwa karena kapasitasnya memberikan experience memang hanya mampu segitu saja. Jadinya kita mencari sendiri experience tersebut. Terutama, kalau saya, dengan cara membuat menu-menu minuman yang baru. Misal mau yang dingin nih, pakai air biasa, atau air panas, terus pakai es batu, bagaimana hasil akhirnya. Atau kalau diaduk langsung dengan es batu, akan bagaimana sensasi dinginnya. Atau kalau mau diblender, bagaimana. Atau kalau mau ditambahkan susu cair, bagaimana. Dan seterusnya. Intinya mendapat experience dari proses pencarian menu itu sendiri. Proses ini dirasa lebih penting daripad hasil akhir “Rasa” nya itu sendiri. Tapi bagaimana rasanya tidak bisa diabaikan begitu saja donk. Tetap harus enak.

*) Judul prokatif di atas adalah sindiran untuk saya sendiri. Quote tersebut aslinya berbunyi, “kopi itu digiling, bukan digunting”. Sebagai sindiran untuk kaum yang meminum kopi sachet. Karena bagi mereka, sejatinya minum kopi berawal dari biji kopi yang digiling, dipanggang (roasted), dan diekstraksi.

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan menyebalkan pasangan?


Tidak semuanya yang menyebalkan itu buruk. Hanya saja kita membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan nonton hiburan seperti Drakor (drama Korea) bukan kebiasaan buruk kok. Tapi ya menyebalkan aja seakan gak ada yang lebih produktif untuk dilakukan. Semisal bikin Kebab yang #anytime #anywhere, misalnya :p

IMG_3568 - jkd

JKebab Delivery, yang selalu menantang kita untuk mencoba dan ketagihan #beranicoba #beraniketagihan

Lalu sudah tertebak jadinya gimana. Biasanya besok ngantuk dan tidur siangnya jadi panjang akibat semalam nonton drakor berepisode-episode hingga dini hari.

Saya juga candu sama bola sih. Mudah-mudahan pihak “sebelah sana” gak menganggap candu ini menyebalkan. Cek-cek skor terbaru, baca berita bola di koran langganan yang tidak saya bayar, sampai nonton ulang pertandingan di Bein (Grup Al Jazeera khusus sport) yang sebenarnya sudah berlangsung 5-6 hari yang lalu 😛

Alhamdulillah salah satu syarat hidup minimalis, yaitu tidak memiliki TV, sangat membantu saya supaya gak candu-candu amat sama sepakbola. Berita transfer Bakayoko kan bisa menyita perhatian banget. Lebay. Padahal enggak.

Jadi bagaimana cara supaya bisa beradaptasi dengan kebiasaan buruk milik partner hidup? Jawabannya adalah There is no special recipe, meminjam kata-kata bijak dari film Kungfu Panda.

Bangun pagi lihat dia, tidur malam lihat dia lagi, (#aih!) itulah yang membuat saya semakin bisa berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya sebut menyebalkan itu.

Selain itu, kuncinya adalah sabar. Alhamdulillah saya cukup bisa bersabar sehingga tidak berbuah tampar. Haha. Bagaimana caranya bisa sabar begitu? Kejar terus jawabannya, yak. Hampir gak ada tips dari saya untuk bisa bersabar. Malah tips yang ada, adalah bagaimana mengalihkan perhatian diri dari hal-hal menyebalkan dari pasangan.

Sebagai lelaki, saya cukup biasa menyendiri. Ini membuat saya lebih tenang, kalau “masuk gua” dulu. Di mana menyendiri? Gak harus pergi jauh dari rumah naik sepeda motor keliling-keliling kota tidak jelas arah dan tujuan hanya untuk menyendiri. Dengan “get in the cave“, saya memberi jarak pada masalah saya, sehingga saya bisa secara objektif memberikan tanggapan/perlakuan terhadap masalah tersebut.

Sebalnya kita sama pasangan itu wajar. Sebal kan emosi juga ya. Tapi kalau emosi, terus melahirkan tindakan-tindakan –dari seorang suami– yang tidak kita pikir panjang, bisa menyesal di kemudian hari.

Jika ingin marah, maka marahlah. Tetapi marahlah pada sesuatu yang tepat. Tidak semua kebiasaan menyebalkan harus berakhir dengan kemarahan. Namun tetap harus diingatkan dengan emosi yang terkendali.

Inilah gunanya hidup minimalis. Problem potensial dari penuhnya rumah oleh barang-barangnya yang belum tentu berguna seumur hidup telah menjauh sekian ratus kilometer. Sehingga masalah-masalah kita enggak banyak-banyak amat.

Konflik dengan Pasangan

Yang menyebalkan belum tentu jadi konflik. Tapi konflik tidak bisa ditangani seperti menangani hal-hal menyebalkan. 

Keadaan mulai gak enak itu kalau kami sekeluarga enggak keluar rumah. Susahnya hidup di kota, seakan pilihan terdekat, termudah, dan tanpa perencanaan hanyalah pergi ke mall. Padahal mall kan gitu-gitu aja ya di mana-mana. Banyak miripnya, dengan tenant-tenant yang mostly itu-itu aja. Itu pendapat saya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ngajak anak-anak makan di Gokana. Ternyata yang beda hanya suasananya dan es kopi blender-nya. Sebab anak-anak tetap hanya makan nasi telur + kuah kari. Hehehe. 

Tapi dari yang saya baca dan saya observasi langsung ke istri, ya mereka (kaum hawa) memang membutuhkan jalan-jalan ke luar rumah tersebut. Bagi perempuan, “pekerjaan utama” adalah mengurus dan membersihkan rumah. Sama dengan bekerja di kantor, rutinitasnya bisa membuat gila. Lelaki kebanyakan berpikir bahwa orang yang di rumah itu santai-santai aja. Padahal enggak sama sekali. Bahkan kesibukanya bisa 24×7.

Saya akui, kalau saya yang harus 24×7 di rumah, saya enggak akan bisa. Saya ini tipenya kudu keluar rumah tiap hari, melihat jalan raya setiap hari, ketemu orang baru setiap hari, dst. Kita harus mengapresiasi kaum wanita yang berperan mengelola rumah tangga.

Misalnya dengan membelikan lipstik seharga Rp500.000,- #eh

However, itu semua (termasuk pergi ke mall) gak akan cukup. Bibit-bibit konflik itu mulai bersemi kalau kita sudah lama tidak berduaan. Kudu ada waktu dan ruang di mana hanya ada kami berdua di sana. Sebagai suami, aku tuh gak bisa diginiin terus :p (hanya dibiarkan mengurus diri sendiri, maksudnya). Seakan hanya anak-anak yang diurus oleh istri. Dia pun, saya yakin dia tidak hanya ingin bertiga saja dengan anak-anak. Tentu dia membutuhkan ruang dan waktu di mana hanya ada dia dan suaminya. Ceilah, iya gitu? 😀 Saat ini, anak-anak masih membutuhkan perhatian yang teramat banyak dari kami. Keduanya masih berusia 2 tahun 4 bulan, saat ini.

Pokoknya, urusan-urusan terkait anak-anak kudu kelar, tapi juga jangan sampai menciptakan jarak (apalagi konflik) antar kedua orang tuanya. Teorinya sih begitu. Tapi pelaksanaannya memang masih jauh panggang dari api. Pernikahan kami seumur jagung pun belum ada. Kami masih terus belajar. Doakan kami ya supaya survive 🙂

Hidup Minimal Dapat Maksimal


Di artikel yang mengulas tentang disiplin, saya menyinggung beberapa hal tentang hidup minimalis yang menjadikan hidup jadi maksimal. Somehow, apa yang saya pikirkan dan rasakan, ternyata dikompilasi dan diteorikan oleh beberapa blogger di luar sana. Misalnya ada Joshua and Ryan , becomingminimalist.com , dan Courtney Carver

all you need is less

Tiga referensi ini jadi masukan bagi saya tentang konsep hidup minimalis itu sendiri. Tak lupa, saya subscribe dulu via email. Begitu mereka rilis konten baru, langsung masuk ke inbox saya.

Yang kebetulan terjadi hari ini dan agak lucu adalah, seorang teman SMA yang tinggal di Jogja dan dia bertanya, “Berapa mobil yang kamu punya?” Sontak saya heran dengan pertanyaan ini. Mungkin dia mau jalan-jalan ke Surabaya ya, hingga bertanya demikian. Saya jawab, “Untuk apa? Enggak ada. Kami kalau jalan-jalan pakai Go-Car. Dulu pakai Grab Car (sampai aplikasinya error dan tidak kami pakai lagi). Sebelumnya pakai Uber. Tapi error-nya bikin kami uninstall.”

Back to topic. So far, bagi saya, hidup minimalis itu mencakup lima hal, setidaknya sampai saat ini:

  • Bertempat tinggal
  • Berkendara,
  • Bercengkrama dengan anak-anak
  • Berpakaian,
  • Bersosial media, dan
  • Membeli buku

1. Living in tiny house

Cita-cita saya, punya kamar tidak terlalu luas. Isi kamar tidur hanya tempat tidur saja. Sisanya, saya kira bisa di luar kamar. Lemari pakaian, toilet bercermin, meja belajar/kerja. Supaya anak-anak juga tidak unsocialized di kamarnya masing-masing.

Kata saya sih, kebutuhan kita sama rumah itu gak besar-besar amat. Kita aja yang sering kehabisan space untuk menaruh barang-barang. Lagipula, rumah yang terlalu besar itu bisa bikin anak-anak “hilang”.

Misalkan dapur saja ya. Menurut saya, dapur itu adalah tempat di mana kompor, wastafel, rak piring, dan kulkas berkumpul menjadi satu kesatuan. Jadi sebenarnya ruangan ukuran 2×2 meter saja cukup untuk dapur. Dan letaknya harus dekat dengan ruang terbuka, untuk memudahkan keluarnya aroma dan panas.

Pastinya, rumah jangan lupa sama cahaya dan perputaran udara. Rumah kan bukan bangunan yang full 100% memproteksi kita. Namun rumah, adalah bangunan yang merekayasa alam (terutama cuaca) demi kenyamanan penghuninya tanpa melupakan faktor-faktor cuaca tersebut.

Contohnya begini:

  • Rumah untuk menghindarkan kita dari kehujanan, tapi bukan berarti tanah di mana rumah berdiri malah tidak bisa menghisap air hujan tersebut, ‘kan? Resapan air gagal terbentuk ketika semua bagian tanah dibeton.
  • Rumah melindungi dari teriknya sinar matahari, bukan berarti kita tidak mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari, ‘kan? Ruang terbuka sangat penting. Baik di samping, di belakang, atau di lantai dua.

Lumayan juga ya gagasan-gagasan saya tentang rumah. Another time maybe I should write about home and house. 

2. Use car sharing services

Penyakit kota besar adalah kemacetan. Saat ini, macet manusia masih bisa kita akomodasi. Padahal nantinya 60% penduduk dunia akan bertempat tinggal di daerah urban. Alias perkotaan. Macet kendaraan yang agak susah kita hindari. Sebab itu bila jalan-jalan dengan anak-anak, saya dan istri lebih suka memakai grab car, atau go-car. Aplikasi Uber yang dulu error, sudah kami cabut instalasinya dari tablet. Lagipula, Uber tidak ada kepastian harga. Bisa sangat mahal ketika sampai di tujuan.

3. Get any time with kids

Ini lebih pada tujuan daripada upaya. Saya diajarkan bahwasanya, anak-anak butuh kuantitas waktu (quantity time) kita, sayang sekali kita baru bisa menyediakan sedikit waktu yang kita upayakan berkualitas (quality time).

Kami coba hindarkan mereka dari “magnet-magnet” yang lain. Semisal TV. Sehingga mereka tidak distracted dari kami maupun dunia luar. Hanya karena fokus pada TV. Kami juga tidak ingin punya gadget berlebihan. Mudah-mudahan hanya bertambah satu device saja lagi setelah sudah ada satu smartphone, satu tablet, dan satu laptop.

4. Dress with less

Punya lemari pakaian, cukup satu saja. Recycle isinya. Tiap beli baju baru, sumbangkan satu yang lama. Sebagai pria dewasa yang tugasnya mencari nafkah, saya malah mengurangi t-shirt. Minimal tidak bertambah. Karena t-shirt hanya bisa berfungsi di rumah dan sekitarnya. Keluar rumah, terasa sopan hanya bila mengenakan yang berkerah. Baik kaos ataupun kemeja. Pergi ke masjid, saya mengusahakan untuk tidak memakai t-shirt. Minimal kaos berkerah.

Daripada membuang uang untuk motif maupun warna yang sekedar berbeda dari yang sudah saya punya, saya pikir lebih baik untuk sesuatu pakaian yang benar-benar memberi manfaat. Alhamdulillah, tiga potong di antaranya adalah kaos yang tidak menyerap keringat dan bisa saya gunakan untuk berolahraga. Kaos ini bisa juga dipakai sehari-hari di rumah.

Ada tiga warna yang saya suka: putih, coklat, hitam, atau abu-abu. Berarti ada 4. Kata saya ya, keempat warna tersebut bisa ditabrakkan dengan warna apa saja. Baik itu warna yang terang maupun yang gelap. Ini menghemat jenis atau warna pakaian yang hanya cocok dengan warna-warna tertentu saja.

5. Don’t need to have opinion on everything.

Sejak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu, di lingkaran saya seakan orang-orang terbelah jadi dua. Pro atau kontra terhadap Presiden Jokowi, pro atau kontra terhadap Calon Gubernur Ahok, dst. Seakan, setiap warga media sosial diminta untuk menyatakan keberpihakannya. Terutama via status facebook. Hukuman sosialnya adalah, loe gak gaul/perhatian/gak tahu apa-apa, kalau loe gak bikin status atau berkomentar di status orang lain terkait isu yang sedang hangat tersebut.

Ini semua membuat kita jadi pusing dan tidak produktif. Alih-alih fokus pada kerja dan karya, kita malah meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting. Social media membuat kita maju satu langkah. Namun penggunaan yang tidak positif malah membuat kita mundur dua langkah. Beberapa rekan bahkan berantem, atau unfollow, bahkan un-friend hanya karena perdebatan sengit di media sosial. Padahal mereka ya sudah lama enggak ngopi-ngopi bareng.

Lalu, harus bagaimana? Cukup sudah. Saran saya, kita hanya tidak harus punya opini terhadap segala hal, terutama yang sedang diributkan.

6. Buying “built to last” book

Novel terasa mahal. Sekali sudah dibaca dan tahu ceritanya, enggak mau baca lagi. Daripada mengulang baca, saya pikir lebih baik saya baca novel lain yang lebih baru. Dan saya tidak mau beli. Lebih baik pinjam. Lalu, anggaran untuk beli buku pada lari ke mana? Ke koleksi serius macam buku-buku bisnis dan manajemen.

Namun lama-lama, saya juga tidak membeli buku lagi. Bahkan hampir gak pernah lagi membaca buku. Karena bacaan saya sudah berpindah. Dari buku ke artikel. Banyak artikel yang saya “bintang”-i di internet, dengan gelar adalah “must read article“. Meskipun tidak semuanya sanggup saya tuntaskan.

Benar adanya, ya. Less is More. Semakin sedikit yang kita punya, maka semakin berarti apa yang kita miliki.

Apa saja yang berarti itu? Konsep less is more, alias hidup minimalis, membuat saya lebih sedikit merasa stress, lebih merasakan kualitas dan manfaat kala membeli sesuatu, serta semakin meminimalisir utang-utang konsumtif saya.

Disiplin Pribadi Mendorong Tumbuh Kembangnya Kreatifitas


Saya (hampir) tidak percaya. Awalnya saya memang ragu. Tapi kutipan yang menjadi judul artikel ini pasti benar adanya. Bagaimana perspektifnya kita saja dalam memahami kebenarannya. Saya menduga-duga dan lama baru menemukan apa maksud dari kutipan yang bela-belain dipahat di salah satu batu prasasti di sekolah.

Analogi yang paling pas adalah dari Mark Zuckerberg. Dia begitu disiplin dalam berpakaian. Sudah yang (kaos) itu, t-shirt model itu saja yang dipakainya terus. Jadi waktu dan pikirannya tidak terbuang percuma hanya karena memilah dan memilih baju apa yang mau dipakai untuk hari itu. Fokusnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan “Facebook”.

mark zuckerberg quote

1. Pikiran dan Waktu Luang

Artinya adalah sudah terbiasa dengan rutinitas harian kita. Agenda dan jadwalnya kita rutinkan setiap hari. Misalnya begini,

3.30~4.30 bangun + tahajud + tilawah

4.30 subuh

5.00 ma’tsurat + olahrag

6.00 sarapan

Etc.

Dengan agenda rutin terjadwal seperti itu, otomatis, ketika kita punya waktu luang, maka banyak ide bisa muncul. Dengan kata lain, agenda rutin terjadwal akan membuat kita menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin — sehingga tersisa waktu dan pikiran yang luang guna berpikir lebih kreatif.

Ada Angle yang lain. Masih sama dengan yang atas, tapi enggak sama-sama banget.

Bahwa mendisiplinkan pribadi pada bermacam-macam hal itu sudah tertata ketika diperlukan. Perlu baju, merem pun udah tahu tempat nya. Perlu buku, gak bercecer. Perlu catatan, rapi. Jadi pas kreatif, gak akan sampai hilang idenya hanya gara-gara bukunya tidak ketemu.

2. Determinasi

Disiplin pribadi juga bisa dipahami sebagai ketekunan atau determinasi. Bahasa lainnya, daya resiliensi (resilience). Dengan kita menekuni agenda rutin terjadwal tersebut, maka akan muncul kreatifitas. Opa Warren Buffet punya kutipan menarik.

warren buffet quote

Menurut si opa, kita itu akan bisa kreatif kalau sudah sejak lama, kita disiplin pribadi memupuk pengetahuan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kalau sudah “bukit” maka muncul kreatifitas.

Ane yakin kala kita disiplin pake baju yg itu-itu saha maka kita akan fokus pada hal-hal yang lebih penting, longer term, dan butuh kreatifitas.

Kalau dipaksa banget untuk memilih, dan tidak ada pilihan untuk tidak menentukan satu di antara dua, saya lebih memilih yang pertama. Ingat Mark Zuckerberg, jadi ingat t-shirt punya dia yang modelnya itu-itu saja. Pilihan semacam ini, bisa dibilang pilihan untuk hidup minimalis, sih.

Hidup Minimalis

(1) Punya lemari pakaian, cukup satu. Terlalu banyak pakaian malah bingung pakainya dan simpannya. Iya sih, tentu kita perlu membeli dan memakai yang baru. Paling tidak, biar kelihatan lebih “baru” di hadapan teman-teman kantor. Yang lama di kemana ‘kan? Di re-cycle saja. Kita berikan kepada yang memerlukan.

Ada project menarik yang diberi nama “project 333”. Intinya adalah hanya menggunakan 33 item pakaian (sudah termasuk aksesori seperti jam tangan, sepatu, dan perhiasan) selama 3 bulan.

(2) Kurangi snack dan minuman manis. Enak, tapi enggak ada manfaatnya sebenarnya. Palingan hanya sebagai pengurang stress. Gunakan cara lain supaya stress hilang. Misalnya rutin berolahraga (main futsal atau badminton contohnya). Tapi ya sekali-sekali gak ada gunanya. Harus rutin. Jadi pribadinya memang yang harus disiplin #eh.

(3) Buang (atau sumbangkan) barang yang tidak perlu. Clautrophobic itu gak asik banget. Merasa rumah gak nyaman karena terlalu banyak barang. Akhirnya cari kenyamanan di mall yang boleh duduk dan minum hanya di kafe-nya. Akibat dari ketidaknyamanan rumah itu mahal banget, memang.

Tiga hal di atas, itu baru sedikit saran saja. Saya pribadi masih belajar istiqomah menjalaninya. Tapi dari pendapat pribadi nih ya, dengan melakukan tiga hal tersebut saja, saya sudah mendapat room for more important things in my life, actually.

(Disiplin) Tidur Demi Kreatifitas

albert einstein quote

Menurut beberapa orang, dan sudah dibuktikan sendiri olah Oom Albert Einstein, level kreatifitas yang lebih tinggi itu diperoleh dengan lebih banyak merenung (dan tidur). Oom saya yang lain, Bill gates, :p konon mencari pemalas utk menyelesaikan masalah. Melalui perenungannya, pemalas akan mencari cara paling simpel. Dengan alasan yang sama, beberapa Programmer juga cocoknya punya jiwa pemalas. Karena pemalas, dia akan berjuang agar semua –hasil kerjanya– bisa otomatis. Mudah pada akhirnya. Mungkin bisa disebut pemalas dengan jiwa kejuangan tinggi.

Ki Suratman

SEORANG MURID PAMIT UNTUK TIDAK MASUK SEKOLAH KARENA AYAHNYA SAKIT. DUA HARI KEMUDIAN, SEBELUM MENGAWALI PELAJARANNYA, SANG GURU MENDEKATI MURID ITU DAN KEMUDIAN BERTANYA DALAM BAHASA JAWA: “PIYE GERAHE BAPAK?” (BAGAIMANA KESEHATAN BAPAK?). SAPAAN YANG SEDERHANA ITU SANGAT MENGESANKAN SANG MURID YANG HINGGA KINI TIDAK DAPAT MELEPASKAN DIRI DARI TAMAN SISWA (TS). GURU ITU ADALAH RM. SUWARDI SURYANINGRAT ATAU LEBIH DIKENAL DENGAN NAMA KI HAJAR DEWANTARA DAN MURID ITU ADALAH KI SURATMAN, KETUA PERGURUAN TAMAN SISWA. HUBUNGAN DENGAN GURU ITU JUGA MENUMBUHKAN MOTIVASINYA UNTUK MENJADI GURU HINGGA KINI.

Ki Suratman. Ki hadjar Dewantara. Ada yang bertanya, mengapa “Ki”? Ternyata “Ki” adalah sebutan khas (institusi) Taman Siswa. Muhammadiyah juga ada yg pakai sih. Semacam “kyai”, “kakek”, atau “aki-aki” gitu. Salah satu makna “syaikh” juga berarti seseorang yang sudah sepuh. Saking identiknya “ketuaan” dengan pengetahuan, sampai-sampai ada trainer yang memosisikan diri sebagai “Kakek”.

In short, orang disiplin akan kreatif dengan sendirinya. Inventor-inventor jaman sekarang juga kan sebenernya “disiplin” dengan habit mereka masing-masing. Then, lahirlah kreatifitas-kreatifitas mereka.