Inflasi S2


Haruskah mengambil dan lulus di program S2? Mungkin tidak akan ada yang menjawab “TIDAK”, ya. Justru sebagian malah bilang iya, “HARUS”. Sebagian yang lain akan bilang, “BOLEH” kalau dana atau waktu memang ada.

Sebab, kenyataan di lapangan menunjukkan ada banyak lulusan S2 sekarang. Terutama S2 bergelar MBA (Master of Business Administration). Jumlahnya kini jauh lebih banyak dibanding dulu. Tidak heran terjadi inflasi besar-besaran untuk lulusan S2.

Inflasi artinya jadi penurunan ‘nilai’ yang ditawarkan oleh lulusan S2 sekarang. Bukan apa-apa, sebabnya adalah suplai s2 — yang jauh lebih banyak dibanding dahulu — kini sudah menyebabkan pergeseran di kurva ‘demand and supply‘-nya. Padahal yang ditawarkan oleh para lulusan S2 tersebut praktis tidak berubah banyak. Sementara tuntutan pasar tenaga kerja kian meningkat dan cenderung dinamis. Jadilah lulusan S2, gelar MBA, mengalami inflasi.

Sebagai contoh ya. Puluhan tahun lalu di McKinsey, gelar MBA (masih) relevan untuk mendaftar ke kantor konsultan tersebut. Belakangan ini, MBA nyaris tidak membuat perbedaan signifikan. Kebanyakan pelamar sekarang di big three of consultans adalah para MBA. Karena supply MBA sudah banyak sekali di pasar tenaga kerja.

Dan kejadian tersebut tidak hanya di AS, Eropa, dan negara maju lainnya. Bahkan gelar MBA di Indonesia sudah banyak yang memiliki. Dalam konteks branding, pertanyaan yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan S2 manajemen adalah: apa perbedaan antara MBA dari kampus yang satu dengan kampus yang lain? Sedangkan untuk pemegang gelar MBA adalah: apa yang harus dilakukan supaya bisa tetap ‘tampil berbeda’?

Beberapa tahun terakhir, bergabung ke kantor konsultan manajemen kini tidak harus MBA. Bila memang punya, gelar ini akan memberi “kekuatan” lebih bagi kamu — karena tidak harus diajari dari nol. Tapi di kantor konsultan, MBA sekalipun bukan kewajiban — yang penting adalah bersedia belajar. Di berbagai industri secara umum, gelar S2 belum tentu memberi pertimbangan signifikan bagi rekruter di tempat kamu melamar pekerjaan.

Apalagi ada yang menjadikan S2 sebagai kesempatan untuk mengubah haluan dalam berkarir. Jadi alasan ini cukup berlaku bagi mereka yang merasa tidak suka/cocok dengan bidang S1-nya. Sehingga cukup lulus (atau lolos? :p ) saja dari almamater S1. Lalu memilih bidang lain untuk berkarya. Inkonsistensi pendidikan ini yang menurunkan value lulusan S2 kekinian.

Experience is the door
Di beberapa perusahaan memang tidak mengenal pembedaan antara lulusan S1 atau S2. Sebab semua dihitung berdasar pengalaman kerja. Lulusan S2 yang belum pernah bekerja dianggap sama dengan yang baru lulus S1. Mereka yang sudah punya experience, menjadi alasan untuk diterima bekerja pada bidang pekerjaan yang relatif sama. Experience adalah work activities yang dikerjakan berulang-ulang, setiap hari sehingga membentuk kompetensi yang dikehendaki di bidang pekerjaannya.

Sebab SDM tanpa pengalaman harus dibentuk mencapai produktifitas yang diinginkan oleh perusahaan. Dan bagi korporat, pembentukan SDM yang produktif adalah cost and investment tersendiri. Yang benefit-nya belum tentu datang dengan cepat. Bisa sampai 3 tahun, paling tidak.

Productivity is the key. Ijazah cuma jadi selembar kertas kalau tidak menaikkan produktivitas perusahaan. Lulusan S2 kalau tidak berkontribusi ke value chain-nya perusahaan juga jadi percuma S2-nya. Kasus ini tidak hanya untuk S2, lho. Termasuk juga S1. Gelar MBA saja sudah banyak, apalagi gelar S1 ya. Tidak heran mereka yang baru saja lulus S1 relatif bisa diterima bekerja di industri apa saja. Karena sekarang, gelar sarjana berarti semacam legalisasi bahwa penyandang gelar tersebut siap belajar dan siap dibentuk oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Menurut saya, inflasi S2 telah terjadi di pasar tenaga kerja. Bagi diri kita sendiri, inflasi tersebut tidak terjadi. Terutama, ketika niat kita mengambil S2 adalah untuk belajar sepenuhnya. Jadi bukan karena mau naik jabatan, pindah haluan karir, dan sebagainya. Jadi memang niat kita full untuk belajar mengembangkan diri dan menyempurnakan pengetahuan kita di bidang S2 tersebut. Terlepas dari bidang karir dan pekerjaan kita yang terkait atau tidak terkait dengan jurusan S2 itu.

Saran
Langsung mengambil program S2 (pasca S1) juga oke saya kira. Jadi sekalian aja selesaikan sekolah baru fokus berkarya. Bila perlu sekalian S3 baru cari kerja. Ingatlah siapa-siapa dari rekan anda yang baru saja lulus S1 terus bekerja, lalu jadi galau: pas kuliah pengen kerja (supaya bisa pegang duit yang lumayan), pas sudah kerja pengen kuliah (lagi). Daripada mengambil S2 sambil bekerja. Saya lihat Kerja sambil S2 itu melelahkan dan tidak fokus. Baik yang kelas malam, maupun kelas akhir pekan. Pengecualian atas semua saran di atas adalah: resign, lalu mengambil S2 (sambil jalan-jalan) di luar negeri. Yang terakhir barusan adalah saran terbaik yang pernah ada.

Dengan segala faktor penyebab inflasi-nya S2 di atas, apakah lantas tidak perlu mengambil S2? Ya tidak juga. Tapi mengambil manfaat terbaik yang bisa diberikan, adalah inisiatif yang harus kita lakukan.

Related Post:
Kapan Sebaiknya Kuliah S2?
Memilih Program Studi S2

Dipublikasi di PENDIDIKAN | Tinggalkan komentar

Sisi Lain Roman Abramovich


Saya yakin, entrepreneur macam Roman Abramovich ini engga sekedar pengen punya klub sepakbola. Owner of Gazprom di Rusia memandang berbagai aspek sebelum melakukan pembelian. Bagaimanapun, pembelian Chelsea (140 juta poundsterling tahun 2003) ini harus berimpak positif secara finansial. Dan mengembalikan semua investasi yang sudah dikeluarkan (terutama untuk belanja pemain) adalah semua yang kini dia berusaha lakukan.

FYI, berbagai manajemen klub sepakbola di dunia memilih satu di antara tiga model bisnis yang lazim dipakai oleh klub sepakbola:

1) Model “Talent Development“. Pengembangan pemain muda, yang kemudian dapat dijual lebih mahal ke klub lain. Marjin besar ini kemudian diputar kembali ke dalam sistem yang mereka miliki. Klub seperti ini biasanya punya sekolah sepakbola dengan brand yang dikenal di seluruh dunia. Model ini diadopsi oleh: Southampton, Ajax Amsterdam, Feyenoord, Boca Juniors, Sao Paolo, dan lainnya. Sumber daya keuangan yang sangat terbatas adalah latar belakang dari semua inisiatif di atas.

2) Dengan contoh Real Madrid-nya Florentino Perez (2000-2006, dan 2009-sekarang), model “Superstar Acquisition” ini menghabiskan banyak uang untuk mengontrak pemain yang sedang dalam performa maksimal (Cristiano Ronaldo 2009, Gareth Bale 2013) yang bisa memberikan jaminan juara. Tidak heran Madrid dijuluki los galacticos: tim dengan pemain dari galaksi lain. Model ini sesuai dengan thesis “blockbuster strategy“-nya Anita Elberse (profesor HBS). Yaitu investasi besar-besaran ke sedikit pemain yang sudah engage di hati penggila bola di seluruh dunia. Makanya mereka rekrut James Rodriguez yang main keren di World Cup 2014 lalu. Pembelian pemain ini diyakini akan meningkatkan penjualan jersey atas nama tersebut di negara asal: Kolombia. Sekaligus me-leverage brand Real Madrid di sana.

Terbukti, model operasional ini berhasil mempertahankan Real Madrid sebagai klub yang selalu nomor satu (sejak musim 2003/04) untuk urusan omzet. Dengan tolok ukur paling utama digunakan dalam mengukur finansial sebuah klub sepakbola adalah rasio gaji (pemain) terhadap omzet. FYI, di bisnis klub sepakbola, pengeluaran terbesar ada pada biaya transfer (ke klub lama si pemain) dan gaji. Paradoks yang bisa kita petik dari kasus Real Madrid adalah pengeluaran jor-joran untuk pemain beken ternyata justru memberikan marjin yang paling besar dibandingkan dengan dua model finansial yang lain.

Berikut data-datanya. Real Madrid konsisten berada di kisaran 43-48 persen. Pada musim 2013/14, Real Madrid di angka 45%. Sebagai perbandingan pada musim yang sama, Barcelona sebesar 51%, Manchester United 50%, Manchester City 59%. Maksimum rasio yang direkomendasikan oleh European Club Association adalah 70%. Sudah banyak kasus klub yang bangkrut karena pengeluaran gaji pemain yang terlalu besar tapi tidak diimbangi pemasukan: Deportivo La Coruna, Leeds United, dan Anzi Makhachkala.

3) Model “Portfolio” yang merupakan kombinasi keduanya, kini mulai diterapkan oleh Barcelona, Manchester City, dan Chelsea di klub masing-masing. Model ini sebenarnya dikembangkan dan diimplementasikan di Manchester United (MU) oleh Sir Alex Ferguson. Pria Skotlandia mengkombinasikan talent-talent binaan akademi (best practice-nya adalah Class of 92) dengan pemain-pemain mahal MU: Ruud Van Nistelrooy, Robin van Persie, Rio Ferdinand.

Masing-masing model finansial ini menentukan bagaimana sebuah klub akan merekrut, mengembangkan, dan mengelola talenta-talenta (pemain) yang mereka miliki.

Nah, kembali ke klub milik Roman Abramovich. Chelsea mengadaptasi model ketiga, yaitu “Portfolio“. Chelsea berbeda dalam hal (1) jejaring global pencari bakat dan (2) kebijakan peminjaman pemain ke klub lain. Pemain-pemain asal Belgia berikut ini menjadi contoh bagus bagaimana jejaring pencari bakat dan kebijakan pinjaman memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea.

(1) Thibaut Courtois (dipinjamkan ke Atletico Madrid; kini jadi kiper utama menggeser Petr Cech). Semua transaksi tersebut dalam kurun waktu tiga tahun hanya me-“rugi”-kan Chelsea kurang dari 3 juta poundsterling.
(2) Kevin de Bruyne (dipinjamkan Werder Bremen lalu dijual ke Wolfsburg), menguntungkan Chelsea sebesar 9.7 juta poundsterling dalam 2 tahun kepemilikan.
(3) Romelu Lukaku (dipinjamkan ke West Brom dan Everton; dijual ke Everton), Chelsea untung 12 juta poundsterling pasca 3 tahun kepemilikan.
(4) Thorgan Hazard (adiknya Eden; dipinjamkan ke Borussia Monchengalbach; dijual ke klub yang sama dengan laba 5 juta poundsterling setelah 2,5 tahun kepemilikan).

Laba total dari keempat pemain di atas adalah 23.7 juta poundsterling. Dan dengan akumulasi laba hasil dari pola pembelian dan penjualan yang sama, tentunya Chelsea akan dapat mengimbangi pembelian pemain “siap-pakai” semacam Cesc Fabregas (33 juta pounds), Diego Costa (32 juta pounds), Filipe Luis (15.8 juta pounds), dan lain-lainnya. FYI, omzet sebuah klub sepakbola dalam setahun berasal dari beragam sumber: hak siar, sponsorship, penjualan pemain, penjualan tiket penonton, dan lain sebagainya. Tidak heran klub selalu mengejar gelar juara (dan memecat pelatih yang gagal mengantongi gelar). Sebab hak siar, sponsorship, penjualan tiket, akan semakin membesar apabila klub yang bersangkutan sering juara. Sering juara juga akan berimpak pada meningkatnya nilai intrinsik dari brand klub itu sendiri. Tentang brand value kita coba bahas kali lain ya.

Padatnya pemain berkualitas di Chelsea tidak memberi kesempatan pemain muda potensial mendapat waktu dan pengalaman bermain. Peminjaman pemain ke klub lain oleh Chelsea adalah sarana meningkatkan kualitas dan pengalaman pemain yang bersangkutan. Keempat pemain di atas hanya bermain selama 295 menit (rerata per pemain 75.75 menit) untuk Chelsea. Tidak hanya kualitas dan pengalamannya yang meningkat, tetapi juga nilai jual di pasar transfer pemain yang juga semakin meninggi.

Pola pencarian omzet seperti ini yang menjadi sisi lain dari Roman Abramovich. Ini merupakan lanjutan dari berbagai inisiatif-inisiatif yang sudah dilakukan sebelumnya: belanja pemain-pemain mahal, lalu merekrut (sekaligus memecat) pelatih yang diharapkan membawa pulang gelar juara ke Stamford Bridge. Even Roberto Di Matteo dan Rafael Benitez tidak dipertahankan pasca menjuarai Liga Champions dan Liga Eropa.

Related Posts:
Strategi Bisnis Klub Sepakbola 

Dipublikasi di SEPAK BOLA | Tinggalkan komentar

Paradoks Sehat – Sakit


IKASTARAN Challenge sudah berakhir sejak 1,5 minggu lalu. Dan baru tadi pagi saya olahraga kembali. Padahal bulan lalu, setiap hari saya selalu menyediakan waktu untuk lari. Minimal jalan atau bersepeda dalam jarak yang lumayan. Break 1,5 minggu tersebut melenakan juga ternyata: badan kurang seger, otak kurang enak dipake berpikir. Perasaan stress dan kurang produktif kemudian mengantarkan kita pada menu-menu mood booster yang belum tentu sehat: junk-food yang kolesterol tinggi atau snack-snack yang kandungan gulanya lebay.

Ujung-ujungnya merasa sakit dan harus keluar biaya atas sakit itu (analisis darah/urin, periksa dokter, obat, suplemen, dst). Padahal sakitnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat yang ternyata berbiaya jauh lebih rendah. Ada beberapa contoh di sekitar kita, yang tidak kita sadari tapi akan menentukan kualitas kesehatan kita di masa depan.

Jalan vs Berkendara 
Kalau mau jalan saja, yang sehat adalah jalan cepat selama 30 menit. Jangan salah, ini bukan jarak yang dekat, lho. Otak kita yang bias “merasa” sudah jalan jauh atau sudah berjalan cukup lama, padahal baru selemparan bola tenis saja. Pengalaman saya jalan kaki dari kantor ke rumah, ternyata tidak cukup lama (dan tidak jauh). Saya sampai dalam 15-20 menit, dan ternyata itu baru sekitar 2 km sahaja. Belum jauh.

Di sisi lain, kota-kota kita di Indonesia seperti “sudah dari sononya” tidak laik untuk pejalan kaki. Mulai dari trotoar yang belum ada (jalan sudah beraspal saja syukur alhamdulillah), atau trotoar yang tidak layak dipakai (ekspansi pedagang kaki lima, atau pesepeda motor yang tidak sabaran). Kita jadi terdorong untuk “malas jalan/sepeda/lari” dan lebih pilih pakai motor/mobil/kendaraan umum.

Terbiasa berkendara dan merasa mampu membayar semua ongkosnya berakibat kurang peka terhadap pengeluaran. Sebaliknya, karena secara umum mobilitas dan transportasi relatif tinggi, maka bila terjadi penurunan pengeluaran transport orang Indonesia cukup tinggi pula. Biaya transport menelan sekitar 30% pengeluaran bulanan untuk mereka yang tinggal dan bekerja di Jabodetabek. Hati-hati, sisa dananya jangan sampai berubah jadi junk food.

Junk vs Healthy Food
Sepertinya di mana-mana banyak makanan yang kurang kita perlukan. Enak sih enak, tetapi kurang seimbang. Hamburger, fried chicken, minuman bersoda, processed food, dan sebagainya. Menu-menu tersebut didominasi karbohidrat dan protein. Konsumsi daging, telur biasanya meningkat seiring dengan kenaikan kelas ekonomi dan sosial seseorang. Tetapi kurang akan sayur, buah, atau serat (fiber) dalam format lain. Belum lagi harganya yang jauh dari standard warung makan tradisional.

Padahal, you are what you eat. Kalau kamu makan sampah, maka tubuhmu akan menjadi “sampah”. Demikian sebaliknya. Yang utama adalah me-lengkap-i (karbohidrat, lemak, protein, serat) dan menyempurnakannya. Konon, makanan yang sehat adalah yang masih jauh dari proses olahan. Ibarat makan kentang, kentangnya hasil beli di pasar lalu diolah sendiri di rumah. Bukan yang siap goreng dan tersedia di supermarket terdekat di kota anda :p

Puasa juga tidak kalah baiknya. Selain memberi istirahat pada organ pencernaan, puasa memberikan kesempatan agar tubuh memecah lemak untuk dapat energi baru. Konon, gula dalam darah kita itu berusia 12 jam (selama tidak makan apapun lagi). Setelah itu, energi diperoleh dari lemak tubuh yang mengalami metabolisme. Di Indonesia, orang berpuasa sekitar 14 jam. Kan lumayan tuh fat loss effect-nya kalau puasa senin-kamis bisa rutin 2x seminggu.

Puasanya Om Deddy Corbuzier (baca: diet OCD) juga bagus, kok. Selama tidak pusing berkepanjangan dan tidak tersiksa akibat kelaparan. OCD itu puasanya antara 16-20 jam dalam sehari. Masukan kalori yang terbatas ke badan juga diikuti dengan berkurangnya keluaran dari dompet kamu. Pas lagi puasa, waktu yang paling bagus untuk berolahraga adalah jelang berbuka puasa. Sekitar 1-2 jam sebelum adzan magrib.

Dari dua kasus yang disajikan di atas bisa disimpulkan bahwa sehat-sakit itu paradoks. Sebab bila dipandang dari perspektif finansial, ternyata sehat itu murah (dan sakit justru mahal). Biaya tinggi mulai dari sebab sakitnya, hingga pengobatan atas sakit itu sendiri.

Paham apa itu sehat memang sulit. Sebab tidak bisa memahami sang sehat saja. Untuk tahu apa itu sehat, kita harus merasakan sakit dahulu. Seperti sebuah nasihat yang kekal abadi: manfaatkan sehatmu, sebelum datang sakitmu.

Related Posts:
– Middle Class: Going Healthy
Mindful Eating
Tips Berolahraga di Rumah

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

IKASTARUN Challenge 2015


Selama run challenge hampir sebulan di April 2015, alhamdulillah sempat merampungkan 21 kali lari. Berikut ini grafik raihan mileage saya.
IKASTARUN Challenge 2015

Total mileage: 100.8 km (alhamdulillah bisa tembus 3 digit); Average: 4.8 km.Berikut ini tips-nya:

  1. Lapar tapi lari itu engga enak banget! Mending ada ngemil-ngemil kecil dulu. Boleh juga makan besar. Tapi jarak makan berat dengan lari minimal 1 jam ya.
  2. Pemanasan. Peregangan dulu: Pergelangan kaki, sendi lutut. Itu dua yang paling utama untuk saya.
  3. Kombinasikan jalan dan lari selama pemanasan. Jalan dulu, baru lari, lanjut jalan lagi selama pemanasan.
  4. Jarak pemanasan minimal: 2 km. Hehehe :D Di antara kamu mungkin ada yang bilang ini bukan pemanasan lagi ya :p
  5. Pas udah serius lari, mulai dengan perlahan. Ini kan bukan lari cepat (sprint). Yang kita kejar adalah jarak tempuh. Daya tahan jadi faktor penting. How many minutes can you run?
  6. Daya tahan lari saya ditunjang minum yang rutin. Bawa botol kecil bila perlu. Soalnya yang paling challenging itu menahan panas di kerongkongan. Kalo ga minum dikit-dikit, bakal lebih cepat selesai lari.
  7. Minimal berlari (dan bisa diaplikasikan ke olahraga lainnya) selama satu jam. Capeknya jelas, tapi yang paling utama saya incar: stress hilang. Pekerjaan yang teringat sepanjang malam segera hilang lepas satu jam olahraga.
  8. Daripada memaksakan lari langsung banyak, mending dikit-dikit (5 km) tapi rutin (tiap hari). Daripada langsung 15 km pas CFD tapi cuma seminggu sekali. Kan lagi ngebangun daya tahan ceritanya.
  9. Lari saya ternyata lebih maksimal kalau dilakukan sekalian pagi (habis subuh) atau sekalian malam (setelah isya).
  10. Ga usah kebanyakan tips. Persis keq moto satu brand apparel aja: Just do it. Inovasi bisa sambil jalan.

Related Posts:
1. Going Healthy
2. Healthy Life Style
3. Cara Mengatasi Stress

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tag , | Tinggalkan komentar

Kelas Menengah dan Motor Sport


Berdasarkan data asosiasi sepeda motor Indonesia (AISI) pada tahun 2014, penjualan motor bebek telah turun drastis hingga mencapai 54% dalam rentang waktu 5 tahun (2009-2014). Sementara itu, motor sport naik tajam mencapai 133% pada periode yang sama. Jadi, kehadiran motor sport ini telah mengisi penurunan penjualan motor bebek dengan signifikan. Apa itu motor sport? Motor sport adalah kategori kendaraan roda dua dengan volume ruang bakar lebih dari 150 cc.

Apabila kita amati, baru-baru ini, motor sport telah menjadi pilihan baru kelas menengah Indonesia untuk berkendara. Ini terbukti sangat larisnya penjualan motor-motor sport keluaran Yamaha, Honda, Kawasaki, Suzuki, dan bahkan Ducati. Di mana, kami mendefinisikan kelas menengah Indonesia (Consumer 3000) memiliki tiga ciri utama. Pertama, memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, pintar (more knowledgeable). Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (sociallyconnected).

Kelas menengah dengan tiga ciri utama tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan motor sport. Berikut ini kita ulas beberapa poin menarik dari keterkaitan tersebut.

Emotional Benefit
Kami haqulyakin bahwa alasan utama larisnya motor sport di Tanah Air adalah emotional benefit. Artinya, kelas menengah membeli dan menggunakan motor sport bukanlah semata-mata untuk kebutuhan berkendara dari satu tempat ke tempat lain saja. Kelas menengah membutuhkan barang konsumsi seperti motor sport yang mampu mendongkrak imej mereka di mata kolega agar terlihat lebih keren, elegan, dan gagah.

Selain itu, motor sport termasuk kategori kendaraan dengan teknologi tinggi untuk menjamin keamanan berkendara. Para pembeli dan pengguna motor sport tentu feel safe mengenai keselamatan mereka di jalan raya. Di samping itu, mereka juga merasakan sense of success kala mengendarai jenis motor tersebut di jalan raya. Sebab para motor sport rider tersebut menggunakan motor berkelas tinggi dengan harga yang mahal pula. Feel safe dan sense of success merupakan emotional benefit yang dihadirkan oleh brand-brand motor sport.

Taste of Design
Sebagai segmen ekonomi-sosial yang berwawasan (knowledgeable), kelas menengah bisa dikatakan mengamati berbagai perkembangan desain di sekitarnya. Pengamatan ini kemudian berujung pada pemahaman serta preferensi konsumen terhadap produk-produk dengan desain yang berkualitas. Khusus untuk motor sport, desain dengan komposisi warna dan bentuk yang menarik mereka pandang sebagai suatu keindahan tersendiri.

Namun demikian, “taste of design” tidak melulu mengenai tampilan warna dan bentuk yang indah dari produk. Tetapi juga bagaimana produk tersebut didesain untuk “bekerja” bagi pengendaranya. Dengan desain yang lebih atraktif, sporty, suara knalpot cukup kencang, tarikan gas (akselarasi) lebih tinggi, warna elegan, dan harga yang mahal memberikan kenyamanan dan kepuasan berkendara tersendiri. Semua hal tersebut menunjukkan “taste of design” pengguna motor sport tersebut.

Massclusivity
Kepemilikan barang yang hanya dimiliki oleh kalangan terbatas akan menghadirkan rasa “diistimewakan” para konsumen pengguna brand. Perasaan eksklusif inilah yang dialami oleh para pemilik motor sport. Lebih lanjut, para konsumen ini merasakan keunikan serta kekhususan yang berbeda dari kebanyakan konsumen sepeda motor (terutama motor bebek dan matic). Meski demikian, hak yang istimewa ini kemudian berkembang menjadi eksklusifitas massal (mass exclusivity atau singkatnya massclusivity).

Sebab dalam rangka meningkatkan penjualan, brand pun tidak segan-segan untuk terjun dan menarget segmen ekonomi yang lebih massal. Seperti misalnya yang pernah dilakukan oleh produsen motor kelas dunia: Ducati. Perusahaan otomotif asal Italia ini merilis motor sport untuk kelas 800 cc dengan harga sekitar Rp 225 juta yang diyakini cukup murah serta lebih mudah dijangkau oleh kelas menengah.

Intinya, kami melihat produsen global seperti Ducati pun ingin menggarap pasar kelas menengah Indonesia yang telah tumbuh secara eksplosif, tetapi karena daya beli kelas menengah belum terlalu besar, sehingga Ducati menerapkan strategi value innovation.

Value Innovation
Sebagaimana yang disebut Prof. Chan Kim (ingat buku Blue Ocean Strategy) inovasi nilai (value innovation) adalah kemampuan menghasilkan extraordinary value dengan cara meningkatkan benefit, sekaligus menurunkan cost yang harus dibayar konsumen. Kelas menengah memang paling rajin menuntut adanya inovasi nilai. Segmen yang kian knowledgeable ini semakin men-drive berbagai pemain di seluruh industri untuk melakukan berbagai inovasi nilai.

Tidak terkecuali pada kategori motor sport. Inovasi nilai dilakukan lewat penerapan skema harga yang menarik untuk menopang berbagai benefit yang tercakup dalam satu unit motor. Dengan inovasi nilai seperti ini, motor sport kemudian laris di kalangan kelas menengah. Buktinya adalah banyak warga kelas menengah yang bela-belain memiliki motor sport dari berbagai brand. Meskipun harga motor jenis ini terbilang cukup tinggi, tetapi daya serap kelas menengah terhadap kategori ini menjadikan produk ini “laris manis tanjung kimpul”.

Dengan demikian, motor sport bukan lagi menjadi barang mewah, melainkan sudah masuk kategori mass luxury. Yakni produk-produk mewah (luxurious) tetapi dimiliki secara massal oleh masyarakat umum.

Berdasar semua ulasan ini, kami meyakini bahwa pasar motor sport ke depan akan sangat dinamis dan bergairah. Ini adalah kategori yang relatif baru dan tetap bertumbuh ke depan mengingat kelas menengah masih akan bertumbuh; baik secara jumlah maupun daya beli. Sehingga perlu eksplorasi dan pendalaman lebih lanjut oleh para pemain di kategori ini.

Related Post:
Akik
Value Innovation
Going Healthy

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tinggalkan komentar

Plan+(n)ing


Plan itu bukan “saya jam sekian mau berangkat, jadi satu jam sebelumnya saya mau mandi”. Bukan pula “besok saya mau ini itu, semuanya harus beres besok”. Itu yang “bukan-bukan”. Kalau plan yang “iya-iya” adalah “tahun ini saya mau menikah. Berarti tahun ini pula dananya harus tersedia, tahun ini juga lamaran, nanti mau bulan madu di mana, dst”. Segala challenge sudah kita perkirakan dan antisipasi sebelumnya. Termasuk soal jodoh ya, mblo :D

Kita mulai dari soal-soal keuangan ya.

Financial Plan
Islam menuntut kita jadi umat yang kaya. Yaiyalah, lha wong kudu sedekah, kudu zakat, naik haji, umroh, dst. Semua “kudu-kudu” itu kan ada biayanya. Dan harus masuk dalam (financial) plan. Perlu duit berapa, kapan perlunya, untuk apa, dan seterusnya. Sebab inflasi selalu menghantui harga-harga barang dan jasa di sekitar kita.

Soal finansial juga tidak boleh main-main. Ingat kata om Bill Gates, “if you are born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s definitely your mistake“. Makanya kita kudu sadar posisi kita di hierarki pengelolaan keuangan. Supaya bisa decide next step, then go, and grow. Yaitu mengejar target omzet (kalau bisnis), dan memburu target pendapatan.

Meal Plan 
Kondisi keuangan kita kadang (bagi beberapa orang) sangat ditentukan oleh meal plan mereka. Ada yang boros beberapa hari setelah gajian demi memenuhi hasrat lidah dan kerongkongan. Padahal semua sama saja setelah masuk lambung, ya. Ada juga yang berhati-hati menentukan dan mengkonsumsi protein nabati dan hewani demi terbentuknya otot-otot jomblo penarik hati para gadis jomblo.

Yang terbaru adalah konsep mindful eating yang mulai banyak diadaptasi kelas menengah. Saya kira tidak semua yang sehat itu mahal, dan tidak semua yang mahal pasti sehat. Buktinya, junk food yang lebih mahal itu ternyata lebih “menyakitkan” dibanding warteg sebelah rumah yang pelayanannya lebih cepat itu :D

Travelling Plan 
Jangan di situ-situ aja ma begitu-begitu aja. Sesekali pergi travelling. Mulai dari dalam negeri. Kalau sudah berkunjung ke semua, silakan ke luar negeri. Coba tengok perilaku travelling kelas menengah, deh. Biar kebayang seperti apa mereka melakukan semuanya. Bela-belain beli tiket 6 bulan atau 1 tahun sebelumnya. Go show alias langsung jalan oke juga sih. Tapi ya, tidak semua destinasi bisa begitu. Semisal trip ke krakatau atau naik gunung Papandayan masih bisalah.  But, some destination needs travelling plans.

Life Plan 
Bahkan aktivis kampus banyak juga yang bingung dengan rencana hidup pasca kampusnya. Terbiasa hajar sana-sini dalam periode yang singkat, kini bingung dengan “big things” yang mau dicapai dalam hidup. Bagi mereka, ada terlalu banyak pilihan dan ingin mencapai semua pada saat yang bersamaan. Mereka jadi lupa konsep “focus”.

Profesi apa yang ingin dijalani pasca kampus? Bagi beberapa orang tertentu, analisis mendalam terhadap profesi idaman di masa depan juga perlu dilakukan. Serta pemahaman lebih membumi tentang profesi yang dapat mereka jalankan dengan passionate.  Soal yang satu ini, lebih baik berhati-hati karena profesi yang tidak tepat berakibat pada stress tak berujung.

Think Big
Ada yang menyepelekan jadi tidak menyiapkan waktu untuk berpikir. Ini jadi alasan kenapa evaluasi akhir tahun (lama) dan resolusi tahun baru adalah hal penting. Banyak yang menjalani hidup sekedarnya saja. Ceuk urang sunda mah, “engke kumaha, teu kumaha engke”. Jadi bukan, “gimana nanti aja”. Tapi “nanti bagaimana?” :)

Usaha bisnis juga gitu. Supaya bisa grow, kudu direncanakan dengan matang. Makanya ada marketing plan yang dibuat setiap akhir tahun. Untuk bisnis yang baru, dibuatlah business plan. Yang namanya “plan” itu berfungsi sebagai panduan. Tidak harus sama persis karena bisa mengalami penyesuaian. Tapi sebagai koridor, tentu kita akan sangat membutuhkan.

Lalu apa saja kriteria yang harus saya penuhi agar “plan” kita termasuk “plan” yang baik? Kriterianya ada 5, bisa disingkat SMART, yaitu spesific, measureable, achieveable, realistic, and time bound. Remember that “failing to plan is planning to fail”

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

Akik


Heboh batu akik menjamur di seluruh negeri. Batu mulia ini menjadi bahan pembicaraan yang tidak kenal waktu dan tidak lihat tempat. Minat pasarnya besar dan ladang bisnisnya oke punya. Batu bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh adalah segelintir “selebriti” yang semakin sering dibicarakan, bahkan dikejar-kejar ke seluruh penjuru nusantara.  Harganya merentang dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Konon, ada juga yang dihargai hingga miliaran rupiah. Betapa fenomena akik ini sungguh luar biasa!!!

Menggeliatnya bisnis batu akik menarik ditinjau dari sudut pandang kelas menengah. Sebagaimana rutin kami bahas, ada tiga ciri kelas menengah. Pertama memiliki daya beli tinggi (high buying power). Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas (more knowledgeable) mengingat sumber-sumber informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga, lebih terhubung satu sama lain (more socially connected) melalui media online seperti blog, twitter, atau facebook.

Fake Investment

Jadi setelah kebutuhan primer terpenuhi, maka segmen sosial ekonomi ini mulai mengalihkan pendapatan berlebih (discretionary income) untuk fungsi lain. Salah satunya adalah fungsi investasi. Pikir kelas menengah, “beli sekarang saja, toh nanti harga akan naik lagi”. Jadi pendapatan berlebihnya digunakan untuk menciptakan kekayaan yang lebih tinggi lagi di kemudian hari.

Meski dipersepsi sebagai barang investasi, tetapi batu akik seperti belum memenuhi beberapa persyaratan barang investasi. Misalnya, bahwa barang investasi harus tersebar di seluruh dunia. Jadi bisa diperjualbelikan di negara mana saja. Sementara heboh fenomena “akik” ini baru terasa di dalam negeri saja. Selain itu penting pula keberadaan pasar global yang menjadi kiblat harga bagi pemain di seluruh dunia. Semisal pasar global untuk emas yang ada di New York dan menjadi acuan pemain emas di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Sehingga yang harus kita waspadai adalah “investment bubble’-nya. Yaitu harga yang terlalu tinggi tapi tidak mencerminkan realita supply-demand yang sebenarnya. Jangan sampai fenomena pecahnya ‘gelembung investasi’ seperti yang dialami bunga anthurium atau ikan louhan terulang kembali. Sekarang, harga keduanya sudah sangat murah. Banyak yang ‘gulung tikar’ karenanya.

Hobi

Kebutuhan kelas menengah mulai rumit; tidak lagi sekedar sandang-pangan-papan. Tapi juga aktualisasi diri; salah satunya lewat hobi. Tak mengherankan jika aktivitas hobi seperti hobi otomotif, hobi fotografi, hobi berlari, dll kian mendapat tempat di hati kelas menengah. Hobi-hobi tersebut “dibiayai” dari pendapatan berlebih setelah kebutuhan primer sudah terpenuhi. Termasuk di antaranya hobi memilah, memilih, dan mengkoleksi batu akik.

Segmen kelas menengah yang knowledgeable punya selera yang bagus mengenai batu akik. Makin menarik batu akik tersebut, makin tinggi harganya. Mulai dari motifnya, bentuk potongannya, tingkat kehalusannya, tidak tembus cahaya, dan sebagainya. Semua komposisi tersebut menentukan kualitas dan harga batu mulia yang satu ini. Tidak heran hobi ini kemudian berkembang menjadi ladang bisnis dengan kelas menengah sebagai target segmennya.

Word of Mouth (WOM)

Dari hobi, terbentulah komunitas. Common interest-nya lagi-lagi ya batu akik. Meski ada yang sekedar meramikan tren ini, tentu juga ada para hard core. Selain rutin bertemu secara offline, mereka juga berkumpul online di google+, facebook, instagram, dan beragam social media lainnya. Kalau sudah begini, maka WOM tinggal menunggu waktu.

Bila WOM sudah terbentuk, transaksi akan terjadi melalui beragam channel penjualan. Jangan disangka hanya dijual di dunia nyata saja. di internet juga ada. Tengok saja situs semacam akiks.com, hargabatuakik.net, batuakikkeraton.co.id , dan banyak lainnya. Semuanya berlomba-lomba menjadi yang terlengkap untuk urusan katalog batu akik. Belum termasuk toko online semisal olx.co.id atau tokopedia.com . Beragam batu akik juga diperjualbelikan di sana.

Kelas menengah penggemar batu akik hadir di hampir semua medium tersebut dan “do conversation” di dalamnya. Mulai dari social media, kemudian masuk website, lalu jadi bahan pembicaraan ketika bertemu dengan rekan penyuka batu akik. Dan terjadi juga arah sebaliknya. Dari “goreng-menggoreng” konten ini, harga batu akik melompat mencapai puncak langit. Bahkan ada yang mencapai Rp18 Miliar, sebagaimana berita dari salah satu media online. Wow, luar biasa!!!

Sekali lagi, fenomena heboh batu akik adalah fenomena kelas menengah. Fenomenanya heboh luar biasa karena jumlah kelas menengah begitu besar mendominasi penduduk kita. Apalagi dengan banyak akun social media yang dimiliki oleh kelas menengah, maka kehebohan tersebut akan semakin massif saja.

Sebagai penutup, kami senantiasa berdoa supaya fenomena batu akik ini bukan fenomena sesaat saja. Bahkan sebisa mungkin menjadi tren dunia. Karena sumber daya batu akik tersebut memang berasal dari negeri kita sendiri. supaya fenomenan yang jangka panjang bisa terus memberikan keberlangsungan ekonomi bagi para pelakunya. Serta menjadi “trademark” Indonesia di mata dunia.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag | Tinggalkan komentar