6 Saluran Internet Marketing yang Harus Anda Ketahui


Tips internet marketing adalah tips-tips yang anda butuhkan untuk melakukan pemasaran dan penjualan (marketing and selling) via internet. Di internet, kita bisa melakukan marketing and selling melalui beragam saluran (channel). Mulai dari website kita sendiri, yang bentuknya bisa berupa toko online, blog, berita, dan lain sebagainya. Atau melalui akun social media – yang kita tahu sangat beragam – twitter, facebook, path, youtube, pinterest, dan lain sebagainya.

Oiya, jangan keliru dan tertukar antara maksud dan pengertian dari marketing dan selling. Marketing adalah aktivitas-aktivitas untuk membangun keinginan membeli dalam diri konsumen. Bahasa kerennya: creating demand. Sedangkan selling adalah “memetik” keinginan tersebut dengan cara membuat konsumen membayar lalu menerima manfaat produk/layanan yang sudah kita janjikan.

Pada tulisan kali ini, kami akan elaborasi sedikit saja dan secara sekilas apa saja tips-tips untuk melakukan pemasaran dan penjualan via internet. Di antaranya ada email marketing, social media marketing, search engine optimization (SEO). Masing-masing saluran ini punya kelebihan dan kekurangan, tentu saja.

Email marketing. Tentu saja berarti mengirim pesan-pesan marketing kepada email konsumen yang ada dalam database kita. Darimana database ini bisa anda dapatkan? Pertama, anda harus membuat konten yang fokus dan menarik untuk pengunjung website anda. Kedua, pancing mereka untuk mendaftarkan email mereka melalui website anda. Caranya adalah dengan berjanji mengirimkan file berisi materi yang menarik dan bermanfaat bagi mereka (secara gratis), sehingga mereka mendaftarkan alamat email mereka, lalu tugas anda adalah – ini langkah ketiga — mengirim materi tersebut ke email mereka.

Social media marketing untuk melengkapi website anda. Jadi akun (account) anda di social media facebook, twitter, linkedin, youtube, dsb mengunjungi website anda. Tentu saja, di masing-masing akun tersebut followers/friends-nya selalu diperbanyak. Anda bisa mengadakan kuis – dengan syarat follow dulu–, atau diskon sekian persen apabila melakukan share/re-tweet, dan seterusnya. Tipsnya adalah harus kreatif dan inovatif dalam membuat program taktikal seperti ini. Sebab, umur program ini tidak panjang dan efek penambahan friends/followers-nya pasti akan mencapai titik jenuh.

Search Engine Optimization. Saya ceritakan dahulu proses kedatangan calon konsumen ke lapak anda di website. Jadi perilaku online dari (calon) konsumen adalah mencari tahu siapa yang memiliki dan menjual produk/jasa yang dia butuhkan. Dia akan mengetik “jual barang xxx”, atau “Cari jasa xxx”, dan seterusnya. Dan hasil pencarian dia akan muncul dalam beberapa halaman. Tapi kemungkinan besar dia hanya mengecek 3 halaman pertama kan? Atau mungkin hanya halaman pertama? Bahkan sangat mungkin dia hanya membuka link dari 4 teratas hasil pencarian. Jadi, proses marketing yang harus anda lakukan adalah bersaing dengan sejumlah kompetitor anda untuk merebut 4 teratas hasil pencarian. Syukur Alhamdulillah apabila anda berhasil meraih peringkat pertama dan konsisten berada di sana.

Affiliate marketing. Ini adalah layanan “bantu menjualkan” yang semakin berkembang di internet. Dengan kode programan tertentu, maka penjualan yang berhasil dilakukan dapat ditelusuri siapakah affiliate marketer-nya. Affiliate marketer (pelaku affiliate marketing) ini kemudian mendapat komisi sekian persen dari omzet yang diperolehnya. Keuntungan model affiliate marketing ini adalah affiliate marketer tidak perlu menanggung inventory, dia hanya bermodal personal computer (PC) dan koneksi internet. Sebagai pemilik barang, anda pun tidak perlu memberikan stok barang anda untuk dijual oleh para “dropshipper” ini. Jadi kira-kira, affiliate marketer itu bisa kita analogikan dengan para dropshipper. Bedanya, affiliate marketer bekerja dengan modal link URL dari pemilik barang. Sekarang anda tinggal memilih, mau menjual produk/jasa anda dengan bantuan para affiliate marketer, atau anda mau menjadi affiliate marketer itu sendiri? Jawabannya terserah anda.

Marketing through social chatting. Brandnya ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, BlackBerry Messenger, dan lain-lain. Social chatting menggunakan kanal internet juga, sebab itu bisa kita kategorikan ke dalam internet marketing. Ada dua fungsi yang bisa kita optimalkan. Pertama adalah broadcasting. Jadi sekali dalam beberapa waktu – saya kira yang masih sopan dan tidak akan di-remove adalah broadcast sekali dalam sepekan – kita lakukan promosi tembak massal. Ini sekaligus untuk mengingatkan konsumen akan brand kita. Syukur Alhamdulillah bila ada yang tertarik beli. Kedua adalah fungsi social chatting sebagai customer service (CS) alias fungsi yang langsung berhadapan dengan (calon) konsumen. Mulai dari menjawab pertanyaan mengenai produk/jasa, melakukan penutupan (closing) penjualan, hingga menerima keluhan dari konsumen yang sudah pernah membeli atau sudah menjadi pelanggan.

• Marketing through blog. Jadi produk/jasa anda dipasarkan melalui kalimat-kalimat deskriptif yang menjelaskan dan meyakinkan konsumen akan produk/jasa tersebut. Di samping itu, dapat menggunakan video dan gambar untuk memberikan tampilan visual dan audio juga dapat anda gunakan. Tantangannya adalah membuat banyak artikel dengan panjang minimal 300 kata, maksimal 1000 kata. Antar artikel harus terhubung satu sama lain dan jangan ada pengulangan konten pada artikel yang lain.

Demikian tips internet marketing kali ini. Semoga klasifikasi dan teknik pemanfaatan secara sederhana ini bermanfaat bagi anda dalam meningkatkan penjualan serta menumbuhkan usaha bisnis yang anda geluti.

Related Post:
Internet: Static vs Mobile
Internet: Kini dan Akan Datang

Dipublikasi di SOCIAL MEDIA, STRATEGI PEMASARAN | 2 Komentar

Alasan Memilih Manajemen Keuangan


Saya pernah bimbang ketika harus memilih salah satu di antara dua: manajemen keuangan atau manajemen pemasaran. Pada akhirnya saya memilih manajemen pemasaran, tapi sebelumnya saya galau dengan manajemen keuangan. Saya saat itu berpikir bahwa penting sekali mempelajari manajemen keuangan, dan tidak semua orang mampu mengajarkan manajemen keuangan dengan baik.

Ibarat mengendarai mobil atau motor, maka manajemen keuangan adalah kemampuan kamu untuk membaca panel yang berisi speedometer, jumlah bensin yang tersisa, tingkat perputara mesin, dan lain sebagainya. Hanya mampu menjalankan bisnis (memproduksi, lalu mempromosikan, kemudian menjual) saja tidak cukup tanpa pemahaman “apa yang sebenarnya terjadi dengan keuangan perusahaan/bisnis kita”. Ini mirip dengan bisa berkendara tapi tidak tahu kapan bensin akan habis dan harus masuk stasiun pom bensin. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Apakah untung dari bisnis kita benar-benar ada? Atau sekedar uang yang masuk > uang keluar?
  • Apakah likuiditas kita cukup untuk menjalankan perusahaan paling tidak selama 3 bulan ke depan? Jangan-jangan uang kontan kita habis untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya mendesak (misal: gaji karyawan di bulan ini).
  • Berapa rupiah inventory yang kita miliki? Apa risikonya bila inventory tersebut tidak segera terjual? Dan berapa cepat kita bisa menjualnya?
  • Dst.

Sekarang, saya coba ingat-ingat kembali mengapa saya pernah tertarik dengan manajemen keuangan. Dan kalau kamu memiliki poin-poin yang sama seperti yang saya uraikan di bawah ini, mungkin akan membantu kamu dalam memprioritaskan manajemen keuangan dibandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi yang lain di jurusan manajemen:

Tertarik dengan hal-hal berbau investasi dan pasar modal. Saya biasa menggolongkan investasi menjadi 2 kelompok, yaitu investasi konservatif dan investasi di instrumen finansial. Yang pertama, identik dengan emas (salah satunya yang berbentuk perhiasan) dan tanah (atau properti). Masih masuk dalam kelompok pertama, tapi konservatif dan perlu kerja keras, adalah investasi pada sektor riil. Termasuk beralih menjadi full-time entrepreneur. Yang kedua, adalah surat utang (termasuk sukuk), dan saham (dari pasar saham). Kombinasi surat utang dan saham, yang biasa kita kenal dengan sebutan “reksa dana” juga termasuk kategori kedua.

Feel challenging banget kalau merasa belum paham dan ingin bisa “menguasai” hal-hal berbau duit. Kalau minat kamu di keuangan yang seperti ini dan kamu ingin memiliki kemampuan untuk menguasainya, maka kamu cocok di manajemen keuangan. Ketika kamu seringkali tertantang untuk menguasai suatu permasalahan keuangan. ini berarti kamu sudah passion di financial management.

Suka ngutak-ngatik angka, tapi bukan seperti matematika yang terlalu science. Manajemen keuangan tidak sama dengan menurunkan suatu rumus diferensial dan integral pada kalkulus ketika kita mengambil kelas IPA di SMA dulu. Tidak serumit itu. Justru sederhana, tetapi ada (terlalu?) banyak yang sederhana. Intinya adalah kamu suka mengolah practical numbers. Yaitu rumus-rumus yang sederhana. Indikator-indikator sederhana yang bisa sangat mereleksikan kinerja suatu bisnis, dan hal-hal semacam itu.

Contoh indikator sederhana misalnya pada industri ritel adalah inventory turnover. Artinya adalah seberapa cepat inventory tersebut berubah menjadi rupiah. Saya kira bukti bahwa kamu suka ngutak-ngatik practical numbers ini adalah ketika kamu suka membaca neraca (balance sheet), laporan laba-rugi (income statement) dan laporan dari manajemen.

Manajemen risiko. Bisnis itu kental dengan risiko yang terukur. Kalau kita tidak bisa mengukur risikonya, lebih baik jangan terjun di bisnis itu. Dan justru di situlah seninya berbisnis: bagaimana kita mengukur dan melakukan treatment terhadap risiko tersebut dengan lebih baik daripada kompetitor kita melakukannya. Bagaimana cara mengukur risiko? Semua dasar-dasarnya di ajarkan di konsentrasi manajemen keuangan.

Jadi sudah saya paparkan beberapa alasan memilih manajemen keuangan. Tentu saja itu belum semua. Mungkin kamu punya alasan berbeda yang mendorong kamu memilih manajemen keuangan instead of konsentrasi-konsentrasi yang lain. Semoga sedikit uraian tersebut dapat membantu kamu memilih konsentrasi yang tepat untuk kamu saat ini dan karir kamu ke depan.

Related Post:
Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran
Alasan Memilih Prodi Manajemen

Dipublikasi di KULIAH | Meninggalkan komentar

Parenting Indonesia


Parenting Indonesia. Setelah menjadi orang tua, pandangan saya terhadap dunia menjadi berbeda. Saya jadi belajar bagaimana menjadi anak yang lebih baik lagi bagi orang tua saya. Silaturahim ke orang tua (sendiri dan mertua) jadi lebih rutin dibanding sebelum memiliki anak-anak. Apabila sulit untuk bertemu karena persoalan jarak, hendaknya rutin menelepon lebih dulu. Bukan menunggu ditelepon. Mumpung orang tua masih ada.

Dalam tulisan ini, saya membagi parenting menjadi 3 cara pandang utama: (a) menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup (b) anak-anak bukanlah beban ekonomi keluarga (c) anak-anak adalah investasi kita untuk akhirat kelak

Related Post(s):
– Jodoh
– Menikah
– Menikah (2) 

Belajar Seumur Hidup  

Saya mulai belajar menjadi orang tua yang baik. Bukan cuek, egois, dan individualis seperti sebelumnya. Saya juga belajar bekerja sama lebih baik lagi dengan istri. Sebab orang tua tidak cukup satu. Dua akan saling melengkapi. Di samping itu, konon kehadiran anak-anak akan mengurungkan niat sepasang suami-istri untuk berpisah/bercerai. Saya mengakui ke-“konon”-an ini. Sebab partnership antara bapak dan ibu sangat diperlukan dalam parenting. Anak-anak yang dibesarkan oleh single parent mengalami pertumbuhan psikis yang kurang maksimal.

Setelah menjadi orang tua, saya semakin yakin bahwa kita tidak boleh ‘jalan sendiri-sendiri’. Dalam Islam, sampai kapan pun orang tua akan selalu memiliki hak atas anak-anaknya. Sebab itu, anak-anak berkewajiban selalu mentaati dan menyayangi kedua orang tuanya. Jangan sampai terjadi kasus seperti anak menitipkan orang tuanya di panti jompo terjadi di negeri kita ini. Kami berempat berencana untuk tinggal di kota yang sama dengan orang tua; suatu saat nanti. Agar kami bisa mentaati dan menyayangi dengan lebih baik lagi.

Satu asumsi yang tidak terbantahkan dalam dunia parenting Indonesia adalah bahwa anak-anak tidak bisa memilih siapa dan seperti apa orang-orang yang menjadi orang tuanya. Anak-anak juga tidak bisa memilih hidup di keluarga dengan keadaan sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan seperti yang dia inginkan. Meski demikian, orang tua tidak boleh menyerah dan kalah sebelum berperang. Keadaan sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan keluarga harus terus ditingkatkan. Selain itu, para orang tua juga harus belajar seumur hidup untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Dalam Islam, pernikahan sejak awal sudah harus mempertimbangkan adanya keturunan. Jadi parenting Indonesia sudah dipikirkan sejak menikah. Sebab menikah adalah jalan sah untuk mendapatkan keturunan. Jangan memberlakukan DINKs (double income no kids), yaitu menikah, sama-sama bekerja, tetapi tidak berharap hadirnya keturunan. Demikian terjadi karena keturunan dipandang sebagai beban dan ini menentang fitrah. Sebab fitrah manusia adalah memiliki keturunan, dan hal tersebut jangan dihindari sama sekali.

Bukan Beban Ekonomi 

Keturunan adalah pemicu semangat bagi para ayah/abi/bapak untuk bekerja lebih giat lagi. Justru keturunan yang baru adalah kontribusi kita terhadap perekonomian makro. Dengan demikian, kita malah memperkuat ekonomi masyarakat kita melalui penambahan ‘target pasar’ yang baru. Dari sini, perputaran ekonomi akan mengalirkan rezeki kembali kepada kita yang kita teruskan sebagai nafkah kepada para keturunan. Teringat kembali akan ekonomi Jepang yang stagnan karena (1) para pemuda/i banyak yang belum menikah, atau (2) menikah tetapi menganggap anak sebagai beban ekonomi.

Sesungguhnya para orang tua tidak perlu khawatir mengenai apa yang akan mereka berikan kepada para anak-anak. Karena anak-anak itu lahir ke dunia sudah dengan rezekinya masing-masing. Orang tua adalah penyalur rezeki anak-anak. Terkait pikiran bahwa orang tua bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anak, berikut adalah verbatim menarik dari salah seorang rekan saya,

“Yang saya rasakan adalah saya bekerja demi kebahagiaan mereka. Padahal nyatanya, merekalah yang membahagiakan saya di sela-sela kelelahan saya pasca bekerja.” 

Investasi Akhirat

“Jika manusia meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; (1) shodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, (3) anak shalih yang selalu mendoakan kedua ortunya.” (H.R. Muslim).

Jadi mendidik anak-anak dengan ilmu agama dan membiasakan perilaku beribadah adalah investasi akhirat bagi para orang tua. Saya kembali mengingatkan diri saya sendiri. Pemberian nama yang baik sebagai doa untuk anak-anak, merupakan langkah awal pendidikan tersebut. Ini setelah menjadikan adzan sebagai suara pertama yang mereka dengar di dunia. Sehingga yang diharapkan oleh orang tua hanyalah anak-anak shalih/shalihah yang rajin beribadah dan menutup setiap ibadahnya dengan “doa untuk kedua orang tua”.

Akan tetapi, tidak wajar jika seorang Muslim membiarkan begitu saja anggota keluarganya menjadi mangsa api neraka. Baik orang tua kepada anak, maupun sebaliknya, wajib saling mengingatkan agar selalu beriman dan berislam dengan sebaik-baiknya.

parenting indonesia

orang tua lengkap menjadi prasyarat tumbuh kembang anak secara positif

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Meninggalkan komentar

Pekerjaan Konsultan


saya ingin meluruskan beberapa mitos mengenai pekerjaan konsultan. Khususnya mitos-mitos consulting job yang sering dibahas di Indonesia.

1) Pays a lot of money. Jangan pilih consulting karena uang. Sama seperti profesi yang lain, pekerjaan konsultan menurut saya sangat terkait dengan passion. Kualitas pekerjaan yang dihasilkan sangat bergantung dari passion/tidaknya yang bersangkutan. Kamu sudah tahu, mau sudah profesional seperti apa pun juga, tentu hasilnya akan berbeda kalau dikerjakan dengan passionate. Untuk diketahui, kantor-kantor konsultan sebagian besar ada di ibukota negara—atau kota yang dijadikan pusat bisnis. Basic salary di industri konsultan cukup ok dibanding industri lain. Salah satu alasannya adalah tidak ada uang lembur – maka basic salary langsung besar.

Kalau dapat proyek di luar negeri, bisa dapat tambahan per diem yang lumayan. Tapi ya itu aja. Konsultan itu cuma bawa laptop, telepon, dengan otak – enggak ada yang lain. Kalau berharap dapat mobil, apartemen, etc dari perusahaan, silakan bermimpi saja. Hehe. At least gaji kamu engga akan dipotong untuk dana pension – karena memang gak ada dana pension. Hanya untuk benefit seperti asuransi, cuti, dan lainnya ya kira-kira sama dengan industri yang lain.

Simpulannya adalah, salary-nya tidak begitu buruk, tapi – sebagaimana pekerjaan yang lain — tolong pilih consulting job karena suka dengan pekerjaannya, bukan karena uangnya.

2) Much traveling. Sometimes yes, sometimes not. Karena traveling atau tidak tergantung dari posisi headquarter klien. For big ‘boutique consultants’ seringkali mereka perlu ditempatkan di kantor konsultan di negara lain. Tentu ada allowance and transportation. Untuk konsultan lokal, sometimes bila ada ‘produk’ baru, traveling ke berbagai kota mungkin saja dilakukan. Traveling ini dalam rangka kampanye ‘produk’ tersebut.

Di berbagai kantor konsultan, ‘produk’ yang banyak ditawarkan kepada publik, adalah hasil riset (dalam bentuk presentasi atau report), atau training mengenai suatu topik tertentu. Untuk customized ‘produk’, selain dua di atas ada juga pekerjaan konsultasi. Jadi basis ‘produk’ di kantor konsultan adalah ketiga ‘produk’ tersebut.

3) Unbalance worklife. It depends. Setahu saya hal tersebut memang terjadi di ‘boutique consultants’. Tapi di kantor konsultan lokal, hal ini tidak terjadi. Yang jelas akan kamu alami di kantor konsultan lokal adalah waktu kerja yang lebih fleksibel. Tidak harus datang ke kantor pagi, meski belum tentu pulang on time dari kantor. Lokasi kerja juga fleksibel, karena tidak harus di kantor. Bisa juga di rumah, di kantor klien, kafe, dan lainnya.

Datang ke kantor wajib untuk koordinasi dengan rekan-rekan satu proyek. Jadi konsultan itu engga berarti engga ada worklife balance, hanya saja waktu kamu jadi jauh lebih fleksibel. Baik dalam arti positif atau negatif. Most of the time, konsultan kerjanya sangat fleksibel. Suatu waktu bisa pulang jam 9 malam, di hari yang lain bisa pulang jam 5 sore. Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak masalah karena kehilangan waktu pribadi hari ini, tapi dapat ganti waktu di lain hari.

Lagipula PowerPoint adalah salah satu hal terbaik dalam hidup saya. Minimal engga membosankan, hehe. Yang selalu saya lakukan adalah memikirkan, menulis, mempresentasikan, dan merevisi pekerjaan saya di PowerPoint. Oiya, sebagai konsultan, ada kalanya kita “on the bench”, alias gak ada proyek. Mungkin totalnya sekitar beberapa minggu dalam setahun. Mostly, saya habiskan dengan blogging.

4) You need an MBA degree. Pertanyaan ini biasanya terkait dengan pekerjaan management consulting. Apakah modal s1 dari perguruan tinggi negeri sama saja dengan modal s2 MBA? Seperti banyak perusahaan yang lain, kalau sudah di dalam, tingkat pendidikan kamu akan dianggap sama saja. Untuk masuk kantor konsultan, pengalaman bekerja kamu (misal sudah pernah bekerja sebelumnya), akan memberi back-up pada kamu.

Buat mereka yang nol pengalaman tapi udah punya gelar MBA, itu akan memberi back-up (juga). Kalau kamu sudah punya keduanya, nah itu bisa banget jadi alasan kamu untuk bernegosiasi posisi dari awal. Intinya punya gelar MBA akan bermanfaat, tapi ternyata tidak harus dan tidak mendesak.

5) You will receive a lot of training. Jawabannya adalah tidak. Dan jangan berharap mereka akan menyekolahkan kamu di sebuah sekolah bisnis ternama. Tapi kamu akan mendapatkan mentorship setiap pekan. Karena sebagian besar konsultan memang suka berbagi ilmu—baik ke pihak internal maupun klien. Kedua, sebagai besar pembelajaran kamu peroleh langsung ketika mengerjakan proyek – on the job training (OJT).

Di sisi employer, ada kalanya alasan mereka merekrut adalah background pekerjaan kamu sebelumnya. Dengan konsultan dari beragam background, tentu akan membantu mereka dalam mengeksekusi consulting job dari klien. Trik dari saya adalah belajar secepat-cepatnya dengan berbagai referensi yang pernah mereka kerjakan sebelumnya. Terutama ketika proyek pertama kamu masih dalam fase-fase awal. Selanjutnya? Akan selalu ada pelajaran baru dalam setiap consulting job dari setiap klien yang kamu bantu.

6) Konsultan bukan cuma memberi rekomendasi. Sebab change management di perusahaan klien itu tidak mudah. Konsultan bukan sekedar bertanya masalah klien, merumuskan solusi, lalu memberikan final recommendation. Tidak hanya itu. Karena itu baru head-nya saja. masih ada heart dan hand yang (sebaiknya) juga dibantu oleh konsultan. Head: logika, analisis, dan rekomendasi. Heart: mengapa klien harus berubah. Jawaban filosofis ini yang dinanti oleh teman-teman karyawan di level eksekutor. Hand: menyederhanakan dan memudahkan implementasi perubahan ke dalam aktivitas sehari-hari.

Related Website:
Pekerjaan Konsultan
Consultans Mind

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tag , , | 2 Komentar

Masjidpreneurship


Di buku Marketing to Middle Class Muslim (GPU, 2014), kami telah menyebutkan bahwa Masjid memiliki potensi sebagai pusat ekonomi dan kewirausahaan (halaman 207). Mengapa masjid memiliki potensi tersebut? Sebab pada dasarnya masjid sebagai sebuah tempat ibadah yang menyelenggarakan shalat wajib sebanyak 5 kali dalam sehari, telah memiliki dua modal besar untuk dikelola lebih lanjut dalam semangat kewirausahaan (entrepreneurship).

Related Posts: 
Komunitas: Driver Pasar Muslim 
The Years of Social Connection 

Yakni crowd (keramaian) dari jamaah yang beribadah di masjid tersebut dan communities (komunitas-komunitas) yang banyak beraktivitas di lingkungan atau kompleks masjid. Patut kita ingat bahwa komunitas-komunitas yang terbentuk di lingkungan masjid tentu saja adalah komunitas yang memiliki kesamaan kepentingan (common priorities), yaitu untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa ide hasil diskusi internal kami mengenai potensi-potensi lanjutan yang dapat dieksplorasi dan dimonetisasi lebih lanjut oleh para pengurus (takmir) masjid dalam rangka mewujudkan Masjid yang lebih entrepreneurial.

Kemandirian Ekonomi
Masjid sudah memiliki “modal” awal finansial, yaitu dari berbagai dana zakat, infaq, shadaqoh, wakaf (ZISWAF) yang terhimpun dari jamaah masjid. Dana ZISWAF ini dapat membiayai seluruh kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Ini belum termasuk potensi pembiayaan dari pendapatan pengelolaan bisnis yang dikelola secara professional di kompleks masjid. Misalkan masjid yang mengembangkan ritel consumer goods atau ritel fesyen hijab untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Atau masjid yang mengembangkan usaha bisnis berbasis layanan travel haji dan umrah.

Organisasi yang dibentuk haruslah bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-oriented), tapi social enterprise di mana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut kami sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Menariknya, keseluruhan aktivitas kedua LAZ tersebut sudah dilakukan dengan sangat professional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi.

Edukasi Berbasis Event
Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, serta bergaya hidup muslim modern. Artinya masjid kekinian merupakan channel untuk menyalurkan konten-konten keislaman. Format yang rutin digunakan adalah event; seperti misalnya seminar, training atau workshop sehari, pengajian rutin, pernikahan, dan lain sebagainya. Format event juga merupakan sarana offline dalam mempertemukan para anggota komunitas yang kini getol bergaul di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Kami membayangkan bahwa semakin banyak dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di kompleks masjid akan semakin meningkatkan jumlah jamaah yang berkunjung untuk beribadah di sana.

Sebagaimana yang kita pelajari dari marketing hijab yang dilakukan secara horizontal, maka pendekatan yang dilakukan terhadap komunitas juga harus peer to peer. Artinya, pendekatan yang dilakukan harus secara personal dan sosial kepada sekitar anggota komunitas, semisal keluarga, kolega, dan teman-teman. Namanya saja horizontal, pendekatan-pendekatan ini haruslah menyebarkan kesadaran keislaman dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui.

Lebih Modern dan Inklusif
Untuk mewujudkan kedua hal di atas, kuncinya adalah pengelolaan masjid secara lebih professional, modern, menggunakan teknologi, serta bersikap inklusif terhadap semua kalangan. Dengan mengambil sikap lebih modern dan lebih inklusif, masjid kemudian dapat berperan lebih dari sekedar tempat ibadah. Maksudnya adalah masjid melebur dan menyatu dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Kita bisa mengambil beberapa contoh positif dari beberapa masjid yang telah melakukan transformasi tersebut, berikut ini.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas perekonomiannya masih terasa dan menjadi role model kewirausaahan masjid yang selalu solid.

Contoh lain adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat professional, terutama dalam aspek bisnis dan keuangan. Yang menarik adalah, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid secara berkala’ melainkan juga dikelola untuk berbisnis. Bisnis inilah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan juga bagi masyarakat sekitar masjid. Dari pendapatan bisnis tersebut, kemudian disusun dan dialokasikan ke program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Jadi kuncinya adalah bagaimana masjid mencoba mencari dan mensolusikan masalah-masalah yang dialami oleh masyarakat secara umum, dan para jamaah masjid secara khusus. Sebab itu pengurus masjid kekinian juga harus mulai berpikir lebih kreatif dan inovatif. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh kedua masjid yang kami sebutkan di atas.

Dipublikasi di ENTREPRENEURSHIP | Tag , , | Meninggalkan komentar

My Ramadhan Eating


Kita akan segera menjelang 2/3 bulan Ramadhan berjalan. Dalam rentang tersebut tubuh saya sudah mengalami eksposur puasa hingga tubuh saya bahkan beradaptasi dengan pola nutrisi berikut: konsumsi hanya sekitar 2x dalam sehari dan selama 13-14 jam tidak menerima asupan sama sekali. Dalam pada itu, saya melakukan “riset” kecil-kecilan terhadap tubuh saya sendiri. Now, let me review my diet (meal plan) and see what have happened through it.

Related post:
– My Mindful Eating
 Paradoks Sehat Sakit 

Bukan puasa yang menebeng diet, tapi diet lah yang menebeng pada puasa. Mumpung bulan Ramadhan gitu, ‘kan. Puasa itu mirip dengan COD-nya bang Deddy Corbuzier. Hanya saja puasa Ramadhan di Indonesia tidak ekstrim maksimal seperti diet beliau. Puasa kita hanya 13-14 jam sehari. Sementara beliau kan 16, 18, atau 20 jam sehari. Sebab itu kita yang berpuasa di sekitar garis ekuator perlu bersyukur bahwa puasa kita tidak terlalu lama — meski tidak juga sebentar saja. Sehingga puasa kita bisa jadi strategi untuk menurunkan berat badan.

Teorinya, pemecahan lemak tubuh dan otot untuk mendapat energi baru dilakukan oleh tubuh pada 12 jam setelah makan terakhir (yang berarti makan sahur). Yang terjadi pada 12 jam sebelumnya adalah tubuh kita menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein dari makanan untuk menghasilkan energi. Setelah 12 jam sejak makan, baru memproduksi energi yang diperoleh dari pemecahan lemak (body fat) dan protein (muscle). Mekanisme demikian baru berlangsung manakala terjadi caloric deficit, yaitu “calorie in” lebih kecil daripada “calorie out”. Setelah itu baru terjadi yang namanya weight loss. Informasi barusan berasal dari sini.

Di sekitar saya, beberapa tahun sebelum sekarang, biasanya ada kolega atau anggota keluarga yang berat badannya malah naik pasca Lebaran. Berarti ada yang tidak beres dengan pola calorie in and calorie out mereka. Fenomena ini menggambarkan terjadinya kalori masuk yang lebih besar daripada kalori keluar. Biasanya hal ini terjadi karena penganan berbuka puasa yang bermacam-macam dan cenderung berlebihan. Dari kolak, sirup, es buah, gorengan, dan seterusnya yang disantap sejak magrib sampai dengan isya. Hampir tidak mungkin rasanya makan berlebihan di makan malam ataupun saat makan sahur.

Saya sendiri, pola yang saya lakukan adalah berbuka secukupnya. Misal dengan the manis hangat. Ini sebenarnya bukan sunnah Nabi yang dianjurkan sih. Beliau kan menganjurkan 3 butir kurma dengan air putih ya. Nah, setelah berbuka, saya biasanya langsung “hajar” dengan makan malam. Jadi langsung kenyang dengan makronutrien: karbohidrat, lemak, dan protein.  Setelah tarawih baru banyak-banyak minum air putih (sekitar 4 gelas saja), 1 tablet vitamin c yang dilarutkan ke segelas air (effervescent form), dan buah apel. Mengenai buah-buahan, saya bahas lebih detil di bawah.

Overall, langkah-langkah saya di atas memang termasuk strategi saya untuk menurunkan berat badan. Jadi konsumsi makan dan minum, khususnya yang bukan makronutrien, saya tekan serendah mungkin. Bahkan, saya lebih sering sahur dengan air putih saja ketimbang dengan menu lengkap. Jangan sampai tidak sahur sama sekali ya. Sebab sahur bukan hanya tentang makan sahurnya saja. Tapi ada banyak sekali berkah sahur di sana.

Setelah sekitar 10 hari berpuasa, berat badan saya turun 1 kg. Kalau dilakukan approksimasi ke akhir ramadhan, mestinya bisa turun sampai 3 kg ya :D Untuk kita ketahui bersama, turun berat badan yang normal maksimal dan masih sehat adalah sekitar 1 kg per pekan. Lebih dari itu berarti kita sudah menyakiti tubuh kita lewat kurangnya makronutrien dan mikronutrien yang terasup ke dalam diet harian kita.

Soal hidrasi (dan dehidrasi), bener banget kata iklan air mineral dalam kemasan itu. Dua gelas di waktu sekitar magrib, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas lagi di sekitar waktu sahur. Kalau kulit hidung mulai pecah-pecah, atau muncul garis putih ketika garuk-garuk di tangan berarti saya mulai dehidrasi. Minimal itu berarti bahwa air putih yang saya minum masih kurang. Di sisi lain, saya pertimbangkan jenis minuman yang saya konsumsi. Tipikal kopi itu bersifat diuretik, artinya menarik air dari tubuh kita, sehingga mungkin terjadi dehidrasi pada tingkatan sel.

Iseng-iseng saya sempat melakukan riset perbandingan kandungan nutrisi antar buah. Ada beberapa parameter nutrisi yang saya susun rapi (lewat grafik). Salah satunya adalah mengenai serat. FYI, serat bekerja bukan dengan diserap oleh usus halus ya. Melainkan baru berfungsi efektif di bagian ujung saluran cerna, yaitu di usus besar. Sebab ternyata serat adalah nutrisi bagi mikroba-mikroba di usus besar kita. Mikroorganisme ini membantu membentuk dan mengembangkan faeces kita. Kurang serat secara langsung menyebabkan mikroba-mikroba ini bekerja kurang maksimal.

Berikut hasil riset kecil-kecilan dari saya mengenai kandungan nutrisi dari buah-buahan (yang dihitung pada jumlah gram buah yang sama):

kandungan nutrisi buah-buahan

Dalam grafik di atas terdapat istilah beban glikemik (glycemic load, GL). Itu adalah ukuran kuantitas suatu makanan akan menaikkan kadar glukosa darah seseorang setelah dia mengkonsumsi makanan tersebut. Bedanya dengan indeks glikemik (glycemic index) adalah GI tidak mempertimbangkan jumlah makanan yang dikonsumsi tersebut. Dengan mengetahui beban glikemik-nya, maka kita dapat secara bijak menentukan berapa banyak batasan asupan karbohidrat ke dalam diet harian kita. Menurut saya berkat GL kita jadi lebih terbantu agar tetap dapat mengkonsumsi menu favorit kita, instead of menghindarinya sama sekali.

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Meninggalkan komentar

Inflasi S2


Haruskah mengambil dan lulus di program S2? Mungkin tidak akan ada yang menjawab “TIDAK”, ya. Justru sebagian malah bilang iya, “HARUS”. Sebagian yang lain akan bilang, “BOLEH” kalau dana atau waktu memang ada.

Sebab, kenyataan di lapangan menunjukkan ada banyak lulusan S2 sekarang. Terutama S2 bergelar MBA (Master of Business Administration). Jumlahnya kini jauh lebih banyak dibanding dulu. Tidak heran terjadi inflasi besar-besaran untuk lulusan S2.

Inflasi artinya jadi penurunan ‘nilai’ yang ditawarkan oleh lulusan S2 sekarang. Bukan apa-apa, sebabnya adalah suplai s2 — yang jauh lebih banyak dibanding dahulu — kini sudah menyebabkan pergeseran di kurva ‘demand and supply‘-nya. Padahal yang ditawarkan oleh para lulusan S2 tersebut praktis tidak berubah banyak. Sementara tuntutan pasar tenaga kerja kian meningkat dan cenderung dinamis. Jadilah lulusan S2, gelar MBA, mengalami inflasi.

Sebagai contoh ya. Puluhan tahun lalu di McKinsey, gelar MBA (masih) relevan untuk mendaftar ke kantor konsultan tersebut. Belakangan ini, MBA nyaris tidak membuat perbedaan signifikan. Kebanyakan pelamar sekarang di big three of consultans adalah para MBA. Karena supply MBA sudah banyak sekali di pasar tenaga kerja.

Dan kejadian tersebut tidak hanya di AS, Eropa, dan negara maju lainnya. Bahkan gelar MBA di Indonesia sudah banyak yang memiliki. Dalam konteks branding, pertanyaan yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan S2 manajemen adalah: apa perbedaan antara MBA dari kampus yang satu dengan kampus yang lain? Sedangkan untuk pemegang gelar MBA adalah: apa yang harus dilakukan supaya bisa tetap ‘tampil berbeda’?

Beberapa tahun terakhir, bergabung ke kantor konsultan manajemen kini tidak harus MBA. Bila memang punya, gelar ini akan memberi “kekuatan” lebih bagi kamu — karena tidak harus diajari dari nol. Tapi di kantor konsultan, MBA sekalipun bukan kewajiban — yang penting adalah bersedia belajar. Di berbagai industri secara umum, gelar S2 belum tentu memberi pertimbangan signifikan bagi rekruter di tempat kamu melamar pekerjaan.

Apalagi ada yang menjadikan S2 sebagai kesempatan untuk mengubah haluan dalam berkarir. Jadi alasan ini cukup berlaku bagi mereka yang merasa tidak suka/cocok dengan bidang S1-nya. Sehingga cukup lulus (atau lolos? :p ) saja dari almamater S1. Lalu memilih bidang lain untuk berkarya. Inkonsistensi pendidikan ini yang menurunkan value lulusan S2 kekinian.

Experience is the door
Di beberapa perusahaan memang tidak mengenal pembedaan antara lulusan S1 atau S2. Sebab semua dihitung berdasar pengalaman kerja. Lulusan S2 yang belum pernah bekerja dianggap sama dengan yang baru lulus S1. Mereka yang sudah punya experience, menjadi alasan untuk diterima bekerja pada bidang pekerjaan yang relatif sama. Experience adalah work activities yang dikerjakan berulang-ulang, setiap hari sehingga membentuk kompetensi yang dikehendaki di bidang pekerjaannya.

Sebab SDM tanpa pengalaman harus dibentuk mencapai produktifitas yang diinginkan oleh perusahaan. Dan bagi korporat, pembentukan SDM yang produktif adalah cost and investment tersendiri. Yang benefit-nya belum tentu datang dengan cepat. Bisa sampai 3 tahun, paling tidak.

Productivity is the key. Ijazah cuma jadi selembar kertas kalau tidak menaikkan produktivitas perusahaan. Lulusan S2 kalau tidak berkontribusi ke value chain-nya perusahaan juga jadi percuma S2-nya. Kasus ini tidak hanya untuk S2, lho. Termasuk juga S1. Gelar MBA saja sudah banyak, apalagi gelar S1 ya. Tidak heran mereka yang baru saja lulus S1 relatif bisa diterima bekerja di industri apa saja. Karena sekarang, gelar sarjana berarti semacam legalisasi bahwa penyandang gelar tersebut siap belajar dan siap dibentuk oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Menurut saya, inflasi S2 telah terjadi di pasar tenaga kerja. Bagi diri kita sendiri, inflasi tersebut tidak terjadi. Terutama, ketika niat kita mengambil S2 adalah untuk belajar sepenuhnya. Jadi bukan karena mau naik jabatan, pindah haluan karir, dan sebagainya. Jadi memang niat kita full untuk belajar mengembangkan diri dan menyempurnakan pengetahuan kita di bidang S2 tersebut. Terlepas dari bidang karir dan pekerjaan kita yang terkait atau tidak terkait dengan jurusan S2 itu.

Saran
Langsung mengambil program S2 (pasca S1) juga oke saya kira. Jadi sekalian aja selesaikan sekolah baru fokus berkarya. Bila perlu sekalian S3 baru cari kerja. Ingatlah siapa-siapa dari rekan anda yang baru saja lulus S1 terus bekerja, lalu jadi galau: pas kuliah pengen kerja (supaya bisa pegang duit yang lumayan), pas sudah kerja pengen kuliah (lagi). Daripada mengambil S2 sambil bekerja. Saya lihat Kerja sambil S2 itu melelahkan dan tidak fokus. Baik yang kelas malam, maupun kelas akhir pekan. Pengecualian atas semua saran di atas adalah: resign, lalu mengambil S2 (sambil jalan-jalan) di luar negeri. Yang terakhir barusan adalah saran terbaik yang pernah ada.

Dengan segala faktor penyebab inflasi-nya S2 di atas, apakah lantas tidak perlu mengambil S2? Ya tidak juga. Tapi mengambil manfaat terbaik yang bisa diberikan, adalah inisiatif yang harus kita lakukan.

Related Post:
Kapan Sebaiknya Kuliah S2?
Memilih Program Studi S2

Dipublikasi di PENDIDIKAN | Meninggalkan komentar