Hierarki Pengelolaan Keuangan


Diskusi saya dengan teman SMA di weekend lalu berakhir pada pemodelan dalam artikel ini. Dia, sama seperti saya, sudah melewati masa-masa early jobber. Kami sudah lebih paham pengelolaan keuangan dibanding masa-masa awal bekerja dulu. Tentu, apa yang bagaimana pemahaman dan pengelolaan keuangan yang kami  lakukan sekarang sudah lebih advanced daripada saat masih sekolah/kuliah. Ada 5 tingkat hierarki pengelolaan keuangan. Kalau kamu sudah tahu posisi kamu di mana dalam hierarki tersebut, kamu sudah tahu kemana berikutnya harus melangkah.

hierarki pengelolaan keuangan

Belum mandiri, masih nebeng sama orang tua
Makan, tinggal, sekolah masih atas biaya orang tua. Atau hidup dari bantuan keluarga besar yang lain. Atau menerima beasiswa. Punya pendapatan sampingan lebih oke. Untuk kamu yang masih kuliah, oke banget kalau bisa sambil mengajar anak SMA. Atau bisa juga mendaftar sebagai asisten mata kuliah/laboratorium. Dulu waktu saya masih mengajar anak sekolah di Bandung, per pertemuan bisa dihargai Rp 50-60 ribu. Lumayan :D

Sudah mandiri, lepas dari inang 
Kalau sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak, sudah waktunya lepas dari inang. Awal kerja, bolehlah merayakan sedikit mentraktir teman-teman dekat. Soal belanja, pastikan beli manfaat yang tepat. Karena pasti ada pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, dan konsumsi. At least, di fase ini orang tua (atau inang yang lain) tidak lagi menanggung biaya kehidupan kamu.

Beberapa jenis pekerjaan menuntut penampilan prima di mata orang lain. Pakaian kerja yang update dengan tren fesyen. Mobil yang menaikkan gengsi, dll. Meski bergaji besar, adakalanya pendapatan malah pas-pasan dengan pengeluaran tersebut. Belum termasuk pengeluaran konsumtif seperti kehidupan sosial di restoran/kafe, kartu kredit, kredit peralatan rumah tangga, dan berbagai cicilan lainnya yang baru bisa menyematkan status “mandiri finansial” saja.

Punya tabungan dari hasil bekerja 
Secara umum, orang Indonesia itu sulit menabung. Berbagai gerakan sudah pernah dicanangkan pemerintah. Satu contoh: Ayo ke Bank. Orang Indonesia itu paling mudah tergoda untuk belanja, meski belum tentu dikonsumsi. Mudah juga untuk tergoda sama diskon. Padahal diskon ada sejak awal hingga akhir tahun. Ujung-ujungnya malah sulit menabung.

Tabungan, bagi saya, adalah cadangan dana yang belum pasti alokasinya untuk apa. Bisa untuk backup asuransi (bila diperlukan), tambahan biaya berobat (mekanisme reimbursement), dana darurat untuk bantu keluarga yang sekolah/menikah, dsb. Berapa besarnya? Biasanya bervariasi antara 3-6 kali dari pengeluaran bulanan.

Punya investasi yang memberikan cash-in
Setelah tabungan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan ini itu. Sebagian di antaranya boleh dimasukkan ke produk investasi. Minimal deposito. Berikutnya ke instrumen keuangan lain yang memberikan return lebih besar daripada tabungan: reksa dana, saham, dll. Jangan lupa sesuaikan dengan profil investasi. Usahakan tabungan & investasi mencapai 30% dari pengeluaran bulanan.

Bisa juga titip modal ke teman pengusaha yang bisa dipercaya. Dan mau bekerja keras. Tapi tidak ada zero risk, lho. Jadi kenali betul plus-minus berinvestasi di teman pengusaha. Cash-in paling tinggi bisa berasal dari investasi ke bisnis yang dikelola sendiri. Dengan segala control di tangan sendiri, maka risiko bisa ditekan dan omzet bisa dimaksimalkan.

Hidup dari passive income 
Ini adalah mimpi kebanyakan middle class kita. Mimpi yang didorong dari berbagai seminar tentang “financial freedom“. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Sebab itu mereka mencari harapan-harapan lain yang bisa mereka kejar. Kalau pendapatan dari berbagai investasi (sawah/kebun, rumah kontrakan, atau kost-kostan), sudah melebihi pengeluaran keluarga, boleh saja resign dari pekerjaan untuk fokus di usaha keluarga.

Sudah tahu, posisi financial management kamu sekarang? Next, kamu bisa tentukan strategi dan langkah-langkah apa saja yang mau dilakukan untuk bisa naik hierarki :)

Related post:
Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial
Tips Berinvestasi
Investasi dan Investor

Dipublikasi di PERSONAL JOURNAL | Tinggalkan komentar

Going Healthy


Pada artikel edisi sebelumnya kami banyak menyinggung perubahan psikografi kelas menengah di bidang kesehatan. Kami sebutkan bahwa kelas menengah yang knowledgeable, socially connected, dan more resources kini memiliki “health consciousness” yang tinggi. Psikografi segmen kelas menengah ini merentang dari sekedar sadar untuk memilih dan membeli produk/layanan (yang dipersepsikan sehat) hingga menerapkan gaya hidup sehat ke dalam kebiasaan sehari-hari.

Tentunya kebiasaan sehari-hari yang merujuk gaya hidup sehat ini harus menjadi acuan para brand manager atau brand owner dalam mengembangkan program-program pemasaran yang terkait. Sehingga aktivitas pemasaran juga harus naik kelas. Dari sekedar mengkomunikasikan asosiasi terhadap brand menjadi implementasi gaya hidup sehat sehari-hari. Untuk kepentingan tersebut, mari kita kupas satu demi satu strategi-strategi pemasaran yang dapat dilakukan oleh brand terkait dengan kebiasaan gaya hidup sehat tersebut.

Preventive-focused
Bicara prioritas, salah satu aspirasi kelas menengah terkini dalam bidang kesehatan adalah menjaga daya tahan tubuh. Jadi tidak perlu menunggu sakit lalu berobat. Melainkan sudah sejak awal mencegah sakit. Fokus pada pencegahan penyakit inilah yang layak menjadi perhatian serta prioritas bagi brand manager. Apalagi kesibukan yang semakin padat bisa jadi penyebab datangnya sakit. Contoh produk yang fokus mencegah penyakit: multivitamin, vitamin C, nutrition water, dsb. Contoh layanan dengan tujuan sejenis: pemeriksaan laboratorium, konsultasi diet dan olahraga, dll.

Aspiration Facilitators
Brand harus dapat berperan sebagai fasilitator untuk mewujudkan aspirasi kesehatan kelas menengah. Aspirasi kesehatan kelas menengah adalah “stay fit and healthy”. Aspirasi ini datangnya dari lubuk hati yang paling dalam. Peran brand sebagai “aspiration facilitator” ini harus tampak sejak awal melalui berbagai touch point dengan segmen yang menjadi target market. Tidak hanya lewat produknya saja, tetapi juga berbagai layanan yang menyertainya.

Mari kita dalami sedikit aspirasi “stay fit and healthy” tersebut. Jadi kehidupan yang “tetap fit dan sehat” adalah perjalanan berat menuju kehidupan yang lebih indah. Dari sanalah datangnya kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh kelas menengah. Dimana, keindahan hidup yang tidak diwarnai dengan anggota keluarga yang sakit. Sebab sakit adalah kesengsaraan yang harus dihindari dan dicegah dalam waktu bersamaan. Sebab lain seperti stress akibat tekanan pekerjaan atau berbagai pikiran negatif juga menjadi sumber ketidakbahagiaan.

Lifestyle Marketing
You are what your habit. Perubahan menuju kesehatan yang lebih baik diawali dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Life style biasanya identik dengan asosiasi cool (keren) di mata segmen pasar tersebut. Dan sebagai segmen yang knowledgeable, coolness itu penting bagi kelas menengah. Akibatnya, isu life style adalah isu penting dalam menyasar kelas menengah. Para marketer semestinya memanfaatkan gaya hidup (life style) dalam memasarkan produk dan layanan mereka.

Bagi kelas menengah, sehat tidak hanya untuk diri sendiri saja. Sehat juga merupakan modal awal dalam membangun percaya diri untuk bergaul dan berkoneksi secara sosial. Contoh, langsing yang terlihat oleh mata. Lalu, tubuh berotot yang bisa dipamerkan ke rekan-rekan dan komunitas. Perut six pack yang tidak “merusak” penampilan ketika sedang groufie. Intinya adalah kelas menengah memiliki kebutuhan akan penampilan yang lebih baik di mata orang lain. Semua kebutuhan tersebut merupakan bukti nyata bahwa kelas menengah menghendaki healthy life style.

Your Brand as Movement
Movement identik dengan kampanye. Tapi movement bukan sekedar kampanya yang berisi ajakan semata. Brand movement yang cool adalah brand movement yang sifatnya edukatif serta turut mengatasi masalah-masalah kesehatan di masyarakat. Sehingga akan berimpak positif pada brand produk atau layanan kesehatan itu sendiri. Di samping itu akan melahirkan para advocator yang tulus ikhlas turut meramaikan dan menyebarluaskan kampanye dan gerakan yang cool tersebut.

Jadi saran kami, para marketer tidak hanya berkampanye mengenai betapa penting, keren dan bermanfaatnya gaya hidup sehat. Melainkan sudah membawa brand yang dibesut ke dalam format gerakan yang mengedukasi dan mengajak kelas menengah kebanyakan. Kelas menengah memiliki kebanggaan tersendiri manakala dirinya dianggap sebagai inspirator untuk gaya hidup sehat di lingkungan keluarga, kolega, maupun rekan kerja. Tujuan akhirnya adalah menciptakan inspiring advocator.

Maximize Content Marketing
Isunya adalah informasi yang diberikan harus kredibel, lengkap nan terpercaya. Sekali lagi, tidak lain dan tidak bukan karena kelas menengah adalah segmen yang knowledgeable. Para content-based marketer harus tekun dalam men-deliver konten. Targetnya adalah membuat kelas menengah berlangganan artikel/status/post/tweet mengenai kesehatan dari brand anda. Tidak hanya melalui social media, website sebagai “rumah brand di dunia maya” juga harus oke punya. Ujung-ujungnya adalah agar brand search-able di lanskap yang serba digital ini.

Facilitate Social Connection
Brand yang memfasilitasi gaya hidup sehat harus turut serta dalam memfasilitasi salah satu kebutuhan utama kelas menengah: social connection. Brand dapat ikut mensponsori atau berkolaborasi dalam menciptakan ruang-ruang bagi kelas menengah untuk bersosialisasi dan bergaul dengan sesamanya. Misalnya lomba lari marathon atau futsal antar komunitas. Meski ada unsur “fake healthy lifestyle” di sana. Yaitu keinginan eksis dan narsis di lingkungan teman-teman. Fasilitas “social connection” menjadi penting agar kelas menengah merasa “cool” dalam mengikuti berbagai event dan aktivitas tersebut.

Related Post:
Healthy Life Style

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag , , | Tinggalkan komentar

Roles in Buying Process


Di tipikal bisnis B2C, semua peran ini biasanya dilakukan oleh satu orang. Misalnya snack untuk usia sekolah. Iklan ditujukan kepada mereka, di program televisi yang mereka tonton (misal: minggu pagi). Segmen anak sekolah secara umum diberi uang jajan oleh ibu. Yang memutuskan beli juga mereka sendiri. Penggunanya juga mereka lagi.

Sebaliknya di B2B, semua peran ini seringkali dilakukan oleh orang berbeda. Tidak heran di B2B, salah satu kunci sukses adalah kenal dengan banyak orang. Baik atasan, peers, hingga subordinat. Rekomendasi oleh sesama karyawan di sana (mengenai perusahaan kita) jadi peran penting. Anda harus jadi orang baik untuk sukses di sana. Saya identifikasi ada empat peran yang terlibat dalam keputusan pembelian: influencer – gatekeeper – decision taker – buyer – user.

buying roles

Influencer Mereka adalah para pemberi pengaruh. Rekomendasi mereka sangat didengarkan. Pada dasarnya karena mereka dikenal dan dipercaya oleh lingkungan di sekitar mereka. They are trusted people. Mungkin saja mereka adalah atasan dari para user atau decision maker.

Gatekeeper. Bahasa Indonesia-nya “penjaga pintu”. Bisa sekretaris, personal assistant (pa), wakil, dan semacamnya. Ekstrimnya, kalau orang ini tidak senang dengan kita, bisa saja mereka tidak menghubungkan kita dengan si “decision maker”.

Decision Taker  Keputusan “beli” dibuat oleh pelaku peran ini. Pengisi jabatan minimal berperan sebagai team leader. Group head, division head, director tentu saja termasuk pengambil keputusan beli.

Buyer Saya menggunakan istilah buyer karena ini yang paling umum. Bisa juga diperankan oleh pemegang anggaran (budget holder). Supaya proposal kamu bisa goal, harganya harus masuk dalam buyer’s budget.

User adalah pengguna dari produk/layanan yang kamu pasarkan. Seperti apa yang harus anda berikan, kelompok ini adalah yang paling tahu. Sebab mereka yang menggunakan dan merasakan. Mereka bisa merasakan penurunan atau kenaikan standar kualitas produk dan layanan yang diberikan.

Penting banget mengenali siapa saja pemegang peran-peran di atas. Apalagi ketika beberapa peran dijalankan oleh satu orang sekaligus. Treatment kepada yang bersangkutan harus sangat personal. Dengan mengenali pembagian peran di perusahaan klien, maka eksekusi penjualan lebih terencana, terarah, dan efektif.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tinggalkan komentar

On Becoming Marketing Company


Business only has two function – marketing and innovation”, kata management guru Peter Drucker.

Marketing itu ujung tombak perusahaan. Darah segar (baca: kas perusahaan) mengalir lancar dari omzet/revenue ketika ujung tombak ini berhasil difungsikan sebaik-baiknya. Banyak pengusaha kecil, menengah, dan besar yang ingin menumbuhkan perusahaannya, tetapi belum tahu bagaimana bertransformasi menjadi “a marketing company”. Alias perusahaan dengan fungsi pemasaran sebagai jantung utamanya. Bagaimana menjadi perusahaan yang berorientasi pemasaran? Berikut ulasannya.

Fungsi marketing sendiri terdiri dari Sales dan Branding. Keduanya saling menopang satu sama lain. Saling memberi manfaat yang sama-sama menguatkan. Kegagalan salah satunya, bisa jadi disebabkan kelemahan yang lainnya. Kita mulai dari bahas sales dulu, lalu branding.

1) Sales itu revenue center. Profit dari sales salah satunya untuk membiayai branding activities. Profit dari sales untuk menutupi branding cost yang sudah dikeluarkan. Proses penjualan (sales) dimulai dari mengetuk ‘pintu’ lead customer, membangun hubungan dengan pembeli, mengenalkan produk atau layanan, menawarkan pembelian berulang, menutup penjualan, bahkan memberikan layanan purna jual (after-sales service).

Para salesman diapresiasi dan dimotivasi lewat komisi penjualan. Basisnya adalah persentase tertentu terhadap pencapaian omzet. Makin besar target yang diraih, makin besar nilai rupiah yang diterima sebagai komisi. Ingat, salesman mendapat komisi yang besar karena keberhasilan menutup (closing) proses penjualan.

2) Branding — sementara itu — adalah cost center. Aktivitas branding memang cenderung costly. Mulai dari biaya, waktu, dll. Tapi bukan berarti branding tidak ada manfaatnya. Branding baru berimpak pada revenue dalam jangka panjang. Maksudnya: nama yang sudah terbentuk di benak konsumen belum tentu menghasikan revenue pada saat itu juga. Melainkan bisa jadi di lain waktu baru dapat dipetik ‘revenue‘-nya.

Branding juga melelahkan. Ini bukan aktivitas yang hanya duduk di belakang meja saja. Melainkan banyak meeting untuk rapat memutuskan sesuatu. Misalnya: akan menggunakan brand name apa, apa asosiasi yang diinginkan untuk brand name tersebut, event seperti apa yang berbeda dengan brand kompetitor tapi dapat meraih massa konsumen yang sama, dst.

Marketing company harus mulai sadar bahwa brand adalah segalanya. Brand adalah kualitas produk. Brand adalah layanan standard yang diberikan. Brand adalah price yang pantas untuk value yang diterima konsumen. Dan beragam makna proses branding lainnya. That’s why branding is about standardization.

Petugas bidang branding juga dapat bonus berbasis penjualan. Dengan persentase yang tidak sebesar komisi penjualan para salesman. Meski aktivitas branding yang dilakukan hanya sekedar menciptakan program promosi berbasis diskon, yang akhirnya membuat customer saling bercerita dan mengajak customer yang lain. Atau keunikan sederhana nan simpel yang mengundang para wartawan untuk meliput keunikan tersebut.

3) Innovation. Aktivitas selain dua di atas, kita masukkan ke dalam sini. Jadi tidak hanya operasional yang sifatnya harian. Perbaikan proses juga termasuk operasional — makanya kita sebut innovation. Tiap inovasi yang berhasil diimplementasikan dapat dijadikan konten branding.

Contohnya, bagaimana proses manufaktur jamu Sido Muncul yang sudah menerima sertifikasi GMP (Good Manufacturing Practices) dijadikan konten dalam TVC perusahaan tersebut. Atau bagaimana format video story-telling Apple dalam mempromosikan inovasi terbaru produk iPod, iPhone, iPad mereka.

Innovation is the specific instrument of entrepreneurship.. the art that endows resources with a new capacity to create wealth.

Inovasi untuk menjadi yang pertama dalam memberikan value kepada pelanggan, adalah cara untuk menciptakan kekayaan (wealth) yang baru. Di sinilah peran pentingnya setiap inovasi yang berhasil dilakukan. Kalau usaha dan bisnis anda (business owner) ingin menjadi marketing company, maka ketiga macam aktivitas di atas adalah mutlak dilakukan.

Related Post:
Usual Marketing: Branding and Selling
Influencer Marketing

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag | Tinggalkan komentar

Pergeseran Pariwisata


Secara kumulatif, pada periode Januari-September 2014 pertumbuhan sektor pariwisata adalah sebesar 8,3 persen. Jumlah ini lebih besar dari target pertumbuhan yang ditetapkan sebesar 7,9 persen. Pertumbuhan ini cukup mencengangkan kita semua. Data sepanjang tahun 2013 menunjukkan, sektor pariwisata meraih kunjungan 8.8 juta atau tumbuh 9.4 persen dengan perolehan laju devisa sekitar US$ 10 miliar. Angka pertumbuhan ini lebih besar daripada laju pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,7 persen. Harus diakui, kian hari industri pariwisata kian menjadi lokomotif perekonomian kita.

Ada beberapa pergeseran di industri pariwisata kita, yang menjadikan industri ini kian wah. Dengan pergeseran-pergeseran ini kami yakin industri ini akan semakin menjadi primadona untuk dipacu perkembangannya. Pergeseran pertama adalah mekarnya peluang dari para wisatawan global yang mulai “go to east” dimana negara kepulauan Indonesia menjadi pilihan yang menarik (terutama wisata bahari dan kepulauan semisal Raja Ampat). Di samping itu implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan dimulai pada awal tahun depan tentunya turut membuka peluang pasar pariwisata, khususnya inbound (wisatawan mancanegara ke dalam negeri kita).

Kedua, selera pasar juga bergerak ke pariwisata luar negeri. Perlu diingat, kini berwisata ke luar negeri sudah menjadi mass luxury. Artinya, bepergian ke luar negeri kini tak lagi merupakan barang mewah. Apalagi bepergian ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Para pemain seperti travel agent sudah melihat dan bergerak cepat untuk menangkap peluang besar dari adanya pergeseran perilaku konsumen ini. Tantangan terbesar bagi para travel agent tentu saja adalah mengemas paket-paket outound yang menarik minat wisatawan.

Ada lima besar produk wisata sebagai kontributor kunjungan wisman ke Indonesia sebagaimana terungkap dari hasil survei PES (passenger exit survey) 2013 oleh Pusdatin Kemenpar. Ke lima besar tersebut adalah: wisman yang melakukan wisata belanja dan kuliner (80%), wisata religi dan heritage (80%), wisata bahari (35%), wisata MICE: meeting, incentives, conference, and exhibition (25%), dan wisata olah raga (5%). Lima jenis wisata inilah yang seharusnya menjadi fokus pengembangan pariwisata inbound penghasil devisa. Wisata MICE misalnya, potensinya luar biasa besar, namun hingga detik ini perhatian dari pemerintah masih minim.

Ketiga, selera pasar konsumen pariwisata kini sebagian besar sudah diinduksi oleh informasi digital melalui internet berupa travel blog atau situs pembanding harga antar penyedia layanan pariwisata. Dukungan dari pengguna internet, khususnya pengguna media sosial sudah sangat massif dalam menggeliatkan industri pariwisata nasional. Tanpa diminta, mereka meramaikan jagat internet dengan konten digital seputar travelling baik pra, saat, dan pasca liburan.

Keempat, pergeseran selera yang datang dari kelas menengah Indonesia yang memosisikan liburan sebagai “basic needs”. Dengan daya beli yang semakin tinggi, kelas menengah merasa bahwa liburan telah menjadi suatu kebutuhan baru yang wajib dilaksanakan setiap tiga bulan, setengah tahun, atau paling tidak setahun sekali. Adanya travel review di platform blog atau media sosial, memudahkan middle class untuk mencari informasi yang diinginkan. Beberapa blog yang dimiliki blogger pecinta travelling kerap ramai dikunjungi oleh kelas menengah. Kebutuhan liburan yang meningkat ini juga didorong oleh biaya transportasi dan akomodasi terjangkau dengan munculnya budget airlines dan budget hotel.

Pergeseran terakhir adalah meluasnya cakupan wisata. Wisata kini tidak lagi sebatas hanya pergi ke gunung atau pantai. Wisata kini sudah mengalami sofistikasi dan menjelma menjadi beragam bentuk. Ada wisata yang berurusan dengan isi-mengisi perut alias wisata kuliner. Ada wisata yang terkait ibadah atau kita sering menyebutnya wisata religi. Ada wisata yang terkait dengan berobat: contonya health check-up di Singapura, habis itu jalan-jalan. Ada wisata nonton konser. Juga ada wisata olah raga seperti nonton Liverpool di Stadion Anfield.

Menyongsong pergeseran-pergeseran perilaku konsumen positif yang bakal mendorong kemajuan industri pariwisata di atas, kita harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang masih terbengkelai. Pengembangan Infrastruktur merupakan tantangan di depan mata. Sehebat apapun Raja Ampat, kalau bandara, pelabuhan, atau hotel-restaurannya compang-camping, maka kehebatan itu akan pupus tak ada artinya.

Integrasi dan kolabrasi seluruh stakeholder pariwisata juga menjadi agenda mendesak untuk segera direalisasikan. Maskapai penerbangan, travel agent, hotel-restoran, pelaku MICE, pengelola bandara-pelabuhan, dan lain-lain harus selaras-sejalan (dengan diorkestrasi oleh pemerintah) saling berkolaborasi untuk mewujudkan wisata Indonesa yang kompetitif di tingkat global. Dalam konteksnya ini rasanya ide Indonesia Incorporated (Indonesia Inc.) di sektor pariwisata menjadi relevan untuk diwujudkan.

Related Post:
Perilaku Travelling Kelas Menengah 

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag , , | 1 Komentar

Healthy Life Style


Dalam beberapa pekan terakhir, resolusi tahun baru bertebaran di mana-mana. Salah satu resolusi yang banyak dikumandangkan oleh rekan, kolega, maupun keluarga kami (yang notabene kelas menengah) adalah di bidang kesehatan. Misalnya, target menurunkan berat badan sekian kilogram. Atau target menerapkan pola makan bergizi dan seimbang. Tujuan yang ingin mereka raih adalah “stay fit and healthy”. Ada juga yang ingin menghindari stress, agar terhindar dari sebagian penyakit. Ada juga yang beresolusi ingin lebih mengintensifkan olahraga.

Apa yang dialami dan dirasakan oleh orang-orang di sekitar kami tersebut adalah “health consciousness”. Yaitu, kesadaran konsumen kelas menengah untuk mulai memilih produk atau layanan yang dipersepsikan akan membantu mereka menjalani gaya hidup yang sehat. Adanya kesadaran kesehatan ini merupakan bukti telah terjadinya perubahan nilai-nilai yang dianut oleh kelas menengah. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi jenis produk atau layanan serta pola pembelian dan konsumsi dari kelas menengah, khususnya yang dapat memberikan efek-efek kesehatan.

Health is Productive Asset

Kelas menengah adalah segmen yang berorientasi pada produktivitas. Sehingga mereka mulai berhitung apa saja input (masukan) yang diperlukan untuk mencapai output (keluaran) produktivitas. Salah satunya jenis aset yang masuk dalam perhitungan mereka adalah kesehatan itu sendiri. Kelas menengah menyadari bahwa kesehatan adalah modal/aset untuk bekerja dan meningkatkan produktivitas. Sebab itu, kesehatan mulai menjadi perhatian dan mendapat prioritas penting dalam hidup kelas menengah.

Healthy Lifestyle is Cool 

Kita tidak bisa menafikan bahwa “cool” itu memang datang dari barat. Sehingga segala yang dari barat kemudian diadaptasi di sini lewat gaya hidup. Adaptasi ini melalui penciptaan “cool factor” pada berbagai tren baru yang hadir di tengah-tengah kita. Misalnya berbagai tren soal pola makan yang kini merebak di berbagai media. Tren food combining (FC), tren mindful eating, diet tanpa karbohidrat, dan lain sebagainya. Ini belum termasuk berbagai kampanye mengenai menu-menu sehat yang bisa disiapkan sendiri di rumah, yang tanpa ribet dan tetap simpel di tengah berbagai kesibukan yang menjebak keseharian.

Dalam konteks membangun brand, tren dan kampanye tersebut dirasa “cool”. Seperti kata kawan kami Mas Handoko Hendroyono (@Handoko_H) penulis buku Brand Gardener, “yang sedang cool sekarang adalah membangun brand sebagai sebuah movement”. Misalnya gerakan mengkampanyekan berjalan 10 ribu langkah sehari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Atau kampanye hidup sehat melalui pengurangan konsumsi junk food. Jadi brand movement yang turut mengatasi masalah-masalah kesehatan di masyarakat akan berimpak positif pada brand produk atau layanan kesehatan itu sendiri.

Smart Endorser

Meski sebagai tren, kampanye gaya hidup sehat tetap memerlukan endorser. Kira-kira, tipikal endorser seperti apakah yang cocok? Untuk mentarget segmen kelas menengah yang knowledgeable, diperlukan endorser yang memberi kesan smart dan trustable (dapat dipercaya). Endorser berperan selaku inspirator kepada masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat. Dengan penggunaan brand endorser yang tepat, maka asosiasi ‘smart’ dan ‘trustable’ dapat diperoleh dari kelas menengah. Di samping itu, dapat pula dibangun asosiasi brand sebagai ‘ahli’ dalam kategori produk atau layanan kesehatan tertentu.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena kelas menengah adalah segmen konsumen yang content-oriented. Kelas menengah yang haus informasi, mulai menuntut brand untuk dapat memberikan informasi kredibel, lengkap nan terpercaya. Tidak hanya itu, brand juga harus bisa search-able di lanskap yang serba digital ini. Kelas menengah yang berorientasi pada konten mulai melirik, membaca, dan berlangganan artikel dari situs-situs kesehatan seperti klikdokter.com, blogdokter.com, doctormums.com, tanyadok.com, dan lain sebagainya.

Good Appearance is a Must 

Penampilan di mata orang lain menjadi prioritas yang semakin utama. Yang tadinya kurang penting, sekarang menjadi penting. Misalnya, ibu-ibu kelas menengah yang makin tua justru semakin ingin langsing. Atau para pria kelas menengah yang semakin bermasalah dengan perut buncit. Intinya kelas menengah mulai memiliki kebutuhan akan penampilan yang lebih baik.  Misalnya: seimbang tinggi dan berat, kadar lemak yang rendah, gula darah dan kolesterol yang terkendali, dsb.

More Healthy, More Profit

Sebagai segmen konsumen yang ingin hidup lebih sehat, dan mempertahankan kualitas kesehatan mereka, kelas menengah tidak segan-segan membeli dan menggunakan produk atau layanan kesehatan yang dapat membantu mewujudkan aspirasi tersebut. Misalnya lewat produk pemanis rendah kalori yang diperuntukkan kepada penderita (atau keturunan penderita) Diabetes. Contoh lain, produk nutrisi pengganti diabetes yang diiringi dengan edukasi pola makan yang sehat. Semakin tinggi kualitas kesehatan yang diinginkan, maka semakin tinggi belanja kesehatan yang dilakukan.

Bicara prioritas, salah satu aspirasi kelas menengah terkini dalam bidang kesehatan adalah menjaga daya tahan tubuh. Berbagai produk multivitamin, vitamin C, dan berbagai jenis produk lainnya laris-manis dalam mempromosikan keunggulannya dalam menjaga daya tahan tubuh di tengah kesibukan yang semakin padat. Kami kira pencegahan sakit merupakan aktivitas yang semakin mendapat prioritas kelas menengah. Sebab itu tidak jarang mereka melakukan tindakan-tindakan preventif yang lain semisal: pemeriksaan laboratorium (sebelum sakit), berolahraga rutin supaya badan lebih bugar, pola makan bergizi dan seimbang untuk mengendalikan kadar gula dan kolesterol, dsb.

“Fake” Healthy Lifestyle

Temuan terakhir kami adalah “fake” healthy lifestyle. Yaitu, fenomena gaya hidup “palsu” alias bukan yang sesungguhnya dalam rangka mendapatkan kesan bagus dan pencitraan dari teman atau orang-orang di lingkungannya. Contohnya adalah demam lomba lari marathon yang saat ini menjangkiti masyarakat urban kita. Mereka getol ikut lomba marathon bersama teman-teman bukanlah melulu karena pertimbangan gaya hidup sehat, tapi juga agar bisa eksis dan narsis di lingkungan teman-teman mereka. High social connection yang telah mendarah daging jadi sebab kelas menengah ingin pamer aktivitas dan event yang sedang diikuti supaya dianggap “keren”. Jadi beramai-ramai ikut lomba marathon itu adalah fake healthy lifestyle karena motif utamanya bukanlah melulu sehat tapi agar keren di mata teman dan lingkungannya.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tag , | Tinggalkan komentar

New Year Resolution Marketing


Beberapa hari terakhir di bulan Desember dan beberapa hari di bulan Januari biasanya jadi waktu monumental untuk kontemplasi. Mengingat apa saja yang terjadi selama setahun kemarin dan evaluasi tercapai atau tidaknya segala resolusi tahun baru (2014). Di saat yang sama, biasanya jadi momentum juga untuk menyusun resolusi tahun baru (2015).

Nah, alangkah “oke”-nya kalo kita sebagai marketer bisa memanfaatkan momentum ini. Salah satu tugas marketer memang “riding the wave of consumer trends”. Berikut ini juga termasuk hasil “kontemplasi” saya :D

Perhatikan tren yang sedang berlangsung di sekitar kamu. Resolusi tahun baru biasanya dapat kita bagi dalam  empat kategori berikut: 
1. Pengembangan diri/pendidikan: Belajar sesuatu yang baru/menarik. Belajar mengelola waktu lebih baik. Belajar mengelola pekerjaan. Mengambil program MBA. Mengejar passion. Atau misalnya pergi ke daerah/negara lain yang belum pernah dikunjungi. Di Indonesia, masih banyak lho daerah wisata yang belum kita tahu dan belum kita kunjungi. Mungkin juga ada yang sedang memimpikan profesi idaman-nya :)
2. Kesehatan: Mindful eating. Turunkan berat badan. Hindari StressStay fit and healthy. Intensif berolahraga di rumah.  Atau daftar dan berolahraga rutin di gym. Rutin “bermain” di car free day (CFD)  :)
3. Keuangan: Spend less, save more. Mulai berinvestasi. Mewujudkan mimpi kebebasan finansial. Buka account Reksa Dana atau mulai “bermain” saham. Lebih sering bersedekah. Tambah jumlah keping emas untuk tabungan haji.
4. Relationship: Jatuh cinta (dan menikah). Mudah-mudahan segera ketemu jodoh-nya masing-masing ya :) Tentu saja, ini adalah resolusi tahun baru bagi para jomblo (kena lagi deh jomblo-ers :D ). Habiskan waktu lebih banyak untuk keluarga (biasanya bagi yang sudah bekerja).

Ciptakan kampanye berdasar tren tersebut. Dalam setahun ke depan, buat brand kamu menjadi brand yang membantu/mengantar/berkolaborasi dengan konsumen dalam menjadi versi terbaik mereka. Format kontes menjadi format paling tepat. Manfaatkan social media untuk menciptakan buzz-nya. 9% dari responden menyatakan berbagi di social media membantu mereka tetap fokus dengan resolusi mereka. 17% di antaranya berkolaborasi dengan teman, keluarga, atau grup online. responden Supaya low budget high impact, gandeng komunitas yang sudah ada.

Bicaralah dalam bahasa konsumen. Orang-orang akan mencari solusi jangka panjang (minimal setahun) yang mampu membantu mereka mewujudkan resolusi tahun 2015. Hindari tujuan yang kurang realistis. Sebaliknya, dukung resolusi yang masuk akal agar tidak merusak “promise” brand kamu.

Hubungkan dengan penjualan. Pastikan kampanye tersebut terkait langsung dengan penjualan produk atau jasa yang kamu tawarkan. Misalnya lewat diskon promo, atau product bundling, atau format yang lain.

Orang-orang yang menyampaikan resolusi mereka secara eksplisit 10x lebih mungkin dalam mencapai tujuannya daripada mereka yang tidak menyuarakan resolusi secara lebih eksplisit.

Artikel ini diinspirasi dari link ini.

Dipublikasi di STRATEGI PEMASARAN | Tinggalkan komentar