lampu merah di perempatan jalan


hidup ini ibarat lampu merah di perempatan jalan. anda bebas memilih, mau lurus atau belok kanan atau belok kiri. terserah. semua orang punya tujuan. dan semua orang punya pilihan dan (selalu) berhak memilih. yang jelas, setiap pribadi yang dewasa sebelum memilih, sadar bahwa di setiap pilihan, akan ada konsekuensi yang harus dia tanggung atas pilihan tersebut. tidak selalu buruk memang, tapi begitulah pilihan. memilih yang lebih baik atau yang lebih buruk.

tapi jangan sekali-kali anda memilih berdiam diri. karena, akan ada klakson (tuntutan) dari kendaraan-kendaraan (orang-orang) yang ada di belakang anda, terutama ketika lampu sudah menyala hijau. anda akan merasa hidup anda selalu mendapat tuntutan. tuntutan dari keluarga anda. tuntutan dari rekan-rekan anda. tuntutan dari orang tua yang menghendaki anaknya pintar dalam urusan sekolah dan secepat-cepatnya lulus. atau orang tua yang merasa tertuntut untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. ayah yang bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. atau ibu yang bekerja keras memimpin rumah tangga supaya berlayar aman di samudera kehidupan.

ada kalanya, anda diminta berhenti ketika lampu menyala merah. sebaiknya begitu. dan semua orang pun berpikir begitu. untuk jangka panjang dan dalam lingkup yang lebih luas, aturan adalah segalanya. ketercapaian tujuan masyarakat (sebagai kumpulan individu) akan tercapai bila tiap anggotanya menaati aturan yang dibuat bersama. seperti itu kan guna lampu merah? selain merapikan arus kendaraan di perempatan jalan, itu (lampu merah) juga merapikan arus kendaraan di jalur lurus.

bila tidak ada lampu merah, bagaimana sekelompok orang akan menyeberang jalan di sepanjang jalan lurus? betul tidak? ketika tidak ada kendaraan yang sedikit berbaik hati untuk memberikan jalan. lampu merah, memberikan sedikit keseimbangan dan keadilan dalam bagi setiap pengguna jalan raya dan sekitarnya. tidak terkecuali para pejalan kaki dan penyeberang jalan. seperti itu juga guna aturan. semua orang bisa kaya seenaknya, tetapi aturan bernegara menghendaki keseimbangan (pemerataan) pendapatan dalam kehidupan bernegara. maka dari itu, semakin besar pendapatan anda, semakin besar pajak yang harus anda bayar.

tetapi, ada kalanya kita tidak harus menanti lampu merah. lampu merah memberikan aturan bagi kita semua untuk lebih baik. tapi ada kalanya lampu merah justru menjadi hambatan bagi seseorang yang punya visi. dia pun harus bertingkah berbeda dibanding sekitarnya yang menaati aturan (berhenti ketika lampu merah). dia harus melanggarnya! melaju sekencang-kencangnya sebelum ketahuan para penegak peraturan (di jalan raya, mereka adalah polisi lalu lintas). risikonya ada dua, ketahuan dan mendapat hukuman. atau yang kedua, sukses mencapai tujuan mewujudkan mimpi-mimpi.

hidup punya banyak kemiripan dengan lampu merah di perempatan jalan. di setiap anda berhenti di lampu merah, ingatlah berbagai ilustrasi yang menggambarkan suasana hidup anda seperti ketika anda berada di lampu merah di perempatan jalan

About these ads

Tentang ikhwanalim

walking analyzer, silent reader, part-time writer
Tulisan ini dipublikasikan di value(s) dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke lampu merah di perempatan jalan

  1. Maulida Nasroen berkata:

    tapi.. lampu ini.. tidak berlaku bagi ‘yang punya kuasa’ Ketika ‘pembesar leewat.. semua harus minggir..bahkan pengatur jalan ‘semua telah dibayar;’ untuk memuluskan jalan.. menabrak ‘lampu ‘yang mereka buat sendiri.. entah untuk hanya sekedar bermain golf’.. bersama teman saya anak seorang jendral.. menabrak lampu merah.. karena tak ingin dihentikan jalannya..malah ‘pengatur jalan’ memberi hormat padanya setelah tau anak jendral.. begitulah kekuasan dan uang… yaa ini hanya analogi saja.. bahwa hidup bukanlah seperti di simpang lampu merah…yang ‘lampu manusia’… banyak kurangnya.. hidup hanyalah kata bimbo.. hidup ini melangkah terus…tak ada kata henti… dan hidup ada 2 jalan kanan dan kiri.. sukses dan gagal…bahagia sengasara.. syurga neraka…tak ada yang tak ada pertanggug jawabanya… dan tak ada kebebsan memilih… karena kita ;memang harus memilih kebenaran dan kebaikan dalam hidup’ untuk selamat…

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s