know what,who,why and how

Entries from September 2009

Spanduk Propaganda Seni Budaya

September 28, 2009 · Leave a Comment

SPANDUK PROPAGANDA.

Categories: knowledge · marketing · pendidikan · peradaban

Empat Komponen Teknologi

September 7, 2009 · 1 Comment

Teknologi, menurut rumusan kerja sama Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PAPIPTEK – LIPI) dengan The Asian and Pasific Centre for Transfer of Technology – Economic and Social Commission for Asia and the Pasific (APCTT-ESCAP) tahun 1987-1988, mengandung empat komponen, yaitu :

  1. Humanware. Teknologi terkandung pada diri manusia. Bentuknya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku serta semangatnya. Manusia menciptakan teknologi untuk membantu dirinya agar bias bekerja lebih baik dan lebih produktif. Ia juga harus berdaya cipta.
  2. Technoware. Pada komponen ini, teknologi terkandung pada mesin dan peralatan produksi yang dipakai dalam kehidupan. Semuanya diharapkan dapat bekerja lebih baik dan lebih produktif. Awalnya, benda-benda tersebut dibuat berdasarkan pengalaman dan pengamatan berbagai peristiwa alam yang empiris. Lalu, seiring dengan perkembangan pengetahuannya, barulah dilakukan proses secara ilmiah.
  3. Organware. Teknologi dipersepsikan terkandung dalam kelembagaan, organisasi dan manajemen. Jika seseorang bekerja dalam sebuah kelompok, ia akan berorganisasi untuk menghasilkan proses sinergi. Dengan digerakkannya roda organisasi oleh suatu manajemen, kerja sama yang dibangun pun akan berlangsung secara lebih teratur, efektif dan efisien.
  4. Infoware. Teknologi terkandung dalam sebuah dokumentasi, seperti pada lembaran paten, rumus, gambar, disket, mikrofilm, buku, dan majalah. Dahulu, masyarakat membuat sendiri peralatan yang digunakannya, tetapi kepandaian itu berangsur-angsur hilang lantaran terhentinya proses penurunan ilmu kepada yang lebih muda. Akibatnya, proses itu harus ditemukan kembali dan dikembangkan lagi oleh generasi berikutnya. Dengan adanya dokumentasi, pengulangan penciptaan teknologi pun tidak perlu terjadi lagi.

Dikutip tanpa perubahan dari “GRAND TECHNO-ECONOMIC STRATEGY : Siasat Memicu Produktivitas untuk Memenangka Persaingan Global” halaman 14-15.

Categories: knowledge · peradaban

Pola Pikir Entrepreneurship

September 6, 2009 · 1 Comment

Banyak yang mengasosiasikan kata “entrepreneurship” dengan bisnis, wirausahan, penciptaan lapangan pekerjaan, tidak menjadi pekerja dan seterusnya. Padahal, menurut saya, pola pikir entrepreneurship tidak hanya sebatas “mencari uang” saja. Pola pikir entrepreneurship adalah pola pikir yang sesungguhnya akan banyak memberikan pencapaian/hasil yang signifikan.

Menurut saya, ada dua aspek terpenting dalam entrepreneurship. Yaitu, optimalisasi potensi dan pensiasatan risiko. Kedua aspek inilah yang akan membantu tercapaianya hasil yang siginifikan/optimal, karena di satu sisi mengoptimalkan potensi yang ada, dan di sisi lain mereduksi kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi (risiko).

Potensi adalah segala hal yang belum ada sekarang, belum menjadi realitas sekarang tetapi sangat memungkinkan untuk diadakan. Dan, apabila keberadaan potensi tersebut benar-benar diperjuangkan, maka akan memberikan manfaat yang signifikan. Jadi, dua ciri dari potensi : belum menjadi realitas, dan sifatnya memberikan manfaat.

Sedangkan risiko sendiri adalah kemungkinan-kemungkinan negatif yang mungkin muncul dalam perjuangan kita mewujudkan potensi tersebut. Nah, risiko sendiri tidak harus dihindari. Risiko bisa kita antisipasi, cegah, bahkan kita siasati. Antisipasi artinya kita persiapkan alternatif-alternatifnya untuk menghadapi kemungkinan risiko A muncul, atau risiko B yang muncul. Cegah artinya sebelum risiko tersebut benar-benar terjadi, kita melakukan treatment terhadap penyebab munculnya risiko tersebut. Sedangkan siasati, artinya adalah ketika akibat risiko sudah muncul, kita punya cara untuk mensolusikan akibat risiko tersebut.

Pola pikir pemanfaatan potensi dan pensiasatan risiko ini tidak hanya dalam dunia bisnis saja, bahkan akan sangat bermanfaat bila digunakan dalam dunia kepemimpinan, organisasi, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan memberi banyak manfaat bagi kita semua.

Categories: entrepreneurship · organisasi

Apa yang seharusnya dilakukan Menko Kabinet KM

September 1, 2009 · Leave a Comment

menjadi menko tuh susah-susah gampang,, susah,karena sebelumnya gak pernah,,gampang,karena gak terlalu ngurusin teknis..tapi overall,tetap aja susah-susah gampang!

di samping itu,,menjadi menko sebenarnya nyaris setara ma presidennya itu sendiri. cuma dibatasi ma lingkup wilayah kementeriannya saja. dan karena wilayah kementeriannya lebih sempit,bedanya ma presidennya adalah menko lebih teknis ketimbang presiden..

untuk urusan konseptual dan fundamental,,harus sama levelnya ma presiden,,untuk urusan ini,,jadi menko berarti relatif lebih mudah, karena penguasaan konseptual dan fundamentalnya gak sebanyak presiden..

nah, sekarang kita masuk di apa saja yang seharusnya dikerjakan..

  • banyak mikirin hal2 strategis,,yaitu semacam analisis kondisi kekinian dan punya pikiran-pikiran visioner ke depannya
  • kalo lagi acara, siap2 aja buat jadi cadangan ngasi sambutan,,
  • klo lagi acara, siap2 aja buat ngasi souvenir utk pengisi acara,,
  • membangun jejaring dengan pihak2 terkait,,soalnya,kerja teknisnya dikit, jadi kudu ngelola yg namanya jaringan..
  • ngejamin hal2 yg sangat berkait dengan kementerian di bawahnya,,semisal perduitan untk pembiayaan kegiatan,,ato contoh lain bentrok tidaknya acara (perspektif waktu) dengan kementerian lain,,koordinasi dengan kementerian lain,,de es te..

ni (masih) sedikit pelajaran yang saya dapatkan selama 3 bulan lebih (menuju 4 bulan) menjadi menko..mudah2an memberi pahala bagi saya karena mendiseminasikan informasi ini..dan menjadi pelajaran bagi yang mo jadi menko berikutnya,,heheheh :-)

Categories: entrepreneurship · knowledge · organisasi