know what,who,why and how

Entries from January 2009

Membangun Kepercayaan dengan 3 Kedekatan

January 20, 2009 · 1 Comment

Ada tiga cara membangun kepercayaan dengan membangun kedekatan. Ada tiga macam kedekatan yang bisa dilakukan, yakni kedekatan fisik, kedekatan intelektual, dan kedekatan emosional. Berikut lengkapnya :

Kedekatan Fisik
Kita akan cenderung untuk lebih mempercayai orang-orang (yang secara fisik) dekat dengan kita. Contohnya : keluarga, teman dekat, teman jurusan, atau teman seprofesi. Intinya, dengan siapa kita sering bertemu, kita akan memiliki kede

Kedekatan Intelektual
Kita akan cenderung percaya dengan orang-orang yang mau mengerti kita dan mau membuat kita mengerti. Kedekatan intelektual dari orang-orang yang ingin mendengar kita berbicara dan ingin memahami apa-apa yang kita sampaikan. Terlebih lagi, ketika orang tersebut mampu dengan sederhana, berkomunikasi kepada kita dan membuat kita mengerti dengan apa-apa yang dia sampaikan..

Kedekatan Emosional
Kita akan cenderung percaya kepada orang-orang yang secara emosional dekat dengan kita. Orang-orang yang menyukai kita, orang-orang yang menyayangi kita, dan orang-orang yang mau menghargai, dan tulus membantu kita.

Categories: knowledge

Creative Minority

January 15, 2009 · 2 Comments

Bukan individu yang kuat, bukan pula masyarakat hebat yang membangun peradaban. Mereka adalah creative minority (minoritas kreatif).

Percaya deh, dalam hidup ini, hukum Pareto seringkali berlaku. Mungkin angkanya belum tentu 20-80, tapi pastinya “yang sedikit seringkali memberikan hasil yang lebih besar/signifikan”.

Nah, kelompok orang-orang yang bisa memberikan hasil besar/signifikan ini jumlahnya hanya sedikit. Oleh karena itu disebut “creative minority”. Secara jumlah, mereka adalah minoritas. Tapi hasil yang mereka berikan tergolong “kreatif” dibanding dengan orang-orang sekitarnya.

Mau gabung dengan “creative minority” yang seperti apa?

Categories: peradaban

Arti Penting Kemandirian

January 13, 2009 · Leave a Comment

Dari kita, untuk kita. Itu definisi saya tentang kemandirian

Saya sedang tidak membicarakan kerja sama. Dan saya juga tidak sedang membicarakan yang namanya kekeluargaan. Saya ingin membicarakan sekelompok hal yang saya kategorikan dalam “dari kita, untuk kita”.

“Dari kita, untuk kita” mencakup beberapa pertanyaan yang bisa kita ajukan kepada diri sendiri

  • apa saja yang bisa kita kerjakan untuk kita?
  • berapa banyak yang bisa kita kerjakan untuk kita?
  • berapa banyak kita minta tolong / kerja sama dengan pihak lain?

Nah, ketiga pertanyaan di atas dapat kita ajukan untuk tingkat pribadi, keluarga, bahkan hingga tingkat negara. Tentunya, jawaban ketiga pertanyaan di atas jadi acuan teman2 untuk menilai kemandirian.

Menurut kamu, Indonesia kita sudah mandiri, belum?

Categories: peradaban

Pentingnya Membuat Eskalasi

January 9, 2009 · 2 Comments

Nothing is easy, but nothing is impossible

Quote di atas menyatakan bahwa di dunia ini (sebenarnya) tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa. Percaya,deh. Tapi gak ada yang mudah. Nah, makanya kita perlu dua hal yang penting : target dan eskalasi.

Tentang yang pertama, mungkin ini adalah hal yang paling sering dibicarakan. Banyak orang mengatakan pentingnya memiliki target. Ada pula yang menggunakan kata ‘cita-cita’. Ada juga yang menyatakannya dengan visi. Menggunakan kata ‘impian’ juga boleh. Intinya semua sama. Yaitu adanya tujuan akhir dari perjalanan/pekerjaan yang kita lakukan.

Tentang yang kedua, mungkin ini yang belum banyak dibicarakan oleh orang Indonesia pada umumnya. Yakni, memiliki eskalasi. Eskalasi adalah tahapan-tahapan langkah yang harus dilalui untuk mewujudkan target/cita-cita/visi/impian tadi.

Beberapa poin penting yang harus ada dalam eskalasi :

  • apa yang dikerjakan,
  • apa yang ditargetkan,
  • dan kapan selesai dikerjakan

Seringkali, kita terlalu banyak bicara tentang target/cita-cita/visi/impian. Masalahnya adalah pembicaraan kita tentang visi seringkali tidak mengikutsertakan tentang bagaimana caranya. Atau dengan kata lain “know how”-nya tidak ada dalam perwujudan target/cita-cita/visi/impian itu tadi.

Pemimpin-pemimpin kita di Indonesia seringkali berbicara tentang visinya yang melangit dan/atau muluk-muluk. Tapi kebanyakan tidak menyampaikan tentang bagaimana cara mencapainya. Padahal, ada batasan waktu yang menghalangi mereka mewujudkan rencananya. Yakni, masa kepemimpinan itu sendiri. Seharusnya, eskalasi suatu visi yang demikian memang dapat diwujudkan dalam masa kepemimpinan tersebut.

Demikian dari saya. Mudah-mudahan menjadi masukan bagi kita semua.

Categories: knowledge · peradaban