know what,who,why and how

Entries from October 2008

Parameter dan Penilaian Kuantitatif

October 9, 2008 · Leave a Comment

Organisasi yang baik tentunya memiliki tujuan. Entah itu organisasinya itu sendiri, ataupun kegiatan-kegiatan organisasi yang berlangsung di dalamnya. Nah, ketercapaian tujuan tersebut biasanya ditandai dengan keterwujudan/ketersampaian parameter. Parameter ini adalah suatu penanda (marker) bahwa tujuan yang dicita-citakan di awal telah terwujudkan.
Parameter tidak hanya disusun dengan kalimat-kalimat kualitatif, tetapi ada kalanya juga perlu diukur secara kuantitatif. Beberapa contoh ukuran kuantitatif parameter :

  • perkuliahan diukur dengan Indeks Prestasi yang merupakan akumulasi beban perkuliahan yang diambil (satuan kredit semester, biasa disingkat SKS) dan mendapat penilaian A (dikali 4), B (dikali 3), C (dikali 2), D (dikali 1), dan E (dikali 0). IP adalah ukuran kuantitatif keberhasilan Perguruan Tinggi (terutama dosen mata kuliah yang bersangkutan) dalam mendidik mahasiswa-mahasiswanya. Dalam hal ini IP tersebut dibandingkan terhadap skala kuantitatifnya, yakni 0-4.
  • di HMF ‘Ars Praeparandi’ yang saya pimpin, ukuran keberhasilan kuantitatifnya adalah sebagai berikut : setiap program kerja mendapat penilaian, dengan aspek perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi masing-masing mendapat bobot 15%, 15%, 15%, dan 5%. Sedangkan 50% berikutnya berasal dari ketercapaian waktu pelaksanaan dan penilaian sasaran program, masing-masing 25%. Setiap aspek ini berhak mendapat penilaian dengan skor antara 0-100. Kemudian untuk program bernilai > 80, mendapat nilai A. Nilai B untuk 60- 79, dan Nilai C untuk < 60. Keberhasilan seluruh program, terukur dari 30% pogram mendapat nilai A atau 50% program mendapat nilai B.
  • Kalau kita berbicara tentang perusahaan atau organisasi berbasis profit lainnya, tentu juga kita tidak jauh-jauh berbicara dengan angka. Sejauh mana perusahaan tersebut menjaring pasar, diukurnya dari berapa omzet yang didapat per satuan waktu tertentu (hari, bulan, atau tahun ). Berapa nilai perusahaan itu ? Diukurnya dari nilai aset-aset yang dimiliki. Infrastruktur (gedung, tanah, dll), obligasi, saham, dan lain-lain.
  • Berbicara tentang tingkat perekonomian di suatu negara, kita juga akan berbicara dengan angka. Baik ekonomi makro maupun di ekonomi mikro. Ekonomi makro memiliki tolok ukur :  GNP, nilai ekspor, nilai impor, dan lain-lain.

Enaknya berbicara dengan angka adalah angka memberikan tolok ukur ketersampaian tujuan : sudah sedekat apa kita dengan tujuan kita?

Sementara sekian dahulu. Selamat menikmati berbicara dengan angka-angka…

Categories: knowledge · organisasi

Sumpah Pemuda

October 5, 2008 · 1 Comment

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe,  Tanah Indonesia.

KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Delapan puluh tahun lalu, pada 28 oktober, sekelompok pemuda dari berbagai perkumpulan kedaerahan, mengikrarkan tiga kalimat di atas. Soegondo Djojopuspito, Ketua Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia dan Moehammad Yamin, keduanya tokoh penting dalam Kongres Sumpah Pemuda. Perkumpulan pemuda-pemuda kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, dan lain-lain akhirnya ikut berpartisipasi untuk mengikrarkan ketiga kalimat di atas.

Romi Satria Wahono, sejak 18 tahun lalu, memulai evolusi perjuangannnya menjadi peneliti, dosen, dan entrepreneur di bidang teknologi informasi. Karyanya adalah komunitas ilmukomputer.com, dan berbagai hasil penelitian di LIPI. Kini, kegiatannya adalah memberikan berbagai kuliah maupun workshop teknologi informasi di berbagai kampus di Indonesia. Mencoba memberikan inspirasi perjuangannya kepada romi-romi muda di bidang teknologi informasi adalah cita-cita beliau saat ini.

Triharyo Soesilo, TK ITB’77. Kini Chief Executive Officer PT.Rekayasa Industri, setelah menapaki perjuangannya dari bawah dengan bimbingan Ir.Hartarto. Bersama PT.Rekin, beliau mencoba mewujudkan “karya nyata bagi almamater dan bangsa”. Mulai dari pendirian 100 start-up companies dan teknologi-teknologi inovatif untuk menyelesaikan permasalahan : kemacetan, pengolahan sampah, kenaikan harga BBM, dan lain-lain. Meski gagal dalam pemilihan Ketua IA ITB, tapi tetap berkontribusi nyata kepada Indonesia.

Onno Widodo Purbo, EL’81, pernah menjadi dosen di ITB. Seorang pakar di Bidang Teknologi Informasi. RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang dilontarkan. Ia juga aktif menulis dalam bidang teknologi informasi media, seminar, konferensi nasional maupun internasional. Percaya filosofy copyleft, banyak tulisannya dipublikasi secara gratis di internet. Menerima berbagai penghargaan : Lulusan terbaik Teknik Elektro ITB tahun 1987, masuk dalam buku “American Men and Women of Science” tahun 1992, “Adhicipta Rekayasa”, dari Persatuan Insinyur Indonesia tahun 1996, “ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award” tahun 1997, masuk dalam buku “Indonesia 100 innovators”, Business Innovation Center.

Mereka adalah pemuda-pemuda berjiwa muda yang energik, bersemangat dan punya cita-cita besar. Mereka telah mengukir sejarah dengan tinta emas perjuangan mereka. Kebetulan, momentum bulan ini adalah Sumpah Pemuda. Momentum perwujudan kerja keras manusia-manusia berjiwa muda. Beberapa orang di atas telah berjuang keras. Lantas, bagaimana dengan kita ?

Pemuda adalah orang yang berkata “inilah saya”, bukan saya adalah anak bapak.. kakek saya punya… tapi para pemuda adalah orang-orang yang bangga akan dirinya sendiri, bukan membanggakan orang lain.

Referensi :

romisatriawahono.net

id.wikipedia.org/onno_w_purbo

triharyo.com

Categories: pendidikan · peradaban

Betapa Beruntungnya Kita..

October 2, 2008 · 2 Comments

Saya baru saja bertemu dengan teman-teman lama. Di antaranya ada teman-teman SMP, ada juga temannya teman-teman SMP. Mereka banyak bercerita tentang apa-apa saja yang mereka lakukan sekarang, dan teman-teman lain (tentunya yang sedang tidak ada bersama kami). Menurut saya, betapa beruntungnya kita karena mengalami hal-hal (yang menurut saya), semakin memanusiakan kita.

Teman SMP saya itu, seorang di antaranya sudah bekerja (hanya dengan bekal training selama setahun). Pastinya ini adalah sebuah keberuntungan untuk kita yang akan menjadi seorang sarjana. Bekal knowledge yang dimiliki selama perkuliahan akan membantu bidang pekerjaan yang kita geluti. Belum lagi ketika kita bicara tentang modal jangka panjang yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan jenjang karier.

Seorang teman yang lain (kebetulan perempuan), ternyata sudah menikah. Menikah tanpa pernah kuliah. Saya bilang, menikah adalah sesuatu ibadah yang sangat besar pahalanya, tapi bukan berarti menghilangkan kesempatan untuk menempuh pendidikan lanjutan sama sekali. Sekali lagi, betapa beruntungnya kita yang pernah berkuliah.

Betapa beruntungnya kita, orang-orang yang sempat merasakan pergaulan dengan dunia luar. Teman-teman saya sebagian besar berkuliah di suatu kota yang sebagian besar lulusan SMA Negeri kami, juga berkuliah di sana. Pindah sekolah saja, istilahnya karena teman-temannya itu-itu saja.

Selain itu, saya banyak melihat di antara teman-teman tersebut, tampak banyak yang kehilangan mimpi-mimpinya (baca : visi). Saya menyebut suatu cita-cita/mimpi sebagai visi, apabila memliki perbedaan signifikan dengan orang lain. Ketika cita-citanya hanya lulus, atau bekerja, atau menikah, atau punya anak, saya berpendapat mereka tidak bervisi. Sekali lagi, betapa beruntungnya kita. Manusia-manusia yang masih memiliki cita-cita dan harapan untuk masa datang.

Dunia kampus semakin mendewasakan cara saya dalam berfikir dan memandang sesuatu hal. Mulai dari informasi akademik yang saya dapatkan, aktivitas-aktivitas organisasi mahasiswa, hingga keberagaman orang-orang yang berada di kampus. Untuk kita yang pernah mengalami itu semua, betapa beruntungnya diri kita…

Mari kita bersyukur,

Ikhwan Alim

Categories: tentang apa pun