Organisasi yang baik tentunya memiliki tujuan. Entah itu organisasinya itu sendiri, ataupun kegiatan-kegiatan organisasi yang berlangsung di dalamnya. Nah, ketercapaian tujuan tersebut biasanya ditandai dengan keterwujudan/ketersampaian parameter. Parameter ini adalah suatu penanda (marker) bahwa tujuan yang dicita-citakan di awal telah terwujudkan.
Parameter tidak hanya disusun dengan kalimat-kalimat kualitatif, tetapi ada kalanya juga perlu diukur secara kuantitatif. Beberapa contoh ukuran kuantitatif parameter :
- perkuliahan diukur dengan Indeks Prestasi yang merupakan akumulasi beban perkuliahan yang diambil (satuan kredit semester, biasa disingkat SKS) dan mendapat penilaian A (dikali 4), B (dikali 3), C (dikali 2), D (dikali 1), dan E (dikali 0). IP adalah ukuran kuantitatif keberhasilan Perguruan Tinggi (terutama dosen mata kuliah yang bersangkutan) dalam mendidik mahasiswa-mahasiswanya. Dalam hal ini IP tersebut dibandingkan terhadap skala kuantitatifnya, yakni 0-4.
- di HMF ‘Ars Praeparandi’ yang saya pimpin, ukuran keberhasilan kuantitatifnya adalah sebagai berikut : setiap program kerja mendapat penilaian, dengan aspek perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi masing-masing mendapat bobot 15%, 15%, 15%, dan 5%. Sedangkan 50% berikutnya berasal dari ketercapaian waktu pelaksanaan dan penilaian sasaran program, masing-masing 25%. Setiap aspek ini berhak mendapat penilaian dengan skor antara 0-100. Kemudian untuk program bernilai > 80, mendapat nilai A. Nilai B untuk 60- 79, dan Nilai C untuk < 60. Keberhasilan seluruh program, terukur dari 30% pogram mendapat nilai A atau 50% program mendapat nilai B.
- Kalau kita berbicara tentang perusahaan atau organisasi berbasis profit lainnya, tentu juga kita tidak jauh-jauh berbicara dengan angka. Sejauh mana perusahaan tersebut menjaring pasar, diukurnya dari berapa omzet yang didapat per satuan waktu tertentu (hari, bulan, atau tahun ). Berapa nilai perusahaan itu ? Diukurnya dari nilai aset-aset yang dimiliki. Infrastruktur (gedung, tanah, dll), obligasi, saham, dan lain-lain.
- Berbicara tentang tingkat perekonomian di suatu negara, kita juga akan berbicara dengan angka. Baik ekonomi makro maupun di ekonomi mikro. Ekonomi makro memiliki tolok ukur : GNP, nilai ekspor, nilai impor, dan lain-lain.
Enaknya berbicara dengan angka adalah angka memberikan tolok ukur ketersampaian tujuan : sudah sedekat apa kita dengan tujuan kita?
Sementara sekian dahulu. Selamat menikmati berbicara dengan angka-angka…

